CROWMASTER : BIRD AMONG DRAGON


Disclaimer :

Naruto Punyanya Om Masashi Kishimoto

High School DxD Punyanya Om Ichiei Isshibumi


Para anggota klan Gremory dan Phenex sedang berkumpul hari ini. Pertandingan antara Riser dan Rias sudah tersebar ke telinga kedua klan tersebut.

Dari dalam sebuah ruangan, Itachi, Zeoticus, Venelana dan Sirzech mengamati keadaan arena lewat sebuah monitor sihir yang terhubung ke semua sudut arena.

Suara dari Grayfia, istri sekaligus Queen dari Sirzech, terdengar ke segala penjuru.

" Nama saya Grayfia. Saya yang akan menjadi juri dari pertandingan ini sesuai perintah dari pemimpin kedua klan."

" Atas permintaan kedua belah pihak yang bertanding, Rating Game akan diadakan di replika gedung Kuoh Academy, sekolah yang dihadiri Rias-sama." kata Grayfia.

" Markas dari Rias-sama adalah Ruang Klub Penelitian Ilmu Gaib di gedung lama Kuoh Academy. Sedangkan markas dari Riser-sama adalah Ruang Kepala Sekolah di gedung baru."

Itachi memandang salah satu layar yang menampilkan Rias dan teman-temannya. Ia mendoakan keberuntungan untuk mereka dari dalam hatinya.

" Pertandingannya dimulai..."

" Sekarang!"

Dengan aba-aba dari Grayfia, Rating Game antara adiknya dan Riser pun dimulai. Kedua belah pihak mulai menjalankan strateginya masing-masing.

" Aku yakin kau pasti sudah tahu situasinya, Itachi." kata Sirzech tanpa melihat Itachi. Matanya masih terfokus kearah layar.

" Kenapa kalian menjadikan Rias sebagai alat politik...?"

" Percayalah, Itachi, aku tidak akan menjual adikku sendiri demi politik. Aku melakukan ini sebagai bagian dari rencanaku." Sirzech menoleh kearah Itachi.

Itachi menatap balik Sirzech dengan raut muka kebingungan. Ia mulai memikirkan berbagai skenario kemungkinan rencana Sirzech.

" Kau tahu kalau Rias akan menolak dan melawan Riser kan, Sirzech?"

Sirzech mengangguk membenarkan ucapan Itachi.

" Dari awal kau memang ingin pertandingan ini terjadi untuk menunjukkan potensi dari Iblis Reinkarnasi, bukan?"

Tebakan Itachi yang tepat sasaran membuat Zeoticus tertawa puas. Ia menepuk-nepuk bahu dari anak angkatnya itu.

" Pikiranmu tajam seperti biasa, Itachi." ucap Zeoticus dengan senyuman di wajahnya. Tapi Itachi masih ragu akan satu hal.

" Bagaimana jika Riser menang?" tanyanya pada Sirzech.

" Jika Rias kalah, maka harapan kita ada pada si Sekiryuutei itu..."

" Dan padamu, Itachi." ujar Zeoticus menyelesaikan kalimat Sirzech.

Ia sebenarnya masih bingung akan beberapa hal, tapi Itachi memilih untuk diam dan menyaksikan Rias bertanding untuk saat ini. Paling tidak hatinya sedikit lebih lega saat tahu Sirzech dan Zeoticus punya rencana tersendiri.


Issei berlari menuju markas Riser bersama Koneko. Ia berencana untuk secepat mungkin menyerang King musuh menggunakan Promotion dan Boosted Gear.

Saat ia memasuki gedung olahraga bersama Koneko, mereka sudah disambut oleh empat orang gadis dari kelompok Riser.

" Kita sudah ditunggu, Issei-senpai." ujar Koneko pelan.

Para gadis tersebut memperkenalkan diri mereka beserta bidak yang mereka gunakan masing-masing.

Pertama, seorang gadis berambut biru dengan kuncir empat bernama Mira. Ia memakai baju Haori putih yang ditutupi oleh sebuah jubah merah layaknya baju tradisional Jepang. Ia memakai bidak Pawn.

Kedua adalah gadis berambut hitam coklat panjang yang memakai Cheongsam biru dan aksesoris seperti cepol pada kepalanya. Dia adalah salah satu Rook milik Riser. Namanya adalah Xuelan.

Terakhir, adalah gadis kembar Ile dan Nel dengan rambut hijau yang memakai kaos putih seperti seragam olahraga sekolah. Mereka berdua adalah Pawn.

" Rook itu berbahaya, senpai. Ia mungkin bisa bertarung layaknya Queen. Aku yang akan menghadapinya." ujar Koneko. Ia maju ke depan dan meregangkan pergelangan tangannya.

" Oi, aku harus menghadapi mereka bertiga sekaligus?" protes dari Issei tidak mendapat tanggapan karena Koneko sudah maju duluan.

" Ya sudahlah..." Issei menghela nafasnya dan melesat menyusul Koneko.

Koneko yang melesat duluan langsung berhadapan dengan Xuelan. Mereka berdua saling adu keahlian dalam beladiri. Koneko memanfaatkan tubuhnya yang kecil untuk menghindari setiap gerakan dari Xuelan.

Gerakan mereka terlihat berbeda jika diperhatikan lebih dekat.Koneko mengandalkan kecepatan dan ketepatan pukulan, sedangkan Xuelan lebih mengandalkan kelincahan dan kelenturan tubuhnya untuk menyerang secara terus menerus.

Kali ini Xuelan melancarkan sebuah pukulan yang mampu dihindari oleh Koneko. Ia kemudian menyerang balik Xuelan dengan sebuah tendangan kearah pinggang samping, tapi masih bisa dihindari oleh musuhnya.

Xuelan yang melompat kebelakang segera berlari dan memberikan sebuah side kick ke arah dada Koneko.

Tap! Buagh!

Sang Rook milik Peerage Gremory mampu menahan dan mencengkeram kaki dari Xuelan. Kaki Xuelan secara tiba-tiba ditarik oleh Koneko dengan sekuat tenaga hingga tubuh sang musuh mau tak mau ikut tertarik kearah Koneko.

Koneko lantas sedikit menggeser tubuhnya dan memberikan sebuah straight punch ke perut Xuelan hingga ia harus terlempar beberapa meter dari Koneko. Ia lalu bangkit dengan sedikit kepayahan.

" Luma-"

Buagh!

Xuelan belum menyelesaikan kalimatnya, tapi Koneko sudah kembali melayangkan pukulan kearah pipi musuhnya.

" S-sial..." gerutunya dengan lirih. Ia kemudian tak sadarkan diri.

Sementara itu, Issei saat ini sedang kewalahan melawan 3 orang Pawn milik Riser. Ia sedang dikejar-kejar oleh dua orang gadis gila yang membawa sebuah gergaji mesin. GERGAJI MESIN!

" Koneko-chaaaannnn!!!" teriak Issei. Ia beberapa kali menunduk dan melompat untuk menghindari tebasan gergaji mesin dari dua gadis gila dibelakangnya.

Issei kemudian sadar kalau Mira sudah siap menghadang di depannya. Dengan sigap ia melompati Mira dan mendarat dengan selamat. Issei lalu berbalik untuk menghadapi ketiganya.

" Ayo, Boosted Gear!"

BOOST!

Sebuah suara mekanik terdengar dari tangan kirinya yang tertutupi oleh semacam Gauntlet merah dengan permata bundar berwarna hijau di bagian punggung tangannya.

BOOST!

" Lihat ini, Buchou!"

EXPLOSION!

Tubuh Issei dikelilingi oleh aura merah, seiring dengan permata hijau di Boosted Gear yang semakin bersinar. Sebuah ledakan energi tercipta dari dalam tubuh Issei. Ia lalu melesat kearah ketiganya dengan aura merah yang masih tersisa pada tubuhnya.

Ile dan Nel yang merespon dengan berlari kearahnya dengan gergaji mesin yang terangkat, bisa ia hindari. Issei menepuk mereka dibagian yang bisa ia raih. Sebuah lingkaran sihir tercipta di tempat yang Issei tepuk tadi. Mira yang memukulkan tongkatnya pun bisa Issei tahan dengan tangannya. Ia juga mendorong Mira di bagian dagu dengan keras hingga terjungkal.

" Hahahaha! Takjublah pada kekuatanku!" Issei tertawa jahat dengan seringaian di wajahnya. Permata pada Boosted Gear kembali bersinar dengan terang dan sepasang sayap kelelawar muncul di punggungnya.

" Dress Break!" Issei meneriakkan nama tehnik yang ia pelajari selama dua minggu ini. Tentu saja, saat sedang tidak diawasi oleh Itachi.

Dalam sekejap, baju ketiga wanita tadi langsung hancur terkoyak-koyak hingga tak bersisa. Ketiganya dengan reflek langsung jatuh terduduk sambil menutupi area pribadi milik mereka.

" Ahahahahaha! Lihatlah kekuatanku yang mengagumkan ini! Akan kubuat kalian telanjang seumur hidup dengan sihirku ini!"

Issei berkacak pinggang dan tersenyum bangga pada hasil dari sihir rahasianya.

Dari dalam ruangan dimana Sirzech dan yang lainnya menonton pertandingan, beberapa pasang tatapan tajam diarahkan pada Itachi. Sebutir keringat turun dari pelipisnya akibat tekanan dari pandangan menghakimi yang ia terima.

" Kalian benar-benar berpikir aku mengajarinya teknik itu?" tanyanya dengan setenang mungkin.

Tak ada jawaban, tapi setidaknya tatapan yang menghakiminya sudah hilang. Itachi memijat pangakl hidungnya. Sebenarnya apa yang ada dipikiran anak itu? Kepala Itachi sedikit pusing menanggapi kelakuan dari muridnya itu.

Ia kembali menatap layar didepannya. Koneko dan Issei tampaknya berlari keluar gedung olahraga dengan sedikit tergesa-gesa. Salah satu layar menunjukkan Akeno dengan tangan terangkat dan gumpalan awan hitam diatasnya. Percikkan petir menari-nari dibalik awan tersebut, seakan siap untuk menyambar kapan saja.

Zzzt! Booommmm!

Petir kuning milik Akeno berhasil menghancurkan gedung olahraga, mengubur keempat Peerage milik Riser yang dilawan Issei dan Koneko tadi terkubur oleh reruntuhan.

" Rook dan 3 Pawn milik Riser-sama sudah tereliminasi."

" Riser-sama... Aku membawa pesan dari Rias-sama."

" Apa kau ingin menyerah, Riser?" ucap Akeno pelan dengan wajah merona.

Bukan, ia tersipu bukan karena Riser. Wajahnya merona karena ia sedikit 'bersemangat' saat ini. Sifat sadis dari Akeno kembali muncul sekarang.

" Thunder Priestess." perkataan Sirzech membuat Itachi menoleh kearahnya.

" Akeno dikenal di Underworld sebagai Thunder Priestess karena serangan petirnya yang mampu membunuh iblis kelas menengah keatas dalam sekali serang."

Mendengar itu, dan melihat wajah Akeno sekarang membuat Itachi sedikit menyesali tindakannya beberapa hari lalu. Tampaknya mengajari Akeno teknik itu hanya akan memperburuk sifat sadisnya. Dengan teknik yang diajarkan Itachi, Akeno bisa membunuh dan menyiksa lawannya dengan petir dari jarak dekat.

Sirzech menyadari perubahan raut muka Itachi dan bertanya,

" Ada yang salah, Itachi?"

Itachi menggelangkan kepala dan menutup matanya.

" Tidak. Aku hanya berharap kalau sifat sadisnya tidak bertambah parah." kata Itachi.

Sementara itu, tiga orang dari kelompok Riser saat ini sedang sibuk mengurus jebakan-jebakan disekitar markas Rias. Mereka menembakkan sihir-sihir untuk menghancurkan setiap jebakan yang mereka temui.

Kabut tebal tiba-tiba muncul mengelilingi mereka. Sebuah kubah energi dengan simbol Klan Gremory tercipta dan mengurung mereka didalamnya.

" Kita terjebak." ucap salah satu gadis dengan baju yang terlalu terbuka. Namanya adalah Shuriya.

Lalu, muncul Seorang pria pirang dan tampan dari balik kabut dengan pedang terselip di pinggangnya.

" Huh? Kalian tersesat, nona-nona?" tanya Kiba dengan senyumannya yang mempesona. Dua orang gadis berpakaian ala Maid Prancis sedikit tersipu saat melihat senyum Kiba. Namun Shuriya dengan segera menyadarkan keduanya.

" Marion! Burent! Jangan lengah!" serunya. Kedua temannya menggelengkan kepala dan menatap tajam kearah Kiba.

" Apa kau pikir bisa menang dalam pertarungan 1 lawan 3?" tanya Shuriya dengan arogan. Kiba mencabut pedangnya dan memasang kuda-kuda.

" Bagaiamana kalau kita cari tahu saja?" tantangnya dengan seringai tipis. Tantangan Kiba direspon oleh Marion dan Burent yang langsung berlari kearah Kiba.


Booom!

Sebuah ledakan menghentikan langkah Koneko yang baru saja berlari untuk melanjutkan tugasnya. Ia terjatuh dengan pakaian yang rusak dan beberapa luka bakar di tubuhnya.

Issei menyangga tubuh rekannya dan melihat kearah atas, dimana si penyerang berada. Seorang wanita muda dengan rambut ungu gelap yang menutupi mata kirinya. Ia memegang sebuah tongkat di tangannya sebagai perantara sihir.

" Bertahanlah, Koneko-chan! Asia akan segera menyembuhkanmu!" ujar Issei.

" Khukhukhu... Bagaimana ledakan yang barusan? Begitu cantik bukan?" tanya si wanita bom.

" Buchou... Maafkan aku..." lirih Koneko. Tubuhnya kemudian diselimuti oleh cahaya putih kebiruan dan kemudian menghilang.

" K-Koneko-chan...?"

" Tenanglah, Issei!" suara Rias terdengar dari speaker di telinganya.

" Bidak yang tidak bisa bertarung akan dipindahkan ke tempat yang aman..."

Issei mengangguk paham. Tapi ia sedikit terganggu oleh suara ketuanya. Rias berbicara dengan tenang, tapi nada yang ia keluarkan seolah terasa begitu tegang.

Issei lalu bersiap untuk menerjang kearah musuhnya, tapi Akeno dengan segera menghadang dan menoleh kearahnya.

" Issei-kun, biar aku yang mengurus ini." ucap Akeno dengan manis. Namun entah kenapa perasaannya menjadi tidak enak. Tanpa pikir panjang ia lalu berlari kearah gedung baru Kuoh Academy untuk mengajar wajah Riser.

Dua orang Queen dari masing-masing pihak sekarang saling berhadapan satu sama lain.

" Hmm? Tidak kusangka kalau kawanku adalah Thunder Priestess. Aku memang selalu ingin melawanmu." ujar Yubelluna.

" Ara~ aku tersanjung mendengarnya, Bomb Queen." Akeno berkata dengan tersenyum.

" Bagaimana kalau kita langsung mulai?" tanya Yubelluna.

" Ide bagus!"

Keduanya kemudian sama-sama menciptakan rentetan lingkaran sihir untuk menyerang satu sama lain.


Di lapangan gedung baru, Issei dan Kiba yang sudah mengalahkan ketiga Pawn Riser, sedang dikepung oleh sisa dari Peerage milik Riser.

" Keadaannya buruk, bung."

" Aku tahu itu."

Keduanya kini saling menempelkan punggung mereka dengan senjata masing-masing sudah siap untuk digunakan.

Salah seorang gadis kemudian maju ke depan dan memperkenalkan dirinya dengan pedan terhunus. Dia memakai armor ksatria dan kepala yang diikat perban.

" Aku adalah Knight yang melayani Riser-sama, Karlamine! Dan aku suka orang bodoh yang bertarung tanpa sadar akan kemampuannya, seperti kalian!"

Tiba-tiba, bilah pedang yang ia pegang diselimuti oleh api merah menyala. Kiba pun maju untuk merespon musuhnya.

" Aku adalah Knight yang melayani Rias-sama, Kiba Yuuto! Aku sudah menunggu pertarungan antar Knight ini." ucap Kiba.

Dengan pedang terhunus ia melesat kearah Karlamine. Sang musuh pun juga langsung melesat. Dua buah pedang beradu dengan kecepatan tinggi, sampai Issei tidak bisa melihat gerakan mereka.

" Lawanmu adalah aku! Isabella! Rook yang setia pada Riser-sama!" seorang wanita dengan topeng setengah wajah berkata dari belakang Issei.

" Dasar Karlamine... Otaknya hanya berisi pedang, pedang, dan pedang." keluhnya lagi.

" Hmph! Padahal dia pria yang manis, tapi ternyata ia juga maniak pedang seperti Karlamine." kali ini seorang gadis muda dengan pakaian pink dan rambut pirang kuncir dua spiral yang berbicara. Ia melihat Kiba, seakan akan sedang menilainya. Pandangannya lalu beralih ke Issei.

" Seleramu cukup buruk, Rias-sama." ujarnya dengan mengusap-usap dagu. Sebuah perempatan muncul di dahi Issei.

" Ha?! Baiklah... Hanya karena kau kecil, bukan berarti aku akan mengampunimu!"

BOOST!

" Heh, aku tidak ingin bertarung. Biar Isabella saja yang mengurusmu." katanya dengan malas.

Isabella yang sudah paham tugasnya langsung berlari dan melayangkan pukulan kearah Issei.

" Oi oi! Kenapa dia tidak mau bertarung?!" tanya Issei yang terus mengelak pukulan demi pukulan dari Isabella.

" Dia adalah Bishop kami. Tugasnya hanyalah sebagai pendukung, karena dia adalah Ravel Phenex!"

" P-Phenex?!" Issei tak percaya pada pendengarannya. Kalau dia juga klan Phenex, apa itu artinya...

" Dia adalah Adik dari Riser-sama yang masuk kedalam Peeragenya!"

Astaga! Pria ini benar benar mesum tingkat dewa! pikir Issei. Tunggu dulu, memasukkan adikmu kedalam harem mungkin tidak buruk juga.

Pemikiran liar Issei mengalihkan perhatiannya dari Isabella.

Buagh!

Sebuah pukulan hook berhasil mendarat di pipi kanan Issei dan membuatnya terpental. Permata di Boosted Gear kembali bersinar.

BOOST! BOOST!

" Ugh..." Issei menyeka darah dari mulutnya dan kembali bangkit.

" Aku tidak akan kalah!" teriaknya. Issei lalu berlari sekencang mungkin kearah Isabella dengan seringaian mesum di wajahnya. Lingkaran sihir merah di bahu Isabella adalah pertanda kalau ia berhasil menyentuhnya.

" Maaf, nona."

" Dress Break!"

Pakaian dari Isabella hancur terkoyak saat Issei menjentikkan jarinya. Secara reflek, Isabella menutupi dada dan kemaluannya dengan panik. Tapi ia lebih panik dengan bola sihir di telapak tangan Issei sekarang.

" Hancurkan semua!"

" Dragon Shoot!"

Issei melepaskan energi yang ia kumpulkan menjadi sebuah laser pemusnah yang menghancurkan apapun yang ada dihadapannya. Semua pepohonan dan batu yang masuk dalam jangkauan tembaknya menjadi rata dengan tanah, termasuk Isabella.

Di tempat Kiba pun situasinya kurang lebih sama. Karlamine berhasil ia desak dengan sihir Sword Birth miliknya. Dengan sihir itu, ia bisa menciptakan pedang apapun semaunya.

" Benar-benar musuh dari semua gadis..." ujar Karlamine.

" Maafkan temanku yang mesum itu."

Melihat Kiba yang membungkuk maaf pada musuh malah membuat Issei mengeluarkan sumpah serapahnya. Tapi semua itu terhenti saat Ravel memanggil Issei dan menunjuk kearah atap gedung baru Kuoh Academy.

Disana sudah ada Rias yang menggendong Asia. Mereka langsung menyerang secara terang-terangan ke markas musuh.

" Terlalu cepat untuk menyerang Riser, Rias." komentar Itachi dari ruang penonton.

" Thunder Priestess, Twilight Healing, Sword Birth, dan Boosted Gear dipimpin oleh Ruin Princess. Sungguh kelompok yang menarik." puji Ravel. Ia menyeringai tipis kearah Issei.

" Tapi jangan meremehkan Phenex, titisan dari Phoenix yang abadi!"

Issei yang dikepung oleh sisa-sisa Peerage Riser tidak bisa bergerak membantu ketuanya sekarang. Ia melihat Kiba, berharap rekannya itu bisa menyelesaikan pertarungannya dan membatu Rias disana. Tapi sang Knight tampaknya mulai kehabisan energi. Akeno juga sama saja. Ia nampak mulai kewalahan melawan Yubelluna diatas sana.

Booom!

Ledakan dari atap gedung mengalihkan perhatian Issei dan yang lainnya. Rias tampaknya bertarung habis-habisan disana.

" Buchou!" teriak Issei. Ia terus menghindari serangan beruntun dari Pawn dan Knight Riser yang tersisa.

" Aku baik-baik saja, Issei. Fokuslah pada lawanmu! Tunjukkan kekuatan Gremory!"

Mendengar perkataan Kingnya, semangat dalam diri Issei makin terbakar. Tekadnya sudah bulat! Ia tidak akan mundur walau itu satu langkah pun!


Akeno dan Yubelluna saat ini sama-sama melemparkan sihir andalan masing-masing kearah satu sama lain. Sambaran petir dan ledakan menghiasi langit lapangan replika Kuoh Academy.

Booom! Bzzzzztt! Duar!

Ledakan Yubelluna mengenai dirinya dan Petirnya berhasil menyambar Yubelluna. Pakaian mereka sudah compang camping akibat sihir lawannya.

" Kau cukup hebat, Thunder Priestess. Tapi energimu mulai habis." ujar Yubelluna saat melihat Akeno mulai kehabisan nafasnya.

" Akan kuakhiri dengan sekali serang!" kata Akeno yang mengangkat tangannya ke depan wajah.

Booom!

Tanpa menunggu apapun, Yubelluna langsung menyerang Akeno dengan ledakan yang cukup besar. Asap hitam menghalangi pandangannya, tapi ia yakin kalau musuhnya sudah kalah.

Namun, matanya melebar saat telinganya mendengar suara seperti kicau ribuan burung yang saling tumpang tindih. Cahaya kuning dari dalam asap mulai terlihat. Akeno menyeringai dengan tangan yang sudah dialiri oleh petir kuning.

" Thunder Release : Song of Thousand Birds!"

Akeno melesat saat meneriakkan nama jurusnya. Ia meluncur dengan kecepatan penuh kearah Yubelluna yang tak siap. Targetnya adalah jantung lawannya!

Tapi rasa sakit pada bahunya yang muncul tiba-tiba membuat Akeno sedikit meleset dan mengenai perut kiri dari Yubelluna. Tangannya kini menembus tubuh Yubelluna, tapi pandangan dan pendengarannya mulai mengabur. Akeno sudah menggunakan seluruh energinya pada serangan tadi dan kini ia terjatuh bersama Yubelluna hinnga menghantam tanah.

" Maaf, Rias..."


Di lapangan, Issei dan Kiba masih sibuk melawan musuh masing masing sampai bunyi dentuman mengagetkan mereka.

" Queen milik Rias-sama sudah tereliminasi." suara Grayfia terdengar dari seluruh penjuru Arena. Rias dan teman-temannya tak percaya pada apa yang mereka dengar. Akeno sudah dikalahkan.

" A-Akeno-senpai!" teriak Issei. Ia mengeratkan giginya. Satu lagi temannya gugur. Ia harus mencari cara agar pertarungan ini cepat berakhir.

" Hey, kalau kau mendnegarku sekarang, tolong pinjamkan aku kekuatanmu!" kata Issei pada Boosted Gearnya.

Seolah paham, Boosted Gear menjawab dengan melipat gandakan kekuatan Issei.

BOOST!

" Lagi! Tunjukkan pada mereka kekuatan tekadku!"

DRAGON BOOSTER SECOND REVELATION!

Sebuah tulisan kuno terukir dan bersinar terang di sekitar batu permata Boosted Gear. Sebuah pilar energi muncul dari langit dan menghantam Issei, memberikannya sebuah dorongan energi besar. Secara misterius, otaknya seakan diberi pengetahuan tentang sedikit kemampuan Boosted Gear dari pilar energi ini.

Saat ia melihat tangannya, Boosted Gear sudah berubah lagi. Gauntlet itu kali ini sudah dihiasi oleh duri duri seperti di tubuh naga.

" Inilah kekuatan tekadku, Buchou!"

Sebuah ide terlintas di kepalanya. Ia teringat pada salah satu saran dari Itachi waktu merek dilatih olehnya

" Tetap tenang selama pertempuran. Kalian harus bisa membaca situasi dan memanfaatkannya untuk membuat kalian menang."" Kerja sama tim mampu membalikkan keadaan. Kenali kemampuanmu dan rekanmu, lalu manfaatkan semaksimal mungkin untuk menutupi kekurangan kalian."

" Kiba! Arahkan Sword Birth padaku!"

Kiba yang mendengarnya mengangguk lalu mengambil jarak dari lawannya. Ia menancapkan pedangnya ke tanah, menciptskan sebuah gelombang energi kearah Issei yang langsung diserap oleh Boosted Gear.

BOOST! TRANSFER!

" Sword Birth!"

Sebuah lingkaran sihir merah muncul dan semakin meluas hingga mencakup seisi lapangan. Dari sana, muncik ratusan pedang dari dalam tanah dan menusuk semua Peerage Riser, kecuali Ravel yang sedang terbang.

" Bishop, 2 Knight, Rook, dan 2 Pawn milik Riser-sama sudah tereliminasi."

" Kita berhasil, Kiba!" ujar Issei. Ia berlari untuk menghampiri rekannya yang sudah letih. Tapi sebuah ledakan besar menghantam Kiba hingga teriminasi. Tidak salah lagi, ini pasti ulah Queen milik Riser! pikir Issei.

" Knight milik Rias-sama sudah tereliminasi."

" Kiba!"

Sementara di atap, Riser dan Rias saling bertukar serangan sihir. Bola api dan Bola dengan kekuatan penghancur terus menerus keluar. Salah satu serangan Rias berhasil mengenai wajah Riser, tapi dia seolah tak merasakan sakit. Luka yang ia terima terbakar oleh api dan kembali seperti semula. Inilah regenerasi dari Klan Phenex yang begitu terkenal di Underworld.

" Menyerahlah, Rias... Atau bidakmu lah yang akan menderita... "

Keringat mengalir di pelipis sang pewaris Klan Gremory. Bishopnya yang terus menerus memberikan sihir penyembuhan di dirinya tidak akan bertahan lebih lama lagi.

" Jangan bercanda! Aku tidak akan menyerah hingga akhir!"

Rias menembakkan Power of Destruction miliknya kearah tangan Riser sampai putus. Tapi luka yang diterima lawannya langsung sembuh begitu saja dilalap oleh api abadi milik Klan Phenex. Riser membalas dengan menembakkan kembali bola api berukuran besar yang masih bisa ditahan oleh Rias.

" Buchou! Aku sudah datang!"

Rias menoleh kearah Pawnnya yang berlari menghampirinya. Issei langsung mengambil posisi di belakang ketuanya dengan Boosted Gear yang sudah siap.

" Syukurlah kau sampai, Issei."

" Kau bersusah payah kemari, Issei-san..."

Rias dan Asia bernafas lega. Bantuan sudah datang, walau ia juga tidak yakin apakah Issei bisa membantunya mengalahkan Riser.

" Aku sudah berjanji untuk menyelamatkan kalian, bukan?" ujar Issei dengan tersenyum.

Duarrr!

Sihir ledakkan Yubelluna mengenai targetnya, Issei dan Asia. Issei menggunakan tubuhnya untuk memeluk dan melindungi Asia dari ledakan, tapi sang Bishop tetap saja pingsan.

" Asia!"

" Issei! Asia!"

Issei meletakkan tubuh Asia dengan perlahan, lalu melesat secara tiba-tiba kearah Riser.

BOOST!

" Lagi! Beri aku kekuatan lagi!"

BOOST! BOOST!

Ia melesat dengan tangan terkepal, bersiap untuk menghajar wajah Riser. Namun rasa sakit yang mendadak muncul di sekujur badannya membuat Issei terjatuh. Ototnya terasa keram. Kepalanya begitu pusing. Dan tenggorokannya terasa terbakar hingga ia terbatuk darah.

" Issei!"

Riser memandang Issei dengan tatapan meremehkan dan seringaian di wajahnya. Ia sudah tahu kemenangan ada dipihaknya. Ia maju dan menggenggam kepala Issei.

" Kau pikir bisa menang, Iblis rendahan?!"

Buagh!

" Jangan bercanda!"

Buagh!

" Hanya karena kau punya Boosted Gear, kau jadi merasa kuat, hah?!"

Buagh!

Riser menghajar Issei hingga terpental. Sayap apinya terbentang lebar untuk mengintimidasi lawannya.

Rias tak sanggup melihat ini. Ia tidak tahan melihat para budaknya tersiksa begini.

" Hentikan, Riser!" pintanya.

Buagh!

" Huh? Hentikan?"

Buagh!

Riser mencengkeram rambut Issei menariknya keatas. Tangan kanannya terangkat dengan api yang menyala-nyala, siap untuk membakar apa saja.

" Tunggu dulu, Riser... Apa yang akan kau lakukan padanya?!"

" Bukankah itu sudah pasti? Akan kubakar sampai habis..."

Perkataan Riser membuat Rias membelalakkan matanya. Ia tidak bisa membiarkan hal itu terjadi! Issei bisa mati jika Riser membakarnya!

" A-aku... Tidak akan k-kalah, B-buchou..."

" Aku p-pasti menang..."

Issei berbicara dengan susah payah. Matanya masih memancarkan semangat yang tidak akan patah walau ia harus merasakan siksaan.

" Tutup mulutmu, Iblis rendahan!"

" Hentikan, Riser!"

Rias berlari dan mendorong Riser menjauh dari Issei. Rias memeluk Riser dengan erat agar dia tidak bisa mendekati Issei.

Airmatanya mengalir deras. Ia tidak bisa menerima kenyataan yang terjadi. Ia tidak ingin. Tetapi mau bagaimanapun, inilah akhirnya.

Dengan hati yang hancur dan air mata yang terus mengalir, ia akui kenyataan pahit ini. Ia akui kekalahannya.

" Checkmate..."

" Aku... kalah..."


Author's Note:

Update! Update! Update, hey! Dikebut dalam setengah hari dapet 2K :D Mumpung ide banyak ya langsung gas. Kalo buntu, terpaksa hiatus, awkwkwkwwkwk.

Anyway, thanks for your support. Have a good day and, mind to Review?

Silvermane Kudan, Out.