Hetalia (c) Hidekazu Himaruya

[ no profit gained from this fanfiction ]

ABO!Universe, out of character

Ivan Braginsky (Russia) x Gilbert Beilschmidt (Prussia)


A

Sudah dari dulu, sudah dari ketika jam biologisnya ditentukan, Gilbert tidak pernah sekalipun berniat (atau ingin) menjadi pemain.

Gilbert adalah penonton.

Gilbert ditakdirkan menjadi penonton, dan itu tidak akan berubah.

"kapan Veli datang?"

Adiknya, si bongsor, Ludwig Beilschmidt, tentu saja seorang pemain. Adiknya itu bermain bersama seorang pria lain yang jauh lebih kecil darinya, sedikit bodoh, wajahnya manis dan wanginya seperti madu –(itu yang Ludwig bilang, karena Gilbert tidak bisa mencium feromon dari pemain-pemain itu).

"ah, lusa. Kami akan pergi ke resort seperti biasanya."

Gilbert menenggak vodka tanpa meninggalkan sisa. Pandangannya berkunang-kunang, sedikit buram, wajah khawatir Ludwig yang duduk di depannya nampak runyam. Satu-satunya pemandangan yang jelas hanyalah warna oranye dari api yang menyala pada perapian di samping mereka. Gilbert terkekeh.

Botol-botol vodka ditarik menjauh oleh Ludwig. "sudah, kau mabuk, brüder."

"aku tahu."

Gilbert menyimpan gelas.

"belum ada rencana menikahi Veli?"

Gilbert tidak bermaksud ikut campur, tapi kedatangan Antonio selaku kakak dari Veliciano, pasangan Ludwig, membuatnya menyinggung topik sensitif ini. Antonio datang untuk angkat bicara, bahwa adik-adik mereka tidak bisa terus menerus menjalani hubungan sebatas dinamika alam, keduanya perlu disahkan secara hukum. Gilbert sangat setuju. Dari dulu ia setuju. Namun Ludwig tidak pernah setuju untuk menikah mendahului kakaknya; (atau Gilbert terlalu payah menjadi seorang kakak sehingga tidak bisa membuat adiknya berhenti khawatir).

Sejak dulu, Ludwig memang tidak pandai menyembunyikan sesuatu. Gilbert tahu betul bahwa adiknya itu menunda pernikahannya sendiri karena khawatir berlebihan padanya, pada Gilbert, seorang kakak lelaki beta yang di usia tiga puluh lima justru menjadi bujang. Adiknya itu sudah lama menjadi sepasang, memang sudah waktunya untuk lanjut ke jenjang sakral. Namun kekeraskepalaan Ludwig melebihi kerasnya batu.

"Antonio tidak bicara apapun padamu?" Gilbert menyandarkan punggung pada kursi yang didudukinya.

Ludwig mengusap-usap bibir gelas dengan jempol. "aku tidak bisa bohong padamu, jadi, ya."

Gilbert mendengus. "apa yang kau khawatirkan? Kau tidak bisa terus-terusan membuat Veli menunggu."

"aku tahu." Ludwig menyahut cepat. "tapi bagaimana denganmu, brüder? Kau juga tidak bisa terus menunggu bajingan itu –"

"cukup, Ludwig." Gilbert memotong percakapan. Pria itu berdiri, tersenyum dan mengedikkan bahu. "sudah kubilang aku tidak bisa menjadi pemain, kan? Jangan khawatirkan aku, khawatirkan hidupmu. Aku baik-baik saja. Aku awsome, kau tahu itu."

Obrolan diputus sepihak. Pria bersurai salju itu meninggalkan adiknya di perapian. []

.


.

B

Sudah dari dulu, sudah dari ketika jam biologisnya ditentukan, Gilbert tidak pernah sekalipun berniat (atau ingin) menjadi pemain.

Gilbert adalah penonton.

Ivan Braginsky datang ke depannya, menjulurkan tangan, mengajak Gilbert untuk ikut sebagai pemain pada panggung besar itu, pada dinamika itu.

Ivan Braginsky adalah seorang pemain kelas alpha, perawakannya tinggi besar seperti beruang, wajahnya lugu, angelic, wajah-wajah murni tidak berdosa. Ia bertemu pemain satu itu ketika masih sekolah menengah atas; Ivan berada satu tahun di bawahnya, dan hubungan mereka dimulai dari titel senior-junior.

Mereka tidak punya kesamaan, mereka tidak cocok bercengkrama, mereka sangat bertolak belakang. Gilbert adalah radio butut yang tidak bisa diam, ia suka berbicara, ia suka memamerkan diri. Ivan adalah pendengar yang pasif, cukup tersenyum dan mengangguk, ia sangat tertutup. Mungkin titel pacaran yang mereka lakoni ketika dua bulan menuju kelulusan Gilbert didapatkan dari kontradiksi itu; seperti, melengkapi satu sama lain? –(meskipun keduanya tidak pernah merasa lengkap, ada yang kurang, dan keduanya tahu apa itu).

Mereka pacaran selama tujuh belas tahun. Dari usia delapan belas (Gilbert), dan tujuh belas (Ivan), dengan total 87 kali pertengkaran, 87 kali perdamaian, 4 kali "pisah ranjang", dan entah berapa kali hubungan badan. Gilbert ingat betul tiap detail hubungan kolot itu.

Di usianya yang menginjak tiga puluh lima, mereka berpisah. Bukan sekadar pisah ranjang, mereka berpisah. Tidak lagi sepasang, tidak akan bisa.

Gilbert tahu ini adalah salah satu ending yang akan terjadi. Meskipun dari awal ia tahu bahwa hubungan mereka tidak akan menemukan masa depan, ia tetap mau bermain bersama Ivan di panggung dinamika itu dengan tertatih-tatih, putus asa, namun tetap kuat dengan "cinta". Barangkali "cinta" yang ia bangun dengan Ivan tidak cukup kuat untuk merobohkan hukum panggung dinamika, bahwa alpha hanya ada untuk omega, pun sebaliknya, sebagai dua pemain utama, sementara beta cukup sebagai penonton saja.

Gilbert adalah penonton itu.

Namun yang membuat Gilbert mundur dan keluar dari arena bukan karena dinamika itu sendiri.

Melainkan Ivan.

"brüder, kami berangkat ~"

Gilbert mengacak surai cokelat madu adik iparnya dengan gemas. Veliciano adalah salah satu "sumber energinya" selain Ludwig dan vodka. Wajah mentari Veliciano memberinya kehangatan lebih yang menyenangkan. Ludwig memang pintar memilih pasangan.

"kabari aku kalau kalian akan kembali!"

Gilbert saksikan dua punggung pemain itu pergi menjauh, menaiki mobil, kemudian melesat membelah jalan setelah keluar pagar rumah. Si netra berma menghela napas, berkacak pinggang, mengeluarkan ponsel dari saku celana. Nomor Antonio Vargas hendak ditekan, namun ia urungkan karena pagar rumahnya yang menganga menampilkan sosok seseorang, seseorang berperawakan besar seperti beruang, mematung di sana, syal panjangnya berkibar.

Itu Ivan.

.


.

C

(Gilbert masuk dan keluar dari arena karena Ivan.)

"kuharap Ludwig tidak melupakan sesuatu dan kembali kesini."

Suara lembut itu kembali terdengar setelah tiga bulan lebih hilang dari tangkapan indera. Gilbert mengusap wajah. Ia tidak siap.

"atau ia akan membunuhmu." Gilbert berseru lemas. "kemari, kita bicara di dalam."

Ivan Braginsky duduk tidak jauh di depannya, terjegal oleh meja pendek berbentuk lingkaran yang tidak menyediakan banyak persembahan; toples-toples kue dan permen, dua cangkir teh, sebuah vas kecil dengan bunga imitasi, dialasi taplak rajutan warna merah tua.

Tidak ada vodka.

Tidak boleh ada vodka.

Tahu Gilbert tidak akan mencuri start seperti biasanya, Ivan membuka obrolan; "bagaimana kabarmu, Gil?"

Gil

"hmm, awsome." Gilbert terkekeh. "ada apa?"

Ivan sama tidak siap sepertinya, Gilbert tahu itu. Tujuh belas tahun ia bersama pria itu, tujuh belas tahun ia mengenal pria itu. Ia terlalu tahu.

"kita masih perlu bicara." Ivan melonggarkan syal yang mencekik lehernya. "kita belum selesai."

Netra violet memaksa netra berma menatap balik. Gilbert tidak gentar, ia memang tidak siap, tapi ia sudah menerima, sejak awal. Obrolan itu disenyap sebentar. Dua aktor yang terlibat sibuk dengan persiapan masing-masing, sibuk merekam wajah satu sama lain, sibuk menerka apa yang akan terjadi, dan sibuk mengingatkan diri bahwa mereka harus menghadapi ini.

"akan kudengarkan." Gilbert menarik napas. Nada bicaranya gemetar, sial, ia benar-benar tidak ingin ini.

Netra violet Ivan menggelap, sendu. "aku akan memutus bonding ku dengan Wang Yao."

(Acara puncak pada panggung dinamika adalah bonding. Menyatunya alpha dan omega dalam satu ikatan kuat, sakral, dilakukan melalui proses mating –(bercinta, menggigit tengkuk, feromon yang menyatu) –itulah yang Gilbert baca dan ketahui dari adik iparnya, Veli. Pemain tidak bisa melakukan itu terhadap penonton. Ivan tidak bisa mating dengan Gilbert.)

"aku tidak kenal Ivan Braginsky yang lari dari tanggung jawab." Gilbert menjawab dingin.

"aku memang tidak pernah lari, tapi kali ini aku akan lari." Ivan memajukan badannya ke depan. "kita tidak bisa berpisah, Gil."

"kita harus." Gilbert melipat dua tangan di bawah dada. Pria itu menghela napas. "kita harus."

"aku akan membicarakan ini pada Wang Yao."

"tidak, Ivan. Bonding tidak bisa diputus kecuali salah satu dari kalian, dari dua pemain, mati."

"Wang Yao tidak perlu mati untuk itu."

Gilbert menaikkan alis. "verdammt, kau mau mati?"

"bonding bisa diputuskan lewat operasi." Ivan menutup bibirnya ketika mengatakan itu. Ujung bibir Gilbert tanpa sadar berkedut, tahu bahwa Ivan membicarakan sesuatu dengan resiko yang besar.

"efek samping?" Gilbert tidak sabar. "pasti ada efek samping dari pemutusan bonding itu, kan?"

Kali ini, Ivan tidak langsung menjawab. Pria berdarah Russia itu memejamkan mata, meremas syal, lalu menghela napas. "omega tidak bisa ditandai alpha lagi."

Gilbert menahan diri untuk tidak menggebrak meja.

"dimana otakmu, Braginsky? Tidak, tidak. Dimana hati nuranimu?"

"kita tidak bisa berpisah, Gil."

Gibert lepas kendali. Pria itu berdiri, telunjuknya mengacung pada ujung hidung Ivan.

"kau, kau." Pria bersurai putih salju itu terpatah-patah, ia benar-benar marah. "kau menyuruh omega yang kau gigit, yang kau klaim, untuk memutus bonding? Kau meminta omega itu untuk menjadi solo selamanya?! Kau sadar apa yang kau minta? Kau menempatkan Wang Yao pada bahaya besar!"

Ivan menukik dua alisnya tajam. Pria itu sangat ingin menyangkal, tapi ia paham Gilbert belum selesai.

"Jika Wang Yao tidak bisa lagi ditandai, ia tidak akan punya soulmate. Jika ia tidak punya soulmate, feromonnya akan terus ada, mengundang alpha-alpha itu, pemain-pemain itu, untuk datang dan bermain bersamanya. Sejuta persen aku yakin Wang Yao tidak mau itu terjadi. Wang Yao ingin aman dengan satu alpha saja."

"darimana kau tahu?" Ivan tidak bisa mengontrol diri untuk tidak memotong.

"karena aku awsome." Gilbert masih berdiri, namun telunjuknya tidak lagi mengacung. Dua tangannya terkepal.

"awsome, awsome, awsome. Hentikan omong kosongmu dan dengarkan aku baik-baik!" wajah Ivan mulai memerah, pria itu marah. "aku melakukan ini semua karena aku mencintaimu! Aku tidak ingin kita berpisah, kau paham itu, mr. awsome?"

"Hah!" Gilbert tersenyum sarkas, tangan kirinya menepis udara. "jika kau mencintaiku, kau tidak akan tidur dengan Wang Yao."

"itu karena kau tidak mau kusentuh selama setengah tahun, SETENGAH TAHUN!" Ivan berdiri, syal nya dilepas. "Kau tahu betul jadwal rut ku, birahiku, hasratku padamu, tapi kau tetap menolak kusentuh tanpa alasan yang jelas! Apa kau pernah mengatakan kenapa kau tidak ingin bercinta denganku, hah? Kau bosan? Kau menemukan yang baru? Kau lelah denganku?"

"benar, aku lelah denganmu." Gilbert menjawab cepat. Ivan terperangah, kehilangan kata-kata.

"kau tidak lagi mencintaiku?" Ivan bertanya pelan, kembali duduk. Pria itu menunduk dan mengusap wajah. Ia gemetar.

Gilbert tidak menjawab, mengalihkan pertanyaan. "kau sudah bonding dengan Wang Yao. Bermainlah bersamanya."

"jawab aku, Gilbert Braginsky."

"Gilbert Beilschmidt."

"persetan Beilschmidt, adikmu Ludwig yang terlalu ikut campur, apa-apaan dia itu? Brocon?"

Nada Gilbert merendah drastis. "jangan libatkan adikku dalam masalah ini."

Ivan terkekeh. "apa? Kau juga brocon ternyata."

"dimana akal sehatmu, Braginsky?"

"kau tahu dari dulu aku tidak pernah suka Ludwig. Dia terlalu menempel padamu. Dia terlalu peduli padamu. Mari bertaruh, dia pernah memintamu berpisah dariku?"

Netra berma Gilbert menyempit.

"benar, kan?" Ivan menuntut. "hah." Helanya keras. "duduk, Gil. Kau tidak pegal berdiri terus?"

"ya, ya. Aku pegal." Gilbert akhirnya duduk, mengusap dua dengkulnya singkat. "Mari kita selesaikan, Ivan."

"ya, selesaikan." Ivan menjawab cuek. Ia meminum tehnya. "selesaikan lalu kita akan menikah."

"kita tidak akan menikah. Kita selesai, dan kau bermain bersama Wang Yao, selamanya."

"kau tidak bisa memutuskan sepihak, Gil."

"kau datang kemari untuk berdiskusi, bukan?" Gilbert mengoreksi. "atau jangan-jangan kau kesini hanya untuk memberi tahuku rencanamu, tanpa mendengarkan pendapatku sama sekali?"

"jika pendapatmu adalah untuk berpisah, maka tidak."

"hahaha." Gilbert tertawa. Pria itu menaikkan sebelah kakinya arogan. "kalian, para pemain, memang selalu egois."

"berhenti menyebutku pemain, Gilbert. Hentikan semua perumpamaan konyolmu itu, pemain, bermain –dan apa?" Ivan mendekatkan telinga, sarkas. "oh, benar, panggung dinamika." Jawabnya sendiri.

Gilbert tidak menimpali. Ia benar-benar tersinggung.

"kenapa tidak menjawab?" Ivan bertanya.

"lalu apa kami bagimu? Wang Yao, omega itu, apa dia bagimu?" Gilbert menggigit bibir. "hanya karena kau adalah kasta tertinggi dalam dinamika ini, kau berhak untuk memutuskan apa yang kau ingin? Apa kau mempertimbangkan bagaimana yang orang lain rasakan, apa yang akan orang lain alami, pernahkah kau mempertimbangkan itu?"

"aku hanya mempertimbangkanmu, Gilbert. Hanya kau."

"dari sinilah aku tahu bahwa kita harus berpisah." Gilbert menegaskan suaranya. "akhir, Ivan."

"BERHENTI BILANG OMONG KOSONG DAN TURUTI RENCANAKU!" Ivan meledak. "bukan, kau mundur bukan karena kasihan pada Wang Yao, atau ingin aku menjadi pria yang bertanggung jawab. Aku kenal kau tujuh belas tahun, Gilbert. Aku tahu kau sangat mencintaiku, sampai kau rela kita berpisah."

"hah?" Gilbert menaikkan dua alis, keringat mengalir dari pelipisnya.

"kita pernah berhenti seks karena kau pingsan dan masuk rumah sakit ketika berusaha mengimbangi rut ku. Aku tidak bisa membuatmu menderita, jadi aku mulai memakai obat penekan rut dan ketergantungan. Aku tidak menyadari efek samping obat penekan itu sampai pada suatu malam, kita akan seks, dan aku tidak mau ereksi. Aku impoten."

Gilbert menahan napas. Matanya mulai berkaca-kaca.

"lalu kita konsultasi ke dokter, dokter sialan yang mengatakan bahwa satu-satunya jalan untukku bisa ereksi lagi adalah menghirup feromon omega dan seks dengan mereka." Ivan mengeryitkan alisnya semakin dalam. "lalu kau mulai berpikiran jauh, berpikiran aneh-aneh, kau tidak mau aku terus impoten, kau tidak mau aku menderita, maka kau mulai menjalankan rencana berpisahmu."

Gilbert mengepalkan kedua tangannya erat. Ia tidak bisa menyangkal.

"kau masih memikirkan kemungkinan kita menikah tanpa ada seks, kau sudah memikirkannya. Tapi kau langsung menolak ketika tahu bahwa efek samping dari alpha yang tidak seks adalah memperpendek usia hidup mereka sebagai akibat dari tidak seimbangnya fungsi tubuh dan –persetan, aku tidak mau tahu!." Ivan menarik napas sejenak, suaranya sudah serak. "Panggung dinamika itu, yang sering kau sebut-sebut, hanyalah hukum alam sialan. Aku bisa hidup denganmu, Gil. Tanpa seks. Aku bisa hidup asalkan itu denganmu." Lanjutnya.

"Ivan.."

"kau hanya membuatku makin mencintaimu, Gil. Kau salah besar."

Gilbert tidak bisa menahan air matanya. Pria itu terisak, memegangi kepalanya, menjambak surai saljunya erat.

Ivan berjalan mendekat. "tidak, jangan jambak rambutmu seperti itu, Gil –"

"LALU BAGAIMANA DENGAN WANG YAO?" Gilbert berteriak. "Kau seks dengannya, kau bahkan menandainya, apa itu yang kau katakan hukum alam sialan?"

Ivan terdiam.

"pada akhirnya kau tidak bisa mengalahkan hukum alam itu, Ivan." Gilbert tersenyum. "kau tetap bereaksi pada feromon omega, kau tetap mengikuti instingmu untuk menandai mereka, kau tahu bahwa hanya omega yang dapat bermain bersamamu."

Gilbert meremas kemeja yang dipakainya di bagian dada. Nyeri.

"aku hanyalah penonton, Ivan. Kita tahu itu lebih dari siapapun. Sekeras apapun kau ingin bermain bersamaku, aku hanya penonton, dan itu tidak akan berubah."

Gilbert berdiri dari duduknya, pria itu berjalan, mondar-mandir, tangannya bergerak, wajahnya merah.

"aku tidak bisa hidup denganmu. Aku tidak bisa hidup dengan rasa bersalah yang menghantui. Kau yang membawa Wang Yao dalam masalah ini. Kau harus bertanggung jawab."

Ivan hanya berdiri kaku dan menyaksikan kekasihnya itu bicara. Dua tangannya terkepal erat, pemilik surai beige itu mulai terisak.

"jika misalkan kita bersama, dan kau memutuskan bonding dengan Wang Yao, lalu apa? Toh, jika bersamaku kau tetap ketergantungan pada pil penekan itu, kau akan impoten, dan usiamu akan makin pendek. Kau pikir aku ingin melihatmu mati perlahan karena berusaha bertahan bersamaku? Haha, neraka macam apa yang kau berikan." Gilbert tertawa frustrasi, kembali menjambak surai saljunya. Gilbert berhenti, menghadap pada Ivan, dan berteriak. "BENAR, AKU SANGAT MENCINTAIMU, AKU RELA KAU BERSAMA YANG LAIN." Gilbert terengah. "asalkan kau hidup, Ivan. Lebih dari cukup untukku."

Ivan ambruk, pria itu berlutut, wajahnya menunduk. "demi Tuhan, Gilbert, aku sangat mencintaimu... "

"selama aku tahu itu, aku baik-baik saja, big guy." Gilbert terkekeh diantara tangisnya. Ia hampiri pemain kesukaannya itu, mengusap punggung lebarnya, mengecup keningnya singkat. "kita selesai, Ivan." []

.


.

D

Siap tidak siap, inilah yang terjadi padanya.

Gilbert menarik napas panjang. Netra bermanya sempat berkaca-kaca, namun pria itu segera menepuk wajahnya keras lalu meyakinkan diri bahwa ia akan baik-baik saja. Maka ia ketuk pintu rumah itu; ia ketuk sebanyak tiga kali, kemudian mendengar langkah kaki, lalu pintu berdecit dan pemain satu itu amat terkejut melihat sosok Gilbert yang tersenyum pedih.

"yo, Wang Yao!"

Wang Yao, omega cantik berbadan kecil dengan rambut cokelat panjang itu menyambutnya dengan sangat hati-hati. "Gilbert? S-silahkan masuk aru."

Ia dibawa masuk ke dalam sebuah rumah yang sederhana. Rumah itu hangat, tidak terdapat banyak barang-barang disana, sangat minimalis, dan mereka duduk berhadapan di depan perapian yang menyala-nyala. Gilbert merasakan deja vu; teringat perbincangannya dengan Ludwig beberapa waktu lalu.

Wang Yao menyuguhkannya secangkir cokelat panas yang tidak begitu manis dan sedikit pahit. Gilbert tersenyum, senang hati menerima dan meminum cokelat itu. Atmosfer awkward langsung menyerbu. Wang Yao terlihat sangat bingung, masih kaget, seperti enggan bertemu.

Tapi Gilbert harus melakukan ini.

"Aku tidak akan basa basi, kesese." Gilbert menaruh cangkir, terkekeh kecil. "sebelum itu, kau terlihat sangat menawan, Wang Yao."

Gilbert tidak bermaksud sarkastik, tapi ia mengatakan hal yang sesungguhnya. Wang Yao memang cantik; pria itu menawan, rambutnya lurus, halus, kulitnya kuning langsat, tubuhnya langsing, meskipun sedikit mungil. Matanya besar, cokelat dan jernih, begitu polos, dan manis. Tipe Ivan sekali, Gilbert mendengus dalam hati.

"a-aiya, kau ini, bisa saja..." Wang Yao tersenyum kikuk. "t-terima kasih.."

Gilbert tersenyum santai. "tidak usah tegang begitu." Si netra berma bersandar dan melipat kaki. "aku kesini untuk mengucapkan selamat tinggal padamu."

"e-eh?" Wang Yao terperangah. "kau.. mau kemana?"

"tidak kemana-mana." Gilbert menjawab asal sambil mengedikkan bahu. "Yang pasti, aku tidak akan muncul di hadapanmu, atau Ivan lagi."

Karena ia tidak berani bertaruh pada ekspresi apa yang Wang Yao tampilkan, maka Gilbert betah menatap nyala api pada perapian di dekat mereka. Api itu berwarna oranye, sedikit biru, lalu terpoles merah pada bagian dasar tempat kayu-kayu terbakar. Hmm, persediaan kayu di rumahnya habis, Gilbert melantur dalam hati.

"aku benar-benar minta maaf..." Wang Yao terisak. Gilbert kaget sendiri.

"e-eh? K-kenapa kau menangis –"

"kau dan Ivan berpisah karenaku, bukan?" Wang Yao menatap Gilbert pilu. Gilbert justru terpana pada wajah menangis omega itu yang justru sangat, sangat –

Mengundang –

"aku akan memutus bonding dengan Ivan!"

"h-hah!" Gilbert tersadarkan dari lamunannya. "t-tidak usah!" Gilbert mengibas-ngibaskan tangan di udara. "aku sudah membicarakannya dengan Ivan, dan kami sudah selesai."

Wang Yao terdiam cukup lama. "... Ivan setuju?"

".. oh? Ya, ya, dia setuju." Gilbert tertawa kikuk.

"apa kau yakin, Gilbert? Kau baik-baik saja dengan itu?"

"tentu saja tidak." Gilbert menjawab cepat. "sakit loh, hahahaha."

Wang Yao mengeryitkan alis. "Gilbert..."

"tidak apa-apa, tenang saja. Semuanya sudah terjadi, kita harus menghadapi ini." Gilbert tersenyum. Diraihnya tangan omega itu, tangan yang lebih kecil darinya, tangan yang gemetar. "tidak apa-apa, Wang Yao. Ivan akan bertanggung jawab."

"tapi –"

"oh, dan tidak usah merasa bersalah padaku atau apa, tidak usah." Gilbert mengecup punggung tangan omega itu, hangat. Wang Yao terpana. "memang salahku yang masih ikut bermain padahal aku bukan pemain. Aku penonton, Wang Yao."

Penonton? –dapat Gilbert tangkap ekspresi tidak paham dari omega itu meskipun sekilas.

"b-bagaimana kalau hidup bertiga?" Wang Yao mencicit.

Gilbert mengedipkan mata berkali-kali. Lalu tertawa terbahak-bahak.

"hahahaha, apa-apaan itu? Kenapa kau lucu sekali, Wang Yao!"

Wang Yao kebingungan. "a-aku serius! Kenapa kau malah tertawa!"

Gilbert mengusap titik air di ujung kelopaknya. Ia tepuk bahu omega itu singkat. "aku tidak suka berbagi, bung."

Wang Yao terdiam.

"hey! Sudahlah! Tidak usah sedih begitu!" Gilbert nyengir lebar. Pria itu berdiri, siap pamit undur diri. "aku tahu kau mencintai Ivan, jadi aku rasa semuanya akan baik-baik saja."

Si surai salju berjalan menuju pintu, Wang Yao hanya mampu berdiri tanpa mengantar tamunya keluar pintu. "Gilbert..."

"tolong jaga dia baik-baik, da."

Pintu itu tertutup rapat, pelan, dan hati-hati. []

.


.

E

Dua hari setelah kedatangan Gilbert, Ivan Braginsky tahu-tahu sudah berdiri di depan pintu ketika Wang Yao bersiap untuk pergi berbelanja pada suatu pagi.

Omega itu meloncat kaget. "I-Ivan!"

Alpha berbadan besar itu tersenyum. "pagi, Wang Yao."

"o-oh.. pagi aru.." Wang Yao memundurkan langkahnya sedikit. "a-ada apa?"

"Hm?" masih tersenyum, Ivan menampilkan wajah polosnya seperti biasa. "kau mau kemana?"

"e-eh? Oh.. aku pergi belanja.."

"kutemani, da."

"eh?"

Tas belanja yang dijinjing Wang Yao direbut paksa. Ivan berbalik, berjalan di depannya. Pria itu berbalik sebentar, senyumnya amat lebar sampai-sampai matanya menyipit kecil.

"aku tidak akan membiarkanmu kelelahan, da. Kau sedang hamil, kan?"

Wang Yao terbelalak. "s-sejak kapan kau –"

"aku tahu, da." Ivan berbalik lagi. Ada bau kehidupan baru yang menguar dari tubuh omega itu. Darah dagingnya. "aku tahu." []

.


.

F

Sudah dari dulu, sudah dari ketika jam biologisnya ditentukan, Gilbert tidak pernah sekalipun berniat (atau ingin) menjadi pemain.

Gilbert adalah penonton.

Gilbert ditakdirkan menjadi penonton, dan itu tidak akan berubah.

Bisa saja ia egois dan memutus bonding dua pemain untuk menyisakan podium pemain lain pada dinamika itu. Bisa saja ia memaksakan diri untuk bermain disana, tetap bermain bersama Ivan.

Tapi ia tidak bisa menang melawan suatu nyawa tidak bersalah. Ia tidak bisa.

Gilbert tidak bisa.

Gilbert tidak berhak.

(karena ia adalah seorang penonton, bukan pemain).

[]

.

.

.

.

.

.


.

owari

.

AN :

AAAAaaAAaaaaAAAaaaaaAAAAA

Awali berkarya otp dengan angst-angst, saya banget. Yaa meskipun ini pasaran, si. Putus gegara satu pihak hamilin, hahah. Jadi angst nya biasa aja.

Hadeh duo ini emang gabisa dibiarin gitu aja di Hetalia. Combine mereka mpsh sekali. Kapel ini yang bikin saya selingkuh dari MatsuHana. Kadang kepikiran di-incest-in aja sama Ludwig haha, jadi cinta segitiga gitu.

Meskipun sebenernya saya paling gasuka cinta segitiga, sih. Haha

Vielen Dank!

ore