Prolog
.
.
.
oO)-=-=-=-o-=-=-=-(Oo
Otome game "Mr. Love: Queen's Choice/Dream Date" beserta seluruh karakter di dalamnya adalah milik Elex©
Fanfiction "DRiFTER" ditulis oleh kurohimeNoir. Penulis tidak mengambil keuntungan material apa pun atas fanfiction ini.
AU. Fantasy Action Drama Humor. Maybe OOC.
oO)-=-=-=-o-=-=-=-(Oo
.
.
Langkah-langkah berat terangkat dan terbenam kembali. Pasir, pasir, dan pasir sejauh mata memandang. Namun, pemuda itu tetap bergerak maju, walau lambat. Hanya sedikit dari penampilannya yang terlihat, di balik jubah cokelat muda bertudung yang melindunginya dari sengatan mentari.
Untung saja hari masih pagi. Setidaknya dia tidak terlalu kepanasan di gurun tak berujung ini.
Dengan kesabaran dan keuletan tiada tara, dalam beberapa menit dia telah tiba di kawasan yang sepertinya dekat dengan oasis. Pasir yang berkurang, tanah yang memadat, serta hawa kesejukan, adalah tanda-tanda alam tak terbantahkan.
Pemuda itu mengangkat kepalanya sedikit. Tak jauh di depan memang sudah terlihat. Kehijauan dan bebatuan. Tentu saja, pasti ada air di sana. Dan, kali ini, instingnya yang sudah terlatih di berbagai medan, dapat membedakan bahwa itu bukanlah fatamorgana.
"Yes! Akhirnya—"
Seruan kegembiraan itu harus terhenti. Dalam jeda sepersekian detik, sang pemuda melompat ke belakang demi merasakan bahaya. Samar-samar dia melihat cahaya hijau-biru tipis telah memelesat, mengenai tanah berpasir tempatnya berpijak tadi.
Si pemuda merasakan bahaya belum berakhir. Benar saja, nalurinya yang tajam memberitahu datangnya serangan-serangan berikutnya. Ia memilih menghindar secara zig-zag, dalam rute yang tidak pasti, sambil merangsek ke depan.
"Heh! Penembak jitu, ya~"
Dia menambah kecepatannya, sembari terus bergerak maju. Sejauh ini, tak ada satu pun tembakan yang mengenai sasaran. Pemuda itu bergerak ke samping kanan depan, lantas ke kiri depan. Setelahnya, dia memutuskan untuk memelesat maju.
Pada saat itulah, serangan berikutnya mengincar di tempat yang tepat!
Alih-alih panik, pemuda itu justru menyeringai. Ia berhenti, dengan cepat pasang kuda-kuda, untuk kemudian melepaskan satu tendangan memutar dengan sekuat tenaga.
"Counter!"
Berbarengan dengan seruan itu, tendangannya beradu dengan tembakan cahaya dari lawan. Namun, bukan hanya itu. Sekeliling kakinya yang menendang, tampak seperti diliputi perisai energi tipis, nyaris tak kasatmata.
Dalam sekedipan mata, si pemuda melihat cahaya hijau-biru tipis itu dibalikkan ke satu arah. Ia pun tersenyum lebar.
"Bingo!"
Tanpa membuang waktu, pemuda itu kembali bergerak. Berlari secepat yang ia bisa, mengikuti arah tembakan tadi dibalikkan!
.
oO)-=-=-=-o-=-=-=-(Oo
.
Dengkus samar terdengar ketika sosok bertudung kelabu itu melihat targetnya menghindar di depan mata. Tidak banyak yang bisa melakukan itu, tentu saja. Tampaknya orang yang baru saja datang mendekati oasis tempatnya bersembunyi ini, bukanlah orang biasa.
Pertanyaannya, siapa dia?
Dari balik batu besar yang merupakan posisi paling strategis baginya saat ini, sosok itu kembali mempersiapkan senapan laras panjang di tangannya. Senjata itu berwarna metalik, dengan lajur-lajur lurus berwarna hijau-biru, membentuk pola unik di seluruh badan senapan. Semuanya menyatu ke depan, dan berakhir di ujung laras senapan yang berbentuk segiempat.
Ketika orang itu mulai membidik, lajur-lajur hijau-biru mulai bercahaya. Dimulai dari pangkal yang bermuara pada pelatuk, lantas menyebar ke segala arah dengan sangat cepat. Hingga kemudian berakhir di moncong senapan. Pada saat itulah, peluru energi berwarna hijau-biru yang sama, akhirnya dimuntahkan. Memelesat mengejar target yang telah ditentukan.
Sang penembak jitu berdecak pelan ketika tembakan keduanya pun bisa dihindari. Begitu pula tembakan ketiga dan seterusnya. Target bergerak zig-zag secara acak, sulit diprediksi pergerakannya. Ia pun hanya bisa menembak mengikuti insting berburunya, tanpa berpikir.
Hingga pada satu kesempatan, akhirnya pergerakan target dapat terbaca di matanya. Gerakan lawan melambat? Namun, entah mengapa, ia juga merasakan setitik kegelisahan.
Apakah ada sesuatu yang direncanakan lawan?
Hal itulah yang pertama kali terlintas. Namun, tidak ada waktu untuk berpikir. Dia paham, saat ini, lawan dan juga dirinya sama-sama hanya mengandalkan naluri. Siapa yang lebih cepat dan tepat mengambil keputusan, dialah yang akan menang.
Kemudian, kesempatan itu akhirnya datang. Setelah bergerak ke kiri dan ke kanan, targetnya bergerak maju. Tepat di arah yang telah dikuncinya. Tanpa keraguan, pelatuk kembali ditarik. Tembakan kali ini, ia yakin tidak akan meleset!
Peluru energi bergerak membelah udara dengan kecepatan yang mustahil diikuti mata normal. Ketika sang penembak jitu yakin tinggal menunggu targetnya tumbang, ternyata orang itu melakukan sesuatu yang tidak disangka-sangka.
Dia mengambil ancang-ancang secepat kilat, lantas melepaskan tendangan memutar. Tepat mengenai peluru energi yang memelesat dengan kecepatan tinggi. Dari balik teleskop pembidiknya, sang penembak jitu dapat melihat medan energi tipis yang tercipta di sekitar kaki lawannya.
"Counter!"
Terdengar seruan samar lawan dari kejauhan. Sosok berjubah kelabu itu tersentak saat menyadari peluru energinya telah dibalikkan, memelesat kembali ke arahnya.
Refleks, ia menaikkan tangan kanan. Di sekelilingnya, medan energi terbentuk. Nyaris transparan. Tepat sebelum peluru energi mengenai dirinya. Sekali lagi, ia tersentak ketika medan energinya goyah menahan serangan. Memang, ia hanya menggunakan tenaga sekadarnya, karena tahu sebesar apa kekuatan tembakannya. Namun, ternyata, lesatan peluru energi yang dibalikkan itu telah menjadi dua kali lebih kuat!
"Kh!"
Beruntung, dia masih sempat memperkuat medan energi pelindungnya. Serangan balik lawan pun dimentahkan. Namun, pada saat yang sama, lawan ternyata telah bergerak sangat dekat ke arahnya.
Ia pun kembali mempersiapkan senjatanya secepat mungkin, tetapi tetap terlambat. Ujung senapannya tepat waktu untuk mengancam jantung lawan yang tahu-tahu sudah berdiri di depannya. Namun, lawan juga telah menodongkan sebuah pistol, tepat mengincar kepalanya.
Jelas bukan pistol biasa. Memiliki warna metalik yang sama dengan senapan miliknya. Juga memiliki lajur-lajur bercahaya yang mirip di badan pistol tersebut, hanya berbeda pola, serta warnanya yang kuning keemasan.
"Aku menemukanmu," sang lawan berkata, "Tuan Penembak Jitu."
Sepasang mata beriris lavender itu menajam. Segala gerakan terkunci. Bukan hanya dirinya, tetapi juga orang di hadapannya. Tepatnya seorang pemuda yang tak jauh usianya dari dirinya sendiri. Ia mengenakan jubah bepergian sewarna pasir. Tudung jubah itu telah terbuka sewaktu si pemuda memelesat mendekat. Memperlihatkan rambut pendek dan bola mata yang sama-sama berwarna cokelat susu.
"Rupanya aku terlalu meremehkanmu," sang penembak jitu berkata dengan suaranya yang terdengar lembut, sekaligus dingin mengancam. "Jadi bagaimana sekarang? Apa kita akan menarik pelatuk masing-masing dan mati bersama?"
"Heeeh ...? Tunggu, tunggu!"
Sepasang mata beriris cokelat susu itu membulat. Tak lepas memandang si penembak jitu yang masih bergeming. Sebagian wajahnya di bagian bawah tertutupi oleh jubah kelabu, sehingga keseluruhan ekspresinya tersembunyi. Namun, di sisi lain, hal itu juga memperkuat tatapan tajam lurus nan mengintimidasi, membuat lawan bicaranya sedikit bergidik ngeri.
Orang itu tidak main-main dengan ucapannya!
"Sebelum itu," si pemuda melanjutkan ucapannya, "aku ingin bertanya, kenapa kau menyerangku?"
Tatapan yang sudah tajam itu makin menajam. "Aku yang seharusnya bertanya. Siapa kau? Dari klan mana?"
"Hah? Klan?"
Sang pemuda terdiam sejenak. Sebuah pemahaman perlahan terbentuk di benaknya.
"Ah, sepertinya kau salah paham. Aku bukan dari klan mana pun." Pemuda itu melonggarkan todongan pistolnya, tetapi masih belum yakin untuk menarik senjatanya kembali. "Aku seorang Drifter, panggil saja Minor. Sebenarnya ... aku di sini untuk mengantar barang, atas nama Ares. Katanya mau ketemuan di sekitar sini?"
Pemuda bernama Minor itu mendadak terdiam.
"Tunggu," katanya sedetik kemudian. "Kenapa aku harus mengatakan itu padamu!"
Minor menatap heran ketika sang penembak jitu kemudian menarik senapannya kembali. Ia pun melakukan hal yang sama.
"Oh," sang penembak jitu berkata kalem. "Itu aku."
"Hah?" Minor terbengong. "Tunggu ... Maksudmu, kau Ares?"
Alih-alih menjawab, orang itu memberi isyarat supaya Minor segera bersembunyi. Meski bertanya-tanya, Minor menurut saja. Ia ikut bersembunyi di balik bebatuan besar, dikelilingi pepohonan dan semak. Sementara, sang penembak jitu yang ternyata bernama Ares itu kembali mempersiapkan senapannya.
"Datang," katanya, masih dingin.
Minor mengerutkan kening. "Apa? Siapa?"
Sepasang iris lavender itu berkilat. Walau masih tak bisa melihat ekspresi Ares, mau tak mau Minor merinding dibuatnya.
"Tak kusangka, mereka akan memakan umpannya," Ares bergumam, lebih kepada dirinya sendiri. "LFG."
"Apa?! LFG?! Kau—" Minor terbelalak syok, nyaris kehilangan kata-kata. "Kau bermasalah dengan LFG?!"
Ares hanya mendengkus samar. Matanya sudah terfokus kepada teleskop pembidik. Minor masih setengah syok, tetapi segera menyadari bahwa dirinya baru saja terseret ke dalam sesuatu-entah-apa yang akan sangat merepotkan.
Siapa yang tidak tahu LFG? Satu dari empat klan terkuat yang pernah ada. Yang jelas, tidak ada satu orang pun yang akan sengaja mau mencari masalah dengan mereka.
"Hei!" Minor berkata dengan nada memprotes. "Aku ini hanya Drifter yang sehari-hari bekerja mengantar barang. Aku tidak peduli kau ada masalah apa dengan LFG, tapi jangan libatkan aku!"
Rasanya Minor ingin berkata kasar ketika setelah itu Ares mengabaikannya. Sambil menggeretakkan rahang menahan kesal, ia lalu memandang berkeliling. Hanya ada kepulan debu di satu arah, tepat di depan dari arah pandangnya. Kalau itu memang LFG yang datang, saat ini posisi mereka masih cukup jauh.
"Masih ada cukup waktu untuk pergi dari sini!" Minor menyuarakan pikirannya. "Kalau bergerak ke arah yang berlawanan—"
"Aku tidak akan melakukan itu kalau jadi kau," tiba-tiba Ares menyela, masih sambil membidik dengan tenang.
"Haah? Kenapa?"
"Aku memang sengaja memancing mereka kemari. Klan sekelas LFG, mustahil tidak menyadari bahwa ini jebakan. Tapi mereka tetap datang. Itu artinya ..."
Ares tak kunjung melanjutkan ucapannya.
"Oi." Minor langsung pasang muka datar. "Kalau ngomong jangan setengah-setengah, dong."
"Itu artinya," ketika Ares kembali bicara, Minor berani bersumpah melihat kilatan antusias di matanya, "kemungkinan besar tempat ini sudah dikepung."
Minor bengong sedetik. "APA?!"
Lagi-lagi Ares mengabaikan Minor. Melalui teleskop pembidiknya, dia melihat sesuatu yang sangat menarik.
"Oh?" Ada senyum di matanya. "Sampai Leader LFG juga datang."
"Hah?! Mana, mana?"
Minor ikut heboh. Dia cepat-cepat mengambil sebuah teropong dari dalam tas pinggangnya. Benar saja, melalui teropong itu, dia bisa melihat sosok yang sangat mengesankan hanya dalam sekali lihat. Nyaris berpenampilan serba hitam, dengan jubah hitamnya yang berkibar.
"Dia nggak kepanasan apa, pakai hitam-hitam begitu di gurun pasir? WOAH! ITU APAAN? DIA NAIK UNTA?!" Minor berkomentar spontan. "Ck! Bukan itu masalahnya! Kenapa sampai leader mereka ikutan datang?!"
"Simpel," sahut Ares. "Alasannya adalah paket yang kaubawa untukku."
"Hah? Memang apa isinya?"
Ares mendengkus samar. "Artefak kelas A."
Minor speechless seketika. Artefak itu sendiri sudah merupakan barang langka yang diperebutkan banyak pihak. Sudah begitu, kelas A, pula.
Orang gila mana yang mengirim artefak kelas A lewat kurir, coba?!
Jeritan hati Minor tampaknya percuma saja. Dia hanya bisa pasrah, terjebak di dalam pusaran kekacauan semacam ini di tengah-tengah padang pasir tak berperasaan.
"Tenang saja," kata Ares kemudian. "Kau cuma Drifter pengantar barang. LFG tidak akan memperpanjang masalah denganmu. Kalaupun tertangkap, nggak bakal mati, kok—"
"NGGAK BAKAL MATI, KEPALAMU!"
Ares tertawa kecil. Bagi Minor, tawa itu terdengar mengerikan.
Detik selanjutnya, lajur-lajur hijau-biru di senapan Ares sudah menyala. Namun, kali ini dia tidak langsung menembak. Beberapa sentimeter di depan moncong senapan, muncul semacam lingkaran cahaya yang melayang vertikal. Ukurannya kecil—kira-kira seukuran piring—berwarna hijau-biru, serta memiliki pola-pola unik, seperti kumpulan kurva dan huruf-huruf asing. Bukan hanya satu, muncul lingkaran-lingkaran lain yang sama di sekelilingnya dalam jeda waktu yang sangat singkat.
"Itu ... Segel Rune?" Mau tak mau, Minor terkagum-kagum. "Senjatamu juga artefak kelas atas, ternyata."
Ares tidak menanggapi. Sementara, Minor mulai merasa antusias di antara ketegangannya. Senjata artefak, apalagi kelas atas, sudah tentu punya kekuatan luar biasa. Namun, mampu menggunakannya sampai sejauh ini, menunjukkan bahwa Ares bukanlah orang biasa.
Setelah sembilan lingkaran rune muncul, darinya masing-masing memelesat satu tembakan cahaya. Lebih kuat daripada tembakan yang dimuntahkan langsung dari moncong senapan. Sembilan serangan ini bergerak secepat kilat, menyasar para anggota LFG nun jauh di sana.
Termasuk pemimpinnya!
Satu-dua detik berlalu. Minor ternganga, hampir tak bisa memercayai penglihatannya. Seharusnya kesembilan serangan itu sudah menemui targetnya sekarang. Namun, entah bagaimana, tiba-tiba saja rombongan LFG sudah berada di depan. Sedangkan kesembilan serangan tadi, hanya mengenai sasaran kosong di belakang mereka.
"A-Apa?!" Minor berusaha memfokuskan pandangannya melalui teropong. "Apa yang terjadi?! Kok bisa ... mereka tiba-tiba sudah ada di depan?"
Sementara, di samping Minor, Ares masih tetap tenang. Dia menghela napas samar. Cahaya pada senapannya pun menghilang.
"Seperti dugaanku," katanya. "Ini adalah ... Evol milik Leader LFG."
"Hah?"
Ketika Minor masih bertanya-tanya, Ares membereskan senjatanya.
"Kita pergi."
Minor mengerutkan kening. "Kau menyerah?"
"Tujuanku bukan untuk bertarung. Aku sudah melihat apa yang ingin kulihat."
"Ya terserahlah, bukan urusanku juga." Sampai di sini, Minor teringat sesuatu. "Tapi bukannya kau bilang, kita sudah terkepung? Mau pergi ke arah mana?"
"Tidak ke arah mana-mana."
Tanpa menghiraukan muka bodoh Minor yang tampak kebingungan, Ares mengulurkan tangan kanannya lurus-lurus ke depan, dengan telapak terbuka lebar.
Nyaris tanpa jeda, di depan telapak tangannya muncul lingkaran cahaya yang melayang vertikal. Berwarna putih, dan memiliki pola-pola garis serta huruf asing—rune—yang rumit. Ukurannya sama seperti lingkaran hijau yang sebelumnya dibuat Ares menggunakan senjatanya.
"Heee? Kau juga bisa membuat ruang dimensi penyimpanan?" komentar Minor ketika mengenali jenis segel rune yang baru saja dibuat Ares. "Kau menggunakan artefak lain lagi, ya? Berapa banyak sebenarnya koleksi artefak milikmu?"
Ares tidak menyahut. Minor cukup kagum menyaksikan bagaimana Ares memasukkan senapannya ke dalam lingkaran cahaya putih, lantas membiarkannya menghilang. Minor tidak memiliki artefak yang bisa membuka ruang dimensi penyimpanan seperti ini. Namun, benda seperti itu lazim digunakan karena praktis. Biasanya berupa aksesoris seperti cincin, gelang, dan sebagainya, yang tidak tampak mencolok ketika dipakai.
"Eh?"
Mata Minor membulat setelah itu, ketika menyadari Ares masih membiarkan tangannya terulur ke depan. Kali ini, tidak muncul lingkaran cahaya berpola apa pun. Sebagai gantinya, beberapa langkah di hadapan, terbentuk semacam dinding cahaya putih berbentuk segiempat.
"Ini ... portal?" tanya Minor.
Lagi-lagi tak ada jawaban. Sebelum Minor sempat bertanya lebih lanjut, Ares sudah melangkah masuk ke dalam portal itu. Dan Minor tak punya pilihan selain mengikutinya.
.
oO)-=-=-=-o-=-=-=-(Oo
.
Ketika membuka matanya lagi setelah harus menutupnya akibat cahaya yang terlalu terang, Minor mendapati dirinya sudah berada di depan gerbang megah yang sangat familier. Dia sangat tahu, di balik gerbang itu, adalah sebuah kota paling hidup yang pernah ditemuinya. Kota yang tak pernah tidur. Dan juga kota yang sekarang menjadi rumah baginya.
Loveland City.
Dan Minor juga sangat tahu, seberapa jauhnya kota ini dari gurun pasir tempatnya berada tadi.
Minor mengarahkan pandang kepada Ares, bermaksud untuk bertanya. Namun, lelaki itu malah mengulurkan tangan kanan ke arahnya, dengan gestur seperti meminta sesuatu.
"Apa?" Minor mengerutkan kening.
"Paketku."
Jawaban datar Ares membuat Minor ingin tepok jidat.
"Oh, iya. Sori."
Minor segera mengambil sebuah benda dari dalam tas selempang hitam miliknya. Seukuran kotak sepatu, dengan kertas pembungkus sederhana berwarna cokelat terang.
"Tolong tandatangani tanda terimanya," kata Minor setelah paket berpindah tangan.
Segera setelah semua urusan beres, Ares berlalu. Minor mengawasinya hingga laki-laki itu berjalan melalui gerbang kota, lantas menghilang di kerumunan.
Minor baru menyadari dirinya sedang menahan napas, entah sejak kapan. Ia pun menghelanya perlahan.
"Astaga, tegang bangeeet~"
Pemuda yang tahun ini menginjak usia 20 itu baru merasakan lututnya melemas. Apa-apaan itu tadi? Nyaris terlibat masalah dengan klan besar seperti LFG, jelas tidak pernah masuk ke dalam perjanjian kerjanya.
"Dasar, klien nggak ada akhlak!"
Minor menggerutu sendiri. Ia mulai merasa, bayarannya untuk pekerjaan kali ini tidak sepadan.
"Hmmm ... Tapi ... Ares, Ares ... Sepertinya aku pernah dengar nama itu ... Di mana, ya?"
Pemuda itu terdiam dengan kening berkerut-kerut. Sampai semenit lewat, akhirnya dia menyerah.
"Aaargh! Masa bodoh!" serunya kemudian. "Pokoknya, kuharap aku nggak akan ketemu dia lagi."
Sang Drifter pengantar barang pun mulai melangkahkan kakinya memasuki gerbang kota. Dia belum tahu, masa depan seperti apa yang akan menunggunya nanti.
Termasuk harapannya, yang mungkin saja tidak akan terkabulkan.
.
.
.
Trivia
Rune
Alfabet Rune ialah sekumpulan huruf yang dahulu digunakan untuk menuliskan bahasa Jermanik, khususnya di Skandinavia dan Kepulauan Britania sebelum datangnya Kristen. Variannya di Skandinavia biasa disebut sebagai Futhark dan di Inggris kuno sering disebut sebagai Futhorc akibat perubahan suara.
Di dalam kisah ini, Rune adalah huruf kuno yang lazim digunakan untuk membuat segel magis.
Segel Rune
Segel Rune adalah istilah yang digunakan di dalam cerita ini untuk menyebut segel/pola-pola magis yang diciptakan untuk mengaktifkan kekuatan artefak.
Wujud Segel Rune sama seperti apa yang biasanya kita kenal sebagai lingkaran sihir/magic circle, sigil, dsb.
.
.
* Author's Note *
.
Hai, haiii~! \(^o^)
Noir di sini, membawakan fanfiksi Alternate Universe (AU) multi-chapter pertamanya untuk fandom Mr. Love. Kembali ke akarnya dengan genre fantasi aksi. 👀✨
Dah lama juga nggak nulis genre ini. Semoga para pembaca bisa menikmati. Hmmm ... Maunya ada humor juga, sih. Sementara masih begini aja humornya. Tapi semoga ke depannya nanti bisa ditambah porsi humornya. 😆😂
Oh ya, masih ada Extra nih, di bawah.
Makasiiih buat semua yang udah baca sampai sini. Sampai jumpa lagi di chapter pertama. Segera~ 😁👌
.
Regards,
kurohimeNoir
10.02.2021
.
.
.
Extra
.
.
.
Di sebuah ruangan temaram, jam dinding berdetak tanpa ditemani suara apa pun. Ruangan itu tampak cukup suram. Hanya terisi beberapa perabot biasa berpelitur, seperti meja kerja, lemari, dan rak.
Satu kursi hitam empuk di balik meja lah yang cukup menarik perhatian, dengan seorang pria berpakaian serba hitam yang sedang duduk bersandar di sana. Ia tengah membaca sebuah berkas yang tebalnya tak lebih dari sepuluh lembar. Sementara, kedua kakinya terjulur lurus, dinaikkan seenaknya ke atas meja.
Pria itu sendiri memiliki penampilan yang cukup mengesankan. Aura keras bercampur dengan wibawa, yang membuat orang akan langsung merasakan tekanan ketika melihatnya. Ditambah lagi, wajah bermata tajam yang memiliki tanda lahir besar—sekilas mirip bekas luka—di sebelah kanan wajahnya. Tepat di area sekitar mata.
"Hm?"
Pria itu teralih dari berkasnya. Ia mengerutkan kening, lantas menurunkan kakinya dari atas meja. Tak jauh di hadapannya, tiba-tiba saja muncul semacam portal bercahaya putih. Reaksi pria itu tak lebih dari sebuah senyum samar nan sinis.
Seseorang melangkah keluar melalui portal. Kemudian berjalan perlahan mendekati meja.
"Memangnya kau tidak bisa ya, masuk ke sini seperti orang normal pada umumnya," pria yang memiliki tanda lahir di wajahnya itu berkata, "Ares?"
Ares yang baru saja datang melalui portal, tidak menanggapi. Membuat lawan bicaranya kembali buka suara.
"Seingatku, Home kami masih punya pintu—"
"Pemeriksaan keamanan kalian terlalu berbelit-belit," Ares memotong, dingin. "Aku sibuk."
Lawan bicaranya mendengkus pelan. "Sudah berkali-kali kubilang, 'kan? Akan jauh lebih mudah, kalau kau bergabung dengan Black Swan—"
"Tidak. Terima kasih."
Pria itu berjengit ketika ucapannya lagi-lagi dipotong. Namun, ia tidak mengatakan apa-apa lagi. Matanya bagai elang, mengawasi Ares yang mengeluarkan sebuah paket yang terbungkus kertas cokelat terang, dari balik jubah kelabunya. Ares meletakkan benda itu di atas meja.
"Utuh, tanpa kurang suatu apa pun." Sembari berkata datar, Ares mengeluarkan lagi satu amplop cokelat berukuran sedang. "Dan informasi yang kauminta."
Pria berbaju hitam itu memusatkan perhatian pada amplop cokelat, lantas mengambil dan langsung membukanya. Ia membaca berkas yang ada di dalamnya, dan seketika itu juga menampakkan ekspresi puas.
"Hoo ... Hebat sekali. Kau bisa mendapatkan info sedetil ini tentang LFG hanya dengan mengamati dari jauh."
Tatapan mata Ares menajam sedikit.
"Sesuai permintaanmu. Hanya dari jauh. Jangan berharap terlalu banyak."
"Tidak, tidak. Ini sudah lebih lengkap daripada info mana pun yang kami punya sekarang. Lagipula, mendekati mereka lebih dari ini akan berbahaya."
Pria itu membuka laci meja kerjanya. Ia mengambil dua amplop cokelat tua. Satu berukuran sedang, dan satu lagi berukuran lebih besar.
"Bayaranmu." Diserahkannya kedua benda itu kepada Ares. "Dan informasi yang kauinginkan."
"Oke, kuterima." Ares menyimpan kedua amplop itu di kantong bagian dalam jubah kelabunya. "Awas saja kalau ternyata kau memberiku informasi palsu."
Pria itu mendengkus sinis.
"Kaupikir aku ini siapa?" katanya. "Aku, Hades, selalu memegang kata-kataku."
"Baiklah. Urusanku sudah selesai di sini. Selamat tinggal."
Ares berbalik. Ia mengulurkan tangan ke depan, bersiap menciptakan portal. Namun, pria bernama Hades itu menahannya.
"Hei. Kau yakin tidak mau menerima tawaranku untuk bergabung?"
"Tidak."
Hades kembali mendengkus. "Kalau begitu, lain kali kita bisa bekerja sama lagi."
"Sekali ini saja aku membantu kalian. Hanya karena kalian punya informasi yang kuinginkan. Tidak usah berharap lebih."
"Hmmm ..."
Hades nyaris melepaskan tawanya yang tertahan. Ia lantas menumpukan kepalanya pada tangan kanan yang bertelekan sandaran lengan kursi.
Katanya kemudian, "Aku bisa membayar dua kali lipat dibandingkan tarif normalmu."
Ares tidak menyahut. Masih dengan tangan kanan terulur ke depan, akhirnya ia menciptakan portal.
"Mau jual mahal, ya?" Hades masih berkomentar. "Oke. Tiga kali lipat."
"Mau kaubayar sepuluh kali lipat pun, aku tidak mau berurusan lagi denganmu."
Hades terdiam sedetik.
"Dingin amat, Res."
"Dan jangan sok akrab memanggil namaku."
"Apa aku harus memanggilmu Lu—"
"Kubunuh kau, Aedes aegypti."
Hades benar-benar tergelak sekarang. "Kaupikir aku nyamuk?"
"Lebih mengganggu daripada itu."
Ares melangkah pergi. Meninggalkan Hades yang masih sempat menyerukan satu kalimat terakhir kepadanya.
"Sampai jumpa lagi, Ares!"
Tidak ada jawaban lagi, sampai sosok Ares menghilang ke dalam portal. Lantas semua cahaya, bersama dengan Ares, lenyap dari ruangan itu tanpa jejak.
.
.
.
Bersambung ...
