Haikyuu! (c) Furudate Haruichi

[ no profit gained from this fanfiction ]

Iwaizumi Hajime x Oikawa Tooru

.

.

.

.

Iwa-chan menimbang-nimbang. Pergi bekerja atau tetap di rumah.

Heran benar. Jika Oikawa keukeuh menyuruhnya pergi kerja, maka keluhan sakit pinggang atau pening kepala tidak usah dibisik-bisiki sampai kuping Iwaizumi merah hebat. Mantan setter terbaik itu masih kuasa membuat sarapan, meskipun bacon masakannya berkulit hitam gosong tanda kelebihan matang.

Ketika Iwaizumi menyantap sarapan serba hitam, Oikawa banyak menghela napas. Lelaki yang sudah ia kenal lebih dari 20 tahun itu nampak ngantuk, namun memaksakan diri untuk tetap terjaga sampai Iwaizumi memberi cium kecup aku berangkat. Gundah gulana Iwaizumi rasakan. Berat rasanya jika harus meninggalkan rumah disaat Oikawa tidak sehat. Maksudnya; bukan Iwaizumi yang jadi kelewat sayang atau bagaimana –sedang baik-baik saja teledornya tidak main, apalagi kondisi sakit seperti sekarang. Bisa-bisa rumah mereka kebanjiran karena air keran lupa dimatikan, sekalian kebakaran dahsyat ia bayangkan agar ada alasan untuk tetap di rumah.

Iwaizumi masih bingung memutuskan, bahkan hingga Oikawa mengantarnya sampai pintu utama. Diliriknya sang terkasih yang menyenderkan badan pada tembok. Rasa ngilu menyerang dada, sakit hati tak kuasa. Iwaizumi menarik napas berat. Ia taruh tas kerja di samping rak sepatu, direngkuhnya tubuh tinggi itu dalam pangkuan. Oikawa kaget.

"Iwa-chan?"

"Aku tidak kerja hari ini."

Oikawa mendorong dadanya lemas. Wajahnya merah hebat.

"Kenapa? Kau harus bekerja. Aku baik-baik saja."

Iwaizumi memajang muka sangsi. Oikawa tidak melawan ketika penggagahnya itu mendekatkan kepala, membubuhi wajahnya dengan kecupan singkat. Bau bacon gosong membekas. Pria dengan nama kecil Tooru itu menganga.

"Sudahlah." kata Iwaizumi, enggan berdebat.

Pada akhirnya Oikawa tidak berkata apa-apa, mengikuti langkah Iwaizumi yang menjejaki ruang kamar. Oikawa hanya menonton aktivitas kekasihnya disana; mulai dari melepas jam tangan, sabuk celana, seluruh fabrik formal yang melekat, hingga berganti menjadi celana pendek dan kaus santai. Iwaizumi menatapnya. Nampak sedih karena tak ada komentar atau ocehan yang mengudara seperti biasa. Namun Oikawa hanya sedang jatuh cinta. Wajah Iwaizumi terlihat berlipat-lipat tampan.

"Kau harus tidur."

Tubuh lemas dan panas Oikawa didorong lembut, berbaring nyaman di atas ranjang tempat mereka terlelap bersama. Iwaizumi berdebar kaget ketika Oikawa justru terisak-isak, meringkukkan badan dan menarik tubuhnya agar tidur bersama.

"Kenapa? Ada yang salah?"

Wajah Oikawa diangkat. Hidung mereka bersinggungan.

"Hanya senang saja, Iwa-chan ternyata sangat mengkhawatirkanku."

Hela napas lega Iwaizumi embuskan. Dengan sigap pria itu mengelapi air mata dan ingus kekasihnya menggunakan lengan, kemudian membawa tubuh itu merapat.

"Bodoh." Iwaizumi berbisik, mencium kuping dan kening belahan jiwa. Oikawa memejamkan mata.

"Iwa-chan, cium aku?"

Mungkin, itu adalah permintaan yang kurang tepat. Tidak, dengan mata berkaca-kaca dan pipi sewarna tomat, rambut basah menempel juga napas yang berat. Iwaizumi mengusap wajah gusar.

Tangan Iwaizumi merayap pada pinggang yang terasa panas dari balik selimut. Oikawa mengerjapkan mata.

"Iwa-chan?"

"Pinggangmu sakit, bukan?"

Leher dan kuping Oikawa terjalari semburat merah. Iwaizumi segera mencium berikut menghisapnya.

"ngh . ."

"Kau harus tidur."

Oikawa tertawa kecil. Ia mengaitkan kaki-kakinya pada pinggang dan perut Iwaizumi.

"Maaf, Iwa-chan."

Iwaizumi menghela napas.

"Tidak apa-apa."

Iwaizumi harus pergi ke kamar mandi setelah Oikawa terlelap. Mungkin ia bisa menagih saat kekasihnya itu sembuh kelak. Barangkali nanti malam. Itupun jika Iwaizumi tidak cukup hasrat untuk menggagahi saat Oikawa pingsan. Jangan sampai. Iwaizumi memijat pelipis. Harusnya ia pergi kerja saja. Ketimbang resah dengan kondisi celana basah. []

.

.

..

.

.

Vielen Dank,

ore