CROWMASTER : BIRD AMONG DRAGON


Disclaimer :

Naruto Punyanya Om Masashi Kishimoto

High School DxD Punyanya Om Ichiei Isshibumi


Kuoh Academy terlihat seperti biasa hari ini. Tidak ada kawah, bekas terbakar, ataupun puing puing yang berserakan. Seolah-olah pertarungan minggu lalu tidak pernah terjadi sama sekali.

Entah bagaimana caranya, para Maou secara ajaib membuat sekolah ini kembali seperti semula dalam waktu yang sangat singkat. Padahal, pertarungan antara kelompok Rias dan Sona melawan Kokabiel cukup berdampak pada bangunan sekolah. Belum lagi ketika Itachi sendiri yang menghadapi jendral Malaikat Jatuh itu. Meski terbilang singkat, tapi cukup sengit hingga keduanya tak sadarkan diri.

Kokabiel yang sekarat dibawa oleh seorang pemuda dengan rambut putih bernama Vali, yang mengaku sebagai bawahan Azazel.

Sedangkan untuk Itachi, kondisinya membaik dengan waktu yang singkat. Semua ini berkat King Piece yang ada di dalam dirinya dan bantuan dari Asia. Kini dia sudah kembali seperti biasa, mengajar di Kuoh sebagai Uchiha-sensei si guru Fisika idola para siswi.

Dari sekian banyaknya siswi itu, Akeno Himejima termasuk ke dalamnya. Itachi Uchiha meninggalkan kesan di hatinya jauh sebelum siswi-siswi yang lain mengenal si guru Fisika ini.

Masih jelas di ingatan Akeno ketika Itachi menghentikan pedang pamannya yang hendak membunuh gadis itu. Dia datang bersama dengan seorang butler lansia dan gadis kecil berambut merah yang kini Akeno kenal sebagai Rias Gremory, tuan dan sahabatnya.

Sama seperti Rias, Akeno melihat Itachi sebagai sosok kakak laki-laki yang selalu ia inginkan. Lembut, penuh perhatian, dan penyabar. Wajahnya yang tampan dan otaknya yang cerdas adalah bonus yang diberikan oleh Kami-sama kepadanya.

Setidaknya, begitulah Itachi dulu. Setelah mereka lama tidak bertemu, kini Itachi seperti tidak begitu memperhatikan Akeno. Terutama setelah Maou Lucifer menikahkan Rias dan dirinya. Jarak antara Akeno dan Itachi semakin menjauh seiring waktu.

Tidak ada yang bisa dia lakukan untuk sekarang, jadi Akeno hanya berharap kalau dia dan Itachi bisa dekat seperti dulu. Ah, atau mungkin dia bisa sedikit lebih berani saat menggoda Itachi? Mungkin saja cara itu akan berhasil. Tidak ada yang tahu, bukan?

Selagi Akeno berkutat dengan pemikirannya sendiri, si objek pemikiran kini terlihat berjalan mendekatinya.

"Himejima, bisa kau ulangi prinsip dasar Relativitas?" tanya Itachi dengan memegang buku yang dilipat. Ia kini sudah berdiri di samping meja Akeno.

Si gadis yang dipanggil tadi menoleh seketika dengan senyum di wajahnya.

"Hm? Bisa diulangi, Sensei?" tanyanya dengan wajah tanpa dosa.

Itachi menghela nafas berat mendengar jawaban dari Akeno dan kembali ke depan kelas.

"Himejima, sebagai hukuman karena tidak fokus ketika pelajaran berlangsung, aku ingin kau menulis esai tentang Postulat Einstein. Kumpulkan setelah pulang sekolah di ruang guru."

Akeno mengangguk mendengar perintah Itachi. Ia sudah mempelajari Relativitas lebih dulu, jadi tugas yang diberikan Itachi bukan masalah besar baginya.

Jadi, ketika jam istirahat dimulai nanti, Akeno langsung berjalan menuju perpustakaan untuk mencari referensi tentang Postulat Einstein. Tentu saja setelah meminta izin dari Rias.


"Hm..."

Itachi kini memeriksa tugas milik Akeno, yang dikumpulkan sedikit terlambat, dengan seksama. Mereka mungkin sudah saling mengenal sejak lama, tapi ia harus tetap profesional selama berada di lingkungan sekolah, kecuali ruang klub.

"Kecepatan cahaya adalah konstan, tidak bergantung pada pengamat yang mengukur dari kerangka acuan inersia." gumam Itachi sembari meneliti dengan seksama setiap kalimat yang tertulis di buku yang ia pegang.

"Bisa kau simpulkan Postulat pertama Einstein?"

Itachi melirik murid didiknya yang mengangguk, menyanggupi pertanyaan darinya.

"Tentu, Sensei."

"Postulat pertama menyatakan ketiadaan kerangka acuan universal, yang berakibat pada tidak adanya perbedaan antara benda yang diam dan bergerak dari perspektif pengamat."

Singkat, jelas, dan padat. Itachi tersenyum tipis mendengar jawaban dari Akeno. Sepertinya tidak ada yang perlu ia khawatirkan pada Akeno.

"Baiklah. Kerja bagus, Himejima. Kau boleh pergi sekarang."

Itachi langsung berbalik badan setelah berkata demikian. Dia ingin merapikan meja dan barang-barang miliknya sebelum pergi ke ruang klub Penelitian Ilmu Gaib. Tapi sebuah sensasi kenyal di punggungnya, serta dua tangan yang melingkar di lehernya membuat Itachi terpaksa berhenti sejenak.

Ia menarik kata-katanya tadi. Memang ADA hal yang perlu ia khawatirkan pada Akeno. Salah satunya adalah kebiasaannya untuk menggoda lelaki seperti saat ini.

Itachi melepaskan pelukan Akeno dan berbalik menghadap gadis itu. Untung saja kantor para guru sudah sepi, jadi tidak ada yang melihat kejadian barusan. Itachi tidak ingin rumor aneh tentangnya kembali menyebar.

Tuduhan yang disebarkan oleh siswa yang iri dengannya waktu itu sudah cukup bagi Itachi. Mereka mengatakan kalau Itachi menjebak Rias dengan obat tidur dan melakukan hal-hal tidak senonoh padanya, lalu mengancam Rias untuk menikah dengannya agar foto-foto Rias tidak tersebar.

Ah, mengingatnya saja sudah membuat Itachi sakit kepala. Itachi tidak butuh hal-hal yang bisa menambah pusing kepalanya saat ini.

"Akeno, aku adalah gurumu untuk saat ini. Jadi tolong berhenti bersikap seperti tadi."

"Ara ara~ apa salahnya sedikit 'berterima kasih' kepada guru sendiri, Sensei?"

Bukannya menjauh, Akeno malah mendekatkan wajahnya kearah wajah Itachi.

"Jika kau ingin berterima kasih, mulailah dengan fokus pada jam pelajaran." kata Itachi dengan wajah datar.

Bagaimana Akeno bisa begitu berani dalam hal-hal seperti sekarang adalah misteri bagi Itachi. Dia tidak begitu paham dengan jalan pikiran gadis di depannya ini.

Sedangkan Akeno malah tersenyum nakal sembari memasang pose berpikir setelah mendengar perkataan Itachi.

"Hm... Baiklah."

Dengan bernafas lega, Itachi menyandarkan punggungnya di tepi meja miliknya.

"Baguslah jik-"

Ucapan Itachi terhenti ketika Akeno secara tiba-tiba duduk dipangkuannya dengan posisi saling berhadapan. Dia bisa melihat senyum jahil terukir jelas di wajah Akeno.

"Permisi, Uchiha-sensei... Ah!"

Beberapa murid Kuoh Academy berdiri di pintu kantor guru, hendak masuk untuk menemui Itachi. Masalah pelajaran mungkin? Apapun alasan mereka datang, kini Itachi tidak akan tahu karena siswi-siswi tadi langsung meminta maaf dan pergi dengan sekejap.

"A-a-ano... Maaf karena menganggu, Sensei! Kami permisi!"

Bagus...

Sekarang ia tinggal mendengar kabar tentang hal ini beberapa hari ke depan. Tentu saja ditambah dengan bumbu-bumbuagar menjadi gosip yang menarik.

Itachi merutuki keberuntungannya hari ini di dalam hati.

Ia kemudian menyentil dahi Akeno dengan pelan, tapi cukup untuk membuatnya menyingkir dari pangkuan Itachi.

"Sekarang, entah apa yang akan mereka sebarkan. Terima kasih, Akeno..." sarkas Itachi sembari memijat dahinya. Sementara si pelaku hanya tertawa pelan dan tersenyum nakal.

"Sama-sama, Uchiha-sensei~"

"Cepat kembali ke ruang klub. Aku akan menyusulmu nanti..."

Itachi ingin duduk sejenak sembari menghilangkan stressnya. Bisa-bisa garis di bawah matanya kembali seperti dulu kalau ia terus-terusan stress seperti ini.

"Baiklah. Sampai jumpa nanti, Sensei~" ucap Akeno dengan nada menggoda. Ia lalu berjalan menuju pintu keluar, tapi langkahnya terhenti saat ingin keluar.

"Kau tahu, mungkin digosipkan menjadi selingkuhanmu tidak terlalu buruk, Uchiha-sensei..."

"Akeno Himejima!"

Akeno segera pergi menjauhi ruang kantor yang memancarkan aura kelam dengan hati yang riang. Ia puas menjahili Itachi hari ini. Mungkin dia akan membuatkan teh spesial untuk Itachi sebagai permintaan maaf nanti.


Ruang klub Penelitian Ilmu Gaib kini terlihat ramai karena semua anggotanya hadir, belum lagi ditambah satu lagi anggota baru yang bergabung saat ini.

"Baiklah, bagi kalian yang belum tahu, Xenovia akan bergabung menjadi anggota klub dan Knight di Peerage milikku. Dia baru pindah ke Kuoh Academy hari ini karena beberapa hal.

Xenovia, gadis yang dimaksud Rias kini berdiri dan membungkuk dengan canggung. Terlihat sekali kalau dia belum nyaman dengan lingkungan sekitarnya.

"Mohon bantuan kalian untuk kedepannya." ujarnya dengan datar. Ketika ia kembali menegakkan badannya, pandangannya secara otomatis tertuju pada sosok yang pria dengan rambut hitam panjang yang duduk di sebelah Rias.

"Apa ada sesuatu di wajahku, Quarta-san?"

Xenovia menggeleng dengan cepat dan memalingkan pandangannya ketika ia sadar kalau sudah menatap wajah gurunya dalam waktu yang lama. Tapi, apa yang dilakukan oleh pria sepertinya di klub ini? Pembina? Pengurus?

Dia belum tahu soal apapun di Kuoh Academy, termasuk staff pengajar dan klub-klub disini.

"Xenovia, perkenalkan, namanya adalah Itachi Uchiha, guru fisika sekaligus pembimbing klub ini. Dan, dia sama seperti kita."

Itachi Uchiha? Ah... Jadi dia adalah orang yang mengawasi kota ini. Dan menurut yang Xenovia dengar dari Rias, lelaki ini jugalah yang mengalahkan Kokabiel. Instingnya mengatakan jika Xenovia terus memperhatikan pria ini, mungkin ia bisa belajar satu atau dua hal darinya. Diluar pelajaran Fisika, tentu saja.

"Salam kenal, Quarta-san." sapa Itachi dengan senyum tipis dan sedikit menundukkan kepalanya. Xenovia balas membungkuk untuk menghormati Itachi yang lebih tua darinya.

Itachi sendiri baru ingat kalau dia melihat Xenovia tergeletak tak sadarkan diri ketika mereka melawan Kokabiel. Jadi ini anggota baru yang dibicarakan Rias beberapa hari kebelakang.

"Ehem!"

Suara deheman Rias membuat seisi ruangan memperhatikannya.

"Silahkan duduk kembali, Xenovia. Baiklah, hal pertama yang ingin kuberi tahukan saat ini adalah tentang pertemuan pemimpin ketiga faksi yang akan diadakan tidak lama lagi."

Semua yang ada terkejut ketika mendengar perkataan Rias, termasuk Itachi. Hal ini terdengar cukup baik baginya.

Mungkin jika ketiga faksi bertemu dan berunding dengan damai, kesepakatan akan tercapai dan perang ratusan tahun ini akan terhenti.

"Sirzech Nii-sama berkata kalu mereka ingin kita dan kelompok Sona menyiapkan tempat pertemuannya nanti, yaitu Kuoh Academy."

"Belum ada kepastian tentang kapan itu akan terlaksana, jadi untuk saat ini kita bisa mengesampingkan hal tersebut."

Merasa kurang puas dengan info yang diberikan Rias, Itachi memutuskan untuk menanyai gadis itu nanti. Atau mungkin lebih baik jika ia bertanya langsung pada Sirzech?

"Lalu yang kedua, tentang laporan kontrak bulan ini."

Rias lalu melihat catatan yang diberikan Akeno padanya.

"Issei! Tingkatkan lagi kinerjamu! Atau... mimpimu menjadi Harem King hanya bualan semata?"

Sang Kaisar Naga Merah, Issei Hyoudou, langsung berdiri tegak dan melakukan gerakan hormat ala militer.

"Siap, Buchou! Akan kubuktikan kalau aku akan menjadi Harem King dengan jumlah harem melebihi siapapun!" ucapnya dengan semangat membara yang bisa membuat dua orang berbaju hijau ketat dengan rambut mangkok dari masa lalu Itachi bangga padanya.

Rias mengangguk, mengiyakan pernyataan Pawn miliknya. Ia lalu beralih kearah Asia.

"Dan Asia, kupercayakan Xenovia kepadamu dalam urusan kontrak untuk sementara."

Itachi menyetujui pilihan Rias dari dalam hatinya. Rias pernah berkata padanya kalau Koneko dan Kiba cukup sibuk dalam hal kontrak. Lalu, Itachi juga tidak ingin sifat Akeno menempel pada Xenovia.

Dan Issei? Tidak. Anak itu tidak bisa ditinggal berdua dengan seorang gadis cantik. Tidak ada yang tahu apa yang akan dilakukan monster nafsu satu itu.

"Baiklah, Buchou. Mohon bantuannya, Xenovia-san."

Xenovia hanya bisa memasang senyum kikuk yang dipaksakan ketika Asia tersenyum dengan lembut kearahnya. Setitik keraguan muncul di hati Xenovia. Apa benar kalau gadis didepannya benar-benar si Witch yang diberitahukan oleh pihak gereja?

"Baiklah, itu saja yang ingin kukatakan." ujar Rias. Ia lalu kembali bersandar di samping Itachi.

"Tunggu dulu, Buchou! Ada satu hal yang terlewatkan." Issei berteriak menginterupsi ucapan Rias. Ia mengangkat tangannya tinggi-tinggi.

"Festival kebudayaan akan diadakan sebentar lagi, dan setiap klub diminta menampilkan sesuatu nanti!"

Ah, benar yang dikatakan Issei. Itachi juga mendengar beberapa guru sibuk mengatur beberapa persiapan untuk festival beberapa hari lagi. Tapi apa yang akan ditampilkan oleh KLUB PENELITIAN ILMU GAIB pada umumnya? Mempraktekkan pengusiran hantu? Sulap? Atau jangan-jangan sejak awal memang tidak ada yang namanya Klub Penelitian Ilmu Gaib di tempat lain, dan hanya Kuoh Academy yang memilikinya.

"Pentas drama?" tanya Kiba.

"Sirkus? Kita bisa membuat Issei-senpai melakukan beberapa trik anjing laut."

"Oi!" Saran asal-asalan dari Koneko membuat hati Issei terluka. Serendah itukah dirinya di mata kouhai loli nya satu ini?

"Tenang, Issei... Aku sudah menyiapkan rencana untuk itu," ujar Rias dengan tenang. Ia meminum teh yang dibuat oleh Akeno, lalu hendak melanjutkan perkataannya.

"Jangan bilang kau ingin bernyanyi, Buchou?" potong Akeno.

Tebakan Akeno tepat mengenai sasaran. Rias mengangguk membenarkan perkataan Akeno.

"Tepat sekali, Akeno."

Setelah dipikir-pikir, mungkin saran Rias cukup bagus. Mereka tidak perlu repot-repot mengerus properti dan kostum. Dan mereka tidak harus latihan dengan giat agar tidak memalukan saat pentas nanti.

Itachi setuju dengan Rias. Dengan Festival yang akan diadakan dalam waktu dekat, hanya ini pilihan yang aman bagi mereka.

Hanya ada satu masalah. Siapa yang akan dikorbankan di festival kali ini?

"Jadi, siapa yang akan tampil, Buchou?" tanya Akeno, seolah-olah tahu dengan pemikiran Itachi.

Tanpa basa-basi, Rias langsung menunjuk satu-satunya pemuda berambut pirang di ruangan ini.

"Kiba! Kau yang akan tampil nanti."

"Baiklah, Buchou." Kiba menerima perintah dari Kingnya tanpa protes, walau dia sendiri ragu dengan kemampuan bermusiknya.

"Ano, Buchou... Kenapa harus Kiba?"

"Hm? Kau ingin menggantikannya, Issei?"

Issei langsung mengangkat kedua tangannya menyerah, dan menggelengkan kepalanya dengan cepat.

"T-tunggu, bukan begitu maksudku. Aku hanya penasaran, itu saja!" ucapnya dengan sedikit terbata.

"Kali ini, penampilan setiap klub akan dinilai oleh penonton. Kita bisa menggunakan kepopuleran Kiba untuk menarik kaum perempuan yang menjadi mayoritas murid disini." jelas Itachi.

Menarik... Rias sudah bisa menyiapkannya dengan matang. Dia sudah berkembang dari sebelumnya. Begitulah pikir Itachi.

Sedangkan Issei hanya mengangguk paham.

Dengan ini, sudah ditetapkan kalau Kiba yang akan tampil sebagai perwakilan dari Klub Penelitian Ilmu Gaib.


Malamnya di kediaman Uchiha-Gremory, terlihat pemuda tampan dengan setelan kaos biru tua berlengan panjang dan celana training hitam bergaris putih sedang duduk di balkon kamarnya dengan secangir teh dan sebuah buku berjudul Le Petit Prince, karya Antoine de Saint-Euxpery.

Buku ini berisi tentang kisah seorang pangeran kecil yang menjelajahi enam planet asing sampai akhirnya tiba di bumi. Terdapat sindiran-sindiran soal manusia yang terlalu arogan, serius, dan membosankan. Bacaan yang cukup menarik bagi Itachi. Buku ini ia beli ketika masa kuliah dulu, tapi tidak pernah sempat untuk sekedar membaca sekilas.

Ah, Itachi kembali teringat pada Violet. Rias bilang kalau Zeoticus sudah mengurus pemakaman di kota Kuoh untuk gadis itu.

Itachi sudah dua kali mengunjungi makam bertuliskan Violet Bougainvillea dengan membawa setangkai Lily Putih. Itachi masih merasa bersalah soal kematian Violet. Dia merasa lalai karena menurunkan kewaspadaannya saat itu. Jika saja Itachi bisa menyadari niat Barnael saat itu, mungkin Violet masih bisa selamat.

Untuk sesaat, Itachi mengeratkan genggamnannya pada novel yang ia pegang hingga cover belakang buku itu terdapat bekas kuku Itachi.

Namun, ia membuang rasa amarah dihatinya dengan membayangkan kembali mimpi ketika ia pingsan melawan Kokabiel.


Flashback

Itachi Uchiha membuka matanya dengan perlahan, membiarkan cahaya matahari menerangi penglihatannya secara berkala.

Aneh, pikirnya. Ingatan terakhirnya adalah ketika ia menggunakan Amaterasu Purgatory Pillar untuk mengalahkan Kokabiel. Tapi kini ia terbangun di tempat yang asing. Belum lagi tubuhnya yang terasa normal, tanpa rasa sakit atau luka bakar akibat jurus miliknya.

Itachi pun mencoba untuk duduk dan melihat sekelilingnya. Hanya ada warna putih dari ribuan bunga Lily sejauh mata memandang.

Tempat apa ini? pikirnya. Dan, Lily putih? Ah... Ia kembali teringat akan Violet. Rasa sakit kembali muncul di hatinya. Bertahun-tahun tidak bertarung dengan serius membuat kewaspadaannya menurun. Dan sekarang, ia harus membayarnya dengan nyawa orang terdekatnya.

Setelah beberapa saat, ia pun berdiri dan berjalan-jalan tanpa arah di padang bunga tersebut, berharap kalau bunga-bunga Lily yang tumbuh di sekitarnya bisa sedikit meringankan rasa sakit yang ia rasakan.

Matanya menangkap sosok gadis pirang dengan gaun putih di kejauhan. Secara reflek, Itachi berlari sekencang yang ia bisa untuk mencapai tempat si gadis tadi. Semakin dekat dirinya dengan si gadis, semakin jelas pula Itachi melihat wajah gadis pirang itu.

Violet hanya melambaikan tangannya kearah Itachi. Dan ketika pemuda itu hendak memeluk Violet, tubuh gadis itu berubah menjadi kumpulan kelopak bunga Lily putih yang berterbangan dibawa angin.

Dengan panik, Itachi melihat sekelilingnya dan menemukan Violet sudah berdiri kembali di belakangnya. Itachi berjalan mendekati gadis pirang itu dengan perlahan. Tangannya bergerak mencoba untuk menyentuh pipi Violet, kembali membuat gadis itu berubah menjadi kumpulan kelopak Lily yang terbang kearah lain. Dari kelopak tadi, Violet kembali terbentuk.

Menyerah, Itachi akhirnya hanya menatap gadis itu dari tempat ia berdiri.

Jari jemari Violet bergerak membentuk serangkaian kode untuk berkomunikasi dengan Itachi.

"Tidak sekarang."

"Apa maksudmu?"

Violet hanya tersenyum lembut, seiring dengan sekumpulan kelopak bunga Lily tertiup angin hingga mengelilingi Itachi.

Itachi ingin bertanya lebih jauh, tapi jumlah kelopak bunga tadi terus bertambah, menyembunyikan figur Violet dari pandangannya.


Mengingatnya membuat Itachi bersyukur karena untuk pertama kalinya sejak ia menjadi kriminal di dunia Shinobi, Itachi tidak memimpikan kejadian kelam itu, melainkan mimpi yang walaupun singkat tetap berarti untuknya.

Itachi mendengus pelan. Bahkan setelah ia tiada, gadis itu masih berusaha menenangkan hati Itachi. Ia sudah memutuskan untuk menyimpan semua kenangan bersama Violet untuknya sendiri.

Apa yang harus ia lakukan sekarang adalah terus maju ke depan dan belajar menghargai apa yang miliki sekarang sebelum semuanya menghilang. Dengan kata lain, ia harus belajar menghargai Rias sebagai istrinya mulai sekarang.

Itachi menyesap teh miliknya dan menutup novel yang ada di tangannya.

Mungkin ia akan tidur setelah ini, menyusul Rias yang sudah duluan terlelap diatas kasur besar milik mereka. Huh, Itachi hanya bisa berharap semoga ia bisa tidur nyenyak malam ini tanpa diganggu oleh mimpi tentang malam itu.

Malam kelam yang mengubah jalan hidupnya.


Author's Note :

WOOOOHHHOOOO! I DID IT, BABY! I SURVIVE THROUGH 2020! Dude, what a year... Semoga aja tahun ini jauh lebih baik dari kemaren-kemaren, karena saya capek juga rebahan mulu dirumah, awkwkkw XD.

Pertama-tama, maap karena lama ngilangnya. Karena, yah... Mood buat nulis ngilang aja gitu. Sudah beberapa kali ngetik ulang ini chapter, ga ada yang sreg aja di hati.

Waktu sudah 1K lebih, pasti ngerasa ga puas dan langsung diketik ulang lagi. Iya, iya, tau... sebelum kalian ngomong, saya dah tau kalo chapter ini belum memuaskan kalian. Maaf, minna-san! *ojigi This is the best that i could do for now, so please be patient.

Kedua, Haruskah Kang Itachi kita kasih Peerage juga? Atau biarkan saja dia tetap jadi Solo Player? Kayaknya kasih Peerage aja yak? Ada beberapa karakter yang sudah kutandain biar jadi Peerage milik Itachi nanti.

Ketiga, Mungkin mulai sekarang bakal slow update karena saya baru dapet panggilan kerja. So, don't get your hopes too high, eh? ;)

Dan yang terakhir, buat bang Haji... BALIKIN SASHA GUA WOIIII!

Ehem! Anyway... Just like what Deadpool says and i quote, "Keep your pants dry, your dreams wet, and remember hugs, not drugs."

Review, please? Your review is my fuel to keep writing.

Silvermane Kudan, Out.