Ray of light

Disclaimer:

Attack of Titan © Hajime Isayama

Fullmetal Alchemist © Hiromu Arakawa (for the based plot)

Saya tidak mengambil keuntungan apapun dari fanfiksi ini. Hanya diperuntukkan untuk hobi.

.

.

.

First: Levi Ackerman

Pagi hari datang seperti biasa, tidak ada yang spesial. Rumah lapuk di kaki gunung ini masih berdiri, aku masih seorang tukang sayur, dan ruang kerja Mikasa juga masih sama kotornya.

"Mikasa!" Aku mengetukkan tongkat pel ke lantai ruang kerjanya. "Keluar dari sini sekarang juga."

Mikasa yang duduk membelakangiku, berkutat menulis entah apa di suatu lembaran, menjawabku sambil lalu, "Aku belum mau sarapan dan tidur. Jangan ganggu aku, Levi."

Dia mengerti maksud terselubungku rupanya. Kusandarkan tongkat pel ke lemari, kemudian mendekati Mikasa dan menarik bahunya. "Kausudah bergadang dua hari. Istirahat sebentar, oke?"

Mikasa menatapku nanar. Lihat kantung matanya. Menyeramkan. "Keras kepala sekali …"

Aliran darah di otaknya pasti macet sampai dia melantur begitu. Aku melengos. "Kalau kaumasih masih merasa dirimu manusia, makanlah dan tidur."

"Manusia, ya … Manusia …" Mikasa bergumam, tercenung. Pandangan jatuh ke bawah, nanar.

Aku menatapnya heran. "Mikasa?"

Mikasa mengangkat wajahnya, menatapku. Aku tak bisa menangkap apa yang sedang dia pikirkan. Sesaat kemudian, dia terkekeh kecil.

"Tidak, tidak kenapa-kenapa. Aliran darah di otakku pasti macet." Mikasa memang mengerikan untuk urusan menebak isi hati orang. Dia bangkit dari kursi dan sekarang aku harus mendongak memandang wajahnya. "Kausudah sarapan?"

"Secolek selai pun belum kucicip hari ini," tukasku.

Mikasa tersenyum tipis. "Marah, ya? Ayo kita sarapan, Sayang." Dia mendorong punggungku ke arah pintu. "Dan jangan bersihkan ruang kerjaku dulu sampai aku membereskan dokumen-dokumenku, ya."

Aku yang terdorong oleh Mikasa yang menempel di belakangku langsung berujar, "Aku tak akan mengacak-acak dokumenmu, tapi bisakah kau berhenti mencorat-coret lantai dengan kapur? Susah dibersihkan, tahu."

"Itu lingkaran transmutasi. Penting untuk alkemiku," balas Mikasa sembari menutup pintu. "Alkemi segalanya bagiku. Kautahu, 'kan?"

Aku tahu, tetapi aku tak bisa mengerti.

Entah apakah diriku yang dulu sudah bisa memahaminya.

.

.

.

Dua tahun lalu, aku kehilangan hampir semua ingatanku.

Aku tersadar di ranjang di rumah sakit tanpa bisa mengingat alasan aku di sana. Orang pertama yang kulihat saat membuka mata … tidak ada. Dalam keadaan kepala kosong, aku termenung memandang langit-langit tanpa melakukan apapun, sampai akhirnya seorang perawat yang berniat memeriksa keadaanku datang dan bertingkah heboh memanggil dokter.

Dokter dan perawat-perawat yang mengelilingiku begitu bahagia karena aku berhasil sadar dari koma selama 2 bulan. Mereka bahkan lebih bahagia daripada aku yang tidak merasakan emosi apapun, padahal itu adalah momen di mana aku bisa kembali dari antara hidup dan mati. Saat mengingat momen itu, aku pasti mendengus dan mengatai diriku sendiri, "Kau benar-benar kurang bersyukur ya, Levi".

Dokter dengan tinggi menjulang dan berisik itu memeriksa keadaan fisikku dan mengatakan bahwa istriku sudah dihubungi dan sedang menuju kemari, dan kata-kataku yang pertama keluar dari tenggorokanku yang kering adalah,

"Istri? Aku punya istri …?"

Saat itu juga, pintu kamar terbuka. Seorang wanita berambut hitam dan bermata tajam berdiri di sana dengan napas terengah-engah. Saat Dokter akan menyapa, kata-kata yang keluar dari mulut wanita itu justru adalah,

"Bisa tolong tinggalkan kami sendiri?"

Dokter dan para perawat saling memandang. Pemeriksaan fisik sudah selesai sehingga mereka tak punya alasan untuk tetap di sana. Pintu ditutup dan dalam ruangan yang hening, hanya ada kami berdua.

Lama sekali wanita itu menutup mulutnya. Matanya terus-menerus memandang ke arahku, membuatku balas memandangnya juga. Rambut hitam dan mata itu terlihat familiar hingga ada dorongan kuat bagi diriku untuk bercermin. Entah memang aku ingin tahu wajahku sendiri yang tidak kuingat, atau aku tidak tahan dalam suasana diam yang mencekam ini. Jadi, kualihkan pandanganku darinya menuju nakas. Barangkali aku menemukan cermin kecil di sana.

"Kenapa kautidak mengatakan apapun?"

Aku tersentak. Pembukaan pembicaraan yang aneh. Akhirnya, aku kembali memandangnya. "Apa yang harus kukatakan—"

Benar, seharusnya aku mengatakan sesuatu. Apalagi, wanita itu memandangku dengan tatapan geram, bibir terkatup, dan tangan mengepal. Aku punya masalah apa dengannya?

"Baiklah." Aku mengalah. "Kausiapa?"

Dia terkesiap.

"K-Kau tidak ingat …?" Bibirnya gemetar. "Kau tidak ingat, atau pura-pura tidak—"

"Aku benar-benar tidak ingat," ucapku lugas. "Maafkan aku, tapi sungguh, kausiapa?"

Wanita itu tergugu. Perlahan, ia melangkah ke ranjangku. Semakin dekat, gemetar di tubuhnya semakin kuat. Ketika ia tiba di sisi ranjangku, ia jatuh terduduk.

Hingga sekarang, aku tidak mengetahui alasan sikapnya waktu itu. Wanita itu, Mikasa, istriku; tidak pernah mengatakan apa-apa.

.

.

.

Aku berasumsi sikapnya waktu itu karena dia syok sesaat saja. Istri yang mengetahui suaminya kehilangan ingatan, mana mungkin tidak syok, bukan?

Dia meyakinkan dirinya sendiri bahwa aku benar-benar amnesia dengan melemparkan beberapa pertanyaan: "Kauingat namamu sendiri?", "Kauingat kalau aku istrimu?", "Kauingat kenapa kau ada di sini?", "Kauingat bagaimana rumah kita?", "Kau ingat—". Semua pertanyaan itu kubalas dengan gelengan.

Mikasa benar-benar putus asa. Ah, mengapa orang-orang di sekitarku yang jauh lebih merasakan emosi atas keadaanku dibandingkan aku sendiri?

Aku diperiksa lebih lanjut dan tidak ditemukan luka apapun di dalam kepalaku atau dalam tubuhku. Malah, menurut Dokter, aku tidak memiliki luka fisik apapun saat dibawa kemari. Aku hanya koma, itu saja. Ketidaksadaran yang benar-benar gawat. Kalau aku koma sehari lagi saja, mungkin semua orang akan menyerah.

Mikasa akhirnya menerima keadaanku. Sikapnya menjadi hangat.

Otot-ototku yang menjadi lemah akibat lama tak digerakkan membuatku susah mengurus diriku sendiri. Mikasa merawatku dengan sabar. Dua minggu dia tak meninggalkan rumah sakit sama sekali. Ketika aku sudah bisa pulang ke rumahpun perhatiannya tetap terjaga.

Mikasa, istriku, benar-benar sangat baik. Jatuh terperosok ke jurang di hutan sudah membuatku koma dan amnesia, tetapi aku yakin, sejak dulu kami adalah pasangan yang bahagia. Tak butuh waktu lama bagiku untuk jatuh cinta pada Mikasa lagi.

Saat Mikasa mengatakan penyebabku koma, aku mengerutkan dahi dan berkata, "Bukannya aku harusnya terluka parah sampai berdarah-darah? Tapi Dokter bilang aku tak punya luka fisik sama sekali saat dibawa ke rumah sakit."

"Oh, itu … Aku menyembuhkanmu dengan alkemiku, tapi kautetap tidak sadar, jadi aku membawamu ke rumah sakit," aku Mikasa.

"Alkemi?"

Sejak saat itu, aku mempelajari alkemi. Mempelajari kembali, karena Mikasa bilang dulu aku sudah sempat belajar darinya.

"Alkemi adalah ilmu yang memahami struktur dari suatu benda, mengurai, lalu membentuknya kembali," jelas Mikasa padaku di kamar kami suatu hari. "Sederhananya seperti itu."

"Mengurai dan membentuk kembali …" gumamku.

"Memahami, mengurai, dan membentuk kembali. Tiga poin utama." Mikasa duduk bersimpuh di lantai samping ranjang, menggambar sesuatu dengan kapur sembari lanjut menjelaskan, "Tapi, alkemi tidak bisa menciptakan sesuatu tanpa materi apapun, seperti masakan yang pasti butuh bahan tertentu tergantung masakannya. Lalu, ada prinsip penting dalam alkemi."

Lingkaran besar, lalu lingkaran kecil, lalu pentagonal, segitiga terbalik … Sebenarnya apa yang sedang digambar Mikasa?

"Jika kau menginginkan sesuatu, kau harus menukarnya dengan sesuatu yang setara." Mikasa menarik garis terakhir dalam gambarnya. "Itu disebut … 'Pertukaran Setara'."

Gambar di lantai itu sudah jadi. "Ini namanya lingkaran transmutasi, syarat mutlak sebelum memulai alkemi." Mikasa berdiri, melangkah menuju lemari pakaian tepat di hadapan ranjang. "Akan kutunjukkan bagaimana alkemi bekerja." Ia membuka lemari dan berjongkok untuk mengambil sesuatu.

"Boneka?" Aku menaikkan alis begitu Mikasa kembali dengan memeluk boneka beruang cokelat kecil.

"Benar. Kaulihat, boneka ini rusak." Rusak karena terbakar di sisi kanan boneka. Sudah tidak tercium bau gosong lagi, hanya terlihat menghitam, menandakan boneka itu sudah rusak sejak lama. Mikasa meletakkan boneka itu dengan hati-hati di tengah-tengah lingkaran transmutasi. "Baiklah, lihat ini."

Mikasa menyilangkan telapak tangannya, kemudian menghempaskannya ke lantai tempat digambarnya lingkaran. Seketika, cahaya menyilaukan keluar dari sana diikuti oleh suara seperti aliran listrik. Ketika cahaya dan suara itu menghilang, lingkaran transmutasi masih utuh, dan bonekanya juga utuh. Bekas terbakarnya menghilang.

"Benda yang rusak dapat benar kembali, tapi hanya kembali ke kondisi sebelum rusak." Mikasa mengangkat boneka itu dan menyodorkannya padaku. Aku menerimanya. Boneka itu tidak benar-benar seperti baru. Ada benang yang mencuat dan sedikit coretan tinta di daun telinga boneka beruang. Setidaknya, kondisi boneka ini tidak lagi mengerikan. "Aku tidak bisa membuat boneka ini menjadi lebih besar atau mengubahnya menjadi sesuatu yang lain, kecuali kalau aku menukarnya dengan sesuatu yang setara."

"Begitu, ya …" Aku masih memandang boneka itu dan tiba-tiba satu pertanyaan muncul di benakku. "Omong-omong, boneka ini punya siapa?"

Mikasa tercenung sejenak. "Punyaku," jawabnya dengan senyum tipis. "Hadiah darimu dulu waktu kencan."

.

.

.

Walau aku kembali mempelajari alkemi, pada akhirnya aku berhenti karena aku tidak bisa melakukan alkemi.

"Bisa dikatakan alkemi itu bakat yang tidak dimiliki semua orang," terang Mikasa begitu aku mengeluhkan diriku yang tidak bisa melakukan hal yang sama. "Aku sendiri baru menyadari aku bisa melakukan alkemi saat berumur 7 tahun setelah aku mempelajarinya dari buku-buku ayahku. Sebelum kau amnesia, kau memang tidak bisa melakukan alkemi. Aku membiarkanmu belajar lagi karena mungkin kaupunya bakat yang belum kita sadari."

Dan bakat itu tidak pernah ada dalam diriku. Menyerah adalah pilihan terbaik.

Berbeda denganku, Mikasa adalah alkemis yang hebat dan serba bisa. Banyak hal yang bisa dia lakukan; memperbaiki dan mengubah barang, membuat benda lain selama materinya sepadan, bahkan mengobati. Kami tinggal terisolasi di kaki gunung, tetapi ada saja orang yang datang untuk diobati atau diperbaiki barangnya. Itulah sumber penghasilan Mikasa sehingga hidup kami cukup tenteram.

Kehidupan ini terus berjalan dua tahun hingga sekarang, tetapi aku belum bisa mendapatkan ingatanku.

Semua tentang diriku diberitahu oleh Mikasa. Sebelum amnesia, aku bekerja sebagai tentara negara, pangkat letnan dua. Aku sempat bertemu dengan mantan rekan kerjaku sekaligus teman sekolah Mikasa, Eren, yang membesukku di rumah (sekarang dia jadi letnan satu. Sialan!). Dia berkata kalau dia tak akan tahu keadaanku sekarang kalau Mikasa tidak memberitahunya karena aku sedang mengambil cuti panjang dan jauh dari kota saat kecelakaan. Eren bertanya padaku apakah aku akan kembali ke militer. Kebetulan sekali, dia bertanya di saat yang tepat.

"Tidak."

Keputusanku sudah bulat karena pengalamanku sendiri. Kalau saat cuti saja aku bisa celaka sampai amnesia, apalagi kalau aku sedang berperang. Logikanya, pasti jauh lebih buruk. Aku yakin saat aku di militer dulu aku sudah tahu kalau aku bisa pulang tinggal nama kapan saja, tetapi baru sekarang aku sadar betapa menakutkannya itu.

Sama seperti Eren, Mikasa baru tahu keputusanku tersebut. Maka saat Eren meninggalkan rumah kami, istriku bertanya, "Kalau kausudah tidak mau lagi jadi tentara, apa yang ingin kaulakukan sekarang?"

Aku tersenyum, mendongak memandang Mikasa yang berdiri di sisi sofa tempatku duduk. "Kau keberatan punya suami bapak rumah tangga?"

Mikasa mengejapkan mata, lalu terkekeh dan balas tersenyum. "Sambil ikut menjual sayuran, ya."

.

.

.

Melanjutkan hidup tanpa ingat hal-hal apa saja yang kulalui sungguh menyedihkan, ya?

Aku tidak ingat hidup seperti apa yang sudah kujalani bersama orangtuaku, teman-temanku, ataupun atasan-atasanku dan bawahan-bawahanku. "Orangtuamu sudah meninggal saat kaumasih kecil", cerita Mikasa sembari menunjukkan foto orangtuaku yang dibingkai di dinding ruang tamu: potret diriku dengan ayah-ibuku. Di bingkai lain, ada foto Mikasa dengan ayah-ibunya yang juga sudah meninggal, juga potret aku dan teman-temanku dengan seragam militer.

Memang fotonya tidak banyak, tetapi semua subyek yang difoto tampak bahagia, walau aku tidak ingat kenangan apa di dalamnya.

Namun, kurasa ada yang kurang.

Meski aku tahu itu apa, aku selalu lupa menanyakannya. Pada dasarnya aku bukan orang yang suka berfoto, aku yang dulu juga pasti begitu. Jumlah foto yang minim ini adalah buktinya.

Aku tidak ingat seperti apa sosokku dengan tuksedo dan Mikasa dengan gaun di foto pernikahan kami. Aku juga tidak ingat seperti apa sosokku dengan Mikasa ketika berfoto di depan rumah kami. Mungkin semua foto itu disimpan dalam album yang entah di mana, dan aku tidak mempermasalahkan itu.

Ini adalah rumah keluarga Ackerman yang ditempati Mikasa sang istri dan aku sang suami. Aku percaya ini adalah kehidupan pernikahan kami yang sebenar-benarnya. Dan kami bahagia, cukup itu saja.

.

.

.

Kugosok-gosok lantai dapur dengan tongkat pel. Pada akhirnya, Mikasa tidak memperbolehkanku mengepel ruang kerjanya. Aku sudah menyapu ruangan itu setelah Mikasa membereskan dokumen-dokumennya dengan ala kadarnya. Aku harus menyapu dengan hati-hati karena Mikasa memperingatkanku kalau lingkaran transmutasi yang bertebaran di lantai jangan sampai terhapus.

Alkemi memang segalanya bagi Mikasa, ya …

"Mikasa." Aku berhenti mengepel sejenak, menatap punggung Mikasa yang sedang mencuci piring. "Apa kautidak bisa menggunakan alkemimu untuk … mengembalikan ingatanku?"

Tangan Mikasa yang sedang mengangkat piring terhenti di udara, tetap itu tak lama karena dia segara meletakkan piring yang sudah bersih di rak. Terus mencuci tanpa memandangku, dia menjawab, "Tidak tahu."

"Tidak tahu?" Bukannya "tidak bisa"? Berdasarkan yang kupahami, alkemi hanya bisa dilakukan dengan berbekal materi yang "nyata". Artinya, hal yang "tidak nyata" seperti udara, jiwa, dan ingatan tidak bisa menjadi materi untuk alkemi. Kenapa Mikasa tidak memahami hal itu?

"Alkemi bisa menciptakan banyak kemungkinan. Tinggal siapa yang berani mencoba." Suara lirih Mikasa mengiringi air keran yang mengalir deras. "Tapi …"

Sesaat, kata-katanya menggantung.

"… entah apa yang harus ditukarkan untuk mendapatkan ingatan itu, kalau memang bisa."

Aku bisa memahami kalau akan ada "biaya" besar untuk mendapatkan seluruh ingatanku, dan tidak bisa dipastikan apa yang harus ditukarkan. Barangkali anggota tubuhkulah yang sepadan harganya.

Aku tidak akan pernah mencobanya.

"Kalau bisa kulakukan, pasti aku akan mengembalikan ingatanmu dari dulu." Mikasa menutup keran, kemudian berbalik menghadapku. Sorot matanya redup, senyumnya getir. "Maafkan aku, Levi. Tak peduli seberapa banyak yang sudah kuceritakan padamu, pasti menderita kalau tidak bisa mengingatnya sendiri."

Aku benar-benar salah bicara. "Tidak, aku tidak akan pernah memintanya. Kau jangan pernah lakukan itu, Mikasa."

Aku tak mau kau jadi kehilangan sesuatu.

"Aku tahu. Terima kasih telah memikirkanku." Mikasa mendekat, memelukku erat sekaligus menjatuhkan dirinya padaku, seolah baru saja melepaskan beban yang sangat berat. Spontan kupeluk balik tubuhnya yang kini ringan. Apa dia terlalu banyak bekerja? Apa yang sekarang dikejarnya?

Mikasa bersua lirih di bahuku, "Aku menantikan ingatanmu kembali ..."

Aku yang belum lepas dari keterjutanku, hanya memandang puncak kepalanya dengan heran. Ketika aku akan menjawab, kurasakan hembusan napas teratur yang menggelitik leherku.

"Tidur, ya?" gumamku. Mikasa tak bereaksi. Aku tersenyum maklum, mengelus rambutnya.

Kugendong dia yang tertidur pulas ke ranjang kamar dan kuselimuti tubuhnya. Wajah Mikasa tampak damai, sangat berbeda dengan langit hari ini yang tertutup awan gelap. Terdengar suara gemuruh pertanda hujan.

Badai akan datang.

.

.

.

"Akh! Uhuk, uhuk … Hoek!"

Suara batuk yang memilukan disusul muntah darah yang hebat, menodai tanah di bawah kaki.

"Apa yang terjadi padaku …? Sembuh …? Apa aku bisa sembuh …?"

Tidak ada seorangpun yang berani menjawab.

"… Tidurlah yang nyenyak."

"Tidak … kumohon … JANGAAAANNN!"

Aku tersentak bangun dari tidurku.

Napasku terengah-engah, keringat dingin mengalir dari pelipisku. Kupijit kepalaku yang pening. Mimpi buruk? Apa yang kumimpikan itu? Sial, semuanya kabur.

Kutolehkan kepalaku ke samping, tempat Mikasa tidur. Kosong. Sudah bangunkah dia? Aku beringsut duduk di kasur dan memandang jendela. Badai belum berhenti.

Jam saku di nakas menunjukkan pukul sembilan malam. Apa Mikasa sudah makan? Memikirkan itu, aku berdiri dari kasur dan keluar menuju dapur.

Ada satu piring kotor di atas meja makan. Ada pula gelas kotor di dekat bak cuci piring. Tidak ada Mikasa di sana. Pasti dia sudah makan dan sedang mengurung diri di ruang kerjanya. Ketika aku sedang berpikir apa yang bisa kumakan, baru kusadari ada sup ayam dan sandwich di tengah meja makan. Setidaknya Mikasa masih memikirkanku.

Aku masih memikirkan mimpi buruk yang kualami bahkan setelah sandwich dan sup tandas kumakan. Apakah itu salah satu potongan ingatanku yang hilang? Namun, itu benar-benar tidak jelas. Kegelapan, warna hijau dan cokelat, aroma kering di musim panas, dan juga …

Api—

Spontan aku menumpukan kepalaku yang berat dengan kedua tangan. Kugertakkan gigi. Ada ingatan yang akan kembali. Apa ini? Sial, kenapa kabur begini?

Kepalaku makin sakit saat aku mencoba mengingatnya. Aku menghela napas. Menyerah, aku membereskan piring dan mangkuk, bangkit untuk mencuci piring.

"AAAARRRGGGHHH!"

Aku terkejut dan prang, piring dan mangkuk itu pecah di lantai. Itu suara Mikasa! Aku berlari ke ruang kerjanya yang terletak paling jauh di dalam rumah, dekat tangga menuju loteng. Apa yang terjadi padanya?

"Mikasa!"

Begitu kubuka pintu dengan kasar, aku tersentak dan membeku melihat hal yang mengerikan. Cahaya menyilaukan, lidah api hitam bercampur ungu dari lingkaran transmutasi yang besar di lantai, kabut asap yang menutupi bagian tengah lingkaran transmutasi, bau-bau menjijikan yang bercampur menjadi satu, dan yang paling mengerikan …

Mikasa menggeliat di lantai dekat lingkaran transmutasi, menahan sakit dari kaki kanannya yang buntung dan mengeluarkan banyak darah.

"MIKASA!"

Rasanya tenggorokanku bisa langsung putus jika berteriak sekali lagi. Aku berlari menghampirinya, jatuh berlutut, mengangkat tubuh Mikasa ke pelukanku. Dia sadar, tetapi kritis. Darah yang mengalir dari kaki kanannya makin menjadi, menggenangi lantai, mengenai tubuhku juga. Dia harus diobati! Dia harus kubawa ke rumah sakit! Aku langsung putus asa ketika melirik jendela yang masih menampakkan hujan deras disertai petir. Sial, tidak bisa!

"Sakit … sakit …" rintih Mikasa. Dia berusaha membuka matanya sedikit. "Apa aku … berhasil melakukannya …?"

"Mikasa, apa yang sudah kaulakukan?!" Aku menuntut penjelasan, tetapi sedetik kemudian aku sadar kalau aku bertanya di saat yang tak tepat.

"Menghidupkan …" Mikasa menatap lurus ke kabut dengan kata terpatah-patah. "Menghidupkan … O … kau …"

Aku yang tergugu, mengamati kabut itu. Ada sesuatu di balik kabut. Terlihat bayangan yang samar-samar, bayangan seperti …

Sosok manusia … yang terbakar …

Sekelebat memori muncul di kepalaku dengan amat sangat jelas.

.

.

.

Langkahku berderap menyisir hutan yang gelap di suatu malam. Panik, aku benar-benar panik. Kepalaku sangat kosong sampai aku tidak tahu apa yang benar-benar harus kulakukan selain berlari seperti ini.

"… a …. Kita mau ke mana …?"

Gadis kecil yang kupanggul di bahuku berucap terpatah, di sela-sela batuk-batuk hebat yang tak kunjung berhenti.

"Apa kita … ke Dokter Reiss lagi?" lanjut gadis itu tanpa bisa kujawab. "Tapi masih … perang … uhuk, uhuk! Hoek!"

Dia muntah darah lagi di bahuku. Kauakan ngeri melihat jaket yang kupakai berlumur darah seperti ini.

Apa, apa yang harus kulakukan? Ke kota Dublith yang makan waktu tiga hari dari sini? Tidak, mustahil! Lagipula masih ada perang di sana. Sebelum aku sampai sanapun, aku sudah akan membahayakan hidup banyak orang …

Lagipula, memangnya dia bisa selamat?

"Ma … Ma …" Tangan kanan gadis itu menggapai-gapai udara di belakang punggungku yang semakin jauh memasuki hutan, sedangkan tangan kirinya menggenggam erat tangan boneka beruang kecil. "Mama … bagaimana?"

Aku tersentak, lariku kontan berhenti.

Suara batuk yang memilukan masih terus berlanjut. Aku berlutut, menurunkan gadis kecil itu dari bahuku. Kududukan dia di tanah dan kutahan punggungnya dengan lenganku.

Kondisinya benar-benar parah, bahkan kata-kata "kau baik-baik saja?" tak bisa terlontar dari mulutku.

Apa semua ini … salahku?

"Akh! Uhuk, uhuk … Hoek!"

Lagi. Suara batuk yang memilukan disusul muntah darah yang hebat, menodai tanah di bawah kaki. Dengan wajah meringis, dia mendongak kepadaku.

"Apa yang terjadi padaku …?" tanyanya lirih. "Sembuh …? Apa aku bisa sembuh …?"

Aku tak mampu menjawabnya. Bibirku terkatup rapat.

Aku harus memutuskan … apa yang akan kulakukan …

"Sakit, ya? Sakit sekali, ya 'kan?" Kurengkuh dia erat di pelukanku. Dia menimpali dengan gumaman di sela-sela batuknya, membuat jaketku terus berlumur darah. "Kau sering tidak bisa tidur nyenyak gara-gara batuk. Pasti tidak enak, ya 'kan?"

Sudah kuputuskan.

"Tahan sedikit ya, Nak. Setelah ini kautak akan kesakitan lagi." Tangan kiriku mendekap kepala gadis itu makin erat, sementara tangan kananku merogoh pistol dari saku. "Sekarang tidurlah yang nyenyak. Nanti … aku …"

"Tidak, jangan … kumohon …" Gadis itu meronta saat aku menodongkan pistol ke pelipisnya. Kutarik kokang dan kupejamkan mataku.

"Tidak, hentikan …"

Jariku siap menarik pelatuk.

"PAPA, JANGAAAANNN!"

Aku tersentak akan jeritan gadis itu.

Duak!

.

.

.

Aku … ingat semuanya.

Aku spontan memukul bagian belakang leher gadis kecil itu dengan gagang pistol alih-alih menembaknya. Ketika dia pingsan, kukeluarkan korek gas yang setia kubawa ke mana-mana bersama rokokku, lalu membakar tubuhnya.

Aku … membakarnya … Membakar …

"Ra … Ra …" Aku berusaha bicara di tengah-tengah keterkejutanku.

"Kausudah ingat semuanya?"

Aku tersentak, menoleh pada Mikasa yang masih dalam dekapanku. Raut wajahnya … meski sedang merasakan sakit yang amat sangat, dia menatap tajam padaku.

Tatapan penuh kebencian.

"Sekarang katakan semuanya!" Mikasa merenggut kerah bajuku kasar. "Kenapa … KENAPA KAU MEMBUNUH RACHEL, BRENGSEK?!"

.

.

.

Last: Mikasa Ackerman

Rachel, putriku yang manis. Buah hatiku, darah dagingku, kebahagiaanku. Aku sungguh menyayanginya. Aku akan menjaganya sampai akhir hayatku, aku akan memastikannya selalu bahagia hingga tua renta.

Tapi kenapa …

Kenapa Levi, suamiku sendiri, ayah putriku yang manis, si keparat brengsek itu, membunuh Rachel kami?!

Apa aku … menikah dengan seorang iblis?

Peristiwa hari itu—lebih dari dua tahun yang lalu—masih terekam jelas di benakku, diawali dari aku yang terbangun dari tidurku yang sangat tidak nyaman. Aku benar-benar menguras otakku di ruang kerja, mempelajari alkemi pengobatan yang dahsyat dan rumit sampai-sampai aku belum juga berhasil mempraktikannya. Meja tempatku tertidur penuh dengan dokumen-dokumen tulisan tangankuyang semakin dilihat semakin membuatku putus asa.

Kenapa aku belum menguasainya juga?

Berapa waktu lagi yang kupunya?

Berapa lama lagi Rachel harus menderita karena penyakit yang belum ada obatnya?

Tidak ada satupun dokter maupun alkemis yang bisa menyembuhkannya. Alkemis yang punya kemampuan mengobati seperti aku sangatlah langka. Di negara ini, hanya aku satu-satunya alkemis pengobatan. Sejak dahulu aku mencurahkan seluruh pikiranku pada penelitian-penelitian kesehatan. Negara membiayai seluruh risetku sekaligus memberiku posisi di dalam militer medis. Di situlah aku bertemu Levi.

Hm … sepertinya aku sempat memimpikan pertemuan pertama dulu. Tiga buah peluru yang bersarang di lengan Levi sampai-sampai ada yang memvonisnya untuk amputasi. Aku yang masih anak baru di militer medis, dihibahkan Levi oleh Eren untuk menjadi pasien pertamaku dalam karier resmiku. Tidak ada orang awam yang percaya aku memiliki bakat alkemi yang hebat, sampai aku berhasil menyembuhkan Levi.

Selanjutnya adalah perjalanan kisah cinta yang klise. Kauakan geli mendengarnya. Intinya, kami akhirnya menikah dan aku keluar dari militer karena menyukai kebebasan.

"Rachel, bertahanlah!"

Sayup-sayup terdengar suara Levi jauh dari ruang kerjaku, lalu disusul derit pintu yang terbuka dan tertutup. Penasaran, aku berdiri, tetapi tubuhku yang belum siap bergerak kehilangan keseimbangan dan aku jatuh bersimpuh. Kedua tanganku spontan membekap perutku.

"Aduh-duh-duh …"

Sepertinya aku kurang istirahat. Berapa lama aku mengurung diri ya? Dua minggu? Seingatku aku mulai mengurung diri—lagi—setelah aku sempat bertengkar dengan Levi dan Levi pergi membawa Rachel bersamanya, tanpa bilang apapun. Mereka baru kembali dua hari yang lalu dan aku menyambut mereka penuh kerinduan. Ada yang berubah dari kesehatan putriku, tetapi Levi tidak mau mengatakan apa-apa selain,

"Menyerahlah … meneliti alkemi yang sia-sia."

Tentu aku marah dan aku kembali mengurung diri lagi, berusaha menyelesaikan penelitianku secepatnya dan saat ini belum selesai juga. Sial.

Aku bangkit, terseok keluar ruangan dan menyusuri lorong rumah yang gelap. Kutuju dapur untuk melepas dahaga sejenak. Beberapa saat setelah itu, aku mengedarkan pandangan. Pintu kamarku dan Levi serta kamar Rachel terbuka lebar. Aku memeriksa keduanya.

"Levi …?"

Kosong.

"Rachel …?"

Kosong.

Apa mereka tidak ada di rumah? Kuperiksa pintu depan. Tidak dikunci. Ada apa gerangan sampai seorang Levi cukup ceroboh untuk tidak mengunci pintu rumah lagi saat keluar pada tengah malam?

Apa Levi … akan meninggalkanku lagi tanpa bilang apa-apa?

Kugertakkan gigi geram. Segera aku menyalakan lampu minyak, lalu keluar rumah dan mengunci pintu. Jejak kaki yang tercetak jelas di tanah yang masih beraroma sisa hujan kuikuti. Janggalnya, jejak kaki yang kuikuti hanya dari sepasang kaki dan dilihat dari ukurannya, sudah jelas milik Levi. Artinya, Rachel yang baru berulang tahun kesebelas itu sedang dalam kondisi yang tidak memungkinkan untuk berjalan.

Apa yang terjadi? Jangan-jangan, penyakitnya—

Kekhawatiran merayap hebat di hatiku. Kukejar mereka secepat yang kubisa. Mereka sudah jauh masuk ke dalam hutan. Ke kotakah? Senekat ini? Sungguh, apa yang sedang terja …

… di …

Langkahku terhenti begitu mendapati lelaki itu di depan mataku, lelaki yang berdiri kaku dengan wajah terperangah, menatap lamat sesuatu. Kutatap apa yang dia tatap. Api, api yang membakar sesuatu di atas tanah.

Sesuatu itu … memiliki dua tangan dan dua kaki …

Jangan-jangan … manusia?!

"Levi!" pekikku pada lelaki yang mematung itu di tengah-tengah desisan api. "Apa ini?! Yang terbakar ini—"

Levi berganti menatapku, masih dengan tatapan terperangah. Kuamati sorot matanya. Bingung, sedih, frustrasi, merasa bersalah … seolah baru saja melakukan sesuatu yang tidak bisa dimaafkan …

Tidak mungkin …

Perlahan, aku kembali menjatuhkan pandanganku pada sosok yang masih dilumat api. Sosok itu sudah hangus. Satu-satunya yang masih bisa dikenali hanyalah boneka dalam genggamannya, boneka beruang kecil yang hangus separuh sisinya.

"Ra … Ra …"

Tidak … Mustahil … Tidak … Tidak …

"RACHEEEELLL!"

Kugambar lingkaran transmutasi dengan spidol dari sakuku secepat yang kubisa, lalu kusilangkan tangan dan kuhentakkan ke tanah. Rumput di sekelilingku menguning dan kering sebagai ganti bulir-bulir air sisa hujan yang kuambil untuk memadamkan api. Api pun perlahan padam oleh hujan kecil hasil karya alkemiku.

Meski begitu, sosok itu sudah terlanjur gosong. Tubuh Rachel sudah terlanjur hangus.

Rachel … tidak selamat …

"Apa … yang … Kenapa …?" Aku menuntut jawaban tanpa bisa melepaskan pandanganku dari putriku. Spontan kututup mulutku. Gemuruh di dadaku membuat perih. Kuberlinang air mata.

"Pulanglah, Mikasa …"

Levi melepas jaketnya yang berlumur darah ke tanah, lalu melemparkan korek gas kesayangannya yang sedang menyala pada jaket itu, membakarnya tanpa beban, lalu berucap lirih,

"Kumohon …"

Apa dia … juga membakar tanpa beban seperti itu … pada … Rachel …?

"K-Kau … yang melakukan … semua ini …?" tanyaku terbata-bata sembari memandang jaket Levi yang terbakar. "Kenapa …?"

Levi menarik kokang pistol yang digenggamnya. Sangat lihai, tak heran dia menjadi salah satu prajurit terbaik. Dan sekarang dia mau menjadi pembunuh kah? Membunuh Rachel, kemudian aku …

"Jawab!" jeritku berang. Aku tidak takut mati, aku tidak takut pada hasrat membunuhnya, tetapi aku baru boleh mati setelah mendapat jawaban dari mulutnya. "Jawab pertanyaanku, Levi! Kenapa kau membunuh Rachel?! Kenapa?!"

Levi tetap membisu. Pistol diangkat, siap menembak.

"Jawablah …" Aku menggertakkan gigi, mengepalkan tangan erat-erat, dan mendongak ke wajah Levi penuh amarah sebelum aku berakhir dibunuhnya. "JAWABLAH, BAJINGAAANNN!"

DOORR!

Aku tercengang. Pistol sudah ditembakkan, tetapi bukan kepadaku … melainkan … ke … Levi sendiri …

Levi menembak pelipisnya sendiri. Levi … bunuh diri …

Aku masih terkesiap ketika tubuh Levi jatuh terlentang ke tanah. Kakiku tak mampu bergerak, mulutku tak mampu memekik. Aku membeku seperti anjing yang diam dan duduk manis, menyaksikan dua orang yang berharga dalam hidupku kehilangan nyawanya.

Keluarga kecilku … hancur berantakan.

Dan apa yang bisa kulakukan? Hanya menjerit putus asa sampai tenggorokan nyaris putus.

"AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!"

Kenapa Rachel dibakar? Kenapa Levi membunuh Rachel? Kenapa Levi membakar jaketnya juga? Kenapa Levi bunuh diri? Kenapa Levi tidak berusaha membunuhku?

Kenapa Rachel dibunuh?

Kenapa Levi tidak mengatakan apa-apa?

Kenapa aku tidak tahu apa-apa?

Tidak … jangan … Jangan …

Jangan tinggalkan aku sendiri …

Kumohon … kembalikan—

"Transmutasi manusia … sebenarnya bisa dilakukan tidak?"

Aku menatap heran Eren di sampingku. Kebetulan aku berpapasan dengannya di pemakaman setelah berziarah ke makam orang tuaku. Ibu Eren belum lama meninggal sehingga aku akhirnya menemani Eren berziarah di depan nisan beliau. Levi dan Rachel tidak bersamaku. Levi sedang bertugas di perbatasan, sedangkan Rachel sedang kutitipkan pada Sasha, teman sekolahku yang lain, di rumahnya yang tak jauh dari sini.

Aku berganti memandang nisan ibu Eren kembali. "Darimana kau mendengar hal seperti itu?" tanyaku menyelidik.

"Yah … dari mulut ke mulut," jawab Eren asal. Dia bicara tanpa minat, tetapi untuk orang yang sedang dilipur lara sepertinya, dia bisa berpikir yang tidak-tidak tergantung apa yang kukatakan. Aku harus bicara dengan hati-hati.

"Kautahu konsep "Pertukaran Setara", 'kan?" ujarku. "Menurutmu, apa hal di dunia ini yang setara dengan memanggil kembali jiwa yang sudah pergi ke tubuhnya?"

Poni Eren yang tertiup angin mengaburkan sorot matanya yang sendu. "Aku jadi tidak mau membayangkannya …" katanya lirih. "Pasti … besar sekali …"

Aku menyetujui dalam hati. Kematian pasti mengikuti setiap orang, dan kematian adalah salah satu hal dalam siklus kehidupan. Kematian pasti akan datang dan tidak akan ada yang bisa membatalkan hal itu.

"Kauharus menerimanya, Eren," tandasku dengan suara pelan. "Menerima … kepergian orang-orang yang kita cintai …"

"Tetapi, kematian Rachel yang tragis begini … MANA BISA KUTERIMA BEGITU SAJAAA?!"

Aku benar-benar bodoh … sok bijak menasihati seperti itu …

Aku beringsut mendekati jasad Rachel. Transmutasi manusia … aku pernah membacanya di berbagai buku. Aku tahu tekniknya, karena itu … karena itu …

Aku akan menghidupkan Rachel kembali!

Ketika aku hendak menyentuh jasadnya, aku tersadar.

Tidak … tidak bisa …

Salah satu syarat untuk melakukan transmutasi manusia yang sempurna adalah … jasadnya harus dalam keadaan segar dan utuh.

Jiwa Rachel tidak bisa dikembalikan dalam tubuh ini. Tubuh putri manisku yang hancur terbakar.

Levi keparat …

Keparat, keparat, keparat!

Aku memandang jasad Levi dengan geram. Dia membunuh, lalu bunuh diri, membawa semuanya mati bersamanya. Benar-benar keji. Tidak rela aku membiarkannya mati dengan tenang, tidak sebelum dia mengatakan semuanya, tidak sebelum dia bertanggung jawab atas semua ini!

"Ah, kaumati demi lari dari semua ini?" Aku bicara sendiri di sela-sela napasku yang terengah-engah. "SIALAN KAU, BRENGSEK!"

Aku merangkak cepat mendekati jasad Levi. Satu-satunya yang rusak hanya isi kepalanya. Itu bisa diperbaiki selama semua materi isi kepalanya masih ada. Di luar itu, tubuhnya memenuhi syarat: segar dan utuh.

Kalau aku … membawa jiwanya kembali …

Berapa harga yang harus kubayar?

Tanganku yang memegang spidol begitu gemetar. Dengan pikiran campur aduk dan napas satu-satu, aku menggambar lingkaran transmutasi yang besar, lalu menyeret tubuh Levi dengan susah payah ke tengah lingkaran. Aku tak bisa menebak hal yang akan kutukarkan untuk menghidupkan kembali seorang pembunuh. Untuk seseorang yang sudah memporak-porandakan hidupmu dalam satu malam saja, pasti bodoh sekali harus berkorban demi dirinya.

Tetapi, demi kebenaran, demi keputusanku mengambil langkah selanjutnya, aku bersedia membayar demi itu!

"Levi …" Napasku makin pendek. "Kau yang sampai sebelum ini masih kucintai, kini aku membencimu, tetapi … akan kuseret kau kembali!"

Aku duduk bersimpuh, mengatur napas. Kukumpulkan tekadku, kusilangan tangan, dan kuhentakkan di lingkaran transmutasi. Cahaya menyilaukan menyelubungi lingkaran bersamaan dengan angin kuat yang rasanya menusuk-nusuk tubuh. Lidah api berwarna hitam bercampur ungu timbul mengelilingi lingkaran transmutasi. Pandanganku kabur oleh kabut asap yang membumbung. Aku tak bisa melihat jasad Levi yang tertutup kabut, tetapi dari cahaya listrik merah dari tengah lingkaran, sepertinya tubuh Levi sedang dibentuk kembali, sekaligus menarik jiwa yang sesuai.

Aku tak tahu sekarang kau sedang dikirim ke surga atau neraka, tetapi akan kutunda kepergian jiwamu.

Tunggulah, Levi …

Kauhanya kembali untuk menceritakan semua kebenarannya.

Sebuah kilat merah penuh energi merambat ke arahku, siap mengambil sesuatu dariku. Pertukaran yang setara.

Setelah itu, akan kukirim atau sekalian kubuatkan neraka untukmu, BAJINGAN!

.

.

.

Tubuh Levi akhirnya bernyawa lagi, tetapi kesadarannya sudah terlanjur dibawa jauh.

Malam itu juga, aku membawa Levi ke rumah sakit dengan susah payah sembari menahan rasa sakit yang amat sangat. Sama dengan diagnosisku, dokter di rumah sakit kota menyatakan bahwa Levi koma. Selain menunjang kebutuhan fisiknya selama tak sadar, yang bisa dilakukan hanya menunggunya sadar.

Artinya, kebenaran yang kuinginkan masih jauh dari genggaman.

Rachel, berapa lama Mama harus bersabar, Nak?

Aku sungguh ingin segera tahu semuanya. Jiwaku sudah hancur di sini, aku tak bisa melihat masa depan yang bahagia. Aku tak bisa melangkah maju tanpa tahu apa-apa seperti ini.

Apalagi, hal yang kutukarkan untuk menarik jiwa Levi sangatlah besar.

Benar-benar … sangat besar …

Sudah begitu, aku malah belum bisa langsung mendapat timbal baliknya? Sialan!

Selama dua bulan Levi koma, aku jatuh dalam keputus asaan. Benar-benar depresi. Entah berapa kali aku ingin mengakhiri semua ini. Membunuh dia, lalu bunuh diri, persis yang dilakukan Levi dulu. Setiap kali aku menjenguknya, yang kulakukan hanya menyentuhkan pisau ke lehernya atau menodongkan pistol miliknya ke dahinya dengan tangan gemetar. Entah berapa kali … aku mencoba membunuhnya.

Namun, pikiran itu selalu datang. Kalau aku membunuhnya sekarang, berarti usahaku untuk menghidupkannya kembali, juga bayaran yang kuberikan, akan sia-sia.

Maka, untuk melampiaskan depresiku, aku melakukan hal yang lebih ringan: merobek-robek dan membakar semua fotoku dan Rachel yang bersama cecunguk itu. Yah, pelampiasan yang bodoh.

Selain itu, aku belajar lebih dalam mengenai transmutasi manusia. Sembari menunggu kebenaran itu datang, aku akan mencari cara … untuk menghidupkan Rachel seutuhnya!

Ah, penelitian untuk menyembuhkan penyakit Rachel berakhir sia-sia, tetapi aku yang manusia biasa ini … apa boleh buat.

Aku bisa melupakan hasratku membunuh Levi dengan belajar, akan tetapi aku tak mau melihat mukanya. Eren sempat bertanya kenapa aku jarang menjaga Levi dan aku bisa berbohong dengan sempurna. Temanku itu tak tahu apa-apa. Levi tak pernah mengatakan apapun pada Eren selain cuti dengan alasan yang tidak diketahui. Keparat, dia benar-benar menutup mulutnya.

Namun, aku juga menutup mulutku sendiri. Apa yang terjadi malam itu tidak pernah kukatakan pada siapapun. Aku mengarang semuanya. Levi yang jatuh terperosok ke jurang di hutan, Rachel yang ikut bersama Levi juga ikut jatuh terperosok dan tubuhnya tak dapat ditemukan, semuanya adalah kebohongan. Tidak akan kukatakan yang sebenarnya, apalagi di depan Eren yang pernah kutolak mentah-mentah keinginannya untuk menghidupkan ibunya kembali.

Ketika Levi dikabarkan sadar dari komanya, kebetulan aku sedang berada di perpustakaan kota untuk mencari referensi alkemi. Aku sangat girang. Bisa dibayangkan? Aku bukan mensyukuri hidup Levi, tetapi karena saat untuk mendapatkan semua kebenaran ini tiba. Takdir akhirnya berpihak padaku.

Namun, ternyata Levi malah amnesia. Dunia ini benar-benar sedang mempermainkanku. Sialan!

Jadi, apakah benar ada gunanya menghidupkan Levi seperti ini …?

Sudah seperti ini … apa tidak lebih baik kubunuh saja dia?

Aku memikirkannya masak-masak saat aku menunggui Levi di depan ruang periksa. Levi sedang diuji berbagai macam untuk memastikan keadaan kepalanya. Barangkali dia amnesia karena terlalu kaget. Bagaimanapun, dialah yang menghancurkan kepalanya sendiri.

Ingatan apapun yang hilang karena syok, besar kemungkinan bisa kembali. Tinggal tergantung waktu dan pemicunya. Kalau aku bersabar sedikit lagi, kebenaran itu mungkin akan kudapatkan.

Mungkin … kalau aku bersikap sebagai istri yang baik, kalau aku bertingkah normal seperti yang Levi tahu sebelum hilang ingatan, dia punya kesempatan untuk menata kembali seluruh ingatannya yang terburai. Kalau sudah tersusun rapi, maka semua kebenaran tentang hari itu akan diingatnya lagi. Bila saat itu tiba, akan kupaksa dia mengatakan semuanya.

Sayangnya Rachel masih belum bisa kuhidupkan kembali, maka aku harus bertingkah seolah-olah aku dan Levi belum memiliki anak. Eren pun kuminta tidak mengatakan apapun terkait Rachel karena takut Levi depresi dan merasa bersalah. Hah! Sejak hari itu, rasa sayangku pada Levi sudah mati. Sejujurnya aku tak peduli dia mau putus asa seperti apapun.

Lalu, drama "pasangan suami-istri yang hidup bahagia" dimulai dan terus berlangsung. Seraya menjalani drama pernikahan omong kosong ini, aku diam-diam terus mencari cara menghidupkan Rachel yang sempurna dan menunggu ingatan "suami yang tetap maju melanjutkan hidup dan berbahagia setelah kecelakaan yang menimpanya" kembali.

Dua tahun sudah berlalu. Kapan si brengsek itu mendapatkan ingatannya kembali? Berapa lama lagi aku harus bertingkah sebagai "istrinya yang baik", sialan?

Akan tetapi, setidaknya penelitianku akhirnya berbuah. Aku berhasil mendapatkan cara menghidupkan Rachel kembali!

Aku sudah lelah menunggu ingatan Levi kembali. Barangkali satu-satunya pemicu untuk memunculkan ingatannya kembali hanyalah dengan keberadaan Rachel di depan matanya. Kuputuskan untuk segera melakukannya, demi mendapatkan kebenaran dari si brengsek itu, demi berbahagia dengan Rachel seperti dulu … hanya berdua. Aku tak sudi Levi ada di dalam kebahagiaan kami.

Aku bangun dari tidurku dengan keputusan yang mantap itu. Kulirik ke sisi ranjang satu lagi, Levi rupanya sedang tidur di sampingku. Menjijikan. Aku bangkit dari ranjang pelan-pelan, keluar kamar dan menutup pintu. Hari sudah malam dan ternyata ada badai yang entah dari kapan terjadi. Perasaan ganjil merayap, tetapi aku coba mengabaikannya dengan memasak. Aku harus makan sesuatu agar punya energi yang cukup untuk melakukan alkemi sebesar itu nanti.

Malam ini, drama "suami-istri yang hidup bahagia" akan kuakhiri. Memasakkan makan malam untuknya adalah perbuatan terakhirku sebagai "istri yang baik".

Setelah makan tanpa mencuci piring, aku langsung beranjak ke ruang kerja. Kukeluarkan seluruh bahan-bahan dari lemari yang sudah kusiapkan dari kemarin. Air 17,5 liter, karbon 10 kg, amonia 2 liter, kapur 0,75 kg, fosfor 400 gram, garam 125 gram, nitrat 50 gram, belerang 40 gram, fluorin 3,75 gram, besi 2,5 gram, dan silikon 1,5 gram. Semua itu adalah bahan-bahan untuk membuat tubuh seorang anak seumur Rachel. Kucampurkan semua bahan ke baskom besar, lalu kugambar lingkaran transmutasi yang besar di lantai, meniru gambar yang kubuat di salah satu dokumen. Kupindahkan baskom ke tengah lingkaran, lalu kulukai jariku sendiri dengan pisau, meneteskan darahku sendiri ke dalam baskom sebagai informasi jiwa yang akan kutarik kembali.

Di dalam ruang kerja yang sunyi itu, aku memulai transmutasi manusia dengan perasaan senang. Rachel-ku … akan segera kembali.

Cahaya merah dan energi listrik muncul dari lingkaran transmutasi. Bahan-bahan yang ada di baskom sana perlahan direkonstruksi. Tak lama kemudian, lidah api berwarna hitam bercampur ungu muncul mengelilingi lingkaran transmutasi, disusul kabut asap yang menghalangi pandangan mata. Persis saat menghidupkan Levi dulu. Artinya, transmutasi ini pasti berhasil.

Dan datanglah … kilat merah itu. Kilat yang akan mengambil sesuatu dariku lagi. Apa … apa yang kali ini akan diambilnya?

Kilat itu membelah kaki kananku jadi dua, lalu mengurai potongan kakiku yang lepas hingga menghilang.

"AAAARRRGGGHHH!"

Jeritanku persis dengan yang dulu, saat aku kesakitan begitu sesuatu dari tubuhku diambil. Aku langsung terkapar. Kaki kananku mengeluarkan banyak darah. Aku mencoba menyeret tubuhku ke sebuah lingkaran transmutasi lain yang sudah kubuat sebelumnya. Lingkaran … aku harus mencapainya untuk mengobati kakiku.

"MIKASA!"

Levi menemukanku—oh, sial. Dia menghampiriku seperti orang kesetanan, mendekap tubuhku. Aku tak punya energi untuk mendorongnya menjauh. Aku masih memikirkan pengobatan sambil meracau tidak jelas akibat rasa sakit yang mengambil alih pikiranku. Ketika kurasakan dirinya terhenyak, aku berhasil membuka mata dan memfokuskan pandanganku, melihat wajah Levi yang syok saat mengetahui sosok yang kuhidupkan di lingkaran transmutasi.

"Ra … Ra …"

Mataku melebar. Akhirnya … ingatannya—

"Kausudah ingat semuanya?"

Aku tak menahan amarahku lagi. Seakan tak sedang merasakan sakit, kutatap matanya tajam.

"Sekarang katakan semuanya!" seruku sembari merenggut kerah bajunya kasar. "Kenapa … KENAPA KAU MEMBUNUH RACHEL, BRENGSEK?!"

Dia perlahan menatap mataku. Dia masih syok, tak segera menjawab. Lagi-lagi tatapan mata itu. Lagi-lagi dia bungkam seperti dulu.

"Jawab pertanyaanku!" timpalku sengit. "Jawab aku, brengsek! Tak akan kubiarkan kau bunuh diri tanpa menjelaskan apa-apa seperti dulu!"

Dia tersentak, tetapi dia tidak terlihat meragukan kata-kataku. Ingatannya sudah kembali seutuhnya. Alih-alih menjawab pertanyaanku, dia kembali mengalihkan pandangannya ke sosok di lingkaran transmutasi. "Apakah yang di sana itu … Rachel?"

"Benar, aku menghidupkannya kembali!" seruku puas. Aku menyeringai. "Kaulihat sekarang? Inilah bukti atas dosamu dulu! Lihat, Rachel sudah kembali dan kauakan bertanggung jawab atas kejadian yang dulu—"

Kata-kataku langsung tertahan di tenggorokan begitu kabut asap akhirnya menghilang, begitu aku menyaksikan rupa sosok di tengah lingkaran sana.

Sosok hitam dengan mata merah. Tubuhnya kurus kering, rambut terurai berantakan. Tubuhnya dalam posisi kayang yang tidak wajar. Sosok itu melenguh dengan suara mengerikan. Tangannya mengarah padaku dan Levi, seolah memanggil kami, tetapi tiba-tiba tangannya lepas begitu saja dan hancur di lantai, mencipratkan banyak darah.

Apakah itu … benar-benar Rachel?

Tidak, mustahil … Kenapa jadi begini? Apa yang salah? Kenapa Rachel tidak terbentuk kembali dengan sempurna? Padahal dulu, Levi bisa hidup kembali dengan sempurna.

Jangan-jangan, karena hal yang ditukarkan waktu itu adalah—

"Tidak mungkin itu Rachel, 'kan …?" gumam Levi lamat-lamat. "Itu … sebenarnya apa?"

Tidak tahu … Aku tidak tahu. Aku hampir menangis karena tak bisa memastikan itu Rachel atau sesuatu entah apa.

Kalau saja Rachel tak kaubunuh, ini tidak akan terjadi … Levi …

"Aa …" Aku meronta melepaskan diri dari Levi. Aku ingin mendekatinya, ingin memastikan Rachel benar-benar kembali. Tidak mungkin aku memanggil yang bukan Rachel. Harus kupastikan … harus kupastikan …

"Hentikan, Mikasa! Kau terluka!" Levi menahanku. Aku sulit melawannya. Aku tak bisa menendangnya dengan kakiku yang buntung. "Jangan mendekatinya! Bagaimana kalau makhluk itu menyerangmu?"

Amarahku terpicu mendengar kata-katanya. "'Makhluk itu' … 'Makhluk itu' katamu …?" ulangku geram. "Dia bukan 'makhluk itu'! Dia Rachel yang pernah kaubunuh, sialan!"

"Seyakin itukah kau? Dilihat sendiri juga tahu, 'kan?" Levi masih mendekapku erat-erat.

"Lepaskan!"

"Urus kakimu dulu! Kaubisa mati!" bentak Levi. "Alkemi … Kaumasih bisa menggunakan alkemi untuk menyembuhkan kakimu, 'kan?"

Aku tercengang, melirik lingkaran transmutasi pengobatan yang sudah kubuat. Seakan Levi membaca pikiranku, dia langsung memindahkanku ke sana.

"Sembuhkan kakimu dulu. Aku akan membawa dokter kemari," ucap Levi. Kedua tangannya yang mencengkeram kedua lenganku gemetar saat dia bergumam, "Kau … tidak boleh mati … Tak akan kubiarkan …"

Aku merasa janggal sekaligus geli ketika merasakan emosi Levi. Aku tak percaya itu perasaan Levi yang sebenarnya. Pasti pura-pura. Kalau dia segitunya menyayangiku, kenapa dia harus menghancurkan Rachel-ku yang berharga?

Akan tetapi, ini bukan waktunya memikirkan itu. Aku menyilangkan tanganku, mengarahkan kekuatan alkemiku pada kakiku yang buntung. Karena separuh kaki kananku hilang, aku tak bisa menyambungkan kakiku seperti semula, tetapi paling tidak pendarahannya bisa berhenti.

Di saat aku sibuk mengurusi kakiku, Levi beranjak berdiri, berbalik dan melangkah mendekati sosok itu. Sosok itu masih tidak wajar. Levi berdiri di dekatnya sejenak, memandang sosok itu yang berusaha menggapai kakinya dengan satu tangannya yang tersisa. Tidak mau kuakui … tetapi sosok itu memang mengerikan. Rachel-ku …

Namun, kalau jiwa yang kupanggil memang Rachel-ku, aku mau menerimanya.

Levi membuang muka dan menghampiri meja kerjaku, mengambil pisau yang tadi kugunakan untuk melukai jariku, lalu kembali menghampiri sosok itu. Mataku melebar. Tidak … apa yang akan dia lakukan?

"Tidak, hentikan …" Alkemiku mulai kacau. Fokusku mulai pecah. "Levi, jangan … hentikan …"

Levi mengabaikanku, menggenggam pisau erat-erat. Suaraku tercekat, tak mampu memekik untuk menghentikannya. Dia akan melakukannya … Rachel-ku akan dia bunuh lagi … untuk kedua kalinya …

Padahal jiwa dan tubuhku sudah hancur begini. Kenapa … kenapa aku tidak mendapatkan timbal balik yang setara? Kenapa aku harus tetap kehilangan semuanya?

Levi mengangkat pisau tinggi-tinggi, menghujamkannya ke tubuh sosok itu tanpa ragu-ragu.

"HENTIKAAAAANNNN!"

Aku menjerit sekeras-kerasnya. Alkemiku terhenti, lukaku belum tertutup sempurna, tetapi pandanganku sudah terlanjur gelap.

.

.

.

Cahaya … aku butuh cahaya …

Sejak hari itu, duniaku benar-benar gelap. Tidak ada yang bisa kulihat.

Karena itu, aku butuh cahaya …

Cahaya bernama 'kebenaran'—

Aku tersentak bangun. Mimpi itu menyadarkanku. Kuedarkan pandangan ke sekeliling dan bisa kupastikan aku sedang berada di kamarku. Sinar mentari menyeruak dari jendela—sudah berapa lama aku pingsan? Kutolehkan kepalaku pada sosok yang duduk di kursi agak jauh dariku, menunduk seperti sedang merenungi sesuatu. Levi.

Aku meringis, beranjak duduk. Levi terhenyak dan mendongak ke arahku. "Kausudah sadar?" tanyanya, tetapi tidak menghampiriku. "Dokter sudah ke sini dan mengobati kakimu. Jangan sampai lukanya terbuka lagi."

Aku mengintip kaki kananku yang ditutupi selimut. Tetap buntung, tetapi sudah dibalut perban. Kakiku hilang, dan aku tidak mendapatkan Rachel-ku kembali. Itulah kenyataan, ya …

Sosok yang susah payah kubuat dan dibunuh begitu saja oleh Levi berkelebat di dalam kepalaku, membuatku mencengkeram erat selimut menahan geram.

Aku tidak mau repot-repot menjawabnya. Begitu menatap mukanya saja aku sudah muak. Persetan dengan menjadi "istri yang baik". Tidak ada lagi kebaikan yang pantas dia dapatkan dariku.

"Kaubelum menjawab pertanyaanku," ujarku. "Ceritakan semuanya."

Levi diam sesaat sebelum mendengus dan tersenyum miris. "Jadi kausampai menarikku kembali dari kematian … agar kaubisa tahu alasanku melakukan semua itu?"

"Ya," tandasku.

Levi menatapku dengan sorot mata gelap, lalu memejamkan mata dan menarik napas, kemudian memandang lantai. "Kauingat saat kita bertengkar soal pengobatan Rachel dan kau mengurung diri berminggu-minggu? Saat itu, penyakit Rachel kambuh lebih parah dibanding sebelumnya."

Napasku tercekat. Aku tidak tahu.

"Aku akhirnya membawa Rachel pergi berobat tanpa bilang apa-apa padamu, karena kalau aku bilang, kau pasti menentangnya," tutur Levi. "Kudengar di pedalaman Dublith ada seorang alkemi pengobatan yang hebat: Historia Reiss. Aku membawa Rachel ke sana. Sayangnya, Historia Reiss pun tidak bisa menyembuhkan penyakit Rachel, hanya bisa mengurangi kambuhnya. Setelah Rachel pulih, aku segera membawanya pulang, tetapi …"

Ada hening yang menggantung.

"Kami terjebak perang … di kota Dublith."

Aku tercengang. Benar, waktu itu ada perang saudara, tetapi tidak melibatkan negara ini. Levi tidak mungkin diutus ke medan perang. Kupikir Levi hanya membawa Rachel liburan ke ibukota, tetapi rupanya …

"Musuh Dublith meluncurkan senjata penghancur massal yang baru, yang belum bisa dibuat siapapun." Tangan Levi yang sedang dia tangkupkan gemetar. "Senjata itu benar-benar mengerikan. Sekali kena, kauakan tersiksa sampai melewati batasmu dan mati."

"Senjata apa itu?" tanyaku cepat.

Ada jeda beberapa saat sebelum Levi menjawab, "Senjata biologis … bom virus."

Aku terhenyak.

"Virus yang dijadikan senjata itu tidak diketahui jenis apalagi vaksinnya. Banyak orang meninggal karena tertular. Kebanyakan dari mereka muntah darah hebat, bahkan sampai ada orang yang organ dalamnya yang copot karena tekanan batuknya. Aku yang tentara ini saja, yang sudah beberapa kali melihat mayat-mayat bergelimpangan di jalan saat perang, tetap saja ketakutan. Dublith benar-benar hancur, dan orang-orang dari luar seperti aku yang kebetulan ada di sana bisa menyebarkan virusnya begitu kembali ke tempat asal masing-masing …

… Meski begitu, aku tetap nekat membawa Rachel pulang. Dia tidak mau berpisah lama denganmu. Meski berisiko tertular kalau menerjang kota, setidaknya aku bisa mengamankan Rachel di rumah. Kalau pada akhirnya aku mati karena virus itu, ada kau yang pasti bisa menjaga Rachel."

Hening, hanya terdengar suara jarum jam yang berdetak. Aku tetap memasang telinga, Levi tetap menunduk tanpa memandangku.

"Begitu kami pulang, aku baru sadar … Rachel tertular."

Aku terkesiap. Tidak, tidak mungkin. Ketika aku menyambut mereka, kondisi putriku terlihat lebih baik. Apakah Rachel baru ketahuan tertular setelah aku bertengkar lagi dengan Levi dan mengurung diri di ruang kerja?

"Puncaknya, Rachel muntah darah hebat pada malam itu. Aku mencoba membawanya ke dokter atau sekalian Historia Reiss, tetapi virus itu sudah menjangkit Rachel terlalu parah. Kalau aku membawanya ke kota, sama saja aku sedang membawa bom virus. Begitu juga kalau aku membawanya pulang ke rumah. Kauakan tertular …"

Aku sudah mendapatkan benang merahnya. Mengerikan, benar-benar mengerikan. Inilah … kebenaran yang kucari-cari.

"Karena itu … k-kau membakar Rachel?" simpulku dengan terbata-bata.

Levi tidak menjawab, tidak bereaksi. Dia memilih menjawab dengan diam.

"Aku sendiri mungkin sudah tertular sehingga tak ada gunanya aku hidup, tetapi lebih dari itu … aku tidak kuat menghadapi kenyataan kalau aku membunuh putriku sendiri. Ironis sekali, mengorbankan darah dagingku demi keselamatan rakyat. Hal yang sering didoktrinkan padaku selama aku di akademi militer." Levi tersenyum pilu, lalu mendongak padaku. "Makanya … aku bunuh diri sekalian."

Aku terdiam. Memang aku tak menyangka ada maksud baik di balik pembunuhan Rachel, tetapi Rachel tetap dibunuh dengan keji. Itu adalah kenyataannya, kenyataan yang tidak akan kumaafkan.

Levi menunduk lagi, menutupi wajahnya dengan tangan. "Aku sudah membunuhnya, Mikasa. Kenapa kau repot-repot menghidupkanku kembali? Memangnya kaumasih mencintaiku setelah melihat aku membunuhnya di depan matamu sendiri—"

"Jangan salah paham!" hardikku. "Aku menghidupkanmu kembali karena kau berutang penjelasan padaku! Pengecut macam apa kau yang langsung bunuh diri tanpa mengatakan apa-apa? Brengsek!"

"Jadi benar … Kaumemang membenciku …" simpul Levi sembari tetap menutup wajahnya. "Ya, semuanya memang salahku …"

Levi pelan-pelan menurunkan tangannya dari wajah dan berujar, "… Tapi, semua itu tak akan terjadi kalau kau mendengarkanku, Mikasa."

Aku tersentak dan langsung mencerca, "Apa maksudmu? Kau yang membuat dirimu dari Rachel terjebak di medan perang, kau yang membuat Rachel tertular, kau yang membunuhnya … Di mana salahku?! Justru aku yang menderita!"

"Tapi, kalau kau tidak terobsesi untuk menyembuhkan Rachel dengan kekuatanmu sendiri, kalau kau lebih percaya kalau mungkin di luar sana ada orang yang bisa menyembuhkannya, kalau kau tidak selalu mencegahku ketika aku ingin Rachel dirawat di rumah sakit kota …" Levi memukul pegangan kursi sembari menatapku dengan sama berangnya. "SEMUA ITU TIDAK AKAN TERJADI, MIKASA!"

Aku hanya bisa mematung. Jadi, semua ini bermula dari keinginanku menyembuhkan Rachel dengan tanganku sendiri kah? Semuanya bermula dari ketidakpercayaanku bahwa tidak ada yang bisa menyembuhkan Rachel selain aku kah? Kalau saja aku mencari cara atau seseorang untuk bisa menyembuhkannya di luar sana, kalau saja aku membiarkan Rachel dirawat intensif di rumah sakit, kalau saja aku tidak mendekam di rumah dan melakukan penelitian yang begitu lama …

Jadi … semua bermula karena kesombonganku, ya?

Pemikiran itu seakan menamparku sampai aku tak bisa berkata-kata.

Haha … Aku mendengar suara hatiku tertawa. Ironis.

Lama aku dan Levi terdiam, sampai akhirnya Levi bertanya, "Waktu itu … kau menghidupkanku dengan alkemi, 'kan?"

Masih tercenung akibat larut dalam pikiran, aku mengangguk. "Um."

Aku bisa merasakan sorot mata Levi yang serius. "Untuk nyawaku, apa yang kautukarkan?"

Napasku seakan berhenti. Pertanyaan itu langsung membawa memoriku ke malam itu. Ketika aku menjerit kesakitan saat proses menghidupkan Levi dengan alkemi. Rasa sakit yang begitu nyata. Dalam keadaan nyaris pingsan, aku menyaksikan banyak darah yang menggenang di bawah tubuhku, darah yang luruh dari dalam tubuhku bersama …

Aku mengelus perutku dengan perasaan pilu. "Anak kedua kita yang baru kukandung empat bulan …" Kata-kata yang begitu berat diucapkan. " … yang belum sempat diberi nama."

Levi tergugu. Aku sendiri jadi ingat masa itu, masa ketika aku memeriksakan diri ke dokter saat Levi koma dan dinyatakan keguguran. Eren berkata mungkin aku terlalu syok melihat Levi koma, tetapi aku tahu, bayi dalam kandunganku adalah bayaran atas jiwa Levi. Alasan depresiku bertambah, alasanku berhasrat membunuh Levi waktu itu bertambah.

Sejak saat itu, selama waktu yang kugunakan untuk mencari cara menghidupkan kembali Rachel dengan sempurna, kupikir bayaran atas jiwa seseorang adalah bagian fisik yang ada pada tubuh orang yang memanggil kembali jiwa tersebut. Tubuh bayi yang kukandung adalah bagian dari fisikku juga. Namun, saat menghidupkan Rachel, kakiku hilang, tetapi Rachel tidak bisa kuhidupkan seperti semula. Aku akhirnya menyadari bahwa bayaran atas jiwa yang ingin kutarik adalah ...

… jiwa juga.

Artinya, bayaran atas jiwa Levi waktu itu adalah jiwa bayi dalam kandunganku, bukan tubuhnya. Tubuhnya saja waktu itu hancur terburai, keluar bersama darah dari dalam rahimku.

Jiwa dibayar jiwa. Ya, benar-benar "Pertukaran Setara".

Kenapa … semua yang kulakukan hasilnya selalu mengerikan?

Inikah kemampuan alkemiku yang selama ini kubangga-banggakan?

"Apa kau tidak menyesal … menghidupkan aku yang pembunuh ini dengan bayaran bayi kita?"

Tentu saja menyesal. Sangat menyesal. Akan tetapi, aku tak mampu berkata apa-apa.

"Kausudah mengetahui semuanya dariku …" tambah Levi sembari bangkit berdiri. "… berarti sudah selesai, 'kan?"

Benar, aku sudah mendapatkan seluruh kebenarannya. Penantianku dua tahun ini hanya demi kebenaran itu. Karena sudah mendapatkan kebenarannya, maka aku—

"Kauingin aku mati?"

Aku terkesiap mendengar kata-kata Levi yang tepat sasaran.

"Benar …" tukasku seraya kembali mencengkeram selimut. "Aku ingin membunuhmu … Aku tak bisa memaafkanmu … Kau sudah membunuh Rachel dua kali."

"Itu bukan Rachel. Itu bahkan bukan manusia," tegas Levi. "Rachel tidak mungkin memiliki empat kaki, gigi taring, dan tangan yang terlalu panjang!"

Terkesiap, aku membayangkan sosok itu. Itu terlalu jauh dari perkiraan. Apa yang sebenarnya kutransmutasikan? Benarkah … kalau tidak menggunakan tubuh yang masih segar dan utuh serta jiwa yang bisa ditukar, aku tidak akan pernah bisa menghidupkan Rachel?

Aku masih tidak terima. "Meski begitu, kalau jiwa di dalam sosok itu benar-benar Rachel—"

"Kalau memang ada jiwa Rachel di situ, kaupikir dia senang dimasukkan ke tubuh seperti itu?!" hardik Levi. "Selama hidupnya, Rachel sudah menderita penyakit! Kenapa kau malah memberinya beban yang lebih besar saat dia hidup kedua kali?!"

Aku tak bisa membalasnya. Aku tak bisa membantahnya. Benar … siapa yang akan bahagia mendapatkan tubuh seperti itu?

Rachel, maafkan Mama, Nak …

Levi melangkah mendekati nakas di bawah jendela, mengambil sesuatu yang terbuat dari logam. Setelah itu, dia menghampiriku, menyodorkan pistol miliknya yang dia ambil ke depan wajahku.

"Pakailah," ucap Levi tenang. "Akan kupastikan kau tidak salah sasaran."

Aku tersentak dan sontak menoleh pada Levi yang kini membungkuk di sampingku. Dia diam, menungguku menerima pistol itu. Tanganku gemetar ketika meraihnya, menempelkan moncong pistol tepat di dahinya.

Dia menatapku tanpa senyum, tanpa emosi, hanya pasrah. Dia sudah kehilangan semangat hidupnya, seakan dia sudah mendedikasikan dirinya untuk menuruti apapun yang kuinginkan. Apakah dia memang tidak ingin hidup karena dosa yang dia tanggung, ataukah … karena aku menginginkannya?

Setelah semua ini, dia masih menganggapku apa?

Dia juga marah padaku, 'kan?

Dia tidak mungkin … masih menyayangiku …

Emosiku membuncah. Tanpa bisa kucegah, air mataku mengalir. Tanganku yang menggenggam pistol semakin gemetar.

Levi terhenyak. Segera saja dia merebut pistol itu dari tanganku dan berdiri.

"Ternyata memang …" ucap Levi dengan nada teduh. "Aku tak bisa membiarkanmu menjadi seorang pembunuh …"

Dia mundur beberapa langkah sambil mengangkat pistol ke pelipisnya, persis seperti dulu. Tidak akan kulupakan bagaimana dia bunuh diri di hari itu, dan kini dia akan mengulanginya kembali.

Aku menginginkannya mati, dan Levi masih cukup baik untuk tidak membuatku mengotori tanganku sendiri. Karena itu, ini … tidak masalah, 'kan?

Namun, kali ini ada yang berbeda. Kali ini, Levi tersenyum tipis, tidak beraut wajah memilukan seperti dulu.

Senyum itu …

"Tu … Tunggu …" sergahku dengan suara tercekat. Tanganku terulur untuk menggapainya yang begitu jauh.

Benarkah aku senang dia mati? Bukankah … aku akan sendiri lagi? Tidak ada Rachel, tidak ada bayiku yang belum kuberi nama, tidak ada Levi … bagaimana caranya aku melanjutkan hidup?

Levi memejamkan matanya, seolah suaraku tidak sampai padanya. Jarinya siap menarik pelatuk.

Mati … dia akan mati …

"He … HENTIKAAAANNN!"

Gabruk! Tanpa sadar aku menyeret tubuhku sendiri hingga jatuh dari ranjang. Levi terkejut tanpa sempat menarik pelatuk. Buru-buru dia melempar pistolnya dan berlari menghampiriku.

"Mikasa, kau baik-baik saja?" Levi yang panik mengamati kondisi tubuhku, lalu dia merengkuhku. "Dokter … aku akan membawamu ke dokter sekarang—"

"He … Hentikan …" Aku yang berada dalam dekapannya, mencengkeram lengan bajunya. Tubuhku menggigil. "Jangan … jangan tinggalkan aku sendiri …"

Kurasakan Levi tersentak mendengar isakanku.

"Apa kau ingin lari, membiarkanku menderita sendirian? Kaumau menyusul Rachel dan bayi itu sendirian? Tidak adil, tidak adil …" Aku memukul-mukul dadanya dengan tangan kiriku. "Kalau kalian semua pergi, bagaimana caraku melanjutkan hidup …?"

Tangan kiri Levi yang gemetar merengkuh kepalaku lebih dalam ke pelukannya. "Kalau begitu, bagaimana caraku bertanggung jawab?" timpalnya lirih.

Aku sendiri belum pernah memikirkan tanggung jawab yang lebih pantas diemban Levi selain mati, tetapi aku sadar, menginginkan kematiannya terdengar sangat murah dibanding semua derita yang kutanggung saat melanjutkan hidup. Kehilangan kedua anakku, kehilangan kenangan-kenangan indah, kehilangan keceriaan yang mengisi hari-hari di rumah, kehilangan sebagian fisik dari tubuhku, kehilangan impian, kehilangan waktu yang berharga bersama keluarga kecilku … Dengan menanggung semua itu, aku melanjutkan hidup.

"Hiduplah … ingat semua dosamu, ingat semua luka batinmu," putusku di sela-sela tangisku. "Sesakit apapun, kauharus menanggung deritanya dan melanjutkan hidup. Itulah … harga yang setimpal atas perbuatanmu."

Levi terdiam, tidak menyangka akan kata-kataku. Dia mengerti kalau aku benar. Mati artinya melarikan diri. Itu bukanlah tanggung jawab yang bisa dibanggakan Levi. Tanggung jawab yang sesungguhnya … adalah tetap melangkah maju dengan mengingat semuanya.

Dia mendengus dan menyunggingkan senyum miris, lalu mendekapku erat. "Ternyata … harga nyawaku memang tidak setara, ya?"

Badai sudah berhenti sejak lama, tetapi baru sekarang awan kelabu di langit pergi. Sinar mentari menyinari dunia dengan indahnya. Wortel dan kubis yang kami tanam pasti siap panen hari ini. Harus segera dipetik sebelum dimakan hama. Kualitasnya sudah tidak diragukan lagi, pasti akan habis terjual. Memikirkan hal itu, untuk pertama kalinya sejak dua tahun lalu, senyumku yang tulus dari lubuk hatiku akhirnya kembali.

Hari ini … tetaplah melanjutkan hidup.

.

.

.

Final: Eren Yaeger

Kesibukanku di militer benar-benar parah, apalagi semenjak aku naik jabatan lagi menjadi mayor. Gajinya memang menggiurkan, tetapi sungguh, rasanya jiwa ragaku disabotase dengan bekerja tidak henti. Untunglah, aku berhasil cuti setelah susah payah memperjuangkannya. Kuputuskan untuk berlibur dengan menemui teman lama bersama separuh jiwaku, Historia Reiss. Akan kupastikan Levi menjadi best man dan Mikasa menjadi bridemaid utama di pernikahan kami nanti, tak peduli walau aku harus menggotong mereka.

Semalam, waktu aku menelepon mereka, pasangan muka datar itu mengatakan sesuatu yang aneh.

"Kalau tiba di sini jangan kaget, ya," pesan Mikasa.

"Kalau kau sampai histeris, kubunuh kau," ancam Levi.

Sepertinya akan turun salju di musim panas. Mungkinkah ingatan Levi sudah kembali dan dia sudah tahu tentang Rachel yang hilang di jurang? Mungkin dia marah karena aku tidak memberitahunya atas permintaan Mikasa. Apapun itu, aku harus tetap bersikap biasa sampai mereka mengatakannya sendiri.

Kudentingkan bel pintu rumah mereka seraya memanggil dengan riang, "Oi, Mikasa! Levi! Ini aku! Kalian tidak sedang keluar, 'kan? Capek tahu naik gunung!"

"Sepertinya aku ingat untuk membunuhmu kalau kau histeris," sahut suara berat dari dalam rumah. Uwaa, kesalahanku sudah dihitung rupanya. Levi menampakkan wajahnya dari pintu yang dia buka. "Datang juga akhirnya."

Dia mengejapkan mata ketika mendapati Historia di sampingku. "Kau … Dokter Reiss."

"Ah, Mr. Ackerman." Historia tampak kaget dan mengenali Levi. "Benar juga, kalau dipikir-pikir nama marga Anda … ah, mohon maaf mengganggu," sapanya sambil membungkuk.

Aku menatap heran mereka berdua. Kapan ya mereka saling mengenal? Kalau aku, sih, kenal Historia setahun lalu saat dia lari dari Dublith akibat perang yang berkepanjangan. Kudengar ada senjata biologis yang terus dipakai di sana. Untunglah Historia tidak sampai kena.

"Levi, kenapa kau membiarkan mereka di luar?" Terdengar suara Mikasa dari balik pintu yang belum sepenuhnya terbuka. "Suruh mereka masuk."

Levi berpaling pada sumber suara dan mengiyakan, lalu kembali memandang kami dan membuka pintu lebih lebar. "Masuklah," suruhnya sembari melangkah lebih dulu ke dalam.

Belum satu langkah, aku sudah melihat sosok Mikasa dengan jelas di ruang tamu. Mikasa yang duduk di kursi roda menyambut kami dengan senyum. Levi kini berdiri di samping Mikasa, memegang kursi rodanya. Aku terkejut begitu sadar kaki kanannya buntung.

"Hei, kau kenapa?" tanyaku dengan wajah syok. Historia hampir memekik di belakangku. "Apa yang sudah terjadi?"

Mikasa dan Levi saling memandang. Seakan baru saja berkomunikasi lewat mata, mereka menatapku dan Historia dengan mantap.

"Ceritanya panjang," ujar Mikasa. "Duduklah dulu."

Levi yang tidak biasanya menyambutku dengan baik mengimbuh, "Kusiapkan teh dulu."

.

.

.

Teh yang tinggal setengah di cangkir sudah mendingin begitu cerita Mikasa dan Levi selesai.

"Begitu ya … Itu yang sebenarnya terjadi …" Sejujurnya aku masih tak percaya apa yang sudah kudengar ini. Historia saja membeku sampai diam seribu bahasa.

"Maaf aku sudah banyak membohongimu, Eren," aku Mikasa. "Dan juga … transmutasi manusia …"

"Tidak, tidak apa. Jangan dipikirkan." Aku mengibaskan tangan. Sejatinya aku agak sedih mengingat Mikasa yang menentang transmutasi manusia saat aku menginginkannya, tetapi dia sendiri malah melakukannya. Walau begitu, aku … "Aku sendiri tidak akan siap mengorbankan sesuatu demi menghidupkan ibuku kembali. Kau hebat, Mikasa. Kaujuga, Levi. Kalian berdua … kuat …"

Mikasa dan Levi terdiam. Entah kenapa, mungkin aku terlalu percaya diri, tetapi sorot mata mereka seakan mengucapkan terima kasih.

"Yah, walau sesakit apapun, kita harus tetap melangkah maju dan melanjutkan hidup." Levi menutup pembicaraan, lalu menoleh pada Mikasa. "Benar, 'kan?"

Mikasa balas menoleh dengan senyuman. "Iya."

Aku dan Historia tersenyum melihat semangat mereka. Benar-benar … pasangan yang bahagia.

"Omong-omong, Miss Reiss, kamu alkemis pengobatan dari Dublith, 'kan?" Mikasa membuka pembicaraan baru. "Aku mendengar banyak prestasimu. Kau alkemis yang hebat."

"Dan Eren terlalu beruntung mendapatkanmu, Dokter Reiss," timpal Levi seraya melipat tangan.

"Mengejekku, ya?!" hardikku sebal.

"Ah, tidak, tidak. Aku tidak sehebat itu …" Historia berkilah. "Aku lari dari Dublith … setelah sadar aku tidak cukup hebat untuk menyelamatkan banyak orang. Padahal sebelumnya, aku selalu mengklaim diriku sendiri sebagai alkemis pengobatan yang hebat, tetapi ternyata … hanya kesombonganku belaka …"

"Sombong, ya …" gumam Mikasa dengan pikiran melayang entah ke mana. "Yah, sifat itu hanya akan memberimu karma …"

"Karena itu, aku memutuskan untuk belajar banyak. Aku akan berkeliling dunia, mencari ilmu sebanyak-banyaknya," ungkap Historia penuh tekad. "Pertama-tama, aku ingin belajar darimu, Guru Mikasa."

"Eh, guru? Tidak, aku tidak menerima murid." Mikasa berusaha menolak, tetapi Historia terus membujuk dan memohon-mohon padanya. Aku dan Levi yang menyaksikan hal itu tak kuasa mencegah.

"Kau yakin akan membiarkannya keliling dunia?" tanya Levi padaku yang sedang gigit tisu membayangkan aku ditinggal pergi separuh jiwaku.

"Sebenarnya aku tidak rela," ungkapku jujur. "Tapi dia semangat sekali. Aku tidak bisa menghentikannya."

"Kauharus temani dia," pungkas Levi. "Jangan sampai dia terlalu terobsesi dengan alkemi yang dia sukai itu."

Aku mengejapkan mata. Saran yang aneh dari seorang Levi yang biasanya bermulut pedas. "Akan kupertimbangkan," ujarku sembari menyesap teh. "Repot juga, nih … mengurus surat pengunduran diri …"

Aku dan Historia menghabiskan waktu sampai petang di rumah mereka sebelum kembali ke kota. Kami melambaikan tangan pada mereka yang mengantar sampai teras rumah. Baru beberapa langkah meninggalkan kediaman mereka, aku berhenti dan berbalik, memandang pasangan itu yang sedang berbincang.

Aku tidak bisa merasakan langsung penderitaan Levi dan Mikasa yang mereka emban seumur hidup mereka. Yang kutahu, pasti berat sekali. Meski begitu, mereka tetap melanjutkan hidup, mereka tetap melangkah maju, bersama-sama.

"Eren, Guru Mikasa bersedia mengajariku. Kita akan segera kembali ke sini, 'kan?"

Aku menoleh pada Historia yang belum melepaskan atensinya dari pasangan Ackerman dengan wajah sumigrah.

"Tentu saja," jawabku mantap. "Dan aku akan menemanimu ke ujung dunia sekalipun."

Historia terkikik kecil. "Kita benar-benar memimpikan hal yang sama ya, Eren …

Cinta sejati … seperti mereka berdua."

.

.

End


Halo, Aia di sini. Terima kasih telah membaca