Attack On Titan by Hajime Isayama
Warning: AU! OOC! GakBaku! etc.
Sambil ingin memuaskan diri sejenak.
Note: Jean dan Eren hanya sahabatan aja kok, eh tapi agak ambigu. Biarin aja ya /plak/. Zeke yang brocon ke Eren. Dah itu aja.
.
.
.
.
"Kudengar dari ibumu, kalau lo sedang terluka. Lo abis ngapain aja sih?!" Jean menatap Eren dengan tatapan tajam, walau terselip raut muka khawatir karena melihat sahabatnya yang diperban di lengan kanan.
Eren menepuk sofa di sebelahnya, menyuruh Jean untuk duduk di sebelahnya. "Ketabrak saat gue nyebrang. Lo ga usah khawatir sama gue deh, geli tau."
"Gue gak khawatirin lo, Eren! Lebih baik gue khawatirin nilai gue yang diambang-ambang kematian."
"Bukannya nilai lo itu bagus-bagus semua ya, Jean?" Terlihat senyum Eren yang menyeringai.
Skak mat.
Jean mengalihkan tatapan dari Eren, "ck, itu saat lo kemarin gak masuk ada ujian dadakan dari Hanji-sensei. Dan berakhir dengan nilai gue yang bobrok gitu."
Mama Carla menghampiri mereka sambil membawa cookies dan dua jus mangga, "Jean terima kasih sudah repot-repot menjenguk Eren. Malah bawa oleh-oleh, jadi ngerepotin. Ini silahkan dicoba cokies buatan mama."
"Terima kasih tante, tidak merepotkan kok. Tadi saya ajak Connie dan Sasha tapi mereka ga bisa ikut, mereka hanya bisa mentipkan salam."
"Terima kasih, sampaikan pada teman-temanmu ya. Ah, Eren karena temanmu sudah disini, mama pergi dulu ya. Kak Zeke bentar lagi pulang, jangan nakal." Mama Carla mencubit pipi kiri Eren lalu ia beranjak pergi.
Eren mengusap-usap pipi yang terkena cubitan. Dengan suara kecil ia menggerutu, "padahal aku bukan anak kecil lagi."
Biasanya Jean akan mengejek Eren dengan ejekan "anak mommy". Tapi kali ini ia lebih memilih untuk diam saja.
"Lo kesini cuma mau gini doang?" Eren membuka suara setelah hening beberapa saat.
"Memangnya lo mau mengharapkan apa?"
"Lo balik aja," jangan tinggalin gue plis, gue belum nyobain cookies buatan mama. Gue kesusahan makan pake tangan kiri. Batin Eren
"Tapi Kakak lo belum balik, lo di rumah sendirian 'kan?" Jean merasa kalau di sini sudah tidak ada siapa-siapa lagi, kecuali ia dan Eren. Jean lalu membuka tasnya dan mengeluarkan buku-buku. Buku catatan dan buku latihan, "tuh gue meluangkan waktu yang banyak buat ngefotocopy buku catatan dan latihan gue. Udah gue bukuin juga biar lo ga pusing, jadi tinggal diterbitin ekhm maksud gue lo baca-baca dan pahami itu materi-materi. Lo juga ga usah nyatat ulang lagi, lengan kanan lo kan masih sakit."
Eren tak tau harus bereaksi seperti apa, sebenarnya ia sudah mendapatkan buku catatan dan latihan dari Armin. Tetapi melihat kesungguhan Jean untuk dirinya, ia tak kuasa untuk menolak. Eren jadi terharu, sebentar.
"Makasih, kuda." Eren hampir tertawa melihat reaksi Jean yang ingin menjitak dirinya. Tahan Jean.
"Ucapin yang bener, idiot." Jean memilih untuk bersabar.
"Gak."
"Ulangin lagi gak?!"
"Makasih, kuda."
"MAKSUD GUE BUKAN ITU EREN YEAGER!"
"LO NYURUHNYA NGULANG LAGI, MAKANYA GUE ULANGIN LAGI UCAPAN GUE!"
"HAH?!"
"HAH?!"
Jean seketika bangkit dari tempat duduknya. Tak sengaja tangan Jean terkena lengan kanan Eren yang sedang terluka.
"AW SAKIT KUDA!" Eren meringis menahan perih.
"HAH?! LO NYEBUT GUE APA- EREN!" Jean kembali duduk di sebelah Eren, terlihat raut khawatir Jean karena Eren masih menahan perih.
"Eren! Relaxin diri lo dulu." Intruksi Jean sambil mengelus punggung Eren.
Eren menarik nafas, lalu menghela nafas. Terlihat Eren yang sudah tidak menahan perih lagi. "Thanks."
Jean langsung menggelengkan kepalanya, "gue yang salah, maafin gue Eren." Jean lalu menepuk-nepuk kepala Eren dengan lembut.
Eren tertawa, menertawakan kelakuan ia dan juga Jean. Jean pun ikut tertawa bersama Eren sambil merangkul pundak Eren dengan hati-hati.
"HAHAHA MUKA LO YANG KHAWATIR ENGGA BANGET ITU! HAHAHA LO GA COCOK KALAU KHAWATIR!"
"GUE MERASA SIA-SIA KHAWATIRIN LO! HAHAHA EKSPRESI LO ITU KAYAK BOCAH YANG KEHILANGAN PERMEN, NGAKU AJA KALAU LO MAU NANGIS WAHAI EREN YEAGER HAHAHA LUPA GUE FOTOIN ITU WAJAH!"
Biarkan mereka berdua tertawa, jangan sampai 'kotak tertawa' kalian rusak.
'OoO'
2 menit kemudian.
Jean saat ini sedang asik menikmati cookies buatan Mama Carla, energi dia sudah hampir terkuras habis karena tertawa tadi.
Eren merasa terabaikan, apakah Jean sedang dalam mode tak pekanya? Sehingga ia melupakan kehadiran Eren di sebelahnya. "Jean, gue laper. Tega sekali lo mengabaikan tuan rumah."
"Sorry sorry, cookies buatan mama lo enak banget. Lo mau gue suapin?" tawar Jean. Ia baru teringat kalau yang terluka itu di lengan kanan Eren.
"Dua cookies aja." Jean mengambil cookies pertama dan mulai menyuapinya. Lalu Jean mengambil cookies kedua.
Cklek
Terdengar derap langkah kaki yang cepat, lalu terlihat sosok manusia berambut pirang dan juga brewokan menghampiri mereka, "MY LITTLE BROTHER, AKU MERINDUKANMU~" Zeke bersiap ingin memeluk Eren, ia baru menyadari kalau ada Jean di sebelah Eren dengan posisi yang berdekatan dan Jean yang hampir ingin menyuapi cookies kedua untuk Eren.
"OI! NGAPAIN LO DISINI HAH?! PERGI JAUH-JAUH DARI ADEK GUE! HUSH HUSH!" Zeke mengusir Jean sambil ngibas-ngibasin tangannya, seperti mengusir ayam yang biasa mampir di halaman rumahnya.
"Lah ngatur." Jean dan jiwa barbarnya.
"Kak Zeke, jangan usir Jean. Dia udah ngebantuin Eren." Iya tadi memang Eren ngusir Jean, tapi itu hanya candaan saja.
"Gak. Sekarang biar gue yang jagain adek gue. Lo pulang aja Jean! Hush hush!" Zeke dan sifat broconnya.
"Lah Eren aja gak ngusir gue kok!"
"Pokoknya lo harus pulang!"
"Gak sudi!"
"BALIK GAK LO!!" Zeke bersiap ingin baku hantam dengan Jean. Ia adalah ace baseball, jangan meremehkan kemampuannya.
"GAK!!" Jean menggulungkan kaos lengan panjangnya, dan bersiap menerima ajakan duel secara tak langsung. Gini-gini Jean jago karate.
Eren dari tadi hanya menatap mereka berdua dalam diam, ia ingin melerai tetapi kondisi tidak memungkinkan untuk bergerak terlalu banyak, terutama untuk lengan kanannya. Jadi ia hanya menonton saja, "tontonan yang bagus." Sayangnya, karena Jean dan Zeke duel di halaman rumahnya, yang di mana itu banyak sekali tanaman kesayangan mama dan juga kolam ikan kesayangan ayah. Maka ia mengambil Handphone, kemudian ia langsung menghubungi ayahnya.
"Ayah, Kak Zeke dan Jean berantem lagi di halaman."
.
.
.
.
.
.
End.
Aku suka Zeke yang brocon ke Eren.
