Chapter 4 : Married? Ohh No!

Love Accidentally?

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Pairing : Sasuke U. x Sakura H.

.

Welcome to my wor(l)d

.

.


Previous Chapter

Sasuke dan Sakura menandatangani surat perjanjian itu dan berjabat tangan tanda bahwa mereka saling setuju ide gila untuk menikah ini.

"Ngomong – ngomong bisakah kita berkenalan lagi?" ujar Sakura. Ia sebenarnya kepo dengan nama pantat ayam ini. Yakali dia menikah tanpa tau nama calon suaminya.

"Uchiha Sasuke"

"Haruno Sakura"

.

.

.

Sejak pagi hari kediaman Haruno sudah semrawut.

Mulai dari sang ibunda dari heroin kita yang sejak subuh sudah mondar mandir bak setrikaan dari ruang tamu – dapur – ruang tamu – kamar Sakura – dapur – wc – toilet – jamban – ruang tamu. Kemudian sang ayah yang menyendiri di pojok ruang keluarga menangisi foto masa kecil Sakura sembari meratapi nasib merasa gagal jadi ayah?. Lalu kakaknya – Sasori Haruno - yang malah asyik makan snack sambil menghitung berapa kali ibunya mondar mandir.

Sungguh random sekali.

Kemudian Sakura setelah ia didandani oleh Ino, ia kemudian mengganti pakaiannya.

Jangan tanya kenapa bukan penata rias yang mendandaninya dan malah sahabatnya sendiri yang mendandaninya. Itu karena ibunya amat sangat menganut prinsip ekonomi bahkan pada anak bungsunya yang mau menikah sekalipun. Biar hemat, kata ibunya. padahal yang lebih banyak mengeluarkan uang kan salon mertuanya. Ups

Sakura hanya menatap pantulan dirinya di cermin besar – walk in closet - tempatnya berganti pakaian. Dirinya yang dibalut dengan gaun pengantin berwarna putih bersih yang merekat pas ditubuhnya. Gaun itu tanpa lengan dengan aksen kain lace di bagian depan dan bagian punggung disertain dengan kancing berbentuk bola – bola. Gaun itu bertema vintage dan bagian bawahnya menyerupai huruf A yang masih ditambah dengan aksen kain lace dan kerlap kerlip.

Satu kata, Cantik. Itulah yang dapat mendeskripsikan penampilan Sakura sekarang. Dengan dirinya yang terbalut gaun pengantin, riasan wajahnya yang natural tapi tetap cantik dan rambutnya yang di curly karena berpotongan pendek serta mahkota bunga yang melengkapi penampilannya.

Kami-sama kenapa aku bisa secantik ini. Batin Sakura kepedean.

Sakura memang senang dengan penampilannya, tapi ia tetap tidak terima bahwa sebentar lagi ia akan menikahi si pantat ayam itu.

Oh tuhan salah apa dia di masa lalu?!.

Baru saja ia berhasil membuka tokonya. Baru saja ia memulai merencanakan masa depannya dan kue – kue kesayangannya. Tapi semua itu akan berubah beberapa jam lagi, disaat ia sah menyandang status sebagai istri dari si pantat ayam – yang sialnya tampan – sinting itu. Keren sih memang, tapi tetap saja dari dulu ia memimpikan menikah dengan pangeran berkuda putih menyilaukan yang tampan, romantis, humoris, penuh kejutan, sayang istri, lembut dan suka memakan kue buatan Sakura. Tidak seperti calon suaminya yang kasar, pelit, cerewet, dingin, muka triplek, semena- mena, benci makanan manis, dan tidak bisa diajak bercanda. Huh, mati saja sana.

"Sakura-chan, ayo nak kita berangkat"

Demi dewa! Itu suara ibunya. Omaigad. Ingin rasanya Sakura kabur tapi percuma mau lewat pintu sama saja bunuh diri bisa digantung dia sama ibunya, pura – pura sakit pun yang ada keluarganya malah lebay terus ia dibawa ke UGD, mau kabur lewat jendela? Oh itu lebih tidak mungkin lagi kamarnya di lantai 2 bisa – bisa mati muda nanti. Sakura masih perawan astaga.

Dengan segenap keteguhan hati yang tinggal seperempat, Sakura-pun keluar dari kamarnya dan berjalan menuju ruang tamu menemui ibunya. ia harus kuat.

Good bye masa lajangku.

.

.

.

Sasuke duduk di ruang tunggu dengan menopang dahinya. Ia gugup tentu saja. Walaupun cuma menikah setahun tapi tetap saja Ia akan menikah beberapa menit lagi. Saking gugupnya bahkan sejak pagi ia sudah bolak balik kamar mandi.

Keluarga calon mempelainya memang sudah datang beberapa menit lalu, dan bahkan para tamu sudah mulai memenuhi gedung pernikahannya. Disaat – saat seperti ini, Sasuke mulai berimajinasi yang macam macam mulai dari ia salah mengucapkan ijab, cincinnya tergelinding, sampai ia salah menikahi orang. Sungguh bukan Uchiha sekali.

Saat Sasuke masih berkutat dengan imajinasinya, Naruto menegurnya.

"Teme, kau gugup ya?"

"Hn. Tidak" sangkal Sasuke. Padahal mukanya sudah terlihat seperti menahan pup.

"Sudahlah tidak usah menyangkal. Gugup itu wajar apalagi saat akan menikah" ujar Naruto – tumben – bijak.

"Hn"

"Yasudah Teme, aku kesini untuk memanggilmu. Ayo upacara pernikahanmu akan dimulai"

"Hn. Baiklah"

.

.

.

Semua terjadi begitu saja, saat ini kurang beberapa langkah lagi Sakura akan sah melepas kejombloannya. Maniknya menatap sang ayah, yang menggandeng tangannya menuju sang suami. Ia mencoba memasang muka sememelas mungkin. Kali aja ayahnya berubah pikiran dan menggandengnya keluar.

"Ayah bangga padamu nak. Berbahagialah." Kizashi tersenyum haru. Tatapan memelas Sakura tadi tidak berhasil. Ayahnya malah mengira bahwa ia sedang menangis bahagia.

Sakura gugup ketika sampai ke pelaminan. Ia tahu kalau pernikahan bukanlah hal main – main. Tapi mau bagaimana lagi, nasi sudah menjadi soto. Tidak bisa diapa – apakan lagi. Jadi jalani sajalah. Batinnya pasrah.

Ketika pendeta mulai membuka suara, dan memulai janji suci pernikahan, maniknya terpaku menatap sosok pria tinggi tegap, mengenakan tuxedo putih lengkap dengan dasi hitam polos dengan rambutnya yang – tumben – tersisir rapi menambah nilai ketampanannya.

Makhluk sexy apa lagi ini?!.

Entah Sakura harus bersyukur atau tidak yang pasti sekarang ia baru saja menikah dengan jelmaan dewa yang ekstra tampan dan seksi. Ini super duper ekstra ultra rejeki namanya.

Manik oniks Sasukepun menatap intens makhluk pink disampingnya. Wajah cantik mulus, bibir kissable dan dibalut dengan gaun putih bersih. Yaampun makhluk imut apa ini?! ingin rasanya Sasuke menerkamnya dan mengurungnya dikamar.

Ingat rating Sas, ingat rating!

Sasukepun akhirnya memulai mengikrarkan janji suci pernikahannya dengan lantang tanpa ragu. Yang kemudian dilanjutkan dengan Sakura meski tidak lantang tapi dia mengucapkannya dengan lancar.

Dan saat – saat sial pun tiba,

Sial, Sakura lupa kalau akan ada sesi ciuman setelah prosesi tukar cincin. Dan sialnya ia belum menyiapkan mentalnya. Mau kaburpun percuma, yang ada seisi gedung malah heboh. Sakurapun hanya memelototi Sasuke seakan akan berkata 'Berani menyentuhku, Kubunuh Kau!'.

Tapi pelototannya pun percuma, yang ada pria tampan didepannya ini menyerigai.. dan oniksnya menatap mengilat nakal penuh nafsu. Oh Tuhan, jangan biarkan kepolosanku ternodai.

Sasuke mulai mendekatkan wajahnya, satu tangannya menahan tengkuk Sakura agar tidak kemana-mana sedangkan tangan satunya mendekatkan pinggang Sakura. Wajahnya sengaja dimiringkan, bersiap untuk melumat habis bibir gadis galak didepannya ini.

Sakura yang sudah terlanjur pasrah pun hanya memejamkan matanya. Ia berdoa semoga prosesi ciuman ini cepat berakhir.

Sampai akhirnya bibirnya menempel dengan sesuatu yang basah. Omaigad, inikah rasanya ciuman? Dengan suami ayamnya? Kok enak ya?

Batin Sakura mencoba sadar. Ini tidak boleh dibiarkan. Memang enak sih tapi sayang kita harus berpisah. Kelopak matanya terbuka, ia melihat jelas bahwa suami ayamnya ini masih bersemangat melumat habis bibirnya.

Ia pun menatap tajam dan berusaha menjauh, tapi apalah daya tenaganya kurang kuat. Yang ada malah si ayam ini semakin menghisap bibirnya dengan keras.

"Lepa-emph"

Karena Sakura sudah mulai kehabisan nafas ia pun berinisiatif untuk menginjak kaki suami kurang ajarnya ini. TRAK.

"Aduuuh" Sasuke akhirnya melepaskan tautan bibirnya. Iapun meringis memegang kakinya. Demi neptunus, apakah istrinya ini jelmaan hulk? Kenapa tenaganya bisa sekuat itu. ia rasa kaki seperti akan retak.

"Sasuke kau tidak apa – apa nak?" Tanya Mikoto khawatir karena tiba – tiba ia melihat Sasuke kesakitan.

"Hn. Tidak apa – apa"

Pendeta yang melihat kejadian itu kemudian berdeham dan berkata, " dengan ini kalian resmi menjadi sepasang suami istri"

Riuh tepuk tangan memenuhi seisi gedung. Ada yang haru da nada yang penuh sukacita.

"Kau, persiapkan dirimu. Aku akan membalasmu nanti. Uchiha Sakura" ujar Sasuke

GLEK.

Kami-sama, mimpi buruk apa lagi ini?!

.

.

.

Pesta pernikahanpun berlanjut diluar gedung pernikahan. Karena pada pesta pernikahan ini mengusung tema garden party jadilah sekarang Sakura yang sudah berganti gaun hanya berdiri lemas karena kelelahan. Yaampun ia sudah berdiri selama 3 jam?! TIGA JAM!

Belum lagi si suami ayam kurang ajarnya malah meninggalkannya dan malah asik – asik ngobrol dengan si duren, si mayat, dan si nanas. Awas kau ayam jelek. Pikir Sakura. Ia sudah memikirkan matang – matang rencana balas dendamnya ke Sasuke. Sakura menyerigai kejam.

Ah sudahlah daripada ia terus-terusan berdiri seperti patung pancoran, lebih baik ia menghampiri kedua orang tuanya yang sedang asyique bercengkrama dengan mertuanya.

"Ah, Saku-chan sini nak" ujar Mebuki – sok lembut – Sakura tahu ibunya hanya berpura – pura lembut agar dicap baik didepan mertuanya padahal aslinya boro – boro lembut yang ada Sakura selalu ditimpuk. Batin Sakura mulai durhaka.

"Iya Kaasan"

Mereka akhirnya berbincang mulai dari bagaimana masa kecil Sakura, Sasuke, makanan kesukaan Sasuke, koleksi- koleksi tomat Sasuke, sampai hal paling random seperti koleksi kolor Sasuke.

Astaga, keluarganya saja sudah cukup absurd eh ini ditambah keluarga suaminya juga lebih absurd.

Kenapa hidup Saku semengenaskan ini? Selalu dikelilingi makhluk random bin ajaib?

Kuatkan Saku yaa Tuhan.

.

.

.

Pembicaraan random mulai berakhir ketika Sasuke akhirnya menghampiri keluarganya. Ia bermaksud untuk mengajak Sakura untuk pulang karena tamu – tamu sudah mulai pulang. Tapi bukannya diijinkan untuk pamit mereka malah disandera dan ditanyai macam – macam soal malam pertama.

Demi Tuhan, Malam Pertama?! Ini bahkan belum malam dan mereka baru selesai menikah beberapa jam yang lallu dan sudah ditanyai malam pertama.

Memang keluarganya tidak ada yang normal. Batin Sasuke

"Tousan, Kaasan biarkan aku dan Sakura pulang ya. Kelihatannya Sakura sudah kelelahan" ujar Sasuke pamit. Nampaknya ia harus menggunakan tameng untuk keluar dari lingkaran setan ini.

Baru saja ia dan Sakura mulai keluar, ayahnya tiba – tiba menyela

"Oh iya Sasuke Sakura. Ayah ingin menyampaikan pesan dari kakekmu"

JDER.

Pesan? Dari kakeknya? Si tua Bangka yang rajin toning rambut itu?. apapun pesannya Sasuke yakin pasti tidak normal.

"Karena kakemu sedang traveling dan beliau tidak bisa datang ke pernikahanmu. Beliau mengucapkan selamat menempuh hidup baru cucuku sayang"

Fiuh. Tumben sekali kakek gokilnya normal.

"Iya, Tousan terima kasih. Aku akan menghubungi kakek nanti. Kalau begitu kami pamit dulu."

Baru satu langkah mereka berjalan, ayahnya kembali menginterupsi,

"Oh iya kakekmu juga berpesan agar ia segera memiliki cucu maksimal satu bulan lagi ya"

Sasuke maupun Sakura membeku seketika.

.

.

.

Seorang wanita mendorong kopernya menjauhi hiruk pikuk bandara. Rambutnya panjang dan bergelombang, tubuhnya langsing, bersepatu hak tinggi, dan ia mengenakan kacamata hitam. Ia mendorong kopernya hingga menuju taksi.

"Konoha Residence pak" ujarnya.

Disepanjang jalan ia hanya menatap jendela. Konoha sudah banyak berubah sejak terakhir kali ia menapakkan kaki. Wanita itupun membuka dompetnya, dan mengambil selembar foto. Ia memandangi foto itu dengan senyuman diwajahnya.

Sasuke-kun aku kembali. Batin wanita itu.


.

- TBC -

.


Hai haii, minnasaan…. Jumpa lagi nih di fic ini. Maapin ya kalau feelnya kurang kerasa. Maapin juga kalau updatenya lama. Sesunggunya author tidak menginginkan itu tapi apalah daya nasib berkata lain. BTW selamat membacaaaa

Balasan Review

shirazen : Setiap plot yg kaya gini bikin greget wkwkw perjanjian2 mereka.. Aduh Sasuke. Jgn sampe jauh cinta? Buat Sasuke Nyesel deh tuh sama perjanjiannya haaha

R : yang gregets lebih asoy soalnya.. wkwkwwk. Sasuke nyesel gak yaa.. liat nanti deh

LavCheIte : Lanjut!

R : Ini udah lanjutt yaaa.. keep reading :D


Sincelery,

Ten