CROWMASTER : BIRD AMONG DRAGON
Disclaimer :
Naruto Punyanya Om Masashi Kishimoto
High School DxD Punyanya Om Ichiei Isshibumi
Udara pagi yang menyegarkan merupakan salah satu kelebihan perumahan tempat Itachi tinggal. Polusi tergolong minim disini, karena tidak banyak orang yang memakai kendaraan bermotor dan jauh dari kawasan perindustrian.
Suasana yang tepat bagi Itachi untuk sedikit latihan fisik demi menjaga kondisi tubuhnya agar tetap prima. Kenapa ia tidak pergi ke sekolah? Hey, siapa yang pergi ke sekolah di hari minggu? Mungkin beberapa klub ekstra kulikuler memiliki beberapa kegiatan hari ini, tapi tidak untuk Itachi.
Saat ini, dia sedang berjogging mengelilingi taman kota Kuoh. Dengan jaket hoodie berwarna hitam dengan tulisan "Work Hard, Play Hard" dan celana training hitam bergaris putih, ia berlari-lari kecil sembari menikmati udara disekitarnya.
Banyak orang juga melakukan hal yang sama dengannya, baik itu yang berpasangan, maupun yang sendirian. Beberapa gadis dengan sengaja mendekatinya hanya untuk sekedar menyapa.
Setelah berlari, Itachi memutuskan untuk pulang kerumah. Di jalan, ia melihat seorang gadis pirang dengan pakaian ala biarawati sedang kesusahan di salah satu gang gelap di antara gedung-gedung pertokoan. Ia dikelilingi oleh beberapa pria dengan tampang yang mengesalkan. Ia men-summon Yatagarasu untuk mengetahui percakapan mereka.
" Ano... bukanlah kalian akan menunjukkan jalan ke arah taman?" katanya dengan sedikit ketakutan.
" Heh? Kau benar percaya pada kami, nona?" tanya balik salah satu dari mereka. Melihat reaksi si gadis yang semakin ketakutan membuat mereka berempat tertawa.
" Ahahahaha... Dia percaya dengan omongan ku tadi. Ahahaha kau memang cantik, tapi kau sungguh bodoh, nona."
Mereka berempat semakin memojokkan si gadis ke dinding dengan ekspresi mesum.
" Ah, disini kau rupanya."
Sebuah suara mengalihkan perhatian keempat berandalan itu. Itachi yang berdiri di belakang mereka berjalan maju menghampiri si gadis.
" Seharusnya kau tidak berjalan sendirian. Ayo kita pergi sekarang." kata Itachi. Matanya seolah meminta si gadis untuk percaya dan ikut dengannya. Ia menggenggam tangan si gadis dan beranjak untuk pergi, tapi dengan cepat dihadang oleh keempat berandalan tadi.
" Oi oi... Siapa kau, hah? Jangan menganggu kami!" bentak berandalan dengan rambut ala anak punk.
" Maaf, tapi teman kami sudah menunggu, jadi tolong minggir." kata Itachi dengan sopan. Nada bicaranya sopan, tapi matanya menusuk.
" Kau sudah mengacaukan rencana kami dan ingin kabur begitu saja? Jangan bercanda!"
Si rambut punk tadi berlari kearah Itachi dengan tangan terkepal. Itachi mampu menghindarinya dengan melakukan side step kekiri, lalu ia memberi sebuah tendangan roundhouse ke wajah si berandalan tadi hingga terjungkal. Melihat kawan mereka tumbang dengan sekali tendang, nyali para berandalan itu menciut dan memutuskan untuk kabur meninggalkan teman mereka yang terkapar kesakitan.
" Ayo." ajak Itachi keluar dari gang tadi. Si gadis membungkuk berterima kasih atas bantuan yang telah ia berikan.
" Terima kasih banyak. Aku tidak tahu apa jadinya jika anda tidak datang tadi."
" Tidak apa-apa. Pelajaran untukmu, jangan mudah percaya pada orang asing, terutama yang berpakaian seperti itu." jelas Itachi.
" Akan kuingat itu. Sekali lagi, terima kasih..." gantungnya.
" Itachi."
" Terima kasih, Itachi-san." ia membungkuk sekali lagi.
Karena sudah tak ada bahaya, Itachi pun memutuskan untuk pulang. Namun si gadis rupanya tak tahu arah menuju taman kota Kuoh, jadi dia meminta Itachi untuk menunjukannya. Dengan menghela nafas, akhirnya ia setuju dan mengantar si gadis yang bernama Asia ini ke taman.
Sejujurnya, Itachi merasa sedikit tak nyaman berada di dekat gadis ini karena ia adalah seorang biarawati. Namun, ia berusaha menahan rasa pusingnya dan tetap mengantarnya ke taman.
Secara samar ia bisa merasakan aura supranatural di dalam diri Asia. Sama seperti saat ia merasakan sedikit aura yang menguar di tubuh Issei malam itu. Manusia yang mengeluarkan energi supranatural, mungkinkah gadis ini juga punya Sacred Gear? Atau dia adalah makhluk supranatural? Atau malah seorang malaikat yang menguji Itachi? Ia tak tahu pastinya, tapi energi supranatural miliknya sedikit berbeda dengan Issei.
Tak terasa, mereka berdua sudah sampai di taman tujuan Asia. Ia sekali lagi berterima kasih pada Itachi, lalu pergi. Itachi pun kembali berjalan pulang untuk beristirahat. Lagipula ada sesuatu yang ingin dibicarakan oleh Sirzech dengannya.
" Apa kau tahu akibatnya kalau seorang Iblis berkeliaran di wilayah milik Malaikat?!" bentak Rias.
" Aku hanya berteman dengannya! Dia tidak memiliki teman disini, Buchou." sergah Issei balik. Matanya menatap lantai ruangan dengan sayu.
Itachi memilih untuk tak ikut campur terlalu jauh dalam urusan mereka. Sebenarnya ia sudah tahu tentang Issei dan Asia. Dia sudah mendapatkan info lewat Yatagarasu yang terus mengawasi Asia kemarin.
Salah satu kemampuan Yatagarasu adalah si master bisa menghubungkan penglihatan dan pendengaran antara dia dan Yatagarasu. Jadi, Itachi sudah tahu semua yang terjadi di taman. Ingatan dari Yatagarasu juga bisa menjadi ingatan milik Itachi.
Asia bertemu dengan Issei dan menghabiskan waktu bersama-sama layaknya sepasang kekasih. Kedekatan keduanya cukup membuat Itachi penasaran akan hubungan terlarang mereka. Seorang Biarawati yang jatuh cinta pada iblis tentu merupakan hal yang menarik.
" Kuharap kau tidak menimbulkan masalah, Hyoudou." gumam Itachi pelan. Dia lebih memilih untuk menikmati teh hangat buatan Akeno.
Begitu juga dengan anggota Peerage yang lain. Mereka hanya diam melihat perdebatan antara Issei dan Rias. Hingga akhirnya Issei memilih untuk pergi darisana dengan perasaan kesal.
" Terserah kau saja, Buchou!"
" Issei!" panggil Rias, namun tak dihiraukan oleh Issei.
" Sudahlah, Rias. Biarkan dia sendiri dulu." kata Itachi.
"Tapi-" ia ingin membantah, tetapi melihat ketenangan Itachi, Rias memutuskan untuk mendengar saran dari kakak angkatnya.
Ia duduk di samping Akeno dengan wajah kusut. Memangnya Issei tidak tahu kalau hal itu bisa mengakibatkan perpecahan antara ketiga faksi? Kalau sampai hal itu terjadi akibat anggota Peeragenya, bisa bisa ia diamuk oleh Sirzech.
" Minumlah, Buchou." Akeno menyuguhkan secangkir teh hangat pada Rias yang diminum dengan secepat kilat.
" Teh hangat bisa menghilangkan stress, asalkan kau meminumnya dengan pelan dan tanpa memikirkan hal-hal yang berat." ujar Akeno. Ia lalu mengisi kembali cangkir kosong milik Rias.
" Aku akan keluar sebentar. Kau mau ikut, Rias? Siapa tau angin segar bisa menghilangkan kekesalanmu." ajak Itachi. Ia beranjak keluar dari ruangan. Rias yang masih kesal akhirnya berdiri dan mengikuti Itachi keluar.
" Aku akan ikut dengan Nii-san. Tetaplah waspada, Akeno." kata Rias. Akeno tersenyum seolah mengiyakan perkataan Kingnya.
Itachi dan Rias berjalan kaki untuk mencari angin agar stres Rias hilang. Setiap orang yang berpapasan dengan mereka selalu melirik keduanya.
Begitu juga saat mereka di restoran. Beberapa orang bahkan berbisik-bisik pelan sembari mencuri-curi pandang kearah mereka berdua. Mungkin sedikit aneh bagi mereka saat melihat seorang gadis SMA makan berdua dengan seorang yang memakai jas lengkap.
" Nii-san... Apa ada yang aneh dari penampilanku?" tanya Rias pada Itachi.
" Huh? Tidak ada."
" Lalu kenapa mereka terus melihat kearah kita?"
" Mungkin kita terlihat seperti pasangan CEO dan Gadis SMA dari komik komik yang selalu kau baca itu?" jawab Itachi.
" Mungkin... T-tunggu, d-darimana kau tahu soal komik-komik itu?" tanya Rias lagi. kali ini wajahnya terlihat memerah, hampir sewarna dengan rambutnya.
" Akeno yang memberitahuku."
Ah, jadi Akeno ya, pikir Rias. Ia akan memberi sedikit pelajaran pada Sahabatnya satu itu agar belajar untuk menutup mulutnya.
Belum sempat Rias mengelak, seorang pelayan datang membawa pesanan mereka berdua.
" Sepotong Cheesecake, semangkuk Miso Ramen, dan dua gelas Lemon Tea. Silahkan dinikmati, Tuan, Nyonya." kata pelayan tersebut dengan sopan. Ia membungkuk, lalu pergi untuk mengambil pesanan dari pelanggan yang lain.
" Selamat makan."
" Selamat makan."
Mereka berdua kemudian menyantap makanan yang sudah dipesan. Itachi yang memakan Ramen miliknya teringat akan rasa dari Ramen Ichiraku di Konoha hingga tanpa sadar ia hanyut akan nostalgia dan termenung sendiri.
" Halo? Apa ada orang? Nii-san?" Rias mengibaskan telapak tangannya di depan wajah Itachi yang diam. Ia menepuk pelan pipi Itachi hingga tersadar.
" Ada sesuatu yang tidak beres, Nii-san?" tanya Rias.
" Tidak. Hanya teringat akan kampung halamanku. Di sana juga terdapat ramen dengan rasa yang mirip dengan disini."
" Huh? Di sana ada Ramen?"
" Namanya Ichiraku Ramen. Kedai Ramen yang terkenal akan kelezatannya hingga ke negeri sebrang." jelas Itachi.
Ramen milik Ichiraku memang terkenal nikmat. Bahkan ia yakin kalau para kage pasti akan suka makan disana. Itupun kalau mereka saling mempercayai satu sama lain sampai bisa makan bersama. Tapi jika anak itu yang menjadi Hokage, ia yakin kalau hal tersebut tidaklah mustahil.
" Ne, Nii-san, ceritakan padaku tentang kampung halamanmu itu." pinta Rias yang penasaran. Ia tidak pernah tahu tentang masa lalu Itachi, selain kalau Itachi berasal dari tempat yang jauh dan mempunyai seorang adik laki-laki.
Itachis sedikit enggan, namun jika itu bisa mengalihkan fokus Rias dari masalahnya Issei, ia akan sedikit mengingat masa lalunya.
" Baiklah..." kata Itachi. Ia menghela nafas berat dan mulai bercerita tentang Konoha.
" Nama desaku adalah Konoha. Sebuah desa yang indah. Dikelilingi oleh hutan yang rimbun dan sejuk, Konoha terbilang desa yang cukuo ramai."
" Keluargamu tinggal disana?" tanya Rias. Ia nampak antusias mendengarkan cerita Itachi sembari sesekali menyendok Cheesecake miliknya. Itachi mengangguk.
" Keluargaku, Klan Uchiha tinggal disana. Kami adalah salah satu pendiri desa dan merupakan klan yang dihormati." kata Itachi.
" Apa Klan mu adalah klan magician?"
" Kami menyebut diri kami sebagai seorang Shinobi, atau Ninja. Klan Uchiha terkenal akan kelihaiannya dalam bertarung dan kekuatannya."
" Ninja?!"
Rias sedikit berteriak saat mendengar cerita Itachi. Para pengunjung lain yang menoleh membuat Rias merasa malu dan menurunkan suaranya.
" Tunggu, di kampung halamanmu terdapat Ramen, dan kalian adalah Ninja? Berarti kau berasal dari Jepang, Itachi-nii!" ujar Rias. Ia yakin akan hal itu. Tidak ada negara lain yang mempunyai Ninja selain Jepang.
" Mungkin saja. Aku sudah membaca sejarah negara ini. Tapi aku tidak menemukan nama Konoha dimanapun."
Itachi memakan ramennya yang mulai dingin sampai habis. Ia pernah membaca sejarah Jepang saat sekolah disini, tapi tidak ada nama nama yang ia kenali selain Sarutobi Sasuke yang notabene adalah ayah dari Hokage ketiga.
Ia juga melihat nama Hanzo, tapi seingatnya, pak tua mantan pemimpin Amegakure itu tidak berasal dari klan Hattori. Tidak ada yang menyebut Konoha, Senju, Hokage, maupun Uchiha disana.
Setelah selesai makan, keduanya berjalan kembali tak tentu arah hingga matahari mulai tenggelam. Keduanya pun memutuskan untuk kembali ke Kuoh Academy.
Tak lama setelah Itachi dan Rias sampai, Issei berlari tergesa-gesa memasuki ruang klub dengan wajah khawatir.
" Buchou!" panggil Issei.
" Asia-chan! Kita harus menolongnya!"
" Issei, tenanglah! Jelaskan padaku secara perlahan apa yang terjadi pada Asia." kata Rias. Setelah sedikit lebih tenang, Issei menjelaskan kejadian yang ia alami barusan.
" Asia, dia mengucapkan selamat tinggal padaku. Aku juga menyebut nama Raynare sebagai temannya." jelas Issei. Rias membelalakkan matanya saat mendengar Issei. Gadis Malaikat Jatuh itu kembali berulah rupanya.
" Aku khawatir sesuatu yang buruk akan terjadi padanya, Buchou! Raynare adalah gadis yang berbahaya!"
Rias sedikit bimbang. Apa ia harus mendengar permintaan Pawn miliknya satu ini?
" Tidak, Issei-kun. Jika kita bertarung, hal ini bisa menjadi Insiden yang memicu permusuhan Iblis dan Malaikat Jatuh." jawab Rias dengan tegas.
" Tapi, Buchou-
" Tidak!"
Issei mengepalkan tangannya. Giginya bergemelatuk pertanda kalau ia menahan amarah didalam hatinya.
" Baiklah. Kalau kalian tidak mau..."
" ...Aku akan pergi sendiri!" Issei berlari keluar ruangan menuju ke gereja tempat Asia tinggal.
" Bagaimana, Buchou? Haruskah kita membantunya?" tanya Kiba. Ia sudah merenggangkan otot otot sendi di tangannya.
" Kita tidak punya pilihan. Bagaimana denganmu, Nii-san?"
" Aku punya urusan sendiri. Kalian pasti bisa mengatasi hal ini." jawab Itachi. Ia lalu beranjak pergi entah kemana, meninggalkan Rias dan Peerage nya yang sedang bersiap untuk membantu Issei.
Malam ini taman Kuoh lebih sepi. Biasanya banyak orang-orang yang datang kesini, tapi malam ini hanya ada Itachi sendirian yang duduk di bangku taman. Ia sudah mengirim Yatagarasu untuk mengawasi Rias dan Peerage miliknya untuk berjaga-jaga.
" Ah kau sudah disini, Itachi." sapa Sirzech. Ia datang bersama dua orang lain di belakang nya.
" Selamat malam, Maou-sama, Azazel-sama." kata Itachi. Ia sedikit membungkuk hormat pada mereka.
Azazel adalah pemimpin dari para Malaikat Jatuh. Hubungan Sirzech dan dia sebenarnya cukup baik, karena keduanya sama-sama tidak ingin mengganggu satu sama lain.
" Selamat malam, Itachi. Perkenalkan, ini salah satu muridku, Vali." ucap Azazel. Vali lantas maju dan mengenalkan dirinya.
" Namaku Vali. Kau sepertinya cukup kuat. Ayo kita bertarung disini!"
Vali mengambil ancang-ancang untuk menyerang Itachi, namun dengan cepat dihentikan oleh Azazel.
" Kendalikan dirimu, Vali! Maaf, Sirzech, Itachi, si bodoh ini adalah seorang maniak bertarung."
Vali hanya mendengus kesal dan membuang wajahnya kearah lain.
" Nah karena semua sudah disini, lebih baik kita mulai pertemuannya, Azazel." kata Sirzech. Ia membawa Itachi yang bertugas mengawasi kota Kuoh untuk ikut di pembicaraan kali ini.
" Aku tahu, ini tentang pergerakan Malaikat Jatuh belakangan ini, kan? Biar kuluruskan, mereka adalah pemberontak yang ingin memicu kembali Great War." jelas Azazel. Ia menegaskan kalau dirinya tidak tahu soal tindakan Malaikat Jatuh di Kuoh.
" Apa kau punya buktinya?" tanya Itachi.
" Tidak. Tapi aku bersumpah demi harga diri Malaikat Jatuh kalau bukan aku yang memerintahkan mereka."
Perkataan Azazel membuat Sirzech percaya pada ucapannya, setidaknya untuk sekarang.
" Itu saja? Kalau hanya itu yang ingin kau tanyakan, tidak usah sampai repot-repot membawa kami ke sini." kata Azazel. Ia menggaruk belakang kepalanya dengan malas.
" Kau bisa merasakannya, bukan? Energi spiritual dengan jumlah besar sedang berkumpul di salah satu sudut kota Kuoh, dan aku tahu kalau energi ini bukan milik Iblis maupun Malaikat."
" Ugh... Pasti ulah Kokabiel." keluh Azazel.
" Dia adalah salah satu jendral perang saat Great War. Belakangan ini ia menyatakan pemberontakan terhadap Grigori. Aku akan sangat terbantu kalau kalian bisa mengurus mereka."
Ia bisa merasakan energi yang berkumpul di dua titik berbeda. Yang satu hanya kumpulan Malaikat Jatuh, sedangkan yang satu lagi seperti kumpulan Iblis dan beberapa Malaikat Jatuh. Apa sedang terjadi pertarungan?
Itachi juga bisa merasakan secara samar kumpulan energi yang mirip sedang berkumpul di sudut kota Kuoh. Jika benar yang dikatakan Azazel tadi, maka Itachi yakin kalau jumlah Malaikat Jatuh disana tidaklah sedikit. Rias dan teman-temannya pasti akan kewalahan jika mereka bergerak ke tempat dimana dia sekaramg.
" Itu saja yang ingin kubicarakan. Terima kasih atas waktumu, Azazel." ucap Sirzech. Azazel hanya mengibaskan tangannya dan bersiap untuk berteleportasi kembali ke Grigori.
" Habisi saja mereka kalau kalian ingin. Aku tidak peduli."
Cahaya putih menerangi tubuh Azazel dan Vali, lalu sekejap mata mereka menghilang.
" Kau dengar kan, Itachi? Habisi mereka. Aku mengandalkanmu. Selamat malam."
Itachi mengangguk. Ia menyanggupi permintaan Sirzech yang langsung menghilang lewat sihir teleportasi. Ia mempersiapkan dirinya dan segera berteleportasi ke dekat sumber yang dimaksud Sirzech.
Itachi sampai di sebuah bangunan konstruksi yang belum selesai dibuat. Dari luar, semuanya tampak sepi dan sunyi. Hanya ada beberapa gelandangan yang berkumpul mengelilingi api di dalam kompleks bangunan. Tapi Itachi tahu kalau mereka bukanlah manusia. Mereka hanyalah Malaikat Jatuh yang berpura-pura menjadi gelandangan.
Itachi harus memancing yang lainnya untuk keluar. Dengan santai dia berjalan masuk ke dalam kompleks bangunan dan menghampiri gerombolan gelandangan yang ada disana.
Para Malaikat Jatuh yang berjumlah sekitar 5 orang itu menyadari kehadiran Itachi.
" Kau tersesat, Tuan?" tanya salah satu dari mereka.
" Aku diperintahkan kesini untuk menangani masalah tentang kawanan gagak." jawab Itachi dengan tenang.
" Gagak? Aku tidak pernah melihat kawanan gagak disini."
" Benarkah? Tapi orang yang memanggilku kesini berkata kalau ada kawanan gagak yang perlu di atasi."
Perkataan Itachi membuat mereka meningkatkan kewaspadaan mereka. Ada yang aneh dengan pria ini, pikir mereka.
" Sebaiknya kau pergi, Tuan. Kau pasti salah tempat. Siapa yang menyuruhmu kemari?"
Itachi memasang pose berpikir, seolah-olah ia sedang mencoba untuk mengingat sesuatu.
"Hm... Ah, dia bilang namanya Azazel. " kata Itachi dengan tersenyum. Namun ekspresinya langsung berubah menjadi dingin.
Seketika, mereka semua melompat mundur dan memasang kuda-kuda. Sayap hitam mereka terbentang lebar, sehingga memungkinkan mereka untuk terbang
" Cepat panggil yang lain!" perintah salah satu dari mereka pada rekannya. Rekannya yang diperintah tadi segera melesat terbang dan menghilang di balik bangunan yang belum jadi ini.
Itachi melempar jasnya, menyisakan rompi dan kemeja yang lengannya sudah ia gulung. Ia juga melonggarkan dasi miliknya agar tak mengganggu.
Itachi meregangkan otot otot tubuhnya lalu menatap tajam puluhan malaikat jatuh yang bermunculan dari belakang gedung. Mata hitamnya perlahan tergantikan dengan Mata merah dengan pupil yang aneh.
Ia menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya. Malam ini akan menjadi malam yang panjang.
AUTHOR'S NOTE :
And... Cut!Yak kembali lagi sama saya, Author Silvermane Kudan. Fic kali ini saya publish seiringan dengan event update serentak bersama beberapa Author lain.
" Itachi gak bisa merasakan Sacred Gear?"
*gulp. Oke oke, ini saya akuin sebagai plot hole, dan sudah saya tambal di chapter ini :p. Itachi merasakan sedikit energi, tapi dia masih asing dengan Sacred Gear, jadi ga bisa membedakan antara energi biasa sama Sacred Gear. Bisa diterima?
" Itachi di Nerf!"
Santai, pak. Itachi memang saya Nerf sedikit buat kepentingan alur kedepannya.
" Dipercepat dong up-nya, lama banget!"
GOMENASAI!!! Kesibukan membuat Saia ga selalu bisa ngetik. Disamping itu, ide buat nulis juga ga selalu datang.
Thanks for the Review! Mind to do it again?
Dan buat kalian! Iya kalian! Para Silent Reader! Saya lihat masih belom mau muncul juga buat ngereview...
Anyway, Thats it. I bid you all farewell.
Silvermane Kudan, Out.
