This story for my new fav ship pokkopikku
But, I'm really so sad about this couple:(
Pieck lost her boy:')
Btw, sorry for typo or anything.
Hello, Pocko
Porco Galliard x Pieck Finger
[Karena dia menyukai segalanya tentang pria ini. Dulu dan selamanya.]
.
Dia tidak pernah melepaskan pandangan darinya. Setiap detik, setiap menit setiap jam bahkan setiap saat. Perhatian yang selalu menyita waktunya adalah ketika dia ada di dekatnya. Selama apapun itu, rasanya waktu sangat cepat berlalu ketika dia bersamanya. Bagaimana ketika dia berbicara dengan nada ketus dan angkuh khasnya. Bagaimana ketika dia tersenyum kecil dan memuji seseorang. Dan bagaimana ketika dia berjalan dengan kedua tangan bersembunyi di saku jaket favoritnya.
Semua yang dia lakukan adalah kesukannya. Apapun tentangnya adalah hal yang paling di sukainya setiap saat, bahkan sejak dulu.
Seperti saat ini.
Pintu ruangan berderit pelan dan terbuka setengah, di ikuti dengan masuknya sosok Colt Grice dan Porco Galliard ke dalam ruangan yang saat ini hanya terdiri dari dirinya, Reiner dan Zeke. Dan sekarang jumlahnya menjadi bertambah karena kedatangan dua yang lain.
Colt duduk di kursi kosong sebelah kiri Reiner, mulai berbicara ringan dengan laki-laki pirang tinggi itu, dan sesekali terdengar pembicaraan serius tentang rencana misi mereka selanjutnya. Sedangkan Porco mengambil posisi duduk di sebelahnya, melepas jaket hijau yang biasanya selalu melekat di tubuhnya hanya untuk di sampirkan di sandaran kursi. Dia duduk dengan helaan napas panjang, pertanda bahwa rasa lelah menyelimuti laki-laki pemilik Jaw Titan itu.
Mata hitamnya tidak lepas memandang laki-laki di sebelahnya yang saat ini sedang bersandar dengan mata tertutup, menikmati keheningan dan kedamaian di ruangan ini. Rasanya suara dari Reiner dan Colt atau suara Zeke di sudut ruangan tidak mengganggu ketenangan laki-laki itu. Begitu pun dengannya. Rasanya semua itu tidak menjadi pengganggu dan penghalangnya untuk terus menatap sosok laki-laki luar biasa yang selalu berhasil menarik perhatiannya.
Tapi, ada yang kurang.
Sejak tadi pagi, dia belum berbicara satu sama lain dengannya. Hanya sekedar menyapa atau tersenyum saja tidak. Saat bertemu tadi pagi, Porco hanya menatapnya sekilas tanpa senyuman atau sapaan kecil, lantas berjalan masuk bersama Colt dan yang lain lebih dulu. Dan itu cukup membuatnya sedikit sedih dan tidak bersemangat. Baginya senyuman pagi Porco sudah seperti suntikan semangat untuknya. Katakanlah jika dia sangat berlebihan dalam hal ini, tapi itulah yang dia rasakan.
Senyuman Porco yang jarang terlihat di wajah yang selalu mengeluarkan ekspresi angkuh dan kusut itu merupakan hal favoritnya. Dan rasanya akan ada yang kurang jika dia tidak melihat senyuman itu sama sekali.
"Kenapa kau melihatiku terus sepertiku, huh?"
Kesadarannya kembali secara tiba-tiba saat melihat kedua mata Porco telah terbuka dan kini sedang menatapnya. Posisinya masih sama, hanya saja tubuh laki-laki itu sedikit bergeser menghadap ke arahnya dengan dahi sedikit mengeryit.
Matanya berkedip pelan beberapa kali sebelum senyuman kecil di tunjukkannya pada laki-laki itu, terkekeh pelan. Dia membenarkan posisi duduknya yang sejak tadi menumpu tangan di pinggiran kursi dengan tubuh sempurna menghadap ke arah Porco, menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi di belakangnya. Dan Porco masih setia menunggu jawaban darinya.
"Tidak ada, hanya saja sejak tadi pagi sepertinya kita belum berbicara sama sekali." Katanya setelah diam beberapa saat hanya untuk memandangi wajah bingung Porco yang duduk di sebelahnya. Dan kini wajah laki-laki itu sedikit berubah, mendengus pelan saat tubuhnya kembali ke posisi semula, bersandar kembali.
"Jadi, itu yang mengganggumu, huh, Pieck?" Lanjut Porco sedikit sinis dan percaya diri, meski ini hanya sekedar candaan biasa yang sering mereka lakukan.
Dia tertawa kecil mendengar itu, membiarkan rambut panjangnya menutupi hampir ke seluruh wajahnya saat dia bergerak pelan. "Begitulah." Pieck menjawab ringan tanpa berpikir lebih lama lagi, tidak terlalu memusingkan beberapa hal yang terjadi di sekitarnya. Dan itu membuat Porco terdiam sesaat setelah mendengar jawabannya, tampak berpikir.
Sebelum Porco sempat menjawab atau sekedar mempertanyaan maksud dari ucapan Pieck barusan, Zeke berjalan ke arah mereka dan mengatakan bahwa mereka di panggil oleh Komandan Magath untuk menghadap kepadanya sekarang juga. Colt dan Reiner beranjak dari kursi mereka, segera berjalan di belakang Zeke yang sudah berdiri di depan pintu, bersiap keluar dari dalam ruangan.
Porco pun segera beranjak bangkit dari kursinya, memakai jaket yang tadi sempat dia lepaskan, lantas bersiap untuk menyusuli ketiga yang lain. Namun, baru dua langkah dia berjalan, kepalanya langsung tertoleh ke belakang dengan cepat, melihat sosok Pieck masih duduk di sana dengan pandangan lurus ke arahnya. Dahinya berkerut bingung, berjalan mendekat kembali.
"Kenapa kau masih duduk disana? Ayo, pergi." Kata Porco dengan suara tidak sabaran namun, tetap tidak mau meninggalkan Pieck sendirian disini. Pieck tersenyum dengan wajah sayunya seperti biasa, menunjuk ke arah kedua kakinya. Dan Porco langsung mengerti apa maksud gadis berambut hitam itu tanpa bertanya lagi.
Meski sudah di bantu oleh tongkat yang biasanya dia gunakan untuk berjalan, tetap saja terkadang ada saat dimana kakinya sama sekali tidak bisa di gerakkan untuk berjalan. Karena itu adalah hal yang lumrah sebagai pemegang Cart Titan yang biasanya tidak akan berubah dalam wujud manusianya dalam waktu yang cukup lama. Dan hal itu sering terjadi pada Pieck yang sekarang menjadi seorang pemegang Cart Titan.
Porco menghela napas, diam-diam merasa kasihan pada gadis di depannya. Tanpa banyak bicara, dia pun langsung membungkuk tepat di hadapan Pieck, membelakanginya. Pieck berkedip pelan, terlihat tidak mengerti sekaligus terkejut dengan apa yang Porco lakukan sekarang.
Porco berdecak, sedikit tersipu tanpa di ketahui oleh Pieck. "Diam dan naik saja." Katanya dengan suara pelan dan geraman malu.
Pieck terkekeh begitu menyadari maksudnya, langsung bergerak ke atas punggung laki-laki itu, melingkarkan tangannya di sekitar leher Porco saat dia merasakan tubuhnya mulai terangkat dengan tangan Porco menumpu pada masing-masing kakinya. Mereka pun segera pergi meninggalkan ruangan itu, menyusul ketiga yang lain.
Entah kenapa, diam-diam Pieck bersyukur bahwa kakinya tidak bisa di gerakkan pada saat seperti ini. Tentu saja Pieck tidak berharap dia selamanya tidak bisa berjalan, hanya saja momen saat seperti ini sangatlah langka. Karena yang biasanya menggendongnya adalah Zeke—karena kebetulan laki-laki itu ada di dekatnya dan kebetulan juga Porco selalu terlambat satu langkah dari Zeke.
"Sekarang kau sudah puas?"
Porco memutuskan untuk memecahkan keheningan di antara mereka, membiarkan suara langkah kakinya yang bergema di dalam lorong gedung di temani oleh suaranya. Pieck diam sebentar hanya untuk menghela napas pendek, meletakkan wajahnya di bahu Porco.
"Belum."
Porco menghela napas pelan mendengar jawaban Pieck. Tidak terlalu mempermasalahkannya.
Pieck diam-diam melirik kecil ke arah wajah laki-laki yang sekarang sedang menggendongnya, melihat bagaimana sorot mata tajam dan angkuh itu lurus menatap ke arah depan. Wajah Porco yang tampak tidak berubah sejak dulu selalu terasa menyenangkan untuk di lihat baginya, yang berbeda hanyalah rahangnya yang semakin mengeras—dan sifat keras kepala yang semakin menjadi-jadi.
Pieck selalu menyukai segalanya tentang laki-laki bermarga Galliard ini. Laki-laki yang sejak dulu selalu bersamanya—entah Porco menyadari perasaannya atau tidak.
Tapi jujur saja, Pieck memiliki perasaan lebih pada Porco.
"Jadi, hai, Pieck?"
Pieck terdiam dengan mulut sedikit terbuka, tidak menyangka apa yang Porco lakukan. Mereka berdua terus berjalan melewati lorong yang sepi dan hening. Dan dia dapat melihat bahwa Porco melirik menatapnya lewat sudut mata, bibir laki-laki itu membentuk kedutan senyuman kecil. Perasaannya menjadi dua kali lipat membuncah lebih dari biasanya, wajahnya mulai mengeluarkan semburat merah meski samar saat merasakan pegangan tangan Porco di kakinya semakin mengerat.
Ini menyenangkan.
Pieck kembali menumpu kepalanya di atas bahu Porco, tersenyum tipis—tapi jangan sampai Porco melihat rona merah di kedua pipinya yang sekarang masih terlukis jelas.
"Hello, Pocko."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jadi, apakah kau sudah merasa puas?
—bagaimana jika aku jawab 'belum'?
Gezz, hentikan itu, Pieck.
—haha, aku hanya bercanda, Pocko~
