YOU ARE NOT MY WIFE [ChanBaek GS]


xxx

Park Chanyeol

Byun Baekhyun

xxx

#ig : ddnoona #wattpad : dnoonaa

xxx

[Mohon maaf, Typo bertebaran]

Tes... Tes... Tes...

Tetes air hangat yang membasahi tubuh Chanyeol kini mulai berkurang. Nyatanya air hangat tak cukup menyegarkan pikirannya. Cuplikan beberapa kejadian beberapa hari yang lalu masih berkelebatan dalam pikirannya dan membuatnya kesal juga menyesal dalam waktu yang bersamaan. Pertanyaan-pertanyaan mengapa ia harus menikah dengan cara seperti ini atau pertanyaan mengapa ia tak bisa menganggap acuh keputusannya dan menjalaninya dengan ikhlas seperti apa yang selalu ia kukuhkan dalam diri. Bahwa menyesal tidak akan menyelesaikan masalah.

Dor.. Dor.. Dor..

"Hu uk'.. Hu uk'... S-siapapun – hu uk'... d-di dalam tolong keluar Hue'..." Dor.. Dor.. Dor..

Sungguh, isi perut Baekhyun akan memuntahkan segalanya jika ia tidak menahan mulutnya dengan tangannya. Dan ayolah, mengapa orang di dalam toilet ini tak segera membuka pintunya.

"Hhhh~" Mengerti dari maksud wanita itu, Chanyeol menghela nafas malasnya sembari mengambil Bathrobe dan membukakan pintu.

"H- hm- hmmm—" Baekhyun mencoba memberitahu Chanyeol lewat delikkan matanya, mengisyaratkan Chanyeol untuk segera keluar. Sehingga pria itu berjalan keluar dan tak lama pintu toilet tertutup kencang.

Huuuueekkkk... Hueeekkkk...

Chanyeol hanya menatap datar pintu yang baru saja tertutup itu. Wanita itu- Istrinya.

-MW-

"Aku sudah memesan full breakfast. Kau bisa memakannya disini dan aku akan pergi setelah ini" Ujar Chanyeol di depan cermin.

Baekhyun yang baru saja keluar toilet baru saja menyeka mulutnya yang masih terasa masam."Kau? Mau kemana?"

"Aku kira tidak kita tidak akan mencampuri urusan pribadi masing-masing, Nona Byun?"

"Aku hanya bertanya, lagi pula bagaimana kalau ada yang bertanya. Aku harus jawab apa?"

"Bukankah kau ahli dalam berbohong?" Chanyeol mengejeknya dari pantulan cermin di hadapannya. Membuat Baekhyun geram.

"Baiklah. Baiklah. Aku tidak akan bertanya." Baekhyun terlihat acuh dan berjalan menuju tempat tidur lalu kembali menenggelamkan wajahnya diantara batal.

Sekelebat ingatan semalam berputar-putar di otaknya. Kemudian Baekhyun mengangkat kepalanya dan mulai meneliti pakaian yang dipakainya. Bathrobe?

"HAAAAHHH?!" Baekhyun tersentak dan menatap horor pria yang sampai saat ini masih setia di depan cermin. Hanya melirik sebentar tanpa sedikit minat lalu kembali melanjutnya acara Skin Care time nya.

"CHANYEOL?!" Baekhyun melompat dari tempat tidur dan berjalan cepat menuju Chanyeol. "APA YANG KAU LAKUKAN DENGAN PAKAIANKU SEMALAM?" Teriaknya.

"Memberikannya pada petugas hotel untuk membersihkannya"

"Hah?" Mata Baekhyun melotot bingung. "Tidak- Tidak. Maksudku bagaimana bisa kau melepaskan pakaianku tanpa ijin dariku?"

Kini Chanyeol menghadapnya. "Semalam kau mabuk dan gaun itu sama sekali tidak membantu dan masalah siapa yang menggantikan pakaianmu, mungkin itu pertanyaan yang menurutmu penting?"

Deg

"Y-ya itu maksudku." batin Baekhyun.

"Kalau kau sudah tau, kenapa tidak mengatakannya dari tadi. Kenapa harus bertele-tele?" Baekhyun berkacak pinggang menunggu jawaban Chanyeol.

Seketika Chanyeol mengikis jarak diantara mereka "Karna menurutku, TIDAK PENTING"

"YAAKKK!" Baekhyun bagaikan terbakar api, wajahnya merah padam dan tangannya sudah terkepal. Ingin rasanya meninju Chanyeol tetapi lelaki itu terlebih dahulu berpaling.

"Aku akan pergi, sisanya kau yang urus. Bukankah kau ingin membalas budi kejadian semalam?" Ejek Chanyeol diambang pintu sembari menggunakan sepatu.

Nyatanya berhasil membuat Baekhyun mendengus keras dan itu cukup mengusir kebosanan Chanyeol. Mungkin menjahili wanita bar-bar itu akan cukup menghiburnya. Pikir Chanyeol.

-MW-

Tidak mungkinkan Baekhyun menikmati masa 'Honeymoon' nya seorang diri di dalam kamar hotel.

"Okey, aku harus melakukan sesuatu." Baekhyun tersenyum girang sembari mencari-cari ponselnya di tempat tidur.

"Pertama-tama aku harus memesan baju untuk keluar tapi apa?—"

"Oh.. Sepertinya aku harus mencoba merk lain selain Gucci. Channel mungkin? Kelihatan tidak terlalu buruk."

Monolognya saat melihat-lihat katalog salah satu online shop. Kemudian ia mengangkat bahunya acuh pada pemikiran bahwa ia telah mengkhianati Gucci. Lucu memang, merk pakaian yang sering digunakan Kai dan otomatis menjadi kesukaannya tapi Baekhyun berpikir bahwa mengganti merk pakaian bukanlah hal yang buruk kali ini. Lagi pula, hampir semua koleksi Gucci sudah pernah ia pakai.

Berbicara tentang Kai, bukankah tidak heran jika artis besutan SM Entertaiment tersebut pernah menjadi kekasihnya. Itu bukanlah hal yang sulit kan?

Dan tanpa pikir panjang Baekhyun memesan pakaian tersebut di salah satu online shop yang menjadi salah satu distributor di Korea. Niat hati supaya ia segera menggunakan pakaian itu dengan pengiriman same day.

Tring.. Tring...

"Service room?" Gumam Baekhyun saat kamarnya berbunyi. Kemudian Baekhyun beranjak dari tempat tidur menuju ruang depan.

Krieeett... pintu terbuka dan – Ia tak terkejut dengan tamunya.

"Ah kau?" Baekhyun sudah memprediksikan ini. Benar saja, Kai mendatanginya – Seharusnya Baekhyun tidak perlu membayangkannya tadi.

Pria itu sudah rapi dengan kemeja putih dan coat coklat serta jeans biru muda. Sangat pas, jangan lupakan bingkisan bungan ditangannya.

"Chagiya~" Kai memeluk Baekhyun yang nampak malas dengan kedatangannya namun tak menolak.

"Bagaimana kau tau aku disini?" Tanya Baekhyun malas.

"Bukankah tidak sulit untuk menebak hotel disekitar gedung resepsimu dan kamar yang pasti akan dipesan oleh seorang pewaris Byun Group?" Kai melepaskan pelukkannya dan menatap wanitanya dengan sayang. "Aku merindukanmu~"

"By the way, aku – Tidak" Baekhyun menepis lengan Kai dan berpaling ke kamarnya lagi. Membiarkan srigala berbulu domba itu di ambang pintu dan ingatkan Baekhyun bahwa srigala berbulu domba dapat memanfaatkan sekecil apapun kesempatan di depannya.

Baekhyun berjalan menuju sofa dan duduk menghadap balkon.

"Suamimu kemana?" Kai melangkah menyusul Baekhyun sembari melihat-lihat isi kamar itu.

"Kurasa kau tidak bodoh. Oh ya, apa kau membawa rokok?" Tanyanya datar.

"Sure" Kai melemparkan bunga di tangannya terlebih dulu pada Baekhyun dan mengambil sebungkus rokok dan korek dari dalam coat nya. Lalu ikut duduk bersama Baekhyun.

"Mengapa kau datang kemari?" Tanya Baekhyun bosan saat menerima rokok pemberian Kai.

"Hanya berpikir kau akan bosan dengan suami yang mencampakkanmu, hmm?"

"Hhh~ Aku bersyukur kau tidak datang saat resepsi. Aku sendiri muak dengan diriku." Baekhyun mulai memantik korek dan menyalakan rokok.

"Hahaha.. Ayolah, aku yakin kau terlihat sangat cantik."

"Sejujurnya aku tidak ingin berakhir seperti ini. Kau tahu itu, Kai."

"Ya"

Baik Kai dan Baekhyun hanya menatap nanar pemandangan kota di hadapan mereka. Cuaca sudah mulai terik karna kini waktu sudah menunjukkan pukul 11.

Baekhyun membalikkan badannya menghadap Kai menatap pria itu dengan serius. Heran karena ditatap tanpa berkata apapun, Kai ikut membalikkan badannya.

"Mau berkencan?" Deg

-MW-

"Aku ingin mengatakan sesuatu" Finalnya.

Sudah lebih dari satu jam Chanyeol terdiam dan akhirnya ialah yang memutuskan untuk memulai terlebih dulu.

"Luhan—" yang dipanggilpun menegakkan kepalanya. "Aku meminta maaf atas perlakuan ayahku kepadamu, aku mewakili beliau meminta maaf atas segala ketidak baikkan yang kau terima. Aku pun ingin mengucapkan terimakasih karna kau telah menjadi bagian dari perusahaan. Dan aku-"

Hening—Chanyeol cukup sulit mengutarakan keinginannya. Sehingga ia meneguk ice coffee miliknya terlebih dulu.

"Aku meminta maaf padamu atas apa yang terjadi akhir-akhir ini dan tentunya membuatmu kesulitan. Seperti yang kau tahu, bagaimana keadaanku saat ini. Aku mohon lupakan apa yang pernah aku ucapkan padamu—"

"HAH?!" Luhan tak kuasa menahan keterkejutannya.

Bagi Luhan, Chanyeol boleh saja menjadi suami Baekhyun tetapi ia tak bisa melupakan apa yang pernah ia ucapkan pada Luhan karena setelah kepergian dan keterdiaman Chanyeol kata-kata itu menjadi menyemangatnya.

"Kau tidak bisa seperti ini Chan. A-aku—Bahkan aku- "

"Luhan~" Chanyeol melembut menenangkan Luhan, berjalan memutari meja dan duduk disamping Luhan. Mencoba memegang tangan Luhan dan membiarkan wanita itu dalam pelukkannya.

Chanyeol menyadari bahwa Luhan telah rapuh serapuh-rapuhnya. Bahkan kata-kata yang ingin Luhan sampaikan terdengar kacau dan terbata-bata sehingga wanita itu menangis sejadi-jadinya dalam pelukan Chanyeol.

"Aku sudah menikah Luhan~ Aku sudah memiliki kehidupan lain sebagai tanggung jawabku. Kau adalah kenangan terindahku tapi kau tahu bagaimana kerasnya diriku pada sebuah tanggung jawab. Maka itu aku menemuimu untuk bertanggung jawab atas apa yang aku katakan padamu. Aku tidak dapat menepati semua hal yang pernah aku ucapkan padamu karna ada tanggung jawab lain yang harus aku emban. Dan kau tau? A-aku—Aku pun terluka."

Keduanya pun saling mengeratkan pelukan, bertukar kesedihan dan kehangatan dalam sekali waktu.

7 tahun yang lalu.

Saat Chanyeol sedang menjalani program Bachelor nya di KAIST bergelut pendapat dengan sang dosen karena perbedaan pendapat. Luhan menjadi wanita yang turun dari barisan mahasiswa untuk berada disampingnya, ikut berpendapat hal yang sama dengan Chanyeol dalam sudut pandang yang berbeda.

Dan sejak saat itu, Chanyeol kerap kali bertemu dengan Luhan diperpustakaan. Mencoba berdebat dalam berbagai hal lalu saling mencintai. Chanyeol yang memutuskan untuk melanjutkan S2 dan S3 di London, sehingga mereka menjalani LDR yang cukup lama namun, keduanya memiliki tekad yang kuat dan saling mengingatkan. Apa yang Chanyeol katakan adalah apa yang selalu menjaga kesetiaan mereka berdua.

"Mari berjanji untuk menjaga dirimu untukku dan aku untukmu"

Sederhana. Namun, kuat.

-MW-

Sepanjang sore ini, Baekhyun dan Kai berjalan-jalan di tepi pantai. Menikmati deburan ombak yang terus menggelitik kaki mereka. Berjalan dari ujung sampai ke ujung lagi sembari menunggu sunset.

"Ku dengar, pernikahanmu karena perekonomian perusahaan suamimu?" Tanya Kai kemudian.

"Hmm~"

"Lalu apa untungnya apa bagi mu Baek? Bukankah ini sama sekali tidak menguntungkan."

"20 tahun lalu, Kai~" Mendengar hal tersebut Kai kembali menatap Baekhyun. "Karena 20 tahun lalu, saat inflasi terjadi dan ayahku tak dapat mempertahankan rumah kami. Disaat itu ayah Chanyeol yang merupakan sahabat ayahku, menampung keluargaku di Jepang. Saat itu Chanyeol sedang bersekolah di London jadi ia tidak terlalu tahu keberadaan kami di rumahnya."

"Biar aku tebak, jadi pernikahanmu karena hutang budi?"

"Sejujurnya hal ini berawal saat Chanyeol melakukan presentasi untuk perusahaanku, ayah menyukainya dan mengatakan kepada ayahnya untuk menikahkan aku dengannya. Tapi hal itu ditolak oleh Chanyeol dan agar Chanyeol menyetujui hal tersebut ayahnya mengaitkan semua itu dengan kondisi perusahaan saat ini."

"Lalu kau?"

Hening – Baekhyun terdiam.

"Kau tahu kan kalau aku mencintai ayah lebih dari apapun? Ayah tak pernah melarangku untuk minum-minum, pulang malam, ataupun bergaul dengan dunia malam. Ayah benar-benar memberiku kebebasan dan hanya bertanya tentang kesehatanku jika bertemu. Apa menurutmu aku sanggup membantah permintaannya?"

"Hhgh..." Kai menyeringai remeh saat mendengar hal itu. "Kau berkata seakan kau menceritakan orang lain."

"Aku serius Kai. Aku hanya ingin mengikuti keinginan ayah"

"Tanpa berdebat?"

"Tanpa berdebat."

"Tanpa pergi dari rumah?"

"Tanpa pergi dari rumah."

"Tanpa minum-minuman?"

"Tan—eugh... " Baekhyun terkejut lucu lalu terkikik sendiri saat mengingat hari dimana ia mabuk-mabukkan. "Untuk yang satu itu, aku tidak bisa untuk berhenti. Hahaha"

"Hahaha... dasar kau~" Kai menyentil gemas pelipis wanita di sampingnya itu.

"Kau kan tahu Kai, kebiasaanku yang satu ini"

"Maka dari itu aku bertanyan karna aku sudah lama bersamamu dan aku sudah hafal semua kebiasaanmu, Baek. keke"

Kai dan Baekhyun pun terkikik bersama sembari memandang sunset yang telah mengudara di langit megah. Begitu berwarna sayu nan hangat saat turun menuju pangkuan malam.

-MW-

Baekhyun baru saja membuka sepatunya saat kenop pintu kamar terbuka dan menampilkan Chanyeol telah berpakaian formal serba hitam.

"Kau- mau kemana?" Tanya Baekhyun heran.

"Ayahmu meninggal, Baek."

-TBC-

Hola hehe ^^'

Lama gak update gue kira banyak yang gak suka sama cerita ini. Apalagi kalau dibaca lagi, nih cerita umum banget alurnya. Gue sampe hapus draft cerita ini berkali-kali karna gak pede sama ceritanya dan gue mau minta maaf sama semua orang yang follow juga komen minta next tapi baru sekarang update.

Gue minta bantuan kalian buat review cerita ini. Tulis alasan lo, kenapa FF ini harus gue lanjutin? Makasih ^^