YOU ARE NOT MY WIFE [ChanBaek GS]

xxx

Park Chanyeol

Byun Baekhyun

xxx

#ig : ddnoona #wattpad : dnoonaa #ffn : dnoona

xxx

"...Sekarang aku tidak memiliki siapa pun. Aku sendiri Chanyeol~ aku sendiri~ hiks.. hiks.."

Chanyeol hanya bisa diam saat helai demi helai rambut Baekhyun di usapnya.

Ada ribuan kata maaf dalam dirinya untuk Baekhyun, maaf atas perlakuannya selama ini yang tidak menyenangkan sebelum kedua orang tua Baekhyun meninggal dan atas ketidak siagaannya saat detik-detik meninggalnya orang tua Baekhyun.

"Maaf~" gumam Chanyeol lirih

-MW-

Kelamnya malam belum juga kembali ke pangkuan timur, begitu pula dengan Chanyeol yang belum tertidur walaupun hari sudah mulai tengah malam. Matanya masih asik memandangi wajah Baekhyun. Wajah yang sedari tadi damai dalam tidurnya yang beralaskan lengan Chanyeol.

Gadis yang sebelumnya sering berdebat dengannya, begitu anggun dan manis namun tak dapat dipungkiri wajahnya syarat akan kelelahan dan sedih.

Chanyeol tak ingin membenarkan jika perhatiannya saat ini karena ia mulai menyukai Baekhyun.

Bahkan untuk awal suatu hubungan yang slalu diawali dengan ketertarikan satu sama lain pun Chanyeol tak merasakannya.

Bukan karena Baekhyun tak menarik, hanya saja pertemuan pertama mereka tak memberikan kesan yang baik. Perjodohan dan Perpisahan -

Saat ini, Chanyeol hanya berusaha memikul tanggung jawab atas Baekhyun begitulah pikirnya saat memutuskan hubungan dengan Luhan.

Berbicara tentang Luhan - Chanyeol sudah memecatnya, keberadaan Luhan di kantor hanya akan membuatnya merasa bersalah dan Luhan pun akan sulit terbiasa jika Chanyeol sebagai atasannya.

Keberadaan Luhan pun hanya akan membuat Chanyeol melampiaskan semua amarahnya pada Luhan.

Ya, hanya pada Luhan ia bisa mengeluarkan semua emosinya karna wanita itu punya seribu satu alasan untuk memahaminya.

Chanyeol sudah terlalu terbiasa dengan Luhan sehingga tak mungkin baginya memutuskan hubungan dengan Luhan namun masih mempertahankan Luhan di kantor. Sebut saja Chanyeol tak profesional tapi apa boleh buat.

Mereka telah menjalin hubungan bertahun-tahun sehingga sulit untuk membiasakan diri terpisah dalam waktu yang tak tentu di masa depan.

Tok.. tok.. tok..

"Chanyeollie~ Boleh eomma masuk?"

"Ugh.. masuklah eomma." Chanyeol baru saja selesai mandi ketika ibunya datang.

"Umh~ bagaimana pemakamannya? Apakah semuanya lancar?"

"Semuanya lancar. Aku sudah meminta Pak Lee untuk menyelesaikan sisanya. Dan besok aku akan pergi menemui Tuan Hwang, pengacara ayah Baekhyun. Ia memintaku untuk bertemu dengannya besok."

"Hm?" Nyonya Park termangu kaku.

Tuan Hwang? Pengacara? Pengacara dari ayah Baekhyun? Gumam Nyonya Park dalam hati.

"Hu'umh~ sepertinya ada sesuatu yang penting." Lanjut Chanyeol.

"Begitu ya~"-"Umh, bagaimana keadaan Baekhyun eomma?" tanya Chanyeol. Pria itu mencoba mengalihkan pembicaraan.

Bukan karna Chanyeol tidak mengerti pemikiran ibunya. Toh Chanyeol pun berpikiran hal yang sama. Tuan Hwang mungkin akan membahas tentang keberlangsungan pernikahannya dan Baekhyun.

"Baekhyun sudah tertidur. Eomma sudah meminta Yoora menemani Baekhyun dikamarnya hanya untuk berjaga kalau Baekhyun membutuhkan sesuatu."

"Hum.." Chanyeol mengangguk paham. Lantas ia mengambil baju seadanya di lemari sembari mengeringkan rambut dengan handuk.

"Mengenai pengacara-" Nyonya Park nampak gusar membahas permasalahan ini tapi hatinya tak menentu karenanya.

"Hum?"

"Apakah ada hubungannya dengan pernikahan kalian.-"

Chanyeol terlihat akan menolak pembahasan ini namun Nyonya Park cepat-cepat menyela.

"Maksud eomma, Tuan Byun dan istrinya telah tiada. Apakah dengan begitu secara tidak langsung pernikahanmu dan Baekhyun sudah tidak memiliki alasan lain untuk dipertahankan? Apakah mungkin?" ujar Nyonya Park takut.

Chanyeol menghela nafas berat karenanya. Berpikir bahwa ibunya pasti akan tetap menanyainya.

"Eomma-Aku rasa kita tidak perlu mengira-ngira tentang hal itu. Biar besok aku yang berbicara dengan Tuan Hwang mengenai apa yang ingin ia sampaikan." Chanyeol melangkah menuju ibunya, memegang lembut kedua bahu wanita paruh baya itu dengan sayang.

Hanya satu hal yang ingin Nyonya Park pastikan. Status pernikahan ini
Pikiran tentang Chanyeol yang mungkin akan menceraikan Baekhyun dan kemungkinan bahwa Baekhyun juga menyetujuinya karena mereka tidak saling mencintai.

Namun, sesaat Nyonya Park pun sadar bahwa mungkin mereka akan lebih bahagia dengan pilihan mereka masing-masing.

"Mungkin ini terdengar kejam nak tapi eomma tak akan memaksakanmu lagi. Kau dan Baekhyun bebas menentukan pilihan kalian. Eomma akan menghormati keputusan kalian dan akan lebih bijaksana jika Eomma tak memaksa kalian. Lagipula Baekhyun akan lebih bahagia jika bersama orang yang menyayanginya secara tulus."

"Hm?" Chanyeol membulat kaget.

Jujur saja ini terdengar kejam untuk Chanyeol. Ia merasa begitu kejam dalam memperlakukan Baekhyun. (Akan lebih baik jika Baekhyun bersama orang yang menyayanginya secara tulus?-Maksud eomma aku tidak tulus padanya? Sebegitu jahatnya kah aku pada wanita itu?)

"Eomma~ aku butuh istirahat. Lebih baik eomma juga istirahat."

"Tapi nak-"

"Eomma~ aku akan pastikan. Aku tidak akan bercerai dengan Baekhyun kecuali Baekhyun sendiri yang memintanya padaku dan sampai saat itu tiba, tanggung jawabnya ada padaku."

Chanyeol pun mengantarkan ibunya keluar dari kamarnya.

"Selamat tidur eomma~"

Dan meninggalkan wanita itu dengan ekspresi bertanya-tanya. Mengapa Chanyeol terlihat marah padanya.

-MW-

Jam dinding baru saja menapaki pukul 4 pagi saat Baekhyun terbangun karena haus. Dan detik berikutnya ia menyadari seseorang yang tertidur pulas disampingnya.

Chanyeol (?) gumamnya.

Pria yang menjadikan lengannya sebagai bantalan bagi Baekhyun terlihat tenang dan damai dalam tidurnya. Ada seberkas rasa berterimakasih yang diam-diam Baekhyun berikan pada Chanyeol.

Mengingat percakapan mereka sebelumnya, Baekhyun merasa cukup lega bahwa Chanyeol tidak terlalu banyak bertanya dan terlihat enggan mendengarkannya. Namun, detik berikutnya ia tersipu malu oleh ingatannya sendiri. Bagaimana mungkin ia tiba-tiba menangis dengan begitu lama lalu tertidur begitu saja tanpa mengucapkan terimakasih.

Kau bodoh Baekhyun~ gumamnya geli.

Jika dipikir-pikir Chanyeol seperti hadiah natal yang dibawakan oleh ayahnya. Toh tidak ada salahnya memilih Chanyeol, Chanyeol pria yang baik saat Baekhyun bertemu dengannya dan bukan tanpa alasan tak jelas ayahnya memilih Chanyeol sebagai suaminya.

Terimakasih Chanyeol~

Segelas air hangat sudah cukup membantu Baekhyun memulihkan kesadarannya. Kemudian ia beralih menuju counter dapur dan rasanya ia ingin berlama-lama disana untuk sementara. Sebentar saja, sebentar saja aku disini - gumamnya dalam hati.

Baekhyun duduk disana, di counter dapur dengan segelas air hangat. Memutari tepian gelas dengan ujung telunjuknya.

"Tidak bisa tidur?" Suara Chanyeol bergema ditengah kesunyian.

Baekhyun terkejut dibuatnya. Kemudian wanita itu berbalik menuju sumber suara.

"Ah~ Aku hanya ingin segelas air." Jawab Baekhyun sembari mengangkat gelas berisi air miliknya.

"Boleh aku bergabung?"

"Sure~"

Chanyeol tersenyum tipis sambil berjalan mengambil segelas air dingin di dalam kulkas. Walaupun Chanyeol tak tahu harus memulai percakapan dari mana. Nyatanya ia juga ingin berlama-lama disana untuk sementara waktu.

"Umh~ soal yang semalam~" Baekhyun menoleh pada Chanyeol dan matanya seakan ragu untuk membuka pembicaraan setelah sekian lama.

"Hum?" Alis Chanyeol mengerut tanya.

"Soal yang semalam, aku minta maaf. T-tentang itu~ aku.. A-ku merasa sedikit sensitif dan terlalu berlebihan jadi.. jadi-"

"Tak perlu canggung." Tukasnya mengerti.

"Umh (?)" Baekhyun yang sedari tadi nampak gelisah dibuat terkejut.

"Iya, tak perlu canggung lagipadaku. Rasanya aneh ketika tinggal bersama dan saling tak kenal.-Aku akan lebih senang jika kita saling bicara setiap hari. Aku tau kau sedikit canggung tapi kita bisa mencobanya. Bagaimana?"

"Hu'um" Baekhyun pun mengangguk lucu bahkan kedua matanya melengkung cantik.

"Kau sangat lucu-"

"Hah?"

"Tidak, kau mengangguk seperti anak anjing. Padahal kemarin aku melihatmu seperti seorang ratu."

"Ah~ itu~" Segurat sedih hadir diwajah cantik Baekhyun.

"Hei~ jangan sedih begitu. Kau sudah melaluinya dengan baik. Bahkan aku rela bertepuk tangan untukmu."

"Benarkah?"

"Benar~"

"Coba~" yang menantang terkikik geli seperti anak kecil.

"Ada Noona di dalam~" ujar Chanyeol bisik-bisik.

"Berarti kau tidak sungguh-sungguh~"

"Baekhyun~ nanti dia terbangun."

"Chanyeol~ berarti ku anggap kau tidak sungguh-sungguh."

"Baiklah.. baiklah.." Chanyeol pun menghela nafas tanda menyerah. "Tapi kau tidak boleh ribut-ribut."

"Hum~"

plok.. plok.. plok..

"Ah~ kurang keras~"

"Baekhyun"

"Chanyeol~ Seperti ini"

plok.. plok.. plok.. plok.. plok.. plok..

"Hahahaha..."

plok.. plok.. plok.. plok.. plok.. plok..plok.. plok.. plok.. plok.. plok.. plok..

"Hahahahahaha"

dan untuk pertama kali Chanyeol melihat Baekhyun sebahagia itu. Tawanya lepas bahkan matanya seakan-akan mata Baekhyun tenggelam oleh pipi tembamnya. Baekhyun yang seperti ini seakan meyakinkannya untuk terus melindunginya. Melindungi kebahagiaan wanita itu~

Baekhyun masih terpingkal-pingkal membayangkan wajah menolak Chanyeol yang takut sekali ketahuan mencuri. Padahal pria itu sering memperlihatkan raut dingin dan tak peduli. Setidaknya Baekhyun menemukan sesuatu yang menghibur.

"Kalian~" Itu Tiffany. "-Bukankah ini masih sangat pagi untuk bersorak-sorai?"

"Ah kau juga terbangun."

"Aku terbangun karena kalian. Lagipula apa yang kalian lakukan malam-malam sambil bertepuk tangan begitu? Ku kira kalian menonton pertandingan bola."

"Bukan. Aku dan Baekhyun hanya sedang bergurau."

"Aish... Baekhyunku tak pernah habis semangatnya. Karna kau sudah terjaga, bagaimana kalau kita makan ramen?"

"ARRA~" Seru Baekhyun bersemangat.

"Aish~" sementara Chanyeol mendengus pasrah.

-MW-

"Agenda selanjutnya adalah wawancara dengan kandidat, Nona. Saya sudah mempersiapkan ruang meetingnya." Ujar Nyonya Ahn.

Namun yang diajak bicara sibuk dengan ponselnya sejak tadi.

"Nona?"

"Nona Baekhyun?"

"Nona Byun Baekhyun?"

"HNG?" yang dipanggil akhirnya menoleh juga. Rasanya Nyonya Hwang ingin tertawa melihat ekspresi atasannya itu. Benar-benar menggemaskan jika tidak dalam situasi seperti ini. Ia seperti habis dipergoki ibunya saat bermain handphone pada jam belajar.

"Iya Nyonya Ahn. Apa aku melewatkan sesuatu?"

Nyonya Ahn pun hanya tersenyum maklum, Baekhyun tetap Baekhyun. Anak manis Tuan Byun yang sangat manis dimata Nyonya Ahn.

"Sekitar 10 menit lagi Nona. Anda ada jadwal untuk mewawancarai kandidat."

"Ah itu~" Baekhyun menghela paham kemudian ia beralih kembali pada ponselnya. - "Nyonya? Bolehkah Anda memanggilku dengan sebutan Baekhyun saja?"

"Maaf Nona hal itu adalah etika saat bekerja. Saya tidak dapat mengubahnya."

"Umh~ tapi panggilan 'nona' terdengar aneh bagiku - Apalagi sekarang aku sudah menikah"

Yang mengaku hanya tertunduk malu berpura-pura memainkan ponsel. Membuat Nyonya Ahn gemas karenanya.

"Baiklah, Nyonya Park."

"HNG (?) #%^$! %*" Seketika Baekhyun menegak dengan mata membulat kaget bahkan Baekhyun belum menjelaskan apapun tetapi Nyonya Ahn sudah berlalu sambil tersenyum.

Nyonya Park (?) Ah~ tiba-tiba.

-MW-

"Kelihatannya kau bahagia sekali?" Tanya Sehun diseberang meja.

"Siang ini aku ingin mengajak Baekhyun makan siang bersama."

"Wah~"

"Aku hanya ingin mengakrabkan diri. Kau tahu kan?"

"Jangan lupa membagi waktunya denganku."

"Pasti... tapi tidak hari ini. Waktunya belum tepat."

"Ya ya ya~ terserah kau saja tapi ingat! Jangan membawanya ke tempat ramai. Aku hanya takut Baekyun belum bisa mengatasi reaksi berlebih pengemarmu itu. Ia masih belum stabil untuk itu."

"Hum~"

Chanyeol menggangguk serius.

Ya~ Semenjak bertemu hingga menikah dengan Baekhyun, ia tidak pernah melihat wanita itu memiliki minat untuk sekedar bertanya tentang profesi Chanyeol sebelumnya sebagai seorang entertainment dan juga penyanyi. Wanita itu seperti memiliki dunia sendiri dan tak peduli dengan dunia di sekitarnya, yang ia tahu hanya orang-orang yang ingin diingatnya.

"Kalau begitu aku pergi~ Hubungi aku jika terjadi sesuatu."

Sehun melambaikan tangan lalu menghilang dibalik pintu.

-MW-

Baekhyun baru saja menyelesaikan berkas-berkasnya saat sebuah notifikasi masuk ke ponselnya.

From : +8256633425xxx

Ayo makan siang bersama. Aku akan menjemputmu. See you

Tok... tok... tok...

"Nyonya, kandidat sudah ada di ruang meeting."

"Ah tentu. Nyonya Ahn. Aku akan turun."

To : +8256633425xxx

Ya

Send...

"Selamat Siang" Sapa seorang wanita berparas cantik yang seketika berdiri duduknya dan menyambut Baekhyun dengan jabat tangan.

"Siang, Selamat datang di perusahaan kami. Saya Baekhyun, Direktur Byun Group. Senang bertemu dengan Anda."

"Luhan. Xi Luhan. Senang bertemu dengan Anda juga."

"Ah iya, silahkan duduk." Baekhyun tersenyum ramah pada Luhan.

Mempersilahkan wanita itu duduk di hadapannya. Dilihat dari cara Baekhyun menyapa dan mendengar namanya, Luhan percaya bahwa Baekhyun kemungkinan tidak mengingatnya. Bukankah Luhan bukan seseorang yang diperkenalkan secara khusus oleh Chanyeol saat itu? Sekretaris? Hanya jabatan kecil yang mudah dilupakan.

Jika Chanyeol mengusirnya, bagaimana jika Luhan juga ingin mengusir Baekhyun dari hidup Chanyeol? Bukankah itu adil?

"Nona Xi Luhan, lahir di China dan pekerjaan terakhir sebagai sekretaris di sebuah perusahaan minyak." Bohong - Jelas Luhan berbohong mengenai pekerjaan terakhirnya. Perusahaan minyak itu adalah perusahaan terakhir sebelum ia melamar pekerjaan sebagai sekretaris Chanyeol..

"Iya Nyonya."

"Baiklah. Saya akan memberikan kesempatan Anda untuk memperkenalkan diri Anda lebih jauh. Silahkan Nona Xi"

-MW-

"Tuan?"

"Ya?" yang dipanggil melirik pada sosok wanita di ambang pintu.

"Tuan ingin saya memesankan makan siang atau-"

"Aku akan makan diluar. Ah iya~ aku lupa memberitahunya."

"Iya?"

"Ah- Bukan kau. Terimakasih Kyungsoo. Berkat kau aku jadi mengingat agenda pribadiku. Tolong kau atur jadwalku setelah makan siang. Mungkin aku akan sedikit terlambat."

Chanyeol pun bergegas memakai jasnya dan mengambil kunci mobil.

"Ah iya, setelah makan siang aku ingin kita diskusi tentang proyek minggu depan."

"Baik, Tuan." Kyungsoo pun menggangguk.

"Baiklah. Lebih baik aku pergi sekarang. Kyungsoo, aku pergi sekarang."

"Baik, Tuan."

Chanyeol bergegas menuju basement dan segera mengemudikan mobilnya menuju kantor Baekhyun.

"Baiklah Nona Luhan. Aku rasa kita cukup sampai disini. Kabar selanjutnya akan kami informasikan lewat pihak management."

"Baik Nyonya. Terimakasih."

"Aku pun berterimakasih. Kalau begitu aku pergi."

"Iya Nyonya."

Dan aku pastikan kau akan terkesan padaku, Byun Baekhyun.

Luhan pun segera pergi meninggalkan ruang meeting. Sementara Baekhyun sudah kembali menuju ruangan Nyonya Ahn.

"Nyonya Ahn?"

"Ya."

"Aku mungkin akan sedikit terlambat setelah makan siang jadi aku mengandalkanmu untuk mengatur pertemuan berikutnya."

"Baik Nyonya."

"Ok, bye Nyonya Ahn~" Baekhyun tersenyum riang dan melambai manis pada Nyonya Ahn.

Rasanya seperti mengantarkan anakku sendiri ke sekolahnya. Nona Baekhyun, kau akan selalu menjadi anakku di dalam hati ini.

-MW-

"Baekhyun!"

Untuk sepersekian detik Baekhyun kebingungan mencari sumber suara yang memanggilnya. Namun detik berikutnya ia dapat melihat dengan jelas seorang pria yang tersenyum lebar sembari melambaikan tangan diseberang jalan dengan sebuah mobil sport hitam di belakangnya.

Kai?

Mau tidak mau Baekhyun menghampiri Kai.

"Kau?"

"Ya~ aku menjemputmu. Ayo masuk~"

"Aku ada janji."

"Bee~ Tapi kau menjawab ajakan makan siangku Bee dan aku masih memiliki buktinya." Kai berusaha merogoh saku jasnya.

"Kau ganti nomer?" Tanya Baekhyun bosan.

Ku kira itu Chanyeol. Ternyata kau~

"Ya~ dan aku kesini untukmu."

"Aish~ Ya sudah ayo"

"Dengan senang hati tuan putri." Kai pun tersenyum senang sembari membukakan pintu mobil. Tak sulit membujuk Baekhyun karena ia adalah seseorang yang memegang janjinya.

Baekhyun dan Kai pun pergi bersama dan tanpa di duga Chanyeol baru saja tiba di kantor Baekhyun.

"Permisi, aku ingin bertemu dengan Nona Baekhyun." Tanya Chanyeol terengah-enggah pada seorang receptionist.

"Atas nama bapak?"

"Chanyeol~ Park Chanyeol!" Bukan.. Itu bukan suara Chanyeol.

Pria itu pun melirik pada seorang wanita yang tiba-tiba datang disampingnya.

"Luhan?"

-TBC-