CROWMASTER : BIRD AMONG DRAGON


Disclaimer :

Naruto Punyanya Om Masashi Kishimoto

High School DxD Punyanya Om Ichiei Isshibumi


Note :

Aaaaa - Kata hati Violet.

"Aaaaa" - Makna bahasa Isyarat Violet.


Itachi berjalan menyusuri kota Paris di pagi hari dengan dua cangkir Cappucino dan beberapa potong roti yang dibungkus plastik di tangannya. Dia berkata pada dosennya kalau dia akan kembali ke Jepang pagi ini. Yah, sebenarnya itu hanya alasan yang Itachi buat agar ia bisa lebih bebas dan tidak merepotkan Beufort. Dosennya itu bersikeras untuk mengantar Itachi ke bandara, tapi sang istri mencegahnya karena ia harus mengantar anaknya ke sekolah. Ia akhirnya mengalah dan mendoakan Itachi untuk selamat di perjalanan.

Dan disinilah Itachi sekarang. Berjalan di antara kerumunan orang-orang asing untuk bertemu dengan temannya. Dulu, Itachi pernah merasa nyaman jika berada di kerumunan seperti ini. Tapi setelah 2 tahun di sini, Itachi mulai terbiasa dengan ramainya jalanan kota Paris.

Pandangannya menangkap sosok seorang gadis pirang yang berdiri di pinggir trotoar dengan memakai baju terusan biru putih. Kiosnya terlihat kosong. Tampaknya ia tidak berjualan hari ini. Itachi berjalan perlahan menghampiri Violet yang belum menyadari kedatangan Itachi.

Violet sedikit melompat saat sebuah tangan menyentuh bahunya.

" Selamat pagi."

" Selamat pagi, Itachi."

Ia membalas sapa dari Itachi dengan senyuman. Itachi memberikan secangkir Cappucino pada Violet dan meminum yang satu lagi. Si gadis menerima minuman yang sudah menjadi favoritnya belakangan ini.

" Kau tidak berjualan." tanya Itachi. Violet menggeleng dan kembali tersenyum.

" Tolong temani aku beristirahat hari ini."

Dengan senyum tipis, Itachi mengangguk. Dan seketika, pergelangan tangannya di tarik perlahan oleh si gadis. Dengan pasrah Itachi mengikuti kemana Violet akan pergi. Harusnya ia kembali ke Kuoh, tapi entah kenapa hatinya tidak tenang jika meninggalkan Violet tanpa pamit. Jadi, hari ini ia akan menemani Violet bersenang-senang hingga gadis itu puas.

Sepintas ia kembali melihat pria semalam di atap salah satu bangunan dari sudut matanya. Saat ia menoleh, si pria sudah menghilang. Rasa penasaran dan kesal mulai timbul di hati Itachi.

Siapa pria itu? Apa tujuannya mengikuti Itachi dari kemarin? Berbagai pertanyaan muncul di otak Itachi, tak sadar akan tatapan bingung dari gadis pirang yang berjalan disampingnya. Sebuah sentuhan kecil dari telunjuk Violet memecah semua pemikiran Itachi.

" Hm?"

Itachi menautkan sebelah alisnya, membalas pandangan bingung yang diberikan Violet.

" Ada sesuatu yang kau pikirkan?"

Itachi menggeleng dan tersenyum. Ia lantas membawa Violet untuk duduk di taman terdekat. Kondisinya tidak seramai jalanan. Hanya ada beberapa pasangan yang berjalan-jalan dan anak-anak yang bermain dengan senyum di wajah mereka.

Tangannya mengambil sepotong roti dari kantong yang ia bawa dan menyerahkan sisanya pada Violet. Ia memakan sarapannya ini dengan tenang. Pagi ini, septong roti dan secangkir kopi terasa lebih nikmat dari biasanya. Mungkin karena ia ada di Paris? atau karena ada Violet disampingnya? atau mungkin ini hanya perasannya saja? Entahlah, Itachi tidak ingin pusing karena hal sepele.

Itachi melihat ekspresi Violet yang menikmati sepotong roti coklat di hadapannya, sesuatu berhasil menarik perhatiannya. Violet yang merasa diperhatikan pun menoleh ke samping.

Untuk sesaat, keduanya terperangkap dalam keindahan mata satu sama lain. Waktu terasa terhenti dan dunia menjadi sepi ketika jernihnya biru safir bertemu dengan gelapnya hitam onyx, layaknya langit siang dan malam. Sebuah bola mengenai kepala Itachi, membuat mereka berdua tersadar dan memalingkan wajah yang memerah.

Itachi mengambil bola tersebut dan melemparkannya kembali kearah anak-anak yang melambaikan tangan mereka. Atmosfir disekitar Itachi dan Violet berubah menjadi canggung karena hal tadi.

Setelah keduanya menghabiskan roti, Itachi mengajak Violet untuk pergi berkeliling Paris. Matanya melirik baju yang dipakai Violet, yang terlihat sedikit lusuh. Ia akhirnya mengajak gadis itu ke toko baju terdekat dan membelikannya dua stel pakaian.

Yang pertama adalah gaun terusan selutut berwarna biru dengan corak garis emas dan sepatu biru senada. Sedangkan yang satunya adalah mantel hitam dengan syal merah, lengkap dengan boots hitam dan sarung tangan merah.

Mengapa ia membelikan Violet baju? tentu saja sebagai kenang-kenangan. Lagipula, sebentar lagi musim dingin akan datang, jadi mantel dan syal akan berguna. Kenapa ia sampai berbuat sejauh ini? Entahlah, Itachi hanya mengikuti hatinya hari ini.

Meskipun si gadis menolak pemberian Itachi pada awalnya, dengan sedikit pemaksaan akhirnya ia menerimanya. Destinasi selanjutnya tentu saja menara Eiffel. Tidak lengkap rasanya kalau pergi ke Paris tanpa mengunjungi situs kebanggan Prancis itu.

Itachi merekam semua kegiatan mereka disana. Mulai dari Violet yang berlarian layaknya anak kecil sampai Itachi yang memakan permen kapas sampai belepotan, semuanya tersimpan di dalam handphone Itachi. Tapi perasaan aneh kembali muncul di hatinya.

Ia melihatnya lagi, seorang pria asing menatapnya dari kerumunan. Kali ini Itachi tidak akan melepaskannya. Ia menyuruh Violet untuk duduk di salah satu bangku yang ada dan pergi dengan alasan buang air. Itachi menghampiri pria asing tadi dengan tatapan tajam. Si pria yang sadar pun mencoba pergi dan menghindar dari Itachi.

Tidak perlu waktu lama untuk Itachi menyusul pria tadi. Ia berhasil memojokkan pria tadi di salah satu kaki menara Eiffel.

" Baiklah, aku sudah muak dibuntuti. Katakan siapa dirimu!"

" Apa maksudmu?"

Itachi mengaktifkan Sharingan miliknya untuk mengintimidasi pria berambut coklat di hadapannya.

" Jangan membuang waktuku..."

" Aku tidak tahu apa yang kau katakan!"

Itachi kehilangan kesabarannya. Ia memutuskan untuk mencari tahu sendiri tujuan pria ini dengan Sharingan. Seketika pupil matanya melebar saat tahu tujuan si pria tadi. Ia melepaskan cengkeramannya dan berlari dengan tergesa-gesa kearah Violet.

Sial! Sial! Sial! gerutunya dalam hati. Ia harus bergegas kembali. Tak ia hiraukan umpatan dari orang-orang yang ditabraknya. Pikirannya hanya terfokus pada si gadis pirang saat ini. Hatinya begitu lega saat ia melihat Violet masih duduk menunggunya.

Itachi pun menarik tangan Violet dan membawanya pergi dari sini sekarang. Ia harus membawa Violet jauh dari beberapa pria yang mengikutinya dari belakang. Dengan langkah yang dipercepat, Itachi menuntun gadis itu menuju ke tempat yang sepi, tanpa memperdulikan tatapan bingung yang ia terima.


Sudah 15 menit mereka berjalan, tapi para pria yang membuntuti mereka belum juga menyerah. Itachi memasuki sebuah situs cagar alam dan membawa Violet masuk ke dalam hutan yang ada, berharap untuk meloloskan diri.

Sebenarnya ia bisa menghadapi mereka semua, tapi ia tidak bisa membawa Violet ke dalam pertarungan. Terlalu berbahaya. Langkahnya terhenti ketika seorang pria pirang berjubah hitam emas turun dari balik pepohonan dengan sayap hitam yang mengembang.

Pria ini adalah Barnael. Menurut info yang Itachi dapat sebelumnya, Barnael adalah salah satu orang kepercayaan Kokabiel, yang berarti ia cukup kuat. Di belakang Itachi dan Violet pun sudah muncul para penguntit yang mengikuti mereka sejak tadi.

Mereka terkepung. Itachi menggenggam erat tangan Violet yang mulai ketakutan.

" Ahahaha! Itachi Uchiha, orang kepercayaan, anak angkat, dan menantu dari Zeoticus Gremory..." ujar Barnael dengan tertawa.

" Apa yang kalian inginkan...?"

" Hm? Tentu saja menghabisi mu! Kau adalah penghambat dalam rencana besar Kokabiel-sama!"

Kokabiel... Itachi bersumpah akan menghajarnya jika mereka berhadapan nanti. Genggamannya semakin mengerat dan ia mulai menarik Violet untuk lebih dekat kepadanya.

" Sekarang, jangan bergerak dan matilah!"

Barnael melemparkan sebuah tombak cahaya berukuran sedang kearah Itachi. Dengan sigap, Itachi memeluk Violet dan menghindar kesamping. Barnael terus menembakkan tombak cahaya, memaksa Itachi untuk melebarkan sayapnya dan terbang dari sana.

Barnael dan anak buahnya pun terbang menyusul Itachi sembari terus melemparkan tombak Cahaya.

Itachi menurunkan Violet di bawah batang besar, menyuruhnya untuk tetap tenang dan menunggunya, lalu terbang ke arah para Malaikat Jatuh yang mengejarnya.

Itachi menghantam salah satu Malaikat Jatuh dengan sebuah pukulan hingga terpental jauh. Ia lalu menembakkan beberapa pisau angin berukuran besar ke arah Malaikat Jatuh yang lain.

" Wind Release : Vaccum Cutter!"Beberapa musuhnya tumbang, sedangkan sisanya terus terbang ke depan, menuju tempat Violet. Itachi dengan sigap langsung menyusul dan menghabisi semua Malaikat Jatuh yang tersisa dengan jutsunya

" Kita harus pergi sekarang! Akan ku jelaskan semua nanti."

Belum sempat ia pergi, Itachi kembali dihadang oleh Barnael. Sharingan Itachi menyala, menatap tajam lawannya saat ini.

" Mengesankan sekali! Mata itu... Tunjukkan padaku kekuatan mata itu!"

Dengan cepat Barnael melesat kearah Itachi.

" Violet, menjauh dari sini!"

Violet menuruti perintah Itachi dan pergi menjauh dari pertarungan. Itachi berhasil mengelak dari pukulan Barnael dengan memiringkan kepalanya. Ia lantas membalas dengan sebuah tendangan lutut kearah perut Barnael. Tak berhenti disitu, Itachi melakukan sweep kearah kaki Barnael hingga terjatuh.

Barnael segera berguling ke samping untuk menghindari tendangan tumit dari Itachi. Ia lalu bangun dan menembakkan beberapa Light Spear ke arah Itachi, yang dihindari dengan mudah oleh sang Uchiha berkat Sharingan, meski beberapa berhasil merobek kemeja dan jas Itachi.

Kakinya terlihat dialiri oleh listrik. Gerakan Itachi menjadi lebih cepat dari sebelumnya. Ia melesat dan memberikan tendangan kearah leher Barnael, tapi bisa ditangkis oleh sang Malaikat Jatuh. Itachi pun melompat mundur dan bersiap menggunakan sihir miliknya.

" Earth Release : Bear Trap!"

Tanah di sekitar kaki Barnael tiba-tiba mengunci kakinya hingga selutut. Dengan sekuat tenaga ia memberontak dan berhasil melepaskan diri dari sihir Itachi. Tapi setelah ia lepas, matanya harus terbelalak saat melihat Itachi kembali berlari secepat kilat kearahnya dengan tangan yang dialiri listrik.

" Chidori!"

Itachi menusuk jantung Barnael dengan Chidori. Darah mulai keluar dari mulut si Malaikat Jatuh, tapi entah kenapa ia malah tersenyum. Tidak, Barnael bukan tersenyum, tapi menyeringai. Tangan kanannya menggenggam erat tangan Itachi yang masih ada di dadanya. Dengan tenaga terakhir yang ia miliki, Barnael melemparkan sebuah tombak cahaya kearah pepohonan yang ada di belakang Itachi.

Insting Itachi berteriak bahaya. Bukan, bukan bahaya bagi dirinya, tetapi Violet. Itachi menendang tubuh Barnael, mencabut paksa tangannya dari dada sang Malaikat Jatuh dan melesat berlari kearah Violet.


Violet PoV

Baru pertama kali ia melihat peristiwa didepannya ini. Pria itu baru saja mengeluarkan sayap burung berwarna hitam! Dan ia dibuat lebih terkejut saat Itachi juga mengeluarkan sayap. Tiga pasang sayang kelelawar hitam muncul dari punggungnya, dan Itachi terbang membawa Violet kabur dengan menggendongnya.

Apa... Apa yang terjadi barusan?

Sayap? Makhluk apa mereka ini?

" Tunggulah sebentar disini."

Violet menatap punggung Itachi yang terbang kembali. Tak lama kemudian, ia mendengar suara dengungan disampingnya. Tanah disampingmya tiba-tiba meledak, seperti habis dihantam sesuatu. Sebuah tebasan pisau terlihat membekas di permukaan tanah.

Apa itu?!

Violet ketakutan. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya saat ini. Kabur? Tidak, hal itu hanya akan membuat Itachi khawatir. Ketakutannya sedikit mereda saat Itachi datang dan mengajaknya pergi darisana.

Tapi, pria pirang yang tadi muncul kini ada di hadapannya, menghadang mereka berdua untuk kabur.

" Violet, menjauh dari sini!"

Itachi berteriak, seiring dengan pria bersayap hitam yang bergerak begitu cepat kearah mereka. Violet menuruti Itachi dan berlari menjauh dari mereka berdua, tapi ia merasa gelisah meninggalkan Itachi sendirian bersama pria berbahaya itu.

Violet mengintip dari balik pepohonan rimbun. Itachi terlihat berhasil memojokkan lawannya. Tangannya seketika dialiri oleh listrik yang menyambar-nyambar liar.

Listrik? Siapa sebenarnya kau, Itachi?

Apa yang kau sembunyikan selama ini...?

Violet menutup mulut dan matanya saat Itachi menghujamkan tangannya ke dada pria bersayap hitam tadi. Ia berdiri terpaku, tak bisa menggerakkan tubuhnya sama sekali.

I-Itachi membunuhnya?

Violet menggelangkan kepalanya dengan cepat. Ia mengusir semua pemikiran negatif yang ada di otaknya.

Tidak! Dia bukanlah pembunuh!

Violet memberanikan diri membuka matanya. Tapi apa yang ia lihat adalah sebuah cahaya melesat begitu cepat kearahnya. Tak sempat mengelak, Violet harus merasakan sakit yang teramat sangat di dadanya.

D-darah...?

Baju yang dipakainya mulai berubah warna menjadi merah karena darah yang merembes. Kakinya tak kuat lagi, jadi ia menjatuhkan dirinya ke tanah. Tapi, Itachi menangkapnya duluan sebelum ia terjatuh.

Violet bisa melihat dengan jelas airmata yang mengalir di wajah Itachi. Telinganya berdenging, menutupi semua suara yang ada disekitarnya. Dengan perlahan ia mengusap airmata Itachi yang terus mengalir.

Jangan menangis, Itachi...

Kau tidak perlu menangisiku...

Violet tidak menyukai wajah ini. Ia tidak suka wajah Itachi yang menangis. Dimana senyum lembut yang selalu menghiasi wajahnya? Violet melihat sebuah kotak muncul dari balik cahaya merah disampingnya.

Sebuah bidak catur putih bergaris merah terlihat melayang di atasnya. Bidak catur itu lalu masuk ke dalam tubuh Violet, tapi keluar lagi tidak lama kemudian. Itachi terlihat terus mencoba berbagai jenis bidak, tapi semuanya keluar kembali dari tubuh Violet.

Airmata Itachi terus mengalir dan ia terlihat berbicara pada Violet, tapi sang gadis tidak bisa mendengarnya. Wajah Itachi terlihat... frustasi?

Hapus air matamu, Itachi...

Bukankah pria tidak menangis?

Pandangannya mulai mengabur karena darahnya mulai habis. Tanpa sadar, Violet mulai menangis. Seperti inikah rasanya mati? Ia tidak sedih, tapi... bahagia. Bahagia karena ada yang menangisinya saat ia mati.

Ayah, aku sudah menemukan pangeranku sendiri...

Dia tidak berambut pirang, melainkan hitam. Begitupun matanya yang segelap malam, pakaian biasa seperti kita.

Tapi dia adalah Pangeranku, semangatku, dan Matahariku.

Kuharap kau bisa bertemu dengannya, kalian pasti akan akur.

Ia melihat Itachi menelpon seseorang. Ambulans kah? Ah, mungkin sudah terlambat. Lagipula, tidak ada lagi yang ia butuhkan di dunia ini. Impiannya untuk bersama Itachi sudah tercapai walau hanya setengah hari.

Aku bahagia, Itachi.

Melihatmu menangis untukku saja membuatku bahagia.

Violet merasa tak kuat lagi. Kegelapan mulai memenuhi pandangannya. Nafasnya terasa begitu berat dan tubuhnya terasa dingin meski sudah dipeluk Itachi.

Aku ingin menghilangkan semua bebanmu di masa depan...

Aku ingin menjadi sumber kebahagiaanmu suatu saat nanti...

Violet menatap mata Itachi yang merah dengan pupil yang memutar. Bayangan kehidupannya bersama Itachi muncul secara tiba-tiba. Sekilas, tapi Violet mengingatnya dengan jelas. Ia tahu kalau itu hanya khayalannya, tapi entah kenapa semua begitu terasa... nyata.

Ah... Andai semua itu benar-benar terjadi.

Itachi, aku penasaran seperti apa rupa wanita beruntung yang akan merebut hatimu nanti...

Kurasa, inilah saatnya...

Selamat tinggal, Itachi. Kuharap kita bertemu di kehidupan selanjutnya, saat kondisinya lebih baik.

Saat itu terjadi, jangan lupakan aku, karena aku berjanji tidak akan melupakanmu...

Sekali lagi, selamat tinggal, Pangeranku...


Tangan Violet yang digenggam Itachi kini melemas. Pandangan matanya terlihat kosong, seiring dengan tubuhnya yang menjadi dingin.

Itachi memukul tanah yang ada disampingnya.

" Kenapa... Kenapa benda brengsek ini tidak mau berfungsi?!" ia melemparkan kotak berisi Evil Pieces miliknya ke sebuah pohon hingga jatuh berserakan.

Ia sudah mencobanya. Ia sudah mencoba semua bidak Evil Pieces yang ia miliki, tapi tidak ada satupun yang berhasil.

Itachi sudah menelpon Asia, Rias, Akeno, dan yang lainnya, berharap kalau Twilight Healing bisa menyembuhkan Violet. Tapi tidak ada yang menjawabnya. Itachi kembali mengutuk dirinya yang tidak berguna.

Dulu, ia membiarkan Tenma mati karena kelemahannya. Dan sekarang, saat ia sudah punya kekuatan, dirinya masih tidak bisa melindungi orang yang berharga baginya. Itachi tidak pernah mempelajari sihir penyembuhan, karena dia tidak tahu harus belajar pada siapa. Bishop milik Sirzech dan Zeoticus tidak ada disana waktu ia dilatih selama beberapa tahun.

Tapi paling tidak, ia sudah memberikan apa yang Violet inginkan selama ini. Dengan keterbatasan Sharingan, Itachi memberikannya ingatan palsu tentang hidup bersama bersamanya, persis seperti yang ia lakukan pada Izumi. Kalau saja ia punya Tsukuyomi, mungkin ia bisa membuat ilusi tersebut jauh lebih nyata.

Handphonenya berdering, memecah kesunyian yang ada. Nama Rias terpampang jelas di layar HP miliknya. Itachi mengangkatnya dengan segera. Ia ingat kalau masih ada masalah Exorcist dan Kokabiel di Kuoh.

" Hal-"

" Nii-san! Dimana kau sekarang?! Kami perlu bantuanmu!"

Apa yang terjadi?! pikir Itachi. Suara Rias tercampur dengan suara dentuman dan berisik dari sekitarnya.

" Apa yang terjadi, Rias?!"

" Kokabiel menyerang Kuoh! Kumohon, kembalilah, Nii-san!"

Kokabiel...

Pria ini adalah penyebab semua masalah yang terjadi saat ini. Hanya karena keinginannya untuk perang, ia tega melakukan apapun.

" Aku akan segera kesana!"

Itachi menutup teleponnya. Secara perlahan, diangkatnya tubuh Violet dan mereka berteleportasi kembali ke Kuoh dengan segera, mengabaikan rasa terbakar pada kedua matanya.


" Ahahahahah! Menyerahlah, dan matilah sekarang, Gremory, Sitri!"

Kokabiel tertawa dari langit, melihat Kelompok Rias dan Sona terlihat kewalahan dan mulai tumbang. Kondisinya sendiri sudah terlihat babak belur akibat pertempuran yang terjadi.

Issei terkapar kehabisan tenaga karena Balance Breaker miliknya sudah ia gunakan melawan Kokabiel. Tapi sialnya, ia malah dikeroyok oleh Kokabiel dan anak buahnya hingga ia kewalahan.

Hanya tersisa Kiba, Rias, dan Akeno dari kelompok Rias, sedangkan dari kelompok Sona hanya tinggal dirinya dan Tsubaki.

Sementara Kokabiel masih memiliki beberapa bawahannya yang masih siap tempur. Jika ia berhasil membunuh pewaris Gremory dan Sitri, perang pasti akan terjadi seperti dulu! Keinginannya akan terwujud!

Kokabiel tersenyum remeh saat ia melihat Rias menelpon seseorang. Ia tidak tahu siapa yang Rias telpon, tapi siapapun yang datang akan ia hadapi. Bahkan jika itu Sang Lucifer sendiri, Kokabiel akan tetap menghadapinya. Dengan kekuatan pedang suci ditangannya, tidak ada Iblis bisa melawannya saat ini!

" Kalian masih ingin bertarung?"

" Tentu saja... Lagipula, kami masih punya dia." ucap Rias dengan terengah-engah. Bajunya robek di sana sini dan darah mengotori kulitnya.

" Dia? Maksudmu Itachi Uchiha? Ahahahaha! Kau yakin ia bisa melawanku? Dengan pedang suci ini, keempat Maou pun akan ku buat bertekuk lutut!" katanya dengan sombong.

Kokabiel lalu membuat tombak cahaya raksasa dan bersiap melemparkannya kearah Rias dan Sona yang mulai kehabisan tenaga. Tombak tersebut pun melesat dengan cepat, mengarah menuju Rias.

" Buchou!"

Kiba yang melihatnya segera bergerak dengan sekuat tenaga untuk menghalau tombak raksasa tersebut. Sebuah lingkaran teleportasi muncul dan dari sana muncul sesosok tangan tengkorak yang dikelilingi api oranye. Tangan tersebut menahan tombak milik Kokabiel hingga tulangnya terlihat mulai retak.

Itachi berdiri di dalam tulang rusuk yang tersambung dengan tangan tadi. Baju kemejanya terlihat compang camping. Kepalanya tertunduk, dan tangannya bergetar. Rias dan yang lainnya bisa melihat darah menetes dari kepala Itachi, dan saat ia menatap Kokabiel dengan dingin, Rias baru sadar kalau darah tadi mengalir dari mata Itachi.

Ada yang aneh dengan mata itu. Pupil mata suaminya berubah menjadi lebih aneh, seperti kincir dengan tiga bilah melengkung berwarna hitam. Semuanya merasakan aura mengerikan dari Itachi, termasuk Kokabiel.

Sejenak Itachi melihat sekitarnya. Banyak malaikat jatuh yang mati atau pun terluka parah. Tapi di pihak Rias dan Sona pun juga banyak yang kritis. Mayoritas Peerage mereka berdua sudah terkapak tak berdaya.

Ingatan tentang Tenma dan Violet kembali terputar di otak Itachi. Tangannya mengepal erat hingga buku jarinya memutih. Ia terlambat lagi...

Marah, benci, dan dendam. Saat ini, untuk pertama kalinya semenjak malam pembantaian Uchiha, Itachi membiarkan ketiga emosi tadi menguasai hatinya. Tidak akan ia biarkan hal yang sama terjadi pada mereka semua!

" Amankan teman-teman kalian..." ujar Itachi pada Rias dan Sona.

Tanpa basa-basi, Itachi langsung melesat kearah Kokabiel dan menghantam wajahnya dengan sebuah pukulan kearah pipi. Kokabiel yang tak siap pun terpental beberapa meter hingga menabrak dinding Kuoh Academy.

Ia bangkit dan berhasil mengelak tendangan Itachi, lalu membalasnya dengan sebuah tinju ke perut samping Itachi. Tak berhenti sampai disana, Kokabiel menebaskan pedangnya kearah leher Itachi, tapi ia hanya berhasil menggores pipi Itachi karena sang Uchiha sudah melompat mundur duluan.

Itachi mengatur nafasnya. Bekas luka tebasan di pipinya terasa terbakar hebat. Seolah-olah lukanya sedang dilahap oleh api. Ia kembali melesat sembari mengeluarkan sihir miliknya.

" Fire Release : Flame Dragon Bomb!"

Bola-bola api berbentuk kepala naga pun terbang ke arah Kokabiel. Ia lalu terbang keatas menghindari sihir milik Itachi, tapi si Uchiha sudah ada di depannya dengan tangan yang dialiri listrik.

" Chidori!"

Kokabiel menangkis dengan pedangnya, membuat Itachi terjatuh karena rasa sakit yang ditimbulkan.

" Ngghh..." sekarang tangannya yang terasa terbakar. Itachi tahu, ia harus menyingkirkan pedang itu terlebih dahulu. Itachi bersiul, memanggil Yatagarasu yang ia tinggalkan untuk mengawasi jasad Violet di rumahnya.

Seketika, burung gagak itu datang dengan membawa Yamato di kakinya. Itachi mengangkatnya tangannya dan mengambil pedang tersebut dari kaki Yatagaru yang lewat di atas kepalanya.

" Kau ingin mengadu pedang itu dengan pedang suci ini?! Silahkan saja! Puaskan hatimu dengan mencobanya!" tantang Kokabiel.

Itachi tidak menjawab. Ia berdiri dan memasang kuda-kuda. Ia memutar badannya kesamping dan melebarkan kakinya. Itachi menggenggam erat gagang Yamato, bersiap untuk mencabutnya kapan saja.

" Amaterasu!"

Tangan Kokabiel yang memegang pedang tiba-tiba terbakar oleh api hitam. Ia mengibaskan tangannya agar api itu padam. Itachi memanfaatkan momen saat Kokabiel teralihkan perhatiannya. Ia mencabut Yamato dan secepat kilat, Itachi sudah berada di belakang Kokabiel.

" Aaargggghhhh!"

Kokabiel menjerit saat tangannya terputus. Pedang suci tersebut jatuh bersama potongan tangan miliknya yang terbakar oleh Amaterasu. Itachi memegangi matanya yang mulai terasa sakit karena menggunakan Susanoo dan Anaterasu. Tak menyia-nyiakan kesempatan, Kokabiel langsung mengikat Itachi dengan cambuk cahaya miliknya dan membawa sang Uchiha terbang tinggi.

Ia lalu menembakkan bulu-bulu dari ke dua belas sayapnya yang sekeras baja kearah Itachi, hingga menusuk tubuh sang Iblis berkali-kali.

Itachi kembali menggunakan Susanoo untuk membebaskan diri dari jeratan cambuk Kokabiel. Ia melebarkan keenam sayap iblis miliknya agar stabil terbang di udara. Tubuhnya kini berlumuran darah. Meski lukanya sudah tertutup karena regenerasi, tapi darahnya yang hilang membuat Itachi pusing. Pandangannya semakin kabur, tapi ia memaksakan diri. Jika dia tidak mengalahkan Kokabiel sekarang, maka Rias dan yang lainnya akan mati.

Itachi melesat ke arah Kokabiel. Sang Malaikat Jatuh yang bersiap untuk serangan, kini menutupi dirinya dengan sayap yang keras seperti baja. Itachi memukul Kokabiel dengan tangan Susanoo hingga terpental kebawah. Ia lalu terbang dan menghujam tubuh Kokabiel yang tergeletak dengan Yamato.

Itachi menduduki tubuh Kokabiel sembari terus menahan Yamato agar tetap menusuk dan mengunci pergerakan tubuh sang pemimpin Malaikat Jatuh. Ia akan melancarkan serangan terakhirnya sekuat yang ia bisa.

" Nii-san!!!"

" Fire Release : Purgatory Pillar!"

Sebuah pilar api raksasa sebesar lapangan basket pun turun dari langit dan menghantam mereka berdua. Kokabiel dan Itachi terbakar oleh serangan terakhir dari sang Uchiha.


Rias membelalakkan mata saat melihat suaminya melancarkan serangan miliknya. Ia berteriak, berharap agar Itachi menghentikan sihirnya.

Tapi pilar api raksasa yang turun dan menghantam Itachi dan Kokabiel terlalu cepat. Rias tidak sempat menyelamatkan Itachi dari sana. Rias hanya bisa menyaksikan saat keduanya dilahap oleh api oranye sihir milik Itachi.

Tak berapa lama, api tersebut pun mulai mengecil dan menghilang. Itachi dan Kokabiel terkulai lemas di sebuah lingkaran tanah yang menghitam hingga menjadi arang. Keduanya mengalami luka bakar serius di sekujur tubuh.

Rias menghampiri Itachi bersama dengan Kiba, tapi energi dari atas gedung mengalihkan perhatiannya. Diatas sana sudah terbang seorang pria berambut perak acak-acakan dengan sayap mekanik berwarna putih.

Ia juga menghampiri tubuh Kokabiel dan Itachi.

" Huh, sepertinya aku terlambat." gumamnya.

Rias ingin berkata sesuatu, tapi segera dipotong oleh pria tadi.

" Namaku Vali, utusan Azazel. Aku kemari untuk mengambil tubuh Kokabiel dan membawanya ke Grigori." tanpa menunggu jawaban dari Rias, Vali langsung mengambil tubuh Kokabiel dan memunculkan lingkaran sihir teleportasi.

Pandangannya sejenak teralih pada Issei yang kini sudah sadar dan duduk disamping tubuh Asia.

" Jadi dia Sekiryuutei saat ini? Oi, kau, Kaisar Naga Merah!" ia berteriak memanggil Issei.

Issei yang mendengarnya segera menoleh dengan bingung.

" Jadilah lebih kuat dari saat ini! Aku sangat menantikan pertarungan kita nanti..."

Ia kemudian hilang ditelan cahaya, kembali ke Grigori. Rias langsung berlari dan berlutut disamping Itachi yang sadar, tapi susah bergerak.

" Rias...?"

" Kita harus kembali ke Mansion Gremory! Biar kalian berisitirahat disana untuk sementara."

Rias membuat lingkaran sihir teleportasi, bersamaan dengan Akeno yang juga membuat lingkaran teleportasi di sana.

" Bawa... tubuh gadis yang... ada di rumah..." ucap Itachi terbata-bata. Di saat tubuhnya seperti ini pun ia masih memikirkan orang lain.

" Baiklah, aku akan segera kembali kemari untuk membawanya. Tapi kau harus pergi duluan!"

Itachi mengangguk pelan. Ia memejamkan matanya untuk beristirahat. Kokabiel sudah dikalahkan dan mereka sudah aman sekarang. Ia akan mengistirahatkan tubuhnya sejenak. Dan sesaat kemudian, mereka semua hilang ditelan lingkaran sihir teleportasi masing-masing.


Author's Note :

Yosh! Chap 14 rampung!

Sebenarnya saya ini ga pinter nulis romance, tapi ya, there you go... Semoga itu cukup buat cerita ini.

Anyway, Mangekyo Kang Itachi dah balik nich, tapi kapal ItaVio harus karam disini. :(

"Violet dari Violet Evergarden?"

Ehehe iya... Bukan OC kok, cuma Char anime lain yang saya masukin ke sini. Bakal ada beberapa Char lain yang akan saya datangkan kedepannya, siapa aja? ya tunggulah. :D

"Violet ikut Itachi aja ya, ga tega soalnya."

Ano sa, maaf ya, ehehehe saya buat meninggal karakter nya. Agak berat, tapi Mangekyo perlu alasan buat bangkit.

"Itu Chidori kan? Akeno bisa Chidori? Bukannya perlu Sharingan?"

Umm... gini, Chidori bakal dipake Akeno cuma saat terdesak aja. Waktu Close Encounter dan kepepet, nah baru dipake. Akeno tetep jadi petarung jarak jauh kok.

Soal masa lalu Itachi, itu kemaren saya buat di Fic terpisah, prolog dari cerita ini. Ada kok adegan 7 tahun lalu, cuma di Fic Crowmaster : Beginning. Kalo mau baca ya, silahkan... Tapi masih sangat amburadul dan pendek, cuma 13K. Kapan kapan bakal saya Rewrite. Atau mending di gabungin ke sini aja? Dijadiin flashback buat Chapter chapter depan gitu...

Umur Itachi itu baru 22, masih muda kok, walau keriputnya ga Segede pas di Konoha. Awkwkwkwkw...

Arc Kokabiel selesai, dan bakal memasuki Arc baru. Tentang apa? entahlah, belum Saia pikirkan! Nyahhahaha!

DANNNN! Terima kasih buat kalian yang udah review dan semangatin saya buat nulis. Saya jadi terhura gini loh...

So... Mind to Review?

Silvermane Kudan, Out.