Shadow of Twilight

Disclaimer © Naruto - Masashi Kishimoto

Pair : Sasuke U. & Sakura H.

Genre : Drama & Romance

.

.

.

.

.


-Chapter 1-


Pada tahun 882 seorang putri lahir di sebuah keluarga bangsawan dengan gelar Count. Putri kecil itu memiliki rambut indah seperti bunga sakura dan memiliki mata sebening batu emerald. Warna mata yang sangat jarang di miliki oleh orang-orang kekaisaran.

Putri kecil itu tumbuh menjadi sosok gadis yang sangat cantik dan selalu di bicarakan di pergaulan kelas atas. Banyak yang iri akan kecantikan yang di miliki oleh putri tersebut.

Sakura De Haruno.

Nama itu semakin terkenal semenjak dia di bicarakan oleh semua orang. Keluarganya begitu menyayanginya. Dia dimanjakan oleh semua kekayaan yang dimiliki keluarga Haruno.

Di balik sosoknya yang terlihat cantik dan anggun, sebenarnya ia hanyalah sosok yang menyedihkan. Dia adalah seorang penyendiri. Baginya hidup di keluarga bangsawan bukanlah hal bagus.

Bangsawan tetaplah bangsawan. Rakus akan kekuasaan dan status sosial. Suatu hari Count Haruno pasti akan menikahkannya dengan orang yang memiliki status lebih tinggi darinya.

Pernikahan politik bukanlah hal baru bagi setiap bangsawan. Semua bangsawan pasti akan melakukan pernikahan politik. Dan itu dilakukan semata-mata hanya untuk kekuasaan dan status sosial.

"Apakah anda mau tehnya lagi, Nona ?"

Suara halus dengan nada sopan membuyarkan lamunan Sakura. Sakura menoleh ke arah wanita yang berdiri di samping mejanya. Emerald itu menatap cangkirnya yang telah kosong.

"Iya."

Sakura terkadang lelah dengan sistem pembelajaran bangsawan. Semua harus ada etikanya. Ketika ia minum, ketika ia makan, ketika ia berjalan, ketika ia berbicara. Semua harus dengan etika bangsawan yang kadang membuatnya muak.

"Akhir-akhir ini Nona banyak melamun, apa ada yang anda pikirkan ?" sosok gadis berambut merah maroon bertanya kepadanya. Dia Karin, pelayan pribadinya.

"Mereka semua bilang aku adalah orang paling beruntung, karena lahir dengan wajah secantik ini." tatapan Sakura menerawang jauh. "Padahal aku hanyalah gadis yang menyedihkan."

"Nona tidak boleh berbicara seperti itu." Karin menegur Sakura dengan nada bicara yang halus dan sopan. "Nona adalah sosok yang kuat. Jika tidak, mana mungkin Nona bisa bertahan sampai saat ini."

Karin masih ingat dimana Sakura dididik sangat keras layaknya seorang putri mahkota. Dia dididik dengan sistem kerajaan. Begitu berat dan melelahkan.

Sakura tersenyum lembut ke arah Karin. "Hanya Karin satu-satunya orang yang tahu seperti apa aku."

Karin tersenyum mendengar penuturan Sakura. Gadis berambut maroon itu memanglah tulus melayani Sakura. Dia tumbuh bersama gadis itu. Bagi Karin, Sakura tampak terlihat seperti sosok adik yang butuh perlindungan. Dia sungguh tidak tega melihat Sakura yang selalu menyendiri di kamarnya.

"Ah, Count dan Countess Haruno akan tiba tengah hari ini."

Sakura pun bangun dari kursinya. Ia berjalan menuju lemari pakaiannya. "Sepertinya mereka akan mengajakku pergi ke opera lagi." guman Sakura seraya memilah-milah gaun yang ada di lemarinya. "Karin, bantu aku bersiap."

"Baik, Nona."


.

.

.

.

.

.


Opera terbesar yang di selenggarakan oleh pihak kerajaan adalah hal yang paling di tunggu. Pertunjukan yang begitu berkelas membuat mereka para bangsawan selalu terhibur.

Berbeda dengan rakyat biasa yang hanya bisa medengar suara itu dari luar gedung Opera.

Sakura menuruni kereta kuda dengan hati-hati. Suara bisik-bisik mulai terdengar sesaat setelah ia melangkahkan kakinya dari kereta kudanya. Hampir seluruh perhatian menuju ke arahnya membuatnya harus tampil seanggun mungkin.

Sakura melirik sosok ibunya yang berjalan di sampingnya. Wanita itu dengan senyum percaya diri berjalan dengan angkuh. Sakura tahu jika ibunya begitu membanggakan kecantikan dan kepintaran Sakura.

Harga diri ibunya bergantung pada apa yang di lakukan oleh Sakura. Itulah yang membuat Sakura semakin tertekan dengan keluarga Count Haruno.

"Countess Haruno, selamat datang." sosok pelayan menyambut mereka di pintu masuk. Pelayan tersebut segera membuka pintu tersebut dan mempersilakan mereka masuk.

"Di dalam jangan sampai melakukan kesalahan. Banyak mata yang sedang memperhatikanmu." Mebuki berbisik memperingatkan Sakura.

"Baik, Ibu." Sakura hanya berguman lirih. Ia menarik nafas dalam lalu menghembuskannya dengan perlahan. Gadis itu mulai memasang topengnya. Ia tersenyum manis di semua orang yang ia temui. Pencitraan adalah hal wajib bagi mereka agar status mereka semakin di hormati.

Jangan sampai ada rumor miring di pergaulan kelas atas. Hanya itu yang ada di pikiran Mebuki saat ini.

Opera itu berjalan lancar. Suara tepuk tangan selalu mengiringi pertunjukan di atas panggung. Sakura tidak pernah menyukai opera. Ia tidak begitu suka dengan keramaian. Yang ia lakukan hanya menatap bosan ke arah panggung. Semua berjalan seperti biasanya hingga sosok pria tampan itu naik ke atas panggung.

Tatapan Sakura yang semula bosan berubah menjadi kagum. Ia menatap penuh minat sosok pria tampan dengan kulit putihnya dan matanya yang seperti batu onyx. Tidak hanya itu, suara pria itu sangatlah merdu dan halus.

Lagu yang di nyanyikan pria itu membuat Sakura menangis. Gadis itu benar-benar bisa menangkap emosi yang di sampaikan pria tersebut.

Sakura mengusap air matanya dengan sapu tangannya. "Siapa pria itu ?" tanya Sakura pada ibunya.

"Dia Sasuke, penyanyi baru kekaisaran Southern."

"Sasuke." guman Sakura senang begitu mengetahui nama pria yang berhasil membuatnya berdebar.

.

.

.

To Be Continuen