Stray Kids' fanfiction

.

Tuan Hantu

Lee Minho (Lee Know) x Han Jisung (Han)

.


.

Hei, hei.

Halo?

Apa kau mendengarku?

Cek, cek.

Kenapa kau tidak menjawab?

Kau tidak mendengarku?

Tolong katakan sesuatu!

…?

Oke, aku anggap kau mendengarku.

Pertama-tama, selamat datang. Kau bingung mengapa aku menyambutmu? Pertanyaan bagus. Saat ini kau sedang berada di dalam pikiranku.

Tidak, tidak, ini bukan gombalan! Kau benar-benar sedang berada di dalam pikiranku.

Aku adalah pemilik suara ini, dan ini adalah suara di dalam kepalaku.

Ya, ya, kau boleh mengataiku gila karena aku berbicara sendiri. Tetapi, sungguh, sebenarnya aku memang sudah gila.

Aku gila karena bosan.

Kau lihat anak laki-laki yang ada di sudut kamar ini? Itu, dia yang sedang duduk di atas kursi pada meja belajarnya dan tengah menuliskan sesuatu yang entah apa. Dia telah mengabaikanku hampir satu bulan lamanya sejak kami bertemu, dan itu membuatku mati bosan!

Aku sudah berada di sini bersamanya selama itu, tetapi dia sama sekali enggan menoleh ke arahku, menyadari kehadiranku pun tidak! Dia pikir aku ini makhluk halus?!

Tunggu, apa? Kau juga mengira aku adalah makhluk halus? Kau sudah gila! Aku masih hidup!

Serius, aku masih hidup.

Aku belum mati.

Tubuhku? Kau bertanya mengapa tubuhku transparan?

Oh— itu karena pencahayaan yang kurang. Ya, ya, pasti karena itu.

Hah. Berhenti menyuruhku menerima kenyataan. Aku masih hidup.

Setidaknya… aku belum mati.

Aku masih hidup, diamlah.

Diamlah, kau berisik!

"Diamlah!"

Astaga! Siapa yang berteriak itu?!

"… Hiks. Diamlah…"

Oh, si bocah tadi.

Aku sudah diam, mengapa dia jadi menangis?

Tunggu, bukankah seharusnya dia tak mendengar isi kepalaku? Mengapa pula menyuruhku diam?

Hei, kau tahu dia kenapa?

"Diamlah… Jangan mengangguku lagi, hiks."

Oke, oke, aku benar-benar akan diam sekarang.

Aku bergeming sembari memperhatikan bocah yang kini tengah sesegukan di atas kursi pada meja belajarnya. Aku hanya bisa menghela napas sambil menunggu dia selesai menangis, sesekali menguap bosan mendengar isak pilunya. Masalahnya, hampir setiap malam dalam satu bulan terakhir aku mendengar tangisannya. Membosankan sekali hidupku karena harus dihadapkan dengan bocah cengeng. Tetapi, meski dia selalu menangis, dia satu-satunya orang yang aku tahu di kota ini. Di sini, aku tidak punya siapa-siapa untuk berkunjung atau menginap. Semua keluarga dan teman-temanku ada di Busan.

Omong-omong, dari tempatku sekarang, aku bisa melihat seluruh isi kamar tanpa melewatkan satu barang pun. Lemari ini—di mana aku berada saat ini—sudah menjadi kawasan mutlakku. Bukan, bukan di dalamnya, tetapi di atasnya. Lihat ke atas sedikit!

Lihat, aku sedang duduk di atas lemari pakaian ini dengan kedua kaki menjuntai ke bawah. Aku mengayun-ayunkan kedua kakiku pelan hingga kaki transparanku menembus pintu lemarinya.

Hebat? Tidak juga. Aku jadi tidak bisa menyentuh apapun. Aku hanya melayang-layang ke sana kemari tanpa tujuan pasti. Aku tidak seperti manusia lagi, dan aku tidak pernah bisa menerima nasib ini.

Seperti yang kau lihat. Aku ini hanyalah seonggok… arwah. Arwah yang tak bisa melakukan apa-apa selain melayang dan mengoceh tanpa ada yang bisa dengar.

Para manusia itu tidak bisa melihat rupaku, tidak mampu mendengar suaraku, tidak menyadari kehadiranku. Aku benar-benar sendirian sekarang, tidak memiliki siapa-siapa yang bisa mendengarkan keluh kesah dan masalah hidupku. Apa aku akan kembali ke tubuhku dan melanjutkan hidup? Atau justru berakhir menyedihkan dengan terus terombang-ambing di antara hidup dan mati, dunia dan akhirat? Apa aku sungguhan akan berakhir seperti ini?

"Ini menyakitkan sekali… Aku ingin menyerah, hiks."

Ah, sial. Aku terbawa suasana melankolis ini.

"Hei, bocah, berhenti menangis dan meratap. Kau membuatku menangis juga, tahu!" bentakku. Aku tahu dia tak bisa mendengarku, aku hanya ingin menyuarakan isi kepala.

Aku menyeka wajah dengan sebelah tangan, berniat untuk mengusap airmata yang jatuh mengalir. Tetapi, yang kusentuh justru hanya udara kosong. Ah, iya, aku lupa, aku ini arwah. Bahkan airmataku tak jatuh meski aku merasa sesak. Ternyata, itu airmata transparan.

Ha… setidaknya aku masih punya perasaan untuk merasa sedih dan kesepian.

"Kau tahu… hidup ini berat." Aku mulai berbicara sendiri, lagi. Dengan gerak dramatis aku merebahkan tubuh tak beraga ini di atas lemari yang permukaannya berdebu. Tidak apa-apa, toh debu itu tidak akan masuk ke dalam hidungku atau membuatku bersin.

"Kenapa hidup ini berat…" Itu suara si bocah, suaranya parau dan bergetar. Sepertinya dia akan menangis lagi.

Tapi, kenapa dia membalas ucapanku? Ini hanya kebetulan, 'kan?

Ya sudah, jawab saja, lah.

"Karena begitulah hidup," jawabku diakhiri hela napas samar. Aku sedang berbaring—tepatnya, melayang dengan posisi terlentang dan melipat kedua tangan di bawah kepala—menghadap langit-langit kamar. Pandanganku menerawang, sementara benak sibuk merenungi nasib yang tak masuk akal.

Dalam satu bulan ini aku terdampar di kota Seoul yang jauh dari kota asalku. Aku masih belum menemukan jawaban mengapa jiwaku terpisah dengan raga. Aku yakin ragaku saat ini ada di Busan, tetapi mengapa jiwaku justru berkelana sampai ke Seoul?

Aku belum mati, 'kan?

Kembali mengorek ingatan terakhir yang terekam ketika jiwaku masih berada di dalam raga asliku tidaklah sulit. Rekaman-rekaman itu masih tersimpan rapi di salah satu laci penyimpanan ingatan di dalam kepalaku. Aku tinggal menariknya keluar dan terputarlah kejadian kurang lebih dua bulan lalu.

Itu adalah kejadian yang tak menyenangkan. Sangat tidak menyenangkan. Kira-kira ada belasan orang yang mengepungku, dan mereka semua adalah siswa yang bersekolah di tempat yang sama denganku. Tidak, aku tidak berteman dengan mereka. Bagaimana mungkin aku berteman dengan bandit-bandit sekolah seperti orang-orang ini?

Satu lawan belasan orang—aku bahkan tidak ingat berapa tepatnya jumlah mereka—terdengar mustahil bila aku menang, tetapi aku tetap melawan. Kemungkinan untuk keluar dari tempat sepi itu secara hidup-hidup hampir nol persen. Sumpah, aku kira mereka akan membunuhku.

Tapi, sepertinya mereka memang berniat membunuhku, sih.

Saat itu, aku sudah babak belur karena hantaman tinju dan kaki mereka, aku bahkan hampir hilang kesadaran. Tetapi, tinjuan dan tendangan mereka di perut dan punggung berhenti setelah teriakan tak jauh dari kami terdengar.

Tuhan, ketika itu aku langsung berjanji untuk rajin ke gereja apabila teriakan itu berasal dari penyelamatku.

"H–Halo, polisi! A–Ada pengeroyokan di sini—tolong datang s-secepatnya!"

Suara bocah si penyelamatku bergetar hebat penuh ketakutan, aku bisa mendengarnya. Aku mengangkat kepala untuk melihat siapa yang menyelamatkanku. Beruntungnya aku berhasil melihat wajahnya sebelum dia berbalik dan kabur dari kejaran bandit-bandit sekolah ini.

Wajah bulat dengan pipi gembil bocah itu terekam dalam ingatan, sepertinya dia lebih muda beberapa tahun dariku. Aku tidak sempat lagi memproses apa yang terjadi sebab aku keburu hilang sadar. Hal terakhir yang aku dengar adalah seruan panik dari bandit-bandit keparat yang bergegas kabur meninggalkan aku sendiri.

Benar-benar berengsek.

Aku tidak tahu apa yang terjadi setelah itu. Tetapi, yang aku lihat pertama kali saat aku kembali membuka mata setelah insiden pengeroyokan adalah sosok si bocah berbadan mungil dengan pipi gembil seperti tupai, yang kemudian aku ketahui bocah itu bernama Han Jisung.

Dia yang menyelamatkan aku, dan dia orang pertama yang aku lihat saat aku tersadar—meski dia tak bisa balik melihatku.

Iya, Jisung—dan manusia lainnya—tidak bisa melihatku. Butuh waktu berhari-hari bagiku untuk menerima kenyataan bahwa aku terpisah dari raga. Siapa pula yang akan menyangka bahwa hanya jiwaku yang berhasil siuman? Dan siapa juga yang akan menyangka bahwa aku terlempar jauh dari Busan?

Aku tidak mengerti. Selama satu bulan terakhir aku memikirkan jawaban itu di dalam ruang kamar ini, tetapi tak satu jawaban pun terpikirkan olehku.

Apa ini adalah satu dari sekian kuasa Tuhan?

Ya, sudah pasti.

Aku hanya harus menjalani dan menunggu… Menunggu, huh?

Aku menolehkan kepala ke arah meja belajar di bawah sana saat pendengar menangkap suara dengkuran halus. Si bocah bernama Han Jisung itu lagi-lagi tertidur di atas meja belajar setelah menangis sekian lamanya. Buku catatan yang selalu iatulisi setiap malam ada di bawah kepalanya.

Aku mengubah posisi menjadi duduk. Lagi-lagi aku menjuntaikan kaki ke bawah. Perhatianku tertuju pada Jisung sepenuhnya.

Kalau kuingat-ingat lagi, hampir setiap malam dia menangis dan aku sama sekali tidak tahu apa alasannya. Dia juga selalu menulis di buku catatan itu, dan aku yakin yang iatulis bukanlah materi pelajaran di sekolah.

Mungkin diary?

Atau curahan hati?

Entahlah… Tapi, aku mulai penasaran.

Tidak, bukan hanya penasaran dengan apa yang ditulis olehnya, aku juga penasaran dengan apa yang menimpanya hingga dia harus menangis dan meratap setiap malam. Seberapa keras hidup yang kaujalani, Han Jisung?

Aku melayang turun ke bawah dan mendekati bocah itu. Kupandangi wajah tertidurnya dari samping. Aku mengulurkan tangan untuk melepaskan kacamata yang masih terpasang di wajahnya, namun gagal sebab aku tak mampu menyentuh benda.

Aku menghela napas pelan. Kenapa bocah ini tahan tidur dengan posisi seperti ini hampir setiap malam? Seharusnya kau pindah ke kasur dan tidur dengan nyaman di sana, Han Jisung.

Tapi, kalau kau tak mau, biar aku saja lah yang tidur di situ.

Aku melayang ke ranjangnya dan mencoba merebahkan diri di sana. Sedikit menembus kasur empuknya, sih. Tapi tak apa, aku bisa berpura-pura kalau aku tidur dengan nyaman di atas kasur walau tak merasakan apapun.

Hah… aku rindu berbaring di atas tempat tidur yang nyaman. Aku rindu menapak lantai. Aku rindu menyentuh benda.

Aku rindu kehidupanku sebagai manusia.

•••