YOU ARE NOT MY WIFE [ChanBaek GS]


xxx

Park Chanyeol

Byun Baekhyun

xxx

#ig : ddnoona #wattpad : dnoonaa #ffn : dnoona

xxx

[Mohon maaf, Typo bertebaran]

Baekhyun baru saja membuka sepatunya saat kenop pintu kamar terbuka dan menampilkan Chanyeol telah berpakaian formal serba hitam.

"Kau- mau kemana?" Tanya Baekhyun heran.

"Ayahmu meninggal, Baek."

-MW-

DEG

"A- apa?" Seakan kelu dan tak berdaya mendengar Chanyeol berkata demikian. Baekhyun berjalan terseok-seok mendekati suaminya, mengguncangkannya beberapa kali.

"Apa kau bilang? KATAKAN SEKALI BAJ*NGAN!? KATAKAN SEKALI LAGI !? TIDAK MUNGKIN!? KAU BOHONG... KAU BOHONG PARK CHANYEOL... APA YANG KAU KATAKAN BOHONG hiks... hiks... hiks... " Tangan kecil Baekhyun terus menerus memukul dada Chanyeol tak percaya. Berharap apa yang didengarnya hanya canda.

Ini April kan? Ini April? siapa yang percaya hal sebodoh itu di bulan ini?

Chanyeol mencoba menggenggam kedua lengan Baekhyun dan memandangnya dengan tajam. "Aku sudah menghubungimu tapi ponselmu tidak aktif—Dengarkan aku, Baekhyun" Chanyeol menggenggam kuat kedua pergelangan tangan Baekhyun, mempertemukan kedua mata mereka.

"Lebih baik kita pergi sekarang. Ayahmu pasti sudah menunggu lama"

"TIDAK~ hiks.. hiks.. AYAH TIDAK MENINGGAL. AYAH~"

Srrrrtttt

"BAEKHYUN! BAEK!" Secepat kilat Chanyeol menangkap tubuh mungil Baekhyun yang tiba-tiba tegelak lemas dipelukkan Chanyeol. Baekhyun tak sadarkan diri sehingga ia mengangkat tubuh lemas istrinya menuju kamar.

Setelah membawa Baekhyun ke kamar, Chanyeol segera menghubungi Yoora. Setidaknya ia harus memberitahu kakaknya tentang keterlambatannya menuju rumah duka.

"Noona?"

"Heug,,, Heug,,," Kakaknya tersedu-sedu di seberang sana. "Kau sudah sampai mana Chan, Heug,,, heug,,,? Tuan dan Nyonya Byun akan segera dibawa ke rumah duka."

Nyonya Byun? Chanyeol terhenyak seketika mendengar nyonya Byun pun menyusul sang suami. Padahal sore tadi Nyonya Byun masih dinyatakan kritis saat nyawa Tuan Byun tak terselamatkan.

"Chanyeollie~ Heug,,, kau bisa mendengarku? Heug"

"A-euh- A-a-aku akan segera kesana. Setelah Baekhyun sadar, aku akan segera kesana."

"Apa yang kau lakukan, Chan? Heug,,, Apa Baekhyun sudah mengetahuinya?" Kakaknya nampak terkejut saat Chanyeol tiba-tiba menyinggung wanita itu.

"A-aku langsung memberitahukannya." Ada nada bersalah dalam kalimat Chanyeol.

"Oh Tuhan! Seharusnya kau membawanya kemari terlebih dahulu dan memberitahukannya setelah kalian sampai." Yoora tampak marah pada sikap kaku adiknya yang tidak berpikir bagaimana reaksi Baekhyun setelah ia mengatakan hal yang paling menyakitkan dengan kalimat sejujur-jujurnya.

Tiba-tiba ponsel Yoora seakan direbut oleh oleh lain.

"Eomma!?—yeollie~ Chanyeollie!? ini eomma. Heug—Sekarang kau tetap disana temani Baekhyun, eomma dan Yoora akan kesana- Heug,,, setelah itu pergilah ke rumah duka dan bantu ayahmu mengurus proses pemakaman."

"Nde~" – pip

Sungguh, penyesalan terhadap Baekhyun memenuhi pikiran Chanyeol. Ditatapnya sosok lemah yang terbaring dengan wajah sembab di ujung sana. Di dalam hatinya tersimpan penyesalan atas sikapnya pada Baekhyun. Baekhyun memang terlihat acuh dan bar-baran dan Chanyeol tak mengira sikapnya akan mendapat reaksi seperti saat ini. Bahkan dalam pingsanpun wanita itu terus meneteskan air mata

-MW-

Persis seperti kekhawatiran semua orang, Baekhyun terguncang saat bangun dari pingsannya. Bahkan Chanyeol tak ada disana untuk sekedar meminta maaf tapi saat ini bukan waktu yang tepat untuk meminta maaf.

Nyonya Park dan Yoora senantiasa menenangkan Baekhyun yang terus memberontak dan berusaha pergi. Bukannya mereka tak ingin Baekhyun melihat orang tuanya untuk terakhir kali namun pergi dengan keadaan terguncang justru akan memperburuk keadaan Baekhyun.

"Ayah~ Heug,,, heug,,, Ayah~" Tangis Baekhyun mulai melemah setelah beberapa jam dalam pelukkan Nyonya Park yang senantiasa mengelus rambut Baekhyun dengan kasih sayang.

Nyonya Park pun tengah melamun memikirkan apa yang dikatakan Chanyeol sebelum anaknya itu pergi, "Eomma—Aku belum memberitahunya bahwa Nyonya Park juga meninggal dalam kecelakaan itu. Jadi sebaiknya kita memberitahunya secara perlahan." Ujar Chanyeol sebelum meninggalkan kamar hotel.

Dengan tekad yang kuat, Nyonya Park mencoba melepaskan pelukkannya pada Baekhyun. Tangannya menghapus jejak air mata Baekhyun dengan penuh kasih sayang.

"Nak~ Apa kau ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi, eum?" Gumam Nyonya Park sembari menyisir perlahan rambut Baekhyun.

Nyatanya Baekhyun tertarik pada tawaran ibu mertuanya dan seakan luruh matanya menatap ibu mertuanya dengan penuh tanda tanya.

"Aku tidak ingin membohongimu, aku juga tidak ingin membiarkanmu larut dalam kesedihan tetapi aku akan merasa bersalah jika kau datang kesana tanpa mengetahui apa-apa." Dihapusnya air mata menantunya yang mulai mengalir kembali. "Setelah ini kau boleh menangis sepuasmu tapi berjanjilah untuk tegar setelahnya, demi kedua orang tuamu. heum?"

"Heum,, heum,," Walaupun masih sesenggukan Baekhyun begitu antusias menganggukkan kepalanya. Tentu saja karna tidak ada lagi yang ia inginkan saat ini selain penjelasan. Nyonya Park pun tersenyum hangat walaupun air matanya menetes sambil membayangkan perasaan Baekhyun.

"Siang tadi, ayah dan ibumu pergi menuju sebuah kawasan perumahan.-" Eomma dan appa? – Satu fakta yang baru saja ia tahu. Lalu bagaimana keadaan eommanya? Bahkan ia tak sempat berpikir tentang ibunya. Namun ia tak ingin menyela dan memilih diam mendengar penjelasan Nyonya Park terlebih dulu.

"Kawasan dimana mereka mempersiapkan rumah untuk kalian berdua dan rencananya malam ini mereka ingin mengundang kalian makan malam. Namun saat perjalanan pulang, sebuah truk kehilangan kendalinya dan menghatam mobil mereka.—" Nyonya Park tak dapat melanjutkan penjelasannya. Air matanya terlebih dulu mengalir bersama kencangnya isak tangis juga genggaman Baekhyun pada lengannya sehingga Nyonya Park memeluk Baekhyun sembari menepuk-nepuk halus punggungnya.

Setelah menunggu beberapa saat sampai isak tangis Baekhyun mulai melemah. Nyonya Park melanjutkan penjelasannya.

"Ayahmu - langsung dinyatakan telah tiada di tempat kejadian kemudian ibumu sempat mendapat pertolongan di rumah sakit. Namun tuhan lebih menyayanginya, ibumu~ heug,, heug,,"

-MW-

Kesedihan dan ucapan bela sungkawa terus mengalir sejak kedua jasad keluarga Byun meninggal dunia. Keduanya mendapat banyak perhatian dari keluarga, saudara, serta kerabat juga kolega terdekat. Semuanya hadir untuk memberikan penghormatan terakhir pada kedua pendiri Byun Corp.

Terlihat dua orang pria berbeda usia berdiri disamping mendiang Tuan dan Nyonya Byun dalam keheningan. Keduanya menundukkan kepala sebagai pertanda kesedihan dan penyesalan yang terus mengalir pada kedua orang yang sudah terbujur kaku di dalam peti.

"Bagaimana keadaan Baekhyun?" Tanya Tuan Park kemudian.

Lama Chanyeol terdiam, mencoba menguatkan dirinya. Untuk pertama kalinya setelah kejadian sebelumnya ia berbicara kembali dengan ayahnya.

"Ia sangat terpukul" Jawab Chanyeol singkat.

"Sebaiknya kau hubungi eomma atau noonamu dan tanyakan keadaan Baekhyun. Biar ayah yang berada disini."

Chanyeol memaklumi kekhawatiran ayahnya jelas ayahnya mengkhawatirkan menantunya itu. Maka Chanyeol pamit kepada ayah dan kedua mendiang mertuanya dan berjalan keluar.

Tak jauh dari tempatnya berdiri, Chanyeol dapat melihat sosok Byun Baekhyun yang berbeda dari beberapa hari yang lalu. Matanya yang merah dan juga sembab begitu sayu syarat kesedihan serta kedua tangannya yang saling menautkan jari-jarinya dalam doa sebagai cara untuk memberi kekuatan.

Baekhyun nampak sopan dengan rambut yang dikepang ke samping dan baju hanbook hitam yang begitu tertutup dan sopan. Pandangan wanita itu lurus ke bawah seperti enggan bertatap muka dengan siapapun apalagi para wartawan yang seolah tak mengerti keadaannya.

"Chanyeol~ Bawa istrimu ke dalam." Ujar ibunya. Menggiring kedua bahu Baekhyun pada Chanyeol.

Chanyeolpun berjalan menuntun kedua bahu sempit yang nampak bergetar menahan tangis. Bahkan kedua pipinya sudah basah kembali tapi isak tangisnya tertahan diujung bibir.

Sesampainya di depan kedua mendiang mertuanya, Chanyeol seakan tak tega melepaskan kedua tangannya dari Baekhyun. Ia tahu Baekhyun sangat membutuhkan pegangan saat hatinya terpukul seperti saat ini. Tuan Park menatap kasihan pada Baekhyun yang masih berusaha tegar saat kedua peti mati orang tuanya berada dihadapannya.

Baekhyun bersimpuh, memberi hormat, berdiri, dan bersimpuh kembali dan memberi hormat. Dan tangisnya pecah saat penghormatan terakhir bahkan semua bayang-bayang penyesalan mengalir begitu saja saat membayangkan wajah kedua orang tuanya.

"EOMMA~ Heuuugh,,, heughh,, APPA~ heuggghhh,, heug,,"

-MW-

Hari berganti hari, setelah pemakaman Tuan dan Nyonya Byun Baekhyun jadi lebih banyak diam di rumah keluarga Park. Memang sejak pemakaman ayah dan ibu Chanyeol meminta Chanyeol dan Baekhyun tinggal bersama mereka karna mereka tidak ingin Baekhyun ditinggal sendiri bersama maid saja saat Chanyeol tidak berada di rumah. Lagipula menurut mereka, Baekhyun akan lebih baik ditemani ibu dan kakak perempuan Chanyeol yang notabennya sesama perempuan.

Perilaku Baekhyun dari hari ke hari sangat mengkhawatirkan semua orang. Ia lebih banyak berdiam diri di depan jendela dan tidak banyak bicara. Jangankan bicara, terkadang makanan pun jarang sekali. Malam itu Ibu Chanyeol datang ke kamar Chanyeol.

"Chanyeollie~" Panggil ibunya.

Chanyeol baru saja selesai mandi sehabis pulang bekerja dan melihat ibunya masuk ke kamarnya. Chanyeol dan Baekhyun memang tidak sekamar, Chanyeol beralasan memberi Baekhyun ruang untuk sendiri.

"Iya eomma" Chanyeol mengisyaratkan ibunya untuk masuk.

"Eomma ingin bicara denganmu." Timbal ibunya.

-MW-

"Selamat pagi Tuan dan Nyonya Park." Sapa pria paruh baya yang baru saja datang dan mengangguk hormat pada kedua orang tua Chanyeol. Di kediaman keluarga Park saat ini sudah berkumpul seluruh anggota keluarga termasuk Baekhyun.

Tuan Park dan Nyonya Park mengangguk hormat. "Silahkan duduk Tuan Hwang" timbal Tuan Park.

Mereka semua duduk di ruang tamu, beberapa maid membawakan minum dan camilan kesana. Chanyeol dan Baekhyun tampak duduk berdampingan tapi diantara keduanya tidak menampakkan kedekatan.

"Tujuan saya datang kemari tidak lain untuk menyampaikan surat wasiat Tuan Byun kepada Nona Baekhyun sebagai satu-satunya ahli waris dari Byun Group."

Mendengar Tuan Hwang mengatakan hal itu mengingatkan Baekhyun pada kedua orang tuanya. Pada penyesalan dan rasa bersalah karena tidak berada disana bersama kedua orang tuanya. Bahkan Baekhyun belum sempat melakukan apapun untuk kedua orang tuanya.

Kepala Baekhyun tertunduk menahan air mata yang mungkin akan jatuh sebentar lagi dan kedua tangan yang saling bertautan memberi kekuatan dalam dirinya. Meyakinkan dirinya untuk tegar—

Tiba-tiba sebuah tangan yang jauh lebih besar darinya, menggenggam penuh ketenangan. Dibalik surai rambutnya Baekhyun dapat melihat Chanyeol yang terlihat tegar menatap lurus pada Tuan Hwang. Jauh dari lubuk hatinya Baekhyun tak menyangka Chanyeol dapat memberikan kekuatan disaat seperti ini.

Tuan Hwang membacakan keputusan demi keputusan yang diperintahkan Tuan Byun kepadanya namun, tak banyak yang di dengar Baekhyun. Ia terlalu larut dalam kesedihannya dan berpikir bahwa apapun yang Tuan Hwang katakan. Ia tidak akan peduli.

"20% kekayaan Tuan Byun akan dialihkan ke Yayasan yatim piatu dan kegiatan amal lainnya. Selain itu Tuan Park Chanyeol selaku suami Nona Byun Baekhyun akan menjadi wali sah Nona Byun Baekhyun selama penyerahan hak waris dan berhak atas 30% kekayaan Keluarga Byun serta bertanggung jawab atas keselamatan dan keamanan Nona Byun Baekhyun. Keputusan ini tidak dapat dirubah atas dasar perceraian dan akan dipertimbangkan berdasarkan kondisi serta situasi yang mendesak." Tuan Hwang menutup seluruh berkas yang baru saja dibacanya lalu beralih pada seluruh anggota keluarga Park yang hadir disana. Memberikan isyarat "Adakah yang ingin kalian tanyakan?"

Seolah tergerak, Baekhyun membuka suara.

"Kapan akan diadakan rapat direksi?" Semua orang langsung tertuju pada Baekhyun termasuk Chanyeol.

"Setelah Anda sudah siap Nona." Timbal Tuan Hwang.

"Tolong Anda siapkan segala sesuatunya Tuan. Aku akan datang pada rapat direksi lusa nanti."

Melihat ketegasan dan ketegaran Baekhyun, Tuan Hwang pun mengangguk mengerti. Sementara Baekhyun telah lebih dulu berdiri dan memberi hormat pada seluruh anggota keluarga Park.

"Tanpa mengurangi rasa hormat saya, saya undur diri terlebih dahulu. Permisi."

-TBC-

Gara-gara baca komentar kalian gue jadi semangat buat nulis YNMW apalagi pas kalian kasih tau alasan kenapa FF ini tetep harus dilanjutin. Makasih.. Makasih banget ya buat kalian yang terus kasih semangat lewat komentar kalian yang bikin gue semangat. \^^/

Itu alasan kenapa gue seneng banget bales komentar kalian jadi gue tau apa sih yang kalian mau dan itu bikin usaha gue gak sia-sia. Hehe

TERUS DUKUNG FF INI YA ^^