YOU ARE NOT MY WIFE [ChanBaek GS]
xxx
Park Chanyeol
Byun Baekhyun
xxx
#ig : ddnoona #wattpad : dnoonaa #ffn : dnoona
xxx
Pertama-tama gue mau ngucapin makasih buat semua temen-temen yang udah baca dan nunggu YNMW sampe sekarang.
Especially, Park LouisYeol yang dukung gue saat gue hampir nyerah sama ffn. Gak banyak orang yang mau ngeluangin waktu buat sekedar review story.
Kebanyakan cuma minta 'next' 'next' terus dan itu bikin mood gue down karna... This is my best efforts for you but you ask me others. Dan disitu Park LouisYeol ada buat nyemangatin gue. Thx you thx you so much ?
Kapan-kapan ayo kita semua meet up. Seru-seruan aja hehe
So, please enjoy our time in this chap ^^
"C-Chanyeol~" Wanita cantik yang baru saja muncul dari balik pintu itu sepenuhnya membolakan matanya saat melihat Chanyeol bersama wanita lain yang tak dikenalnya bahkan posisi mereka saat ini terlalu dekat untuk tidak mengundang salah paham.
Chanyeol dan Kyungsoo yang sadar akan posisi mereka pun langsung saling menjauh beberapa langkah.
Kemudian resepsionis masuk dan membungkuk hormat pada Chanyeol. "Maaf tuan tapi nyonya ini memaksa masuk."
Resepsionis itu nampak membungkuk berkali-kali karena rasa bersalah. Sehingga Chanyeol berdeham untuk menetralisir keadaan.
"Tidak apa-apa. Dia adalah kakak sepupuku. Kau bisa keluar Nona Han." Ujarnya kaku.
-MW-
Beberapa saat kemudian Kyungsoo dan sang resepsionis sudah keluar dari ruang Chanyeol. Saat ini tinggallah Tiffany dan Chanyeol di dalamnya.
"Noona~" Chanyeol hanya bisa menghela nafas panjang saat dilihatnya Tiffany berdekap tangan dengan tatapan marah.
"Bagaimana kalau aku istrimu, Chanyeol? Aku pasti akan marah melihatmu bersama wanita lain dengan posisi seperti itu~" rengeknya.
"Baekhyun tidak begitu noona~ Sudah... sudah... Lebih baik sekarang noona datang ke rumah eomma karna aku ada meeting."
"Kau ini~ aku kan kesini untuk bertemu denganmu dan Baekhyun karna~ berita duka itu..." suara Tiffany memelan, sungguh ia turut berduka. Mengingat pernikahan Chanyeol dan Baekhyun yang baru beberapa hari sudah terkena masalah.
"- Lagipula tadi pagi aku sudah ke rumah ibumu." Lanjutnya.
Chanyeol hanya menghela nafas, ia tahu kalau Tiffany adalah tipe orang yang sangat peduli dengan keluarga dan saudaranya. Tiffany juga orang yang ceria dan lembut sehingga ia dengan mudah membuka pertemanan dengan semua orang.
Walaupun Tiffany tidak pernah secara langsung berbicara atau bertemu dengan Baekhyun namun wanita itu yakin bahwa wanita yang dinikahi Chanyeol adalah wanita baik-baik. Apalagi kalau mendengar cerita Ibu Chanyeol tadi pagi, Tiffany merasa perlu menjalin pertemanan dengan Baekhyun.
"Iya~ tapi aku ada meeting di Jeju. Aku tidak mungkin membawamu dan-"
"Bawa aku pada Baekhyun!"
"HAH?" Chanyeol membelakaknya matanya kaget. Ini gila, Chanyeol dan Baekhyun tidak dalam hubungan yang bisa disebut suami istri, teman, atau rekan.
Mereka hanya dua manusia yang terjebak dalam situasi yang membingungkan dan tinggal bersama. Kalau Tiffany sampai datang dan menemui Baekhyun ia tidak dapat menjamin respon Tiffany akan seperti apa.
Yang Chanyeol tahu Tiffany hanya mengetahui bahwa Chanyeol menerima Baekhyun dan pernikahan mereka dengan ikhlas sementara sampai saat ini pun Chanyeol belum pernah sekalipun menjalankan tugasnya sebagai seorang suami.
Bukan sex - Bahkan Chanyeol tidak berpikir untuk menikahi Baekhyun karena itu.
"Chanyeol..." Tiffany menegur Chanyeol kembali membuat pria itu tersentak dari lamunannya.
"Lebih baik aku menelpon Donghae Hyung, istrinya sungguh merepotkanku."
Kemudian Chanyeol mengeluarkan ponselnya sementara yang disindirpun menghentak-hentakkan kakinya di lantai, persis anak-anak - gumam Chanyeol.
"Ish... kau ini... menyebalkan... menyebalkan... menyebalkan... Biar saja~ semakin lama aku disini semakin cepat kau tertinggal penerbangan."
ASTAGA!
Noonanya ini benar-benar seperti anak kecil. Suaminya lengah sedikit saja, wanita ini sudah bisa melakukan penerbangan ke Seoul. Kanada-Korea terasa seperti perjalanan menuju halaman belakang mungkin pikirnya.
Chanyeolpun menghela nafas.
"Baiklah.. Baiklah.. Pak Lee akan mengantarkan noona ke kantor Baekhyun.-"
Sementara yang sedari tadi mencebikkan bibir sudah tersenyum bodoh dengan mata berkaca-kaca senang.
"- Tapi ingat! Noona tidak boleh mengganggunya, jangan melakukan apapun yang membuatnya sedih atau marah. Cukup diam dan jangan berbicara apapun tentang keluarga, atau rumah tangga kami. Mengerti?" Ancamnya.
"Hum hum hum" Wanita itu mengangguk-angguk lucu sambil tersenyum penuh minat.
Hhhh~ Chanyeol menghela nafas, bisa gila kalau ia harus berlama-lama dengan Tiffany.
-MW-
Tok tok tok
"Iya silahkan masuk~" timbal Baekhyun.
Kemudian Nyonya Ahn masuk. "Nona~ Kakak sepupu tuan Chanyeol sudah datang."
"Persilahkan masuk." Timbalnya ramah.
From : Chanyeol
Baekhyun, maaf mengganggumu. Aku butuh bantuanmu kali ini, hari ini kakak sepupuku Tiffany datang dari Kanada untuk menjenguk kita. Dia khusus datang kemari tapi aku tidak bisa menemaninya karna ada meeting penting di Jeju. Mungkin dia akan sangat merepotkan jadi sebelum itu terjadi aku minta maaf padamu. Hubungi aku jika terjadi sesuatu.
Reply
Baiklah
From : Chanyeol
Aku juga menitipkan sesuatu pada Pak Lee, jadi jangan sampai kau melupakan makan siangmu. Dan kalau... Ini hanya kalau aku telat pulang, jangan tidur terlalu malam. Bye
Baekhyun menatap nanar ponselnya sebelum kemudian meletakkannya kembali.
"Baekhyun-ah~" Sosok Tiffany yang terkenal manis dan ceria itu sudah bertengger di depan pintu.
Baekhyun pun tersenyum ramah.
-MW-
Saat ini Chanyeol sudah menyelesaikan meetingnya dengan baik. Presentasi yang dibuatnya pun mendapat tanggapan yang baik. Beruntung ia tidak terlalu terlambat karna nyatanya banyak direktur yang mengalami keterlambatan serupa sehingga acara baru dimulai setelah semua direktur hadir.
Saat ini Chanyeol sedang menunggu penerbangan selanjutnya di ruang tunggu. Ia melirik jam tangannya dan berpikir mungkin ia bisa melakukan sesuatu sampai waktu penerbangan berikutnya.
Kemudian Chanyeol merenung, bukankah sekarang sudah waktunya makan malam. Seketika pikirannya melayang pada sosok Baekhyun yang jauh disana. Ia sempat bertanya pada dirinya sendiri apakah Baekhyun sudah makan malam atau Baekhyun sudah pulang dari kantor.
Detik berikutnya Chanyeol membuka chat roomnya bersama Baekhyun dan menemukan chat terakhirnya dibaca begitu saja tanpa dibalas.
Melihat itu hatinya ragu, haruskah ia menelpon Baekhyun tanpa tujuan yang jelas dan membuat wanita itu merasa aneh? Atau biar saja ia pendam pertanyaan itu karena gengsinya.
Setelahnya Chanyeol menghela nafas pasrah, andai Noon- Noona? Seketika pikiran Chanyeol melayang pada kakak sepupunya. Ya Benar- mungkin Tiffany bisa jadi alasannya.
Chanyeol bisa menggunakan Tiffany sebagai alasannya menelpon Baekhyun.
Tak mungkin kan Chanyeol menelpon Baekhyun tanpa alasan? Lagipula wanita itu pasti sibuk.
Tuut... tut...
Mungkinkah Baekhyun-
"Hallo?" Sambungan telpon pun terhubung dengan suara lembut Baekhyun di ujung sana.
"Hm.. hmm.. Hallo, Baekhyun?" Nyatanya Chanyeol benar-benar gugup. Entahlah... ini seperti bukan dirinya.
"Iya~"
"Apa kau sudah pulang?"
"Ya~"
Ah.. begitu.. syukurlah..
"Oh iya, bagaimana dengan Tiffany noona? Apa dia merepotkanmu?"
"Baik. Dia tidak merepotkanku."
Baekhyun, entah mengapa jantungku berdebar tak karuan seperti ini saat berbicara denganmu. Apa karna kita sudah lama tak saling berbicara atau ini hanya perasaanku saja - Batin Chanyeol.
"Chan~ Kau pulang kapan?"
HAH!
Mata Chanyeol membulat sempurna. Tidak! Bukan! Itu bukan Baekhyun. Itu Tiffany dan kenapa juga Tiffany masih ada disana?
"Chan~ Aku menginap di rumahmu ya? Hum.. hum.. hum.. - Lagipula Baekhyun mengijinkan ko." Seru Tiffany girang.
"Aish.. kenapa noona masih disana? Aku akan menelpon Donghae Hyung kalau begini jadinya." Helanya malas.
"Hey.. Hey.. Hey.. Aku sudah minta ijin pada suamiku juga dan dia mengijinkan." timbalnya.
Chanyeol pun memutar matanya jengah. Lalu untuk apa bertanya kalau akhirnya memaksa juga.
"Terserah noona tapi ingat - Pesanku siang tadi." Ujarnya penuh peringatan.
"Ya.. ya.. ya.. Aku ini noonamu tapi kau slalu mengancamku seperti anak kecil. Huh"
"Ya sudah. Berikan ponselnya pada Baekhyun."
"Arraso~ Arraso~"
Yang benar saja, Tiffany akan menginap di rumah mereka? Bagaimana bisa? kamar yang mereka miliki saat ini hanya 2 kamar tidur siap pakai yaitu miliknya dan milik Baekhyun. Kamar tidur sisanya belum sempat mereka bersihkan lagipula kalau harus panggil ART di rumah orang tuanya atau rumah orang tua Baekhyun pun akan sangat merepotkan malam-malam begini.
"Hallo?"
"Umh.. Baekhyun?"
"Ya"
"Maafkan kakak sepupuku ya. Tingkahnya memang sedikit kekanak-kanakan tapi tolong biarkan dia menginap malam ini saja. Besok akan kupastikan dia pulang ke negara asalnya. Dan-"
Entahlah, Chanyeol ragu mengatakannya. Tiba-tiba saja ia merasa tidak rela untuk mengatakannya. Tapi mau bagaimana lagi? Ini karena Tiffany.
"Dan... tentang kamar tidur, biarkan noona tidur di kamarku dan kau tetap di kamarmu. Aku akan pulang telat jadi mungkin aku akan menginap di hotel."
Baekhyun.. aku tidak tahu apa yang aku inginkan. Hanya saja sebenarnya aku tidak ingin bermalam di hotel malam ini.
"Ada baiknya kau pulang. Aku tidak keberatan jika kau tidur di kamar atas."
Hah? - Chanyeol dibuat tak menentu dengan jawaban Baekhyun.
"Kalau begitu, hati-hati di jalan. Kami menunggumu Chanyeol-sii~"
Piiip
Hhh~~~ - Tak tahu sejak kapan Chanyeol menahan nafasnya. Ia seakan menuli seketika saat mendengar Baekhyun mengatakan hal itu. Bahkan kalimat terakhirnya terdengar seperti
"Aku menunggumu, sayang~"
"Tuan? Tuan? Anda baik-baik saja?" Itu Kyungsoo. Wanita itu telah terlebih dulu berdiri dihadapan Chanyeol dengan dua cup kopi. Ia bertanya-tanya mengapa Chanyeol tersenyum-senyum sendiri.
Menyadari keberadaan Kyungsoo, Chanyeol cepat-cepat menetralisir perasaannya yang beberapa detik lalu membucah.
"Hmm.. Hmm.. Aku baik. Kopiku?"
"Hu'um" Kyungsoo pun tersenyum manis sembari memberikan salah satu cup kopi.
-MW-
"Baekhyun, aku sangat berterimakasih karna kau sudah mengijinkanku menginap disini." Tiffany pun tersenyum tulus pada Baekhyun yang sudah mengantarkannya sampai di kamar Chanyeol.
"Aku pun eonnie~ Selamat malam."
"Selamat malam Baekhyun~"
Baekhyun pun kembali menuju kamarnya. Seharian ini ia dan Tiffany telah banyak berbincang-bincang. Setidaknya Baekhyun memahami maksud Tiffany siang ini. Sedikit banyak karakter Tiffany yang hampir sama seperti dirinya membuat Baekhyun merasa Tiffany mampu memahami dirinya.
"Sebuah perpisahan tidak membuatmu kehilangan Baekhyun, mereka akan selalu ada di hatimu dan mereka akan lebih bahagia jika kau menjalani hidupmu dengan baik dan tidak terlalu larut dalam kesedihan.
Sebenarnya aku dan Donghae oppa sudah memiliki anak. Kami memiliki Lee Dae Han selama 1 tahun tapi diusianya yang masih sangat kecil Dae Han terdiagnosa gagal jantung. Dan kami akhirnya kehilangan Dae Han untuk selama-lamanya.
Sampai pada akhirnya aku terpuruk dalam waktu yang cukup lama. Tidak sepertimu yang sudah berinteraksi dengan beberapa orang. Saat itu aku benar-benar mengurung diriku sendiri bahkan aku tak menyadari jika perubahanku berpengaruh pada orang lain.
Suamiku, Donghae oppa dengan sabar merawatku bahkan tak jarang ia melupakan dirinya sendiri karenaku. Bahkan ia mengurus segalanya seorang diri, semua tanggung jawabku juga menjadi tanggung jawabnya. Sampai akhirnya Donghae oppa jatuh sakit dan aku baru tersadar bahwa aku terlalu egois.
Bukankah ia juga merasakan kesedihan yang sama denganku?
Baekhyun-ah~ Kau hanya perlu membuka diri dan membagi kesedihanmu. Percayalah~ hal itu akan jauh lebih meringankan perasaanmu."
"Meringankan perasaanku~" gumam Baekhyun dalam hati.
Tok.. tok.. tok..
"Baekhyun?"
-MW-
"Baekhyun?"
"Hum?" Panggilan pria itu mengembalikan kesadaran Baekhyun kembali.
"Kau belum tidur?" Sapa Chanyeol dari celah pintu.
"Belum, kenapa masih disana. Masuk saja." Timbal Baekhyun.
Chanyeol pun masuk dengan jas dan tas yang sudah tersampir di tangannya. Sementara Baekhyun menghampiri Chanyeol dan dengan lembut mengambil jas dan tas Chanyeol.
"Biar ku bantu" Ujarnya.
Segaris senyum pendek terkulum diantara bibir Chanyeol. Perlakuan Baekhyun saat ini sungguh membuat hatinya menghangat. Entah mengapa...
Baekhyun yang baru saja meletakkan Jas dan Tas Chanyeol di sudut ruangan pun kembali ke hadapan Chanyeol.
"Aku tidak tahu baju seperti apa yang biasa kau pakai saat tidur jadi aku mengambil itu." Tatapan mereka berdua pun tertuju ada tepi ranjang.
Pajama dan sepasang dalaman.
Wajah Chanyeol seketika memerah, Baekhyun kan tidak perlu sampai seperti itu.
"B-baik~" Chanyeol yang dibuat malu pun segera mengambil pajamanya dan pergi menuju kamar mandi.
Sejujurnya tidak ada yang salah dengan apa yang dilakukan Baekhyun, hanya saja Chanyeol terus saja tersenyum malu. Wanita itu sama sekali tidak pernah menunjukkan kepeduliannya bahkan saat menikahinya pun Chanyeol berpikir jika Baekhyun tak akan bersikap seperti itu.
Chanyeol hanya merasa itu~ cukup manis.
Setelah selesai membersihkan diri sekitar 15 menit, Chanyeol keluar kamar dan menemukan Baekhyun sudah duduk di ranjang dengan bukunya. Baekhyun terlihat sangat cantik dengan kacamata baca dan wajah seriusnya. Wanita itu benar-benar manis~
"Sudah selesai?" Tanya Baekhyun.
"Hum?" Chanyeol yang baru sadar dari lamunannya dibuat bingung dengan pertanyaan Baekhyun sehingga ia terlihat lucu dengan mata lebarnya.
"Sudah selesai mandinya?"
"S-sudah." Sial - kenapa aku terlihat kikuk seperti ini.
"Aku harap kau belum makan malam." Baekhyun menunjuk beberapa makanan pada nampan yang diletakkan diatas nakas. "Aku dan Tiffany eonnie makan malam bersama di salah satu restoran dan ku pikir mungkin kau belum makan malam juga." Lanjutnya.
"Terimakasih~" Chanyeol pun tersenyum mendengarnya.
Kemudian pria tampan itu mengambil nampan tersebut dan membawanya menuju kursi dan meja dekat balkon.
"Mau kemana?"
"Makan" yang ditanya berbalik dan merengut heran.
"Kenapa tidak disini?" Baekhyun menepuk-nepuk tempat kosong disebelahnya.
"Hum?" Bukankah Baekhyun terlalu banyak memberi kejutan hari ini?
Baekhyun? Ini tidak seperti dirimu
-MW-
Malam sudah mulai menampakkan candunya bahkan cahaya bulan begitu terang walaupun lampu kamar sudah meredup. Tinggallah temaran yang menemani keterdiaman Chanyeol dan Baekhyun.
Tidak ada drama tidur dikursi atau tidur dilantai. Chanyeol tidak perlu bertanya lagi atau pura-pura memastikan apa yang didengarnya beberapa waktu lalu.
"Kau bisa tidur disini."
Namun, Chanyeol merasa ada sesuatu yang mungkin terjadi saat Baekhyun bersama Tiffany.
Dan itu jelas mengganggu pikiran Chanyeol sehingga ia memutuskan untuk bertanya pada Baekhyun.
"Baekhyun?" Diliriknya wanita cantik itu disampingnya.
"Hum?" Baekhyun hanya bergumam kecil.
"Apa kau baik-baik saja?" Chanyeol pun sedikit memutar badannya agar ia bisa melihat Baekhyun sepenuhnya.
Baekhyun yang sempat terpejam kemudian membuka matanya dan dilihatnya langit-langit kamar.
"Aku - tidak baik Chanyeol~" ada jeda beberapa detik untuk mengumpulkan kepercayaannya pada Chanyeol untuk mengatakannya.
"Aku - sangat merindukan kedua orang tuaku~"
Tak dapat dipungkiri, mendengar kesedihan dibalik suara Baekhyun yang sedikit bergetar. Ia pun tak berbohong ketika ia melihat lelehan air mata yang turun dari ujung mata Baekhyun.
"A- aku~ tidak menyangka hiks... A- aku tidak menyangka~ hugh... Hugh..."
"Cup... Cup... Cup..." Diraihnya bahu Baekhyun dan dibiarkannya tubuh mungil itu dalam erat peluknya.
"Hiks... Hiks... Hiks... A-aku tidak menyangka mereka pergi secepat itu Chanyeol. Aku bahkan belum membahagiakan mereka~ hiks... Hiks...
Aku bahkan bukan anak yang baik dan saat aku berusaha mengalahkan ego ku. Mengapa Chanyeol? Mengapa Tuhan mengambil kedua orang tuaku~ hiks... Hiks...
Sekarang aku tidak memiliki siapa pun. Aku sendiri Chanyeol~ aku sendiri~ hiks.. hiks.."
Chanyeol tak bisa menjawab satu pun pertanyaan Baekhyun. Ia pun tak mengerti bagaimana harus menjawabnya.
Haruskah? Batinnya. Haruskah ia kenjawab pertanyaan Baekhyun.
Bahwa masih ada dirinya yang akan menemani Baekhyun. Tapi nyatanya ini bukan waktu yang tepat.
Ia hanya bisa diam saat helai demi helai rambut Baekhyun di usapnya.
Ada ribuan kata maaf dalam dirinya untuk Baekhyun, maaf atas perlakuannya yang tidak menyenangkan sebelum kedua orang tua Baekhyun meninggal dan atas ketidak siagaannya saat detik-detik meninggalnya orang tua Baekhyun.
"Maaf~" gumam Chanyeol lirih
-TBC-
