Four Leaf Clover

Disclaimer : Naruto Masashi Kishimoto

Pair : Sasuke U. Sakura H.

Rate : M

Genre : Drama Romance

Warning : AU. Bahasa Kasar. Typho, Dll.


.

.

.

.

.


-Chapter 1-


.

.

.

.

.


Lebih dari 1000 tahun yang lalu, mungkin sebelum pengangkatan Kaisar Jimmu. Manusia hidup dalam ketakutan yang luar biasa. Hidup berdampingan dengan monster haus darah yang kerjanya hanya menebas kepala orang.

Mereka menyebutnya dengan sebutan Yōkai.

Para Yōkai suka mengganggu manusia hanya untuk bersenang-senang. Pernah terjadi sebuah perang antara dua kekaisaran. Namun perang itu tidak pernah di menangkan oleh salah satu dari mereka.

Semua perajurit mati di benteng mereka. Kepala panglima perang terpenggal dan di gantung di perbatasan wilayah dua kekaisaran itu.

Semua orang percaya jika itu ulah para Yōkai yang lapar. Hingga mereka membunuh banyak prajurit di medan perang dan memakan jiwanya.

Seratus tahun hidup dengan ketakutan akhirnya manusia pun memburu para Yōkai dan memusnakan mereka dengan cara menyegelnya. Dan sampai tahun ini kebanyakan masyarakat jepang sudah tidak percaya lagi adanya Yōkai ataupun Ayakashi. Mereka hanya akan percaya jika sudah melihat. Lagi pula sekarang adalah zaman modern. Mereka lebih percaya hal yang masuk akal di bandingkan dengan hal yang ada di luar nalar.

Meski begitu masih sedikit orang percaya keberadaan Yōkai. Seperti gadis berambut merah muda ini. Ah, bukan dia tapi keluarganya. Kakek neneknya sangat percaya adanya Yōkai.

Haruno Sakura, gadis berumur tujuh belas tahun yang kini tengah menyiapkan ujian untuk masuk ke universitas. Sakura adalah gadis yang hanya mengandalkan logika saja. Sakura akan menguap bosan jika kakek dan neneknya mulai cerita hal yang berbau Yōkai, Ayakashi atau Oni.

"Lalu?" tanya Sakura seraya menompang kepalanya diatas meja. Ia menatap bosan kakek dan neneknya yang kini menyeruput segelas ocha. "Apa yang terjadi dengan Kami itu?"

Sakura sungguh bosan. Telinganya lelah mendengar neneknya yang menceritakan bagaimana manusia hidup dulu? Bagaimana mereka bertahan dari Yōkai? Bagaimana mereka memburu dan menyenggel Yōkai? Dan apa ini? Kami?

Yang benar saja!

Bahkan Kami-sama pun ikut turun ke bumi untuk menyegel Yōkai. Cerita yang tidak masuk akal.

"Tentu saja dua Kami itu tidak bisa kembali ke langit. Meski begitu mereka tidak menyesal turun ke bumi." ujar neneknya dengan senyum lembut di bibirnya.

Sakura hanya diam mendengar ucapan neneknya. "Bagaimana bisa Obaa-sama membuat cerita semenakjubkan itu?" sindir Sakura sebelum ia berdiri dan pergi untuk ke kamarnya.

"Kau mungkin tidak percaya jika tidak melihatnya." ujar kakeknya yang sedari tadi diam di samping neneknya.

Sakura hanya melengos pergi. Mengabaikan ucapan mereka.

.

.

Bagi Sakura, kakek dan neneknya adalah orang yang sulit di tebak. Mereka bernama Senju Hashirama dan Uzumaki Mito. Mereka adalah orang tua dari kakek dan neneknya.

Bisa di bilang Sakura adalah cicit. Dan mereka adalah kakek dan nenek buyut Sakura. Meski sudah sangat tua, anehnya wajah mereka masih terlihat orang berusia empat puluh tahun.

Lalu kemana orang tua Sakura ?

Mereka meninggal saat menaiki pesawat, bersama dengan kakaknya Sasori. Sementara kakek dan neneknya sudah lama mati saat ia masih sangat kecil.

Kini ia tinggal bersama Hashirama dan Mito sudah empat tahun lamanya. Walau begitu Sakura cukup bahagia, setidaknya ia masih memiliki keluarga yang tersisa.


.

.

.

.


Tok tok tok

"Sakura."

Suara panggilan dari luar kamarnya membuat tidur Sakura terganggu. Gadis itu menggeliat sebentar diatas kasur sebelum terdiam menatap langit-langit kamarnya.

"Sakura."

Suara itu terdengar lagi.

Sakura segera bangun dan menoleh ke pintu kamarnya. "Aku sudah bangun, Obaa-sama." gerutu Sakura sebelum ia masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri.

Ah, jika di ingat-ingat. Hari ini ia ada ujian masuk ke universitas. Ia harus segera berangkat sekolah. Sakura pun mulai terburu-buru. Ia dengan tergesa-gesa merapikan penampilannya dan segera berlari ke ruang makan.

Gadis itu mengambil sumpit dan memakan dua buah sushi buatan Mito lalu ia segera meminum susunya.

"Sakura, duduklah saat makan." tegur Mito melihat sakura yang masih berdiri di samping meja makan.

"Aku tidak mau telat hari ini." ujar Sakura sebelum melanjurkan minum susu.

"Tetap saja kau harus duduk dan makan dengan benar."

"Sudahlah Mito, Sakura hari ini ada ujian. Biarkan saja." Hashirama selalu membela Sakura walaupun ia melakukan kesalahan.

Sakura mengusap bibirnya yang basah lalu segera mendekat ke Mito lalu mengecup pipi wanita tua itu. "Aku berangkat." tak lupa ia juga mengecup pipi Hashirama. Lalu ia pun berlari keluar rumah.

Mito menghela nafas panjang. "Bagaimana bisa aku marah jika dia bersikap seperti itu?"

Hashirama tersenyum melihat istrinya. Setegas apapun Mito jika Sakura sudah bertingkah manis ia pasti akan luluh. "Ah, aku hampir lupa." Hashirama mengeluarkan sebuah kalung dengan bandul berbentuk empat lembar daun semanggi yang di ukir dengan permata Sapphire yang indah. "Aku sudah mendapatkannya."

Mito tersenyum melihat kalung itu. Ia terulur meminta kalung itu. Di tatapnya kalung tersebut dengan penuh damba. Ada rasa haru, bahagia dan kepedihan saat menyentuh kalung tersebut.

"Arigatou."


.

.

.

.

.


Hari berjalan dengan begitu cepatnya. Tidak terasa pengumuman kelulusan ujian kemarin pun keluar. Sakura dengan langkah terburu mencoba untuk menyelip di antara murid-murid yang mengerubungi papan pengumuman.

Butuh perjuangan lebih hingga ia bisa di barisan depan. Tangan kanannya terjulur menelusuri nomor urutan duapuluh ke bawah.

24. Yamanaka Ino - 256 poin - Lulus

Sahabatnya lulus ujian meski nilainya pas-pasan setidaknya dia lulus ujian masuk universitas. Lalu di carinya namanya. Di baris duapuluh ke bawah tidak terdapat namanya.

Ia pun mulai ragu untuk mencarinya di antara dua puluh keatas. Dengan sedikit keberanian dan mulai menyiapkan hati. Meski ia sedikit kecewa jika ia tidak lulus sementara sahabatnya bisa lulus.

Mata emerald-nya mulai bergetar melihat di barusan dua puluh ke atas tidak ada namanya. Ia pun mulai tidak percaya diri dan segera keluar dari kerumunan itu.

Sakura sangat tahu tentang dirinya. Ia tidak begitu pintar dalam pelajaran. Meski para guru sering bilang dia ini pintar dan bisa menjawab soal dengan benar. Tapi bagi Sakura hanyalah keberuntungan.

Jika ujian kenaikan kelas atau ujian akhir semester ia percaya bisa dapat nilai bagus. Tapi di ujian universitas tidak. Ia tidak percaya dengan apa yang ia jawab.

"Bagaimana?" tanya Ino begitu melihat Sakura keluar dari kerumunan itu. Ia menatap Sakura dengan semangat dan penuh harap.

Sakura tersentak menatap Ino lalu ia tersenyum manis. "Kau di urutan 24, kau lulus."

Ino memeluk erat Sakura. Ia begitu senang mendengar jika dia lulus. Ino segera melepaskan pelukannya lalu memegang kedua pundak Sakura. "Bagaimana denganmu?"

Senyum Ino luntur melihat Sakura yang diam dengan senyum canggungnya. "Ada apa?" tanyanya bingung. Mata Aquamarine itu membulat. "Jangan bilang kau-"

"Mungkin tahun depan." ujarnya dengan tawanya yang canggung.

Ino terdiam sepenuhnya. Ia menatap Sakura dengan tatapan bersalah dan tidak tahu mau bagaimana. Ia merasa bersalah karena hanya dirinya yang lulus. Bagaimanapun juga mereka sudah berjanji untuk masuk bersama. Makanya ia belajar mati-matian.

Ino tahu jika Sakura itu pintar, tapi apa itu mungkin jika sahabatnya tidak lulus.

"Apanya yang tahun depan." guman seseorang di belakang Sakura dengan nadanya yang malas.

"Oi, Haruno. Namamu ada di nomor satu."

"Benarkah?!" bukan Sakura yang bereaksi tapi Ino. Segera gadis kuncir kuda itu menyelip kedalam kerumunan. Mata itu menatap nomor satu dengan tatapan berbinar.

01. Haruno Sakura - 398 poin - Lulus

Ino membungkam mulutnya tidak percaya. Sudah ia duga jika Sakura itu pintar. Tapi kenapa gadis itu tidak percaya akan kemampuannya sendiri. Ino yakin jika Sakura hanya salah dalam menjawab satu soal saja.

02. Nara Shikamaru -396 poin - Lulus

Bahkan gadis itu mampu mengalahkan si jenius Nara Shikamaru. Bagaimana dia bisa di bilang jenius? Pemuda itu hanya tidur di kelas dan tanpa belajar. Tapi nilainya selalu di atas rata-rata. Bahkan selalu di urutan nomor satu saat ujian.

Dan yang lebih mengerikan mereka hanya berbeda dua poin. Secepat itu Ino merasa bodoh.

Ino segera kembali ke Sakura dan menjitak kepala jambu tersebut. "Apa kau mau menipuku?! Dasar bodoh!"

"Tapi bagaimana bisa..." guman Sakura masih tidak percaya.

Shikamaru yang sedari berdiri di samping Sakura pun menghela nafas panjang. "Kau itu pintar Sakura, hanya saja kau terlalu bodoh untuk menyadarinya."

Ino menatap tajam Shikamaru yang melengos pergi setelah mengatakan kata-kata yang cukup tajam. "Apa-apaan itu! Setidaknya jangan berbicara jahat dengan Sakura." gerutu Ino kesal.

Sakura terdiam sejenak sebelum ia pun mulai menangis kencang membuat Ino dan beberapa siswa di sekitarnya terkejut.

"Saki, apa kau sakit hati karena Shikamaru? Tenanglah, akan kumarahi dia." ujar Ino gelagapan. Ino paling tidak bisa melihat sahabatnya menangis.

"K-ku pikir aku tidak akan lulus. Padahal kau lebih bodoh dariku. Aku iri jika hanya kau yang lulus, sementara aku tidak." ujar Sakura dengan nafas tersendat-sendat.

Ino terdiam sebentar mencerna ucapan Sakura. Lalu ia menjitak kembali kepala Sakura. "Apa kau mengatai aku bodoh?!"

Dan mereka pun kembali tertawa.


.

.

.

.

.


-Tahun sebelum kaisar jimmu naik tahta-

Kilatan cahaya petir menyambar di langit yang di penuhi awan hitam. Tidak ada hujan, namun mendung hitam itu menyelimuti bagai sebuah petaka yang datang.

Di iringi suara gemuruh yang memecah gendang telinga dan kilatan cahaya putih yang begitu menakutkan. Saat itulah manusia bersembunyi. Meringkuk ketakutan di rumah gubuknya yang bahkan bisa roboh sewaktu-waktu.

Hari itu adalah hari dimana Kami-sama turun ke bumi. Menyegel semua Yōkai yang berkeliaran. Hari dimana seekor Kitsune tertangkap. Sosok Yōkai berbentuk rubah adalah sosok yang paling di takuti.

Dia makhluk paling sadis yang membunuh semua perajurit di medan perang.

"Jadi kau orangnya."

Yōkai yang berbentuk seperti manusia dengan dua telinga rubah dan ekornya yang berwarna hitam itu berdecih. Ia tersenyum mengejek menatap dua Kami-sama yang berdiri di hadapannya.

"Bagaimana bisa, dua orang Kami salah menangkap Yōkai?" bukan bertanya, lebih tepatnya ia menyindir.

Mata merah darahnya yang jernih itu menatap lurus pada Bishamonten lalu ia tersenyum.

.

.

.

To Be Continued


* Bishamonten adalah dewa perang yang aslinya dari india bernama Vaisravana. Yang sebenarnya merupakan dewa Misionaris buddhis. Dan sering disalah artikan dewa perang.

Tapi disini author bakal pakai nama Bishamonten sebagai dewa perang :) gomen.