.
.
.
.
.
.
-Chapter 2-
.
.
.
.
.
.
Southern Emperor adalah sebuah wilayah kekaisaran yang makmur. Rakyat hidup dengan makmur di bawah kepemimpinan kaisar yang bijaksana. Meski begitu, tidak selamanya sebuah kekaisaran berdiri dengan makmur.
Sedikit demi sedikit sebuah teror dari musuh terbesar mereka berdatangan. Terjadi pemberontakan di wilayah perbatasan. Sebuah kekeringan panjang di bagian utara kekaisaran. Bencana banjir yang melanda di beberapa desa. Dan banyak lagi.
Para bangsawan pun mulai menyatukan kekuatan mereka. Membentuk sebuah pasukan militer guna mencegah ancaman tersebut.
Namun rencana itu tidak berjalan karena di gagalkan oleh seseorang yang tidak tahu siapa itu. Orang itu menyembunyikan dirinya dengan sangat rapi. Meski begitu tidak ada yang berubah.
Mereka pun pasrah terhadap pemerintahan. Keputusan apa yang mereka lakukan guna mencegah terjadinya bencana dan pemberontakan.
Sakura tersenyum mendengar cerita yang di ceritakan oleh Viscount Yamanaka. Pria paruh baya itu dengan bangga menceritakan apa yang terjadi akhir-akhir ini.
"Sebaiknya anda berhati-hati Lady Haruno. Banyak sekali orang-orang yang mulai melenceng dari peraturan." Viscount Yamanaka mulai memperingati Sakura.
"Akan saya ingat perkataan anda, Viscount Yamanaka." jawab Sakura dengan sopan dan senyum yang selalu melekat di bibirnya.
Saat ini ia tengah menghadiri sebuah pesta yang di selenggarakan oleh Kaisar. Pesta pertunangan Putra Mahkota dan anak perempuan dari Duke Hyuga. Sungguh beruntung putri dari keluarga Duke Hyuga tersebut. Mereka menikahi Putra Mahkota dan akan menjadi ratu di masa depan.
Tapi Sakura juga tersenyum kecut. Menjadi ratu bukanlah hal yang baik. Jika menjadi ratu maka ia harus siap akan adanya permaisuri dan beberapa ratu berikutnya.
Pemerintahan tidak akan berjalan lancar jika hanya di jalankan oleh satu ratu. Kekuasaan wilayah tersebut hanya bisa di kelola oleh permaisuri.
Meski begitu posisi ratu pertama juga tidaklah rugi. Karena posisi ratu pertama merupakan garis keturunan raja. Anak dari ratu pertama akan jadi pewaris tahta.
Sakura tidaklah begitu suka dengan hal-hal yang merepotkan. Gadis itu cukup pintar untuk tidak mendekati keluarga kaisar. Ia benar-benar tidak mau terlibat dalam urusan yang rumit.
Bukannya dia percaya diri namun Putra Mahkota pernah melamarnya. Pemuda berkulit tan itu terang-terangan menyatakan perasaannya setelah acara Debutante. Hal itu sontak membuat heboh orang-orang yang melihatnya.
Namun Sakura menolaknya. Dia bilang tidak mau berurusan dengan kekaisaran. Dia tidak ingin jadi ratu, permaisuri ataupun selir raja.
Hal itu tentu saja membuat Count Haruno murka. Sakura di kurung di kamarnya selama seminggu. Tidak di beri makan siang dan hanya di perbolehkan membaca buku bahasa kekaisaran.
Namun ia bisa keluar setelah ibunya marah dan meminta ayahnya untuk mencabut hukuman tersebut. Meski Mebuki terlihat seperti orang yang hanya memperdulikan gelar dan status, tapi ia tetaplah seorang ibu. Ia merasa sedih melihat Sakura yang di kurung oleh Count Haruno.
"Lady Haruno." sosok pria tampan menghampirinya. Mata amethyst-nya menatapnya dengan tatapan hangat.
"Selamat malam, Duke Hyuga." Sakura pun segera memberi salam begitu ia tahu siapa yang memanggil namanya.
Duke Neji De Hyuga.
Sosok Duke muda kini tengah berdiri di sampingnya. "Apakah anda menikmati pestanya ?" tanya Neji basa-basi.
"Saya menikmati pestanya." dusta Sakura. Sakura benar-benar tidak suka dengan keramaian.
Neji masih tersenyum menatap Sakura. "Ngomong-ngomong, bisakah anda memikirkan tawaran saya ?"
Sakura terdiam mendengar ucapan Neji. Seminggu yang lalu pria itu melamarnya. Tidak seperti Putra Mahkota, Duke muda ini melamarnya saat mereka hanya berdua.
Tentu saja Sakura menolak. Ia bukanlah orang gila yang menolak Putra Mahkota dan mau menikah dengan seorang Duke. Duke Hyuga juga memiliki hubungan dengan keluarga Kaisar. Itulah yang membuat Sakura enggan.
"Maafkan saya, Duke Hyuga." ujar Sakura dengan nada yang seolah menyesal. "Hanya saja, saya tidak mau berurusan dengan Keluarga Kaisar."
Neji tersenyum kecut. "Sayang sekali." begitu sulit untuk mendapatkan putri Count Haruno ini. Rumor jika banyak sekali lelaki yang menginginkannya bukanlah sekedar rumor.
Berhati dingin adalah rumor yang tersebar di antara pria bangsawan. Sakura dikenal sebagai sosok yang enggan akan sebuah pernikahan dan percintaan. Dan setiap pria yang ditolaknya selalu menjulukinya sebagai putri berhati dingin.
Tidak sepenuhnya rumor itu benar. Sakura juga sosok perempuan. Dia bisa jatuh cinta pada laki-laki tampan. Bagi Sakura Neji adalah pria tampan. Namun statusnya lah yang membuat Sakura tidak mau menerima lamaran tersebut.
Sementara para bangsawan lain lebih memilih untuk menjalin hubungan asmara dengannya. Dan Sakura benci hubungan yang tidak berkomitmen. Maka dari itu ia sulit menerima cinta orang lain.
Tapi akhir-akhir ini ia selalu terpikirkan oleh sosok penyanyi opera yang pertama kali tampil di wilayah kekaisaran ini. Pria tampan dengan mata onyx-nya yang tajam.
Sakura jatuh cinta pada pandangan pertama. Sosok bernama Sasuke Uchiha itu benar-benar memenuhi kepalanya. Dia pria yang memiliki sebuah kharisma yang membuat hati semua wanita meleleh.
"Apakah ada yang membuat anda senang, Lady Haruno ?"
Sakura melirik Neji. Ia lupa jika Neji masih menemaninya. Wajah Sakura memerah. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana tingkah bodohnya saat ini. Apa kesenangan itu terlihat jelas di wajahnya ?
Tanpa sadar Sakura menarik kedua ujung bibirnya begitu ia mengingat sosok Sasuke. Sakura tersenyum malu. "Sepertinya saya tidak bisa bohong di hadapan Duke Hyuga."
Neji paham akan yang di maksud oleh Sakura. Ia pun tertawa pelan. "Saya penasaran seperti apa orang yang bisa melelehkan hati anda yang sedingin es."
"Anda tidak sopan, Duke Hyuga. Bagaimana bisa anda mengatakan hati saya sedingin es." Sakura pun membalas gurauan Neji. Mereka pun kembali berbincang entah itu masalah perasaan Sakura ataupun sekadar membahas pertunangan Putra Mahkota.
.
.
.
.
.
.
Hari pun telah berlalu dengan cepat. Dan menonton sebuah opera adalah kegiatan Sakura yang baru. Ia selalu mengunjungi gedung opera setiap akhir pekan hanya untuk melihat sosok yang begitu ia kagumi.
Sasuke Uchiha, sosok aktor yang tampan. Penampilannya selalu di nanti-nantikan oleh setiap orang. Dia tampan dan juga terampil. Memiliki bakat yang luar biasa. Banyak orang memuja-muja bakatnya, apalagi suara yang merdu itu sangat di idam-idamkan oleh semua orang.
Sakura duduk dengan tidak sabar di bangku tengah sebelah kanan. Emerald-nya bahkan tidak bisa mengalihkan pandangannya pada tirai merah yang tertutup. Menyembunyikan apa yang ada di balik panggung.
Sebentar lagi adalah penampilan Sasuke. Dan ia tidak sabar untuk melihat pria tersebut. Cukup lama ia menunggu hingga tiba-tiba tirai itu tersingkap sebentar membuat Sakura bisa melihat sosok Sasuke yang sedang mengambil sebuah busur di tengah panggung. Pria itu spontan menoleh ke arah tirai yang tersingkap itu.
Dheg
Tanpa di duga tatapan mereka bertemu. Walau hanya sekilas tapi Sakura tidak bisa menghentikan debaran jantungnya. Manik onyx itu benar-benar membuat Sakura berdecak kagum.
Begitu hitam dan tajam. Sakura menyukai tatapan itu. Perlahan pipinya pun memanas mengingat tatapan Sasuke yang tidak sengaja bertemu dengannya.
Tirai pun terbuka menampilkan sosok Sasuke yang kini sedang bernyanyi. Suara merdu itu begitu halus mengisi keheningan ruangan tersebut. Mata Sakura membulat dan perlahan-lahan matanya mulai berkaca-kaca. Ia sungguh sangat kagum akan penampilan Sasuke yang memukau.
Gadis musim semi itu sedikit tersentak kaget saat beberapa kali tatapan mereka bertemu. Sakura sangat yakin jika pemyanyi muda itu berulang kali mencuri-curi pandang ke arahnya.
Wajah Sakura pun semakin memerah begitu Sakura sadar jika ia kini memang sedang di perhatikan oleh pria itu. Walau sekilas tapi Sasuke selalu melihat ke arahnya. Dan hal itulah yang membuat Sakura merasa malu dengan wajahnya yang mulai memerah seluruhnya.
.
.
.
Opera pun berakhir dengan cepat tanpa sepengetahuan Sakura. Dan setiap opera berakhir Sakura tampak enggan meninggalkan gedung opera tersebut.
Sakura berjalan lesu di samping ibunya. Meski begitu ia tetap menyembunyikan rasa kecewanya di depan Countess Haruno.
Suara langkah kaki terburu membuat Sakura sedikit menoleh kebelakang. Seorang pelayan wanita berlari kecil menghampirinya.
"Lady Haruno."
Pelayan itu menyelipkan secarik kertas ke tangan Sakura. Ia tampak bingung sebelum membaca memo tersebut.
"Ada apa ?" Mebuki mulai penasaran dengan Sakura yang tampak diam memandangi memo tersebut.
"Ah, Ibu. Bisakah ibu pulang sendiri ? Ada seorang teman yang harus saya temui hari ini." ujar Sakura menatap Mebuki.
"Teman ?" setahu Mebuki, Sakura tidak memiliki seorang teman. Ia cukup yakin jika putrinya tidak dekat dengan siapapun. Namun, ia sadar jika putrinya bukanlah anak kecil. Mungkin saja teman yang di maksud adalah seseorang yang belum Sakura kenalkan kepadanya.
"Baiklah, ceritakan nanti siapa temanmu." Mebuki pun segera melangkah pergi meninggalkan Sakura. "Jangan sampai pulang larut." pesannya sebelum menghilang di ujung koridor.
"Baik, Ibu."
.
.
.
To Be Continuen
Gomen T.T gara2 setengah sadar salah up chapter
