"Toge, sejak kapan main gitar?"
Inumaki Toge menoleh bingung mendengar ucapan Yuuta begitu melangkah masuk ke apartemennya. Ini bukan kali pertama cowok bongsor berambut hitam itu bertandang ke apartemen Toge. Tapi memang bukan salahnya tidak menyadari ada sebuah gitar yang tergantung di tembok. Benda itu memang baru-baru ini dimilikinya.
"Aku nggak main." katanya sambil melepas jaket dan menyampirkannya di kursi. "Dikasih kakak iparku."
"Dalam rangka apa?"
Toge cuma menggedikkan bahunya. Semenjak kakak perempuannya menikah dengan kekasihnya, mereka pindah rumah ke Shizuoka. Mereka tinggal di salah satu rumah lama milik keluarga si kakak ipar. Gitar itu adalah benda kesayangannya semasa SMA dan kuliah, diwariskan kepada Toge tanpa mau tahu bahwa seorang Inumaki Toge itu DOTA champion bukan anak senja yang senang genjrang-genjreng.
"Boleh aku cobain?"
Toge mengangguk singkat. Yuuta begitu terperangah kagum dengan benda itu. Si kakak ipar memang merawatnya dengan baik. Toge bahkan menyimpan hard case-nya di bawah ranjang. Kakak perempuannya dengan seenak jidat memajang gitar itu di tembok, katanya motivasi untuk adik bungsunya agar mau melakukan sesuatu yang tidak berhubungan dengan komputer.
TRING. TRING. JRENG...
"Wah, bahkan senarnya masih oke." Yuuta berbinar-binar. "Jadi kangen main gitar."
Okkotsu Yuuta adalah mahasiswa tahun kedua arsitektur, sementara Inumaki Toge seangkatan dengannya hanya saja ia mengambil jurusan desain interior. Keduanya berteman karena berada satu tim dalam kegiatan ospek. Yuuta selalu mencarinya sekedar untuk makan bareng atau mengerjakan tugas sama-sama, katanya anak pendiam seperti Inumaki pasti kesepian karena tak punya teman. Yuuta tidak tahu saja bahwa menjadi pendiam dan penyendiri adalah zona nyaman yang Toge ciptakan sendiri. Berasal dari keluarga berkecukupan dengan latar belakang profesi komunikasi (ayahnya orang PR dan ibunya manager agensi model. Kakak perempuan pertamanya adalah model di agensi yang sama dengan ibunya dan kakak keduanya yang baru menikah itu adalah content creator majalah fashion) membuat Toge kesulitan menemukan ketulusan dalam hubungan pertemanan. Semua mendekatinya karena ia bawa mobil ke kampus, menggunakan barang branded, memiliki paras menarik dan bersikap tenang dan apa adanya. Hubungan pertemanan penuh drama membuat Toge nyaman dengan layar dan dunia maya, bermain game dan berinteraksi nyata seperlunya.
Sampai pada bangku kuliah, ia begitu bersyukur dipertemukan dengan Zenin Maki dan Panda yang menganggapnya sebagai adik kecil yang harus dijaga dan diurus dengan benar.
Lalu Yuuta yang bertingkah seperti radio; ia banyak mengoceh dan bicara soal kehidupan dan kesehariannya tanpa terdengar menjemukan. Yuuta bahkan tidak keberatan saat Inumaki tidak menanggapi ucapannya dengan menggebu-gebu.
"Kalau kau tidak nyaman denganku, kau sudah mengusirku jauh-jauh sejak dulu, kan?" begitu tuturnya.
Yuuta benar. Toge bisa membuangnya kapan saja kalau ia mau. Toh, kehadiran Yuuta sebetulnya bukan kemauannya. Pemuda itu datang dengan kehendaknya sendiri. Seringkali ia membawakan Toge makanan sehat buatan sendiri setelah memperhatikan bahwa cowok bersurai platinum blonde itu tidak makan dengan benar dan teratur. Ia juga sering mengingatkan Toge untuk tidak begadang terlampau sering dan rehat dari rutinitas game-nya dikala musim-musim ujian. Yuuta berasal dari Sendai, dan kalau dia pulang kampung Toge adalah orang pertama yang dihujani beragam oleh-oleh.
"Kalau Toge pulang kampung juga, bawakan aku sesuatu yang menarik, ya?" begitu ujarnya.
"Pulang kampung gimana? Kan aku orangTokyo." jawab Toge ringkas.
Namun saat gilirannya pulang ke rumah keluarganya, Toge kembali dengan satu koper pakaian branded pemberian ibunya—barang lama agensi yang bakal dibuang karena sudah tidak musim. Kondisinya masih sangat bagus (beberapa bahkan diberikan dari sponsor, masih baru lengkap dengan tag harga). Ia memberikan sebagian besarnya kepada Yuuta, menyuruhnya memilih mana yang pas dengan ukuran dan seleranya. Yuuta nyaris pingsan melihat angka yang tercantum di tagnya. Tetapi Toge cuma terkekeh, berkata dengan mantap bahwa Yuuta bisa mendapatkan pakaian baru nan bagus setiap musim dengan gratis.
Menjelang pertengahan tahun kedua, Toge mulai mengenal Yuuta lebih jauh.
Katanya dulu Yuuta punya pacar waktu SMP, namanya Rika. Entah bagaimana, Rika meninggal karena kecelakaan. Korban tabrak lari. Yuuta yang begitu sedih bertingkah seperti orang gila. Keluarga dan teman-temannya berusaha menghibur hingga akhirnya mereka menyerah. Mereka membiarkan Yuuta lelah bersedih dan move on dengan sendirinya. Salah satu hal yang membuat Yuuta paling ingat dengan Rika adalah gitar akustik. Rika sangat suka mendengar Yuuta main gitar, dan Yuuta akan selalu melakukannya untuk Rika. Kalau lihat gitar akustik, Yuuta bisa langsung menangis tersedu-sedu. Sebetulnya Toge tahu hal itu dari Mai, kembarannya Maki. Saat itu juga, ia menurunkan gitar yang dipajangnya di dinding dan menyembunyikannya di bawah kasur.
Lalu, Toge terpaksa tidak kuliah selama seminggu karena jatuh sakit. Bukan sakit serius, hanya radang lambung ringan. Pantangannya banyak sekali. Toge cuma bisa merengut ketika Yuuta membuang semua persediaan kopi dan cemilan ringannya.
"Terus aku makan apa?" tanyanya, separuh merajuk.
"Nggak usah pusing. Aku masakin."
"Gimana?" Toge mengerenyit. "Yuuta mau kesini setiap hari?"
"Iya." katanya lagi. "Sampai lambungmu sembuh, aku akan patroli tiap hari kesini. Memastikan Toge makan nasi, sayur, lauk dan pantang kopi. Perlu kukelonin juga biar tidurmu teratur, hah?"
"Memangnya aku bayi, apa?" Toge semakin memberengut mendengar kata-kata Yuuta.
"Memang bayi." tangan besar Yuuta terulur, mencubit gemas pipi Toge. "Togebayi. Bayi gemes!"
Yuuta memenuhi janjinya datang setiap hari. Berkunjung ke apartemen Toge cuma untuk memasak, menemaninya belajar dan mengerjakan tugas hingga memastikannya tidur lelap sebelum pulang. Padahal apartemen Yuuta tidak bisa dibilang dekat kampus. Ia bahkan sering bertandang untuk numpang istirahat sebelum pulang. Toge awalnya protes, kesal diperlakukan seperti anak balita karena Yuuta begitu bawel mengingatkannya untuk makan, minum obat, tidur dan menjauhi segala pantangan dokter. Tapi bagaimana Yuuta selalu membuatkan Toge onigiri rasa tuna mayo saat ia muak makan nasi, atau mengusap rambutnya dengan lembut dan membujuknya agar meninggalkan game lalu tidur dan menaikkan selimutnya hingga sebatas dagu membuat Toge kerasan.
Yuuta mengurusnya dengan telaten. Rasanya begitu menyenangkan bisa dimanja dan diperlakukan dengan sepenuh hati seperti seorang te—
Teman?
Apa iya?
Apakah normal seorang teman (sesama cowok, terutama) untuk menemani hingga tidur, berkunjung setiap hari untuk memasak dan memastikan keadaan Toge selalu sehat dan bugar meski Yuuta sendiri terlihat seperti pengidap anemia: lelah, letih, lesu, lemas, lunglai. Kali ini gantian Toge yang khawatir. Terlebih ia tahu seberapa berat menjadi mahasiswa, dan sambatan anak-anak arsitektur lain membuat Toge berpikir Yuuta selama ini cuma pura-pura kuat.
"Yuuta, malam ini nginep aja." kata Toge.
Yuuta cuma menoleh, lalu menggeleng. "Nggak apa-apa. Aku pulang aja. Biar kamu tidurnya tenang."
"Nginep." ujar Toge lagi. "Toh, besok libur. Nggak ada tunggakan tugas, kan?"
"Nggak, sih." Yuuta menggeleng.
Yuuta pernah sekali menginap di apartemen Toge. Saat itu si pemuda bongsor ketiduran di sofa, dan Toge tak tega membangunkannya. Sekedar info saja, Toge cuma punya satu kamar dan satu ranjang ukuran queen size dan sofa kecil yang bisa dipakai duduk dua orang saja. Tubuh Yuuta mengkerut kikuk saat tidur di sofa dan paginya ia mengeluh seluruh badannya sakit karena sofa mungil itu tak bisa menampung jangkung badannya. Mungkin alasan Yuuta tidak ingin menginap adalah karena itu.
"Yuuta."
"Hmm?"
Pemuda itu menoleh ketika Toge memanggil nama kecilnya. Inumaki bungsu membopong selimut dan bantal yang sudah disiapkan Yuuta untuk dirinya sendiri dari sofa ke dalam kamar.
"Jangan tidur di sofa. Nanti sakit punggung lagi." gumamnya.
"Bobo dimana dong aku? Di lantai?" tanya Yuuta memelas.
"Di kasurku."
"Terus kamu bobo dimana?" Yuuta menjegal pundak Toge dan merebut selimutnya. "Nggak. Toge nggak boleh bobo di sofa. Nanti pasti bukannya bobo malah lanjut nge-game."
"Di kasur." kata Toge.
"Dikasurmu?"
Toge mengangguk.
"Kita bobo bareng, gitu?"
"Aku kan kecil. Kasurku cukup buat berdua, kok."
"Tapi—"
Suasana mendadak canggung ketika Toge melihat wajah Yuuta memerah, ronanya terang sampai telinga. Pemuda itu menggaruk tengkuknya kikuk. Reaksinya membuat Toge refleks menunduk. Pipinya memanas. Padahal tak ada yang salah dengan tidur bareng, kan? Toh mereka sama-sama laki-laki. Dan juga bertem—
Ah, sialan. Lagi-lagi pikiran aneh itu hinggap di benak Toge. Pikiran bahwa Okkotsu Yuuta mungkin memandangnya lebih dari teman.
"Nggak apa-apa, kalau Toge nggak keberatan." Yuuta membalas.
Malam itu dingin, dan Yuuta sudah terlampau lelah dilanda banyak kegiatan kampus hari ini. Ia jatuh terlelap tak lama setelah menarik selimut dan menutup mata sementara Toge masih berbaring di sebelahnya, berkutat dengan ponsel. Toge terkesiap kaget dengan salah satu instastory adik tingkatnya, yang naas membuat Yuuta sontak terbangun.
"Yuuta, sorry—"
"Nggh."
Yuuta merebut ponsel Toge dan meletakannya di nakas dekat kasur. Lengannya yang jenjang memberikan rengkuhan lembut dan menarik Toge ke dalam pelukannya. Wajah si pemuda bernetra lavender itu jatuh di dada Yuuta. Tak sengaja didengarnya dentum statis yang damai dan terasa hangat. Harum tubuh Yuuta lembut dan nyaman; wangi kain segar habis disetrika, wangi peach sabun mandi Toge yang dipakainya juga. Tangan besar itu menelusup masuk dalam hela-helai rambut Toge, memberinya belaian sayang.
"Bobo dong, Toge." racaunya setengah sadar. "Aku udah nggak kuat melek, nggak bisa jagain kamu sampe tidur."
Apa ini?
Kenapa ada sensasi asing yang menjalari bawah perutnya saat Yuuta menariknya mendekat dan membelai kepalanya? Kenapa jantungnya bergemuruh berisik padahal Yuuta cuma sekedar peduli dengan kondisi tubuhnya. Kenapa pelukan Yuuta terasa begitu ia rindukan, padahal sebelumnya Toge mana pernah memikirkan pelukan Yuuta? Terlalu banyak tanda tanya dalam kepala bersurai platinum blonde itu. Toge melemaskan lengannya melingkari pinggang Yuuta, memilih memejamkan mata dan berhenti berpikir.
Sejenak.
Sampai ia yakin bahwa kasak-kusuk hatinya bukan perasaan salah yang bisa menghancurkan persahabatan mereka.
Inumaki Toge mungkin pandai mendesain ruangan. Tapi tidak berarti ia pintar mendesain suasana hatinya. Sejak mereka tidur berpelukan hari itu, Toge tak lagi tahu bagaimana cara membenahi perasaannya saat Yuuta menghampiri. Ia masih Okkotsu Yuuta yang biasa, yang membuatkannya makanan, melarangnya ngopi dan begadang. Masih Okkotsu Yuuta yang bawel seperti radio. Masih Okkotsu Yuuta yang memperlakukan Toge seperti anak balita karena khawatir. Okkotsu Yuuta tidak berubah, namun Toge memutuskan kabur dari sahabatnya karena bingung bagaimana caranya bersikap. Sedih rasanya mengacuhkan Yuuta, namun Toge belajar menempa dirinya sendiri. Ia takut Yuuta jijik saat tahu sahabat yang dirawatnya ternyata malah menyemai benih-benih cinta. Dan Toge tak ingin disalahkan siapapun, sebab siapa yang tidak jatuh hati dengan perilaku penuh kasih dan perhatian dari Yuuta? Toge yakin Yuuta itu straight, dulu kan pacarnya perempuan. Sementara Toge sendiri tidak begitu yakin. Ia belum pernah pacaran meski usianya menginjak 20 tahun. Ia tidak siap membuka hati. . Ia tidak siap menerima orang lain agar bisa mengacak-acak belum siap jatuh cinta. Karena jatuh sudah pasti akan terasa sakit.
Toge hari ini memilih bolos mata kuliah bahasa Inggris. Ia kesiangan, dan tak tahu apa yang harus dilakukannya. Ia hanya duduk di lantai, menunggu daya baterainya penuh akibat lupa diisi semalam. Ia menarik gitar dari kolong kasurnya, memainkan satu lagu yang terus menerus diputar di radio saat cowok bermarga Inumaki itu menyetir. Lagu itu tersangkut di kepalanya dan membuatnya penasaran. Nadanya terdengar mudah. Ia mencari di internet dan mencoba-coba memainkannya pada bar gitar.
DUK. DUK. DUK. DUK.
Toge terlalu fokus dengan lagu itu sampai tidak menyadari suara langkah kaki berisik di dalam apartemennya. Pundaknya mengejang kaget ketika bunyi pintu dibuka menggema ke seisi kamar. Okkotsu Yuuta cuma memandangi Toge dengan nafas pendek-pendek. Dadanya naik turun. Apa dia berlari atau ngebut naik motor untuk datang ke sini.
"Yuuta?" Toge mengerenyit bingung.
"Maaf masuk tanpa permisi. Pintu depanmu nggak dikunci." Yuuta menarik nafas. "Maki bilang kamu nggak kuliah, dan kamu nggak jawab telponku."
"Maaf." jawab Toge otomatis.
Betapa terkejutnya Toge ketika Yuuta menariknya ke dalam pelukan. Bibir dan hidungnya menyapu lembut kening Toge. Kedua lengannya gemetar memeluk. Nafasnya yang berhamburan tadi pecah menjadi isakan kecil yang nyaris tak bisa dibendung.
"Aku takut kamu kenapa-kenapa, Toge." ujarnya, masih menciumi kening Toge. "Ingat waktu kamu bilang kram perut? Terus tiba-tiba kamu pingsan. Aku sama Panda udah heboh gotong-gotong kamu ke ambulans. Disitu kamu udah dipasangin banyak kabel-kabel. Nggak sadar 4 jam, hampir di opname semaleman. Itu aja ada kita. Kalau kamu sakit lagi dan nggak ada yang nolong gimana?!"
"Yuuta..."
"Aku sayang sama Toge. Sayang banget." racaunya. "Aku udah pernah kehilangan orang yang kusayang. Aku nggak mau kehilangan lagi. Maafin aku kalau aku bawel dan ngatur-ngatur hidupmu. Kalau kamu nggak nyaman, bilang dari awal. Jangan ngejauh. Toge, aku sedih dan bingung banget harus gimana saat kamu kemarin-kemarin menghindari aku. Aku—"
Cup.
Pemuda mungil itu melekatkan bibirnya ke bibir Yuuta, membuatnya berhenti mengoceh seketika. Obsidian bertumbuk dengan amethys dalam pandangan berjuta makna—bingung, senang, rindu semua bercampur tak karuan.
"Aku juga sayang sama Yuuta." Toge kembali mendaratkan kecupan kecil di bibir Yuuta. "Aku senang ada Yuuta di sisiku. Ada yang ngurus. Ada yang peduli. Ada yang sayang. Tadinya aku takut Yuuta jijik padaku yang baper karena tingkah baikmu. Aku nggak mau Yuuta ngejauh. Yuuta suka cewek, kan? Aku cu—mmmh!"
Kali ini Yuuta yang balas mencium Toge. Bukan kecupan kecil lembut, namun pagutan penuh yang membuat akal sehat Toge porak-poranda.
"Toge bego. Bego banget. Nggak peka." Yuuta terus menerus menciumi wajah Toge, seakan memberinya serangan kejutan. "Kalau aku nggak punya perasaan lebih dari sahabat untukmu, buat apa aku selama ini susah-susah mengurusmu, hah!?"
"Ta—ih, dengerin!" Toge menjauhkan wajah Yuuta yang hendak menciumnya lagi. "Bukannya Yuuta itu sukanya cewek? Maksudku...dulu kan... ada Rika."
Yuuta menjauhkan dirinya, memilih jarak yang cukup baginya dan Toge untuk bisa bicara dengan nyaman. Tangan besarnya membelai sayang pipi gempal si pemuda Inumaki. Tatapan matanya meneduh, seakan mencurahkan kesejukan dan rasa nyaman pada sosok yang dipandanginya.
"Rika memang udah nggak ada, tapi bukan berarti aku nggak bisa mulai lagi mencintai orang lain. Kamu, Toge. Kamu orangnya. Kamu yang bikin aku pelan-pelan sembuh. Aku ngerawat kamu yang sakit biar kamu sembuh, dan ngerawat kamu nyembuhin luka batinku. Aku akan selalu sayang sama Rika, dan karena itu aku harus ikhlas membiarkannya pergi. Bukan masalah cewek atau cowok. Aku sayang Toge karena kamu itu Inumaki Toge. Terlepas apapun gendermu, selama itu kamu dan kamu tetap jadi Inumaki Toge yang bikin aku jatuh cinta, aku akan seterusnya sayang."
Toge meraih tangan Yuuta, yang balas meremat. "Maafin aku udah bikin semuanya jadi ribet. Maafin aku bikin kamu repot terus ya, Yuuta."
"Nggak perlu." Yuuta menggeleng. "Aku mau repot buatmu. Aku rela. Karena aku sayang."
Toge terkejut bukan main ketika ia mengambil alih gitar yang ada di pangkuan Toge. Jemarinya menari di untaian senar, memainkan alunan lembut asal yang lambat laun, mulai terdengar familiar.
"Toge suka lagu ini, kan?" tanya Yuuta. "Tiap nyetir diputar terus."
Toge tersenyum simpul, malu mengakui.
Fly me to the moon
Let me play among the stars
Let me see what spring is like
On a, Jupiter and Mars
Suara Yuuta yang berat bergema anggun bersama petikan gitar yang santai dan begitu manis. Toge memeluk lututnya, memandang yang terkasih terlihat begitu memukau saat dirinya melantunkan lagu.
In other words, hold my hand
In other words, baby, kiss me
Netra lembayung itu menggerling, berandai-andai betapa indahnya jadi Rika terdahulu. Dicintai oleh seorang pemuda yang sangat baik dengan segenap hati. Dihibur dengan suara indah dan permainan gitar yang menyenangkan. Tak terbayang bagi Toge seberapa berartinya Rika terdahulu bagi Yuuta, hingga butuh bertahun-tahun untuknya mencintai orang lain lagi. Apakah mencintai orang lain sepenuh hati akan begitu menguras sehingga ditinggalkan sosok Rika membuat Yuuta tersasar dan hilang sebab tak ada lagi yang tersisa untuknya?
Fill my heart with song
And let me sing for ever more
You are all I long for
All I worship and adore
In other words, please be true
In other words, in other words
I love you.
Toge yakin, Yuuta cuma mau bernyanyi dan bermain gitar untuk orang yang ia cintai. Ia tidak pernah bermain lagi semenjak Rika tiada. Ia bahkan terbilang trauma lihat gitar. Namun lihat sekarang. Ia bernyanyi dan bermain gitar dengan luwesnya, seakan setiap petikan dan nadanya adalah doa yang ia hujukkan atas perasaannya kepada orang yang dicintainya—yang kali ini adalah Toge.
Fill my heart with song
And let me sing for ever more
You are all I long for
All I worship and adore
In other words, please be true
In other words, in other words
I love you.
Untuk bisa sembuh, Toge butuh dicintai orang lain. Dan Yuuta memutuskan mencintai Toge untuk menyembuhkan dirinya sendiri.
Toge ingin berterima kasih. Pada Yuuta atas keberaniannya untuk ikhlas dan memulai lembaran baru. Atas cinta dan kasihnya yang tulus. Toge ingin berterima kasih pada dirinya sendiri, sebab telah jatuh pada orang yang tepat. Ia juga ingin berterima kasih pada sang Takdir, sang Waktu, sang Hidup. Yang telah mempertemukan mereka. Yang telah menjalin cinta pada hati keduanya.
Untuk saling menyembuhkan.
Song: Fly me to the moon [The Macarons Project]
bacotan author:
hai geng. Aku kembali menghibur diri sendiri dengan ottoge karena sepi banget oy ini kapal hantu tapi hype. Ya intinya karena kurang asupan yaudah ngasup sendiri terus bagi-bagi aja. Silahkan dinikmati pair manis-gemes ini sebelum baca manganya yang makin dark hiks.
