CROWMASTER : BIRD AMONG DRAGON


Disclaimer :

Naruto Punyanya Om Masashi Kishimoto

High School DxD Punyanya Om Ichiei Isshibumi


Issei Hyoudou, 17 tahun, adalah seorang pemuda yang terpilih sebagai pemegang Boosted Gear, wadah dari roh Sang Kaisar Naga Merah.

Hidupnya yang membosankan sebagai siswa biasa seketika berubah 180 derajat saat ia dihidupkan kembali menjadi pelayan iblis keluarga Gremory. Tuannya, Rias Gremory, adalah gadis yang selama ini menjadi salah satu idamannya. Wajah cantik, Otak yang cerdas, Kekayaan yang melimpah, dan 'aset' yang besar membuat Issei jatuh hati padanya.

Namun ada satu halangan baginya untuk mendapatkan Rias, yaitu gurunya sendiri. Itachi Uchiha adalah guru sekaligus kakak dari Rias. Sialnya, mereka berdua bukanlah saudara sedarah.

Sedangkan Akeno, incarannya yang lain, juga terlihat berbeda saat didekat Itachi. Caranya menggoda Itachi tidaklah sama seperti saat ia menggoda Issei atau Kiba. Ia serius menginginkan Itachi, bukan hanya untuk bermain-main. Issei bahkan beberapa kali tidak sengaja mendengar percakapan antara Rias dan Akeno yang saling memperbutkan gurunya itu.

Jika Rias dan Akeno sudah tak bisa ia selamatkan dari pengaruh Itachi, maka ia harus melindungi gadis pirang di sampingnya ini. Asia Argento, seorang biarawati yang dihidupkan kembali sebagai iblis oleh tuan yang sama dengan Issei.

" Aku akan memastikan Asia masuk ke dalam Harem milikku kelak. Pasti!" ujar Issei entah pada siapa. Omong-omong soal Asia, Issei baru menyadari kalau Asia tidur dipelukannya. Tunggu, bukankah kamar Asia ada di sebelah? Bagaimana ia bisa masuk?

" Ngh..." lenguh Asia. Ia membuka matanya perlahan.

" Ohayou, Issei-kun..."

" O-ohayou..." balas Issei dengan terbata-bata. Matanya menatap Asia lekat-lekat.

Pandangan mereka berdua bertemu cukup lama sampai pintu kamar terbuka.

" Issei, bangun!" teriak ibunya. Namun, melihat Issei yang sedang memeluk Asia, ia kembali menutup pintunya.

" Issei, cepat bangun dan ajak Asia-chan sarapan dibawah!"

Suara ibunya terdengar dari luar kamar diikuti oleh langkah kaki yang perlahan menghilang. Samar-samar, Issei bisa mendengar ibu dan ayahnya dari atas.

" Sayang, hal yang kita takutkan sudah terjadi! Issei meniduri Asia-chan dikamarnya!"

" Apa?!"

Kehebohan yang terjadi di bawah membuat Issei melonjak dari tempat tidurnya dan berlari untuk meluruskan kesalahpahaman ini.


Setelah selesai sarapan, mereka berdua kemudian bergegas untuk berangkat ke sekolah. Obrolan ringan antara keduanya diinterupsi oleh dua orang yang muncul secara tiba-tiba.

" Yo, Issei..." sapa Matsuda. Ia merangkul bahu Issei dengan senyuman yang seperti dipaksakan.

" Ohayou, Issei..." begitu pun dengan Motohama yang melakukan hal serupa.

Entah kenapa senyuman keduanya terlihat begitu mencurigakan di mata Issei. Ada maksud tersembunyi di balik itu semua.

" Ah, halo, Nona! Kami pinjam Issei sebentar, ya?" ucap Matsuda. Mereka berdua lantas menggiring Issei untuk sedikit menjauh dari Asia yang kebingungan.

" Oi, apa maksudnya ini?!" tanya Issei dengan sedikit berbisik.

" Issei, siapa wanita cantik itu?"

" Namanya Asia. Dia teman sekelas dan rekanku di klub."

" Bisa kau mengenalkan kami padanya?"

Ah... begitu rupanya. Kedua pria amoral ini ingin mendekati Asia rupanya. Tidak! Issei tidak akan membiarkan Asia didekati oleh dua temannya. Asia yang polos tidak akan ia biarkan dikotori oleh dua makhkuk laknat ini!

" Tidak." jawabnya cepat.

" Sudahlah, aku tidak ingin terlambat dan mendapat hukuman dari Itachi-sensei."

Issei lalu berjalan kembali bersama Asia, meninggalkan dua rekannya yang terlihat kesal.

Keduanya tiba di kelas bertepatan dengan lonceng masuk yang berbunyi di penjuru sekolah, pertanda jam pertama pelajaran sudah dimulai.

Pintu terbuka, dan Itachi masuk ke kelas 2B. Ia menaruh setumpuk kertas yang terlihat mencurigakan. Issei bahkan sekilas melihat aura hitam menguar dari sana. Perasaannya berkata kalau hari ini akan diawali dengan hal yang buruk.

" Ohayou, minna. Hari ini kita akan mengulas kembali materi dari dua minggu lalu, yaitu tentang Fluida Dinamis dan Hukum Bernoulli."

Itachi kemudian menuliskan bermacam-macam rumus tentang materi yang ia bahas sekarang dan kembali menjelaskannya secara simple.

Mendengar penjelasan gurunya membuat Issei mengantuk. Rumus-rumus yang dijelaskan Itachi terdengar seperti nina bobo untuknya, padahal ia sudah tidur dengan cukup tadi malam. Matanya semakin berat setiap detiknya, hingga akhirnya ia tertidur.

Itachi yang melihat ini tidak membangunkan Issei. Ia tetap fokus mengulang kembali materi fluida minggu lalu di depan kelas sampai selesai.

" ... dan jika disederhanakan, maka rumusnya akan menjadi seperti ini." Itachi melingkari formula rumus yang terletak paling bawah.

" Apa semua sudah paham?" tanyanya. Seisi kelas mengangguk, kecuali satu orang yang masih melanglang buana kealam mimpinya. Ia melihat jam di dinding. Jam pelajarannya masih tersisa 45 menit.

Itachi mengambil setumpuk kertas soal dari mejanya dan berjalan menghampiri Issei. Ia lalu menghempaskannya ke meja hingga si murid langsung terlonjak kaget.

Blam!

Issei langsung berdiri dan mengangkat tangannya.

" Jawabannya A, sensei!" ujarnya dengan tegas dan membuat seisi kelas menertawakan tindakannya.

" Tidurmu nyenyak, Hyoudou-san?" tanya Itachi dengan tersenyum.

" A-ano, sensei..."

" Cepat bagikan ini."

Itachi lalu berjalan kembali ke depan kelas selagi Issei membagikan soal kepada seluruh murid.

" Apa semua sudah dapat soalnya?" pertanyaan Itachi dijawab dengan anggukan oleh murid-muridnya.

" Baiklah, waktu kalian 45 menit. Ujian dimulai sekarang!"


Disinilah Issei sekarang, terpaksa melakukan remidial di dalam ruang klub dengan diperhatikan oleh teman-temannya. Semua soal yang diberikan sebenarnya sudah dibahas oleh Itachi sebelum ujian. Tapi karena dia tidur, maka Issei melewatkan penjelasan yang diberikan oleh gurunya.

Kiba, Koneko, dan Akeno saat ini sedang pergi menjalankan request. Hanya ada dia, Itachi, Rias, dan Asia di ruangan ini. Ia berpikir keras melihat soal di depannya. Bunyi hukum Bernoulli? Ayolah siapa yang peduli pada hukum pak tua itu!

Matanya melirik kearah berambut merah di samping gurunya. Tidak mungkin, pikir Issei. Rias sudah pasti berpihak pada kakaknya dalam hal seperti ini. Harapannya hanyalah Asia yang juga duduk di sebelah Itachi.

Melihat Issei yang daritadi mencuri-curi pandang kearah Asia, Rias dengan sigap mencegah hal yang ingin dilakukan si bidak Pion.

"Asia, Akeno bilang kalau kita kehabisan bahan untuk biskuit. Apa kau bisa membelinya sekarang?" tanya Rias sembari menyodorkan kertas resep dari Akeno.

" Ah, baiklah, Buchou."

Sepertinya pilihan bagi Issei hanya pasrah. Harapannya sudah pergi membeli bahan untuk biskuit beberapa detik lalu.

Tiba-tiba sebuah lingkaran sihir terbentuk di dalam ruangan. Cahaya oranye yang keluar perlahan mulai meredup, menampakkan sosok pria dengan rambut pirang. Issei langsung berdiri di depan ketuanya dengan Boosted Gear yang sudah siap siaga.

" Selamat sore, Rias sayang." sapa si pirang.

Melihat ekspresi dari Rias, Itachi tahu kalau dia punya hubungan yang kurang bagus dengan pria ini.

" Buchou, siapa dia?" tanya Issei.

" Dia adalah-"

" Ho? Sepertinya kau adalah iblis baru sehingga tidak mengenalku." kata si pirang memotong ucapan Rias.

" Namaku Riser Phenex, wahai iblis rendahan!"

Ah, Itachi ingat sekarang. Dia adalah anak ketiga dari Marquis Phenex. Apa hubungan antara Rias dan dia? Itachi merasa kalau dia melewatkan begitu banyak hal di Underworld selama ia pergi.

" Pergilah, Riser! Kau tidak diterima disini." usir Rias. Melihat wajahnya saja sudah membuat Rias muak.

" Berkata seperti itu sangatlah tidak sopan, Rias. Terutama kepada tunanganmu sendiri..."

Perkataan Riser membuat Issei terkejut. Ia tidak mengira kalau ketuanya sudah bertunangan. Mimpinya untuk menjadikan Rias sebagai salah satu haremnya sekarang semakin jauh.

Pun dengan ekspresi Itachi. Ia menoleh kearah Rias, seakan berkata 'Jelaskan semua padaku nanti!' padanya. Pertunangan Rias? Itachi terkejut Zeoticus tidak memberitahunya tentang hal ini, mengingat dia menganggap Itachi sebagai kakak angkat Rias.

" Apa yang kau inginkan dari Buchou?"

Mendengar nada bicara Issei, ekspresi Riser menggelap. Terlihat jelas kalau ia tidak senang.

" Perhatikan nada bicaramu, Iblis rendahan!"

" Rias, aku kesini untuk mendiskusikan rencana pernikahan kita nanti" ucapnya dengan senyuman. Tidak, seringaian mungkin lebih tepat. Dia berjalan mendekati Rias dengan ekspresi yang sama.

Issei sudah mengambil ancang-ancang untuk mengaktifkan Boosted Gear miliknya jika ia terpaksa menggunakan kekerasan. Demi sang King, ia siap melawan pria di depannya. Riser menautkan alisnya melihat tindakan Issei.

" Kenapa kau menghalangiku untuk bertemu calon istriku sendiri, iblis rendahan?"

" Kalian belum tentu akan menikah! Aku... Aku akan mendapatkan hati Buchou dan menjadi seorang Harem King!" jawab Issei. Bukannya terkejut, Riser malah tertawa mendengarnya.

" Ahahaha! Hahahaha! Harem King? Kau?" tanyanya dengan tampang mengejek. Lingkaran sihir berukuran besar muncul dibelakang Riser. Belasan gadis cantik dan seksi berdiri disana.

" Inikah mimpimu?"

Riser menjatuhkan dirinya di sofa ruangan klub. Seketika, para gadis-gadis tadi langsung mengerumuninya. Riser kemudian mencium dan meremas dada gadis di dekatnya.

Itachi hanya bisa memandang jijik Riser. Jelas sekali kalau dia menikahi Rias hanya untuk memuaskan nafsunya. Apa ia akan menyerahkan Rias pada Riser? Tentu tidak! Apalagi setelah Zeoticus dan Sirzech sendiri yang memintanya untuk menjaga Rias.

Tiba-tiba, Issei langsung melesat maju dengan tinju yang terkepal. Riser pun merespon dengan melompat kearah Issei dengan tinju yang juga terkepal.

"Issei-kun!"

Sebelum keduanya sempat saling tinju, pergelangan tangan mereka sudah digenggam oleh Itachi, dan dalam sekali gerakan memutar, keduanya terlempar ke dinding.

Grep! Grep!

Blam!

" Dia bukan lawanmu, Issei." kata Itachi pada Issei yang masih terduduk.

" Heh... Gerakanmu cukup bagus." puji Riser. Ia berdiri dan merapikan bajunya yang kotor, lalu kembali melesatkan tinju kearah Itachi.

" Hentikan, Riser!" pinta Rias sebelum situasi bertambah buruk.

" Aku menantangmu dalam Rating Game!"

Riser sedikit terkejut mendengar tantangan dari Rias.

" Ahahahahaha... Kau ingin menantangku dalam Rating Game?"

"Baiklah, akan kuterima tantanganmu. Pertandingannya akan diadakan dua minggu lagi."

Ia kemudian berbalik dan menghampiri Peeragenya. Sebuah lingkaran sihir teleportasi tercipta di bawah mereka.

" Sebaiknya kau bersiap untuk pernikahan kita nanti, Rias sayang. Karena aku tidak akan kalah dalam Rating Game..."

Dan dalam sekejap, Riser dan Peeragenya hilang ditelan cahaya jingga yang menyilaukan.


Akeno tidak percaya apa yang ia dengar. Ia tahu betul kalau sahabatnya itu tidak pernah bertanding dalam Rating Game sekalipun.

" Dengar, Rias, kita belum pernah bertanding Rating Game sebelumnya!"

" Aku tahu itu, Akeno!"

" Lalu kenapa kau menantangnya?!"

Rias memalingkan wajahnya kearah lain. Sejujurnya ia juga tak tahu kenapa ia memilih untuk melawan Riser di Rating Game.

" Aku... tidak tahu, Akeno. Saat melihat Issei, Nii-san dan Riser akan bertarung, aku ingin menghentikan mereka. Peristiwa itu bisa menjadi insiden di Underworld." ujarnya dengan mata berkaca-kaca.

Akeno memilih untuk tidak mendebat Rias lebih jauh dan pergi keluar ruangan dengan ditemani oleh Asia. Atmosfer ruangan masih terasa berat.

" Aku janji akan bertambah kuat, Buchou. Akan kuhajar pria brengsek itu..." ucap Issei.

Dua minggu. Waktu yang ia miliki untuk bertambah kuat hanya dua minggu. Issei mulai ragu pada kemampuannya sendiri. Apakah dua minggu cukup untuk meningkatkan kemampuan miliknya?

" Nii-san..." lirih Rias. Ia menatap kakak angkatnya dengan muram. Sang kakak hanya menghela nafasnya. Mau tidak mau ia harus membantu Peerage adiknya untuk bertambah kuat.

Itachi berdiri menghampiri Rias yang menatapnya kebingungan.

Ctak!

Jari telunjuk dan tengah Itachi mengetuk dahinya, dan rasa khawatirnya seakan perlahan terangkat. Itachi lalu mengusap pucuk rambut merah miliknya.

" Aku akan membantu kalian. Mulai besok, datanglah ke arena latihan Mansion Gremory."

Itachi pun merapikan jas dan barang barang miliknya lalu pergi keluar tanpa berkata apapun lagi.

Kiba, Issei, dan Koneko hanya diam melihat kejadian tadi. Mereka belum pernah melihat secara langsung kekuatan Itachi, tapi entah kenapa perkataannya tadi membuat sedikit beban mereka terangkat.

" Ne, Buchou, kakakmu itu benar-benar pria yang menarik, ya?" kata Kiba.

" Menarik? Oi, Kiba, jangan bilang kau..."

" Hm?" Kiba menautkan alisnya. Ia tidak menangkap maksud pertanyaan Issei yang menggantung itu.

Sementara tak lama kemudian, Akeno dan Asia pun kembali ke ruangan klub. Kekesalan Akeno nampaknya sudah hilang, dilihat dari ekspresinya.

" Ara? Dimana Itachi-kun?" tanya Akeno.

" Dia pulang lebih awal."

" Rias, maaf sudah membentakmu." Akeno menundukkan kepalanya.

" Aku akan tetap mengikutimu, bahkan jika itu sama dengan bunuh diri, Rias."

Perkataan Akeno melegakan hati Rias. Setidaknya dia punya orang-orang seperti Akeno yang siap membantunya dalam kondisi apapun. Dan itu membuat ia senang.

" Baiklah. Sekarang, sebaiknya kalian menyiapkan diri dan datang kesini besok pagi."

" Untuk apa, Buchou?" tanya Asia.

" Latihan untuk menghadapi Riser nanti..." jawab Rias diiringi oleh anggukan setuju dari anggota Peeragenya.

Sementara itu, Itachi saat ini sedang berkutat dengan laptop miliknya di kamar. Untuk apa? tentu saja untuk mengurus surat izin studi lapangan umtuk Klub Penelitian Ilmu Gaib. Walaupun itu hanya alasan agar mereka bisa absen dari sekolah selama 2 minggu tanpa mengurangi nilai absensi kehadiran.

Lagipula, ini belum akhir semester dan masih banyak waktu untuk mengejar ketertinggalan pelajaran. Kalau perlu, Itachi sendiri yang akan mengajari mereka secara privat sampai paham.

" Merepotkan..." keluhnya.

" Sedikir lagi..."

Klik!

" Dan selesai..."

Itachi menekan tombol kirim pada halaman emailnya, lalu menutup layar laptopnya. Ia mengambil segelas kopi yang ia seduh tadi dan membawanya ke balkon kamar. Angin malam yang menerpa wajahnya membuat pikirannya tenang.

Sudah sebelas tahun ia terlempar ke dunia ini. Itachi membayangkan apa jadinya kalau dulu ia tidak terdampar di halaman belakang Mansion Gremory. Zeoticus pernah bilang kalau beberapa Klan Iblis tidak suka dengan Manusia. Bagaimana kalau Itachi dulu ditemukan di area milik salah satu Klan yang membenci Manusia tersebut

Selama ini keberuntungan selalu ada di pihaknya. Mengenal Keluarga Gremory, mendapat kekuatan dari King Piece, dilatih Zeoticus, dan Beasiswa hingga mendapat gelar Master. Ia bersyukur atas apa yang ia dapat. Atas kebaikan dari Klan Gremory.

Itachi bukanlah orang yang lupa akan jasa orang lain. Ia akan membayar semua kebaikan Klan Gremory secara lunas. Dan pertama-tama, ia akan membantu Rias membatalkan pernikahannya dengan lelaki Klan Phenex itu. Bahkan jika itu berarti Itachi harus berhadapan langsung dengan Riser Phenex dan Klannya.


OMAKE

Sepertinya pilihan bagi Issei hanya pasrah. Harapannya sudah pergi membeli bahan untuk biskuit beberapa detik lalu.

Tiba-tiba sebuah lingkaran sihir terbentuk di dalam ruangan. Cahaya oranye yang keluar perlahan mulai meredup, menampakkan sosok pria dengan rambut pirang. Issei langsung berdiri di depan ketuanya dengan Boosted Gear yang sudah siap siaga.

" Selamat sore, Rias sayang." sapa si pirang.

Melihat ekspresi dari Rias, Itachi tahu kalau dia punya hubungan yang kurang bagus dengan pria ini.

" Buchou, siapa dia?" tanya Issei.

" Dia adalah-"

" Ho? Sepertinya kau adalah iblis baru sehingga tidak mengenalku." kata si pirang memotong ucapan Rias. Ia lalu menyeringai sembari menunjuk dirinya dengan ibu jari.

" KONO DIO DA! "


Author's Note :

Ahahahahaha! WATASHI GA KITA! Mohon maaf sebelumnya kalau lama update. Sebulan kah? Ya kira kra segitu lah. Belakangan ini saya ga mood buat nulis. WA sama Email pun dah dua minggu ga dibuka.

Sebagai permintaan maaf, sudah kubuat OMAKE dan up dua chapter.

So... do you mind to Review?

Silvermane Kudan, Out.