CROWMASTER : BIRD AMONG DRAGON


Disclaimer :

Naruto Punyanya Om Masashi Kishimoto

High School DxD Punyanya Om Ichiei Isshibumi


Gosip tentang Itachi dan Rias yang kini tinggal satu atap mulai menyebar dalam seminggu ini. Seminggu ini pula Itachi mendapat tatapan marah dari para lelaki dan kecewa dari para perempuan. Tidak hanya muridnya, para dewan guru juga melakukan hal yang sama.

Beberapa guru bahkan sudah mengingatkannya kalau hubungan antara murid dan guru itu bukanlah hal yang benar, namun Itachi tetap tidak peduli karena mereka tidak bisa mengambil tindakan lebih jauh. Sebab, Kepala Sekolah Kuoh Academy tidak akan berani mengeluarkannya dari sini. Salah satunya karena Itachi menyelamatkan nyawanya malam itu, dan karena Itachi adalah rekomendasi langsung dari Zeoticus, sang penyumbang dana terbesar sekolah.

Hari ini pun sama, siswi kelas 3A tampak tidak bersemangat mengikuti pelajaran kali ini.

" Seperti yang kita ketahui, bahan magnetik itu terbagi menjadi 3. Ada yang bisa menyebutkannya?" tanya Itachi di depan kelas.

" Bagaimana denganmu, Amaya-san?" tunjuk Itachi pada siswi berambut coklat dengan model twintail. Amaya pun mengangkat tangan dan berdiri.

" Sebentar, bahan magnetik terbagi menjadi ferromagnetik, paramagnetik, dan... Etto, dan..." ia kebingungan untuk menyebutkan bahan terakhir.

" Ada yang bisa membantu Amaya?"

Rias mengangkat tangannya dan setelah disetujui Itachi, ia berdiri tegak.

" Diamagnetik, sensei."

" Tepat sekali. 50 poin untuk kalian berdua."

Kedua siswa tadi kembali duduk, setelah Rias mengedipkan matanya ke Itachi. Aura suram semakin terpancar jelas dari siswa siswi yang ada.

Itachi mengacuhkan tatapan dari muridnya dan kembali menulis materi pelajaran di papan tulis.

" Sensei!"

" Hn?"

Seorang siswa berdiri dengan tampang antusias. Dari ekspresinya, Itachi tahu kalau siswa ini sedang penasaran dengan sesuatu, mungkin perihal bahan magnetin yang baru saja ia bahas?

" Ano, apa gosip yang beredar itu benar? Kalau kau tinggal- "

Ctak!

Itachi melempar kapur yang ia pegang layaknya kunai.

" Aw!"

" Jangan membahas gosip di kelasku, Hanamura!"

Siswa tadi duduk sembari memegangi dahinya yang sedikit memerah akibat lemparan kapur Itachi. Dan seisi kelas pun mendengar penjelasan materi dari gurunya sampai kelas berakhir tanpa ada yang mau membahas gosip itu lagi.


Kantin Kuoh Academy selalu menjadi medan perang saat waktu istirahat siang. Para siswi saling berebut makanan manis yang tersisa, dan para siswa mencari-cari kesempatan dalam kesempitan, ya, mereka memang mencari kesenangan dalam sempitnya ruang gerak karena berdesakan.

Sedangkan Itachi hanya melihat dari meja panjang di sudut kantin bersama satu porsi ramen instan dan kopi hangat. Sebagai guru, ia bisa datang duluan saat para murid masih belajar di kelas. Ia memakan ramen instan hari ini karena tidak sempat menyiapkan bekal untuk ia bawa.

" Boleh kami duduk disini, Sensei?" tanya Issei bersama dua temannya dengan makanan yang berhasil mereka bawa. Itachi mengangguk dan mempersilahkan mereka bertiga.

" Kau tahu, sedikit aneh melihatmu duduk sendirian, Sensei..." ujar Matsuda.

" Apa maksudmu?"

" Yah, kalau mendengar kabar yang beredar, kupikir kau dan Rias-senpai akan selalu berdekatan."

Itachi meneguk kopinya dan menghela nafasnya. Ia mulai sedikit terganggu dengan gosip yang beredar. Memang ia tidak menyangkal kebenarannya, tapi tetap saja ia tidak nyaman kehidupan pribadinya menjadi konsumsi publik sekolah.

Baru saja Itachi ingin bersuara, sekelompok murid yang mencolok muncul dan duduk di meja panjang tempat Itachi. Tentu saja mencolok, mereka adalah Klub Penelitian Ilmu Gaib yang berisi orang-orang populer di sini.

Dua Primadona sekolah, pangeran Kuoh, maskot Kuoh Academy, gadis luar negeri yang menjadi idola baru di kalangan siswa, dan guru muda yang menjadi incaran setiap siswi. Oh, tak ketinggalan salah satu anggota Trio Mesum yang begitu terkenal diantara siswi.

Rias langsung mengambil posisi tepat disamping Itachi, sedangkan Matsuda dan Motohama hanya menatap iri gurunya.

" Apa kau kesepian, sayang?" tanya Rias dengan senyum manis.

" Panggil aku Sensei disini, Gremory. Dan jangan memperburuk gosip yang sudah ada."

" Mou..." Rias menggembungkan pipinya dan memakan makanan yang ia bawa.

" Jadi, apa hal itu benar, Rias-senpai? Kalian benar tinggal seatap?"

Motohama memberanikan dirinya bertanya ke salah satu Primadona Kuoh Academy.

" Huh? Tentu."

Issei bersumpah kalau ia tadi mendengar suara seperti ada yang retak. Ia melihat kearah atap, tapi tidak menemukan apapun, begitu juga dengan dinding kantin. Aura suram menguar dari kedua temannya yang terlihat begitu lemas.

Disamping Issei, Asia menatap wajahnya dengan lekat, seakan tefokus pada sesuatu. Tangannya tergerak kearah wajah Issei dan mengambil sesuatu. Remah roti yakisoba yang dimakan Issei masih tersisa di pipinya.

Saat sadar, wajah keduanya pun menjadi merah padam karena malu, hal yang membuat aura suram Motohama dan Matsuda semakin parah.

" Ehem!" Itachi berlagak membersihkan tenggorokannya. Ia sengaja agak mengeraskan suaranya agar kedua insan yang sedang kasmaran di dekatnya itu mendengar.

" Apa kami harus pergi dari sini?" tanya Itachi dengan wajah datar. Issei menanggapi gurunya itu dengan menggaruk belakang kepalanya, dan Asia hanya tersenyum kikuk. Dirinya tiba-tiba diapit oleh kedua Primadona sekolah dari sisi kiri dan kanannya.

" Hmm? Kalau kau ingin seperti mereka, kenapa tidak bilang?"

" Ara-ara~ Sensei, kau iri dengan Asia-chan dan Issei-kun?"

Sebelum hal yang tak diinginkan terjadi dan gosip tentang dirinya ternyata mempraktekkan poligami muncul, Itachi langsung membereskan sampah makanannya dan beranjak pergi dari sana.

" Aku permisi." ucapnya. Itachi pun bergegas kembali ke kantor guru untuk mempersiapkan materi di kelas berikutnya.

" Hey, Matsuda, hidup sungguh tidak adil, bukan...?"

" Uhm. Aku penasaran, apa ada truk yang lewat di depan sekolah hari ini."

Rias dan Peeragenya memilih bergegas makan dan meninggalkan dua orang siswa tadi yang berbicara satu sama lain tentang hal hal yang tidak masuk akal dengan senyum di wajah mereka dan kepala yang terangkat.


Setelah jam sekolah berakhir, seperti biasa Itachi berjalan menuju ke ruang Klub Rias. Belum sampai ia disana, Itachi sudah bertemu dengan Rias dan teman-temannya di koridor sekolah. Rias menjelaskan kalau hari ini ia ingin mengadakan rapat di rumah Issei karena iseng. Ia ingin sesekali berkunjung ke rumah anggotanya yang paling baru. Tak ada pilihan, Itachi pun mengikuti mereka semua.

Tak perlu waktu yang lama, mereka pun sampai di depan rumah Issei. Issei pun mengetuk dan membuka pintu rumahnya.

" Aku pulang!" ucapnya dengan sedikit berteriak."

" Issei, kau sudah- eh?" nyonya Hyoudou sedikit terkejut melihat rombongan di belakang Issei, terutama pria berambut hitam panjang diikat kuncir kuda rendah.

" Permisi, Hyoudou-san. Aku Itachi Uchiha, guru di Kuoh Academy."

" Ah, Uchiha-sensei, apa anakku ini membuat masalah? Pasti karena libidonya yang kelewat tinggi kan?!"

Nyonya Hyoudou tiba-tiba panik saat mendengar kalau yang ada didepannya adalah guru Issei.

" Tenang dulu, Kaa-san. Aku yang mengundang Itachi-sensei dan yang lain kemari untuk kegiatan klub. Dia adalah pembina klub." jelas Issei dengan wajah memerah. Tentu saja mukanya memerah, ibunya tanpa sadar berkata hal yang memalukan tentang dirinya.

Issei lalu mengajak mereka untuk kedalam kamarnya. Ukurannya memang tidak sebesar kamar Itachi dan Rias, tapi cukup untuk mereka semua duduk dengan nyaman.

Mereka lalu membahas dan menghitung perihal kontrak bulan ini seperti biasa, sementara Itachi lebih memilih bersandar di dekat jendela dan membaca novel fantasi miliknya.

" Issei... Bulan ini kau tidak mendapat kontrak sama sekali." kata Rias sembari meminum teh yang disediakan.

Mendengar itu, Issei hanya tertawa canggung dan menggaruk kepalanya.

" Ahahaha... Belakangan ini jadwalku padat, Buchou. Belum lagi tugas sekolah dan remidial yang menumpuk." walau ia malu, Issei tetap mengakui kalau ia kerepotan akan remidial dan tugas yang diberikan oleh sekolah.

" Kau harus membuat kontrak agar menjadi Iblis kelas atas. Bukankah kau ingin membuat Peerage mu sendiri?"

Mendengar Rias yang bertingkah dewasa membuat Itachi tersenyum tipis. Siapa yang akan percaya kalau gadis berambut merah ini adalah otaku yang manja? Mereka perlu mengenal Rias lebih lama agar tahu sisi lain darinya.

Tak lama berselang, nyonya Hyoudou mengetuk pintu dan masuk dengan sepiring kue. Ia juga membawa sebuah album foto yang ia sebut sebagai 'Kenangan Issei'. Merasa aib masa kecilnya akan terbongkar, ia pun merutuk dan marah pada ibunya.

" Oh, ini waktu dia masih berumur 5 tahun!" tunjuk ibunya kearah sebuah potret anak kecil telanjang di halaman depan rumah. Ia tak memperdulikan ocehan anaknya yang malu dan kesal.

Itachi pun melirik kearah mereka. Hatinya tergelitik untuk ikut melihat foto-foto aib muridnya itu yang mayoritas adalah foto Issei telanjang saat masih kecil. Sepertinya sifat mesum sudah tertanam sejak dini di hati dan pikirannya.

" Issei terlihat imut waktu kecil..." ujar Rias.

" Ah, kau juga sependapat, Buchou?" tanya Asia dengan antusias. Para gadis sepertinya setuju kalau Issei kecil lebih imut dan disukai darilada Issei yang sekarang.

" Aku iri denganmu yang punya keluarga..."

Walau pelan, Itachi masih bisa mendengar ucapan Kiba. Ia memperhatikan muridnya tersebut dari sudut matanya.

" Issei-kun, apa kau kenal dengan dia?"

" Hm? Ah, dia tetanggaku dulu, tapi sekarang sudah pindah keluar kota mengikuti orang tuanya."

Kiba tak begitu menghiraukan Issei. Matanya terfokus pada Longsword dengan sarung putih yang ada di latar foto itu.

" Pedang ini..."

" Hm?"

" Pedang suci..." pandangan Kiba menajam. Itachi bisa melihat jelas kalau ada kebencian di mata itu. Dendam. Ia tidak tahu apa yang terjadi antara Kiba dan pedang suci, tapi Itachi yakin kalau yang ia rasakan tadi adalah amarah dan dendam.

" Dunia yang begitu sempit..."

" Apa yang kau katakan dari tadi, Kiba?"

" Ah? Tidak usah dipikirkan. Lebih baik kau hentikan mereka." Kiba tersenyum pada Issei. Ia menunjuk gerombolan gadis yang membuka hampir semua foto aib Issei. Koneko bahkan memotret beberapa. Dengan muka memerah, ia pun menyambar semua album yang ada dan melarikannya entah kemana.


Malam harinya, kedua penghuni kediaman Uchiha-Gremory kini sedang melakukan rutinitas mereka sehari-hari kalau keduanya sedang tidak mengerjakan kontrak.

Mereka membagi tugas masing-masing. Sang suami bertugas untuk memasak makan malam, sedangkan sang istri bertugas untuk mencuci piring setelahnya karena sang istri tidak pandai memasak.

Sup miso dan tahu adalah menu malam ini karena permintaan Rias. Dia ingin memakan makanan lokal. Rias yang tergila-gila dengan budaya Jepang karena ulah salah satu anggota Peerage ayahnya, Souji Okita. Hanya Itachi, Akeno, dan beberapa orang terdekat Rias yang tahu kalau Rias diam-diam adalah seorang otaku pencinta anime.

" Bagaiamana rasanya?"

" Sempurna, seperti biasa."

Setelah seminggu tinggal seatap, Itachi kini mulai terbiasa dengan kehadiran gadis berambut merah itu di kehidupan sehari-harinya. Ia kini tak ragu lagi untuk membagi tugas dan meminta tolong pada Rias dalam mengurus rumah. Itachi bahkan mulai menyukai keadaan yang sekarang dimana ia tidak lagi sendiri.

" Ne, Nii-san, apa kau tidak berniat mencari Peerage?" tanya Rias.

" Entahlah. Aku belum memikirkannya."

Bekerja sebagai tim adalah hak yang tidak begitu ia pahami, apalagi jika dalam kelompok yang cukup besar. Memang dulu waktu di ANBU ia bekerja dengan dua orang bawahan dan ketika di Akatsuki ia mendapat seorang partner, tapi selebihnya ia selalu bekerja sendiri.

" Lagipula, aku belum menemukan orang yang cocok."

" Cepat atau lambat, kau harus membuat Peerage milikmu sendiri sebagai seorang King."

Peerage sendiri. Huh, mungkin suatu saat ia akan menemukan orang-orang yang bisa ia percayai sebagai keluarga selain Klan Gremory. Mereka kemudian melanjutkan makan tanpa suara sampai selesai.

Setelah makan, Itachi memilih untuk duduk bersantai di sofa bersama secangkir teh hangat dan novel yang belakangan ini ia baca. Ia kini sudah memasuki bagian akhir dari cerita fantasi berjudul Lord of The Ring. Sebuah novel lama yang ia ambil dari perpustakaan Gremory pada suatu kesempatan.

Setelah beberapa saat, Rias pun duduk bersama Itachi dan menonton anime kesukaannya di televisi. Dia hanya memakai kaos merah muda dan celana dalam miliknya.

" Hey, biar aku dan Onii-sama membantumu mencari Peerage." ucap Rias tiba-tiba. Itachi menutup bukunya dan menoleh kearah Rias.

" Tenang saja, Rias. Aku akan mencarinya sendiri."

Mendengar jawaban Itachi yang keras kepala, Rias hanya bisa menghela nafas berat.

" Terserah kau sajalah."

Suasana kembali hening untuk sesaat. Keduanya hilang dalam pikiran dan kegiatan mereka masing-masing.

" Ne, Nii-san..."

" Hn?"

" Belakangan ini kau selalu gelisah ketika tidur. Memangnya apa yang kau mimpikan?"

Itachi sedikit terperanjat mendengar pertanyaan Rias. Jika yang dikatakan oleh Rias itu benar, berarti ia selalu gelisah saat tidur selama bertahun-tahun. Itachi selalu memimpikan hal yang sama, yaitu malam pembantaian Uchiha. Malam dimana tangannya dilumuri oleh darah warga sipil tak berdosa yang bahkan tidak tahu tentang kudeta.

Ia masih ragu untuk menceritakan hal itu. Ia ingin menyimpan rahasia gelap itu sendirian. Rias dan yang lain tidak perlu tahu tentang dosa besar yang telah ia lakukan.

" Hanya mimpi buruk biasa. Kau tidak perlu khawatir, Rias."

Merasa tidak puas dengan jawaban yang ia terima, Rias berlutut di depan Itachi dan menggenggam tangannya.

" Tidak ada yang perlu kau sembunyikan, Nii-san..."

Untuk sesaat, Itachi tergerak untuk memberitahu Rias. Mungkin saja itu bisa meringankan bebannya. Tapi pikiran itu segera ia tepis jaih-jauh dan kembali lada pendirian awalnya.

Itachi mengusap kepala Rias dan tersenyum dengan lembut. Ia lalu mengetukkan kedua jarinya di dahi Rias seperti biasa.

" Mungkin lain kali, Rias."

Jawaban dan perlakuan Itachi padanya membuat Rias menggembungkan pipinya kesal sembari mengusap keningnya yang terasa sedikit sakit, tapi raut wajah kesal itu berganti dengan senyum kecil untuk sesaat.

Rias kemudian membarubgkan tubuhnya di sofa dan meletakkan kepalanya di pangkuan Itachi.

" Lanjutkan saja bacaanmu, jangan hiraukan aku." ujar Rias. Ia lantas memejamkan matanya dan membiarkan kesadarannya terbawa ke alam mimpi bersama dnegan kehangatan yang ia rasakan.

Itachi menghela nafas dan tersenyum kecil. Bagaimana bisa ia menghiraukan Rias kalau badannya terus bergerak kesana-kemari mencari posisi yang nyaman. Itachi meletakkan novelnya di samping dan membiarkan Rias melakukan apapun yang ia sukai.

Hidup di rumah besar bersama seorang gadis cantik. Sangat berlawanan dengan hidupnya dulu yang selalu bergerak dan terjebak bersama seorang pria besar bertampang hiu. Itachi tidak menyangka kalau takdir membawanya kesini.

Kalau saja ia tidak perlu bertarung lagi, mungkin Itachi akan lebih menikmati hidup yang ia impikan ini. Sejenak ia memandang gadis yang mulai terlelap di pangkuannya. Dia bingung dengan perasaannya sendiri sekarang. Apa ia masih menganggap Rias sebagai seorang adik? Apa benar ia memanjakan Rias hanya sebagai seorang kakak angkat? Itachi belum ingin mendengar jawaban dari pertanyaannya sekarang.

Kurangnya pengalaman membuat Itachi buruk dalam ini. Hubungan dengan seorang wanita adalah kelemahan Itachi karena ia tidak bisa mengartikan perasaannya dan si wanita.

Pertama, Rias. Ia yakin kalau ia menganggap Rias hanya sebagai seorang adik layaknya Sasuke, tapi Rias tampaknya tidak sepemikiran dengannya. Itachi merasa kalau Rias tidak lagi memandangnya sebagai kakak sejak duelnya dengan Riser malam itu.

Kedua adalah Violet, temannya di selama Prancis. Gadis itu memang dekat dengan Itachi, ditambah dengan kebiasaanya memberi bunga Daisy merah yang berarti perasaan cinta secara diam-diam, memberikan petunjuk besar bagi Itachi dan ia merasa senang dengan perhatian yang ia terima. Tapi, jika ia memang menyukai Violet, kenapa ia merasa nyaman dan senang saat mengusap pucuk kepala Rias yang ada dipangkuannya?

Lalu yang terakhir adalah Akeno. Rias memang pernah berkata kalau Akeno menyukai Itachi saat mereka kecil, tapi itu sekitar 7 tahun lalu. Sifat Akeno yang berubah drastis membuat Itachi sulit membedakan saat ia bercanda dan serius menggodanya. Tatapan matanya juga terlihat penuh nafsu, seakan-akan ia ingin melahap seluruh tubuh Itachi dengan pandangannya.

Hanya tiga orang. Tiga orang yang ia belum pahami perasaannya, berbeda dengan Koneko, Asia, atau siswi-siswi fangirl Itachi.

Ah, ia hampir lupa. Belakangan ini ia sering merasakan hawa keberadaan asing di sekitaran kota Kuoh. Sepertinya para Malaikat Jatuh berulah lagi. Itachi akan berbicara dengan Azazel perihal ini nanti. Untuk sekarang, ia akan memeriksa kota sebentar untuk membersihkannya dari Iblis dan Exorcist liar yang muncul belakangan ini.

Itachi bangkit dari sofa dan bergegas mengganti bajunya dan memakai jeans beserta jaket hitamnya. Ia juga menguncir rambut panjangnya agar tidak merepotkan nanti.

" Apa yang akan kau lakukan?"

" Tentu saja berpatroli, sekaligus mencari angin segar."

Rias tersenyum pada Itachi.

" Aku ikut."

" Hm? Tidak perlu. Akan lebih cepat jika aku sendirian."

" Ayolah... Anggap saja ini sebagai kencan, Nii-san."

" Tidak."

" Kumohon? Lagipula aku bukan gadis lemah!"

Itachi menghela nafasnya. Baiklah, ia akan mengalah kali ini. Sebenarnya Itachi tidak ingin melibatkan Rias dalam hal hal yang berbahaya, tapi Rias benar. Ia adalah gadis kuat yang pintar dan berani, Itachi sadar akan hal itu.

" Baiklah. Cepat ganti bajumu, aku akan menunggu dibawah."

Tak lama berselang, Rias pun turun memakai sweater turtleneck pink dan jeans biru dengan lipstick merah tipis, membuat Itachi sedikit sweatdrop melihatnya. Apa ia lupa kalau mereka mungkin akan bertarung malam ini? Yah paling tidak, Rias tidak memakai gaun dan sepatu hak tinggi, pikir Itachi.

" Bagaimana menurutmu?"

" Lumayan. Ayo pergi."

" L-lumayan? Apa apaan itu ?!"

Itachi pun melangkah keluar, diikuti oleh Rias yang terlihat kesal dan menggembungkan pipinya.


Malam di Kota Kuoh terasa begitu indah. Baik itu bagi mereka yang sadar ataupun tidak sadar akan bahaya yang mengintai mereka. Masih banyak orang-orang yang terlihat menikmati malam ini dengan berjalan bersama orang terdekat.

Seorang pria berambut hitam panjang dengan kuncir kuda rendah terlihat membawa dua gelas kopi di tangannya. Ia memberikan secangkir kepada gadis berambut merah yang terlihat menunggunya dari seberang jalan.

Itachi menghela nafas berat. Seharusnya ia berpatroli dan memeriksa keadaan kota Kuoh, tetapi ia malah berakhir menemani Rias makan dan berjalan-jalan. Sepertinya gadis itu benar-benar menganggap mereka sedang berkencan.

Keduanya kembali berjalan menyusuri jalan-jalan kota Kuoh, baik itu yang ramai maupun sepi. Sejauh ini tak ada tanda-tanda iblis liar. Hal itu tidak berlangsung lama, karena mereka melihat Kiba dan Issei terlihat terengah-engah. Itachi dan Rias dengan sigap berlari menghampiri mereka berdua.

" Kau tidak akan paham, Issei."

Suara Kiba terdengar begitu dingin. Matanya tertutupi oleh poninya hingga tidak bisa dilihat oleh Issei.

" Kiba-kun! Issei-kun!" panggil Rias dengan nada khawatir. Kiba melirik kearah Rias, lalu beralih ke Itachi.

" Aku permisi, Buchou, Sensei." ujar Kiba dengan sopan. Ia kemudian pergi entah kemana tanpa menoleh sama sekali.

" Issei-kun, apa yang terjadi?"

" Kau ingat Exorcist gila waktu itu? Fred atau siapalah itu? Kiba dan aku bertarung dengannya tadi."

Jawaban Issei membuat Rias khawatir akan budaknya. Freed Sellzen masih hidup, dan ia tidak tahu akan hal itu. Fakta itu cukup membuat Rias kesal pada dirinya sendiri karena tidak mampu mendeteksi keberadaan para Exorcist liar yang bisa membahayakan keselamatan Peeragenya.

" Saat Kiba melihat pedang Excalibur yang dibawa Exorcist gila itu, dia langsung kehilangan kendali dan menyerang secara membabi buta."

Ternyata dugaan Itachi benar. Anak itu menyimpan dendam dan benci di hatinya. Keyakinan Itachi bertambah kuat saat ia melihat pandangan kosong Kiba yang ditujukan padanya tadi.

" Excalibur?! Pasti ada yang membantunya di belakang. Orang itu tidak mungkin mendapat pecahan Excalibur kalau ia bekerja sendiri." duga Rias. Dugaannya mengacu pada Azazel dan para Malaikat Jatuh. Ia melihat lagi kondisi Issei yang tidak terluka, dan itu membuatnya cukup bersyukur.

" Aku akan menemui Azazel nanti. Untuk sekarang, pulang dan istirahatlah, Issei." ucap Itachi, sekaan bisa membaca pikiran Rias.

Issei pun mengangguk dan berpamitan pulang, meninggalkan Rias dan Itachi yang juga pulang karena si Gadis terlihat sedikit lelah. Itachi pun mengirim Yatagarasu untuk berpesan pada Azazel tentang keinginan Itachi untuk bertemu dengannya.

Sekarang, ia tinggal menunggu respon dari sang Gubernur para Malaikat Jatuh.


Author's Note :

Ehehehehe :p lama ya? Awkwkwkwk. Ya maap, mood nulis menurun belakangan ini, ditambah dengan banyaknya urusan di dua minggu belakangan ini membuat saya sempat ga sempat nonton S2 dan update.

Main Pair sementara adalah ItaRias. Bisa aja berubah atau mungkin tetep begitu sampe tamat.

Anyway, Mind to Review?

Silvermane Kudan, Out.