CROWMASTER : BIRD AMONG DRAGON


Disclaimer :

Naruto Punyanya Om Masashi Kishimoto

High School DxD Punyanya Om Ichiei Isshibumi


" Asia-chan..." ujar Issei lirih. Tubuh Asia tergolek tak bernyawa di pelukannya. Pemisahan Twilight Healing dari tubuhnya tadi membuat Asia harus meregang nyawa, meski Sacred Gearnya sudah dikembalikan.

" Buchou, kumohon, hidupkan kembali Asia." pinta Issei.

Rias diam sejenak untuk berpikir. Twilight Healing pasti sangat berguna di dalam Peeragnye yang tidak memiliki seseorang dengan kekuatan penyembuhan.

Rias mengangguk pada Issei lalu mengeluarkan bidak Bishop miliknya. Bishop pawn tersebut bercahaya lalu retak dan hancur menjadi sebuah orb merah yang terserap kedalam tubuh Asia. Sudah ia duga, bidak Bishop pasti serasi dengan kemampuan Asia.

Setelah beberapa detik, Asia secara perlahan membuka matanya.

" A-Asia!" ujar Issei. Ia memeluk Asia dengan erat.

" I-Issei-kun?"

Asia masih belum mencerna apa yang terjadi. Ia nampak bingung dengan keberadaan Issei san sekumpulan orang asing di sekitarnya.

Issei menjelaskan semua yang terjadi pada Asia, mulai dari pertarungan dengan Raynare, hingga fakta kalau dia sekarang adalah seorang Iblis. Asia belum begitu paham soal dirinya yang menjadi Iblis, tapi ia memilih untuk menyimpan pertanyannya dan membalas pelukan dari Issei.

" Buchou, apa kau merasakannya?" tanya Koneko. Rias menatap bingung Rook miliknya.

" Sebelumnya aku merasakan seperti ada ledakan energi spiritual di bagian lain kota ini."

" Benarkah? Kita akan memeriksanya nanti. Untuk sekarang lebih baik kita pulang dan beristirahat." ucap Rias sembari melihat Issei dan Asia yang masih berpelukan. Pertarungan tadi pasti menguras tenaga Bidak-bidaknya.


" Cepat kabari yang lain!" perintah salah satu dari mereka pada rekannya. Rekannya yang diperintah tadi segera melesat terbang dan menghilang di balik bangunan yang belum jadi ini.

Itachi melempar jasnya, menyisakan rompi dan kemeja yang lengannya sudah ia gulung. Ia juga melonggarkan dasi miliknya agar tak mengganggu. Ia juga melonggarkan dasi miliknya agar tak mengganggu. Dia sudah membuat Kekkai di sekeliling kompleks bangunan agar pertarungan yang terjadi tidak terlihat dari luar Kekkai.

Itachi meregangkan otot otot tubuhnya lalu menatap tajam puluhan malaikat jatuh yang bermunculan dari belakang gedung. Mata hitamnya perlahan tergantikan dengan Mata merah dengan pupil yang aneh.

Salah satu Malaikat Jatuh disana melesat menerjang Itachi dengan sebuah pedang di tangannya. Ia bersiap untuk menusuk Itachi dengan kecepatan tinggi.

Itachi berhasil menghindari serangan si Malaikat Jatuh dengan mudah. Ia hanya sedikit menggeser posisinya ke samping dan hasilnya, serangan tersebut meleset. Si Malaikat Jatuh dengan cepat kembali menebaskan pedangnya secara horizontal, dan lagi, berhasil dihindari Itachi dengan menunduk.

" Lightning Release : Song of The Thousand Bird!"

BZZTT!

Sebuah uppercut dari Itachi yang menggunakan jurus andalan adiknya dengan telak menghujam dagu si Malaikat Jatuh hingga terpental dan tak sadarkan diri.

Melihat rekannya kalah, Malaikat Jatuh yang lainnya pun menyiapkan Light Spear masing-masing. Mereka ingin menghujani Itachi dengan Light Spear hingga mati.

Puluhan tombak cahaya dilesatkan kearah Itachi. Ia hanya membentangkan tangannya. Lingkaran sihir muncul dari bawah kakinya disertai percikan api.

" Fire Release : Flame Vortex!"

Sebuah tornado api raksasa tercipta di sekeliling Itachi, membakar habis semua Light Spear dan Malaikat Jatuh yang berada di jangkauannya. Setelah tornado mereda, jumlah Malaikat Jatuh yang tersisa hanya sedikit. Itupun karena mereka tidak masuk kedalam jangkauan tornado gila milik Itachi.

Salah seorang Malaikat Jatuh maju ke depan teman-temannya. Dua pasang sayap hitam miliknya menandakan kalau kekuatannya berada diatas yang lain.

" Kalian pergilah. Beritahu dia kalau Azazel sudah mulai bergerak." perintahnya. Para Malaikat Jatuh yang tersisa segera pergi entah kemana meninggalkannya bersama Itachi disini.

Dia bertepuk tangan dan tertawa sembari memandang rendah Itachi.

Clap! Clap! Clap!

" Ahahaha... Hebat! Mengalahkan puluhan Malaikat Jatuh yang mayoritasnya adalah Veteran Great War dengan sekali serang, kau sungguh hebat." pujinya.

" Namaku adalah Eligor. Salah satu pemimpin Malaikat Jatuh di bawah Kokabiel. Si Tua Bangka Azazel pasti menyuruhmu untuk kemari, bukan?"

Dia memperkenalkan diri dengan senyum mengejek. Itachi membentangkan tiga pasang sayap iblis miliknya dan terbang sejajar dengan Eligor.

" Ah... Iblis. Tiga pasang sayap? Aku tidak tekejut setelah melihat sihirmu tadi." ucap Eligor. Ia menyembunyikan keterkejutannya saat melihat sayap Itachi yang berjumlah 6.

Entah kenapa dia sedikit merinding melihat mata merah itu. Mata itu seakan menusuk ke dalam jiwanya. Karena tidak ada respon dari lawannya, Eligor kembali berbicara.

" Kau ini tipe yang tidak banyak bicara, ya? Kalau begitu baiklah. Ayo kita bersenang-senang!"

Eligor melesat dengan pedang yang terhunus. Ia mengayunkan pedangnya ke arah Itachi, tapi berhasil ditahan dengan sebilah belati. Ia kembali mengayunkan senjatanya yang terus beradu dengan belati milik Itachi.

Ting! Trang! Trang!

Eligor dan Itachi sama sama terbang mundur saat senjata mereka berdua kembali beradu hingga menciptakan percikan api.

" Kemampuanmu cukul bagus, ku akui itu." kata Eligor.

" Terima kasih."

Kali ini Itachi yang terbang melesat belati yang siap menusuk lawannya. Eligor yang melihat kesempatan pun mengelak dan menebas kepala Itachi dari belakang.

Zrash!

" Huh?"

Saat dia pikir dia sudah menang, tubuh Itachi buyar menjadi kawanan gagak yang terbang mengelilingi Eligor.

" A-apa yang-"

Jleb!

Perkataannya terputus saat perutnya merasakan sakit. Darah menetes dari bagian perut depannya dengan bekas tusukan benda tajam disana. Ia menoleh kebelakang dan melihat Itachi yang bersiap untuk dengan sihir miliknya.

" Fire Release : Grand Fireball!"

Sebuah bola api tercipta di tangan Itachi dan dilemparkan kearah Eligor. Bola api tersebut seketika membesar hingga membakar tubuhnya.

" Aargghhhh!" teriak Eligor kesakitan. Api tersebut membakar habis sayap hitamnya hingga ia terjatuh ke tanah.

Boom!

Suara tubuh yang terhempas menggema di sunyinya kompelks bangunan ini. Tubuh Eligor terkapar di tanah. Sayapnya hangus, habis terbakar oleh bola api raksasa milik Itachi, namun dia tetap bangkit dengan susah payah.

Itachi kini berdiri di tanah dan menatap Eligor dengan kobaran api masih menyala di tangannya.

" Uhuk! Uhuk!" Eligor bangkit dengan terbatuk-batuk.

" Serangan yang hebat, tapi aku belum selesai!"teriaknya. Ia kembali berlari ke arah Itachi dengan tangan kosong setelah melesatkan sebuah Light Spear. Keduanya berhasil dihindari oleh Itachi dengan kecepatan tinggi.

Setiap kali ia menyerang, Itachi akan mengelak lalu membalasnya. Kondisi Eligor yang sudah babak belur membuat pertarungan ini menjadi lebih berat sebelah dibanding sebelumnya.

Tap! Tap! Duagh!

Bruk!

Body uppercut dari Itachi kembali menghantam tubuh Eligor yang sudah tak memakai armor. Ia ambruk terkapar dengan luka bakar dan memar di sekujur tubuhnya. Berbanding terbalik dengan Itachi yang hanya robek di bagian lengan bajunya.

" Siapa namamu?" tanya Eligor lirih.

Itachi terdiam sejenak lalu menjawab dengan nada dingin.

" Itachi."

" Itachi, huh? Ahahaha Uhuk! Kuharap Kokabiel tidak kerepotan melawanmu nanti." Eligor tertawa sejenak. Ia lalu memejamkan matanya, bersiap menerima serangan terakhir dari Itachi.

Itachi berjalan mengambil tombak lembing milik Eligor yang terlempar saat ia terjatuh tadi lalu menghujamkannya ke dada Eligor.

Tubuh Malaikat Jatuh itupun terpecah menjadi kumpulan kumpulan bola cahaya yang bergerak menuju langit, lalu menghilang.

Itachi menyeka keringatnya.

" Waktunya pulang. Aku akan memberi tahu Sirzech soal ini."


Anggota klub Penelitian Ilmu Gaib bertambah satu sekarang. Asia Argento, Bishop milik Rias, sekarang sudah resmi menjadi murid Kuoh Academy tahun kedua.

" Nah, Asia, karena kau sudah menjadi budak ku, kuucapkan selamat datang. Mohon perkenalkan dirimu didepan anggota yang lain." pinta Rias.

" A-ano, salam kenal semuanya! Namaku Asia Argento, murid tahun kedua di Kuoh Academy. Mohon bantuannya!"

Asia membungkuk seperti yang diajarkan Issei. Ia merasa sedikit canggung dengan anggota Peerage yang lain. Sejauh ini hanya Rias dan Issei yang dia kenal.

" Namaku Akeno Himejima."

" Koneko Toujou."

" Kiba Yuuto. Salam kenal, Asia-san."

Masing-masing anggota memperkenalkan diri mereka pada Asia. Perasaan hangat menjalari hati Asia. Ia merasakan hal yang berbeda dari saat ia bersama Raynare. Ia merasa diterima sebagai keluarga disini dan itu membuat ia senang.

" Mohon bantuannya, teman-teman."

" Masih ada satu lagi yang harus kau kenal, Asia-chan. Dia adalah pengurus Klub ini. Mungkin sebentar lagi dia datang."

Tok! Tok!

Krieet...

Seorang pria tampan berambut hitam dengan setelan jas memasuki ruangan. Asia ingat wajah ini. Dia pria yang membantunya kabur dari para preman berandal waktu itu.

" Itachi-san... ?"

" Hm? Ah, Asia, Selamat sore." sapa Itachi.

" Namaku Itachi Uchiha, Pengurus klub dan Guru Fisikamu disini."

Tunggu, pikir Asia. Kalau Itachi adalah pengurus klub ini, berarti dia juga-

" A-ano, Itachi-san, kalau anda adalah pengurus klub ini, berarti anda juga ..." tanya Asia dengan menggantung.

" Aku juga sama sepertimu, jadi jangan khawatir." jawab Itachi dengan tersenyum.

Melihat semua anggota klub sudah berkumpul, Rias pun menepuk tangannya untuk mengalihkan perhatian mereka.

" Sebenernya, ada yang ingin kutanyakan."

Semuanya duduk dan menyimak apa saja yang akan dikatakan oleh Rias.

" Baiklah, Asia, bagaimana kau bisa bertemu dengan Raynare?" tanya Rias.

Asia menghembuskan nafasnya. Ia mengingat kembali masa lalunya yang tidak terlalu indah. Ia menceritakan bagaimana awalnya dia dianggap sebagai seorang gadis suci dengan berkah dari Tuhan, lalu dianggap sebagai penyihir jahat karena tidak sengaja menyembuhkan seorang iblis dengan Twilight Healing.

Mulai saat itu, Asia dibuang oleh pihak gereja dan ditelantarkan begitu saja, sampai saat Asia bertemu dengan Raynare. Sikapnya yang baik membuat Asia mempercayainya begitu saja, tanpa tahu wajah asli dibalik topeng yang dipakai Raynare.

" Aku benar-benar pasrah saat dia ingin mengambil Sacred Gear dari tubuhku. Dia bilang kalau pengorbananku akan membawa perdamaian bagi seluruh makhluk." jelas Asia. Ia merasakan sakit di hatinya saat menjelaskan semua pengalamannya.

" Saat itu aku berpikir kalau tidak ada gunanya juga aku hidup. Tidak ada yang benar-benar menginginkan keberadaan ku."

" Tapi, Issei-kun tetap datang. Kalian semua datang. Dan saat itu juga aku tersadar kalau aku ingin hidup. Aku ingin membantu kalian yang sudah berbaik hati membantuku."

Penjelasan Asia dan tekadnya membuat Itachi sedikit m menyukai gadis ini. Seorang iblis dengan hati layaknya malaikat. Ini adalah hal yang jarang terjadi.

Rias mengangguk paham mendengar perkataan Asia.

" Lalu, kemana kau semalam, Nii-san?"

" Huh? Aku hanya bertemu dengan kakakmu dan Azazel.

Rias sedikit curiga pada Itachi. Pertemuan antara pemimpin Malaikat Jatuh dan Iblis secara personal seperti ini, pasti ada hal serius yang mereka bicarakan.

Namun ia memilih untuk tak mencampuri lebih jauh urusan kakak-kakaknya. Mungkin hanya urusan politik, atau mungkin Rias saja yang terlalu memikirkannya. Bisa jadi mereka hanya mengobrol ringan.

" Huh... Baiklah, aku tidak ingin tahu apa yang kalian bicarakan." ujar Rias.

Sebenarnya ada satu lagi hal yang mengganjal di hatinya. Ledakan energi semalam pasti adalah sebuah sihir berskala besar. Mungkinkah ini ulah Sirzech atau Azazel? Atau ulah Itachi?

" Sebenernya apa yang ingin kau lakukan, Rias?" tanya Itachi.

" Tidak ada. Aku hanya penasaran..." jawabnya dengan muka polos.

Keheningan menyelimuti atmosfer ruangan, tidak ada yang mau memulai pembicaraan. Mendengar masa lalu Asia membuat suasana menjadi lebih berat. Akeno berinisiatif untuk mencairkan suasana ini.

" Baiklah, untuk menyambut Asia-chan, bagaimana kalau kita makan Yakiniku?" tanya Akeno.

" Yosha! Ini yang kutunggu dari tadi!" teriak Issei kegirangan. Yang lainnya juga setuju dan memutuskan untuk pergi ke tempat Yakiniku terdekat.


Penghuni Klub Penelitian Ilmu Gaib sekarang duduk mengelilingi sebuah meja besar dengan belasan piring daging dan sebuah pemanggang di tengah-tengahnya.

Salah satu pelayan disana datang membawa minuman mereka semua.

" Silahkan dinikmati." ucapnya lalu pergi.

" Selamat makan!"

Mereka semua mulai mengambil dan memanggang daging pilihan masing-masing. Semuanya menikmati pesta Yakiniku dadakan ini. Tak terkecuali Itachi. Ia juga merasakan perasaan senang saat berkumpul bersama mereka.

Memang, Itachi belum lama Itachi mengenal mereka, tapi entah kenapa ia merasa nyaman. Mungkin karena hidupnya sekarang jauh berbeda dengan waktu ia masih menjadi shinobi buronan antar negara.

Ia tak perlu lagi membunuh perasaannya. Ia tak perlu lagi berpura-pura menjadi seorang pembunuh berdarah dingin yang tega menghabisi keluarganya sendiri. Ah, ia jadi kembali teringat akan Sasuke. Apa yang sedang dilakukan adiknya sekarang? Bertahun-tahun sudah berlalu, pasti ia sekarang sudah tumbuh menjadi pria yang tangguh dan tampan.

Akeno yang melihat Itachi melamun dengan tersenyum menepuk punggung teman masa kecilnya itu hingga tersentak kaget.

" Ada yang kau pikirkan, Itachi-kun?" tanya nya.

" Ah, Akeno... Aku hanya memikirkan adikku."

" Ada apa dengan Buchou, Sensei?"

Itachi menghela nafasnya dan menggelengkan kepalanya menjawab Koneko. Dia lupa kalau selain Keluarga Gremory dan Serafall, tidak ada yang tahu tentang Sasuke.

" Seingatku, kau punya seorang adik laki-laki bukan, Nii-san?" tanya Rias.

Itachi mengangguk membenarkan. Semua yang hadir disana mulai tertarik. Mereka penasaran dengan info tentang Itachi, termasuk Akeno.

" Aku memang punya adik laki-laki di tempat asalku. Namanya Sasuke. Mungkin dia seumuran dengan kalian." ujar Itachi. Mungkin jika Sasuke juga ikut kemari, umurnya pasti tidak jauh berbeda dengan Rias.

" Memangnya dimana tempat asalmu, Sensei?" kali ini Issei yang bertanya. Raut wajahnya menunjukkan kalau dia penasaran.

" Namanya kampung halamanku adalah Konoha. Sebuah desa yang dikelilingi oleh hutan lebat yang indah. Disanalah tempatku berasal."

Akeno ingat nama itu. Konoha. Tempat yang budayanya mirip dengan Jepang, menurut deskripsi dari Itachi. Namun hingga sekarang, ia tidak menemukan sebuah petunjuk tentang tempat yang bernama Konoha.

Akeno ingin bertanya lebih banyak, tapi ekspresi dari Itachi membuatnya sadar kalau Itachi tidak nyaman menceritakan masa lalunya.

" Konoha? Dim-

" Sudahlah, Issei-kun. Bintang utama pesta ini adalah Asia. Lagipula, nikmati dagingnya sebelum dihabiskan oleh Koneko." potong Akeno. Ia membalas senyuman tipis Itachi yang seolah berterima kasih padanya.

" O-oi, Koneko-chan! Sisakan sedikit untukku!"

Teriakan Issei tidak digubris oleh Koneko yang asyik mengunyah daging panggang tanpa henti. Gelak tawa dan candaan menghiasi pembicaraan mereka hingga malam.


Itachi terbaring di kamarnya. Perasaan tidak nyaman masih menyelimuti pikirannya. Ia tidak ingin mengingat kembali masa-masa kelam di kehidupan sebelumnya.

Tidak ada alasan bagi mereka untuk tahu masa lalu Itachi. Lagipula, jika mereka tahu, apa pandangan mereka terhadap Itachi akan berubah?

Untuk sekarang, biarlah semua ingatan tentang hidupnya yang kelam ia simpan rapat-rapat di dalam memorinya. Ia hanya ingin mengingat kenangan indah tentang keluarga dan teman terdekatnya.

" Tou-san... Kaa-san..."

" Aku merindukan kalian..."


AUTHOR'S NOTE :

Ahahaha maaf maaf kalo lama. Ngewibu membuat saia malas untuk menulis.

I can't find the right ending for this chapter :p Jadi ya begitu aja. Maaf kalo jadi gaje.

Bagaimana dengan fightingnya? Saia ga pinter ngejelasin adegan berantem, jadi ga tau itu bagus atau nggak.

So, Mind to Read Review?

Silvermane Kudan, Out.