Haikyuu! (c) Furudate Haruichi
[no profit gained from this fanfiction]
WARNING : angst, boy x boy
.
.
Selesai
15 tahun tidak tatap muka, Tooru datang dengan kabar bahwa ia sudah menjadi seorang Ushijima sekarang.
Oh, begitu. Respon Iwaizumi, berusaha bangkit dari shock, dibantu tabokan keras Matsukawa tepat setelah Tooru menunjukkan tangan kiri yang bercincin. Bahkan Hanamaki sampai tersedak hebat, memancing ekspresi apakah aku salah? dari Tooru, kemudian Matsukawa menenangkan kekasihnya itu dengan segelas air dan kecupan di kuping. Iwaizumi menonton adegan picisan tersebut. Seketika dirinya berpikir, barangkali ia harus copot kuping agar tak perlu mendengar kabar yang bikin jantungnya serasa mati. Macam kabar barusan. Sementara Tooru berseru bahwa ia ketinggalan berita, tentang Hanamaki dan Matsukawa yang sudah bersama sejak lama.
Tooru dan Ushijima memutuskan untuk bersatu ketika keduanya tidak sengaja bertemu di Kyoto sebagai rekan kerja. Klise sekali, Hanamaki berkomentar. Matsukawa bertanya dengan alis naik komikal, kenapa Tooru bisa sampai jatuh padahal pria perlente itu menaruh ketidaksukaan yang besar pada Ushijima saat mereka masih di bangku sekolah. Iwaizumi menimpali dalam hati, teringat pepatah bahwa benci bisa jadi cinta, begitupun sebaliknya.
"Mungkin seperti, benci yang berubah jadi cinta? Waka-chan pernah bilang begitu padaku."
Wah, Waka-chan. Iwaizumi tanpa sadar tertawa. Perutnya tiba-tiba mulas, napasnya berat. Tiga manusia selain dirinya itu terheran-heran. Utamanya Tooru, yang segera bertanya; Iwa-chan kau baik-baik saja? –
"Panggil aku Iwaizumi, Ushijima."
Reuni itu mendadak senyap. Baik Hanamaki maupun Matsukawa lebih memilih diam dan tidak terbawa urusan, karena itu merupakan hal terbaik yang bisa mereka lakukan. Posisi Iwaizumi sebagai teman masa kecil tidak akan pernah diganti. Akan terus begitu, hingga Tooru dan Ushijima bahagia sampai masa tua, hingga Iwaizumi masuk ke liang lahad.
Iwaizumi tertawa lagi, menenggak gelas terakhir. Pria itu merasa baik-baik saja. Ia sudah tak merasakan apa-apa. Ringan. Semua cemas dan rindu yang tersimpan selama 15 tahun telah ia lepaskan. Oikawa Tooru sudah bukan miliknya.
"Aku harus pergi."
Tooru ikut berdiri. Ingin protes dan memaksa Iwaizumi betah lebih lama. Matsukawa melambaikan tangan.
"Hati-hati."
"Tentu."
Kaki-kakinya bergetar hebat. Iwaizumi Hajime menengadahkan kepala, napas diembuskan keras-keras. Salju berjatuhan lebat menimpa kepalanya. Terasa dingin benar. Namun rasa dingin itu kalah jauh dengan panasnya air mata, yang segera berhamburan setelah Iwaizumi merasa cukup menahan diri. Ia sudah tidak dekat lagi dengan lokasi dimana manusia terkasihnya berada, sebuah kedai ramen tempat mereka sering jajan dahulu. Tidak, jangan. Iwaizumi memohon kepada diri sendiri agar tidak mengingat masa lalu. Reuni barusan menamparnya keras-keras.
Iwaizumi menatap sayu pada siluet gunung nun jauh disana; yang sebenarnya tidak kelihatan, namun ia bisa melihatnya. Siluet itu berwarna putih bersih, tertimbun milyaran salju, yang barangkali esok akan Iwaizumi datangi.
Karena Iwaizumi berniat meleburkan diri disana. Akhir dari segala. []
.
Vielen Dank,
ore
