Disclaimer
Aku hanyalah seorang pemula.
Segala yang terjadi di cerita ini hanya fiksi belaka, tidak ada unsur berhubungan dengan manusia atau kejadian nyata.
Cerita ini hanyalah satu dari berbagai serpihan mimpi yang aku alami, semua berasal dari mimpi dan dibumbui fiksi agar lebih dramatis. Masih ada banyak mimpi yang hanya menjadi draft catatan. Setelah melalui inspeksi, aku memberanikan untuk mem publish cerita ini. Selamat menikmati.
Sore itu aku tiba di suatu pulau. Terlihat sekali kalau industri di pulau ini sudah maju. Berbagi jenis industri dan perusahaan terlihat di tiap belokan. Aku baru tiba disini, tepatnya aku baru saja berlabuh. Aku datang ke pulau ini sendirian mencari [xxxxx].
"Permisi tuan apakah saya boleh tau dimanakah letak penginapan paling dekat di sini?" Tanyaku pada seorang warga yang sedang menghabiskan waktunya dengan bersantai di dermaga. Tak kupungkiri kalau pemandangan laut disini begitu indah, deburan ombak yg merdu, langit yg terlihat oranye serta laut biru yg bersih.
Warga tadi membalas pertanyaanku dengan memberikan senyuman terlebih dahulu. Aku pun membalas senyumannya. Dia berdiri dan menunjuk ke sebuah gedung. Jauh di ujung jalan lurus berlawanan dari arah pantai tepat di persimpangan, terlihat gedung 3 lantai berwarna coklat muram yang terlihat sekali menunjukkan bahwa umur tempat itu sudah puluhan tahun. Dia berkata itu penginapan paling dekat disini dan dikelola oleh satu keluarga. Aku berterima kasih padanya lalu berpamitan pergi ke penginapan tadi.
Walau kota ini terlihat lumayan besar, warganya ramah. Banyak yg terlihat keluar menikmati sore, mereka pun lebih memilih berjalan kaki atau bersepeda. Aku berjalan sembari melihat lihat keadaan kota mencari tempat menarik yang bisa ku kunjungi.
Sesampainya di hotel, terlihat hotel ini bangunan yg tua namun tak menghalangi pengelola untuk mencampurkannya dengan teknologi yg ada. Bahkan pintunya pun terbuka otomatis. Segera aku masuk ke dalam dan disambut oleh seorang wanita. Dia berjaga di resepsionis sendirian dan terlihat sibuk mengatur pembukuan.
"Permisi, apakah ada kamar kosong?" Aku bertanya pada wanita tadi. Mendengar suaraku dia pun menoleh padaku. Wajahnya terlihat cantik, sepertinya dia masih seumuran denganku. Senyumannya begitu manis, belum lagi ditambah dengan matanya biru sebiru lautan. Di sempat merapikan rambutnya ke arah belakang, memamerkan salah satu telinganya. Kita saling tukar pandang untuk beberapa saat.
"A- maaf apakah ada kamar kosong?" Dia lagi lagi tidak menjawabku dan hanya memandangiku. Tatapannya yg awalnya begitu cerah sempat berubah sekilas menjadi terkejut. Sempat kuliat air matanya ingin keluar tapi dengan cepat dia berusaha kembali fokus dan akhirnya menjawabku.
"Ada kok, mau menginap berapa malam?" Aku menjelaskan kalau kedatanganku ke pulau ini masih belum ditentukan berapa lama, jadi ada kemungkinan aku akan menambah hari atau aku keluar lebih awal. Dia pun memberikan saran untuk melakukan pembukuan tiap pagi dan pembayaran dilakukan tiap pembukuan. Aku pun menyetujuinya.
"Ehem.. atas nama siapa ya?" Dia bertanya sembari menyiapkan pulpennya di atas buku harian.
"Atas nama [xxxx]." Lagi aku melihat ekspresinya seperti menahan sesuatu, tangannya sempat bergetar namun dia masih melanjutkan menulis namaku.
"Oke tuan [xxxx, ini kunci kamarnya," dia menyerahkan kunci nomor 16 padaku.
"Kamarnya ada di lantai, naik saja lewat tangga itu," dia menunjuk tangga yg berapa di samping resepsionis.
"Di kiri ruangan lantai dua ada tiga kamar, kamar anda yg paling kanan." Dia berbicara begitu lembut dan sangat jelas.
"Ohh iya makasih, panggil [xxxx] aja jangan pake tuan." Setelah membayar biaya kamar, aku mengambil kunciku. Aku berterima kasih padanya lalu berjalan ke lantai dua. Dia tidak banyak berbicara hanya membalasku dengan senyuman manisnya.
'Wow, ini kamar terbaik!' Pikirku, kamar ini walaupun di lantai dua, aku bisa melihat pantai dari jendela kamar. Lokasi tempat yang menanjak membuat penginapan ini tetap mendapatkan pemandangan pantai. Aku menyimpan semua barangku dan bersiap untuk melanjutkan misiku. Di kamar terdapat jendela yang langsung menghadap ke arah pantai. Kasur doublenya terlihat rapi dan sepertinya sangat cocok untuk pasangan yang ingin bulan madu disini. Aku menyimpan perlengkapan serta pakaianku di lemari besar, lemari kayu ini terlihat antik namun masih kokoh, pengelola penginapan ini merawat tempat ini dengan sangat baik. Di samping pintu kamar mandi terdapat cermin tinggi. Aku belum sempat memperkenalkan diriku, aku berdiri di depan cermin dengan gagah. Namaku Andry, rambutku sedang dan tidak beraturan. Tinggiku rata rata pria seumuranku, dan umurku sudah menginjak 20an. Aku bisa melihat badanku yang sedikit berisi karena pelatihan yang selama ini kujalani. Pakaian ku saat ini hanya kaos dan celana panjang. Aku akan mandi sebelum melanjutkan pencarian. Apa yang kucari? Aku sedang mencari [xxxx]. Apa itu? Kita akan tau segera.
Aku pun membilas seluruh badanku. Perjalanan jauh yang harus kutempuh. Laut yang ganas, cuaca yang tidak menentu. Ombak yang tidak henti. Akhirnya aku jauh dari semua itu, walaupun nanti aku harus melawan lautan lagi. Kali ini aku bisa beristirahat di pulau yang tenang ini. Ohh iya kapan kapan aku harus berterima kasih kepada orang kapal tadi, mereka sudah baik mau memberikan aku tumpangan hingga kesini. Selesai membersihkan badan, aku berencana untuk makan lalu pergi melihat lihat lagi di kota.
Aku berjalan menuju resepsionis ingin bertanya tentang apakah disini mendapatkan makan malam. Sesampainya disana, meja terlihat kosong tidak ada orang sama sekali. Aku melihat di sudut yang lain resesionis terdapat lorong. Aku mengintip ke dalam dan melihat ruangan luas berisikan banyak meja makan. Ruangan ini begitu terang namun kosong, sepertinya tamu disini sudah tau kapan makanan disiapkan. Di sudut ruangan terdengar seperti suara orang sedang memasak. Aku pun menghampiri tempat itu. Di kanan dari ujung ruangan terdapat pintu menuju dapur besar, terlihat beberapa orang sedang sibuk memasak. Karena merasa sanggung aku tersenyum kepada mereka dan malu malu kembali ke resepsionis. Terlihat seorang bocah datang menghampiriku.
"Abang lapar? Masakannya belum jadi bang." Wanita kecil ini berbicara dengan nada semangat dan tanpa rasa takut padaku padahal aku ini orang asing baginya. Aku pun jongkok dan berbicara padanya.
"Ohh iya? Apakah masih lama chef?" Aku sedikit bercanda dengannya, melihat bajunya yg belepotan dan kotor karena bumbu dapur. Di tertawa kecil malu malu.
"Hehe, masih..." Dia sempat menoleh ke orang orang dapur, terlihat seperti ingin menanyakan sesuatu. Salah satu dari mereka terlihat mengerti, dia tersenyum dan mengangguk memperboleh apapun yang bocah ini ingin tanyakan.
"Kalau gitu abang ikut kesiniiii." Dia menarikku keluar dari dapur,
"Duh pelan pelan dong." Dia cuma diam dan terus menarikku. Dia menyuruhku duduk dan menunggu di salah satu meja. Aku kebingungan namun menuruti saja kemauannya. Sebenarnya tidak sopan juga mengintip orang kerja jadi aku setuju saja disuruh duduk disini. Dia terlihat senang dan berkata akan segera kembali. Dengan cepat dia berlari ke luar ruangan.
"Hei hati hati!" Terdengar suara yang familiar, tak lama dari suara itu muncul sosok wanita penjaga resepsionis. Dia membawa banyak barang dan sepertinya baru saja kembali dari pasar. Karena merasa dia kerepotan aku pun menghampirinya.
"Mau dibantu?" Aku menawarkan tangan untuk membawa salah satu barangnya.
"Ohh! Makasih," Dia pun memberikan satu kantong besar berisikan banyak sayur sayuran.
"Tadi pasti diajak main sama [xxx]." Lanjutnya, kita sambil berjalan menuju dapur.
"Ohh iya tadi disuruh nunggu di ruang makan." Jawabku, dia ternyata lumayan kuat kalau dipikir harus membawa dua kantong seberat ini tiap hari.
"Hahaha pantes aja dia senang banget tadi." Dia tertawa, sepertinya sudah hal biasa bagi mereka melihat bocah tadi bermain dengan tamu.
Sesampainya di dapur, aku menoleh ke salah satu pintu. Terlihat pintunya disegel rapat rapat dan segelnya pun masih sangat baru. Aku meletakkan kantong tadi di meja sambil bertanya padanya tentang pintu itu.
"Lah itu kenapa disegel?" Aku bertanya tanpa pikir panjang.
"Ohh... biasa kita masuk ke dapur lewat itu..." Dia terengah.
"Tapi karena kejadian kemarin... pintu itu harus ditutup sementara..." Dia perlahan mengambil nafas kembali.
"Padahal kalau lewat itu, pasar lebih dekat.. haaaaa." Dia terdiam mengatur pernafasan.
"Ohh pantes sampe capek gitu," Dia cuma tersenyum, menunjukkan ekspresinya yang kelelahan.
"Kalau begitu aku kembali, nanti dicariin lagi sama [xxx]." Dia cuma mengangguk dan tersenyum. Aku pun meninggalkan dapur. Dari sudut mataku terlihat mereka sedang.. berdebat(?), sepertinya ada sesuatu yang mereka bicarakan tapi itu bukanlah urusanku.
Suasana makan malam di penginapan ini ternyata begitu hangat. Ruangan yang awalnya hanya aku dan Nadine, perlahan dipenuhi orang orang. Tamu terlihat begitu antusias makan bersama di penginapan ini. Chef pun ikut makan bersama dengan para tamu. Baru kuketahui ternyata penginapan ini dikelola sepenuhnya orang satu keluarga. Seperti orang tuanya nadine yang duduk di depanku, mereka adalah chef disini sekaligus paman dari wanita resepsionis. Ingatkan aku untuk menanyakan namanya secara langsung. Mereka bercerita banyak hal, dan aku pun masih tidak menyangka warga bertingkah setenang dan sedamai ini sejak insiden [xxxx]. Sepertinya mereka sangat percaya dengan pengamanan kota ini. Sungguh mengagumkan, tidak hanya pemandangan kota yang indah, warganya begitu ramah. Sayangnya ayah Nadine bercerita aku datang tidak tepat waktu, malam ini tidak ada pertunjukkan di penginapan. Aku begitu penasaran karena kudengar pertunjukkan itu termasuk salah satu daya tarik penginapan ini. Aku menghabiskan segera makananku dan pamit kepada mereka, aku masih harus mencari tau tentang kota ini. Wajah mereka terlihat sedikit kecewa tapi mereka berusaha memasang senyum. Sepertinya ada yang ingin mereka ucapkan tapi mereka tidak mengatakan apapun itu. Aku pun berjalan keluar menuju pintu masuk penginapan.
"Tapi nek... itu pasti dia! Aku gak mungkin salah orang... mereka itu orang yang sama! Aku kenal suaranya, gaya berbicaranya, bahkan namany—" Percakapan mereka terhenti bersamaan tepat disaat aku berpapasan dengan mereka. Mereka berdua menolah ke arahku, um.. Wanita resepsionis, dan seorang nenek? Apakah itu neneknya? Kita sempat terdiam sejenak saling tatap menatap.
"Ahh kau pasti pendatang yang dibicarakan para nelayan," Nenek itu memecah keheningan sembari menghampiriku. Dia menepuk bahuku dengan pelan.
"Salah satu cucuku bercerita tentangmu," Aku berpikir sejenak.
"Dia salah satu nahkoda kapal yang kau tumpangi,"
"Dan dia berterima kasih banyak karena kau telah banyak membantu sewaktu perjalanan kalian kesini." Nenek itu memberikan senyuman di akhir kalimatnya. Terlihat dia begitu senang dan lega setelah berterima kasih kepadaku.
"Aa bukan apa apa nek, kita sesama emang harus saling tolong menolong." Jawabku canggung.
"Haha kalau begitu nenek pamit dulu yah," Dia menoleh sebentar ke arah resepsionis lalu mengangguk.
"Jangan bandel yaaaa." Dia menepuk bahuku. Nadanya seolah berbicara dengan anak kecil. Aku memiringkan kepalaku, kebingungan. Nenek itu pun berjalan ke arah ruang makan. Terdengar suara Nadine memanggil nenek tersebut. Aku menoleh ke arah resepsionis memasang ekspresi bingung. Dia hanya menggelengkan kepala sembari menaikkan kedua bahunya.
"Ah maaf aku harus keluar kalau gitu." Lagi dia hanya diam dan membalasku dengan anggukan dan senyuman.
Aku bisa mencium aroma pantai dari sini. Pikirku sembari berjalan menyusuri jalan di sekitar penginapan. Berbeda dengan pinggir laut, di daerah atas ini banyak gang yang ditutup karena pembangunan. Serta ada beberapa bangunan yang sedang direnovasi. Untuk ukuran kota, insiden waktu itu merusak hanya sebagian kecil dari kota. Warga begitu tenang dan tidak adanya ekspresi cemas terlihat di wajah mereka.
"Wowowo berhenti dulu." Seorang pria menggunakan jubah coklat polos semata kaki menghentikanku. Dia membawa tongkat yang lebih tinggi darinya dan terdapat kristal besar berwarna biru terang. Bahkan di keadaan jalan yang kurang penerangan ini aku bisa melihat kristal itu bersinar terang.
"Anda pasti pendatang," lanjutnya sembari memperhatikanku dari atas hingga ke bawah.
"Mohon maaf jalan ini ditutup karena malam ini akan dilakukan pembersihan di jalan ini." Di belakangnya terlihat jalan yang gedung serta jalannya banyak dipasangin segel. Aku bisa melihat banyak sekali coretan dari kapur seperti mantra dan magic circle di berbagai tempat. Salah satu gedungnya terlihat seperti sedang terbakar dari dalam, api ungu terangnya terlihat jelas dari jendela namun tidak ada asap yang keluar dari gedung tersebut.
"Tolong jangan berada di sekitar ini ketika pembersihan." Tegasnya. Aku yang masih penasaran melihat ke sekeliling memperhatikan tiap gedung yang lampunya mati. Terdengar suara langkah kaki dari belakangku. Aku menoleh dan melihat banyak sekali orang berjubah melewatiku. Salah satu dari mereka sempat berhenti menyapa penjaga tadi dan melanjutkan perjalanan mereka ke gedung gedung yang disegel.
"Tolong kembali ke rumah demi keamanan Anda." Dia memasang ekspresi serius dan terlihat siap menggunakan tongkatnya kepadaku.
Tanpa banyak komen aku pun berjalan kembali ke arah penginapan. Kali ini ada beberapa orang yang mendorong sebuah gerobak. Walau isinya ditutupi dengan terpal aku masih bisa mendengar dengan jelas kalau gerobak itu membawa banyak botol kaca.
'Malam yang sibuk juga,' pikirku. Aku berhenti di pantai. Aku bisa melihat banyak pasangan baik muda maupun tua menikmati waktu mereka di pantai. Mereka bahkan menyediakan tempat duduk tepat di bawah lampu jalanan yang mengarah langsung ke pantai. Aku duduk, berpikir bahwa ini kota yang tepat. Semua petunjuk mengarah ke [xxxx].
'Ada baiknya besok aku bertanya ke kepala desa, atau walikota,' gumamku.
"Ha..ha.. kau sendirian anak muda?" Sambut kakek yang berdiri di belakang bangku. Dia memberikan senyuman hangat kepadaku.
"Hehe aku baru sampai disini." Balasku.
"Hoo, pilihan yang bagus," Dia menoleh ke arah pantai.
"Pantai disini emang paling enak dinikmati ketika malam hari." Lanjutnya.
"Iyaa. Indah sekali..." Balasku.
"Apakah sebelah itu kosong?" Tanya kakek sembari menoleh ke arah kursi kosong di sampingku.
"Ohh iya kek saya sendiri." Aku sedikit bergeser memberikan ruang untuk duduk. Kakek itu pun lalu duduk di sebelahku.
"Baru diputusi pacar ya?" Tanya kakek itu.
"Ohh nggak kek..." balasku.
"Lalu mengapa kau terlihat begitu serius?" Kakek itu kembali bertanya sambil melihatku.
"Aaa anu. Saya boleh bertanya seputar kota ini?" Aku sedikit ragu. Namun sepertinya kakek itu sudah tau aku akan bertanya apa. Dia hanya tersenyum dan mengangguk.
Tak kerasa malam makin larut. Aku bisa merasakan energi di kota ini yang begitu lembut. Di malam hari yang tenang ini. Hanya terdengar suara jangkrik dan sesekali suara sepeda memecah keheningan. Kakek itu terus bercerita tentang kota ini. Sesekali terlihat air matanya ingin keluar namun di menahannya dan terus melanjutkan ceritanya. Dia pun menjawab seluruh pertanyaanku. Kita ini memang tempat yang harus aku tuju. Dan benar bahwa insiden [xxxx] terjadi disini. Aku dikirim kesini untuk membawa pulang—DUAR. Terdengar ledakan dahsyat dari arah kota yang ditutup tadi. Refleks aku berdiri dan menoleh ke arah tersebut. Tanganku dalam posisi siaga, aku lupa saat ini aku sedang tidak membawa senjataku. Kakek tersebut hanya duduk di bangku. Tangannya menggenggam erat senderan bahu, dia sudah bersiap akan apapun yang terjadi. Dia hanya menutup mata sambil bergumam membaca mantra. Hanya beberapa milidetik dari suara tadi berhembus angin yang sangat kencang dari arah yang sama. Aku hampir kehilangan kuda kudaku menahan terpaan angin itu.
"Selesaikanlah misimu nak!" Aku mendengar suara kakek itu. Dia tidak sanggup membuka matanya karena ketakutan. Aku menghampirinya.
"Tenang saja kek." Kupegang bahunya. Aku memberikan sedikit energi agar kakek itu tenang. Dia melemaskan genggamannya.
"Semua akan baik baik saja." Aku berkata pada kakek. Dia menoleh ke arahku dan memasang ekspresi seolah berkata dia percaya sepenuhnya kepadaku.
Aku dengan sekuat tenaga berlari ke arah penginapan. Sesekali kurapalkan mantra agar bisa berlari lebih cepat. Di depan penginapan terlihat resepsionis memegang perlengkapanku.
"Andryyy..!! Ambil inii..!!" Dia melemparkan pedangku yang masih di dalam sarungnya. Aku menangkapnya dengan satu tanganku. Sensasi familiar apa ini. Aku merasa pernah melakukan ini. Mulutku pun bergerak sendiri.
"Makasih Clara!!" Ntah pikiran darimana aku memanggilnya Clara. Apakah aku sempat melihat namanya, aku juga tidak tau. Fokusku melanjutkan lariku ke arah jalan tadi. Clara mengikutiku dari belakang, dia membawa tongkat sepanjang badannya. Bentuk tongkatnya lebih detail, seperti anyaman dari akar akar pohon. Di atasnya terdapat kristal berhentuk bulan yang bersinar sama dengan dengan matanya. Dia menggunakan jubah yang lebih pendek dan terlihat sangat cocok dengan gaya berpakaiannya. Aku terkejut walau tubuhnya kecil begitu dia bisa mengikuti ritmeku berlari.
Kita berhenti tepat di jalan tadi. Mataku seolah menipuku. Gedung yang tadi kokoh sekarang hanya tinggal reruntuhan. Api ungu tadi sekarang ada dimana mana. Aku tidak bisa melihat orang orang berjubah tadi. Seperti gedung yang tadi kokoh, orang itu pun menghilang
"Haa.. haa..." Clara mengambil nafas sembari memberikan barangku.
"Maaf mengambil barangmu tanpa ijin." Aku mengambil barangku dan langsung memakainya.
"Tak apa, itu sangat membantu sekali." Aku tidak ingin banyak berpikir, saat ini fokusku mencari sumber ledakan.
Bahkan di saat seperti ini warga begitu tenang. Mereka dengan tenang mengungsi ke tempat yang lebih aman. Seolah olah kejadian ini hanya hal biasa disini.
"Kau tau namaku Clara...? Aanu..." Dia seperti ingin mengatakan sesuatu namun terhenti.
"Sepertinya aku sempat membaca namamu di meja resepsionis." Jawabku. Mungkin disaat dia sibuk aku sempat melihat namanya di buku itu. Aku aja yang lupa. Dia hanya memasang wajah 'oh benar juga'. Terdengar suara bebatuan. Kami pun langsung siaga. Tanganku berada di gagang pedang bersiap untuk mengeluarkan pedangku. Clara pun terlihat bersiap membaca mantera.
"Tak perlu khawatir." Aku kenal suara ini. Ini suara pria penjaga tadi. Mataku berusaha mencari sosoknya di reruntuhan.
"Clara..." Seperti kabut, sosoknya muncul tepat di hadapan kami secara perlahan. Dia membelakangi kami, jubahnya masih bagus tapi banyak api ungu. Api itu tidak membakar jubah tersebut malah terlihat seperti menempeli badan layaknya lintah. Dia menoleh ke arah Clara.
"Rapalkan mantra [xxx] bersamaan dengan para Mage." Pinta penjaga tadi.
Clara pun merubah posisinya. Sekarang dia berdiri tegak memegang tongkat dengan kedua tangannya. Kristal pada tongkat nya yang berdiri tegak menyentuh tanah perlahan bersinar terang. Muncul lingkaran magic di bawah Clara. Warnanya biru dan sangat terang. Energi berkumpul di sekitarnya menyebabkan jubahnya melambai lambai dengan sangat kuat. Mage lain pun perlahan terlihat dari balik kegelapan. Mereka semua sibuk mematikan api dengan mantra mereka. Energi terasa penuh dan berkumpul di tempat itu. Dari tengah jalan terlihat api yang tadi begitu besar mulai berlahan mengecil. Pria tadi berjalan ke tengah kobaran api. Dia mengangkat tongkatnya tinggi tinggi.
Angin berhembus sangat kencang ke arahnya. Dalam waktu yang singkat dia menjadi pusat dari angin topan api ungu. Api yang tadi tersebar mulai berkumpul ke sekitarnya. Pemandangan ini hanya berlangsung beberapa menit. Aku hanya dia terkagum melihat pertunjukkan cahaya di bawah sinarnya bulan. Energi pun mulai terpusat ke tengah tepat di atas pria tadi. Dari tornado api yang kuat perlahan berubah menjadi lingkaran api ungu.
Seolah ada matahari kecil di atasnya. Segera setelah api itu mulai stabil, dia memberikan isyarat ke seluruh mage. Mereka membuka belakang botol kaca setinggi perut orang dewasa. Api ungu yang tadinya berkumpul di atas pria tadi berpindah ke botol botol dengan indahnya. Para mage pun dengan sigap menutup botol segera setelah botol itu penuh. Keadaan pun kembali tenang. Hanya sisa segenggam api di atas tangan pria tadi. Mage mage membersihkan sisa kekacauan dan membawa botol kaca tadi dengan gerobak.
Clara pun menghetikan rapalannya. Dia terlihat kelelahan setelah menggunakan banyak energi untuk membuat barrier agar api tidak menyebar keluar. Pria tadi menghampiri kami.
"Maaf sudah membuat kekacauan." Kali ini aku bisa melihat wajah pria tadi. Dia terlihat lebih tua dariku 10 tahun. Kumisnya membuat dia terlihat makin tua.
"Namaku Clint." Dia tersenyum. Dengan gagahnya dia memamerkan api ungu yang baru saja dia kumpulkan.
"Aku Andry." Jawabku.
"Harusnya malam ini tidak ada pertunjukkan cahaya. Sepertinya ada orang yang salah membawa kertas sihir." Dia meninggikan nada bicaranya.
"Maaf." Terdengar suara orang yang lebih muda dari kejauhan.
"Jangan diulangi!" Dia menoleh sebentar ke sumber suara.
"Kalau begitu aku pamit dulu, sepertinya keadaan sudah aman." Kataku, sembari melihat Clara yang mulai sempoyongan.
"Terima kasih karena sudah repot repot kesini. Tolong antar kembali Clara." Balasnya. Aku pun memandu Clara kembali ke penginapan. Kuberikan energiku agar Clara dapat berjalan lebih tegak.
"Terima.. kasih..." Jawabnya sambil memegang kepalanya karena kelelahan.
Malam itu berakhir dengan tenang. Sepertinya aku harus melanjutkan tugasku besok siang. Segera kuantarkan Clara ke nenek yang sudah menunggunya di depan penginapan.
"Cucu pintaaarr.." Nenek sedikit mencubitku sembari membawa clara. Dia menuntunnya ke dalam penginapan. Aku berjalan menuju ruang makan. Aku duduk disana sendirian menatap ke atas sambil menutup mata. Tamu tamu sudah kembali ke kamar segera setelah apinya padam. Mereka kembali melanjutkan aktifas mereka masing masing. Kepalaku dipenuhi banyak pertanyaan. Bagaimana bisa mereka setenang ini dihadapan kejadian barusan. Kemana penjaga kota, kenapa hanya ada mage dan warga biasa disini. Kalau kota ini tidak aman, kenapa mereka tidak segera pindah.
"Sudah.. Jangan banyak pikir." Secangkir coklat hangat diletakkan di depanku. Aku kembali membuka mataku melihat nenek sudah duduk di depanku.
"Ahh nek—" Belum selesai aku berbicara, nenek memotong pembicaraanku.
"Panggil saja Oma Naya." Dia berbicara dengan tenang.
"Tenang saja, semua pertanyaan akan terjawab besok," Aku hanya diam mendengarnya.
"Besok mereka akan pulang." Lanjut Oma Naya.
"Umm.. mereka siapa?" Tanyaku kebingungan.
"Orang tua Clara." Kata oma. Aku hanya membalas dengan tatapan makin bingung.
"Mereka yang bertugas menjaga desa dari serangan naga." Seolah tau apa yang kucari, nenek pun melanjutkan pembicaraannya.
"Kota ini sangat percaya dengan pasukan penjaga." Oma berbicara seolah bisa melihat mereka melindungi kota dengan gagah berani.
"Bahkan kejadian barusan bisa ditangani dengan baik kan?" Tanya oma.
"Iya, mage disini sangat kuat." Jawabku.
"Begitupun dirimu." Oma menjawab singkat sambil berdiri berjalan menuju resepsionis.
"!? Makasih oma."
"Segeralah tidur, kalian butuh istirahat." Oma berjalan meninggalkanku sendirian. Aku pun menghabiskan coklat tadi dan segera beristirahat di kamar.
...
...
...
Berakhir sampai disini? Aku masih ingat kejadian apa yg terjadi selanjutnya... aku tidak yakin.. apakah aku harus melanjutkan ceritaku.. kupikir ini hanya mimpi, aku tidak perlu banyak memikirkannya. Segera akan kuseleseikan cerita ini... terima kasih sudah mampir disini...
