CROWMASTER : BIRD AMONG DRAGON


Disclaimer :

Naruto Punyanya Om Masashi Kishimoto

High School DxD Punyanya Om Ichiei Isshibumi


" Studi lapangan ke Provinsi Izumo?"

"Benar sekali."

Saat ini Itachi sedang menghadap Kepala Sekolah di ruangannya. Izin yang ia kirim rupanya mendapat sedikit hambatan. Staff sekolah mengkhawatirkan tentang para murid didik Itachi di sekolah yang akan terlantar saat jam pelajaran Fisika.

" Klub tersebut minim kegiatan dalam beberapa bulan kebelakang, bukan? Oleh karena itu aku ingin mengusulkan kegiatan studi ini." jelas Itachi.

" Kalau aku boleh tahu, apa yang ingin kalian pelajari disana?"

" Legenda tentang Izanami dan Yomi."

" Hm? Menarik... Tapi, bagaimana dengan para murid yang ada disekolah? Kau tahu, para guru fisika yang lain cukup kerepotan saat ini."

" Aku sudah mengajari mereka materi dua minggu yang akan datang dan sudah menyiapkan tugas untuk mereka. Dan aku jamin, 80% dari mereka akan mendapat nilai diatas rata-rata."

Kepala Sekolah kembali menimbang-nimbang ucapan Itachi. Memang benar para siswa dari kelas-kelas yang diajar Itachi mengalami peningkatan dalam pemahaman dan penerapan ilmu fisika belakangan ini.

" Bagaimana kau bisa seyakin itu, Itachi-kun?"

" Sebagai seorang guru, aku sudah mengevaluasi pemahaman mereka. Dan aku percaya pada murid-muridku sendiri."

Kegigihan Itachi membuat Kepala Sekolah menyerah. Jika Itachi bisa seyakin itu, maka tidak ada alasan untuknya menolak.

" Baiklah, baiklah. Walau sedikit mendadak, akan kuizinkan. Tapi..."

" Kalau persentasenya dibawah 80, maka tidak ada lagi studi lapangan untuk Klub mu, Itachi-kun." ucap Kepala Sekolah.

" Dan aku menginginkan laporan setelahnya."

Itachi berdiri dan membungkuk berterima kasih atas izin yang ia dapat, lalu pergi menemui Rias dan yang lainnya di ruangan klub.

" Bagaimana hasilnya, sensei?" tanya Issei.

" Kepala Sekolah mengizinkan kita selama dua minggu." Mendengar jawaban Itachi, semua anggota klub bersorak gembira. Akeno bahkan langsung menyiapkan sihir teleportasi di ruangan klub, namun segera dicegah Itachi.

" Apa lagi yang kau tunggu, Itachi-kun?" tanya Akeno.

" Kita berteleportasi dari rumahku."

Perkataan Itachi membuat mereka kebingungan. Kenapa tidak langsung saja dari sini? Bukankah itu akan lebih cepat?

" Kenapa dari rumahmu, sensei?" kali ini Koneko yang bertanya.

" Menurutmu mereka tidak akan curiga jika kita langsung menghilang? Akan lebih baik jika kita terlihat saat meninggalkan sekolah."

Setelah mendengar alasannya, mereka semua setuju dan segera bergegas menuju rumah Itachi lalu berteleportasi dari sana.


Sekumpulan remaja dengan seragam sekolah plus seorang pria muda berseragam jas sekarang berdiri di depan gerbang Mansion Gremory.

Mereka kemudian disambut oleh sepasang suami-istri pemimpin Klan Gremory setibanya di dalam.

" Selamat datang di Mansion Gremory!" sambut Zeoticus dengan senyuman. Ia lantas memeluk Rias dan Itachi yang mendekat kearahnya.

" Selamat datang, Rias." ucap Zeoticus pada Rias.

" Dan Selamat datang, Itachi." ia juga berkata pada Itachi.

" Rias sering mengunjungiku dan Zeoticus. Tapi kau, Itachi-kun, selalu sibuk pada pekerjaanmu seperti biasa sampai melupakan kami." ujar Venelana. Itachi sudah layaknya anak angkat bagi Venelana.

" Maafkan aku, Venelana-sama, Zeoticus-sama. Tugas sebagai seorang guru sangat menyita waktu."

Itachi tersenyum pada mereka.

" Rias, aku sudah mendengar semuanya dari Itachi, dan ketahuilah kalau aku akan mendukungmu." jelas Zeoticus pada putrinya.

Tanpa basa-basi lagi, ia langsung mempersilahkan mereka semua untuk masuk kedalam.

" Silahkan taruh perlengkapan kalian di kamar masing-masing. Para maid akan menunjukkannya pada kalian." segera setelah Zeoticus berkata begitu, para maid langsung muncul dan memandu Peerage Rias menuju kamar mereka masing-masing.

" Oh! Dan untuk kalian bertiga," Zeoticus menunjuk pada Akeno, Itachi, dan Rias.

" Kamar kalian tetaplah sama seperti dulu. Kau masih ingat kamarmu kan, Itachi?"

Itachi mengangguk, lalu pergi ke kamarnya. Begitu ia membuka pintu, sedikit perasaan nostalgia menghampirinya. Ia duduk di kasurnya, dan samar-samar, ia bisa mendengar langkah kaki dari Rias kecil di depan kamarnya. Di kamar ini, ia terbangun sebelas tahun lalu tanpa tahu apa yang terjadi padanya.

Itachi bingung kenapa tiba-tiba ia mengingat-ingat masa lalunya saat disini. Ia menghela nafas dan merapikan beberapa salinan baju yang ia bawa, sampai ketukan di pintu kamarnya membuat ia menoleh. Rias sudah berdiri disana.

" Boleh aku masuk?"

" Memang sejak kapan kau dilarang?"

Mendengar jawaban sang penghuni kamar, Rias langsung masuk dan mendudukkan dirinya di atas kasur empuk milik Itachi.

" Rias..."

" Hm?"

" Kau berhutang penjelasan padaku." ucap Itachi yang kini duduk disebelahnya.

Rias menarik nafas dalam dan menjelaskan situasi yang sedang dialaminya.

" Nii-san, apa kau tahu kalau sedang terjadi perang dingin diantara para dewan Iblis?"

Perang dingin?

" Awalnya, ada beberapa anggota dewan yang tidak setuju dengan iblis reinkarnasi yang boleh menjadi King. Mereka berpendapat kalau hanya iblis dari 72 Pillar lah yang boleh menjadi seorang King."

Itachi mendengarkan semua perkataan Rias dengan seksama. Sepertinya banyak hal di Underworld yang tidak ia ketahui.

" Dan saat para dewan tahu kalau kau, seorang iblis reinkarnasi, menggunakan bidak King Piece yang merupakan harta kaum Iblis, mereka langsung terpecah menjadi dua."

" Mereka yang awalnya hanya sekedar berpendapat, kini secara langsung menentang kebijakan para Maou yang mendukung kesetaraan iblis murni dan reinkarnasi."

" Para dewan yang menentang dipimpin oleh Klan Bael, sedangkan dewan yang mendukung kesetaraan dipimpin oleh Para Maou. Namun, diantara mereka masih terdapat beberapa klan netral seperti Phenex, Naberius, Zepar, Sitri, dan lain-lain."

" Kedua kubu terus menerus mencari sekutu demi meningkatkan pengaruh mereka di antara dewan." jelas Rias.

" Dan pernikahanmu adalah upya agar Klan Phenex bergabung dengan kalian."

Ucapan Itachi dijawab dengan anggukan kepala Rias. Matanya menatap lantai dengan sendu.

Itachi merasa ada yang tidak beres dengan pernikahan ini. Ia mengenal keluarga ini dengan baik. Zeoticus dan Sirzech tidak mungkin menjadikan Rias sebagai alat politik seperti ini. Apapun itu, ia akan menanyakannya langsung nanti.

Itachi mengusap kepala Rias dan segera berdiri.

" Ayo kita kumpulkan Peeragemu. Latihannya akan kumulai sekarang juga."

Rias menepuk pipinya dan tersenyum membalas senyuman lembut Itachi. Ia meraih uluran tangan yang di berikan padanya dan berdiri dengan semangat.

" Uhm!" jawab Rias dengan anggukan.


Hari kedua.

Area latihan milik Klan Gremory berukuran cukup luas. Cukup untuk latihan 6 orang. Venelana dan beberapa maid terlihat mengamati mereka dari pinggir area latihan. Sementara Rias dan teman-temannya terkapar di lapangan. Latihan yang diberikan Itachi berupa menyerangnya secara bersama-sama, sekaligus mengasah kerjasama tim.

" Baiklah. Mulai besok, aku akan melatih kalian satu persatu."

" Latihannya sudah cukup untuk hari ini."

Perkataan Itachi tadi diiringi oleh helaan nafas para muridnya. Apa latihannya terlalu berat? pikir Itachi.

" Sensei, hah... bagaimana kau, hah... masih bisa berdiri, hah... setelah latihan tadi, hah...?" tanya Issei dengan nafas yang tersengal-sengal. Ia bahkan tidak bisa menggores baju Itachi dengan Boosted Gear miliknya.

" 4 tahun dilatih oleh Tou-san pasti sudah meningkatkan staminanya, Issei-kun." jawab Rias.

Para maid yang ada dipinggir lapangan langsung bergegas datang dan menyiapkan air minum untuk Klub Penelitian Ilmu Gaib yang kelelahan.

" Sepertinya kau terlalu keras, Itachi-kun." ujar Venelana.

" Waktu mereka hanya dua minggu. Tidak ada waktu untuk bersantai. Kemampuan mereka yang sekarang belum cukup."

" Kalau begitu, selamat berjuang, sensei."


Hari ke-empat.

Itachi saat ini sedang berhadapan dengan Issei dalam duel 1 lawan 1. Ia membantu Issei menutupi kekurangan dalam kemampuan bertarungnya.

" Issei, berapa batas maksimum Boost yang bisa kau tahan?" tanya Itachi sembari mengelak serangan demi serangan yang Issei lancarkan.

" Mungkin 8 sampai 10 kali lipat, sensei."

BOOST!

Issei melancarkan pukulan kearah pelipis Itachi. Tapi sang guru mampu menghindar dengan menunduk dalam sepersekian detik.

" Setelah aku kehabisan stamina, semua energi tersebut akan terkuras seketika bersamaan dengan staminaku tadi."

BOOST! BOOST!

Sebuah tendangan mengarah ke paha sebelah kanan Itachi, tapi dengan sigap ia mengangkat kakinya sehingga tendangan Issei berhasil ia tahan menggunakan tulang kering samping.

Setelah tendangannya gagal, Issei langsung melancarkan sebuah roundhouse kearah kepala gurunya.

Grep!

Itachi menahan tendangan Issei dengan tangan lalu mencengkeram erat betis Issei. Secepat kilat ia mengait kaki Issei yang lain dan menggunakan tangan kanannya untuk memberi sedikit dorongan pada dada Issei.

Bruk!

Issei terjatuh dengan kondisi punggung duluan menyentuh tanah.

" Gerakanmu masih mudah terbaca, Issei."

" Kau punya saran, sensei?" tanya sang Sekiryuutei.

" Kalau kau tidak begitu mahir dalam pertarungan jarak dekat, kenapa tidak menggunakan serangan jarak jauh saja?"

" Huh... saranmu cukup masuk akal." Issei menerima uluran tangan Itachi dan berdiri kembali.

" Tapi aku belum punya serangan jarak jauh."

Issei menggaruk kepalanya. Selama ini ia tidak terlalu peduli dengan kemampuan bertarungnya. Pun ia minim pengalaman bertarung sebelum menjadi Iblis.

" Mudah saja. Gunakan energi dari Sacred Gearmu."

" Huh?" Issei menautkan alisnya.

" Coba konsentrasikan energimu di satu titik lalu lepaskan secara bersamaan."

Mendengar saran dari gurunya, Issei pun mencoba untuk memfokuskan energi Sacred Gear ke telapak tangan kanannya.

BOOST! BOOST!

Sebuah bola merah kecil mulai terlihat di sana, namun menghilang secara sekejap. Issei mencobanya sekali lagi, tapi bola tersebut tetap hilang dalam sekejap.

" Teruslah berlatih. Kau sudah paham konsepnya." ucap Itachi. Ia menepuk bahu Issei dan pergi meninggalkannya.


Hari ketujuh.

Buagh!

Itachi terpental kebelakang saat menangkis tinjuan sekuat tenaga dari Koneko. Gadis kecil ini sudah cukup mahir memanipulasi energi alam, hanya perlu beberapa sentuhan lagi. Dan dalam beberapa bulan, ia mungkin sudah menguasai sepenuhnya perubahan energi alam. Mungkin Naruto atau Jiraiya bisa menjadi guru yang tepat untuk Koneko.

" Seranganmu cukup menyakitkan, Koneko. Kau tahu itu, kan?"

" Uhm." Koneko mengangguk. Tanpa membuang waktu lagi, ia langsung melancarkan sebuah tinju kepada Itachi.

Mengikuti instingnya, Itachi segera bergeser dari posisinya untuk menghindari tinju mungil, namun mematikan milik Koneko. Ia lantas melesat untuk melancarkan serangan balik.

Keduanya terus melancarkan dan menghindari serangan disaat bersamaan. Reflek dari Koneko sudah cukup untuk mengimbangi Itachi yang menahan dirinya.

" Bagus, Koneko!" puji Itachi.

Koneko kembali menyerangnya. Kali ini sebuah hook dari arah kanan. Mata Itachi menangkap sedikit celah dari serangan yang dilancarkan padanya.

Ia sedikit mundur kebelakang, membuat tinju Koneko hanya mengenai angin. Dengan sigap ia bergerak kebelakang gadis itu. Tangannya sekarang sudah mencengkeram pucuk kepala dan dagu Koneko. Dalam posisi ini, ia bisa saja mematahkan leher si gadis kucing.

Koneko menghentikan gerakannya. Ia mengangkat tangan pertanda menyerah.

" Gerakanmu sudah lumayan, Koneko. Sayangnya tidak banyak yang bisa ku ajarkan tentang energi alam." kata Itachi yang sudah melepaskan kepala Koneko.

Sang Rook milik Rias menunduk berterima kasih. Kepalanya yang diusap oleh Itachi membuat perasaan nyaman menjalari hatinya.

" Terima kasih, sensei."


Hari kesebelas.

Trang! Trang!

Bunyi dua buah pedang yang diadu terus bergema di di salah satu sudut area latihan Mansion Gremory.

" Bagus, Kiba! Ingat teknik yang kuajarkan padamu!"

" Baik, sensei!"

Kaki mereka berdua mulai dialiri oleh percikkan listrik.

Bzzt! Bzzt!

" Lightning Step!"

" Lightning Step!"

Keduanya mengeluarkan teknik yang sama. Teknik ciptaan Itachi yang mengalirkan energi sihir petir ke kaki untuk meningkatkan kecepatan. Teknik senderhana yang tidak membutuhkan banyak energi, bahkan seseorang yang baru belajar sihir pun bisa menggunakannya selama ia fokus.

Trang! Trang! Trang!

Pedang keduanya saling beradu. Kiba yang awalnya memiliki kecepatan seorang Knight, kini bertambah cepat dengan Lightning Step. Itachi sedikit kewalahan untuk menangkis serangan demi serangan dari Kiba. Ia harus tetap fokus untuk memprediksi dimana pedang Kiba.

Itachi melompat mundur dan menyarungkan katananya.

" Sekarang giliranmu!"

Kali ini Itachi yang menyerang secara beruntun. Menggunakan katana membuatnya bisa menyerang lebih cepat dari Kiba. Ia mengambil ancang-ancang untuk mencabut katananya.

Zzzingg! Trang! Trang!

Itachi melesat dan berpindah-pindah tempat secepat kilat. Beberapa kali ayunan katananya bisa ditangkis oleh sang Knight. Namun, ada juga serangannya yang berhasil menggores tangan dan pipi dari Kiba. Kiba yang terus menangkis tebasan Itachi kehilangan fokusnya dan dalam sekejap, pedang yang ia pegang terlempar. Di depannya, Itachi sudah mengacungkan ujung katana miliknya ke leher Kiba. Ia mengangkat tangan sebagai tanda menyerah.

Itachi kembali menyarungkan katananya dan membantu muridnya berdiri. Tatapan mata Kiba terkunci pada pedang yang ia genggam.

" Katana yang bagus, sensei."

" Kau menyukainya?" pertanyaan Itachi dijawab dengan anggukan. Itachi memberikan pedangnya untuk dilihat lebih dekat.

Ia mengamati setiap inci katana yang ia pegang. Mulai dari gagangnya yang hitam, dibalut dengan kain putih secara menyilang dan pinggirannya yang berwarna emas. Ia lalu menyentuh sarung pedang yang hitam polos dengan aksesoris berupa tali emas yang diikat simpul.

Kiba mencabut katana milik Itachi dan mengamatinya dengan seksama. Ia lalu mencoba mengayunkannya kearah samping.

" Cukup ringan."

" Ayunkan ke pohon itu." perintah Itachi. Kiba mengangguk dan menebaskan katananya sekuat tenaga kearah pohon yang ditunjuk.

Tak!

Bilah pedangnya hanya mampu menebas sepertiga dari batang pohon. Setelah melihat hasil tebasannya, Kiba mengembalikan katana tadi pada Itachi.

" Desainnya yang simple membuatnya tampak elegan dengan warna hitam, putih, dan emas. Katananya juga cukup ringan untuk diayunkan." komentar Kiba.

Itachi tersenyum mendengarnya. Ia mencabut dan menebas pohon tadi sampai tumbang dalam sekali ayunan.

Ziing!

" Kau belum terbiasa menggunakan Katana, itulah mengapa tebasanmu tidak bisa menumbangkan pohon tersebut dalam sekali tebas."

Kiba mengakui hal itu. Dia terbiasa menggunakan Longsword sejak dulu.

" Darimana kau mendapat pedang ini, sensei?" tanya Kiba.

" Pedang ini diberikan oleh Maou Lucifer sebagai hadiah kelulusanku. Sebelas tahun lalu, pedang ini digunakan oleh salah satu pimpinan pemberontak di Underworld. Maou Lucifer mengalahkannya dan mengambil pedang ini karena alasan tertentu." jelas Itachi. Ia kembali mengingat pertarungan antara Sirzech dan pria bernama Alastor di malam pemberontakan itu. Atau mungkin lebih tepatnya pembantaian.

" Kau punya nama untuknya?"

" Ya. Aku ingat nama pedang ini." Itachi mencabut pedangnya.

" Yamato."


Hari ini adalah hari terakhir latihan bagi Rias dan teman-temannya karena besok, mereka akan meghadapi Riser dan Peeragenya demi membatalkan pernikahan King mereka.

Latihan hari ini berupa sparring Itachi melawan Peerage Rias. Mereka harus menunjukkan perkembangan mereka dalam dua minggu ini pada Itachi.

Perkembangan yang terjadi memang tidak terlalu signifikan, tapi cukup menunjukkan hasil yang baik. Beberapa kelemahan pada diri mereka sudah berhasil di tutupi dengan latihan di Mansion ini. Buktinya, Itachi yang awalnya tidak mengeluarkan keringat saat melawan mereka, kini harus terduduk kelelahan.

Rias dan teman-temannya berdiri dan membungkuk berterima kasih pada Itachi. Akeno bahkan langsung memeluknya didepan semua orang, diiringi oleh rutukan Issei tentunya.

Zeoticus muncul dari dalam mansion dan menghampiri mereka bersama Venelana.

" Kau terlihat kewalahan, Itachi." goda Zeoticus saat melihat Itachi yang kelelahan.

" Mereka sudah lebih baik, jadi wajar jika aku kewalahan. Lagipula, ini pertarungan 6 melawan 1."

Zeoticus tertawa mendengar jawaban Itachi. Ia tahu kalau anak angkatnya tersebut menahan diri tadi.

" Baiklah, baiklah. Mari kembali ke dalam. Para maid sudah menyiapkan makanan untuk kalian."

Itachi dan yang lainnya segera berdiri dan mengikuti Zeoticus ke dalam Mansion. Begitu sampai di dalam ruang makan, mereka sedikit terkejut dengan banyaknya makanan yang dihidangkan.

" Apa ini tidak berlebihan, Otou-san?"

" Berlebihan? Kalian akan bertanding besok! Nutrisi yang cukup adalah salah satu kunci dalam memenangkan sebuah pertandingan."

Setelah berkata demikian, Zeoticus dan Venelana segera mempersilahkan mereka semua untuk menikmati apa yang sudah disediakan. Yang pertama kali menyerbu makanan adalah Issei. Ia tanpa pikir panjang mengambil tiga potong ayam panggang berukuran besar.

Berlawanan dengan Issei, Rias dan yang lainnya makan dengan tenang. Mereka sudah paham akan Table Manners di Klan ini. Hanya Issei sendiri yang makan layaknya seorang barbarian.

Setelah selesai makan, mereka dipersilahkan untuk berkeliling mansion dan beristirahat. Itachi sendiri memilih untuk keluar menuju hutan terdekat. Kakinya membawanya menuju sebuah rumah pohon kecil dengan tulisan 'R.A.I' di pintunya.

" Kukira kau akan berbaring di taman, Itachi-kun." sebuah suara membuat ia menoleh kebelakang. Akeno berjalan menghampiri Itachi yang sendirian.

" Saranmu bagus juga, Akeno."

Akeno terkekeh pelan. Ia memandangi rumah pohon di atasnya dengan tersenyum.

" Mereka adalah orang-orang baik, bukan?"

Itachi menautkan alisnya mendengar pertanyaan Akeno

" Gremory."

" Mereka mau menerimaku saat keluargaku sendiri ingin menghabisiku."

Itachi tidak menjawab, tapi ia menyetujui ucapan Akeno. Zeoticus menerima dirinya, seorang manusia dulu. Mungkin saat itu ia punya maksud tersendiri, tapi Itachi tidak mau mengambil pusing masalah itu. Bukti kalau ia masih diterima dan diperlakukan layaknya keluarga sampai sekarang sudah cukup baginya.

" Kau masih mengingatnya, Akeno?"

Akeno mengurangi jarak antara dirinya dan Itachi hingga mereka saling berhadapan.

" Tentu saja. Mana mungkin aku lupa malam saat aku diselamatkan oleh pangeran tampan."

Akeno mendekatkan wajahnya kearah Itachi, tapi sebuah ketukan di dahinya membuat ia kembali mundur kebelakang.

Tuk!

" Apa yang ingin kau lakukan tadi, huh?"

" Ara ara~ Lain waktu pasti berhasil, Itachi-kun..." goda Akeno. Ia mengedipkan sebelah matanya pada Itachi.

Kebal akan godaan dari Akeno. Itachi menghela nafas dan mengacak-acak pucuk kepala Akeno.

" Semoga beruntung. Ayo kita kembali sekarang." ajak Itachi. Keduanya lalu berjalan kembali ke dalam Mansion dengan diiringi oleh obrolan ringan.


Author's Note:

Gimana chapter kali ini? :3

Do you mind to Review?

Silvermane Kudan, Out.