Disclaimer: Cerita ini milik saya, semua karakter Inuyasha milik Rumiko Takahashi, saya hanya meminjam nama mereka. Saya tidak mengambil keuntungan dari penulisan cerita ini dan tulisan ini hanya sebagai hiburan semata.
Summary: Tak pernah terbayangkan di benak Kagome bahwa pembelaan diri yang ia lakukan itu, justru menyeretnya terlabeli sebagai tersangka utama kasus percobaan pembunuhan. Pertemuannya dengan Detektif Taisho Sesshōmaru dalam ruangan interogasi di Kantor Kepolisian Metropolitan Tokyo, menenggelamkan keduanya dalam rasa sakit tak berkesudahan dari masa lalu. Laki-laki itu tertampar keras oleh kenangan saat berusaha menggali lebih dalam tentang tersangka utama dari kasus percobaan pembunuhan yang tengah ia selidiki, Higurashi Kagome. Dan semuanya terjadi di musim semi yang baru saja tiba di tahun ini, musim yang mereka anggap membawa rentetan petaka. Kenangan tak berjiwa itu terus menggerogotinya, siluetnya terus memeluknya dengan erat, tak membiarkan secercah kebahagiaan menyapa.
Warning! Tulisan ini mengandung tema sensitif dan muatan konten dewasa. Bagi pembaca yang belum cukup umur atau tidak nyaman dengan konten tersebut, dianjurkan untuk TIDAK MEMBACANYA. Diharapkan kebijaksanaan pembaca.
Seberkas cahaya berwarna jingga berlabuh di langit sore, senja yang begitu menentramkan telah menghiasi jagat, keindahan yang tak akan pernah dijumpai setiap saat. Tak jarang beberapa orang rela menantikan kehadirannya, menunggu berjam-jam dengan alasan tidak ingin melewatkan keindahan senja yang berpelukan dengan matahari, hingga mereka tertelan oleh bayang-bayang hitam sang malam. Namun, hari ini senja nampak berbeda dari biasanya, ia ditemani oleh embusan angin yang meniupkan kebahagiaan, dan menghapuskan kesedihan yang masih tertinggal, musim semi tahun ini telah datang.
Kata orang, musim semi itu syarat akan kebahagiaan. Hal itu bukanlah isapan jempol belaka, saat musim semi tiba, orang-orang dengan bahagia akan menantikan mekarnya bunga yang sudah terkenal di penjuru dunia, sakura. Meskipun bunga yang berwarna merah muda itu tidak akan bertahan lama sebelum akhirnya gugur, kehadirannya begitu dinantikan. Selain itu, banyak orang yang pada akhirnya menemukan tambatan hati mereka di musim ini dan tak jarang pula banyak pasangan yang memilih menikah di musim semi, berharap cinta mereka tak akan pernah berkesudahan, layaknya bunga-bunga yang akan terus bermekaran.
Jika manusia bisa memilih tentang dadu takdirnya, sudah pasti ia akan memilih kebahagiaan. Sayangnya, manusia tidak bisa memilih untuk menentukan bagaimana dadu takdirnya akan berguling, ke arah bahagia atau justru ke arah yang berkebalikan. Hal itu pun berlaku pada musim semi, tak selamanya ia akan menjadi pertanda kebahagiaan bagi semua orang, bagi segelintir orang, bisa jadi ia merupakan luka yang terpahat dalam-dalam bahkan ingin mereka hapus dari sistem musim yang ada. Betapa indahnya hidup jika mereka menemukan kebahagiaan di musim semi, tapi hal itu berbeda dengan apa yang dirasakan oleh wanita berbaju biru gerau dan rok sepanjang lutut. Ia berdiri menantang pantulan senja dari balik kaca, tangannya menyilang—seolah menantikan sesuatu, surainya yang ia gerai sebagian berlomba-lomba dengan furin yang terus berbunyi, karena tiupan angin musim semi.
Wanita itu mendesah, napasnya gusar, "Aku harap musim ini segera berakhir," bisiknya entah kepada siapa. Salah satu sudut bibirnya terangkat, senyum simpul menghias wajah cantiknya, tapi senyumnya tak secantik wajahnya. Senyum getir. Tangannya yang sedari tadi menyilang, kini mengusap-usap lengan bagian atas yang terbungkus kain baju serta blazer berwarna putih—senada dengan warna rok yang ia kenakan, kegusaran yang tak bisa diabaikan lagi.
Entah apa yang ada di pikiran wanita itu, bisunya tertelan oleh suara burung-burung yang menghambur di senja sore. Ia sudah tidak ada pekerjaan, tapi entah kenapa ia masih enggan untuk meninggalkan kantor, sedang benang pikirannya berurai tak beraturan. Sepintas ia teringat kakaknya yang sudah tidak pulang ke rumah beberapa minggu ini, karena sebuah tugas yang mengharuskannya pergi ke luar kota, sedang dirinya di rumah seorang diri dengan Buyo—kucing kesayangan sang kakak. Kepergian kakaknya ke luar kota bukan tanpa alasan, setelah penunjukkan tugas sebagai petugas yang mewakili Kepolisian Metropolitan Tokyo untuk menyelidiki kasus pembunuhan berantai yang terjadi di Kota Kadoma, Osaka, ia tak pulang sudah berminggu-minggu. Sebuah investigasi gabungan untuk kasus yang menyita perhatian publik sudah menjadi hal yang wajar, terlebih ketika wanita yang memiliki iris berwarna unik itu mengingat kinerja sang kakak di lapangan. Ia tak pernah meragukan keahliannya, mengingat hal itu terbersit rasa bangga yang membuncah di dalam dada.
Ketika angin berembus pelan seraya memainkan surainya, yang ada di kepala wanita yang kerap kali disapa Kagome itu hanya satu: mencari kado untuk sang kakak, bukan kado ulang tahun atau kado natal, hanya sebuah kado yang ingin ia berikan sebagai tanda betapa ia bangga menjadi adik sang detektif andalan Kepolisian Metropolitan Tokyo tersebut. Di samping itu, ia sungguh bersyukur memiliki kakak seperti itu, yang selalu ia bisa andalkan dan tempatnya bergantung dalam segala hal, tapi tentu saja ia tidak ingin menjadi benalu yang akan terus menempel pada inangnya. Tak berbeda jauh dengan sang kakak, Kagome berusaha keras untuk menunjukkan bahwa ia mampu dan bisa diandalkan seperti kakaknya, ia tidak ingin terlihat sebagai wanita yang lemah setelah kejadian delapan tahun yang lalu. Kagome membalikkan badan, netranya membulat sempurna melihat sosok yang ada di hadapannya itu hanya berjarak beberapa sentimeter darinya.
Ia adalah atasan Kagome yang memiliki jabatan manajer. Keterkejutan wanita berparas ayu itu tak bisa ia sembunyikan lagi, laki-laki yang usianya tak terpaut jauh dari kakaknya semakin mencondongkan tubuh ke arahnya dengan posisi tangan bertumpu pada rangka jendela. Laki-laki di hadapannya bersiul dengan merdu, mengalahkan siulan burung kakak beo di siang hari, netranya terus berfokus pada tubuh Kagome bagian depan, lebih tepatnya dada yang tertutupi oleh blazer putih. Tatapannya lapar, terlebih saat ia mengamati tubuh seksi Kagome. Proporsi yang ideal untuk ia lahap hari ini, pikirnya. Seringaian menghiasi wajah laki-laki itu, ditambah wanita di hadapannya tidak mengeluarkan reaksi berlebihan dengan apa yang telah ia lakukan, ia justru membisu.
Tenggorokan Kagome tercekat, lidahnya kelu, tubuhnya menegang saat laki-laki di hadapannya itu makin mendekat ke arahnya. Ia membisu dengan perlakuan sang atasan, lengan kekar laki-laki bersurai cepak itu seolah menuntun Kagome, menunjukkan ke arah mana yang harus Kagome ambil, sedang kakinya terus melangkah mendekati wanita di hadapannya. Tubuh Kagome menempel pada rak, sudah dipastikan ia tidak memiliki akses lebih untuk melarikan diri dari situ, ia terhimpit di sudut ruang kerjanya. Kepalanya dipenuhi dengan pikiran mengenai sosok di hadapannya, bagaimana bisa ia tidak menyadari keadatangannya dan sudah berapa lama laki-laki itu berada di ruangannya sebelum akhirnya ia mengejutkannya dengan seringaian yang seolah mengatakannya ingin menerkam dirinya?
Laki-laki yang bernama Inuyasha itu mulai mengendurkan dasi yang sudah lama melilit lehernya, terasa mencekik. Tangan kanannya begitu cekatan, dengan kasar dan dalam waktu singkat, dasi berwarna merah itu sudah melonggar bersamaan dengan kancing kemejanya yang terbuka lebih dari dua, menampilkan dada bidangnya. Jemarinya mulai melakukan penjelajahan pada objek indah yang ada di hadapannya, menelusuri pahatan cantik pada wajah Kagome, menyentuh leher jenjangnya, kemudian berhenti pada kerah kemeja yang digunakan wanita itu. Sebelum melanjutkan pada langkah selanjutnya, netra laki-laki itu melirik Kagome cukup lama.
Kagome memejam saat jari telunjuk milik Inuyasha menjelajahi leher jenjangnya. Sensasi aneh itu menggelenyar ke seluruh tubuhnya ketika jari itu mencoba untuk menggoda dirinya, rasa takut melingkupinya dengan erat, enggan lepas darinya. Gerakan itu berhenti, tapi ia tak tahu apa yang akan dilakukan selanjutnya oleh laki-laki di hadapannya itu, peluh mulai membasahi pelipis, suhu tubuhnya meningkat karena rasa takut yang dirasakannya.
"Kenapa kau menutup matamu, Kagome?" bisik Inuyasha tepat di telinga Kagome dengan suara yang dibuat-buat untuk menggoda. "Apa kau takut? Ini aku Kagome, Inuyasha."
Kagome masih dalam posisi yang sama, diam dan memejamkan matanya. Dadanya bertalu-talu ketika saraf-saraf di otaknya menebak apa yang selanjutnya akan dilakukan oleh laki-laki di hadapannya.
"Buka matamu, cantik," bisik Inuyasha lagi dengan membelai paras cantik Kagome, tapi wanita itu bersikukuh tak mau membuka matanya. "Apa yang harus kulakukan untuk membuatmu membuka mata? Apakah aku harus melakukan kekerasan padamu?" ancam Inuyasha dengan nada yang lembut. Entah apa yang ada di pikiran wanita itu, ia patuh begitu saja pada ancaman Inuyasha, siasat laki-laki itu berhasil.
Inuyasha mencondongkan wajahnya pada Kagome, tak menyisakan jarak untuk keduanya. Ia mulai memagut bibir ranum milik wanita itu dengan lembut, penuh perasaan. Setelah cukup puas, ia kemudian melanjutkan penjelajahan dengan bibirnya di leher jenjang wanita itu, laki-laki yang berprofresi sebagai manajer itu sudah menduga reaksi Kagome akan seperti ini, tak akan membalas pagutannya ataupun desahan atas penjelajahan bibirnya atas leher dan tubuh wanita itu nantinya.
"Aku melakukan ini untuk kebaikanmu juga, kau nanti akan menikmatinya juga, kita akan menikmatinya bersama," Inuyasha melempar seringaian dengan senyum manis terpahat di wajahnya. Lengannya dengan terampil mulai melepas kancing kemeja Kagome dengan pelan, sedang bibirnya terus melakukan penjelajahan di area leher yang perlahan turun ke arah payudara. Desahan demi desahan dikeluarkan olehnya, ia puas atas penjelajahannya, sorot matanya nampak seperti orang yang tergila-gila akan material kenyal yang masih dibalut dengan bra berwarna senada dengan kemeja yang dikenakannya. Pilihannya benar-benar tepat, ia harus melahapnya malam ini, hanya itulah yang ada di pikiran Inuyasha saat ini.
Buku-buku tangan Kagome memutih karena menggenggam erat rok yang dikenakannya. Hal itu berbanding terbalik dengan jemari milik Inuyasha yang tergila-gila atas penjelajahannya, "Aromamu wangi sekali," ujar Inuyasha dengan desahan yang tertahan, "bagaimana bisa kau menyembunyikan hal yang bisa membuatku gila selama ini? Kita harus melakukannya malam ini, Sayang. Kau benar-benar nikmat, tak salah aku memilihmu. Kau membuatku gila, Kagome."
Inuyasha menelusupkan jemarinya ke payudara Kagome lebih dalam, kata-kata tak bisa mewakili bagaimana laki-laki itu dibuat gila oleh material yang tersembunyi dibalik bra. Tubuh Kagome bagian atas sudah terbuka setengah, blazer putih itu sudah teronggok di lantai yang tak jauh lokasinya dari wanita itu. Laki-laki itu mulai tidak sabar untuk menelanjangi tubuh seksi Kagome, jemarinya mulai merayap ke bagian punggung untuk mencari kaitan bra yang terus bersikukuh menutupi material kenyal yang begitu digilainya.
Mendapati Inuyasha yang terlihat kebingungan mencari kaitan bra miliknya, Kagome menahan napasnya dan memberanikan diri, menggali tekadnya yang terkubur oleh rasa takut, ia mendapat kesempatan yang pas untuk melakukan penyerangan terhadap atasannya. Jemari lentiknya mulai merayap ke arah rak, banyak dokumen yang terjejer rapi di sana. Di saat ia mengembuskan napas panjang, jemarinya mulai menjatuhkan semua dokumen yang telah berjejer rapi di rak. Alhasil, semua dokumen berjatuhan mengenai kepala Inuyasha, terdengar suara laki-laki itu yang mengaduh kesakitan, meskipun rasa sakit yang tertinggal tak seberapa. Kagome mendorong tubuh Inuyasha menjauh dari tubuhnya, kemudian ia meraih tas yang ada di meja kerjanya. Kagome tahu bahwa ia terlalu membuang waktu untuk mengambil tasnya, seharusnya ia segera berlari meninggalkan ruangan itu dan meminta bantuan dari orang lain atau pihak berwajib. Tapi, nasi sudah menjadi bubur, waktu berharganya untuk melarikan diri terbuang begitu saja untuk mengambil tas, ketika ia hendak mengambil blazer untuk demi menutupi tubuhnya bagian depan, sebelah kakinya tertahan oleh cengkeraman kuat.
Kagome jatuh tersungkur, tak jauh dari Inuyasha. Tak mau membuang kesempatan yang ada, laki-laki itu berusaha menelanjangi objeknya secepat yang ia bisa dengan posisi di atas wanita itu tepat. Wanita yang sejak awal hanya diam saja mulai mengeluarkan reaksinya, ia menangis sekencang yang ia bisa, tapi sekeras apapun suara yang ia keluarkan, hanya terdengar erangan yang kemungkinan teredam oleh suara ramai di luar. Saat itulah Kagome tahu bahwa tak ada orang yang bisa menolongnya saat ini dari tangan brutal Inuyasha. Kagome menangis sejadi-jadinya menyadari bahwa tak ada seorang pun yang akan menolongnya, mungkin tak akan ada orang yang peduli dengan apa yang ia alami di ruangan kerjanya saat kantor mulai sepi. Bersamaan dengan jemari Inuyasha yang berusaha menelanjanginya dari bawah, jemari Kagome meraba-raba isi tasnya, mencari gawai berukuran lima inci tersebut untuk melakukan sebuah panggilan. Bungsu Higurashi tersebut ingat pesan kakaknya yang bekerja sebagai detektif itu, yang selalu dikatakan sebelum ia berpamitan untuk berangkat kerja, "Kagome, jaga dirimu baik-baik agar tak terulangi kejadian yang sudah-sudah. Jika ada sesuatu padamu, lekas hubungi kakak atau polisi!"
Jemari Kagome dengan cekatan melakukan panggilan ke polisi begitu ia meraih gawainya. Nada abstrak terdengar nyaring di telinganya, secercah harapan terbit baginya. Di ruang kecil hatinya yang terdalam, ia memanjatkan doa agar panggilan itu dijawab dan ia segera diselamatkan dari laki-laki yang berusaha melecehkannya.
"Ya. Ini saluran siaga 110." Suara seseorang terdengar dari seberang sana, dari panggilan telepon yang dilakukan oleh Kagome.
"Tolong aku!" teriak Kagome, nadanya parau.
"Mohon tenang," ujar seorang petugas kepolisian di telepon tersebut.
"Bagaimana aku bisa tenang ketika seseorang mencoba memerkosaku? Tolong aku! Kumohon tolong aku!" raung Kagome.
"Maaf, bisa jelaskan situasinya dengan lebih tenang? Siapa yang berusaha melakukan hal itu pada Anda?"
"Berani-beraninya kau menelepon polisi!" geram Inuyasha ketika menyadari wanita itu sudah melakukan panggilan ke pihak yang berwajib, refleks tangannya memukul bokong sintal milik Kagome dengan keras. Ia menelusupkan tangannya ke dalam rok dan mulai meraba-raba celana dalam, sebuah seringaiannya terlukis dengan jelas di wajahnya.
"AAAAAA!!!" teriak Kagome dengan kencang, kemudian panggilan itu terputus begitu saja. Kagome takut bukan kepalang, Inuyasha menarik celana dalam yang ia kenakan dengan paksa. Harapannya sudah pupus, ia menangis sejadi-jadinya mengingat tak ada orang yang bisa menolongnya untuk saat ini selain dirinya sendiri.
Melihat reaksi mangsanya yang bergelinjang seperti ayam yang baru disembelih, membuat Inuyasha tertawa terbahak-bahak, tak sabar untuk segera memasuki diri wanita itu secara penuh. Gerakan demi gerakan yang dilakukan oleh Kagome untuk mencegah laki-laki mengakibatkan lengan kain kemeja dan roknya sobek, kemudian Inuyasha membalikkan badan Kagome.
"Hanya dirimu sendiri yang bisa menyelematkanmu, Kagome!" batin Kagome yang terus berteriak dengan kencang, maka dengan keberanian serta tekad yang bulat, ia menggerakkan kakinya sekuat tenaga agar mengenai laki-laki tak bermoral itu. Berhasil! Laki-laki itu terkena pukulan kakinya yang masih mengenakan heels cukup kuat, membuatnya mengaduh kesakitan dan terduduk menjauhi Kagome. Dengan penampilan yang sudah tak pantas dilihat, Kagome bangkit perlahan dan kembali mengarahkan tendangannya ke area sensitif milik laki-laki yang selama ini begitu dihormatinya, tapi hari ini laki-laki itu justru melakukan pelecehan yang tak pernah Kagome bayangkan. Sejak beberapa saat yang lalu, ketika ia menyadari Inuyasha berniat untuk melecehkan dirinya, ia tak menganggap laki-laki itu sebagai atasannya lagi, melainkan seorang penjahat yang akan membuat dirinya terkubur kembali dalam bayang-bayang kelam yang sudah sejak lama ingin ia lupakan. Ia tak peduli lagi dengan Inuyasha yang mengaduh kesakitan, karena tendangan yang ia lakukan beberapa saat yang lalu, yang ada di kepalanya saat ini ia harus lari dari situ.
Inuyasha tak bodoh, ia tak membiarkan mangsanya pergi dari ruangan. Jemarinya kembali mencengkeram kaki jenjang Kagome yang hendak melangkah pergi meninggalkannya, ketika wanita itu cukup kesusahan melepaskan cengkeramannya ia tertawa dengan kencang sambil menahan rasa sakit. Tak berselang lama, Kagome kembali melayangkan tendangan untuk menghempaskan jemari Inuyasha, rasa sakit yang ia rasakan kini menjadi berlipat-lipat.
Benang-benang kusut yang sudah berulang kali Kagome coba untuk tak ia putar, justru terputar dengan acak di kepalanya. Kenangan kelam yang mengubah kehidupannya, monster berwarna hitam legam seperti anjing jenis doberman yang terus menghantuinya, rasa takutnya yang tak lelah memeluknya dengan erat—tak membiarkan kebahagiaan menyambanginya, ditambah erangan sakit dan sayup-sayup ingatan akan perlakuan bejat atasannya kini memenuhi kepalanya yang rasanya mau meledak. Ia memejam, tangannya meraba-raba ke arah meja yang tak jauh darinya untuk mengambil sesuatu yang sekiranya bisa digunakan untuk melakukan pembelaan diri dari Inuyasha.
"Brak!"
Terdengar nyaring suara itu di indra pendengaran Kagome, entah berapa kali ia melayangkan benda tumpul itu ke kepala Inuyasha. Ia tidak mengingatnya dengan jelas, bau anyir khas darah mulai menjelajah hidung Kagome, bahkan kemejanya terkena darah laki-laki yang ingin menggerayangi tubuhnya. Ia bergetar hebat melihat darah yang mengalir dari kepala laki-laki itu, bahkan menghiasi kemeja, rok, serta blazer-nya. Dengan segera ia memperbaiki tampilannya, mengenakan kembali celana dalam yang tadinya ditarik paksa oleh Inuyasha meskipun kain berwarna putih itu tidak lolos dari kedua kakinya, membenahi bra, serta mengancingkan kemejanya kembali.
"Angkat tangan!" teriak seorang laki-laki dengan lantang dari ambang pintu yang entah kapan pintu itu sudah terbuka, Kagome tidak ingat dengan pasti, apakah pintu itu sudah terbuka sejak tadi atau baru dibuka saat dua petugas polisi ini datang. "Angkat tangan!" perintah laki-laki itu kembali dengan menodongkan senjata dan Kagome patuh akan perintah laki-laki berpostur tubuh tinggi dan gagah tersebut. Ia mengangkat kedua tangannya ke atas lalu digiring oleh pria itu tanpa borgol.
Pada sebuah ruangan khusus yang cukup menampung sekitar seratus orang, nampak penuh, ekspresi serius tertampil pada semua orang yang berada dalam ruangan itu, atensi mereka bersatu padu mengarah ke tempat yang sama, sebuah layar proyektor yang menampilkan jumlah korban dari kasus yang tengah diselidiki oleh tim investigasi gabungan yang dibentuk beberapa minggu yang lalu. Para detektif terbaik dikerahkan untuk melakukan investigasi dari kasus yang cukup menyedot perhatian masyarakat Jepang, resah melingkupi mereka. Penemuan korban baru dari kasus beku pembunuhan berantai yang meresahkan publik tiga puluh tiga tahun silam, dengan menargetkan korban dari kalangan wanita berusia dua puluh lima tahun hingga akhir tiga puluhan tahun. Sejauh ini, jumlah korban dari kasus yang mereka beri nama "Bunga Kehidupan" menjadi delapan belas orang, setelah kurang lebih empat belas tahun tidak beraksi, ia kembali beraksi dengan penemuan korban baru yang ditemukan dua hari yang lalu.
Pelaku dari kasus "Bunga Kehidupan" ini dinilai benar-benar mahir, ia tidak meninggalkan jejak atau petunjuk yang sekiranya bisa menuntun polisi untuk menyelidikinya. Hal itulah yang membuat polisi merasa dipermainkan, hingga kasus ini menjadi kasus beku yang tersimpan di rak arsip di beberapa kantor kepolisian prefektur. Badan forensik telah melakukan autopsi dari setiap korban, hasilnya mereka memiliki kesamaan pola yang menjadi penyebab kematian para korban, ditemukan kandungan arsenik dalam tubuh para korban yang melebihi dosis normal serta bekas suntikan di leher mereka, menimbulkan spekulasi bahwa pelaku menggunakan jarum suntik untuk memasukkan likuid mematikan yang dijuluki sebagai rajanya dari para racun kepada para korban. Rentang kematian para korban ialah lima menit setelah racun itu disuntikkan ke dalam tubuh mereka atau sekitar pukul empat dini hari, selain itu pelaku dengan keji memerkosa korban dalam keadaan tangan mereka yang terikat, sehingga meninggalkan bekas khas ikatan pada pergelangan tangan korban. Sperma pelaku tidak ditemukan dalam area sensitif korban, tapi pada area sensitif tersebut ditemukan jejak kekerasan seksual. Tak berhenti sampai di situ, tali yang mengikat pergelangan tangan korban tidak pernah ada di tempat penemuan mayat, namun digantikan dengan benda lain yang menjadi ciri khas pembunuhan berantai ini, setangkai Bunga Ume dan cat kuku berwarna merah. Setelah semua detail yang biasa dilakukan oleh pelaku diumumkan oleh pihak badan forensik, kepolisian pusat lantas membentuk tim investigasi gabungan untuk menangani kasus ini. Semua detektif dan profiler terbaik dikerahkan di lapangan, guna menuntas kejahatan keji yang begitu meresahkan publik.
"Mengenai jasad yang ditemukan dua hari yang lalu dekat jalan menuju kuil di Kadoma- shi, identitasnya telah dipastikan oleh pihak badan forensik, Watanabe Noriko, dua puluh tujuh tahun, yang juga dilaporkan hilang ke kepolisian setempat beberapa hari sebelumnya. Kami juga sedang menyelidiki apakah ada orang mencurigakan sekaligus diuntungkan dari kematian korban di area tersebut, dan juga orang-orang terdekat korban," jelas seorang detektif wanita dengan suara lantang nan menggebu.
"Tapi, modus operandinya berubah dari yang sebelum-sebelumnya dan ia kembali beraksi setelah empat belas tahun lamanya. Seorang pembunuh berantai yang begitu rapi dan terstruktur seperti ini, sepertinya ia akan kesusahan untuk menahan dirinya tidak beraksi selama itu," Detektif wanita kebanggan Prefektur Tokyo itu menanggapi, atensinya berfokus pada tumpukan kertas kasus yang menerangkan detail hasil investigasi yang sudah dilakukan oleh tim ivestigasi gabungan khusus tersebut.
"Ya, apa yang dikatakan oleh Detektif Kikyō benar. Pelaku mengubah pola modus operandi yang selama ini ia gunakan. Rangkaian Bunga Ume yang menjadi ciri khasnya ia letakkan di kepala layaknya mahkota, biasanya ia hanya menggunakan beberapa tangkai Bunga Ume saja, sepertinya korban begitu spesial bagi si pelaku," jawab detektif wanita yang sebelumnya memaparkan identitas korban terakhir, Tachibana Luna namanya.
"Tolong selidiki kembali mengenai cat kuku yang selama ini ia gunakan, serta faktor yang mempengaruhi pelaku untuk mengubah modus operandinya!" Laki-laki berwajah tegas dengan aura karisma kuat, yang duduk di bagian tengah itu angkat bicara. Ia adalah pemimpin investigasi gabungan khusus, seorang detektif yang sudah menggeluti bidang ini lebih dari dua puluh tahun, sudah cukup tua memang.
"Baik. Kami akan menyelidikinya lebih lanjut," jawab Detektif Tachibana yang merupakan kebanggaan Kepolisian dari Prefektur Osaka.
"Kerahkan semua tenaga kalian untuk menyelidiki kasus ini! Kuharap para profiler segera memberikan daftar hasil pengerucutan tersangka. Sekian untuk rapat kali ini," jawab pemimpin investigasi dengan tegas.
"Baik!" semua detektif yang berada di dalam ruangan itu memberikan respons yang kompak atas apa yang dikatakan oleh sang pemimpin.
"Berdiri!" salah satu detektif yang duduk di ujung kanan bagian depan itu langsung berdiri, setelah ia meneriakkan perintah. Semuanya patuh atas apa yang ia katakan, berdiri serentak. "Beri hormat!" lanjutnya, bersamaan dengan itu, semua detektif membungkukkan badan ke arah para pemipin yang ada di depan mereka.
Layaknya semut yang sudah puas menikmati santapannya yang manis, para detektif yang memenuhi ruangan tersebut membubarkan diri guna memberikan kemajuan pada penyelidikan yang sudah menyita waktu, tenaga, dan juga otak mereka. Meski jam sudah menunjukkan waktu makan malam, mereka rasanya tidak peduli lagi dengan perut mereka yang sudah bergaung lapar, yang ada di kepala mereka adalah menuntaskan kasus ini secepat yang mereka bisa. Kasus kejam ini sungguh menyiksa banyak pihak, tak terkecuali para detektif yang menginvestigasinya.
"Kikyō!" panggil seseorang dari arah depan—jejeran pemimpin. Seorang laki-laki yang akrab dipanggil Detektif Neko dan berusia lebih tua beberapa tahun darinya itu mengekor di belakangnya.
"Ya, Hidetoshi- san," jawab detektif yang dipanggil namanya itu.
"Mari kita makan malam bersama," ujar laki-laki bernama lengkap Hidetoshi Motoki dengan nada yang lugas, "ada yang ingin kubahas denganmu."
Dengan raut wajah kebingungan, Kikyō memberikan respons singkat, setuju. "Baik."
Hidetoshi tak melontarkan sepatah kata, lengannya bergerak seolah menunjukkan jalan pada tamunya yang baru pertama kali berkunjung ke rumahnya. Ketiganya membisu dalam perjalanan menuju rumah makan terdekat dari Kantor Kepoilisian Prefektur Osaka, berkutat pada pemikiran masing-masing yang rumit bak benang yang tak beraturan, memikirkan kasus yang tengah mereka selidiki, agenda pensiun Detektif Toru Kaneko yang direncanakan dua bulan yang akan datang. Pastisipasi Toru Kaneko dalam investigasi kasus pembunuhan berantai tak luput dari sepak terjangnya dalam menangani kasus beku bersama Higurashi Kikyō dan Hidetoshi Motoki berserta ketiga anggota tim lainnya. Tumpukan kasus beku yang awalnya menjadi tumpukan di bagian arsip Kantor Polisi Tokyo itu dapat mereka tuntaskan dalam kurun waktu lima tahun, meskipun Kikyō sempat diskors beberapa minggu setelah kejadian kasus yang hampir merenggut nyawanya, ia kemudian turut berpartisipasi kembali dalam tim untuk menyelidiki kasus beku lainnya.
Sebuah prestasi tersendiri bagi Kikyō mengingat ia satu-satunya detektif wanita yang berada di tim divisi satu, ditambah dengan keberhasilannya dalam menyingkap kebenaran demi kebenaran dari kasus beku yang tak terpecahkan selama beberapa tahun hingga puluhan tahun itu. Terlebih lagi, ia seorang kapten yang begitu diandalkan oleh para anggota timnya—tak berbeda jauh dengan keadaan di keluarganya; ia begitu diandalkan, keahlian dalam investigasi lapangan tak perlu diragukan lagi. Tegas, lugas, dan berkarisma. Tiga kata yang cukup mewakili Kikyō, dan jangan lupakan paras cantiknya. Keberhasilan timnya dalam menangani kasus beku, menginspirasi kepolisian pusat untuk membentuk tim khusus yang akan menangani semua kasus beku yang selama ini belum terpecahkan, kasus yang lapuk dimakan zaman, namun tak lekang oleh ingatan. Selepas dari hal itu, timnya kembali menyelidiki kasus yang seringkali mereka tangani, kasus tindak pidana: mulai dari kekerasan, percobaan pembunuhan, hingga pembunuhan. Namun, ia bersama dua rekan seniornya ditugaskan oleh sang atasan untuk mewakili Prefektur Tokyo dalam investigasi gabungan untuk memecahkan kasus pembunuhan berantai yang sudah menelan delapan belas korban jiwa.
Pikiran Kikyō masih bergelut dengan segala kemungkinan yang akan ia bahas bersama Hidetoshi Motoki dan juga Toru Kaneko, mulai dari kemungkinan membahas lanjutan investigasi dari kasus pembunuhan berantai hingga kemungkinan terburuk, semuanya berjubel di kepalanya. Tanpa ia sadari, langkahnya terhenti di tempat tujuan mereka; rumah makan tradisional Jepang yang kental dengan nuansa klasik. Lamunannya terbuyarkan ketika Hidetoshi berujar untuk menyuruhnya masuk, dengan posisi tangan yang menahan pintu geser tersebut agar tetap terbuka.
"Ayo masuk!" seru Hidetoshi membangunkan lamunan Kikyō. Tangannya menahan pintu geser untuk memasuki rumah makan tradisonal tersebut, menanti wanita bersurai sebahu itu untuk segera masuk.
Wanita bernama lengkap Higurashi Kikyō itu hanya mengangguk. Kemudian mengikuti instruksi yang diberikan oleh Hidetoshi untuk masuk ke dalam rumah makan, saat ia memasuki rumah makan tersebut, sekelebat kenangan lama terputar begitu saja di kepalanya tanpa izin. Ia tersenyum manis, mendapati Toru yang sudah duduk di lantai yang beralaskan zabuton —bantal tipis— di meja nomor empat. Laki-laki yang sebagian besar surainya berwarna putih sebab dimakan usia tersebut, tengah menanti dua rekannya yang masih berdiri tak jauh dari pintu masuk. Tanpa menunggu aba-aba, baik Kikyō maupun Hidetoshi langsung melangkahkan kakinya ke tempat Toru berada, meletakkan tas yang berisi berkas kasus di tempat kosong yang ada, barulah mereka duduk. Tak berselang lama, seorang pelayan datang dengan membawa papan yang berisi menu makanan serta kertas khusus guna mencatat pesanan para pelanggan.
Paham dengan kehadiran sang pelayan, Toru Kaneko angkat bicara, "Kalian mau makan apa? Aku mau udon."
"Aku sama denganmu," timpal Hidetoshi yang masih sibuk melepaskan jas yang dikenakannya. Pelayan itu tampak mencatat pesanan dua orang laki-laki itu.
"Kalian kenapa hanya makan udon? Kenapa tidak memilih yang lain? Aku bisa membelikan kalian makanan lezat," ujar Kikyō menggoda kedua rekannya.
"Aku hanya butuh makan," jawab Neko santai.
Kikyō hanya mengembuskan napas panjang sambil tersenyum, tak menyangka bahwa laki-laki yang surainya hampir dipenuhi oleh uban akan menjawab seperti itu dengan santainya. "Tolong berikan aku sukiyaki dan kushikatsu. Ah, bir jahenya tiga gelas."
Tak berselang lama, makanan yang mereka pesan disajikan satu per satu oleh pelayan. Kikyō harus bersabar sedikit setelah pelayan menyajikan apa yang dipesannya, sebab ia harus memasaknya terlebih dahulu di atas panci yang dipanaskan, dimulai dari daging sapi, sayur, dan beberapa bahan lainnya. Setelah menunggu beberapa waktu, barulah ia mulai menyantap sukiyaki setelah melontarkan "itadakimasu" ketika makanan milik dua rekannya telah habis tak bersisa, dan mereka mulai mengambil kushikatsu yang tersaji.
"Sebenarnya, apa yang ingin kalian bahas denganku?" tanya Kikyō memulai pembicaraan, atensinya masih berfokus pada mangkuk yang sudah tersisa sedikit.
"Neko- san yang akan memaparkannya," sahut Hidetoshi.
"Nani?" Kikyō mendongkkan kepalanya, menatap bingung pada kedua seniornya yang saling lempar kesempatan bicara.
"Seperti yang sudah kau ketahui, aku akan pensiun dua bulan lagi," Detektif Neko mulai menjelaskan.
" Hm, lalu?" Detektif wanita itu menatap seniornya dengan intens, kemudian melahap mahanannya yang masih tersisa.
"Detektif baru akan ditugaskan di divisi satu, katakan pada Sesshōmaru untuk membimbingnya. Kapan dia akan datang di Tokyo?"
"Laki-laki itu sudah pasti tahu tugasnya untuk membimbing detektif baru itu. Ah, jika tidak nanti Miroku pasti mengerti. Tak perlu khawatirkan itu. Ada dia sudah datang di Tokyo?" kikyō menatap Hidetoshi yang menyeruput minumannya.
"Sepertinya dia sudah tiba satu minggu yang lalu, paling lambat minggu ini."
Ketiganya mengangguk paham dengan maksud perkataan tersebut. Getar gawai berukuran kurang lebih lima inci mengalihkan perhatian mereka, ketiganya saling berdebat sekaligus mempertanyakan gawai milik siapa yang bergetar cukup kencang itu. Lantas, melakukan pengecekan pada gawai milik masing-masing yang tersimpan pada saku jas atau saku khusus yang ada di tas kerja. Kikyō berdiri, meminta izin kepada dua seniornya untuk pergi sejenak demi mengangkat panggilan tersebut. Hanya sebuah anggukan yang diberikan oleh Hidetoshi dan Toru sebagai respons yang bertanda setuju, senyuman terlukis di wajah mereka setelah perdebatan kecil mengenai getar gawai beberapa saat lalu.
"Halo?" sapa Kikyō pada lawan bicaranya yang di seberang sana melalui panggilan telepon itu.
"Kikyō-san ..." Lawan bicara itu hanya melontarkan nama Kikyō, tak segera memberitahu apa maksud dari panggilan tersebut, mungkin lawan bicaranya itu dipenuhi keraguan untuk melontarkannya hingga membuatnya menimang-nimang kosakata yang sekiranya cocok untuk ia katakan.
"Ada apa, Tachikawa Miroku? Katakan!" desak Kikyō ketika ia menyadari bahwa lawan bicaranya tidak seperti biasanya saat melakukan panggilan padanya.
"Aku tahu ini melanggar aturan, tapi kurasa aku harus memberitahumu. Kumohon dengarkan dan cobalah untuk tenang." Tachikawa Miroku, laki-laki yang pernah menjadi partner Kikyō di lapangan untuk beberapa tahun itu terdengar menghela napas panjang sebelum melanjutkan perkataannya, "Beberapa saat yang lalu ada panggilan masuk ke divisi saluran siaga, penelepon yang melakukan panggilan tersebut mengatakan ada yang hendak melakukan pelecehan terhadapnya, divisi yang bersangkutan dikerahkan ke lapangan. Namun, saat mereka sampai di lapangan, si penelepon berlumuran darah dan seorang laki-laki terkapar tak berdaya. Kasus yang awalnya pelecehan seksual berubah menjadi percobaan pembunuhan, dan kasusnya dilemparkan ke tim kita."
"Bagaimana dengan bukti atau CCTV di tempat kejadian?" potong Kikyō menanggapi laporan dari rekannya yang sudah bekerja dengannya cukup lama, sebelum ia ditugaskan bersama Sesshōmaru.
"Kita kekurangan bukti. Dan untuk CCTV, kita tidak bisa mengaksesnya mengingat kejadian itu terjadi di perusahaan spion swasta bernama ISEE meskipun kita sudah mengatakan dari pihak kepolisian. Mereka menegaskan untuk bisa mengakses CCTV yang ada, kita diminta untuk membawa surat perintah resmi agar mendapat izin dari Direktur Utama perusahaan tersebut."
Saat mendengar tentang perusahaan yang bergelut dengan dunia spion tersebut, jantung Kikyō berdesir hebat tanpa alasan yang jelas. Sekelebat bayangan dari masa lalu hinggap sejenak di ruang memorinya yang sudah berulang kali ia coba untuk mengenyahkannya. Wanita yang menggulung sebagian surainya saat makan, yang sudah menjadi ciri khasnya itu mengembuskan napas gusar, "Lalu bagaimana dengan si penelepon itu?"
"Aku ingin membahas ini denganmu sejak awal. Jika ia terbukti bersalah, hasilnya mungkin akan berimbas padamu, Kikyō-san."
"Apa maksudmu? Jangan bilang ..." Sulung Higurashi itu tak sanggup melontarkan kata-kata yang ingin ia sampaikan.
"Dia Higurashi Kagome."
Jantung wanita bernama lengkap Higurashi Kikyō itu rasanya berhenti berdetak untuk sesaat, darah yang seharusnya dipasok ke seluruh tubuh rasanya terhenti begitu saja, sekujur tubuhnya yang awalnya bersuhu hangat kini berubah menjadi dingin ketika nama adik bungsunya disebutkan. Tubuhnya bergetar, tenggorokannya tercekat dan lidahnya kelu, suara sesenggukan tertahan yang kini terdengar parau. Likuid bening itu hanya menggenang di pelupuk mata, enggan menetes.
"Siapa yang menangani kasusnya?" Hanya respons itulah yang mampu dilontarkan Kikyō setelah beberapa saat berlalu.
"Sesshōmaru, dia yang memimpin penyelidikan kasus ini."
Dengan susah payah Kikyō menelan ludah kegetiran, "Aku harus pulang. Aku harus menemani Kagome," ujarnya dengan suara parau dan akhirnya kristal bening yang berkumpul di pelupuk mata sejak tadi tertumpahkan tanpa hambatan sedikit pun. Panggilan Miroku berakhir. Tubuhnya lunglai seperti tanpa tulang belulang yang meyangga, hingga membuat wanita tangguh itu bertumpu pada kursi yang terletak tak jauh darinya.
Kikyō mengambil langkah gontai berukuran besar, kembali ke meja nomor empat di mana kedua rekannya dari Tokyo yang ikut berjuang dalam kasus pembunuhan berantai itu berada, meraih tasnya secepat yang ia bisa. Buru-buru ia mengambil dompet di dalam tas dan langkahnya terhenti ketika lengannya dicengkeram oleh Toru Kaneko. Dalam diam laki-laki beruban itu seolah melontarkan pertanyaan krusial pada wanita di hadapannya, "Apa yang terjadi?"
"Aku harus pulang ke Tokyo malam ini, ada urusan genting," ujar Kikyō dengan cepat, nadanya masih terdengar parau. Laki-laki itu mengangguk paham, kemudian melepaskan cengkeramannya, membiarkan wanita itu untuk pergi—memburu shinkasen untuk jadwal keberangkatan berikutnya untuk ke Tokyo malam ini.
Wanita itu masih bergeming sejak kedatangan beberapa waktu yang lalu di ruang interogasi Kantor Kepolisian Metropolitan Tokyo tersebut. Pandangannya terus menunduk, menautkan kedua tangannya hingga keringat menjadi pelumas di jemari lentiknya meski ruangan tersebut berpendingin. Ia diberikan selimut untuk menutupi lututnya yang terbuka akibat rok yang dikenakannya sobek, sebuah tarikan yang kuat dari laki-laki yang kini tengah berbaring tak sadarkan diri di rumah sakit pusat kota dalam keadaan kritis. Kata dokter yang menanganinya, tengkoraknya retak dan pasien itu mengalami pendarahan hebat akibat pukulan benda tumpul yang dilayangkan oleh wanita yang menyerangnya.
Blam
Pintu ruang interogasi ditutup bersamaan dengan ditandainya kedatangan seseorang yang diduga sebagai detektif. Atensinya terfokus pada seorang wanita yang duduk di balik meja interogasi. Tak ada tanda-tanda pergerakan darinya, sekadar untuk mengangkat wajah, atau mengamati ruang tempatnya berada sekarang. Dari jarak yang dibilang dekat, detektif yang masuk dengan membawa secangkir minuman hangat, membiarkannya kepulan uapnya membumbung tinggi di ruang hampa yang tersisa di ruangan tersebut, mengamati tautan yang terjalin antar jemari wanita itu nampak erat. Jempol kanannya terus berusaha melukai jempol tangan sebelah kiri, ia terlihat gugup dan juga takut.
"Higurashi Kagome-san, bisa ceritakan kronlogi atas apa yang terjadi?" Pertanyaan itulah yang pertama kali dilontarkan oleh detektif berwajah tampan dengan tatapan sayu, barulah mendudukan dirinya di bangku yang tersedia.
Tak ada jawaban yang diberikan oleh wanita di hadapannya, ia masih dalam keadaan yang sama, menundukkan kepala. Hening tercipta, menjadikan sekat antar dua insan yang berada di dalam ruangan berukuran 4x3 meter tersebut. Lelaki itu bingung, wanita di hadapannya yang diduga melakukan percobaan pembunuhan terhadap manajer tempat kantornya bekerja, sekaligus adik kandung dari rekannya itu masih saja membungkam, tak ada niat yang terbersit dalam hati kecilnya untuk menyuarakan sepenggal kisah yang dialaminya sebelum ia digiring ke sini. Detektif yang bernama lengkap Taishō Sesshōmaru itu rasanya bisa gila dalam ruangan itu, jika wanita itu akan memilih diam selama interogasi, hal itu berarti ia harus begadang malam ini guna menginterogasinya, ia sendiri pun tidak bisa mematok berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkan secuil petunjuk darinya. Sudah satu setengah jam berlalu, rupanya bungsu Higurashi itu masih enggan bersuara.
Sesshōmaru menghela napas panjang. Detektif berwajah tampan itu menyorongkan secangkir minuman dengan kepulan uap yang masih bisa dilihat dengan mata telanjang kepada mitra tuturnya yang masih menundukkan kepala, "Minumlah," ujarnya sambil mengumbar senyum.
"AAAAAAA!!!" teriak Kagome dengan keras. Respons yang jauh berbeda dari anggapan Sesshōmaru, ia tak menyangka wanita di hadapannya itu justru berteriak kencang saat ia memberikan minuman hangat. Wanita di hadapannya itu bergerak ketakutan, bangkit dari tempat duduk, dan memilih duduk di pojok ruangan interogasi, menjauhi Sesshōmaru sambil meringkuk.
Sesshōmaru bingung bukan kepalang dengan reaksi yang diberikan oleh Kagome sesaat setelah ia memberikan minuman. Wanita itu meringkuk sambil memeluk lututnya erat, isak tangisnya samar-samar terdengar. Detektif yang baru bergabung dengan divisi satu di Kepolisian Tokyo lima tahun silam itu rasanya ingin merutuki dirinya sendiri, merutuki dirinya dalam diam, akibat dari perbuatannya yang ingin bersikap baik demi mendapatkan petunjuk, justru bernilai sebaliknya. Untuk mendapatkan petunjuk dari kasus ini, rasanya sungguh mustahil. Ia berjalan mendekat kepada Kagome, berniat membujuk wanita itu, langkahnya pelan nyaris tak terdengar jejak kakinya. Wanita itu tak menyadari kehadiran Sesshōmaru yang berada di sampingnya, ia masih meringkuk ketakutkan sambil terisak memanggil nama orang yang tidak asing di telinga Sesshōmaru, "Kikyō onee-chan". Namun, ia terkesiap saat tangan detektif itu menyentuh bahunya, bagaikan mendapat kejutan listrik dalam jumlah besar, matanya membulat, dan respons yang sama kembali terulang.
"AAAAAAA!!! AAAAAAA!!! AAAAAAA!!!" Kagome berteriak histeris berulang kali, karena ketakutan. Niat baik Sesshōmaru yang berusaha untuk menenangkannya, ternyata dinilai berbeda olehnya.
"Kagome-san tak apa, tenanglah!" teriak Sesshōmaru yang masih berusaha menenangkannya. Namun, teriakan wanita itu semakin menjadi, takut bukan kepalang. "Aku polisi! Aku tak akan menyakitimu!"
Blam
Pintu ruangan itu terbuka, suara nyaringnya menggema di ruangan, menampilkan sesosok wanita dengan raut wajah yang tak bisa menggambarkan apa yang dirasakannya, semuanya berbaur menjadi satu. Netranya melirik dengan tajam laki-laki yang berjongkok tak jauh dari sang adik kesayangannya. Rasa khawatir dan marah mendominasi ruang emosinya, tapi dia ingin meluapkan rasa yang ia bendung lewat likuid bening yang sudah menunggu waktu untuk ditumpahkan. Dengan cekatan, ia mendorong laki-laki yang sudah menjadi rekannya selama lima tahun berlakangan ini dengan keras. Tak peduli apakah yang ia lakukan akan melukai laki-laki itu atau tidak, yang ada di pikirannya kali ini menjauhkan adik bungsunya dari Sesshōmaru, karena ia sudah melukai adiknya. Memang benar laki-laki itu tidak melukai adiknya secara fisik, tapi psikologisnya. Rasanya ia memberikan sumpah serapah pada laki-laki itu, apakah ia tidak belajar dari yang sebelumnya jika ia tahu bahwa adiknya beberapa saat yang lalu mengalami pelecehan seksual oleh laki-laki, tatapan tajam ia layangkan kepada Sesshōmaru yang baru saja bangkit dari posisinya.
Plak
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi mulus Taishō Sesshōmaru. Suaranya begitu nyaring di indra pendengaran, netra laki-laki itu membulat sempurna dengan perlakuan rekannya yang sungguh berbeda saat menghadapi masalah Higurashi Rin—adik nomor dua dari Higurashi Kikyō. Ia tak menyangka akan mendapatkan tamparan itu.
"Apa yang kau lakukan?" teriak Kikyō pada Sesshōmaru. Ia bergegas mendekati Kagome, tapi respons yang Kagome berikan masih sama dengan yang sebelumnya, berteriak histeris ketakutan. Likuid bening Kikyō tumpah melihat keadaan adiknya yang seperti itu. Hatinya runtuh saat itu juga, dunianya hancur, ia gagal melindungi adik kesayangannya padahal ia seorang polisi.
Sesshōmaru hendak menjawab apa yang dilontarkan oleh rekan sekaligus kaptennya itu, tapi ia urungkan niatnya. Lidahnya kelu saat melihat keadaan Higurashi bersaudara yang begitu menyayat hati, ruangan itu didominasi oleh isak tangis dua wanita.
"Kagome!" teriak Kikyō sambil memegangi dua lengan sosok di depannya agar melihat wajahnya, memastikan bahwa ia adalah kakak yang begitu dia nantikan kehadirannya. Teriakan Kagome membuat wanita yang merupakan kapten divisi satu itu bersedih ditambah pakaian yang dikenakan oleh adiknya terkoyak, "Kagome! Ini aku, Kikyō, Kikyō- chan, Higurashi Kikyō!" lanjutnya untuk menyadarkan sang adik.
Tangis Kagome pecah saat melihat sosok wanita yang begitu dinantikan kehadirannya, sosok yang mempertaruhkan segalanya untuk melindunginya. Kakaknya benar-benar hadir di hadapannya, kemudian ia langsung memeluk wanita itu dengan erat, menumpahkan segalanya dalam suara isak tangis yang hanya akan dipahami oleh keduanya. Ketakutan dan kerinduan yang sudah lama terpendam oleh keduanya ditumpahkan saat itu juga, layaknya reuni bersama orang tersayang setelah berpuluh-puluh tahun lamanya.
"Bagaimana aku bisa hidup sekarang?" isak Kagome dalam pelukan Kikyō, "Anjing hitam itu kembali," lanjutnya masih terisak.
Sesshōmaru yang mendengar penuturan Kagome menjadi lemas, seolah tulang yang selama ini menyangga tubuhnya rontok begitu saja, saat wanita itu mengingatkan akan kenangan masa lalunya, tentang kematian kekasihnya—Ishikawa Yuri. Tiga orang yang berada di dalam ruangan tersebut tertampar oleh kenangan masa lalu, semuanya terbelenggu dalam rantai kenangan yang terus menggerogoti mereka dari dalam, bahkan tak jarang kenangan yang ingin dilupakan itu berusaha dengan keras untuk mencekiknya, tenggelam dalam rasa sakit yang tak berkesudahan.
"Kagome, tak apa! Tenanglah, ada aku!" Kikyō masih terisak, mendaratkan beberapa kecupan singkat di puncak kepala sang adik.
"Aku tak salah apapun! Aku hanya membela diri dari laki-laki bejat itu! Laki-laki itu pantas mendapatkannya! Dia pantas mati!" teriak Kagome, bahunya berguncang hebat dalam isak tangis.
Kikyō mengangguk, "Aku tahu. Aku paham. Sekarang tenanglah, aku akan berada di sampingmu."
Kagome masih terisak dan tubuhnya bergetar dalam pelukan sang kakak yang begitu ia andalkan. Butuh beberapa waktu lamanya bagi putri bungsu Higurashi itu untuk lebih tenang, dan isakannya berakhir digantikan keheningan serta ketegangan yang ada dalam ruang interogasi itu. Bahu Kagome ditepuk dua kali oleh Kikyō dengan pelan, bermaksud untuk menenangkannya dan menuntunnya untuk duduk kembali di kursi yang ada. Kagome patuh dengan intsruksi sang kakak, meskipun tidak dilisankan. Ia melangkahkan kakinya pelan menuju kursi yang di hadapannya tersaji segelas minuman yang tadinya disajikan oleh rekan kakaknya untuk dirinya, kemudian ia mendaratkan tubuhnya di kursi tersebut.
"Sesshōmaru, ayo kita bicara," ajak kapten divisi satu itu kepada laki-laki yang masih terpaku. Sedang, laki-laki yang dipanggil namanya itu hanya menganggukkan kepalanya, tanpa mengeluarkan sepatah kata dari lisannya, mengikuti instruksi rekannya keluar dari ruangan.
Higurashi Kikyō tidak memilih ruangan atau tempat tertentu untuk berbicara dengan rekannya yang sudah berjuang dengannya lima tahun belakangan ini, ia hanya memilih untuk mengajaknya duduk di bangku panjang yang ada di depan ruang interogasi dan berdampingan dengan ruangan pantauan interogasi, tepatnya di sudut di dekat mesin minuman otomatis yang berdiri kokoh. Untuk beberapa waktu, keduanya masih enggan untuk menyuarakan apa yang terjadi di dalam ruangan, membisu adalah pilihan mereka untuk saat ini. Kebisuan penuh makna pulalah yang menyekat keduanya dalam pikiran kenangan yang tak pernah ada habisnya, baik untuk Sesshōmaru maupun Kikyō sendiri.
"Kau tak apa?" Hanya segelintir kalimat mampu diucapkan oleh Kikyō pada sosok di sampingnya yang sedikit menunduk, bertumpu pada kedua lututnya.
Tak ada jawaban dari laki-laki yang menjadi mitra tutur wanita bersurai sebahu itu.
Kapten Divisi Satu Kepolisian Metropolitan Tokyo, Higurashi Kikyō langsung pulang begitu mengetahui apa yang terjadi pada adik kesayangannya, menerjang dinginnya malam serta rasa lelah yang mendera. Meninggalkan segala kesibukannya yang ada di Osaka lalu memilih pulang ke Tokyo, sebab ia tahu bahwa adiknya akan bereaksi seperti ini setelah kejadian delapan tahun silam yang menimpanya. Karena hal itu pulalah, yang menyebabkan Kikyō dan Kagome menjadi dekat dan saling bergantung satu sama lain, begitu berbeda terhadap adik tengahnya, Higurashi Rin.
"Aku minta maaf atas apa yang kulakukan di dalam, aku tidak bermaksud untuk ..."
"Tak apa. Aku yakin kau pasti punya alasan kenapa melakukannya, terlebih padaku," Sesshōmaru tersenyum mengingat kejadian beberapa tahun silam, ketika ia mengencani adik dari rekannya untuk melampiaskan kekacauan akibat kepergiaan Ishikawa Yuri.
"Sesshōmaru ..." Lagi, perkataan yang belum sempat Kikyō utarakan, dipotong begitu saja oleh laki-laki berwajah tampan itu.
Sesshōmaru mengangguk, "Aku tahu, kau hanya berniat melindungi adikmu. Jika aku berada di posisimu, aku pasti akan melakukan hal yang sama agar aku tidak menyesal nantinya."
"Jika kau mengaitkan hal ini pada Rin, tentang bagaimana reaksiku saat temanmu dari kepolisian metro mengabari apa yang menimpa dirinya dan bagaimana reaksiku saat Tachikawa Miroku mengabari tentang apa yang menimpa Kagome, itu memang berbeda. Aku sungguh tak peduli jika kau melabeli diriku sekalipun sebagai kakak yang pilih kasih terhadap adik-adikku, hanya saja Rin dan Kagome sungguh berbeda, berbanding terbalik. Sebagai kakaknya, aku minta maaf padamu, kita tak bisa melakukan interogasi pada Kagome malam ini."
"Tapi, kau tidak bisa melibatkan dirimu dalam kasus ini. Kau tidak bisa mencampurkan emosi pribadimu pada sebuah investigasi, itu melanggar kode etik!" tegas Sesshōmaru dengan mengangkat kepala, mengalihkan pandangannya pada sosok di sampingnya.
Kikyō menahan tangis, matanya memerah, "Aku tahu. Aku tidak akan terlibat dalam kasus ini. Kuserahkan semuanya padamu, tapi kumohon dengarkan aku, Sesshōmaru. Kau tak bisa melakukan interogasi padanya malam ini, dia benar-benar terguncang. Kau pun sudah melihat dengan mata kepalamu sendiri bagaimana reaksi Kagome padamu, kumohon Sesshōmaru dengarkan aku. Kau bisa melakukan interogasi besok, aku akan menemaninya ke sini. Jika tidak bisa, kau bisa datang ke rumahku dan menginterogasinya langsung," terangnya dengan air mata berderai, kemudian menghapusnya dengan kasar.
"Kikyō-san!"
"Kumohon, Sesshōmaru ..." Likuid bening di pipi Higurashi Kikyō tak terelakkan, "aku melakukan ini demi dirinya. Kau dengar apa yang dikatakannya tadi? Anjing hitamnya telah kembali, rasa sakitnya setelah sekian lama mencoba untuk menguasai dan menggerogoti dirinya dari dalam. Aku akan mengatakan semuanya padamu suatu saat nanti. Biarkan Kagome pulang malam ini untuk menenangkan diri, ia sudah berjuang keras selama ini, kumohon ..." Jemarinya menggenggam erat milik laki-laki di hadapannya, memohon.
Sesshōmaru tak tahu harus bereaksi seperti apa melihat rekannya yang berderai air mata dan memohon kepadanya. Ia diam mematung, nuraninya terketuk hebat saat menyadari bahwa adik Higurashi Kikyō yang tengah menunggu di dalam itu mengingatkan dirinya akan sosok Ishikawa Yuri. Namun, Kagome sungguh berbeda, ia tampak orang normal bagi Sesshōmaru, tidak pernah terbersit bahwa wanita itu memiliki sakit psikologis akan masa lalu, dan berperang melawan anjing hitam selama kurang lebih delapan tahun. Kerapuhan Yuri tertampil dengan jelas di mata Sesshōmaru, apalagi setelah ia dipindahtugaskan ke Kepolisian Metropolitan Tokyo ini, sedangkan Kagome ... baginya mirip seekor kupu-kupu, indah dari luar namun begitu rapuh dari dalam.
Pada akhirnya Sesshōmaru memberikan sebuah anggukan sebagai tanda persetujuan kepada rekannya, Higurashi Kikyō. Jauh di dalam lubuk hatinya, ia bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi pada HIgurashi Kagome, hingga respons terhadapnya terlihat ketakutan, seolah ia akan melakukan kejahatan. Ia mengalihkan pandangannya pada sosok di sampingnya, saraf otaknya berpikir lebih dalam. Matanya membulat sempurna ketika menyadari sesuatu, saat netra keduanya saling beradu untuk menemukan sebuah teka-teki yang tersembunyi jauh di dalam benak Kikyō mengenai Kagome, mungkinkah ...
Pojok Penulis:
Tulisan ini pernah dipublikasikan di platform wattpad dengan judul Selimut Kenangan, namun saya tarik publikasinya. Pada awalnya, tulisan ini merupakan tulisan crossover pertama saya dengan memasangkan Higurashi Kagome dan Takagi Shinjiro—salah satu tokoh dalam dorama Jepang berjudul Cold Case: Door of Truth. Kali ini, saya merombak tulisan ini dengan mengganti judul menjadi Belenggu Kenangan serta menggunakan nama-nama tokoh dari Inuyasha dan sebagian menggunakan nama OC untuk memudahkan teman-teman mengimajinasikannya.
Saya ucapkan terima kasih kepada siapa pun yang sudah menyempatkan waktu untuk membaca dan mengapresiasi tulisan ini.
