Disclaimer: Cerita ini milik saya, semua karakter Inuyasha milik Rumiko Takahashi, saya hanya meminjam nama mereka. Saya tidak mengambil keuntungan dari penulisan cerita ini dan tulisan ini hanya sebagai hiburan semata.

Warning! Tulisan ini mengandung tema sensitif dan muatan konten dewasa. Bagi pembaca yang belum cukup umur atau tidak nyaman dengan konten tersebut, dianjurkan untuk TIDAK MEMBACANYA. Diharapkan kebijaksanaan pembaca.


Semilir angin musim gugur bertiup pelan, menghasilkan anggukan pepohonan yang mulai mekar bunganya, dahan-dahan saling bersahutan mengerang, sedangkan dedaunan mendesis, embusannya laksana membawa kabar duka kelam. Udara terasa segar sore itu tak mempedulikan sang mentari hendak tergelincir dengan indahnya, sebuah pemandangan yang cukup dinantikan oleh banyak orang. Panorama lain yang tak luput dari impresi ialah guguran dedaunan bewarna kuning kemerahan, mengingatkan akan jejak guguran kecil bunga sakura yang memenuhi jalanan kala musim semi, meski musim itu adalah waktu bagi mereka untuk berbunga, bunga yang menjadi ikon Negara Jepang tersebut tidak akan bertahan lama sebelum akhirnya gugur. Hanya butuh waktu kurang lebih tiga hingga empat minggu bagi mereka untuk bertahan, sebelum keindahannya berakhir dengan reras.

Degup jantung laki-laki itu menggila sebelum pada akhirnya ia memilih untuk menghentikan langkahnya, mengatur pernapasannya. Peluh membasahi pelipisnya, mengucur perlahan yang kemudian menganak sungai seolah habis melakukan olahraga berat, dan hal itulah yang pertama kali menjadi sorotan seorang wanita yang tengah duduk di bangku, berlokasi tak jauh dari lapangan kompleks apartemennya. Laki-laki bertubuh gagah itu berlari kecil, mendekat pada sosok yang menatapnya cukup intens dari kejauhan sejak tadi.

"Ishikawa Yuri!" panggil sang pria dengan napas kepayahan, ia memegangi lutut kelelahan sambil mengatur pernapasannya, "Aku mencarimu sepanjang hari. Apa yang terjadi?"

"Anjing hitam itu kembali," ujar sang wanita tanpa mengalihkan perhatiannya untuk sekadar menatap lawan bicaranya.

Membisu, sang wanita tak langsung memberikan respons, butuh beberapa waktu baginya untuk menjawab pertanyaan laki-laki yang masih mengenakan setelan jas lengkap setelah pulang kerja. Laki-laki yang notabene kekasihnya itu pada akhirnya mendongak, memastikan wanitanya memperhatikan topik pembicaraan. Ia sedikit terkejut mendapati sosok wanita yang ia ajak bicara bukanlah sang kekasih, Ishikawa Yuri, melainkan Higurashi Kagome. Akan tetapi, keterkejutan itu nampaknya tiada begitu berarti, sebab ia enggan beranjak seolah ada suatu hal yang menahannya. Di sisi lain, rasa ingin tahunya akan sosok wanita di hadapdan begitu membuncah bagai menemu teka-teki yang harus diselesaikannya.

"Higurashi Kagome ..." gumamnya lirih, nyaris tak terdengar oleh siapapun, seolah ia berbisik pada dirinya sendiri. Ia berdeham dan membenahi posturnya, berdiri tegak sejenak sambil berulang kali mengusap peluh dengan setelan jas yang dikenakannya, dan berujar, "Kita temui dokter sekali lagi,"

Dengan tatapan nanar, menahan bulir air mata untuk tak tumpah, Kagome menatap sang mitra tutur untuk pertama kalinya, "Kita sudah ke sana berulang kali, Sesshōmaru, tapi tak ada perubahan," jawabnya dengan suara bergetar parau, menahan tangis.

Laki-laki bernama lengkap Taishō Sesshōmaru itu menelan saliva, mencegah dehidrasi setelah berlarian mencari sosok wanita yang kini tengah duduk di sampingnya. Napasnya masih belum teratur jua kala bungsu Higurashi mengalihkan pandang padanya, "Kita putus saja," ujarnya lembut bersamaan dengan tiupan angin mempermainkan surai hitamnya yang dibiarkan tergerai bebas.

Ada percik kesedihan yang tertampil di kilau keemasan detektif kebanggaan Kepolisian Metropolitan Tokyo, hingga membuatnya tak berani menatap manik biru kelabu sang kekasih, ia justru menghindari tatapannya dengan menundukkan kepala, "Kenapa bilang begitu?"

Kagome enggan mengalihkan atensi, "Kurasa hanya itu yang perlu dilakukan,"

Sesshōmaru mengembuskan napas gusar, tapi netranya masih sama—menghindari tatapan Kagome, "Lakukan saja jika itu maumu."

Menerawang jauh ke depan, sang wanita berujar, "Bunga sakuranya indah sekali,"

"Tidak ada bunga sakura yang mekar di sana, Kagome,"

Seulas senyum terukir manis di wajah cantik bungsu Higurashi, "Aku membicarakan soal musim semi di tahun pertemuan kita."

"Cukup!" sahut Sesshōmaru, ia tahu ke arah mana pembicaraan yang hendak di bahas, "Sudah cukup! Ayo pulang," lanjutnya dengan suaranya yang mulai serak.

Wanita bernama lengkap Higurashi Kagome mengalihkan pandang, menatap sang lelaki yang duduk di sampingnya dengan penuh minat, meski kristal bening berusaha mengaburkan pandangannya, tetapi hal itu tak berlaku baginya ... objek di hadapannya selalu tampak sangat jelas, "Kau ingat di hari pertemuan pertama kita? Kau mengenakan kemeja berwarna abu-abu muda dengan jas berwarna hitam, serta dasi berwarna hitam bermotif garis abu-abu tua. Kau terlihat tampan sekali waktu itu ... dan gagah. Tapi, kau selalu seperti itu. Kau cukup berkeringat di sore itu, kala matahari nyaris terbenam, dan kau terlihat cukup terkejut dengan penampilan kacauku," ujarnya merunut lembar memori dengan detail.

Sesshōmaru mengerlingkan mata, ragu-ragu ia menjawab, "Tidak."

"Angkat tangan ... perintahmu padaku waktu itu, kau mengulangi perintahmu saat aku tak mematuhinya. Aku sungguh kacau sekali dan memalukan, maksudku penampilanku dan juga diriku. Taishō Sesshōmaru menodongkan pistol pada perempuan bernama Higurashi Kagome, seharusnya aku takut atau setidaknya gemetar," Senyum kembali terpahat di wajah, "Anehnya, kala menatapmu aku tidak takut ataupun gemetar meski musibah itu terjadi padaku. Aku merasakan kenyamanan yang belum pernah kudapatkan, kau datang membawa musim semi yang sesungguhnya untukku."

"Aku tak ingat," balas anak tunggal Taishō menunduk.

Kagome tahu bahwa kekasihnya berbohong, "Aku ingat. Aku mengingat semua momen kita."

Sesshōmaru memejam untuk waktu yang cukup lama seraya memeras otak. Laki-laki bertubuh gagah dengan arloji melilit di tangan kiri yang berprofesi sebagai detektif divisi satu Kepolisian Metropolitan Tokyo itu tak sanggup lagi untuk berbohong pada sang belahan jiwa. Bagaimana bisa ia berdusta pada sosok yang sudah ia anggap sebagai kehidupannya? Bagaimana bisa ia berujar bahwa ia tak mengingat momen pertemuan pertama mereka meski ia sangat terkejut melihat penampilan adik dari rekannya yang sangat kacau dengan derai air mata ketakutannya? Tentu saja ia mengingat semua detailnya, tanpa terkecuali apa pun.

"Itu sudah lama sekali," tuturnya, kini suaranya benar-benar parau akibat menahan tangis, meski kristal bening itu pada akhirnya tetap saja lolos dari pelupuk mata.

Tak peduli berapa kali senyum itu terpatri di wajah, kecantikannya tak pernah luntur sedikit pun, justru bertambah acap kali kedua sudut bibir itu terangkat. Sejurus kemudian, wanita itu menyanggah pernyataan dari sang mitra tutur, "Tidak terlalu lama,"

Sanubarinya terkoyak hebat mendengar jawaban dari Kagome, membuatnya tak mampu lagi mengekspresikan apa yang dirasa dalam kata-kata atau mungkin kata-kata sudah tak mampu merangkumnya. Tangan kanan Sesshōmaru berusaha menutupi mata yang mengalirkan kristal bening, sedang tangan kirinya secara perlahan menggenggam erat tangan milik sang pasangan. Seiring detak jam yang terus berlari, genggaman itu mengerat—ia enggan melepasnya sedetik pun.

"Maka dari itu, mari kita berpisah," Kagome masih belum menyerah untuk mengutarakan maksud hati, "Itu yang terbaik untuk kita berdua," lanjutnya.

"Tidak!" teriak Sesshōmaru dengan keras saat dirinya terarik dengan paksa dari alam bawah sadarnya secara tiba-tiba, matanya terbelalak dengan napas yang tak beraturan, sedang peluh sudah membasah di kening. Napasnya terasa berat seolah seluruh energinya ditarik oleh mimpi.

Di saat yang bersamaan, alarm dan gawai miliknya yang berada di nakas bergetar, layar menyala. Ada panggilan masuk dari seseorang di pagi buta, dengan enggan diraihnya gawai berukuran kurang lebih lima inci tersebut sambil menyeka peluh yang mencoba mengacaukan wajah tampannya.

Nama Higurashi Kikyō tertampil di layar, membuat putra Inu no Taishō bertanya-tanya apakah terjadi sesuatu mengingat wanita yang sudah menjadi rekannya selama lima tahun itu melakukan panggilan di pagi buta. Jantungnya berdegup lebih cepat tanpa tahu alasan apa wanita itu meneleponnya, saraf kepalanya bekerja keras menemu segala jawab dari semua kemungkinan—justru membuatnya semakin resah terlebih apalagi menimbang mimpi yang dialaminya beberapa waktu lalu.

Sesshōmaru berdeham beberapa kali sebelum akhirnya menggeser layar berwarna hijau yang berarti ia menerima panggilan tersebut dan berujar, "Halo?"

"Hm, ya, halo! Sesshōmaru apakah kau sibuk pagi ini, sebelum berangkat ke kantor?" tanya mitra tuturnya meragu, menimang-nimang kata demi kata yang tepat untuk dilontarkan.

"Tidak, ada apa? Apakah terjadi sesuatu?" Kini giliran laki-laki berpostur tubuh tinggi tersebut yang ragu untuk menanyakan alasan rekannya menelepon.

"Akan lebih baik jika tidak ada," Mendengar hal tersebut, organ pemompa darah Sesshōmaru berhenti berfungsi untuk sesaat, pasokan oksikgen pun tak bisa diproses dengan lancar, "Tidak, maksudku ... apa kau keberatan untuk datang ke apartemenku? Ada sesuatu yang ingin kubahas denganmu secara langsung,"

"Apa tidak ada waktu lain?"

"Tidak ada, maafkan aku. Hari ini aku harus pergi ke beberapa tempat untuk investigasi gabungan hingga malam, aku senggang hanya pagi ini sebelum jam berangkat ke kantor,"

Sesshōmaru beranjak dari ranjang sambil menyisir surai dengan jemarinya beberapa kali, meninjau pilihannya dan sejurus kemudian bibirnya bertutur, "Baiklah,"

Panggilan berakhir.

Ia mematut dirinya pada cermin di kamar mandi, penampilan khas bangun tidur masih melekat kendati tak mengurangi ketampananannya sedikit pun, surainya cukup rapi selepas disisir berulang kali dengan jemarinya, ia baru sadar rupanya ia semalam tidur masih mengenakan kemeja yang dipakainya bekerja kemarin. Sesshōmaru menyalakan keran, mengakibatkan air mengalir deras, dan membasuh wajahnya.

Menatap pantulan diri pada cermin, membuatnya mengosongkan pikiran sejenak lalu otaknya kembali memutar memori dari mimpinya semalam, berbagai adegan kilas balik tayang dalam kepala—mencari kesamaan atau perbedaan dari adegan yang pernah dialaminya lima tahun silam bersama sang pujangga hati yang kini telah tiada. Ia sudah berusaha keras untuk melupakan segala kenangan buruk dengan sosok yang kini hanya bisa ia ingat sesaat dalam lima tahun belakangan ini, tapi kini ia sadar sekeras apapun ia mencoba, kenangan tak berjiwa itu terus memeluknya erat bahkan ada sosok baru yang berusaha mengingatkan dirinya dengan sosok cinta pertamanya tersebut.

Benar, sosok itu adalah Higurashi Kagome yang baru dijumpainya kemarin, karena musibah yang tak pernah diduga. Sejujurnya ia masih bertanya-tanya bagaimana bisa sosok wanita yang tak nampak rapuh justru memerangi anjing hitam itu selama bertahun-tahun, laksana teka-teki yang mengundang banyak pertanyaan, ia mencoba menemu jawab dengan membuka segala kemungkinan meski tak jarang ia menemu perisimpangan akan praduganya. Namun, di sisi lain ia mengalami gejolak batin cukup hebat—mengapa ia harus berurusan kembali dengan Higurashi bersaudara?

Sesshōmaru tidak lupa bahwa di tahun pertamanya setelah dipindahtugaskan di Kepolisian Metropolitan Tokyo tepatnya selepas kematian Ishikawa Yuri, ia menjalin hubungan cukup singkat dengan Higurashi Rin—membuat dirinya berselisih paham dengan rekannya, Higurashi Kikyō, hubungan singkat yang berakhir dengan menelan kekecewaan, dan kini ... ia terlibat dengan Higurashi Kagome, menjadi penanggung jawab kasus. Sekonyong-konyong adegan singkat dari mimpi kembali terputar hingga membuat netra keemasan itu membulat.

Ia mendesah, "Apa yang sebenarnya kau harapkan, Sesshōmaru?" tanyanya pada diri sendiri dirundung kebingungan.


Bandar Udara Internasional Haneda tak pernah beristirahat dari keramaian, selalu ada jadwal penerbangan domestik maupun internasional tanpa mempedulikan waktu yang terus berlalu. Mentari belum berani menampakkan diri, tapi pemandangan di bandar udara bertaraf internasional Jepang itu rupanya masih sibuk dengan wajah hiruk-pikuk terutama dari terminal kedatangan penerbangan internasional, padahal waktu baru menunjukkan pukul enam waktu setempat. Namun, tak semua orang suka melihat pemandangan semacam ini ketika ia baru saja keluar dari terminal kedatangan, tak jarang keadaan seperti itu justru menambah beban penat yang mendera, dan hal itulah yang tengah dirasakan oleh seorang laki-laki yang baru saja menjejak keluar dari terminal kedatangan dari penerbangan internasional.

Ia mengenakan setelan jas yang dibalut dengan mantel khas musim semi, bertenggerlah kacamata hitam di hidung mancungnya, sedang tangan kirinya menyeret sebuah koper berukuran sedang. Meskipun baru saja melakukan penerbangan jarak jauh selama kurang lebih enam belas jam, penampilannya tak terusik sedikit pun, entah bagaimana memancarkan aura berkelas dan elegan. Padahal belum jua penat meninggalkan badan, ia sudah jemu menghadapi hingar-bingar ativitas yang terjadi di bandar udara kala seorang laki-laki berusia tak jauh berbeda darinya berlari menghampiri—langsung merebut koper dan mengambil alih beban. Penampilan laki-laki yang baru datang itu tak kalah rapi dengan sang tuan, memakai setelan jas, siap sedia melakukan tugas.

"Selamat datang kembali, Tuan Naraku!" sambut laki-laki itu dengan mengulas senyum.

Laki-laki yang namanya dipanggil tak langsung memberi jawab, ia justru menurunkan kacamata hitam—menampilkan manik cokelat madu indahnya dan berujar, "Hm, terima kasih, Bankotsu! Ayo, aku lelah sekali,"

Bankotsu hanya mengangguk sebagai respons, tapi langkahnya terhenti saat ia mengingat akan sesuatu dan dirasa sang direktur utama perusahaan keamanan swasta harus segera mengetahuinya. Ada keraguan yang tersirat pada air muka Bankotsu untuk menyampaikannya, peperangan batin dimulai—haruskah ia menyampaikannya sekarang dengan mengabaikan waktu sepagi ini yang ia sendiri tak bisa menjamin apakah akan ada sembur ataukah ia menyampaikannya nanti setelah sang tuan sudah tidak mengalami penat akibat penerbangan. Mengumpulkan keberanian dan menghirup oksigen dalam-dalam, ia memutuskan untuk mengatakannya sekarang—dia belum lupa bagaimana kebiasaan sang tuan setelah melakukan perjalanan panjang, laki-laki bernama lengkap Tokugawa Naraku itu lebih memilih untuk tidur bahkan ia mampu tidur sehari penuh tanpa makan sekalipun karenanya.

"Tuan Naraku ..." panggilnya.

Naraku yang berjalan lebih dulu pun menghentikan langkah mendengar orang kepercayaannya memanggil namanya, membalikkan badan, "Ada apa?"

Menelan saliva dengan susah payah, Bankotsu berucap dengan suara yang cukup lirih, "Telah terjadi sesuatu di kantor,"

"Masalah apa?"

Bankotsu berjalan mendekat, memberitahukan seluruh rentetan peristiwa yang terjadi kemarin secara detail hingga kemajuan tentang penyelidikan yang tengah terjadi dengan suara lirih, nyaris berbisik. Naraku yang menyimak informasi tak melisankan sepatah kata, tetapi semuanya tergambar jelas di manik cokelat madunya dan anggukan kepala—memberi tanda bahwa ia memahami semua perkataan dari sang sahabat yang juga tangan kanannya.

Dalam keheningan yang menyekat relatif singkat, Naraku mengeluarkan gawai miliknya, bergegas menyalakannya. Tak berselang lama, jemarinya mulai menari dengan aktif di atas layar, melakukan panggilan pada seseorang yang terdaftar dalam kontak tanpa menghiraukan apakah tepat melakukan sebuah panggilan di waktu sepagi ini, bahkan ia mengesampingkan kemungkinan sang mitra tutur yang sibuk dengan segala keperluan di pagi buta. Nada abstrak khas menyapa gendang telinga sebelum pada detik berikutnya panggilan di jawab oleh sang mitra tutur.

"Apakah Higurashi sudah membuat jadwal denganmu?" Tiada kata sapa terlontar untuk menandai sebuah percakapan telah dibuka, justru sebuah tanya Naraku layangkan.

Terdengar embusan napas yang cukup keras—dengusan dari sang mitra tutur yang berada jauh di seberang, "Astaga Naraku, ini masih pagi sekali untuk menanyakan hal yang berhubungan dengan pekerjaanku. Dan bukankah kau harusnya pulang dari Amerika pagi ini?"

Kesal dengan respons yang diberikan, Naraku yang menahan amarah pun berujar, "Jawab pertanyaanku,"

"Tak ada yang mengalahkanmu untuk mendapatkan berita terbaru ya, terlebih lagi jika sudah menyangkut dengan Higurashi. Baiklah, aku akan menjawabnya untuk sepupuku yang selalu mengkhawatirkan tiga bersaudara itu. Sudah, aku menjadwalkan janji temu secepatnya setelah Kikyō menceritakan garis besar kejadiannya. Mereka akan menemuiku pagi ini, jika kau ingin tahu."

Organ pemompa darah milik Naraku rasanya berhenti berdetak untuk sesaat sebelum digantikan dengan desiran hebat bak air terjun kala nama Kikyō disebut. Pada waktu yang bersamaan, sekelebat kenangan masa lalu menyergap dan rasa bersalah bercampur penyesalan datang menghampiri, memeluknya erat.

"Hm," gumamnya dengan menelan saliva kepayahan.

"Naraku, bukankah seharusnya kau menemaninya berjuang? Aku yakin Kikyō butuh tempat bersandar, ia tak bisa terus berpura-pura menjadi kuat demi orang lain, kau tahu dia tak sekuat apa yang terlihat. Ada kalanya ia harus menumpahkan segala gejolak emosi yang ia pendam, jadikanlah bahumu sebagai sandarannya. Berjuanglah bersamanya, demi adiknya dan juga demi dirimu,"

"Setelah kecelakaan—oh tidak, baginya itu sebuah kesalahan, yang terjadi di waktu itu?"

"Kejadian itu sudah berlalu sepuluh tahun yang lalu,"

"Dan ia tak akan pernah melupakannya, kau tahu itu,"

"Kau tahu, kalian berdua harus menekan ego kalian masing-masing. Akuilah bahwa kalian masih membutuhkan satu sama lain, masih saling menyayangi, dan tak perlu saling melukai diri sendiri. Aku tak bermaksud apapun dengan mengatakan ini, aku hanya mengharapkan kebahagiaan untuk kalian. Kalian berhak untuk mendapatkan bahagia,"

Naraku terdiam mendengar penuturan dari sepupunya yang berprofesi sebagai seorang psikolog tersebut, mencoba meresapi setiap kata yang terlontar mengatasnamakan nasihat. Mungkin yang dikatakan oleh wanita beranak satu itu benar adanya, mereka saling mencinta dan saling menyakiti diri sendiri karenanya.


Bel apartemen kediaman Higurashi telah memekik berulang kali yang rupanya tidak menjadi atensi wanita yang tengah memasak untuk sarapan. Ketika bel itu kembali menjerit, barulah terdengar suara abstrak dari kamar sulung Higurashi yang bergegas untuk membuka pintu apartemen. Senyum menghias wajah cantiknya, berpikir bahwa rekan yang ia ajak untuk bertemu pagi ini telah datang.

"Itu pasti Sesshōmaru yang datang!" seru Kikyō keluar dari kamar, memasang arloji agar melingkar sempurna di tangan.

Kagome hanya tersenyum mendengar seruan sang kakak yang terdengar bahagia kala dirinya tengah menyibukkan untuk memasak. Ia bahagia sang kakak pulang ke rumah, tapi di sisi lain hatinya memendam pilu. Ia tak pernah berharap kakaknya terpaksa pulang dari dinasnya di Osaka demi dirinya, terlebih lagi karena sebuah insiden yang tak pernah ia harapkan. Baginya ini menyakitkan, melihat bagaimana sang kakak menangis untuk dirinya semalam, mengingatkannya akan kenangan sepuluh tahun silam tentang betapa kacaunya sang kakak.

"Kau sudah datang rupanya, maaf membuatmu menunggu lama. Masuklah," Senyum lebar terulas di wajah cantik Kikyō menyambut kedatangan sang tamu.

Tamu yang begitu ditunggu kehadirannya oleh Kikyō tersebut melangkahkan kaki masuk ke dalam apartemen, menanggalkan sepatu dan meletakkan di rak yang tersedia, "Tak apa. Aku penasaran apa yang ingin kau bahas denganku?"

"Aku akan mengatakannya setelah ini," jawab Kikyō dengan memaksakan senyum.

Wanita yang sudah menjadi kapten divisi satu di Kepolisian Metropolitan Tokyo untuk beberapa waktu tersebut menunjukkan jalan kepada sang tamu, berharap melalui tindakannya sang tamu sekaligus rekannya akan mengikutinya tanpa harus mengatakan sepatah kata. Langkah Kikyō terhenti di ruang tengah sekaligus ruang makan, aroma masakan sang adik menggugah selera, perut berpesta minta diisi. Namun, ia harus mendiskusikan sesuatu bersama Sesshōmaru sebelum makan pagi dan berangkat bekerja.

"Kagome, kau tidak keberatan kan jika aku mengundang rekanku untuk bergabung makan pagi bersama kita?" tanya Kikyō, menghentikan gerakan sang adik.

Wanita yang dipanggil namanya tersebut membalikkan badan dan tersenyum, "Tentu saja tidak."

"Ah, manisnya! Aku harus berdiskusi dengan rekanku terlebih dahulu. Nanti panggil aku untuk membantumu menyiapkan makanan," tawar Kikyō.

Kagome mengangguk paham, "Kakak, kopinya! Aku sudah menyiapkannya," ujarnya memberikan isyarat melalui lirikan mata kepada sang kakak.

Sulung Higurashi menatap meja makan yang ditunjuk oleh Kagome, tersedia dua gelas kopi yang uapnya masih mengepul, menghias udara kosong. Perpaduan yang serasi untuk diminum di pagi yang cerah, pikirnya. Memang benar bahwa kebahagiaan itu sederhana, itulah yang dirasakan oleh Kikyō saat ini, hal yang mungkin dianggap biasa saja bagi orang lain, tapi tidak baginya. Ia tersenyum bahagia melihat Kagome meski pilu tak benar enyah dari sanubari, adik bungsunya yang selalu perhatian padanya, yang selalu berusaha menjadi lebih baik dan tidak membebaninya, adiknya yang tangguh nan rapuh, dan ia bersyukur menjadi kakaknya.

"Terima kasih," Kikyō mengangkat dua gelas kopi yang uapnya masih membumbung, memberikan segelas pada Sesshōmaru yang menyampirkan jas di lengan kirinya.

"Terima kasih," Baritone rendah itu menyapa untuk pertama kalinya di daun telinga bungsu Higurashi.

Kagome hanya tersenyum dan membungkuk hormat untuk membalas ucapan dari rekan sang kakak. Dalam diamnya, wanita yang menggulung surainya tersebut teringat akan kenangan semalam tentang rekan kakaknya tersebut. Laki-laki bertubuh gagah itu berusaha memberinya segelas minuman hangat, tetapi respons yang ia berikan justru membuat semuanya menjadi rumit. Sementara dua orang tersebut meninggalkan ruang makan, ia lantas membalikkan badan, melanjutkan memasak untuk sang kakak.


"Apa yang sebenarnya ingin kau bahas denganku pagi ini?" tanya Sesshōmaru sesampainya di balkon.

Kikyō menghela napas, "Kau sudah lihat kan, Kagome terlihat jauh lebih tenang dibandingkan semalam saat kau mencoba menginterogasinya. Aku tak bisa menjamin apakah kau bisa menginterogasinya hari ini," Belum jua Kikyō melanjutkan maksud hati, sang rekan sudah melotot tajam. "Tidak dengarkan aku dulu, Sesshōmaru. Ini tidak sesederhana yang kau pikirkan. Kasus ini membuka kenangan lama, sebuah kenangan sekaligus mimpi buruk yang sudah ia lawan selama ini. Namun, terlepas dari itu semua aku berharap dia segera memberikan kesaksiannya, bila hari ini tak berhasil maka aku akan menemaninya besok ke kantor,"

"Dan semuanya akan berujung dengan wacana," ujar Sesshōmaru sarkastik.

"Apa maksudmu?" Nada bicara Kikyō meninggi.

"Apa kau lupa semalam kau menjanjikan bahwa aku bisa menginterogasinya pagi ini, tapi tiba-tiba beberapa saat yang lalu kau mengatakan tak bisa menjamin dia bisa diinterogasi, bukankah itu hanya wacana?" Sesshōmaru memijat pelipis, "Aku berusaha melunak dan melonggarkan semuanya bukan karena kita sudah menjadi rekan cukup lama, melainkan berusaha memahami situasi yang dialami adikmu setelah kejadian. Akan tetapi, kau sepertinya begitu menikmati kelonggaran yang kuberikan dan berusaha membuatnya lama untuk bisa diproses."

Kikyō menghela napas panjang, "Kupikir setelah mengatakan itu semua, kau akan memahami maksudku. Jika kau berpikir bahwa aku membuatnya seperti itu, kau salah. Lusa aku akan kembali ke Osaka, aku berharap adikku sudah menyelesaikan proses penyidikan sebelum aku kembali ke sana."

"Lalu apa maksudmu?"

"Hari ini ia harus bekonsultasi dengan seorang ahli, aku akan melihat situasi dan kondisinya apakah memungkinkan untuk diinterogasi tidaknya. Jika memungkinkan, aku akan mengantarkannya langsung ke kantor,"

"Kenapa tidak mengatakannya dari tadi?"

"Kau menyelaku,"

Sesshōmaru mengalihkan pandangannya, menjauhi tatapan wanita di hadapannya, "Maaf."

Hening tercipta, menjadi partisi di antara kedua insan yang berkutat dengan pikirannya masing-masing. Kikyō menatap jauh, pikirannya melayang tinggi, menuai kebimbangan yang tak berkesudahan akan banyak hal, sedang laki-laki yang berada di hadapannya itu menikmati segelas likuid berwarna cokelat kehitaman, menawarkan rasa pahit yang khas, selagi uap masih tampak mengudara meski samar.

"Sesshōmaru, bisakah kau berjanji sesuatu padaku?"

Laki-laki berpakaian rapi itu mengalihkan pandang, menyesap kopi sekali lagi sebelum memusatkan atensi pada sang lawan bicara. Dari pengamatannya, tampak adanya keraguan serta pengharapan.

Sebelah alis Sesshōmaru terangkat, "Hn?"

Higurashi Kikyō melisankan permintaannya, tetapi tak ada respons yang didapat, seolah ia sudah menduga akan seperti ini. Bisunya desau angin musim semi membawanya kembali berpikir bahwa permintaannya terlalu membebani laki-laki itu, membuatnya berpikir berulang kali sebelum mengiyakan permintaannya.

Netra keemasan Sesshōmaru berkedip untuk kesekian kali, memberikan respons atas mandat dari sang mitra tutur. Ia tak tahu harus memberikan jawaban apa, kepalanya terasa kosong setelah mendengar apa yang terlontar. Mandat yang ia dapat bukan sekadar tugas dari seorang atasan kepada bawahan, ini sudah melampaui hal tersebut dan hal ini tak pernah ia duga sebelumnya. Pun, saraf-saraf di otaknya bergelung dengan banyak pertanyaan mengenai maksud di balik pemintaan wanita Higurashi tersebut.

"Kakak, ayo makan!" seru Kagome dari dalam membangunkan lamunan kedua orang yang sibuk berkutat pada gagasan masing-masing, satu sibuk apakah permintaannya terlalu membebani, dan satunya sibuk memikirkan apakah ia berani menempuh permintaan tersebut.

Kikyō tersenyum, "Kau tak perlu memberikan jawaban padaku sekarang. Berikan jawabannya padaku lusa," ujarnya menepuk bahu laki-laki yang masih berdiri mematung, terkesan memprosesnya dengan lambat, "Ayo!"

Tersadar dari lamunan sesaat, laki-lai berpostur tubuh gagah itu berkedip beberapa kali, mengekor di belakangnya. Wanita yang sudah rapi dengan kemeja putih, rok setinggi lutut, serta blazer yang disampirkan di punggung kursi tersenyum mendapati adiknya yang baru selesai menyiapkan segala sesuatu untuk makan pagi kali ini.

"Aku sudah mengatakan padamu tadi untuk memanggilku saat akan menata makanannya," protesnya pada sang adik, "dan kau sudah berjanji padaku, kau ingat?" tambahnya.

"Tak apa, aku bisa melakukannya sendiri dan tidak ada janji yang mengikat, kau hanya menawarkan bantuan yang bisa kuatasi,"

Sadar bahwa ia tak bisa mendebat sang adik, senyum kembali menghias, jika ia mau mendebat sang adik pun, perdebatan sepele itu tak akan pernah berakhir, sebab Kikyō akan terus mengatakan apa yang ia lontarkan sebagai janji dan baginya janji adalah hutang yang harus dipenuhi. Enggan kalah dari sang kakak, bagi si bungsu itu bukanlah janji melainkan penawaran bantuan, ia tak akan meminta bantuan dari yang lain saat ia merasa dirinya sendiri mampu mengatasi, pun itu berlaku kepada siapa pun tanpa terkecuali pada sang kakak.

"Aku tadi belum sempat memperkenalkan kalian ya, maaf. Kagome, perkenalkan ini Sesshōmaru, dia rekanku sekaligus orang yang ..." Kikyō menggantungkan kalimatnya, mencari-cari kata yang tepat untuk mewakili apa yang hendak disampaikan tanpa menyinggung perasaan sang adik, "kau tahu apa maksudku. Dan Sesshōmaru, perkenalkan ini adik bungsuku, Kagome,"

Wanita yang dipanggil Kagome itu tersenyum tipis kemudian membungkukkan badan untuk menunjukkan rasa hormat pada figur di hadapannya yang berdiri tepat di samping sang kakak. Ia ingat tentang laki-laki itu, detektif yang menangani kasusnya. Semalam, berusaha menggali lebih dalam perihal informasi yang Kagome pendam, tapi bungsu Higurashi itu justru bereaksi berlebihan dengan apa yang dilakukan oleh sang detektif, padahal laki-laki tersebut hanya berniat memberikannya minuman hangat—mengurangi segala gugup yang melingkupi.

"Sesshōmaru, aku tidak tahu apakah ini sesuai dengan seleramu, tapi nikmatilah masakan adikku. Dia pandai sekali memasak!" ujar Kikyō membanggakan keahlian sang adik.

Laki-laki Taishō tersebut mengangguk, menyicipi sup buatan adik dari kaptennya. Tatkala indra pengecapnya mereguk, ia terdiam sesaat, "Sudah lama aku tidak makan makanan rumah seperti ini," ungkapnya menjeda, "ini lezat," lanjutnya memuji.

"Lalu selama ini kau makan apa setiap pagi sebelum bekerja?"

"Mi dadak atau makanan cepat saji,"

"Itu tidak sehat," sahut Kagome.

"Nah, apa yang dikatakan Kagome benar. Kau tahu, aku sering kali dimarahi olehnya kalau terlalu banyak makan makanan cepat saji. Tapi, dia benar-benar menyeramkan saat marah,"

Kagome justru berpura-pura tidak mendengar apa yang dikatakan oleh sang kakak, meski yang dikatakan kebenaran adanya. Ia malu, bagaimana bisa kakaknya mengungkap hal itu pada orang yang tak dikenalnya akrab—ia baru mengenalnya semalam dan baru mengetahui tentang namanya saja beberapa saat yang lalu, tetapi di sisi lain ada percik kebanggan dalam relung hatinya. Kebiasaan yang bagi sebagian orang akan dianggap menyebalkan, sejujurnya ia lakukan untuk kebaikan orang-orang di sekitarnya, tidak ada maksud lain.

"Kau mungkin harus ikut merasakan bagaimana marahnya adikku, karena kau terlau sering makan mi dadak atau makanan cepat saji lainnya," tandas Kikyō cepat, senyum simpul menghias dan sebelum kedua orang yang masih mencoba mencerna tuturannya, ia menundukkan kepala untuk kembali menyantap hidangan.

Khidmatnya dalam menyantap makan terganggu oleh bunyi notifikasi dari gawai yang tak diketahui gawai milik siapa, mereka langsung mengecek gawai masing-masing untuk melihat apakah miliknya yang berbunyi. Setelah beberapa waktu berlalu, barulah diketahui ternyata gawai milik Kikyō yang berbunyi—mencoba mengusik ketanangan acara makan pagi mereka. Ada pesan masuk yang langsung membuat netra biru kelabu si sulung terkesiap dan tak berselang lama benda berukuran yang tak lebih besar dari telapak tangan tersebut berbunyi, membuatnya izin untuk pergi mengangkat panggilan telpon yang tampaknya penting dan berhubungan dengan tugasnya di luar kota.

Dari jarak yang terbentang beberapa langkah, Kagome hanya menebak bahwa panggilan untuk kakaknya yang tengah berlangsung tersebut berhubungan dengan kasus rumit, hingga mewajibkan sang kakak pergi ke Osaka beberapa waktu. Gurat wajah sang kakak terlihat serius, sesekali ia menempatkan jemari di tengkuk—menggaruk leher yang sebenarnya tidak gatal, dan tak berselang lama sang kakak telah kembali ke meja makan.

"Maaf aku harus pergi sekarang," ujar Kikyō menatap dua orang yang masih menyelesaikan santap pagi, "Kagome, maaf aku tak bisa mengantarmu dan sebagai gantinya, bisakah kau mengantarkan adikku?" tambahnya mengalihkan pandang pada sang rekan yang baru menyelesaikan santap pagi.

Tertegun, baik Kagome serta Sesshōmaru menghentikan aktivitasnya seketika, manik keemasaan milik detektif menatap sang mitra tutur sambil mengangguk, "Aku harus mengantarkannya ke mana?"

"Kagome akan menunjukkan jalannya. Maaf aku sedang terburu-buru, aku pergi dulu. Kagome, maafkan aku!"

"Biarkan aku membantumu," Baritone lirih milik laki-laki Taishō menggugah indra pendengaran Kagome, membuat sang wanita yang mencuci piring itu hanya menoleh singkat mencari tahu dari mana suara itu berasal.

Ada getar yang menggelenyar ke seluruh tubuh Kagome, netranya berkaca-kaca, dan diggigitnya bibir bawah miliknya yang ranum. Berdeham-deham kecil untuk menetralkan suaranya yang mulai terdengar parau, ia berujar, "Tidak perlu. Lagi pula kakakku mengundangmu bukan untuk mencuci piring, aku bisa melakukannya sendiri,"

Sesshōmaru tak mengindahkan perkataan sang wanita yang berdiri di sampingnya, ia langsung menggulung lengan kemejanya, melepaskan lilitan arloji di tangan kirinya lantas memasukkannya ke dalam saku celana, dan bergegas membantu Kagome membilas semua perkakas yang sudah dicuci bersih. Ia mengulas senyum kecil waktu meletakkan piring, mangkuk, gelas, beserta perkakas lainnya ke rak yang berada tak jauh darinya, tanpa ia ketahui alasannya dengan pasti.


"Kenapa tidak bilang dari tadi kalau tujuan kita ke tempat Midoriko?" celoteh Sesshōmaru membuka percakapan, sebab ia tak tahan dengan kesunyian yang menyekat. Higurashi Kagome hanya mengeluarkan suara emasnya waktu memberitahukan alamat tujuannya dan sesudahnya ia mengunci rapat mulutnya, membangun benteng sekaligus merentangkan tabir tak kasat mata bernama kesenyapan.

Pemilik netra biru kelabu mengerling tajam, tanpa menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh detektif yang menjadi penanggung jawab kasusnya. Melihat figur di sampingnya tersenyum setelah menanyakan hal tersebut, bagai ada sengatan yang membuat ubun-ubunnya mendidih dalam waktu singkat. Namun, buku-buku tangannya memutih, menggenggam erat ujung gaun selututnya.

"Jangan salah paham, aku juga mengenalnya karena kakakmu," Sesshōmaru masih belum menyerah, anak tunggal Taishō Tōga dan Nakamoto Kimiko itu berusaha untuk membuka percakapan guna membunuh tirai kecanggungan yang membentang. "Seseorang pernah berkata padaku perihal kenapa kita tidak sungguh-sungguh berbahagia, sebab kita tak bisa melepas masa lalu, justru terpasung akan kesakitan masa lalu, hingga membuat kita abai dan melupakan kebahagiaan yang bersiap menjemput," lanjutnya dengan tatapan fokus mengemudi, sedang pikirannya berkelana menapaki masa lalu.

"Kau tahu apa tentangku hingga rasanya mudah sekali mengatakannya tanpa ada beban," lontar Kagome sarkastik, "mereka pikir merelakan dan melepaskan berharganya masa lalu yang sudah terkotori oleh kemalangan itu semudah membalikkan tangan, karena mereka tidak mengalaminya langsung. Aku bersumpah tak ada yang ingin mengalami kemalangan yang aku alami, tidak tahu bagaimana rasanya menghadapi ganasnya anjing hitam yang terus memelukmu erat perlahan,"

Sesshōmaru tertampar keras oleh perkataan Kagome, sanubarinya terkoyak tanpa sisa, ia lemas. Lagi-lagi bungsu Higurashi tersebut memukulnya dengan kenangan masa lalu, menampar reminisensi akan kekasihnya yang telah tiada—Ishikawa Yuri yang dengan susah payah ia cari keberadaannya setelah mendapat panggilan darinya, ternyata berada di lapangan yang lokasinya tak jauh dari kompleks apartemennya. Hal yang pertama kali dilontarkan oleh kekasihnya itu memiliki topik yang sama dengan apa yang baaru saja dilontarkan oleh wanita yang duduk di sampingnya tentang ganasnya anjing hitam. Namun, kenangan yang seharusnya ia relakan seperti yang nasihatkan kepada Kagome beberapa saat lalu rupanya menginginkan lebih dari sekadar rasa pilu semata. Saraf otaknya masih mengingat jelas bagaimana panggilan dari seniornya di Kepolisian Metropolitan Tokyo yang kini tengah ditugaskan bersama Kikyō di Osaka malam itu, saat ia sedang makan malam bersama tim di Kobe. Seniornya yang bernama lengkap Hidetoshi Motoki memberi kabar tentang kematian kekasihnya yang diduga sebagai bunuh diri di Pelabuhan Yokohama. Kekasihnya yang tangguh dan berperang melawan ganasnya anjing hitam yang telah menggerogotinya selama beberapa tahun itu telah pergi, ia kacau karenanya.

"Kau tak tahu apa-apa! Kau tahu bagaimana aku hidup setelah kejadian itu? Kenangan menjijikkan yang kuharap bisa enyah dari ruang memoriku, kenangan yang terus menggerogotiku tanpa lelah nyatanya terus mengejarku dan memasungku. Kau tak tahu segala kemalangan yang telah kualami, berhenti mengatakan hal semacam itu jika kau tak mengetahui kebenarannya seolah kau sudah sangat pantas mengatakannya," Nadanya naik saat menuturkannya, "dan hentikan mobilnya," lanjutnya mendesis, masih menahan amarah, namun ia tak yakin butuh berapa lama baginya untuk meledakkan semua.

"Tidak," sahut detektif berwajah tampan itu, "aku tidak akan bicara denganmu, biarkan aku memenuhi janjiku pada kakakmu untuk mengantarmu ke Midoriko," lanjutnya dan hanya terdengar desahan hela napas panjang sebagai jawab yang diberikan oleh wanita bernama lengkap Higurashi Kagome.


"Miroku, bagaimana kelanjutan surat izin untuk CCTV itu? Sudah mendapatkan persetujuan pimpinan?" tanya Sesshōmaru meletakkan tas di kursi dan mendudukkan dirinya, kepalanya sedikit berdenyut mengingat kejadian yang terjadi beberapa waktu lalu, perdebatan dan kesalahpahaman antara dirinya dengan adik kaptennya. Ia menghela napas merutuki kebodohannya, mungkin hari ini sama dengan kemarin, tak ada kemajuan untuk penyidikan Higurashi Kagome yang diduga sebagai tersangka percobaan pembunuhan.

"Baru akan menemui pimpinan," Miroku cengengesan, menarik selembar surat ke udara—memperlihatkan bahwa ia sudah menyiapkan segalanya tinggal tanda tangan persetujuan dari atasan, "Mana Higurashi Kagome? Bukankah seharusnya ia hari ini interogasi?" tanyanya penuh selidik.

Sesshōmaru mendesah, "Dia tidak akan hadir untuk interogasi hari ini?"

"Kenapa?" Miroku rupanya cukup penasaran hingga menghentikan aktivitasnya dan memusatkan atensi pada laki-laki yang kini menjadi kawan minum alkohol.

"Keadaannya tidak memungkinkan," jawab Sesshōmaru lesu sambil membuka berkas kasus wanita yang tengah menjadi topik pembicaraanya dengan laki-laki Tachikawa. Ia mendongak dan saat itulah paham mengapa Miroku membisu tanpa menanggapi perkataannya, dari tatapan mata rupanya laki-laki itu mengharapkan penjelasan lebih darinya. "Sejujurnya aku merasa diriku tidak pantas untuk mengatakan ini yang menurutku privasi, tetapi ini berkaitan dengan penyidikan kita, dan mengingat kau pernah menjadi rekan Kikyō beberapa tahun sebelum pada akhirnya aku menggantikanmu, kurasa tak apa ... Higurashi Kagome hari ini ada jadwal konsultasi dengan seorang psikolog, Midoriko."

Miroku mengangguk, membisu untuk beberapa waktu, "Bukankah justru aneh jika ia baik-baik saja tanpa merasa terguncang sedikit pun? Semoga saja besok dia sudah bisa diinterogasi," jawabnya dengan melangkahkan kaki meninggalkan Sesshōmaru menuju ruang pimpinan demi mendapat tanda tangan persetujuan.

Belum jua Miroku sampai di kantor pimpinan, Sesshōmaru dikagetkan oleh perkenalan diri seorang anggota detektif kepolisian yang baru dipindahtugaskan ke divisinya. Bukan penampilannya atau fisiknya yang membuatnya terkejut, melainkan suara lantang sebagai tanda semangat yang menggebu-gebu, teringat akan hari pertama dirinya dipindahtugaskan ke mari—ia melakukan hal yang sama.

"Halo! Perkenalkan, namaku Hazegawa Hōjō. Aku dari Kepolisian Kanagawa dan mulai hari ini dipindahtugaskan kemari!" seru laki-laki yang membawa sekardus berisikan barang-barang miliknya dengan antusias.

"Oh, kau sudah datang!" sambut Sesshōmaru yang langsung membenahi posisi duduknya menjadi lebih tegap, "Perkenalkan, aku Sesshōmaru, Taishō Sesshōmaru."

"Mohon kerja samanya," Laki-laki yang akrab disapa dengan panggilan Hōjō itu mengangguk, senyum lebar menghiasi wajah tampannya. Kemudian ia membungkukkan tubuh sempurna untuk menunjukkan rasa hormat pada laki-laki yang menjadi seniornya. "Jadi, kasus apa yang sedang kita kerjakan?" lanjutnya dengan antusias.

"Ini," Laki-laki Taishō menyorongkan sekardus berkas perkara yang tengah ditangani.

Hōjō terdiam memandangi kardus kecil yang berada di hadapannya, ia baca perlahan label yang ditempelkan di wadah tumpukan berkas perkara. Di sana tertulis, "Kasus Percobaan Pembunuhan Seorang Manajer di Kantor ISEE, Tokyo." Diulurkan tangannya untuk mengambil salah satu salinan berkas perkara dan membaca gambaran kasus yang tengah ditangani oleh Divisi Satu Kepolisian Metropolitan Tokyo.

"Disetujui," seru Miroku dari kejauhan, suaranya terengah-engah akibat berlari kecil energik di pagi menjelang siang. Kala netranya bersirobok dengan laki-laki yang tengah membaca berkas kasus, dahinya berkerut seolah ada tanda tanya yang menempel di sana.

"Ah dia Hōjō. Hōjō, perkenalkan ini Miroku, yang akan menjadi rekanmu ke depannya," Sesshōmaru memperkenalkan Hōjō pada Miroku, pun sebaliknya.

"Perkenalkan, namaku Hazegawa Hōjō," Sekali lagi, Hōjō membungkuk sempurna untuk menunjukkan rasa hormat kepada senior yang akan menjadi rekannya. Pun, sang mitra tutur melakukan hal yang sama untuk menyambutnya.

"Miroku, Tachikawa Miroku."

Menutup perkenalan, laki-laki Tachikawa langsung mengajak rekan barunya untuk terjun ke lapangan, berniat membimbingnya tentang bagaimana kerja mereka di lapangan, apa yang harus dilakukan, dan segala hal yang diketahuinya. Ia memberi kode pada Sesshōmaru untuk membawa Hōjō ke Kantor ISEE dengan harapan mendapat barang bukti CCTV, laki-laki yang mendapat sinyal tersebut langsung mengangguk—memberi persetujuan.

Sepeninggal dua detektif itu, Sesshōmaru menenggelamkan kepala di atas tumpukan berkas kasus yang berserakan di meja. Saraf-saraf di kepala mengajaknya untuk memikirkan yang sudah dialaminya sampai detik ini, kepalanya kembali berdenyut. Padahal hari ini belum genap setengah hari, tapi ia sudah mengalami banyak kejadian yang tak pernah ia duga. Apakah semua yang ia alami hari ini berawal dari mimpi itu? Kata orang, mimpi adalah bunga tidur, lantas bagaimana mimpi seperti itu muncul? Bagaimana bisa ia memimpikan seorang Higurashi Kagome? Apakah mimpi itu merupakan ramalan masa depan? Ataukah ia terlalu banyak berharap tanpa ia sadari? Bolehkah ia mendamba kebahagiaan meski sejenak? Meski ia meragu sebanyak apa kemalangan akan mengulurkan tangan padanya.]


Pojok Penulis:

Melalui ini, saya hendak menyematkan catatan kecil mengenai tulisan ini. Perihal nama lengkap Ibu Sesshōmaru, menilik dari berbagai sumber, Rumiko Takahashi tidak pernah membahas mengenai nama dari Ibu Sesshōmaru baik di versi manga hingga anime, hal ini memunculkan banyak versi nama buatan fans untuknya, termasuk saya.

Di sini, saya memilih menggunakan nama Kimiko, karena saya anggap cocok dan benar-benar mewakili karakternya. Nama Kimiko sendiri merupakan nama depan feminin Jepang yang memiliki arti sebagai berikut.

empress (n.) kaisar wanita; istri kaisar, permaisuri

noble (n.) bangsawan; orang ningrat

Sedangkan nama keluarga Nakamoto, saya ambil dari nama keluarga salah satu anggota NCT 127 kelahiran Osaka, Jepang, Nakamoto Yuta.

Berdasarkan wiki fandom Inuyasha yang saya baca, nama ayah Sesshōmaru yang sebenarnya adalah Tōga, hanya saja ia lebih dikenal dengan nama lain yakni Inu no Taishō.

Saya ucapkan terima kasih kepada siapa pun yang sudah menyempatkan waktu untuk membaca dan mengapresiasi tulisan ini.

Salam hangat,

Emma Griselda, 2021/02/10