.
.
.
.
.
-Chapter 3-
.
.
.
.
.
Lorong itu tampak sepi tanpa adanya pengawal. Dan jujur saja, Sakura sedikit takut jika berjalan di lorong tersebut. Ia hanya sendirian dan suara langkah kakinya yang menggema membuatnya semakin ketakutan.
'Beliau ada di pintu paling ujung. Anda bisa menemukannya setelah melewati lorong tersebut.'
Yang benar saja. Bagaimana bisa dayang itu berperilaku tidak sopan. Bukannya mengantarnya ke ruangan itu tapi dayang tersebut hanya menunjukan jalannya.
Untunglah Sakura tidak pernah mengambil pusing sikap kurang ajar para dayang. Jika saja itu adalah Countess Haruno pasti dia sudah di hukum cambuk seratus kali.
Sakura terdiam sejenak menatap pintu besar yang ada di hadapannya.
'Bisakah anda meluangkan waktu untuk minum teh bersamaku, lady Haruno.'
Sasuke Uchiha
Sakura menghirup nafas dalam dan mengeluarkannya dengan perlahan. Sebisa mungkin ia menghilangkan rasa gugup dan jantungnya yang berdebar.
Tok tok tok
Tidak lama setelah ia mengetuk ada suara sautan dari dalam yang menyuruhnya untuk masuk. Seolah ia tahu jika yang berdiri di depan pintu adalah Sakura.
Sakura membuka perlahan pintu tersebut. Mengintip dengan seksama apa yang ada di dalam ruangan tersebut. Ruang itu hanyalah ruang kerja. Ada banyak buku di rak, satu meja kerja, sebuah piano di samping jendela dan sofa yang terlihat cukup nyaman.
Nafas Sakura serasa terhenti melihat sosok Pria tampat yang membawa teko teh di tangan kirinya. Pria itu menoleh menatap Sakura lalu ia tersenyum manis. Tentu hal itu membuat wajah Sakura memerah.
"Silakan masuk, Lady Haruno. Saya sudah menunggu kedatangan anda." ujarnya lalu ia meletakan teko itu di atas meja.
Sakura berjalan gugup ke sofa. Dengan malu-malu ia menatap sosok yang begitu ia kagumi. Sasuke Uchiha, dia ada di depannya sekarang. Duduk menyilang dan menatapnya dengan senyum manis.
"Sebelumnya maafkan sikap sopanku, Lady. Aku bukanlah seorang bangsawan dan tidak terbiasa berbicara formal kepada orang lain."
Sakura menggeleng pelan. "Berbicaralah santai dengan saya. Saya tidak apa-apa, err.."
Sasuke tersenyum lalu ia menumpu dagunya di atas tangannya. Menatap Sakura dalam. "Cukup panggil Sasuke, Lady Sakura?"
Ini pertama kalinya ia di panggil dengan namanya bukan nama keluarganya. Ada perasaan senang yang tidak bisa di gambarkan yang kini memenuhi hati Sakura.
"Jadi..."
Suara berat Sasuke membuat Sakura menatap Onyx tersebut. Mata hitam legam yang sangat indah. Hingga membuat Sakura tidak bisa memalingkan wajahnya.
"...dari mana kita memulai perkenalan kita."
.
.
.
.
.
Sudah hampir lima bulan Sakura berhubungan dengan sosok pria bernama Sasuke Uchiha. Dan tentu saja tidak ada yang tahu hal itu. Mereka berdua sepakat untuk menutup rapat-rapat hubungan merek.
Biar bagaimana pun Sakura adalah seorang bangsawan dan Sasuke hanyalah sosok pria penghibur. Jika ada yang tahu, itu pasti hal yang sangat memalukan untuk keluarga bangsawan.
Sakura segera turun dari kereta kuda. Dengan jubah yang menutupi wajah cantiknya ia segera masuk ke sebuah gedung opera. Sebisa mungkin menghindari beberapa orang yang mungkin mengenalnya.
Berjalan tenang menuju ruangan yang bergitu familiar untuknya.
"Aku telat, maafkan aku." Ujar Sakura begitu sampai di dalam ruangan tersebut.
Sasuke yang duduk di kursi kerjanya menatap Sakura dan tersenyum. "Tidak apa." Sasuke meletakan kertas naskah yang sedari tadi di tangannya. "Kemarilah." Sasuke pun beranjak menuju sofa.
Sakura membuka jubahnya lalu ia meletakannya di sofa yang lain sebelum mengambil posisi duduk di samping Sasuke. Pria itu memeluk Sakura erat. "Aku merindukanmu."
Sakura merasa geli di lehernya. Dan itu membuatnya tertawa pelan. "Aku lebih merindukanmu, Sasuke."
Sakura menyentuh tangan Sasuke yang ada di perutnya. Ia menyelipkan tangannya agar bisa bertautan dengan tangan Sasuke.
Sakura diam menatap kulit Sasuke. Kulit yang begitu putih, ah tidak bahkan kulit itu terlihat pucat. Semakin di pikir semakin ada yang mengganjal. Tidak ada manusia memiliki kulit seputih ini.
Sakura menggigit bibir bawahnya. Ia menyiapkan hatinya jika benar kalau Sasuke seperti apa yang ada di pikirannya.
"Sasuke, apa kau... Memiliki hubungan dengan Blood Demon?" tanya Sakura hati-hati.
Tubuh Sasuke menegang dan Sakura bisa merasakannya. Ternyata benar Sasuke bukan manusia. Sakura melepaskan tautan tangan mereka ia berbalik menatap Sasuke yang kini menyembunyikan wajahnya dengan poninya yang panjang.
Sakura menangkup kedua pipi Sasuke ia memaksa Sasuke untuk menatapnya. Ada kehampaan di mata Sasuke. Dan Sakura menyadari satu hal. Walau Sasuke bangsa iblis tapi dia ingin diperlakukan seperti manusia biasa dan di cintai selayaknya.
"Aku tidak membencimu." ujar Sakura membuat Sasuke menatap Sakura dalam-dalam. "Apapun bentukmu, aku tetap mencintaimu."
Dan saat itu juga hati Sasuke menghangat. Beban yang ada di hatinya pun meluap dengan kata-kata sederhana Sakura. Kekosongan dan Kehampaannya kini terisi oleh kehadiran Sakura.
"Terima kasih." Sasuke merunduk mempertemukan kedua bibir mereka. "Aku mencintaimu... Sangat mencintaimu."
.
.
.
.
.
Tidak menyangka jika Sakura akan menghabiskan waktu sampai larut malam. Ia sering lupa waktu jika bersama Sasuke. Mau bagaimana lagi, Sakura enggan untuk berpisah dengan Sasuke.
"Lady." sosok dayang pun menghampirinya saat ia akan masuk ke kamarnya. "Count Haruno meminta anda ke ruanganya."
Ayahnya?
Sakura melepaskan jubahnya lalu menyerahkannya pada dayang itu sebelum pergi menemui ayahnya. Sebelum ia masuk ruang kerja Count Haruno, terlebih dahulu ia mengetuk pintu lalu membukanya.
"Ada apa anda memanggil saya."
Count Kizashi De Haruno tidak menoleh sedikit pun pada putrinya. Ia hanya fokus pada lembaran kertas tersebut dengan tangan yang sibuk menulis entah apa itu.
"Kenapa pulang larut?" tanyanya tanpa melihat Sakura.
Sakura menggigit bibir bawahnya. Ia cukup gugup karena ia bukanlah orang yang pandai berbohong. "Saya bertemu dengan teman saat hendak pulang. Karena sudah lama tidak bertemu kami pun berbincang lama sekali."
Sakura cukup bersyukur suaranya tidak tergagap. Meski keringat dingi mulai membasahi pelipisnya.
"Oh ya." Kizashi berhenti menulis. Ia lalu meletakan penanya dan mulai membaca apa yang ia tulis. "Lalu apa bercak merah di lehermu itu?"
Dheg
Sakura reflek menyentuh leher kirinya. Keringat pun mulai deras meluncur di sekujur tubuhnya. "Ah, ini... Saya tidak sengaja terjatuh dan melukai leher saya."
Mati sudah.
Hanya itu yang ada di pikiran Sakura. Tidak ada Lady yang ceroboh hingga jatuh dan terluka di leher.
"Begitukah? Kembalilah ke kamar dan obati lukamu."
Hanya itu jawaban dari Kizashi. Tentu membuat Sakura berpikiran aneh. Segera Sakura pamit undur diri dan pergi ke kamarnya.
"Ebisu."
"Anda memanggil saya, Count Haruno."
Entah dari mana tiba-tiba sosok pria dengan pakaian serba hitam berjongkok memberi hormat di belakang kursi Kizashi.
"Ikuti Lady Haruno dan laporkan apa saja dan kemana saja dia pergi."
"Baik."
Pria itu menghilang meninggalkan Kizashi yang menatap kertas di tangannya. Itu adalah surat permintaan dari seorang Baron yang ingin meminang Sakura. Jika Sakura menjadi Baroness maka kekuasaan Baron itu akan ada di bawahnya.
Yang di inginkan Kizashi hanyalah sebuah status sosial dan kekuasaan. Tidak ada yang ia inginkan selain dua hal tersebut.
.
.
.
.
.
"Sakura?"
"Hm?" Sakura merunduk menatap Sasuke yang duduk di pinggiran ranjang membelakanginya. Sementara Sakura bertumpu dengan lututnya di belakang Sasuke. Mengeringkan rambut Sasuke yang basah.
"Kau... Datang kemari tidak ada yang mengikutikan?" tanya Sasuke ragu. Seolah ada yang mengawasi mereka.
"Tidak ada."
"Benarkah?"
Usapan tangan Sakura terhenti. Kedua tangan itu terdiam di atas kepala Sasuke. "Entahlah, aku juga tidak yakin."
Sasuke meraih handuk yang ada di kepalanya lalu membuangnya jauh. Ia berbalik lalu mendorong Sakura jatuh ke atas ranjang. Mengurung gadis cantik itu di bawahnya.
"Kau cantik, Sakura."
"Sasuke..."
Braakk
Sakura terkejut mendengar suara jeplakan pintu yang keras. Ia menatap tidak percaya pada beberapa orang yang ia kenal. Ada sekitar tujuh kesatria dari keluarga Count Haruno.
Dan yang lebih tidak percaya ada sosok Count Haruno yang siap murka. Menatapnya marah dan siap untuk menyemburkan amarah kepadanya.
Sakura meringkuk bersembunyi di balik tubuh Sasuke. Bagaimana tidak ia kini hanya memakai baju tidur sementara Sasuke memakai jubah mandinya.
"Sungguh memalukan." ujar Kizashi dengan nada tidak suka yang sangat kental.
"Menjalin hubungan dengan aktor rendahan. Itu hal yang memalukan untuk keluarga Haruno."
Ucapan yang cukup menusuk untuk Sakura. Membuat gadis itu mengeluarkan air matanya.
Sasuke berdiri menjulang menjadi tameng Sakura. Ia menatap datar wajah Kizashi yang di penuhi guratan kemarahan. Tatapan Sasuke yang datar itu semakin membuat Kizashi murka.
"Seharusnya kau sadar siapa dirimu, Sasuke Uchiha. Kau tidaklah pantas dengan keluarga Haruno. Dan kau hanya akan menimbulkan aib untuk Sakura."
"Ayah!"
"Tutup mulutmu Sakura!" Kizashi segera beranjak pergi. "Seret dia."
Sakura tersentak kaget begitu kedua tangannya di seret paksa mengikuti langkah kaki Kizashi. Mata emerald itu menatap sosok Sasuke yang mematung. Sakura merasa jika dirinya keluar dari kamar ini, ia tidak akan pernah bertemu dengan Sasuke lagi.
.
.
.
To Be Continued
Akhirnya bisa up ini... Setelah sekian lamanya. :v oh iya, ada yang nanya. "Kok mirip sma cecil&carmi."
Yapp betul, ini referensi dari ceritanya cecillion sama carmila... Makanya bisa di bilang bukan sepenuhnya cerita ini milik wen. Wen suka bgt sama cerita yang bernuansa kerajaan. Awalnya iseng liat latar belakang cecil&carmi tau2 ada pikiran buat bikin cerita mereka tapi versinya wen.
Dan jadilah fic gaje ini :)
