Chapter 8 : War?

Love Accidentally?!

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Pairing : Sasuke U. x Sakura H.

.

Enjoy this chapter

.

.

"Don't choose the one who is "Beautiful" to the world but rather choose the one who makes your world beautiful."

.

.

Sudah seminggu berlalu semenjak kejadian hangusnya pernak pernik Upin Ipin kesayangan Sasuke. Dan selama itu pula, Sasuke sama sekali tidak mau menegur Sakura. Ngambek gitu ceritanya.

Jangankan menegur sapa, makan bersama pun tidak pernah. Setiap kali diajak sarapan, Sasuke selalu buru – buru berangkat ke kantor. Ada rapat katanya. Bahkan ketika pulangpun Sasuke selalu pulang terlambat dengan alasan masih rapat.

Hei, mana ada rapat dari pagi sampai malam gak berhenti – berhenti?

Ini si Sasuke tuh bossnya apa satpam dah. Masa tiap hari jagain kantor mulu.

Sakura menyadari bahwa Sasuke sedang merajuk karena kembar botak kesayangannya terbakar habis. Sebenarnya Sakura merasa bersalah sih karena sudah membakar habis seluruh pernak pernik kembar botak suaminya. Harusnya ia sisakan satu kali ya. Bukannya ia tidak peka atau apa hanya saja setiap kali Sakura berniat meminta maaf, Sasuke selalu menghindarinya dan buang muka.

Pernah nih ya satu kali ia meminta maaf langsung kepada Sasuke tapi langsung berakhir sakit hati.

"Sasuke-kuun maafkan aku ya. Aku menyesal melakukan hal – hal tercela pada kembar botak kesayanganmu."

"Maafkan aku ya ya please" pinta Sakura sambil memasang puppy eyes nya

"Siapa kau?"

Sungguh Sakura syok mendengar jawaban Sasuke. Siapa kau?. Bukan kata – kata iya aku maafkan atau tidak aku maafkan yang Sakura terima malah kata – kata siapa kau? Sungguh kejam kamu mas. Ini istrimu lho mas walaupun setahun doang. Sakit kokoro Sakura.

Apa yang harus kulakukan untuk menyogoknya?

AHA.

Sakura mendapatkan ide. Ia akan membuatkan sup tomat dengan ekstra tomat untuk makan siang suaminya. Ia berencana untuk mengantarkan makan siang sekaligus meminta maaf. Bahkan Sakura sudah memesan segala pernak pernik kembar botak sekaligus standee Upin Ipin berukuran manusia. Sungguh romantis dan peka sekali diriku.

Oh ayamku.. tunggu kedatanganku.

.

.

.

Sudah seminggu ini Sasuke menghindari Sakura, padahal ia tahu kalau istri pink-nya itu berusaha berulang kali minta maaf. Tapi emang dasar Sasuke baperan jadi ia memilih menghindari dan pura – pura buang muka setiap kali Sakura meminta maaf.

Sekali – kali ngambek biar istrinya peka. Batinnya.

Enak aja udah main ngebakar kembar kesayangannya terus asal minta maaf gitu aja? Enggak berusaha apa gitu kek. Peka kek. Ganti atau bikinin sesuatu yang bisa ngeluluhin hati Sasuke kek. Lha ini enggak.

Dasar jidat lampir.

"Nanti ngasih alasan apa lagi ya?" Pikir Sasuke. Ia memikirkan alasan apa lagi yang harus diberinya kepada Sakura supaya ia pulang telat lagi. Biar keliatan gitu effort ngambeknya.

Ditengah kegalauannya memikirkan alasan untuk pulang telat nanti, tiba – tiba pintu ruanganya terbuka.

"SASUKE-CHAN".

Sasuke menoleh dan ia melihat Matsuri sudah berada didepan pintu ruangannya. Sasuke membalas sapaan dari Matsuri dan mempersilakan teman kecilnya itu untuk duduk di sofa didepan meja kerjanya.

"Ada apa? Kenapa kau datang kemari?"

"Aku merindukan Sasu-chanku tentu saja"

Sasuke yang memang dasarnya enggak peka sama maksud Matsuri hanya tersenyum dan mengusap kepala Matsuri seperti yang sering ia lakukan semasa kecil.

Dan mereka pun tenggelam kedalam obrolan tentang masa lalu mereka.

.

.

.

Sakura akhirnya tiba didepan gedung Uchiha Enterprise milik keluarga suaminya. Ia memasuki lobi dengan membawa rantang makanan untuk ayam tercintanya.

Ngomong – ngomong ruangan ayamnya lantai berapa ya?

Ia menoleh kekanan dan kekiri mencari letak resepsionis. Ini gedung baru masuk aja gedenya naudzubillah. Ini resepsionisnya dimana lagi. Masa iya dia harus tanya sama Google Maps dulu.

Sakura memutuskan untuk berjalan kedepan lagi siapa tahu didepan ada resepsionis. Ketika ia telah maju beberapa langkah, ia melihat salah satu teman suaminya yang rambutnya seperti duren yang pernah menghadiri pernikahannya.

"Anoo.. " Panggil Sakura sambil menepuk bahunya.

Naruto yang mendengar panggilan dan tepukan dari seseorang lantas menoleh. Ia ingat bahwa didepannya ini istri dari Sasuke-teme.

"Ah.. Sakura-chan? Kau Sakura-chan kan? Istrinya teme?"

Teme? Siapa teme?

Melihat wajah kebingungan dari Sakura, Naruto lantas membenarkan maksud ucapannya.

"Maksudku kau Sakura istrinya Sasuke kan?"

Oh jadi si teme ini Sasuke? Pantes sih kan memang Sasuke bodoh.

"Iya. Kau siapa? " Tanya Sakura basa – basi. Kan enggak enak gitu langsung nanya ruangan suaminya tanpa basa – basi.

"Aku Naruto. Uzumaki Naruto. Sahabat sekaligus rekan kerjanya Sasuke. Salam kenal ya Sakura-chan"

"Iya salam kenal juga Naruto-san"

Wah ternyata si duren ini sopan sekali dan lucu. Coba saja ia ketemu si duren duluan sebelum menikah pasti udah dia gebet ini.

"Ano.. Naruto-san apa kau tahu dimana ruangan Sasuke-kun? Aku ingin mengantarkan makan siang untuknya"

"Ah ruangan Sasuke ada dilantai 21 Sakura-chan. Kau bisa lurus kedepan lalu belok kiri nah tepat dibelokan ada lift khusus untuk ke lantai 21"

"Terima kasih Naruto-san"

Setelah berpamitan dan mendapatkan arahan dari Naruto, Sakura segera bergegas menuju lift khusus untuk menuju ruangan milik ayamnya. Ia tidak sabar melihat wajah ayamnya ketika ia tahu bahwa ia membawakan makanan kesukaan dan memesankan pernak pernik si kembar botak.

TING.

Sakura akhirnya tiba di lantai dimana suaminya berada. Ketika ia sampai sudah dihadapkan pada lorong yang mana ketika ia berjalan beberapa langkah disebelah kirinya sudah ada ruangan milik sekretaris Sasuke. Walaupun tanpa kehadiran sekretaris Sasuke.

Yah sebentar lagi memang jam makan siang sih. Pikirnya.

Tidak lama dari itu Sakura yang sudah asik memikirkan reaksi dari suaminya ketika melihatnya tiba – tiba mendengar suara tertawa yang begitu dia kenal, siapa lagi yang mempunyai suara serak serak ngebass sexy kalau bukan suaminya?.

Tapi wajahnya langsung merenggut ketika menyadari ada suara wanita lain yang juga begitu dia kenal. Sesosok perempuan dengan rambut coklat dan suara tawa cemprengnya. Siapa lagi kalau bukan Matsuri si teman masa kecil suaminya.

Sialan. Sakura kalah start, padahal dia sudah bela – belain ngetem jam tiga pagi buat dapetin flashsale pernak pernik kembar botak biar dapet bonusan standee nya sekalian. Udah bela – bela in masak makan siang untuk ayam tercintanya. Eh keduluan. Kampret emang.

Mana mereka lagi ketawa – ketawa sambil makan lagi. Serius?. Bahkan si pantat ayam tidak mau makan dengannya karena ngambek dan malah memilih makan sama si cempreng alay?. Tidak – tidak Sakura tidak suka ini.

Sakura segera membuka pintu ruangan suaminya dan atensi kedua orang didepannya langsung mengarah padanya. Sasuke terkejut melihat penampakan istri pink nya. Begitu pula dengan Matsuri.

Tapi serius ini Sakura tidak suka dengan kehadiran Matsuri. Bukannya cemburu atau apa ya, cuma ia tidak terima kalau kehidupan rumah tangga satu tahunnya harus terhalang cinta monyet suaminya. Terus juga itu si Matsuri pasti sengaja deh pakai dress sexy begitu? Mana kakinya jenjang lagi. Ia langsung memperhatikan pakaian yang ia kenakan.

Kami-sama ini Sakura bajunya buluk amat dah. Ya sebenarnya enggak buluk – buluk amat sih tapi kalau dibandingin sama si Matsuri langsung keliatan upik abunya.

Awas ya, dikira situ doang apa yang punya body goals, kaki jenjang, dada montok?. Sakura juga punya. Sekali gesek ke suami ayamnya juga khilaf pasti. Astagfirullah.

Seketika Sakura langsung memikirkan ide untuk menyingkirkan si lampir cempreng dari sini. Sakura langsung berlari menghambur ke arah suaminya.

"Sayang.. kamu masih marah? Padahal aku udah belain bawain makanan kesukaanmu"

"Sasuke-kun udah makan? Kamu jahat mas katanya mau makan disuapin aku"

Sakura terkikik dan matanya melirik melihat reaksi dari Matsuri. Bagus. Ekspresinya udah muram.

"Kamu mabuk? Aku kan masih - "

"Ssstt. Aku tahu kamu malu kan dilihat Matsuri. Atau kamu takut khilaf?" Ucap Sakura sekaligus meletakkan telunjuknya dibibir Sasuke.

Sasuke mengernyit. Ini istri pinknya kebentur atau bagaimana. Terus yang bikin takut khilaf juga apa? Malu kenapa? Serius ini Sasuke gagal paham. Tapi ia juga hampir khilaf sih tadi tiba – tiba dipeluk gitu aja. Gini kek dari kemaren – kemaren kan bisa luluh.

"Ya kamu benar aku takut khilaf" Sahut Sasuke.

Matsuri yang mendengar ucapan Sasuke mendadak syok. Ia salah paham. Ini sebenarnya mereka lagi ngomongin apa sih?.

"Iya saya takut khilaf kalau sampai mem-"

Mulut Sasuke langsung dibekap oleh Sakura. Pokoknya kata – kata memarahi karena udah membakar botak kembar tidak boleh sampai keluar. Titik.

"Mem? Mem apa maksudnya?" Matsuri tiba – tiba menyela karena jujur ia kepo dengan pembicaraan dua manusia didepannya.

"Itu mem... mem..asuki. Iya memasuki. Iya kan sayang maksudmu memasuki kan? Tidak apa – apa sayang? Namanya manusia tempatnya salah dan khilaf"

Matsuri semakin syok dan melotot mendengar percakapan kedua insan didepannya. Memasuki? Serius memasuki? Sasuke memasuki? Apanya coba yang dimasuki Sasuke?. Matsuri yang awalnya tidak ingin berprasangka aneh – aneh akhirnya menyerah. Ia memutuskan untuk pulang saja. Ia tidak tahan mendengar percakapan berkaitan dengan skidipapap dari Sasuke dan Sakura.

"Sasu – chan, aku pulang dulu ya. Terima kasih sudah menemani mengobrol" Ujar Matsuri dengan suara lirih dan bergegas keluar dari ruangan.

Sasuke bingung melihat Matsuri yang tiba – tiba pucat dan berjalan lunglai keluar dari ruangannya. Perasaan tadi pas mereka ngobrol masih baik – baik saja. Mungkin dia sedang mules pikirnya.

"I..iya hati – hati dijalan"

1 vs 0 untuk kemenangan Sakura.

.

.

.

"Jelaskan!"

Setelah kepulangan Matsuri, Sakura yang awalnya bergelantungan memeluk Sasuke langsung berdiri memutuskan jarak. Begitu pula dengan Sasuke yang langsung menatap tajam meminta penjelasan. Dih ngegas, santai dong mz.

Sakura yang awalnya ingin balas menatap tajam Sasuke juga mengurungkan niatnya ketika melihat pelototan mesra dari suami ayamnya. Ia kan ke kantor suaminya untuk minta maaf yakali berantem lagi.

"Sasuke-kun aku kemari ingin minta maaf. Ini kubawakan sup tomat kesukaanmu dan lihat aku sudah pesankan pengganti Upin Ipin kesayanganmu beserta standee nya"

"Jadi maafkan aku ya? Aku menyesal" Pinta Sakura.

Sebenarnya Sasuke tadi masih mau berpura – pura ngambek sih tapi ketika ia mendengar kombinasi sup tomat plus pernak pernik kesayangannya plus standee ia tidak sanggup menolak. Ia juga kasihan kalau harus ngambek lebih lama. Lebih baik lupakan saja toh ia sudah dapat pengganti. Dih murah kamu mz.

"Hn" Jawabnya ambigu

"Hn itu apa?"

Sumpah ya Sakura bingung dengan kata – kata suaminya. Dikira dia cenayang apa bisa menebak arti gumaman "Hn" suaminya. Ini ayam waktu sekolah diajarin EYD enggak sih?. Sakura curiga. Mana di Google translate juga enggak ada artinya lagi. Atau ada yang jual kamus "Hn" enggak? Kalau ada Sakura mau beli kalau bisa lewat Syopi ya biar gratis ongkir gitu.

"Iya kumaafkan tapi jangan ulangi" Jawab Sasuke

Mendengar jawaban suaminya, raut wajah Sakura yang awalnya muram langsung berbinar – binar. Yes, sogokannya berhasil. Sakura segera membuka rantang yang ia bawa dan menyiapkan makan siang untuk suaminya.

"Ini makan dulu, Sasuke - kun"

"Hn"

Dan Sasuke segera memakan makan siangnya ditemani Sakura. Ya walaupun tadi ia juga sudah sempat makan bersama Matsuri, tapi untuk tomat kesayangannya ia masih sanggup makan.

Oh indahnya perdamaian.

.

.

.

"Jadi kau sengaja memanasi si teman masa kecil?"

Saat ini, Ino sedang datang dan menghabiskan waktunya di Afternoon Tea, toko kue milik Sakura. Awalnya ia datang hanya ingin kepo dengan rumah tangga Sakura tapi karena ia tergoda dengan kue – kue yang Sakura buat sekalian saja ia makan disini. Sambil menyelam minum air gitu.

Karena memang pada dasarnya Sakura ini paling ember kalau sudah ketemu sama Ino, jadilah ia menceritakan segala kejadian yang ia alami sekitar semingguan ini. Termasuk perangnya dengan si Matsuri – Matsuri itu.

"Ya iyalah sengaja. Bayangin aja ya No, udah jadi istri cuma setahun doang eh ini ditambahin harus ngikutin drama buat rebutan si ayam gitu?."

Enak aja Sakura bukan tipikal istri terdzolimi ya gaes.

"Kalau emang si cempreng coklat itu mau sama si ayam, coba aja lagi tahun depan." Ujar Sakura dengan nada sewot.

"Kalem dong Sak. Eh bentar – bentar. Aku curiga jangan – jangan kau jatuh cinta lagi sama suamimu?"

Sakura mendelik mendengar ucapan Ino. Bentar – bentar dia enggak salah dengar kan? Seorang Sakura? Jatuh cinta sama Sasuke si siluman ayam maniak tomat? Enak aja ya tuh mulut kalau ngomong. Gini – gini Sakura juga masih doyan manusia normal bukan yang setengah ayam kek suami kontraknya.

Awas karma loh Sak.

Ino yang melihat pelototan Sakura buru – buru meminta maaf. Ya gimana enggak ngomong kalau sahabatnya jatuh cinta coba? Lha wong doi aja serius banget manas-manasin si Matsuri kan bikin salah paham.

"Maaf Sak, kirain kan. Lha wong kamu aja niat banget gitu manas-manasin."

"Ya biar keliatan gitu effort jadi istrinya"

Dasar sableng emang nih bocah. Jadi dia cuma pencitraan doang? Awas aja beneran cinta sama si Sasuke.

.

.

.

"Bagaimana sudah siap semuanya?"

"Sudah siap semua tuan. Tinggal langsung berangkat saja"

"Bagus" Ujar Madara kemudian menutup teleponnya.

Saat ini Madara sedang menyusun rencana untuk cucu dan cucu mantunya. Bisa dibilang ini seperti proposal minta cucu darinya. Ia sudah menyiapkan tempat untuk bulan madu yang akan dihadiahkan untuk cucunya.

Mulai dari tiket pesawat, akomodasi, bahkan hingga kamar hotel-pun ia sudah siapkan se romantis mungkin. Karena ia tahu kalau cucunya itu sedatar triplek dan enggak ada romantis-romantisnya. Huh dasar ayam.

"Ayah apa kau yakin?"

"Tentu saja Fugaku. Kenapa harus tidak yakin? Lagi pula mereka hanya bulan madu"

Etdah ini kakek – kakek yang dimaksud olehnya bukan masalah bulan madunya tapi lama waktu bulan madunya. Bulan madu sih bulan madu cuma yang wajar dong seminggu aja cukup lha ini sebulan. Sableng emang. Untung sayang.

"Maksudku satu minggu saja Tou-sama. Aku yakin itu sudah cukup untuk membuat cucu" ujar Fugaku.

"Tidak. Bulan madu 1 bulan titik." Ujar Madara final.

"Tapi Sasuke pasti tidak akan setuju Tou-sama. Daripada gagal lebih baik dikurangi saja." Ujar Fugaku mencoba meyakinkan.

"Tapi mana bisa ngadon cucu kalau cuma seminggu?"

Ya Tuhan ampuni hamba yang memiliki ayah macam ini.

"Pasti bisa Tou-sama. Dari pada nanti Sasuke malah tidak mau buan madu kan repot"

Madara ingat bahwa cucu ayamnya memang keras kepala. Ya daripada ia diboikot dan enggak diberi cucu mending turutin aja saran Fugaku. Ya begitu saja.

"Baiklah. Segera beri tahu mereka agar kemari."

"Ha'i Otou-sama"

Dan dimulailah drama bulan madu mereka.

- TBC -

Hei heii.. gimana chapter kali ini? Masih mau lanjut ?

Kali ini aku update lebih cepat karena ya lagi mengalir ini inspirasinya.

Bagaimana masih mau liat absurdnya hubungan rumah tangga mereka? Atau mau yang konfliknya aja?

Buat kalian yang udah mau nyempatin ngebaca cerita abal – abal dari aku terima kasih ya. Tunggu chapter selanjutnya ya.

Oh iya buat kalian semua yang nungguin A Tale of Sakura and The Boss harap sabar ya aku masih ada halangan buat nulis lanjutannya. ini aja curi - curi kesempatan buat update. Mungkin aku akan update minggu depan buat chapter 1 nya.

Sincelery,

Ten