Baby Doll

© Masashi Kishimoto

Warning: AU, OOC

Summary: Nona muda Yamanaka gadis yang baik hati, kesempatan ini membuat sang kekasih semena-mena terhadapnya. Lalu bagaimana nona muda Yamanaka mengatasi perbuatan kekasihnya?

.

.

.

Dia Yamanaka Ino, kata orang-orang jangan sekali-kali bermain api dengannya. Ya, itu juga kalau kau ingin hidup dengan damai.

Baiklah, akan ku kenalkan siapa Yamanaka Ino sesungguhnya.

Nama Ino. Marga Yamanaka. Marga ini sangat terkenal seantero Jepang. Ia gadis berdarah kebangsaan Jepang yang baik hati. Karena terlalu baik hati, dia sangat mudah ku manfaatkan. Jelas saja dia anak dari sepasang suami istri yang kaya raya. Harta kekayaannya tidak akan habis jika aku beratus-ratus kali bermain judi.

Sialnya, setelah genap keseribu kalinya aku bermain judi. Dia tidak berbaik hati lagi. Dia berubah. Tak jarang ku melihat ia sedang menggendong boneka. Bonekanya cantik, sama seperti pemiliknya.

Aku tidak tahu. Apakah Ino pemilik boneka itu atau bukan. Yang jelas, ku mau saat ini adalah uang 1 milyar. Aku mau menanam saham 1 milyar dipermainan judi kali ini. Jika aku menang, aku akan mengantongi 5 milyar diangkut pulang. Beruntung sekali, kan.

"Sayang, apa aku boleh meminjam uang mu?" melasku dihadapan Ino. Ino melihat ke arah ku, segera tersenyum manis hingga pipinya mengembang dan matanya tak terlihat.

"Berapa yang kau inginkan?" tanya Ino to the point. Ino itu beda. Karena Ino bukan seperti perempuan lainnya, yang hanya bertele-tele untuk masalah uang dan akan menangis jika uangnya telat dikembalikan.

"Bagaimana 50 juta? Apakah kau memiliki uang sebanyak itu?" tanyaku hati-hati. Sembari hati-hati, aku bahkan menanyakan dengan menutup mataku sebelah kiri. Ternyata untuk urusan seperti ini aku tergolong penakut.

"Ada. Mau aku transfer langsung?" jawab Ino sungguh cepat. Dia terlalu tanggap, itulah yang ku suka darinya. Ino dengan gesit menarikan jempol tangannya untuk mentransfer uang 50 juta ke rekening ku.

Ting!

Ah bunyi SMS dari ponselku. Segera ku cek. Dan ternyata, sekali lagi benar. Ino tidak berbohong untuk mentransferkan uangnya secara cuma-cuma kepadaku.

Ku memandang ke arahnya, dia hanya tersenyum simpul. Senyuman yang tak ada dosa.

Good girl.

.

5 Tahun Kemudian.

"Sayang.. Inoku, cintaku, kasihku.." rengekku sembari memajukan bibir dihadapannya. Entah apa yang dilihat Ino kepadaku. Dia sekarang tak bergairah melihatku. Seperti tak ada semangat hidup, padahal aku masih kekasih tercintanya.

"Sayang? Kau mendengarkan ku?" tanyaku padanya dengan melambaikan kedua tanganku dihadapan wajahnya yang sungguh imut itu.

"Hm?" Ino hanya merespon dengan deheman. Dan itu tak lebih.

"Ada apa sayang? Ayolah, cerita kepadaku," tanyaku dengan nada khawatir. Aku khawatir dia terjadi apa-apa. Hal ini jangan sampai terjadi, jika terjadi tamatlah sudah sumber pundi-pundi ku.

Ino tersenyum simpul.

"Aku mau beli boneka. Boneka apa yang bagus untukku?"

"Sayang.. Apaan sih beli boneka. Kamu sudah besar, tidak cocok lagi bermain boneka. Mending bermain judi bareng aku, kalau menang kita untung lho sayang," godaku dengan menggerak naik turunkan alis.

"Aku akan tetap membeli boneka. Kamu jangan sekali-kali menghalangi aku." ujarnya sedikit berteriak. Lalu menaiki tangga, masuk ke dalam kamarnya.

.

"Sayang.. Aku sudah punya boneka. Lihat, namanya Ssuke," girang Ino kepadaku. Aku bingung, mengapa boneka berbentuk laki-laki yang diinginkan Ino. Padahal bisa saja Ino membeli boneka perempuan seperti halnya boneka barbie.

"Menurutku kalian mirip, boneka ku namanya Ssuke dan kau bernama Sasuke. Hahaha,"

Sekarang tawa renyah Ino terngingang-ingang pada pendengaran Sasuke. Sehingga membuat dirinya oleng, hampir saja Sasuke ambruk jika tidak ada bodyguard—orang suruhan Ino yang menahan Sasuke agar tidak jatuh.

.

Seminggu setelah kejadian tak mengenakan itu, aku kembali menghadap Ino. Ya, biasalah.

"Sayang, aku boleh minjam uang 1 milyar?" tanyaku dengan mata berbinar.

"Sebentar sayang, aku mau ambil boneka ku tadi tertinggal di dalam kamar," pamit Ino segera masuk ke dalam kamarnya. Lalu kembali lagi setelah mengambil boneka kesayangannya itu.

Ino terus saja melangkahkan kakinya ke dapur. Sepertinya mau ambil sesuatu disana. Ino kembali dengan boneka digendong dan tangan kanan memegang pisau.

Setahu ku, Ino sangat takut dengan benda tajam. Entahlah hari ini dia sangat begitu aneh.

"Sayang..."

Ino memanggil ku dengan senyuman manisnya. Senyumnya semakin lama semakin manis. Sehingga aku tak tersadar tanganku tiba-tiba berdarah dengan sendirinya.

"Hehe."

Ino terkekeh aneh, terdengar mengerikan. Aku melihat dengan mata kepala ku. Ino memotong tangan boneka itu. Mengapa rasanya sungguh terasa sakit, benar-benar sakit.

Arrgh.

Leherku sakit. Sial, Ino menggorok leher boneka itu.

.

.

.

END