CROWMASTER : BIRD AMONG DRAGON
Disclaimer :
Naruto Punyanya Om Masashi Kishimoto
High School DxD Punyanya Om Ichiei Isshibumi
Itachi terbangun dari tidurnya. Tubuhnya pegal, kepalanya terasa berputar, dan matanya berkunang-kunang. Itachi memijat keningnya, berharap agar rasa pusing yang ia alami sedikit berkurang.
Walau sedikit samar, ia bisa mengingat sebagian dari apa yang terjadi semalam. Pesta pernikahan Rias, lalu duel melawan Riser, dan selanjutnya pernikahan-
Itachi teringat sesuatu. Ya, pesta semalam berubah menjadi pesta pernikahan antara dirinya dan Rias. Dengan cepat ia menoleh kesamping dan melihat sebuah gundukan di dalam selimut disampingnya.
Itachi mengecek tubuhnya sendiri. Ia masih memakai kemeja merahnya walau kondisinya berantakan dan celana panjangnya masih menutupi bagian tubuh bawahnya. Itachi merasa lega karena ia masih berpakaian, jadi hal yang barusan terlintas di pikirannya tidak terjadi semalam saat ia tak sadarkan diri.
Tiba-tiba, gundukan yang ada disebelahnya bergerak sendiri. Sesosok kepala gadis berambut merah muncul dengan wajah mengantuk.
" Hoammm... Ohayou, Nii-san."
Rias bangkit dan meregangkan tubuhnya yang tidak memakai apa-apa. Ya, ia tidur tanpa mengenakan sehelai kain apapun selain selimut.
" O-ohayou..."
Rona tipis muncul di wajah Itachi. Bagaimanapun, ia adalah lelaki dewasa yang sehat secara fisik dan psikologis. Melihat seorang gadis telanjang didepannya tentu membuat Itachi malu. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, Itachi membuang mukanya ke arah lain.
" Heee? Wajahmu memerah, Nii-san."
Rias tersenyum jahil dan memeluk Itachi dari samping. Ia sengaja menaruh lengan kiri Itachi diantara kedua aset besar miliknya, tapi hal itu tidak berlangsung lama karena Itachi segera bangun tanpa melihat dirinya sama sekali.
" Temui aku dibawah nanti." ujar Itachi sebelum keluar kamar. Baru beberapa detik ia keluar, pintu kamarnya kembali sedikit terbuka.
" Dan pakai bajumu, Rias."
Blam!
Rias turun ke lantai bawah dengan memakai kaos dan celana pendek Itachi dan melihat kalau dia tengah sibuk di dapur. Tak ingin mengganggu, Rias memutuskan untuk duduk bersantai sembari menonton TV besar di tengah ruangan.
Setelah 5 menit, Itachi memanggilnya dari arah dapur untuk mengajak Rias sarapan. Di meja makan tersebut sudah tersedia dua mangkuk sereal dengan toping buah dan dua cangkir berisi teh dan susu coklat hangat. Tanpa basa-basi, keduanya langsung duduk dan menyantap sarapan mereka dengan tenang.
" Kau memakan ini setiap hari?" tanya Rias. Itachi menggelengkan kepalanya.
" Memasak adalah ide buruk saat kepalamu terasa pusing." jawab Itachi. Kepalanya masih sedikit pusing, jadi ia lebih memilih menu yang mudah dan cepat untuk disajikan.
Setelah itu, suasana kembali menjadi hening. Kejadian tadi pagi masih terpikirkan oleh Itachi hingga membuatnya merasa canggung dan sungkan untuk berbicara dengan Rias.
Rias baru saja ingin membereskan peralatan makan mereka, tapi Itachi dengan segera mencegahnya.
" Bawa minumanmu dan bersantai saja di sana." ujar Itachi yang menunjuk sofa di depan TV. Ia lalu mengambil mangkuk mereka dan mencucinya di wastafel. Tak ingin membantah, Rias menuruti perintah Itachi dan kembali menonton TV ditemani segelas susu hangat.
Tak lama kemudian, Itachi datang dan duduk di sebelah Rias dengan membawa sebuah buku dan secangkir teh. Suasana menjadi hening lagi. Hanya ada suara dari Televisi yang mengisi tiap sudut rumah.
" Nii-san..." Rias melirik kearah lelaki di sampingnya.
" Hn?" respon Itachi tanpa mengalihkan pandangannya dari buku yang ia baca. Ia meminum tehnya secara perlahan.
" Apa kau masih memikirkan kejadian tadi pagi?"
" Uhuk!" Itachi terbatuk. Teh yang ia minum tadi sebagian menetes dari mulutnya. Tak mau repot, Itachi mengelap bekas teh di wajahnya menggunakan lengan kaosnya.
Melihat reaksi Itachi, Rias tersenyum jahil. Ia menggeser posisi duduknya hingga mendempet Itachi.
" Tidak perlu malu malu begitu, wajahmu memerah lagi."
Itachi pura-pura tidak mendengar apapun dan memilih mengacuhkan Rias. Sang gadis Gremory terkekeh pelan melihat tingkah Itachi.
" Heh... Tidur tanpa pakaian itu sudah menjadi kebiasaan ku, Nii-san."
" Tolong, cari kebiasaan yang lebih normal. Dan pakailah pakaianmu sendiri."
Rias menaruh minumannya dan membaringkan dirinya.
" Apa kau keberatan dengan kebiasaanku?" tanya Rias dengan kepala di pangkuan Itachi. Tangannya dengan sigap mengambil buku Itachi dan memasukkannya ke dalam bajunya.
Itachi menghela nafasnya dan menatap Rias. Baiklah, ia menyerah. Menghindarinya hanya akan membuat Rias semakin mengganggunya.
" Tidak. Hanya saja, aku tidak terbiasa terbangun di pagi hari dengan seorang gadis yang tak berbusana di sebelahku."
Rias beranjak bangun dan menatap Itachi. Mulutnya terbuka ingin mengucapkan sesuatu, tapi terhenti karena tindakan Itachi.
Tuk!
" Kuharap kau merubah kebiasaanmu itu."
Itachi mengetukkan dua jarinya di dahi Rias dan bangkit dari duduknya.
" Apa yang ingin kau lakukan?"
" Mandi. Mungkin rasa pusingku bisa hilang jika disiram oleh air hangat." jawabnya lalu pergi, meninggalkan Rias yang masih duduk sembari mengusap dahinya dengan sebuah senyum kecil terukir di bibirnya.
Akeno dan teman-temannya kini sedang berjalan menuju rumah Itachi. Mereka ingin mengunjungi rumah pasangan baru itu untuk sekedar menyapa dan melihat bagaimana keadaan keduanya. Lagipula, di hari Minggu ini mereka ingin bersantai bersama-sama setelah satu minggu penuh kemurungan dari Rias.
Issei dengan antusias menekan tombol bel rumah gurunya. Beberapa kali ia menekan bel tapi tak ada jawaban dari para penghuni di dalamnya.
" Apa mereka pergi?" tanya Kiba.
" Berbulan madu? Kurasa tidak mungkin. Lagipula ini semester sekolah belum selesai!" sanggah Issei. Tapi di dalam pikirannya, ia menyetujui kemungkinan keduanya berbulan madu.
Issei meraih knop pintu dan membukanya. Ternyata pintu depan rumah Itachi tidak dikunci, jadi ia memutuskan untuk masuk.
" Sensei, kami permisi masuk ke dalam..." kata Issei dengan pelan. Setelah itu ia langsung menyelinap masuk dan duduk di sofa depan TV. Yang lainnya juga mengikuti Issei dari belakang.
Tak lama kemudian Rias turun dari lantai atas dengan hanya mengenakan handuk yang melilit tubuh dan rambutnya. Bersamaan dengan Itachi yang keluar kamar mandi mengenakan sehelai handuk biru. Rambutnya bahkan belum kering sepenuhnya.
Itachi terkejut melihat lima pasang mata yang menatapnya dari sofa. Mulai dari gadis pirang yang menutup matanya dengan telapak tangan namun tetap meninggalkan celah, sampai tatapan dari gadis berambut hitam yang melihatnya dengan penuh nafsu dan seringaian di wajahnya. Rias pun begitu. Ia juga terkejut melihat Peeragenya sudah duduk di depan TV.
" Ara-ara~ apa kami menganggu?"
" Kalian begitu saja?"
" Kami sudah meminta izin, tapi Sensei tidak mendengarnya." elak Issei. Matanya kemudian melihat Rias yang hanya mengenakan handuk. Setetes darah keluar dari hidungnya saat pandangannya terfokus pada dua buah balon itu.
Itachi memijat keningnya.
" Ya sudah, tunggu sebentar. Rias, kau bisa menggunakan kamar mandi sekarang."
Tanpa basa-basi, Rias langsung bergegas ke kamar mandi dan Itachi ke kamarnya untuk berpakaian. Setelah berpakaian kaos biru hitam dan celana jeans pendek, ia kembali turun kebawah.
" Jadi, apa yang membuat kalian datang?" tanyanya setelah duduk di samping Issei.
" Apa salahnya mengunjungi King kami?" tanya balik Akeno.
Memilih menyerah, Itachi akhirnya menghidupkan TV dan mencari saluran favoritnya.
" Sensei..."
" Hn?"
" Bagaimana caramu mengalahkan Riser semalam?"
Itachi menoleh kearah Issei yang menatapnya penasaran. Seluruh orang diruangan ini menatapnya dengan penuh tanya. Itachi mengaktifkan Sharingan miliknya.
Mata merah itu. Issei merasa familiar dengan mata itu. Ia mengingatnya sekarang. Di malam saat ia dibunuh oleh Yuuma, atau Raynare, Issei ingat kalau ada seseorang bermata merah dan berambut hitam yang mencoba menolongnya.
" Sensei, apa kau orang yang melawan Yuuma malam itu?"
" Yuuma? Maksudmu gadis malaikat jatuh itu? Ya, maaf karena tidak menolongmu tepat waktu."
" Ah, tidak apa-apa. Lagipula, jika kejadiannya tidak seperti itu, mungkin sekarang aku masih menjadi seorang remaja biasa. Berkat sensei yang terlambat, aku bisa bertemu dengan teman-teman klub." ucap Issei dengan menundukkan kepalanya.
" Jadi, kau berterima kasih karena sudah dibiarkan dibunuh? Kau cukup aneh, Issei." gurau Itachi.
" Aku tidak tahu harus menjawab apa." jawab Issei dengan menggaruk belakang kepalanya.
" Hey, bagaimana dengan cara mengalahkan Riser tadi?"
Rias kini turun dengan memakai celana pendek Itachi dan kaos hitam bertuliskan 'I'm with stupid ' dengan tanda panah kearah kanan. Ia lalu duduk di sebelah kiri Itachi dan bersandar padanya dengan nyaman.
" Ara-ara~ kau mau pamer, Rias?"
" Tentu saja tidak. Selain itu, kau belum menjawab pertanyaan Issei tadi, Nii-san!"
Itachi kembali menghela nafasnya. Ia membiarkan Rias bersandar dan menjelaskan taktik miliknya.
" Mata ini disebut Sharingan." ujar Itachi sembari menunjuk matanya.
" Sharingan memiliki dua buah kemampuan pada penggunanya. Yang pertama adalah mempertajam indra penglihatan. Sharingan memungkinkan penggunanya untuk melihat aliran energi spiritual. Bukan hanya itu, Sharingan juga membuat penggunanya mampu memprediksi gerakan lawan dengan membaca aliran energi, gerak otot, dan gerak syaraf hingga membuat penggunanya seperti bisa melihat ke masa depan." jelasnya panjang lebar. Itachi melihat para muridnya yang mendengar dengan seksama dan fokus pada penjelasannya.
" Yang kedua adalah memberikan penggunanya menciptakan ilusi. Ilusi yang dihasilkan dapat bervariasi tergantung dari keinginan si pengguna. Ilusi dari Sharingan juga dapat mengelabui kelima indra milik lawan sehingga lawan bisa mencium bau, mengecap rasa, mendengar suara, bahkan sampai merasakan sakit." tambahnya. Itachi memejamkan mata dan menonaktifkan Sharingannya.
Rias dan Peeragenya mengangguk-angguk paham mendengar penjelasan Itachi. Mereka memasukkan semua informasi ini ke dalam memori mereka.
" Dengan kata lain, kau hanya menghipnotis Riser malam itu?" tanya Kiba memastikan perkiraannya yang dijawab dengan anggukan.
Mereka yakin kalau ini hanya secercah dari kekuatan asli Itachi. Apapun itu, mereka akan kembali mencari tahunya nanti karena sekarang, mereka bukan datang untuk berdiskusi.
Suara perut dari Koneko membuyarkan keheningan yang ada. Sang gadis mungil itu membuang mukanya yang merona hebat karena malu. Mendengar suara barusan, Itachi bangkit dan membuka kulkasnya.
Kosong, tidak ada apa-apa disana kecuali beberapa botol minuman ringan yang ia simpan. Itachi mengambil semua dan meletakkannnya di atas meja.
" Ambil ini. Aku akan berbelanja bahan makanan sebentar." kata Itachi yang kemudian pergi ke minimarket terdekat.
" Jadi, bagaimana rasanya menikah, Buchou?" tanya Issei.
" Tidak ada yang spesial sejauh ini." jawab Rias. Ia menatap ke langit-langit ruangan dengan senyum kecil.
" Kau tahu, sebenarnya aku ingin memasukkanmu ke dalam Haremku kelak. Tapi jika yang menjadi lawanku adalah Itachi-sensei, maaf saja, Buchou, tapi aku lebih memilih mundur."
Issei tersenyum kikuk. Memang benar jika Akeno dan Rias adalah target Haremnya. Tapi jika itu berarti ia harus melawan Itachi, Issei lebih memilih menyerah dan mencari target lain. Rias menanggapinya dengan terkekeh. Menjadi salah satu Harem milik Red Dragon Emperor terdengar tidak buruk, tapi sayang hatinya sudah tertambat pada seorang pria tampan nan keren yang selalu memasang ekspresi datar di wajahnya.
" Hey, Akeno, dia sedikit berbeda sekarang."
" Huh?"
" Kau tahu, aku merasa kalau ia lebih terbuka sekarang. Jika dipikir-pikir, dahulu ia seperti terpaksa tertawa dan tersenyum. Tapi sekarang, Itachi-nii terlihat sedikit lebih tulus."
Rias berkata sambil mengusap-usap keningnya, tempat dimana Itachi mengetukkan dua jarinya tadi pagi.
" Benarkah? Kurasa itu hal bagus." jawab Akeno.
Akeno sendiri tidak terlalu dekat dengan Itachi sejak ia kembali dan menjadi guru di sekolahnya. Entah kenapa ia merasa gugup jika ada disekitar Itachi. Ia tahu jawabannya, tapi memilih untuk tidak menggubrisnya, untuk sekarang. Akeno lalu meminum sebotol soft drink yang diambilkan oleh Asia.
Itachi berjalan pulang dengan membawa kantung plastik berisi bahan mentah dan beberapa kotak camilan di tangannya. Pagi hari Minggu yang biasa ia nikmati dalam keheningan bersama secangkir teh dan novel miliknya, mungkin tak akan bisa ia nikmati lagi.
Di perjalanannya, ia melewati seorang gadis yang menjual bunga di pinggiran trotoar. Ia begitu bersemangat menawarkan bunganya kepada beberapa orang yang lewat, termasuk pada Itachi. Melihatnya membuat Itachi teringat akan sosok gadis pirang yang menjadi teman dekatnya waktu kuliah dulu.
Pandangannya tertuju pada sebuah bunga merah dengan bagian tengah berwarna kuning. Bunga yang sering diberikan oleh Violet padanya dulu.
" Anda tertarik, tuan?" tanya si gadis penjual yang dijawab dengan anggukan.
" Aku ingin satu buket bunga Daisy merah ini."
" Baiklah. Tunggu sebentar."
Selagi membuat dan merapikan buket bunga Itachi, si gadis tadi bertanya kembali.
" Apa kau tahu arti Daisy merah, tuan?"
" Tentu. Ketulusan dan kesederhanaan, bukan?" jawab Itachi.
" Benar. Tapi ada makna yang lain, yaitu mencintai secara diam-diam."
Itachi sedikit terkejut. Otak Uchiha miliknya bekerja dan menyambungkan beberapa hal yang ia ketahui menjadi suatu fakta. Mungkinkah Violet...
Lamunannya terbuyar oleh suara gadis penjual bunga yang menyerahkan buket bunga miliknya. Itachi membayar pesanannya dan meminta agar kembaliannya disimpan oleh si penjual, lalu berjalan kembali ke rumah.
Ia kembali memikirkan hal tadi. Ia memang tidak pintar dalam memahami wanita sejak dulu. Lagipula, hubungan romantis bukanlah hal yang menarik baginya sejak dulu, sejak ia masih hidup di dunia Shinobi. Bagi Itachi, seluruh rasa cintanya sudah mati bersama dengan Izumi malam itu.
Atau setidaknya, itulah yang Itachi pikirkan dan percayai sejauh ini.
"Aku pulang..." ujar Itachi.
" Ah, selamat datang." jawab yang lainnya.
Itachi memasuki rumahnya, lalu meletakkan buket bunga bersama dengan bahan dan camilan yang ia bawa. Itachi meminum segelas air putih dan langsung membereskan belanjaannya.
Akeno dan Asia menghampiri Itachi untuk membantunya meletakkan barang barang yang Itachi beli tadi.
" Huh? Bunga untuk Buchou, sensei?" tanya Asia.
" Anggap saja begitu. Masukkan bunganya ke dalam Vas yang ada di lemari." jawab Itachi. Asia lalu bergegas mengambil Vas di lemari yang Itachi tunjuk.
" Kau berbelanja cukup banyak, Itachi-kun."
" Rias akan tinggal disini, Akeno. Aku harus memasak dua kali lebih banyak."
" Ara-ara~ Bukankah kau sudah seperti suami idaman, Itachi-kun?" goda Akeno. Ia mendempet-dempet tubuh Itachi dari belakang.
" Berhenti menggodaku, Akeno." pinta Itachi sembari terus mencoba menghiraukan sensasi di punggungnya, tapi Akeno tetap mendempetnya.
" Ehem!"
Suara yang berasal dari ruang tengah terdengar keras, seolah sang pemilik suara sengaja mengeraskan dehemannya agar didengar oleh Itachi dan Akeno. Usaha tersebut berhasil karena Akeno kini sedikit menjauh dari Itachi. Ia memberi senyum manis pada Rias dan kembali membantu sang Uchiha di dapur.
Itachi sebenarnya tidak keberatan dengan bantuan dari Akeno. Tapi ia lebih memilih untuk bekerja sendiri, bahkan dalam hal seperti memasak.
" Akeno, ambil biskuit yang ada di plastik tadi dan bawa ke ruang tengah."
" Apa aku menganggumu?"
Itachi menggeleng sembari memecahkan telur ke dalam mangkuk kecil didepannya. Akeno akhirnya menuruti Itachi dan membawa 3 kotak biskuit dengan rasa berbeda ke ruang tengah, tempat yang lain berkumpul.
Dengan perginya Akeno, Itachi bisa lebih fokus pada pekerjaannya. Ia menambahkan mentega bersama gula dan garam ke dalam adonan yang ia buat. Sesekali ia menoleh kearah ruang tengah yang terdengar bising akan tawa dan obrolan dari Rias dan Peeragenya.
Keluarga. Entah kenapa Itachi merasa nyaman saat berada di dekat mereka. Dia yang selalu menyendiri, merasa tenang dan bahagia saat melihat kehangatan yang ditunjukkan oleh keluarga pemimpin Klan Gremory dan para pelayannya ini. Bersama mereka, ia merasa menjadi sosok lain dengan dirinya yang dulu.
Setelah selesai membuat adonan, ia membungkusnya dengan plastik dan membiarkan adonan tadi mengembang. Setelah beberapa saat, ia mengeluarkan adonan yang sudah mengembang dan memipihkannya dengan rolling pin. Itachi lalu menaruh mentega ditengah adonan yang dilipat dan memipihkannya kembali. Ia terus mengulangi hal tersebut sampai adonannya terlihat berlapis.
" Apa yang bisa kubantu, Sensei?"
Pertanyaan dari gadis bertubuh mungil di sampingnya membuat Itachi berhenti sejenak dan menoleh.
" Kau ingin mencobanya?"
Koneko menganggukan kepalanya. Itachi menunjukkan bagaimana cara membuat adonan seperti tadi dan memberikan rolling pin di tangannya pada Koneko.
Setelah selesai, Itachi memotong motong adonan pipih tadi menjadi segitiga segitiga berukuran sebesar telapak tangan. Ia lalu menaruh satu blok coklat di bagian yang lebar dan menggulungnya dari bagian alas sampai ke puncak hingga membentuk gulungan yang besar di bagian tengah.
Koneko mengikuti langkah-langkah dari gurunya dari menggulung hingga mengolesi adonan yang sudah digulung dengan telur. Adonan tadi lalu ia masukkan ke dalam Oven untuk dipanggang.
" Nah, sekarang tinggal menunggu."
" Berapa lama, sensei?"
" Mungkin sekitar 20 menit." jawab Itachi. Ia lalu mengambil novel miliknya dari ruang tengah dan kembali ke dapur untuk menunggu kuenya matang. Sementara Koneko bergabung dengan yang lainnya di sofa.
Di ruang tengah, Issei menyandarkan dirinya di sofa. Ia menguap bosan dan menoleh ke arah gurunya yang asyik membaca buku di depan oven.
" Ne, Buchou, apa Sensei memang selalu menyendiri?"
Rias menoleh kearah Issei dan mencoba mengingat-ingat sesuatu.
" Seingatku, Nii-san memang selalu menyendiri sejak kecil."
" Benar sekali. Ia biasa berbaring sendiri di bawah pohon dan larut dalam pikirannya." tambah Akeno.
Issei kembali berpikir. Mungkin jika ia menjadi seorang Lone Wolf layaknya Kiba dan Itachi, para gadis akan mulai memperhatikannya. Saat pikirannya terbang kesana-kemari, Itachi sudah datang dengan membawa sepiring besar roti yang disiram oleh coklat leleh. Issei merasa pernah melihatnya di beberapa situs kuliner di Internet.
Baru saja Itachi meletakkan piring tersebut, Koneko sudah menyambar roti di dalamnya. Dengan rona tipis di wajahnya, Koneko melahap roti di tangannya tanpa peduli kalau roti tersebut baru keluar dari Oven.
" Apa ini, Sensei?" tanya Issei.
" Sarapan pagi. Makanlah."
Itachi lalu duduk dan kembali membaca bukunya di sofa. Membiarkan yang lainnya menikmati makanan yang ia buat.
" Sedikit telat untuk sebuah sarapan, tapi tetap saja akan kumakan!"
Asia pun ikut mengambil roti di depannya sama seperti Issei. Begitu ia menggigit roti tadi, lidahnya langsung disambut oleh rasa manis coklat lumer hangat yang menjadi isian roti.
" Darimana kau belajar membuat Croissant, Sensei?"
" Cro- apa?"
" Semasa kuliah di Prancis." jawab Itachi.
Ia memang belajar memasak makanan ringan selama waktu senggangnya karena makanan yang disajikan di asramanya terkadang terasa hambar dan tak enak.
Asia yang berasal dari Eropa tentu familiar dengan makanan yang ia makan. Ia tidak tahu kalau gurunya bisa memasak makanan kampung halamannya. Dan ditambah rasa roti buatan Itachi tak kalah dengan buatan beberapa toko roti yang ia kunjungi, membuat Asia tambah kagum dan hormat pada gurunya satu itu.
Obrolan mereka yang berlangsung sampai malam hari harus terhenti karena panggilan kontrak dan energi negatif iblis liar yang dirasakan oleh Rias dan teman-temannya.
" Kau ikut, Nii-san?" tanya Rias yang bersiap untuk membasmi iblis liar di daerah kekuasaannya.
" Tidak. Aku punya kontrak yang harus diselesaikan." ujar Itachi.
Mereka semua lalu menghilang dalam lingkaran teleportasi masing-masing.
Lingkaran sihir milik Klan Gremory muncul diatas lantai ruangan kosong berdebu, tempat Itachi dipanggil malam ini. Ruangan yang tampaknya adalah bangunan tua tak berpenghuni.
Di hadapannya kini, seorang pria tua terduduk ketakutan memandang Itachi atau lebih tepatnya, apa yang ada di belakang Itachi. Seekor iblis liar berbentuk setengah ular dengan tubuh bagian atas berupa wanita berambut hitam pendek.
" Apa kau yang memanggilku?" tanya Itachi. Dengan gemetaran, pria tadi mengangguk dengan tanpa ragu. Setelah dilihat lebih dekat, Itachi baru sadar kalau pria tua didepannya adalah Kepala Sekolah Kuoh Academy.
" T-tunggu... Itachi-sensei?!"
" Hn?" Itachi mengangkat satu alisnya.
" A-apa ini berarti kau-"
" Hraaa!!"
Iblis liar yang dari tadi terlupakan oleh mereka kini merayap dengan cepat kearah Itachi dan langsung mengibaskan ekornya ke kepala sang Uchiha.
Sepersekian detik sebelum ekor si iblis liar menyentuh leher Itachi, ia sudah terlebih dahulu berjongkok untuk menghindar. Sharingan yang terlihat menyala di kegelapan mampu mengintimidasi baik lawan maulun kliennya kali ini.
" Kau ingin aku mengalahkan iblis liar ini, bukan?" tanya Itachi. Ia kemudian menangkap ujung ekor iblis ular yang kembali menyerang dan melemparkannya ke tembok.
Si Kepala Sekolah mengangguk lagi.
" Apa yang akan kau berikan sebagai imbalannya?"
" Apapun! Apapun akan kuberikan asal aku bisa selamat!" jawabnya dengan mantap dan tanpa ragu.
" Baiklah."
Itachi kini memfokuskan perhatiannya pada iblis liar yang menjadi targetnya. Bisa menyelesaikan kontrak dan membasmi iblis liar secara bersamaan bisa dianggap sebagai keberuntungan kecil bagi Itachi.
" Bau ini... Gremory!"
Si Iblis liar tadi bangkit dan mendesis sambil menganalisa Itachi. Jika ia berasal dari klan Gremory dan tidak berambut merah, pasti tingkatannya hanya sekedar pelayan. Jika dilihat, mungkin hanya sebatas Middle Class dan jika ia beruntung, lawannya kali ini bisa saja hanya Low Class. Tapi, ia merasa aneh saat melihat mata lawannya. Mata yang awalnya segelap malam kini berubah menjadi merah menyala.
Ia kembali merayap sembari menembakkan beberapa bola api berukuran kecil kearah Itachi. Serangannya berhasil membuat lawannya kepayahan. Dengan sigap ia membelit tubuh Itachi menggunakan ekornya dan terus mengencangkan lilitannya setiap saat.
Lawannya yang terlihat kesakitan saat tulangnya diremukkan membuat ia merasa senang. Saat lilitannya semakin menguat, ia harus dibuat terkejut dengan tubuh lawannya yang berubah menjadi kumpulan gagak yang mengitari dirinya.
Sebuah suara mengalihkan perhatiannya dari burung burung tadi yang secara aneh tiba-tiba menghilang.
" Earth Release : Bear Trap!"
Lantai yang ada di sekelilingnya tiba-tiba terangkat dan mengurung dirinya dari berbagai arah, menyisakan kepalanya saja yang muncul dengan badan yang terkurun oleh bebatuan.
" Haarrgg! Lepaskan aku!" ia terus meronta-ronta sekuat tenaga, tapi batu batu sialan yang mengurungnya tetap tidak mau hancur. Ketakutan menguasai dirinya saat ia melihat Itachi mendekat dengan Sharingan yang aktif.
" Ini tidak terasa akan sakit."
Itachi meletakkan telapak tangannya di depan wajah iblis liar yang wajahnya sudah pucat itu.
" Wind Release : Pressurized Canon!"
Sebuah lingkaran sihir muncul di depan telapak tangan Itachi dan menembakkan hembusan angin bertekanan tinggi yang menghancurkan kepala si iblis dalam sekejap. Darah yang terciprat tidak begitu ia hiraukan walau terlihat mengotori pakaian yang ia gunakan.
Itachi menghampiri Kepala Sekolah yang terlihat syok dengan apa yang terjadi. Melihat kepala hancur didepan matanya tentu bukan pengalaman yang mengenakkan.
" K-kau Itachi-sensei, bukan?" tanyanya terbata-bata. Itachi membuat gestur tubuh untuk menyuruhnya diam.
" Kau harus merahasiakan ini. Dan untuk bayaranku..."
Itachi menjentikkan jarinya dan seketika Yatagarasu datang membawa setumpuk kertas yang ternyata adalah selebaran kontrak.
" Sebarkan ini di sekitar sekolah. Kurasa hanya itu kali ini." ujar Itachi. Ia lantas melemparkan setumpuk kertas tadi ke hadapan si Kepala Sekolah.
" Aku akan menunggu kerja sama darimu lagi, Kouchou..."
Itachi menunjukkan Sharingannya sekali lagi sebelum berteleportasi kembali untuk mengintimidasi Kepala Sekolah supaya tetap menepati janjinya.
Author's Note:
Fufufufufu... Haloooo! Chapter kali ini cuma selingan doang tanpa ada konflik yang berarti.Sebelum update Chapter 11, saya akan nonton S2 dan mungkin S3 dari DxD biar dapet gambaran dari peristiwa yang akan terjadi. Eh, spoiler ga sih? Awkwkwkwkwkwkw.
Anyway, Mind to Review? Karena saya tahu ada yang baca tanpa meninggalkan review. I See You....
Silvermane Kudan, Out.
