Endless Desire

Disclaimer:

Attack of Titan © Hajime Isayama

Saya tidak mengambil keuntungan apapun dari fanfiksi ini

.

.

.

Perang belum juga berakhir.

Levi menatap nanar kalender tablet di tangannya. Sudah lama ia tak menghitung hari demi hari perang yang berlangsung. Rasanya perang sudah pecah lebih dari empat bulan. Ini perang yang setiap hari acung senjata, bukan perang dingin, membuat Levi begitu lelah.

Kau seharusnya bersyukur. Kau ditempatkan di sini, bukan di garis depan.

Levi memarahi diri sendiri dan memandang tenda yang ia tempati, tenda sempit yang sesak oleh peralatan mekanik, beberapa android yang lumpuh, dua kursi, tiga meja, satu pendingin sekaligus penghangat ruangan, dan satu kasur. Tenda ini terbuat dari grafin dan dilengkapi security pintu, tetapi bisa saja dihancurkan dengan bombandir peluru. Terdengar canggih, ya? Namun, ini termasuk tenda biasa di era sarat teknologi ini. Semua tentara menggunakannya ketika perang.

Ini adalah tenda pribadi Levi yang disediakan Angkatan Darat mengingat prestasinya. Levi adalah mekanik android yang ahli, dulunya bekerja di pabrik android megabesar milik Paradisa, negaranya. Pekerjaan awalnya adalah membuat manusia-manusia android, mulai dari untuk membantu pekerjaan rumah hingga menjadi prajurit perang, tetapi tiga setengah bulan terakhir ini, Levi bergabung dalam angkatan darat dan menjalankan tugas lain, meski ia masih didapuk untuk membantu merancang kerangka android muktakhir dan memperbaiki android tentara.

Pip! Pintu tendanya terbuka secara otomatis. Seorang wanita berkepala tiga melangkah masuk dengan santai. Levi menoleh padanya. "Mikasa."

"Hai, Levi. Seperti biasa, aku akan mengganggumu malam-malam." Berbeda dengan sapaan Levi yang datar, sapaan Mikasa terdengar ceria. Ia menyodorkan air kemasan pada Levi dan mengedarkan pandangan ke sekeliling. "Mana Erwin?"

Levi menerima pemberian Mikasa. "Menggantikanku untuk membantu dokter melakukan pertolongan pertama."

Erwin adalah android yang menjadi bodyguard sekaligus membantunya dalam banyak hal. Tugas Levi di Markas Timur ini sangatlah banyak: berkeliling tenda untuk memperbaiki automail yang rusak sembari membantu dokter merawat luka ringan atau melakukan pertolongan pertama. Itupun masih ia selingi dengan memantau android yang rusak, memperbaiki bila kerusakannya ringan, memesan suku cadang, juga memilih android untuk diperbaiki di pabrik. Memang Levi dibantu asisten-asisten dari kantornya, tetapi tetap Levi kebanjiran tugas. Adanya Erwin yang telah bersamanya sejak lama cukup banyak membantu.

Ah, ya. Fun fact, sejak awal Erwin diprogram Levi untuk memanggil "Kakak" pada semua orang dewasa yang masih muda.

Mikasa duduk di kursi di depan Levi, terpisahkan oleh meja. Mikasa meletakkan tangan kanannya di meja dan Levi melirik kondisinya.

"Empat jarimu nyaris copot," Levi mengambil peralatan di meja yang ada di sisi kanannya. "Habis kena apa kau?"

"Uh…. Senapan?" jawab Mikasa tak yakin. "Terlalu banyak jenis senjata yang kuhadapi."

"Ada juga garis terbakar di antara tulang hasta dan pengumpilmu," tambah Levi yang masih sibuk mengambil peralatan. "Senjata laser kah?"

"Hebat sekali, Dokter Levi," puji Mikasa—sebenarnya ia sedang mengejek Levi. "Iya, aku sempat terserempet sinar laser saat menghindar. Fuh…. Sepertinya mereka baru upgrade senjata. Tanah tempat aku pijak bolongnya lebih besar 3 cm dan lebih dalam 5 cm. Lebih mematikan dari android bersenjata laser yang pernah kaurancang. Tapi mereka belum bisa mengatasi kerasnya suara dari senjatanya, sih."

"Berarti rancanganku lebih bagus karena tidak menimbulkan suara saat laser ditembakkan. Musuh tak akan menyadarinya," balas Levi. "Dan panggilanku 'Doktor', bukan 'Dokter'. Kalau 'Dokter', aku sudah memberimu doping hasil racikanku."

"Wewenang dokter tak sampai situ ya," cibir Mikasa.

Levi berdiri dan membawa seluruh peralatannya ke kasur di belakang Mikasa. "Berbaring. Kuperbaiki lenganmu."

"Kautidak akan aneh-aneh, 'kan?"

"Kaumau kuhajar atau apa?"

Mikasa terkekeh dan berbaring di kasur, meletakkan tangan automail-nya di atas meja di samping ranjang. Mikasa dulu kehilangan tangan kanannya saat insiden kebakaran hebat di sebuah mall lima tahun lalu, saat ia berusaha menyelamatkan warga sipil. Levi memberi tangan baru untuk Mikasa, tangan stainless steel yang disambungkan ke saraf sehingga bisa digerakkan selayaknya tangan asli. Penggantian bagian-bagian tubuh yang hilang dengan automail sudah lumrah dilakukan. Levi adalah salah satu mekanik terkenal yang biasa membuat dan merawat automail orang-orang, dan itu menjadi fokus utamanya sekarang dan alasannya berada di Markas Timur yang dekat dengan medan perang.

Orang-orang yang dipasangi automail disebut cyborg. Istilah cyborg pun sudah melekat dengan tentara mengingat tugas tentara itu sendiri. Mikasa jelas salah satunya, juga Levi. Jika ia tak memakai celana panjang dan sepatu, tak ada yang menyangka bahwa kedua kakinya adalah automail, cacat akibat kecelakaan mobil kala remaja.

Levi dan Mikasa bukanlah sekadar mekanik dan pasien. Mereka adalah teman baik dari kecil, berawal dari nama keluarga yang sama. Mikasa mengabdi menjadi tentara angkatan darat selama tiga belas tahun dan kini berpangkat Letnan Satu. Levi selalu yakin Mikasa kuat dan akan baik-baik saja. Tangan hilang bukan menjadi penghalang. Namun, perang yang pecah kali ini menyimpan cerita yang kompleks. Tak pelak Levi khawatir dan memutuskan terjun ke lapangan meski bukan menjadi serdadu. Ia mengerti rasanya kehilangan bagian tubuh, dan tentara harus menghadapi bayangan-bayangan itu setiap hari, kapan saja.

"Bagaimana keadaan di sana?" Levi membuka pembicaraan sembari membuka sekrup di bagian pengumpil dengan obeng.

"Belum beneran chaos," ujar Mikasa, memerhatikan tangan dingin Levi memperbaiki tangannya. "Seminggu ini, yang meninggal empat puluh, yang luka-luka banyak. Android-android-mu seperti biasa, hebat, tak ada satupun yang hancur total. Mereka sudah masuk tempat servismu, kan?"

Kedengarannya Mikasa mengucapkannya dengan santai seperti menjawab harga sekilo apel saat ini, tetapi pada dasarnya ia adalah tentara, senior pula. Sudah banyak asam garam yang ia makan. Ia tak bisa cengeng lagi ketika menghadapi perang.

"Ya. Mereka akan kembali dengan segera," tutur Levi sambil melepas sekrup. Mereka sama-sama diam beberapa saat.

"Kemarin…." gumam Mikasa. "Aku melihat Eren."

Tangan Levi terhenti. "Dia pindah ke teritori ini sekarang?"

Mikasa menggangguk. "Aku sempat kaget. Tiba-tiba saja dia ada. Apa dia masih Pembantu Letnan Satu, ya? Aku tak bisa melihat lambang bajunya. Dia sibuk membantai android-android di peleton sebelah, untung manusia dan android yang dibantai masih hidup meski banyak luka."

Levi memilih diam, melanjutkan pekerjaannya. Meski begitu, pikirannya menerawang.

Ia, Mikasa, Eren, juga Historia adalah teman baik.

Eren dan Historia memang beda negara. Iruvina namanya, tepat di sebelah Paradisa. Semasa kedua negara masih berhubungan baik, mereka dipertemukan di sekolah gabungan antara pelajar dari Paradisa dan Iruvina. Enam tahun mengenyam pendidikan, mereka terus bersama dan sangat akrab, sampai akhirnya lulus dan memilih pendidikan lanjutan atau pelatihan sesuai cita-cita mereka.

Mikasa dan Eren bercita-cita menjadi tentara di negara masing-masing. Levi ingin menjadi ilmuwan, dan Historia berminat terjun dalam bidang IT. Walau sudah jarang sekali bertemu, mereka tetap saling berkomunikasi—paling sering via video call. Omong-omong, Eren sudah menikahi Historia. Bagaimana dengan Levi dan Mikasa? Yah, walau Eren dan Historia berusaha menjodohkan mereka, tetap saja tak ada perkembangan.

Sampai akhirnya petaka itu terjadi.

Android telah sepuluh tahun dikembangkan Paradisa dan sudah diekspor ke berbagai negara, termasuk Iruvina. Android sangat bisa diandalkan. Paradisa dan Iruvina sampai memiliki android untuk membantu pemerintah. Android pun bisa ditempatkan untuk menjaga database negara. Sangat sensitif, tak boleh sampai bocor.

Namun, tanpa diketahui Iruvina dan negara-negara lainnya, pemerintah Paradisa begitu tamak. Sebagian android di pemerintah disisipkan kemampuan khusus untuk mencuri informasi negara dan mengirimkannya ke cyber pemerintah Paradisa. Selain itu, android-android tersebut juga diprogram untuk melindungi diri dan menghabisi manusia yang mengetahui perbuatannya. Tentu mereka juga diprogram untuk bisa "cuci tangan" setelah membunuh. Paradisa ingin menggunakan seluruh data itu untuk memperluas kekuasannya, dengan mencaplok Iruvina dan negara lainnya.

Namun, itu sudah mustahil terwujud, gara-gara insiden itu.

Lima bulan lalu, suatu malam, sebuah android membunuh seorang pegawai pusat cyber Iruvina saat ketahuan mencuri data. Mereka sempat baku hantam di ruangan kantor dan pegawai itu berhasil menindih android dengan meja komputer yang berat. Sebelum android itu shut down, ia menembak pegawai itu dengan pistol dari telapaknya, tepat di jantung. Iruvina mungkin tak akan pernah tahu kronologis sebenarnya—semua kamera dan alarm di-hack dan dimatikan android, tidak ada sanksi mata, juga data di dalam android di-reset otomatis saat shut down—kalau saja saat pegawai itu tak sengaja memergoki, ia tak sedang bertelepon dengan seseorang dan saat baku hantam hingga ponselnya jatuh, ia tak mengeraskan suaranya untuk membuktikan pelakunya dengan sengaja.

Pegawai itu adalah Historia, dan orang yang diteleponnya saat itu adalah Eren.

Tak pelak, Iruvina memulai perang dengan Paradisa untuk menghancurkan seluruh android buatan mereka, dan menghabisi orang-orang yang bertanggung jawab atas perbuatan itu.

Mikasa menutup wajahnya dengan lengan kirinya, bergumam dengan nada sendu, "Ini salah pemerintah Paradisa. Kenapa mereka ingin mencuri data seperti itu? kalau begini terus, kita akan hancur…."

Levi diam, menatap Mikasa lekat. Mikasa menggeser lengannya, menatap Levi penuh ingin tahu, sekaligus penuh kebencian, "Yang bisa memprogram android seperti itu hanya orang-orang sepertimu 'kan, Levi? Apa kausudah tahu siapa saja…. pembuat android yang membunuh Historia itu?"

Levi menimbang-nimbang, mencoba membaca arti sorot mata Mikasa. Ingin tahu, benci, juga….

Kaumulai mencurigaiku, Mikasa.

Benar, aku adalah salah satu pembuat program "mencuri data" dan "melawan manusia".

Levi menggeleng. "Aku masih mencari tahu."

Aku tidak akan siap untuk jujur padamu.

.

.

.

"Baiklah, selesai."

Mikasa menggerak-gerakan tangan kanannya. Automail-nya sudah mulus kembali. Bagian tulang hasta dan pengumpil diganti dengan suku cadang yang sama, sedangkan jari-jarinya diperkuat. Mikasa bernapas lega. Syukurnya automail-nya tidak perlu dicopot, karena akan sakit sekali kalau dipasang.

"Mendingan?" tanya Levi.

"Hm." Mikasa mengangguk. "Besok aku akan pegang senapan lagi, memimpin peletonku seperti biasa."

Levi berdiri dan membawa peralatan kembali ke meja. Setelah merapikannya, ia membuka tutup botol air dan meneguknya. Mikasa yang tadi mengekor, duduk di kursinya tadi, memerhatikan Levi dengan tangan kiri menopang dagu. Tangan kanannya perlahan diangkat, diarahkan ke wajah Levi dengan jari membentuk pistol.

"Phew." Mikasa bertingkah seakan menembak Levi.

Levi tertegun. Ia tahu Mikasa kadang-kadang aneh, tetapi keisengannya kali ini membuat jantungnya berhenti sesaat.

"Kurasa aku benar-benar berani menembak mati orang-orang pemicu kekacauan ini," tutur Mikasa ringan seraya menurunkan tangannya. Ia memandang automail-nya yang memantulkan sinar lampu. "Kalau pemerintah dan ilmuwan sampai berani mencuri data negara lain, bukan tak mungkin ia akan sengaja menyiksa warganya sendiri. Perang ini sudah membuat Paradisa kacau balau. Aku yakin semua orang yang terlibat akan mencoba mencuci tangannya sendiri, dan itu tak bisa dibiarkan."

Rahasia umum. Perbuatan pemerintah menjadi konspirasi semata bila berhasil ditutupi. Warga di seluruh dunia cepat atau lambat akan curiga meski saat ini mereka tak tahu tentang "pencurian data" dan "program android untuk melawan manusia". Mereka hanya tahu bahwa ada satu android yang mengalami anomali hingga membunuh seorang manusia. Ada yang menduga di-hack atau atau Historia sejatinya dibunuh manusia lain dan menimpakan kesalahan pada android untuk mengadu domba dua negara (saksi satu-satunya hanya Eren dan ia hanya punya rekaman percakapan telepon, tak sedang ada di tempat. Ada banyak cara untuk memanipulasi telepon, menurut sekelompok orang) sampai tentu saja, memang pemerintah Paradisa yang jahanam.

Iruvina percaya Eren dan saksi-saksi orang lain yang kadang melihat android bertingkah tak wajar meski tak ada orang lain selain Historia yang menangkap basah langsung android yang mencuri data. Warga-warga negara lain terbagi-bagi atas pendapat masing-masing. Paradisa demikian. Setengah warga Paradisa mengecam Eren karena dugaan sengaja mengadu domba, seperempat warga Paradisa menganggap android itu di-hack, dan seperempat terakhir mengecam pemerintahnya sendiri, termasuk Mikasa. Dugaan awalnya membuat Levi nyaris kena serangan jantung.

"Kau mekanik android. Kau mengerti betapa canggihnya, dan android itu murni buatan Paradisa, belum ada negara lain yang bisa menyainginya. Coba kaubayangkan, sebuah benda super canggih yang bisa bertindak sendiri ditempatkan di titik-titik vital pemerintah negara lain. Aku sudah lama menjadi tentara. Ada banyak orang busuk di atas kita. Kita sama-sama mengerti bahwa data itu sangat berharga. Sekali kaupegang rahasia orang, kaubisa mengendalikannya. Lalu, fakta menyenangkan: apa kautahu kalau jenderal-jenderalku senang berperang?"

Namun, tabu bila seorang pengabdi negara mengutuk pemerintahnya sendiri, maka Mikasa menutupi pendapatnya. Hanya Levi yang tahu….

….dan itu ironi.

Dugaan Mikasa benar semua. Satu kesalahannya: ia mengungkapkannya pada Levi, dan itu dapat menjadi senjata makan tuan.

Levi bisa menggunakannya kapan saja kalau nyawanya terancam.

"Aku harus pergi." Mikasa beranjak dari kursi, menuju pintu. "Jangan lupa tidur, Levi."

Levi memandang kepergian Mikasa. Begitu pintu tertutup, ia tersadar, memukul meja dan menggeleng kuat-kuat.

Ia harus menghapus pikiran itu.

Di luar tenda, tanpa berhenti melangkah, Mikasa melirik tajam ke belakang sekilas.

.

.

.

Tiga minggu sejak saat itu. Perang semakin intens dan korban makin banyak. Semua orang bekerja keras. Android semakin banyak didatangkan untuk perang, tetapi berimbang dengan jumlah android yang rusak dan perlu diperbaiki. Dana negara tak memungkinkan untuk memproduksi android dalam jumlah tak terbatas karena tak ada yang membeli lagi. Kepercayaan warga negara lain terhadap android sudah luntur. Di luar sana, para android sudah dimusnahkan. Kini, android semata-mata diproduksi Paradisa untuk perang.

Levi, timnya, juga semua orang yang terlibat dalam produksi android benar-benar sibuk. Mikasa, peletonnya, dan seluruh orang yang turut berperang juga terus siaga dengan segenap jiwanya. Apa itu istirahat berkualitas? Tak ada, tidak kalau akhir perang dengan perdamaian antar negara ada di depan mata.

"Iruvina menarik mundur pasukannya?"

"Ya." Mikasa menjawab kekagetan Levi dengan tenang. "Letnan Kolonel Nile memberitahu semua komandan tadi siang. Tim pengintai dan unit depan yang bertugas tadi pagi melihat sendiri, katanya. Letkol menyuruhku memberitahumu." Ia menghela napas. "Markas Strategi pasti sedang berdebat sekarang."

"Tiba-tiba begini…." ujar Levi. "Bukannya ini agak—"

"—mencurigakan. Ya, instuisiku berkata begitu," sahut Mikasa. "Aku rasa orang-orang di sini tidak sebodoh itu untuk girang sekarang."

"Tapi, kalau seandainya memang Iruvina mau menyerah…." Gantian Levi yang melengos. "Aku bisa menduga bagaimana beban kerjaku."

"Aku juga bisa menduga bagaimana beban kerjaku," imbuh Mikasa. "Kalau memang begitu, berarti kita menang."

Mereka diam beberapa saat. Mana Erwin sedang keluar. Tenda Levi menjadi begitu sunyi.

"Aku sama sekali tidak senang," ucap Mikasa, memecah keheningan. Nada suaranya terdengar frustrasi. "Seolah kita melupakan…. mereka, berdiri di atas penderitaan mereka."

Levi tercenung, membenarkan. Meski Paradisa menang, kedua negara tidak akan damai lagi. Itu artinya, ia dan Mikasa dengan Eren dan Historia selamanya adalah musuh. Apalagi kalau benar-benar menang, berarti Paradisa akan menjajah Iruvina. Orang mana yang tidak benci kalau negaranya dijajah dan akan segera menghilang dari peta?

"Kalau pemerintah ingin menjajah, kita tak punya otoritas untuk mencegahnya," tandas Levi. Kalau pemerintah mau mendengar, program pencurian data di dalam android tidak akan pernah ada. "Kita tak bisa berbuat apa-apa."

"Kita mengabdi pada negara," ujar Mikasa. "Kalau bukan demi warga, aku sudah keluar dari negara ini."

"Keluar saja."

Mikasa tercengang. "Apa?"

Levi sama sekali tak kaget dengan ucapannya sendiri walau itu spontan. Hal itu sudah lama mengendap di benak. "Keluar dari sini, berbaur di sana, berbicara dengan Eren. Aku yakin dia tak akan membencimu. Kau tak ada hubungannya dengan nasib Historia. Satu-satunya alasana yang membuat Eren harus bertarung denganmu adalah kau tentara Paradisa dan dia tentara Iruvina, dan itu…" Levi sejenak kebingungan. "….salah."

Mikasa mengangkat satu alis dan sudut bibirnya. "K-Kau ini kenapa? Baru kali ini kau memberi usul yang tidak masuk akal." Ia tertawa kecil. "Seperti bukan kau saja."

"Ilmuwan harus berpikir out of the box," balas Levi kalem. "Kau tidak pernah melihatku bekerja selain mengurusi automail-mu, 'kan?"

"Tapi tetap saja kata-katamu itu tidak masuk akal, Levi!" Mikasa mendesah, menyangga dahi dengan tangan. "Too good to be true."

Levi mengalihkan pandangan dari Mikasa, tersenyum miris. "Aku lebih percaya kau bisa bertahan hidup daripada ditembak mati pemerintah."

Mikasa memandang mata Levi, sangsi. "Atas dasar apa?"

Tetap tersenyum, Levi mengangkat bahu.

Mikasa bungkam sejenak, menelaah dalam benak. Apapun jawaban yang berhasil ia duga, sama sekali tak bisa ia terima. Merasa bahwa konversasi ini terlalu berbahaya, ia spontan menendang kaki Levi.

"Aduh!" Mikasa jelas kesakitan. Levi tersenyum geli sembari mengetuk-ngetuk belakang tulang keringnya ke kaki kursi besi, menimbulkan denting logam. Kakinya sudah bukan lagi dari daging dan kulit.

Berdecak kesal, Mikasa bangkit dari kursi. "Aku tak menyangka kau jadi begini hari ini. Kau benar-benar kurang tidur sampai kau…." Ia memutar telunjuk kanannya di dekat pelipis sambil bersiul, isyarat yang mengatakan 'kau kurang waras'. "Istirahatlah. Aku pergi dulu."

Mikasa meninggalkan Levi dengan pikiran bercampur aduk. Tanpa ia sadari, Levi yang masih mendekam di sana juga berkecamuk pikirannya. Mereka sadar dalam diri masing-masing ingin kabur dari negara ini, tetapi ada rintangan yang tak akan pernah mereka bisa lewati.

Aku tak bisa membahayakanmu dengan keegoisanku, Levi.

Aku tak bisa membahayakanmu dengan keberadaanku, Mikasa, dan kalau kau bisa pergi sendiri…. aku bisa menjauhkanmu dari kenyataan.

.

.

.

Tiga hari kemudian, pukul 18.00….

"Kalau begitu, aku langsung saja."

Jenderal Reiner dari Markas Strategi, batin Levi seraya memerhatikan wajah seorang pria enam puluh tahun terpampang di monitor besar di tenda khusus rapat. Saat ini, seluruh komandan hingga Letkol Nile yang bermalam di sini sedang berkumpul di tenda besar ini untuk membahas strategi perang dengan petinggi dari Markas Strategi lewat live streaming. Levi sebagai ketua tim mekanik android tentara biasanya akan disuruh datang kalau menyangkut suplai android. Walau ia disegani tentara-tentara di sini, ia masih di bawah jenderal. Ia tak punya otoritas untuk ikut campur dalam strategi perang kecuali atas seizin jenderal, atau menyuruh-nyuruh tentara kecuali hal remeh-temeh. Atas mandat pemerintah, perintah seluruh jenderal Paradisa adalah mutlak untuknya.

"Kalian semua sudah tahu kalau Iruvina sudah menarik mundur pasukannya. Tim pengintai sudah mengamati selama tiga hari ini dan tidak ada tanda-tanda pergerakan dari Iruvina. Mereka jelas sudah tidak punya rencana lagi, dan Markas sudah mematangkan strategi…."

Mikasa berdiri dengan tangan istirahat di tempat, agak jauh di barisan depan Levi. Levi memerhatikan tangan Mikasa, berpikir ia belum sempat men-servis berkala tangan itu. Levi melirik Jean dan Hange—bawahannya—di kanan-kirinya, kemudian pintu tenda di belakangnya. Erwin, beberapa android, dan beberapa prajurit sedang menjaga tenda di luar dengan ketat.

"….kita akan menyerang garis pertahanan Iruvina tanggal 15 Juli pagi buta. Tujuannya merebut Ibukota Iruvina, Ruby. Nama operasi ini adalah…. Operasi Pendudukan!"

Sudah kuduga, pikir Levi dan Mikasa bersamaan. Hampir semua orang di dalam tenda dapat menduga keputusan itu.

"Aku akan memaparkan strateginya. Pertama, Unit Artileri…."

Strategi dipaparkan dengan gamblang, kadang diselingi pertanyaan dan sanggahan dari tentara di tenda itu. Tak luput pula tim mekanik android diberi perintah untuk mempersiapkan suplai. Rapat berakhir dua jam kemudian.

Levi, Jean, Hange, dan Erwin bergegas ke tenda khusus mekanik untuk membahas hal yang harus dilakukan. Mikasa pun segera berkumpul dengan peletonnya. Penyerangan Iruvina akan dilaksanakan lima hari lagi, pukul enam pagi. Mereka harus bergegas membuat persiapan yang matang.

.

.

.

Hari itu tiba. Pukul 05.00, pasukan berangkat. Jarak antara lokasi ini dengan titik perang adalah empat kilometer. Sebagian kecil tentara, android, dan dokter, serta seluruh anggota tim mekanik tinggal. Levi jelas salah satunya.

Setengah jam berlalu. Levi berada di tendanya, menyusun laporan. Pintu berdenting tanda terbuka. Layar tablet tempat ia mengetik menunjukkan bahwa Jean yang masuk.

"Ketua." Jean melangkah masuk. "Saya datang untuk melapor."

Tanpa melepas pandangan dari tablet, Levi menyahut, "Laporan apa?"

"Laporan kalau seluruh orang di sini akan kami bantai."

Levi terkejut. Begitu menoleh pada Jean, Jean menekan mikrofon pada handsfree yang terpasang di telinganya.

"Go!"

Duar! Terdengar ledakan di luar tenda, kemudian listrik padam dalam sekejap. Levi sulit melihat. Mengarahkan tablet sebagai senter, ia mencari keberadaan Jean, yang rupanya tiba-tiba berlari ke arahnya dan membantingnya ke tanah. Tabletnya terlempar ke luar jangkauan tangannya.

"Ukh!" Levi kesulitan bernapas. Jean duduk di atas badannya. Tangan kiri Jean mencekik leher, sementara tangan kanannya mengarahkan pistol ke dahi Levi.

"Ayo lakukan pertukaran informasi dengan nyawamu," ajak Jean dengan suara rendah. "Beritahu aku tentang android yang bisa mencuri data itu. Semuanya!"

Levi berusaha tenang meski sulit bicara. "Ke-Kenapa kau menanyakannya padaku?"

"Aku tahu kau terlibat. Beritahu semuanya!" geram Jean. "Kalau kau mencoba tutup mulut sambil menunggu bantuan, percuma. Orang-orang di sini sedang dibantai habis-habisan!"

Levi tercengang. "Apa?"

Memang benar. Terdengar teriakan tak karuan, diikuti suara tembakan demi tembakan. Listrik sengaja dipadamkan—suara ledakan tadi kemungkinan berasal dari genset yang diledakkan—dan itu berarti, wifi juga terputus, membuat android-android di sini tidak bisa saling berkomunikasi. Levi tak bisa meminta bantuan. Musuh benar-benar perhitungan.

"Jean yang kukenal tak akan begini," desis Levi.

"Oh ya? Berarti selama ini aku menyembunyikan kemampuanku dengan baik." Jean menyeringai.

"Tetap saja…." bantah Levi dengan suara tercekat. "Kau…. bukan Jean, 'kan?"

Alis Jean berkedut. Perkataan Levi tak terduga.

"A-Aku kenal…. siapa kau sebenarnya," lanjut Levi. Sial, napasku! "Walau lama tak ketemu, a-aku masih ingat betul. Se-Sekali lihat juga tahu kalau kau itu bukan Jean…."

Tidak ada kebohongan di mata Levi—sebenarnya sulit dilihat karena remang-remang. Jean menyeringai, hampir tertawa. "Pikiranmu tajam seperti biasa, ya."

Tangan kirinya melepas leher Levi dan diarahkan ke wajahnya sendiri. Ia tak terlalu fokus untuk siap menembak. Saatnya! Levi berseru, "Erwin!"

Jean spontan menoleh ke kanan. Belum sempat bereaksi, Erwin yang sedari tadi bersembunyi melompat ke arahnya, membanting Jean ke tanah dan mengunci tangannya di belakang punggung. Pistol terlepas saat ia dibanting.

"Sial!" umpat Jean seraya meringis kesakitan. Erwin sudah duduk di atas punggungnya seraya menahan tangannya. "Padahal aku sudah memastikan android sialan ini tidak ada di sini."

"Fitur pengubah wajah, proyek kecil-kecilanku yang sudah lama berdebu." Levi yang kini tengah berdiri, memungut tabletnya. "Android yang keluar tadi untuk mengambilkanku kopi adalah android yang selesai kuperbaiki dan kujadikan dia prototype untuk proyek ini. Aku ingin tahu seberapa lama fitur itu bekerja dan efektifitasnya."

"Cih…." dengus Jean. "Aku tak pernah dengar ada fitur itu pada manusia kaleng-kaleng."

Karena aku tak perlu memberitahu seluruh penemuanku pada pemerintah, batin Levi cuek.

"Oke, sekarang apa?" desak Jean, menyeringai. "Membunuhku? Membunuh orang yang kauingat betul—"

"Tentu saja aku bohong. Aku tak tahu siapa kau," tandas Levi datar. "Tapi aku tahu kau bukan Jean, karena dia selalu memanggilku 'Bos' alih-alih 'Ketua'."

Jean palsu mengumpat, merasa ditipu.

"Kau apakan Jean?" hardik Levi. "Kau apakan?!"

"Menurutmu?" Jean palsu menyeringai. Levi mau tak mau harus membenarkan dugaannya bahwa Jean dibunuh dan mayatnya disembunyikan entah di mana. Amarahnya meluap, tetapi ia tak boleh bersikap gegabah.

"Erwin," ujar Levi dingin. "Coba lepas topengnya, juga wig-nya."

Erwin menjambak wig Jean palsu hingga menampakkan rambut yang jatuh dengan halus, kemudian menarik topeng karet yang menyelimuti wajah Jean palsu. Begitu topeng itu robek dan terlepas seluruhnya, Levi membeku.

"Eren….?"

Eren membuang muka, melengos.

"Kalau kau di sini, berarti ini sabotase dari Iruvina," simpul Levi. "Apa gerilya ini…. memang taktik kalian?"

Eren terkekeh, berceloteh dengan nada penuh kemenangan, "Salah satunya. Kami berencana membantai habis semuanya, baik di sini, maupun di sana."

"Di sana'?" Levi berpikir dan tercengang. "Jangan-jangan…."

"Kalian tak akan bisa menghampiri garis depan karena terlalu sibuk di sini. Komunikasi kalian juga terputus, jadi percuma walau kalian tahu bahwa mundurnya pasukan Iruvina hanya kedok untuk memancing kalian melakukan invasi, lalu menghabisi kalian semua. Kami 12.000 orang, kalian tak akan menang," seloroh Eren. "Aku memilih ikut ke sini untuk mencari oleh-oleh: informasi darimu, tapi tak dapat pun tak apa, karena siapapun yang terlibat dalam pembuatan android seperti apapun, akan dimusnahkan."

"Maksudmu Iruvina akan mencoba hack database Paradisa?" timpal Levi. "Kalau kalian bisa melakukannya, kenapa kauharus mencariku?"

Eren diam sesaat. "Mendapat informasi darimu adalah bonus, tapi tujuan utamaku…." Jeda sejenak. "Mengharapkan Mikasa tetap hidup. Itupun kalau kaumasih peduli."

Levi terpaku.

"Dia sahabatku, tak ada hubungannya dengan kematian Historia. Dia hanya berada di posisi yang salah sehingga aku tak bisa melindunginya. Kalau dia mau berpihak pada Iruvina, aku akan melindunginya dengan taruhan nyawaku," tegas Eren. "Dengan posisiku, aku hanya akan mati konyol ditembaki tentara kedua negara sebelum sempat melindunginya. Aku hanya bisa menyerahkannya pada yang bisa, yang cukup peduli."

Pikiran Levi berkecamuk dan Eren bisa menangkap air muka kebingungan itu.

"Sebelum kau menduga yang tidak-tidak, kutegaskan aku tidak mengharapkanmu mati di medan perang atau di sini. Setelah urusan ini selesai, baru aku akan mengambil nyawamu," tandas Eren, menatap Levi tajam. "Kausalah satu tersangka utama dalam kematian Historia, Levi. Kaubukan temanku lagi."

Levi ingin mendebat. Tidak semua mekanik terlibat program itu! Kau mungkin didoktrin pemerintahmu agar mencap semua android dan semua pembuatnya jahat! Namun, lidahnya kelu. Eren sekarang tak mau mendengarnya. Selain itu, ia tak punya waktu lagi. Ia melirik tabletnya. 05.38, harus bergegas.

"Pintunya harus kuledakkan!" tukas Levi.

"Kak!" Erwin melempar sesuatu dari saku Eren. Bom skala kecil. Levi menangkapnya dan berlari ke pintu, menempelkannya, kemudian menjauh sembari menutup telinga. Di saat yang sama, Eren melihat kesempatan. Ia menepis tangan Erwin, membantingnya ke samping, lalu berguling menjauh dan berdiri. Ia berniat kabur, tetapi ditahan Erwin yang tak rusak sedikit pun.

Duar! Pintu tenda meledak. Di tengah kepulan asap, Levi memandang siluet Eren. keraguan menyelimuti hatinya, tetapi segera ia memutuskan.

"Erwin," panggil Levi. "Jangan bunuh dia, dan kembalikan dia ke negara asalnya."

Levi bergegas keluar. Ia sempat menangkap geraman Eren, "Brengsek! Di saat begini kau malah pura-pura baik?! Jangan harap aku berutang budi!" disusul perkelahian membabi buta antara Eren dan Erwin. Namun, Levi tak dapat menoleh lagi. Ia hanya terus berlari dengan kaki logamnya yang tak merasakan panasnya api, menyusuri tanah kering dengan tenda di kanan kiri yang rusak maupun terbakar. Letusan tembakan terdengar di sana-sini. Dokter dan mekanik yang tak bisa bertarung berbondong-bondong mengevakuasi diri, menaiki van-van untuk melarikan diri. Tentara dan android mau tak mau pasang badan untuk mengalahkan penyusup. Ada yang tertembak, ada yang rusak. Mayat, rongsokan, satu demi satu bergelimpangan.

Levi merutuk karena ia hanya bisa melakukan satu hal. Ia tak bisa menyelamatkan mereka sekarang

Levi melompat masuk ke minivan-nya, men-scan kartu dan menyebutkan sandi. Levi memilih menyetir manual alih-alih otomatis oleh Al. Minivan melaju kencang meninggalkan lokasi yang porak-poranda. Jam digital di minivan menunjukkan pukul 05.44.

Cepat…. Levi menginjak gas penuh. Ia menyusuri padang rumput tandus tempat parit-parit dibuat, juga sisa senjata terbengkalai. Secercah mentari mulai muncul dari ufuk timur. Cepat!

Penuh kehatian-hatian untuk menyetir van di sini, sebenarnya, karena risiko ban terbenam atau van terperosok. Sepanjang jalan ini termasuk area pertahanan Paradisa di mana banyak benteng parit dibangun. Tak jarang tentara menyerang dari sini, tak jarang pula senjata musuh diarahkan ke sini, tetapi pagi ini begitu kosong. Setidaknya jenis hal yang mengancam nyawa Levi berkurang.

Akhirnya terlihat pembatas dari kawat dan kayu yang menunjukkan adanya area perang. Levi melihat beberapa tentara Paradisa dan menghentikan minivan-nya. 05.57! Sial! Ia tergopoh turun dan menghampiri android prajurit yang memberi hormat padanya.

"Di mana garis depan?" desak Levi.

"700 meter dari sini, Doktor," terang si android. Ada label nama di seragamnya: Dieter. "Ada perlu apa ada kemari?"

Alih-alih menjawab, Levi mencecar, "Posisi Lettu Mikasa Ackerman?"

"Sudah maju pertama ke garis depan sebagai bagian dari Batalyon A sejak pukul 05.50, posisi center."

Sial! Levi memaki. Apa yang harus kulakukan?!

Sesaat Levi kebingungan mengenai orang yang tepat untuk dapat menarik pasukan. "Siapa orang yang memimpin seluruh pasukan? Di mana?"

"Kolonel Gustav di benteng parit garis depan, ke arah utara," jawab Dieter.

Levi merasakan secercah harapan. "Beritahukan ke benteng kalau aku datang."

Levi berlari memasuki area menuju benteng, menyeruak di antara tentara dan android yang memenuhi parit. Ia menyerobot masuk tanpa ditahan oleh android penjaga yang biasanya akan mencegah orang-orang tidak berkepentingan.

"Kolonel Gustav!" seru Levi.

Kolonel Gustav yang sedang mengamati peta penyerangan di meja digital, berbalik. "Doktor Levi, ada apa mendadak begini?"

Levi mengatur napas. "Saya dapat kabar buruk. Markas Timur baru saja diserang Iruvina. Listrik dan wifi sudah diputus sehingga tidak dapat berkomunikasi ke manapun. Lalu, mundurnya Iruvina hanya kedok. Mereka sudah menunggu Paradisa menginvasi mereka agar mereka bisa membuat serangan. Jumlah mereka 12.000. Sebaiknya Anda semua mundur."

Kolonel serta semua tentara dan android di dalam benteng terkejut.

"Gabungan tentara dan android di sini hanya 4.000…." gumam Kolonel Gustav, kemudian memandang Levi dengan sorot mata tajam. "Itu info dari mana?"

"Introgasi musuh yang menyerang markas, Kolonel," jawab Levi tegas. Tak sepenuhnya jujur karena Eren memberitahunya secara sukarela, tetapi Levi akan sembunyikan rapat-rapat.

"Bagaimana kauyakin? Apa kau pakai alat pendeteksi kebohongan atau serum kejujuran?"

Levi mati kutu.

"Aku tak bisa percaya, Doktor. Aku tak bermaksud mencurigaimu, tapi bisa jadi musuh sengaja memberi info palsu supaya kita menunda invasi. Ditambah lagi hancurnya Markas Timur. Kalau kita mundur sekarang, rencana invasi akan berantakan dan mereka akan keburu bangkit sebelum kita bisa menyerang lagi."

"Tapi pasukan—"

"Sudah dimulai dari tadi! Kita hanya bisa terus bergerak maju!" bentak sang Kolonel membungkam Levi.

"Kolonel!" Salah satu android komunikasi yang memantau perkembangan secara live lewat seluruh android di medan perang berseru. "Unit pesawat tempur musuh…. terlihat di sayap kanan!"

"Apa?!" Kolonel Gustav ternganga. "Sejak kapan Iruvina punya?"

"Sayap kiri juga!" timpal android yang lain. "Aurora F-34 Laser milik Republic of Neverland. Jumlah 25, kecepatan 1,5 Mach, posisi 700 meter dari sayap kiri!"

"Republic of Neverland…. negara bajingan itu…." Kolonel Gustav menggertakkan gigi. "Serang dengan android laser! Unit artileri jadi back-up!"

Republic of Neverland adalah salah satu negara adidaya yang memilih netral saat awal perang ini. Sepertinya mereka menjilat ludahnya sendiri. Senjata perang mereka lebih muktakhir daripada Paradisa maupun Iruvina. Sekali mereka campur tangan, berarti malapetaka.

Iruvina serius membantai Paradisa!

"Sayap kiri meminta bantuan!" laporan sebuah android komunikasi, beberapa saat setelah laporan sebelumnya. "Pasukan android laser dan unit artileri telah hancur 40%!"

"Sayap kanan juga!" timpal android lain. "Tiga pesawat tempur musuh berhasil dijatuhkan, tapi android dan artileri sudah habis 50%!"

"10 pesawat musuh dari sayap kiri ke arah kita!"

"10 pesawat musuh dari sayap kanan ke arah kita juga! Kecepatan 2 Mach!"

Mikasa! Dia ada di sini! Levi sontak menoleh ke luar. Tentara hiruk-pikuk melawan serangan musuh, baik infanteri dan artileri yang menyerang sebelumnya, juga persiapan untuk menghancurkan pesawat tempur yang tak terduga ini.

"Tetap android laser dan artileri yang menyerang! Unit lain tetap fokus sesuai rencana!" perintah Kolonel Gustav. Android komunikasi menyampaikannya pada android-android di luar sana. Sebagian pasukan di center membentuk formasi baru untuk menghadapi serangan musuh. "Mintakan pesawat tempur dari Markas Pusat!" lanjut Kolonel Gustav.

Komandan pesawat tempur musuh yang sudah dekat dengan center memberi aba-aba, "TEMBAK!"

Tembakan laser dari pesawat membabat center, dibalas serangan membabi buta dari Paradisa. Tembakan laser itu sampai pula ke parit depan benteng, membuat Levi dan yang lain merunduk sambil menutup telinga dan mata. Korban dari Paradisa berjatuhan. Ingin Levi menerobos keluar dan mencari Mikasa, tetapi tak ada celah.

"Unit android dan artileri hancur!" lapor android komunikasi.

"Batalyon A dan B sudah tak bisa mempertahankan formasi!"

"Sialan!" Kolonel Gustav menggebrak meja. Berpikir keras, ia menghela napas. "Tarik mundur seluruh pasukan."

Perintah itu diterima seluruh komandan. Teriakan "Mundur!" bersahut-sahutan, para prajurit di luar benteng balik kanan, tetapi serangan musuh belum berhenti. Levi melongok ke luar. Arus prajurit yang melarikan diri ke benteng bawah tanah seperti yang ia tempati saat ini sungguh ramai. Matanya mencari-cari.

Ketemu! seru Levi dalam hati. Mikasa!

Levi berlari melawan arus, mencoba menghampiri Mikasa yang berlari lambat sembari memapah Connie—anggota peletonnya—yang terluka parah di perut. Mikasa sendiri juga terluka di kepala dan bahu, pakaiannya bersimbah darah dirinya dan Connie. Tak mudah Levi menerobos. Para prajurit panik, tenaga mereka begitu kuat sehingga Levi terus terdorong. "Mikasa!" teriak Levi, menyeruak sekuat tenaga. "Mikasaaaa!"

"Levi!" sahut Mikasa setelah celingukan mencari sumber suara. "Jangan ke sini! Berlindung!"

Levi terlalu keras kepala untuk menurut. Ia berhasil menyeruak arus dan mendatangi Mikasa. "Biar aku yang bawa dia—"

Saat ia hendak memapah Connie, pria itu ambruk.

"Letnan Dua Springer!" jerit Mikasa. Levi berjongkok untuk memeriksa nadi di leher, lalu menggeleng. "Sial!" umpat wanita itu.

"Lari!" Levi mengamit tangan Mikasa, mengikuti arus yang berusaha menghindari tembakan laser pesawat serta meriam dari artileri musuh, seiring dengan pekikan yang terus membahana dan tubuh-tubuh bergelimpangan. Levi yang kebingungan mencari tempat berlindung, tiba-tiba ditarik Mikasa menuju benteng galian tanah terdekat, tetapi terlambat. Levi mendorong Mikasa sejauh mungkin saat satu proyektil meriam menghantam dirinya.

"Levi!" pekik Mikasa yang terlempar ke kiri. Genggaman tangan mereka terlepas. Mikasa meringis, bangkit berdiri, memicingkan mata untuk mencari keberadaan Levi yang tertutup asap. "Levi!" jerit Mikasa dengan suara terkoyak sembari melangkah ke arah jatuhnya proyektil. "LEVIIIII!"

.

Aku…. tidak bisa bergerak.

Levi yang terjerembab di tanah tak dapat memfokuskan pandangan. Api berkobar di belakangnya, menjalar kakinya. Punggungnya mengalami pendarahan hebat akibat terkena pecahan proyektil. Ia mencoba menyeret tubuhnya, lalu terkesiap dan menoleh ke belakang.

Automail kakinya hancur lebur. Keduanya.

"Argh!" Kini rasanya panasnya api menyapa syaraf-syaraf kakinya. Sakit sekali. Napasnya tak teratur. Ia mencoba kuat, menyeret tubuhnya terus ke depan, tidak menyerah untuk melarikan diri, tetapi tenaganya nyaris habis. Ia tak lebih cepat daripada siput.

Sial, sial, sial!

Akan matikah aku di sini?

Tapi setidaknya, Mikasa baik-baik saja dan bisa lari sendiri—

Saat Levi menoleh ke kiri, ia terperanjat. Ia tak memercayai penglihatannya yang kabur itu.

Oi, oi, Mikasa. Kenapa kau berlari ke arah sini?

Hentikan. Masih ada hujan meriam dan laser di sini.

Kaubisa tertembak—

Mikasa melompat ke tubuhnya hingga menutupinya pandangannya, bersamaan dengan denging laser yang menggetarkan gendang telinga.

Jangan…. kemari—

Kesadaran Levi lenyap seketika.

.

.

.

"Kepada semua pasukan Iruvina dan Republic of Neverland yang terlibat dalam operasi, kita akan memasuki tahap pembersihan."

Markas Timur milik Paradisa kacau-balau. Entah berapa banyak android rusak atau nyawa manusia yang melayang. Jumlah korban dari Paradisa memang parah, tetapi dari Iruvina yang datang menyerang dengan sedikit orang pun parah jumlahnya. Di tenda Levi yang porak-poranda, Erwin tergeletak di tanah dengan mengenaskan. Anggota gerak tubuhnya rusak parah, separuh wajah dan badannya hancur, benang listrik keluar dari tubuhnya, tetapi ia masih sadar. Ia masih mengerti apa yang terjadi. Ia tahu suara di handsfree Eren yang tergeletak di dekatnya berasal dari tim komunikasi militer Iruvina. Menyatakan "pembersihan" sama saja dengan mengumumkan kemenangan.

"Kuulangi, kita akan memasuki tahap pembersihan!"

Bola mata Erwin bergulir ke sosok yang ada di dekat pintu tenda, seorang pria tinggi yang mengacungkan pistol dengan kedua tangan. Asap dari moncong handgun itu belum hilang. Pia itu terengah-engah, keringat mengalir ke pelipis, darah dari luka tembakan di dada sudah membeku, kedua tangannya gemetaran, pandangannya tak fokus.

"Kak Jean…." desis Erwin sembari melirik Eren yang tergeletak tak bernyawa di depan kakinya, dengan pendarahan hebat di kepala. "Aku sudah diperintah…. untuk memastikan dia tetap hidup dan dikembalikan ke negaranya…."

Kata-kata terakhir Erwin sebelum ia shut down dengan sendirinya.

.

Di saat yang sama….

Tembakan laser, meriam, atau senjata apapun itu sudah berhenti. Asap dan api di mana-mana, begitu pula mayat-mayat dan bangkai-bangkai android. Benteng pun rusak parah. Entah berapa jumlah korban dari Paradisa. Barangkali 4.000 serdadu gabungan antara manusia dan android terbantai habis.

Paradisa…. kalah….

Levi yang sudah terbangun dari pingsannya, yang sudah susah payah duduk, tercengang. Hancur lebur sudah. Tak ada lagi yang tersisa. Sontak hati Levi begitu sakit sembari menunduk.

Dan kau, Mikasa….

….kenapa kautidak bangun juga?

Berapa…. berapa kali aku harus mencoba?

Mikasa kini berada di pangkuannya, di pelukannya. Kaku, dingin, itulah sensasi tubuh Mikasa kini. Punggungnya terbakar, menimbulkan bolongan, memuntahkan darah yang sangat banyak. Mata Mikasa terpejam rapat, tak ada tanda-tanda kehidupan lagi.

Seperti medan perang ini, hati Levi hancur lebur. Ia menangis pilu.

.

.

.

Seandainya aku tidak di sana, apakah Mikasa akan tetap hidup?

Levi merenungkan hal itu untuk kesekian kalinya. Ranjang putih yang keras, dinding putih, gorden putih, pandangannya pun putih, kosong. Rumah sakit adalah tempatnya saat ini. Sudah dua hari berlalu sejak insiden itu.

Mikasa, apa kematianmu itu…. salahku?

Kakinya belum dipasang automail lagi, sehingga ia harus mengandalkan kursi roda saat turun ranjang nanti. Punggungnya sudah dioperasi di hari yang sama dengan insiden itu, setelah ia diselamatkan bala bantuan. Prajurit-prajurit yang sangat terlambat itu menyuruhnya untuk meninggalkan mayat Mikasa dan ia menolaknya mati-matian.

"Kuburannya bukan di sini!" teriak Levi saat itu.

Rumah sakit sudah menjamin jasad Mikasa sudah disimpan dengan aman di ruang jenazah. Ada alasan lain sebenarnya, tetapi Levi jadi bisa menguburkannya dengan layak nanti.

Seandainya aku tidak sok hebat, atau seandainya aku bisa lebih tegas ke Kolonel Gustav, atau seandainya aku segera mengintrogasi Eren, apa kau akan selamat?

Bukan itu. Levi menggertakkan gigi.

Seandainya perang ini tidak pernah ada. Seandainya program "pencurian data" itu tidak ada. Seandainya pemerintah tidak licik dengan memanfaatkan android.

Seandainya android itu tidak ada….

Levi menghela napas, menepis kalimat terakhir dari benak.

Erwin…. Aku belum tahu bagaimana kondisinya. Apa seseorang telah menyimpannya? Mungkin dia rusak. Aku harus memperbaikinya, karena dia berhadapan dengan manusia yang sangat benci android.

Eren…. aku sangat yakin Erwin tidak akan membunuhnya, tapi apakah dia berhasil mengembalikan Eren ke Iruvina? Atau mungkin Eren kabur sendiri….

Apapun rencananya, kini ia tak dapat melakukan apa-apa selain bersandar menatap langit-langit, ditemani infus dan selang-selang serta cahaya temaram dari jendela.

Pintu kamar terbuka otomatis. Langkah orang yang masuk itu bergaung di telinga Levi.

"Bagaimana perasaanmu sekarang?" tanya pria berjas dokter lengkap dengan stetoskop melingkari leher. Ia menggenggam map di tangannya.

"Armin…." gumam Levi. Ia, Mikasa, dan Armin tinggal berjejer di apartemen sejak lulus sekolah. Hubungan pertemanan mereka cukup baik, kadang makan-makan bertiga kalau luang.

"Maaf aku baru bisa menjengukmu sekarang. Dokter yang merawatmu sebenarnya melarang, tapi aku memohon-mohon izinnya karena ini sangat penting," ujar Armin dengan nada sendu. "Maaf aku akan membebani pikiranmu dengan pembicaraan ini."

"Tak apa. Aku sepertinya tahu apa yang mau kaubicarakan," balas Levi.

"Aku sangat berduka atas gugurnya Mikasa. Dia wanita pemberani. Dia insipirasiku untuk melawan rasa takutku terhadap darah," terang Armin, tersenyum tipis, kemudian wajahnya kembali serius. "Yang mau kubicarakan denganmu…. Kauingat kalau kita berdua adalah wali untuk donor organ Mikasa, 'kan?"

Tak ada emosi apapun dari kedua mata Levi yang kini seperti ikan mati itu. "Ya, aku ingat."

Ingatannya bergulir ke beberapa tahun silam.

"Sudah selesai baca, Levi?"

"Ya…" Meski bilang begitu, mata Levi tak lepas dari dokumen yang ia baca. "Kau…. yakin?"

"Tentu saja. lihat tanda tanganku di situ." Mikasa kembali dari dapur dengan dua gelas kopi panas. Satu ia letakkan di depan Levi, satu lagi ia genggam sembari duduk di samping Levi. Mereka sedang berada di kamar apartemen Mikasa dan baru selesai makan malam bersama. "Ayo, tanda tangan. Nanti kalau Armin sudah pulang, aku panggil dia ke sini," desaknya sembari menyodorkan pena.

"Kauakan mendonorkan organ tubuhmu untuk eksperimen atau untuk ditransplantasi ke orang yang membutuhkan kalau kausudah meninggal," papar Levi, berganti menatap Mikasa. "Kenapa kau sejauh ini?"

Mikasa menyesap kopinya. "Kalau bisa membantu orang lain, kenapa tidak? Aku tidak punya penyakit, dan kalau mati aku tak akan bawa apa-apa," jelasnya. "Oh, jangan melankolis begitu, Levi. Kenapa kau yang sedih? Ini 'kan organku."

"Bukan itu yang kupikirkan." Memang, karena yang Levi pikirkan adalah ini seperti tanda-tanda kalau Mikasa akan pergi lebih dulu darinya, mengingat Mikasa adalah seorang tentara yang harus siap didatangi kematian kapan saja.

"Aku menikmati hidupku, Levi," kata Mikasa sembari mendongak. Pandangannya menerawang, senyumnya sumigrah. "Bekerja untuk melindungi orang lain, berbuat baik untuk orang lain. Kalau demi itu, aku tak akan menyesal."

Levi tertegun. Pipinya memerah. Entah mengapa, Mikasa terlihat begitu bersinar, begitu lembut.

"Yah, sebenarnya aku juga menginginkan hidup yang damai tanpa harus memikirkan akhir hidup setiap hari, memiliki keluarga yang menunggu di sini, mengasuh anak-anak yang lucu…." Mikasa kini menatap Levi lembut, tersenyum. "Kurasa, menghabiskan masa tuaku bersamamu akan sangat menyenangkan."

Pada akhirnya, masa tua Mikasa tak pernah datang.

"Saat ini, kornea mata Mikasa akan diberikan untuk pasien yang buta. Aku yang menyetujuinya," terang Armin. Sorot matanya berganti takut-takut. "Anu…. Apa kau keberatan?"

Levi tersadar dari lamunannya. "Oh, tidak." Ia menggeleng. "Itu keinginan Mikasa. Aku pasti memenuhinya."

Armin membuka map dan menyodorkan beberapa lembar kertas pada Levi. "Ini salinan dokumen penyataan donor organ Mikasa yang ditandangani kita bertiga. Di belakangnya, ada daftar organ dan jaringan yang sudah diambil dari tubuh Mikasa serta tempat penyimpanannya. Di lembar belakangnya lagi, ada daftar penerima dan calon penerima organ."

Levi menggenggamnya dan langsung membaca daftar organ yang dimaksud. Kornea mata, usus, hati, ginjal, pankreas, jaringan tulang kaki…. Jantung dan paru-paru pasti tak bisa disumbangkan karena pendarahan hebat, walau Mikasa juga memasukkannya dalam dokumen saat ia masih hidup.

Levi terperanjat ketika melihat satu nama, bergumam, "Otak…."

"Oh, jaringan otak Mikasa diambil dan diawetkan di bank otak," jelas Armin. "Kauingat, 'kan, kalau Mikasa mau menyumbangkannya untuk ilmu pengetahuan—"

"Aku akan menggunakannya."

Armin tercengang. "Eh?"

"Aku…."

"Kurasa, menghabiskan masa tuaku bersamamu akan sangat menyenangkan."

Kata-kata Mikasa kembali terngingang.

Android…. tidak,

…. cyborg.

"Aku akan mengambil jaringan otak Mikasa," tandas Levi dan sorot mata yakin. "…. demi ilmu pengetahuan."

Dusta. Sebetulnya hanya demi kau, Mikasa.

Ayo…. kita habiskan masa tua bersama.

.

End

.

Terima kasih telah membaca