CROWMASTER : BIRD AMONG DRAGON
Disclaimer :
Naruto Punyanya Om Masashi Kishimoto
High School DxD Punyanya Om Ichiei Isshibumi
Rating game minggu lalu berakhir dengan kekalahan Rias dan pernikahan mereka akan diadakan esok hari.
Secara sekilas, tidak ada yang berubah dari sikap Rias. Tapi orang-orang terdekatnya tahu kalau pikirannya sedang terganggu sekarang. Sirzech, Zeoticus, Akeno, dan Venelana, semuanya sudah mencoba untuk meringankan beban pikiran sang Ruin Princess, tapi ia tetap tidak terbuka pada siapapun.
Biasanya ia akan berjalan sendirian dengan tatapan kosong, seolah-olah sedang memikirkan sesuatu. Saat ada yang bertanya, Rias akan mengelak dan tersenyum, lalu pergi secepat mungkin.
Kali ini Itachi akhirnya memutuskan untuk berbicara pada Rias walau ia sedikit ragu. Kalau ibunya sendiri saja ditolak, bagaimana dengan Itachi?
Itachi kini berjalan mengelilingi Mansion untuk mencari Rias. Ia berhasil menemukan adik angkatnya di area taman Mansion, sedang termenung menatapi daun-daun yang berguguran dari pohon besar disana.
" Apa kau ingat pohon itu, Rias?" tanya Itachi. Ia mendekat dan berdiri di samping Rias.
" Nii-san?" tampaknya Rias sedikit terkejut dengan kemunculan Itachi yang membuyarkan lamunannya. Ia lalu mengangguk pelan.
" Ini tempatmu berbaring dulu, kan?"
" Benar. Dan tempat dimana kau selalu menggangguku."
Rias memukul pelan lengan Itachi dan terkekeh. Ia lalu menarik tangan Itachi dan membawanya duduk di bawah pohon besar tadi.
" Hanya kau dan Aku waktu itu."
" Kau tidak pernah mengeluh saat ku ganggu, malah dengan senang hati kau meladeni tingkahku, Nii-san."
Itachi menoleh kearah Rias yang sedikit gemetaran.
" Hanya kau, Nii-san..." ucap Rias dengan nada bergetar. Air mata terlihat menggenang di sudut matanya. Ia menatap balik Itachi dengan mata berkaca-kaca.
Rias lalu menjatuhkan kepalanya di dada Itachi dan menangis. Itachi yang sempat kaget kini menepuk-nepuk pundak Rias. Secara perlahan ia usap pucuk kepala dengan rambut merah itu.
" Tolong aku, Nii-san..." lirih Rias.
" Aku tidak ingin menikahi Riser..."
" Tolong... Nii-san..."
Mendengar Rias yang seakan-akan mengemis pertolongannya membuat Itachi miris. Entah kenapa hatinya begitu sakit mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Rias.
" Tenanglah, Rias. Aku disini..." kata Itachi menenangkan Rias sembari terus mengusap dan menepuk kepala Rias. Baju yang ia pakai sudah basah di bagian dada.
Rias menangis sepuasnya dalam pelukan Itachi. Ia tumpahkan segala beban yang ia tanggung sendiri belakangan ini. Ia tumpahkan bebannya kepada Itachi.
Tak jauh dari tempat Itachi dan Rias, Akeno dan yang lain melihat keduanya. Mereka bisa melihat Rias yang menangis disana.
" Maafkan aku, Buchou..." ujar Issei dengan tangan terkepal. Giginya mengerat, menandakan ia kesal saat ini.
" Andai saja saat itu aku lebih kuat..."
Issei menyesali kejadian hari itu. Ia terlalu memaksakan Boosted Gear sampai energi yang terima menjadi racun bagi tubuhnya. Semua karena ia tidak bisa mengendalikan Sacred Gear miliknya.
" Kita semua kesal, Issei." kata Kiba.
" Akeno-senpai, apa ada cara untuk membatalkan pernikahan ini?" tanya Koneko. Akeno menggeleng dengan perasaan sedih. Kalau memang pernikahan itu bisa dibatalkan, maka Rias pasti tidak akan seperti ini.
Sakit. Itachi masih merasakan sakit dihatinya. Seolah olah perasaan Rias dan perasaanya terhubung satu sama lain.
" Aku akan membantumu, Rias."
" Akan kubatalkan pernikahanmu."
Ucapan Itachi membuat tangis Rias mereda. Ia mendongakkan kepala untuk menatap mata Itachi.
" Benarkah?" tanyanya.
" Aku berjanji." kata kata itu keluar begitu saja dari mulut Itachi tanpa bisa ia kendalikan. Namun ia sudah terlanjur berjanji, dan ia tidak akan mengingkari janjinya.
Itachi memegang pipi Rias dan menghapus sisa sisa airmata di wajahnya.
" Aku berjanji. Jadi hapuslah air matamu, angkat kepalamu, dan kembalilah tersenyum Rias." ia lalu mengacak-acak pucuk kepala berambut merah itu.
" Terima kasih, Nii-san."
Itachi tersenyum lembut dan mengulurkan tangan kearah Rias untuk membantunya berdiri.
" Nah, ayo kita pergi dari sini." ajak Itachi. Saat ia berbalik, Rias tiba-tiba berteriak.
" Tolong, Nii-san! Kakiku terkilir!" Rias berteriak sembari memegangi pergelangan kakinya. Itachi menatap Rias dengan wajah datar. Ekspresi kesakitan Rias yang dibuat-buat terlihat jelas baginya.
" Nii-san..." Rias pura-pura menangis tersedu dan terus memegangi kakinya. Itachi menghela napas berat dan mendekati Rias.
Rias yang masih pura-pura kesakitan dibuat terkejut saat Itachi mengangkatnya ala Bridal style. Wajahnya sekarang sewarna dengan rambutnya yang merah.
" T-tunggu dulu!"
" Hm? Kukira kakimu terkilir?"
" T-tapi-"
" Badan besarmu itu susah untuk digendong dengan punggung. Lebih mudah begini."
" H-hey!"
Itachi membawa Rias dalam gendongannya untuk masuk ke dalam Mansion. Ia berhenti sebentar untuk sekedar menyapa Issei dan yang lainnya di pinggir taman.
" Selamat siang, semua."
" A-Akeno!" Rias dibuat malu setengah mati saat ini. Teman-temannya melihat ia digendong oleh Itachi saat ini dan itu membuatnya tidak lancar untuk berbicara karena gugup
" B-buchou..." kali ini Issei yang terbata-bata. Mulutnya menganga. Baru kali ini ia melihat Kingnya tersipu malu. Hanya tuhan yang tahu sumpah serapah yang ia keluarkan dalam hatinya sekarang. Targetnya? tentu saja semua pria tampan di dunia.
" Kami permisi sebentar. Sampai jumpa."
Itachi pun berlalu, membawa Rias entah kemana. Meninggalkan Peerage milik Rias dalam keadaan terkejut. Apa kakak dan adik akan bertingkah seperti itu? Tentu saja tidak! pikir mereka. Kecuali Akeno yang sudah tahu kebenarannya. Ia hanya tersenyum kecut melihat hal tadi.
Hari pernikahan Rias sudah tiba. Dalam beberapa jam lagi, upacaranya akan berlangsung dan pesta akan dimulai.
Itachi sedang bercermin saat ini. Di kasurnya tergeletak satu set baju yang diberikan oleh Zeoticus untuk hari ini bersama dengan selembar kertas kecil.
Satu stel jas hitam, kemeja merah dan rompi hitam. Sebenarnya Venelana ingin Itachi tampil layaknya bangsawan pada umumnya sebagai bagian dari keluarga kepala Klan Gremory, tapi ia menolak dan lebih memilih pakaian formal biasa. Disana juga terletak sebuah kertas catatan bertuliskan 'Semoga berhasil.'
Melihat itu, pikirannya kembali ke percakapannya semalam.
Flashback
" Apa kau tahu situasi dewan para Iblis, Itachi?"
Itachi mengangguk menjawab Sirzech. Rias sudah berbicara dengannya tentang hal ini.
" Beberapa dewan Iblis berpendapat kalau hanya Iblis murni yang boleh menjadi High-class. Biar kuberitahu salah satu informasi yang kami para Satan simpan."
Tatapan Sirzech menajam menatap mata Itachi.
" Kami yakin kalau itu hanya alasan beberapa klan yang menentang para Satan saat ini. Memang belum ada bukti, tapi Ajuka dan Serafall sudah bergerak menyelidiki masalah ini. Aku bahkan curiga semua ini terhubung dengan upaya 11 tahun lalu."
" Kenapa kau memberitahukan hal ini, Sirzech?" tanya Itachi.
" Aku mempercayaimu, Itachi. Lagipula, siapa tahu suatu saat aku perlu sudut pandangmu nanti."
" Dan masalah pernikahan Rias, aku mengaturnya bukan hanya demi mendapatkan sekutu. Aku berpikir, Jika Riser menang, maka Klan Phenex secara otomatis akan memihak Klan Gremory dan Satan. Dan jika Rias yang menang, maka itu membuktikan kalau adikku sudah berkembang pesat dan melampaui keturunan Phoenix."
Ia lantas menyandarkan badannya dan melihat langit-langit ruangan.
" Tapi sepertinya aku terlalu terburu-buru dan tidak menganggap enteng perasaan adikku sendiri." ujar Sirzech.
Sirzech berdiri dan menghampiri Itachi. Raut mukanya terlihat sedih dan menyesal. Ia lalu menatap Itachi dengan penuh harap.
" Batalkan pernikahan ini, bung. Aku mempercayakan Rias padamu." kata Sirzech dengan mantap. Ia menepuk bahu Itachi, seakan tanda kalau ia sepenuhnya percaya pada sang Uchiha.
" Baiklah."
Mendengar jawaban dari Itachi, Sirzech bisa sedikit bernapas lega. Sekarang tinggal satu hal lagi yang harus ia lakukan.
" Ngomong-ngomong, Sirzech, ucapanmu barusan berlawanan dengan yang kau katakan waktu itu." ucap Itachi dengan pandangan datar dan menusuk, membuat Sirzceh tertawa kikuk dan manggaruk kepalanya.
" Ehehe... Aku punya reputasi yang harus dijaga, tahu."
" Hn."
Dengan itu Itachi pun memutuskan pamit dan beranjak pergi dari ruangan itu. Ia sudah bersiap melakukan teleportasi, tapi ucapan Sirzech membuat ia mengerutkan dahinya sebelum tubuhnya berpindah tempat kembali ke Mansion Gremory.
" Itachi, ikuti saja permainannya besok."
" Baiklah, Sirzech. Akan ku ikuti semua permainanmu."
Itachi lantas berkaca sembari memakai pakaian yang sudah disediakan untuknya. Ia terlonjak kaget saat melihat bayangan dirinya sendiri di cermin. Ia terlihat lebih muda, hanya saja pakaiannya yang berbeda.
Bayangannya memakai seragam anbu dan menatap Itachi dengan Mangekyo Sharinggan yang merah menyala.
Semua itu hanya terlihat sekilas. Saat ia berkedip, bayangan tadi kembali semula. Ia kembali seperti dirinya sekarang yang memakai setelan jas lengkap.
Itachi menghela napas dan memijat keningnya. Semua itu pasti hanya salah lihat. Ya, pasti. Ia memutuskan untuk menepis semua kemungkinan yang mulai ia pikirkan dan bergegas ke tempat pernikahan Rias.
Pernikahan Rias diadakan di sebuah Ball Room besar yang dihadiri oleh berbagai bangsawan yang berhubungan baik dengan Gremory dan Phenex. Keempat Satan bahkan hadir dan berkumpul di bagian depan Aula.
Di keramaian tersebut terdapat sekumpulan Iblis muda yang menjadi bagian dari Peerage milik Rias Gremory. Mereka sudah bersetelan rapi untuk merayakan pernikahan King mereka, walau kenyataannya tidak ada satupun dari mereka yang senang dengan hal ini.
" Akeno-senpai, apa Buchou baik-baik saja?" tanya Kiba. Akeno melihat Knight kelompoknya dengan ekspresi khawatir.
" Aku juga tidak yakin. Tapi jika melihat kejadian kemarin, harusnya Rias sudah tenang. Entah apa yang dibicarakan oleh mereka berdua..."
" Sedekat apa hubungan Buchou dan Sensei, Senpai?" kali ini Koneko yang bertanya.
" Menurutku, Rias sudah menganggap Itachi sebagai kakak kandungnya sendiri. Ia bahkan lebih dekat dengan Itachi daripada Sirzech."
Mendengarnya, Koneko mengangguk paham. Ia ingin bertanya lebih jauh, tapi suara pintu ruangan yang terbuka membuat ia terlaksa menunda pertanyaannya.
Rias berjalan memasuki Aula didampingi oleh Itachi. Warna hitam baju Itachi terlihat begitu kontras dengan gaun putih khas pengantin milik Rias. Sang pewaris Klan Gremory terlihat sedikit gugup, tapi perkataan dari Itachi membuat ia kembali tenang. Mereka berdua berjalan menuju bagian depan Aula melewati para tamu yang membukakan jalan untuk mereka.
" Kuucapkan selamat datang dan terima kasih pada kalian semua yang hadir di pesta pernikahan Adikku, Rias Gremory." sambutan Sirzech dibalas tepuk tangan para Iblis yang datang. Ia menoleh kearah Riser yang ada disampingnya dengan senyuman.
" Riser Phenex dan Rias Gremory akan menikah hari ini, sesuai dari rencana kedua pihak tahun lalu. Untuk itu sebagai Maou Lucifer, kuucapkan selamat pada kalian."
Tepuk tangan meriah terdengar dari para undangan. Mereka terlihat ikut bergembira mendengar kabar ini.
" Tapi!" satu kata dari Sirzech membuat suasan menjadi hening seketika.
" Menurut perjanjiannya, pernikahan akan terlaksana kalau semua keluarga dari kedua pihak merestui pernikahan ini."
Riser menyipitkan matanya. Ia terlihat tidak menyukai arah pembicaraan ini.
" Riser! Kau belum mendapat restu dari satu orang lagi." ujar Sirzech sembari menunjuk Itachi. Semua tamu menatap bingung Sirzech, kecuali beberapa orang yang terlihat senang.
" Maou-sama, apa maksud semua ini?" tanya Riser yang terlihat marah. Memangnya apa hubungan Rias dan Pria yang disampingnya itu?
" Kau sudah dengar bukan? Pernikahan ini tidak akan terjadi sampai kau mendapat Restu dari Itachi."
" Memangnya apa hubungan Rias dengannya?"
Sirzech berjalan mendekati Itachi dan menepuk bahu kawannya itu.
" Apa kau tahu, Riser, Pria ini adalah kakak angkat Rias. Dan Lord Gremory sudah setuju akan hal ini."
Riser mengepalkan tangannya. Ia merasa kesal dan ditipu oleh Sirzech. Dalam pandangannya, Kakak angkat tidak memiliki hak untuk memberi restu dalam pernikahannya.
" Candaan macam apa ini, Maou-sama?"
" Apa aku terlihat bercanda, Riser?"
Riser menatap tajam Sirzech. Ia lalu mengalihkannya pada Itachi dan menghampiri pria itu.
" Jangan membuang waktuku. Kau merestuinya, bukan?"
Itachi melihat Sirzech yang mengedipkan sebelah matanya. Itachi tersenyum tipis, ia paham apa 'permainan' yang dimaksud Sirzech semalam.
" Semua tergantung pada Rias..."
" Huh?"
" Bagaimana? Apa kau mau aku merestui kalian, Rias?" tanya Itachi pada Rias. Ia menatap adik angkatnya dengan lembut, seolah memberikan dorongan pada Rias untuk mengatakan isi hatinya.
" Tidak... Aku tidak ingin kau merestuinya, Nii-san."
Ucapan Rias membuat para tamu terkejut, terutama Riser. Ia tidak menyangka kalau Rias akan menolaknya didepan puluhan Iblis kelas atas.
" Kau dengar, Riser? Dia tidak ingin menikahimu."
Riser menatap tak percaya pada calon Istrinya. Ia merasa dipermalukan dan dilecehkan dihadapan para Iblis Bangsawan lain. Harga dirinya terasa diinjak dengan penolakan ini. Tangannya terangkat, bersiap untuk menampar gadis didepannya secara tak sadar.
Grep!Tepat sebelum tangannya menyentuh pipi Rias, pergelangan tangannya sudah dicengkeram erat oleh Itachi. Riser berusaha melepaskan diri, tapi cengkeraman Itachi begitu kuat sampai pergelangannya mulai terasa sakit.
" Lepaskan aku, Iblis rendahan!" perintah Sirzech. Ia lalu menyelimuti tangannya dengan api hingga Itachi terpaksa melepas cengkeramannya.
" Jangan menyentuhnya lagi, Phenex..." ujar Itachi. Ia menatap Riser dengan tatapan dingin dan menusuk. Tak menghiraukan ancaman Itachi Riser mencoba melayangkan pukulan ke arah Itachi, tapi berhasil dihentikan oleh Sirzech.
" Apa ini semua rencanamu, Maou-sama?!"
" Jangan menuduhku, Riser. Tapi jika kau begitu ingin menghajar Itachi, kenapa tidak kalian selesaikan di pertandingan Resmi?"
" Usulan yang bagus."
Riser menarik kepalan tangannya yang dilepaskan Sirzech dan mundur beberapa langkah dari Itachi. Sirzech memberitahukan tentang duel antara Riser dan Itachi pada para tamu dan meminta Grayfia untuk menteleportasikan mereka semua ke arena. Lingkaran sihir tercipta kemudian, lalu menelan Itachi dan Riser kedalam Cahaya.
Disinilah mereka sekarang. Arena resmi milik para Iblis yang biasa digunakan untuk mereka bertanding dan bertarung secara resmi.
Di kedua sisi Arena, berdiri dua orang dengan warna rambut yang berbeda. Itachi Uchiha dan Riser Phenex.
" Baiklah, biar saya jelaskan peraturan dan taruhannya." suara Grayfia terdengar dari penjuru Arena.
" Jika Riser Phenex menang, maka Itachi Uchiha harus merestui pernikahan Riser. Tapi jika Itachi Uchiha yang menang, maka Riser Phenex harus membatalkan pernikahannya dengan Rias Gremory. Apa kedua pihak keberatan?"
Keduanya menggeleng. Riser bahkan menyeringai mendengarnya. Ia tidak terlihat takut ataupun gugup sama sekali, hanya ada keangkuhan dan kepercayaan diri di matanya.
" Pertarungan akan dihentikan saat salah satu petarung tidak mampu melanjutkan pertarungan."
Itachi memejamkan mata dan bernapas dalam-dalam, lalu membuangnya. Ia menenangkan pikirannya dan menajamkan panca indranya. Fokus. Hanya itu yang yang ada dipikirannya. Saat ia membuka mata, Iris matanya sudah berubah dari hitam kelam menjadi merah menyala dengan pupil hitam dan tiga buah tomoe melingkarinya.
Perasaan dingin dan merinding menghampiri Riser saat ia menatap mata Itachi, tapi ia tidak menunjukkannya. Ia tetap menyeringai dan menunjukkan kepercayaan dirinya. Riser yakin kalau ia akan menang dengan mudah. Lagipula, siapa yang bisa mengalahkan keturunan sang Phoenix yang abadi?
" Pertarungannya dimulai, Sekarang!"
Persis setelah Grayfia berkata demikian, Riser langsung melesat kearah Itachi dengan cepat. Ia melayangkan pukulannya kearah samping Itachi, tapi berhasil ditangkis. Ia lalu mencoba menendang pinggang Itachi dan berhasil dihindari Itachi dengan melompat kebelakang.
Riser lalu menembakkan bola bola api kearah Itachi yang sudah bersiap dengan balasannya.
" Water Release : Water Dragon!"
Itachi memfokuskan energinya dan mengeluarkan sihir air milikhya. Sebuah naga air raksasa yang keluar dari lingkaran sihir di belakang Itachi bergerak dengan kecepatan tinggi kearah Riser, melahap semua bola api milik Riser tanpa ampun.
Dengan sigap Riser segera berlari kesamping dan melompat untuk menghindari bola api raksasa milik Itachi.
" Kau cukup bagus dengan sihir air. Tapi api tadi belum seberapa!"
"Flame Meteor!"
Riser membuat bola Api Raksasa diatasnya dan menembakannya kearah Itachi. Itachi kembali mengeluarkan sihir yang sama, naga air, untuk menetralisir api Riser. Tapi bola api tersebut terbukti lebih kuat dan membuat naga air Itachi menguap saat mendekat.
Melihat sihir yang Riser mengarah kepadanya, Itachi dengan sigap menyingkir dengan cepat menggunakan Lightning Step miliknya dan langsung melesat kembali kearah Riser. Itachi terus menghindari setiap bola api dari Riser dengan bergerak kesamping sampai ia tiba dihadapan Riser.
Itachi melancarkan hook dari kanannya, tapi masih mampu ditangkis oleh Riser walau ia harus sedikit terpental dan terjatuh karena kuatnya pukulan Itachi. Riser kembali bangkit tapi saat ia melihat kedepan, sebuah lingkaran sihir sudah tercipta dibelakang Itachi.
" Fire Release : Flame Wild Dance!"
Pusaran api muncul dan bergerak kearah Riser dengan membentuk spiral. Riser yang tak siap harus merasakan panasnya api milik Itachi. Beberapa bagian pakaiannya rusak karena terbakar. Tapi ia tidak merasakan sensasi terbakar pada dirinya.
" Heh, sepertinya apimu tidak cukup kuat untuk membakarku." ejeknya dengan seringaian. Sebuah sayap dari api muncul dibelakang punggungnya.
" Flame Meteora!"
Riser kembali menembakkan bola api raksasa kearah Itachi dan terbang dibelakangnya. Itachi berhasil menghindari bola api tadi dengan melompat kesamping, tapi ia tidak berhasil menghindari pukulan dari Riser yang tertuju ke perutnya.
Buagh!
Tak sampai disitu, Riser kembali memukul Itachi bertubi-tubi dan memukul kepala Itachi dengan kedua tangannya hingga terhempas kebawah.
Debu berterbangan akibat hempasan yang terjadi dan kawah kecil muncul dengan tubuh Itachi yang tergeletak di tengahnya. Riser yang melihat ini hanya tertawa senang.
" Ahahahahaha! Hanya begitu kah kekuatanmu, Iblis rendahan? Ini akibatnya jika kau menantang Riser Phenex!" hina Riser yang masih melayang dengan sayap api miliknya.
Riser mengangkat tangan dan membuat sebuah bola api besar di telapak tangannya. Ia memandang Itachi remeh dan menyeringai sekali lagi, lalu melemparkan bola api rakasasa tadi kearah Itachi.
" Flame Meteora!"
Ledakan yang terjadi begitu besar hingga Riser terpaksa melindungi dirinya sendiri dan bergerak menjauh. Saat ia melihat hasil ledakannya, Riser melihat tubuh Itachi terkapar tak berdaya dengan luka bakar dan pakaian yanh hangus. Melihatnya, Riser kembali tertawa merayakan kemenangannya, sampai rasa sakit yang hebat di dada kirinya membuat ia berhenti.
Darah mengalir dari luka akibat tusukan benda tajam di dada kirinya. Tidak, harusnya rasa sakit yang ia rasakan jauh berkurang karena darah Phoenix didalam dirinya, tapi kenapa rasa sakit luka ini begitu terasa. Terlihat juga asap yang tercipta dari luka yang ia terima.
Saat Riser melihat lagi kedepannya, ia tidak menemukan kawah besar hasil sihir miliknya maupun tubuh Itachi. Ia membelalakkan mata saat mendengar sebuah suara dari belakangnya.
" Ternyata dugaanku benar..."
Itachi menusuk dada Riser dengan belati miliknya dari belakang.
" K-kau... Bagaimana bisa...?"
" Klan Phenex adalah Iblis yang dianggap abadi karena regenerasinya yang begitu cepat. Jadi aku hanya bereksperimen, bagaimana jadinya kalau mereka diserang dengan senjata yang diberkati oleh sihir suci?"
Itachi mencabut dan kembali menusukkan belati miliknya ke tempat yang sama. Asap kembali keluar saat ia menusukkan senjatanya. Rasa sakit dan terbakar hebat terasa di dada kiri Riser karena belati Itachi.
Itachu lalu mencabut dan menendang tubuh Riser hingga terpental ke depan. Sihir suci di belati Itachi tampaknya menghambat regenerasi milik Riser, terbukti dari lukanya yang masih menganga di punggungnya.
Riser lantas mengeluarkan sebuah botol kecil dan meminum apapun air yang ada didalamnya. Secara ajaib, luka yang tadinya hanya terbakar kecil, kini seperti dilahap oleh api yang menyembuhkan semua luka di tubuh Riser.
" Jangan remehkan Klan Phenex!" Riser kembali bangkit dan bersiap untuk membalas Itachi. Riser lalu melesat sembari terus melesatkan belasan Flame Meteora kearah Itachi.
Riser menggunakan kesempatan yang muncul saat Itachi menghindari Flame Meteora terakhir untuk bergerak kebelakang dan memiting leher Itachi.
" Menyerahlah!"
Riser semakin menguatkan cekikannya ke leher Itachi. Ia menikmati ekspresi kesakitan dari Itachi sembari terus mencekik leher lawannya.
Tapi ia harus terkejut sekali lagi saat tubuh Itachi pecah menjadi kawanan Gagak yang terbang berpencar dan mengelilingi dirinya.
" Jadi Air mata Phoenix adalah kartu as milikmu..."
Suara Itachi bergema di segala penjuru Arena. Riser menoleh kesan kemari untuk menemukan lawannya yang bersembunyi. Saat ia melihat keatas, ia harus dibuat merinding dengan sepasang mata merah berukuran raksasa dengan pupil aneh yang menatapnya dari langit.
Kawanan gagak yang mengelilinga tadi seketika berubah menjadi shuriken besar yang menghujamnya secara terus menerus, memberikan rasa sakit yang teramat sangat pada Riser.
" AAAAARRRRGGGHHHH!!!"
Riser menjerit kesakitan. Ia tidak pernah merasaan sakit seperti ini. Ia ingin rasa sakit ini berhenti. Hentikan! Hentikan semua ini! pikirnya. Ia menutup matanya, mencoba menahan semua rasa sakit yang ia terima.
" NNGGGAAHHHHH!!!"
Ia berlutut dan menjerit sejadi-jadinya. Namun tak ia duga, semua rasa sakit di tubuhnya menghilang secara tiba-tiba. Riser pun membuka matanya secara perlahan.
Tak ada apapun disekitarnya. Kawanan gagak yang berubah menjadi sebuah senjata aneh yang terus menghujaninya tadi menghilang. Mata yang ia lihat dilangit pun juga menghilang.
Riser menoleh ke kanan dan ke kiri, tapi ia tidak menemukan apapun. Hanya arena yang kosong. Saat ia menoleh kebelakang, matanya bertemu dengan mata milik Itachi. Mata yang sama dengan yang ia lihat di langit tadi. Seketika perasaan merinding langsung menjalari tubuhnya hingga ia secara tak sadar langsung merangkak menjauh dari Itachi.
Ia berbalik dan melihat Itachi berjalan kearahnya. Riser ingin menjauh, tapi tubuhnya seperti terpaku di tanah. Ia membeku dan menatap mata merah menyala Itachi dengan ketakutan. Ia tidak tahu kenapa, tapi rasa takut itu datang begitu saja.
Ia melihat Itachi berlutut untuk mensejajarkan dirinya dengan Riser.
" Kau punya semua yang diperlukan untuk menjadi kuat kecuali satu hal."
Nafas Riser masih memburu. Dadanya kembang kempis dan keringat dingin membasahi tubuhnya saat merasakan energi yang dilepaskan oleh Itachi.
" Arogansi hanya akan menghancurkanmu, cepat atau lambat. Ingat itu baik-baik, Riser."
Tiga tomoe Sharinggan Itachi berputar dengan cepat. Dan seketika, Riser yang melihatnya merasa penglihatannya menggelap dan tak lama kemudian, ia pun tumbang tak sadarkan diri.
Suasana menjadi hening beberapa saat sampai Grayfia mengumumkan hasil pertandingan kali ini.
" Pertandingan selesai! Pemenangnya adalah Itachi Uchiha!"
Itachi menghela nafasnya dan mengangkat tubuh Riser di bahunya. Lingkaran teleportasi muncul dan membawanya kembali ke Aula tempat pernikahan Rias.
Sirzech menatap takjub apa yang barusan terjadi dari layar monitor sihir berukuran besar di Aula. Begitu Grayfia memulai pertandingan, Riser yang menatap Itachi langsung jatuh berlutut. Tatapan matanya terlihat kosong dan pikirannya seperti tidak berfungsi. Beberapa detik kemudian Riser langsung menjerit hebat sembari memegangi kepalanya dengan mata terpejam. Ia terlihat seperti merasa kesakitan yang teramat sangat.
" Apa yang terjadi ?" tanya Issei entah pada siapa.
Itachi yang daritadi diam bergerak secepat kilat dan berdiri dibelakang Riser. Sirzech bisa melihat jelas mata Itachi. Semua tamu yang hadir mampu melihat mata Itachi. Mata aneh yang merah menyala itu membuat mereka sedikit merinding hanya dengan melihatnya.
" Apa yang dilakukan oleh pria itu, Lord Gremory...?" tanya Lord Phenex dengan lirih. Ia tak percaya kalau anaknya yang begitu sombong, angkuh, dan percaya diri, dibuat merangkak ketakutan oleh musuhnya.
" Pertandingan selesai! Pemenangnya adalah Itachi Uchiha!" suara Grayfia memecah keheningan yang ada. Sesaat kemudian, Itachi muncul lewat teleportasi dengan membopong Riser di bahunya.
" Onii-sama!"
Seorang gadis pendek berambut pirang dengan gaya kuncir dua berbentuk spiral berlari menghampiri Itachi, atau lebih tepatnya menghampiri Riser yang ada di bahu Itachi.
Itachi membaringkan tubuh Riser secara perlahan dan menepi untuk memberi ruang bagi si gadis untuk melihat kakaknya.
" Jangan khawatir. Dia hanya pingsan."
Perkataan Itachi membuat raut wajah khawatir si gadis menjadi lega. Ia memeluk tubuh kakaknya, lalu pamit pada Sirzech. Ia berteleportasi membawa tubuh Riser kembali pulang untuk menyembuhkannya. Seluruh klan Phenex yang hadir juga ikut kembali ke daerah milik mereka sendiri.
Itachi lalu berjalan menghampiri Sirzech. Para tamu menatapnya dengan beragam. Ada yang kagum, waspada, dan takut. Dan mereka menyadari mata Itachi yang sudah menjadi hitam kembali seperti semula.
Sirzech dan keluarga kepala Klan Gremory beserta Peerage Rias menyambutnya dengan senyuman. Issei dan Koneko bahkan menatapnya dengan mata berbinar-binar.
" Kau keren sekali, Sensei!"
" Aku tidak tahu apa itu bisa disebut pertarungan, Sensei."
" Ara ara~, apa yang kau lakukan hingga dia menjadi seperti itu, Itachi-kun?"
" Kau bisa membuat lawan pingsan hanya dengan memelototi mereka. Sensei, keren..."
Itachi membalas mereka dengan senyuman. Ia lalu mengalihkan pandangannya pada Rias. Gadis itu memandang dirinya dengan raut bahagia. Ia lalu memeluk Itachi dengan erat.
" Crimson Eyes. Bukankah terdengar cocok bersama Crimson Ruin Princess dan Crimson Satan, Itachi?"
Itachi menoleh kearah Sirzech.
" Apa maksudmu, Maou-sama?"
" Ah, lupakan saja."
Sirzech mengibaskan tangannya. Tak ambil pusing, Itachi memilih untuk membalas pelukan dari Rias.
" Ne, Itachi-nii, apa kau ingat janjimu 7 tahun lalu?"
" Hn?"
Perasaanya mendadak tidak enak. Insting Itachi mengatakan kalau akan terjadi masalah di hidupnya.
" Sebagai permohonan maaf, aku akan mengabulkan satu permintaan kalian." ucap Rias yang menirukan cara bicara Itachi.
Ah, dia ingat sekarang. Itachi ingat perkataannya dulu, tapi ia tidak ingat apa permintaan yang diajukan Rias.
Itachi kembali menatap Rias. Ia terus menelusuri ingatannya sedikit demi sedikit. Keningnya mengerut, tanda ia sedang berpikir keras.
Merasa ditatap dengan seksama membuat Rias membuang mukanya yang merona tipis, sebuah pemandangan yang membuat Itachi berhasil mengingat keinginan Rias waktu itu.
" Kau ingat, sekarang?"
Itachi tidak menjawab. Ia memilih untuk pura-pura tidak ingat demi kenyamanan hidupnya kelak.
Karena merasa diabaikan, Rias menggembungkan sebelah pipinya.
" Baiklah, kalau begitu biar aku yang membantumu mengingatnya." Rias berbalik menghadap Sirzech dan kedua orangtuanya.
Tidak. Itachi memohon dalam hatinya agar Rias tidak mengatakan permintaannya.
" Tou-sama, Nii-sama, aku akan menikahi Itachi-nii!"
Terlambat. Peemintaan Itachi tidak terkabulkan. Ia sekarang menatap Sirzech, Zeoticus, dan Venelana secara bergantian dengan gugup. Ia menggelengkan kepala, seakan memberi kode pada mereka bertiga untuk menolaknya.
Venelana tersenyum, Sirzech mengangguk, dan Zeoticus mengacungkan jempolnya. Tapi bukan pada Itachi, melainkan pada Rias.
" Bagaimana bisa aku menolak permintaan adikku tersayang?"
" Kau benar, Sirzech. Aku tidak akan menolak permintaan gadis kecilku ini, benar kan, Venelana?"
" Tentu saja, sayang."
Itachi meneguk ludahnya. Ia ingin kabur dari situasi ini, tapi sepertinya teleportasinya tidak cukup cepat untuk bisa lolos dari Sirzech dan Zeoticus. Oh, betapa ia mengutuk ketidakmampuannya menggunakan Shunshin seperti dulu.
" Ehm! Perhatian, para tamu sekalian! Pesta akan tetap dilanjutkan, tetapi bukan karena pernikahan Riser Phenex dan Rias Gremory, melainkan pernikahan Itachi Uchiha dan Rias Gremory!"
" Itachi bukanlah kakak kandung, melainkan hanya kakak angkat tanpa hubungan darah dengan Rias. Jadi, pernikahan ini boleh boleh saja terjadi!"
Tepuk tangan meriah terdengar bersamaan dengan ajakan untuk bersulang dari Sirzech. Semua tamu mengangkat gelas mereka dan lanjut menikmati pesta yang berlangsung.
" Nah, Itachi, dengan begini kau bisa melaksanakan tugasmu dengan lebih mudah, bukan?" Zeoticus menghampiri Itachi dengan senyuman di bibirnya.
" Aku tidak punya pilihan, bukan?" ucap Itachi pasrah. Ia menghela nafasnya dan memutuskan untuk mengikuti apa yang nasib berikan padanya, walaupun hal itu akan merepotkan nanti.
Author's Note :
Yah gak banyak yang mau saya sampaikan, tapi saya cuma mau minta maaf karena telat up :).
Anyway, Review wouldn't ya?
Silvermane Kudan, Out.
