YOU ARE NOT MY WIFE [ChanBaek GS]
xxx
Park Chanyeol
Byun Baekhyun
xxx
#ig : ddnoona #wattpad : dnoonaa #ffn : dnoona
xxx
Sedari tadi Baekhyun terus memikirkan Chanyeol. Entah bagaimana perasaan tak enak hati menghantuinya. Padahal Baekhyun tak sedikitpun sedang terlibat permasalahan dengan pria itu bahkan pagi tadi tak terasa kaku seperti sebelumnya.
Ia hanya berpikir, hal ini mungkin saja salah. Ya, pergi bersama Kai bisa menimbulkan perspektif yang tidak baik di depan publik. Seketika Baekhyun beralih pada Kai.
"Kau menatapku dengan horor, B~. Apa kau ingin mengatakan sesuatu?"
"Tidak~" Baekhyun segera mengurungkan niatnya. Mengembalikan fokusnya pada jalanan.
"Sungguh?"
"Tidak~"
"Sungguh?"
"Baiklah.. baiklah.. Ehm~ aku hanya sedikit berpikir, apakah aku masih pantas makan siang denganmu?- m-maksudku, semua orang tahu jika aku bersuami?" Gumamnya pelan.
Seketika Kai membagi fokusnya pada Baekhyun dan berkerut dahi atas pertanyaan Baekhyun.
"B~"
"Aku hanya berpikir, Kai. Kau, public figure dan tentu saja akan tidak baik-baik saja jika kita kedapatan makan siang bersama."
"Kau mencemaskanku?"
"Tolong jangan paham-"
"Berarti kau mencemaskan Park Chanyeol?"
"Bukan begitu, Kai."
Kai sudah tau, perdebatan ini tak akan cepat berakhir. Ia pun menepikan mobilnya di depan sebuah toko.
Lalu beralih pada Baekhyun yang nampak bersedih dengan tangannya yang basah oleh keringat dingin.
"Apa yang salah menurutmu, B?Mengapa kau selalu berpikir ini benar atau salah menurut orang lain. Sedangkan kau tidak sepenuhnya dapat mengutarakan keinginanmu. Dengar aku-" Kai pun mencoba memalingkan wajah Baekhyun padanya.
"Dulu kau memintaku untuk melepasmu dan memenuhi keinginan ayahmu. Aku mengalah, B. Kemudian kau memintaku untuk tetap menjaga pertemanan kita. Lalu sekarang kau memikirkan pandangan orang lain terhadap kita. KITA SEKARANG TEMAN, B. Apa yang perlu kau takutkan?-"
"KARNA DUNIA TAU KITA PERNAH MENJADI SEPASANG KEKASIH. Apa kau masih belum mengerti?"
"Lalu bagaimana denganmu, B? Apa kau mengerti perasaanku? Sedikit saja? Selama kita bersama, apa kau mengerti perasaanku? Aku slalu mengalah untukmu? Aku yang slalu menjaga hubungan kita. Bahkan aku rela melepasmu demi keingin konyol ayahmu itu. APA KAU PIKIR AKU BAIK-BAIK SAJA, B?"
Suaranya begitu bergetar seakan membendung amarah dan kesedihan yang sudah memuncak di pangkal tenggorokkannya.
Walaupun Baekhyun tak memungkiri jika ia dapat melihat kesedihan yang mendalam pada kedua mata Kai yang berkaca merah.
"AKU INGIN TURUN." Final Baekhyun
Klik ...
Kai terlebih dulu menekan central lock, membiarkan Baekhyun mendorong pintu mobil dengan sia-sia.
"KAU TETAP DISINI." Ujar Kai penuh penekanan.
Sedangkan Baekhyun melemparkan tatapan sedih yang sayangnya isakan bahkan air mata Baekhyun sudah luruh tak dapat terbendung lagi.
"Kau pikir aku pun baik-baik saja Kai? Aku juga ingin bersamamu tapi coba kau pikir mengapa appa lebih memilih Chanyeol yang baru ditemuinya daripada dirimu, HAH? KAU PIKIR MENGAPA? BAHKAN KITA SUDAH BERPACARAN LEBIH DARI 5 TAHUN - Kau tau mengapa? karna kau tidak pernah bisa membuktikan pada appa bahwa aku menjadi pribadi yang lebih baik lagi jika bersamamu. Bahkan KAU TAK HADIR SAAT PEMAKAMAN ORANG YANG KAU ANGGAP KONYOL PERMINTAAN TERAKHIRNYA. Kau jahat, Kai. KAU JAHAT. Bahkan appa tidak tau kalau aku pecandu minum-minuman, perokok, bahkan AKU SUDAH TIDAK PERAWAN. hiks~ dan semua itu bermula saat aku mengenalmu. KAU, KAI. Kau~ hiks... Hiks... Hiks..."
Tangis Baekhyun pecah sejadi-jadinya bersama dengan kedua tangan yang menangkup menutup seluruh wajahnya yang sudah merah padam oleh amarah.
"Baiklah, jika kau tidak ingin makan siang. Biar ku antar kau kembali." Kai segera berbalik guna menghapus air matanya sendiri dan beralih pada kemudi.
"Dan tentang kepergian ayah dan juga ibumu, aku turut berduka. Aku sudah meminta agensi untuk membantuku menemuimu waktu itu tapi seperti yang kau tau, wartawan ada dimana-mana dan aku tak ingin membebanimu. Aku meminta maaf baru menemuimu sekarang secara langsung. Dan ku pikir hari ini aku bisa menghiburmu,- nyatanya tidak"
Sungguh ini terdengar lucu di telinga Kai. Ia hanya berdecih remeh kemudian pada dirinya sendiri. Lalu melajukan mobilnya memutar jalan kembali.
-MW-
"Kau? Sedang apa disini?" Chanyeol begitu terkejut melihat Luhan.
"Bukankah kau terlalu jahat memecatku, Chan? Sementara aku harus terus meneruskan kehidupanku juga?"
Chanyeol seakan tertohok namun ia tak ingin terlalu lama disini. Kemudian ia beralih pada sang reseptionis.
"Jika nona Baekhyun sudah kembali, tolong sampaikan jika Park Chanyeol datang dan menelponnya."
"Baik tuan"
Kemudian Chanyeol mengangguk dan berpaling tanpa mengindahkan Luhan disana.
Seketika Luhan yang merasa tak terima diacuhkan begitu menyusul Chanyeol kemudian.
Ditariknya siku pria itu.
"Tunggu~"
"Aku harus kembali." Ujar Chanyeol tegas.
Mata itu, mata yang saat ini Luhan tatap begitu dingin. Seakan membangun dinding pembatas tak bercelah.
"Kau sungguh tak seperti Chanyeol-ku" gumam Luhan lemah. Sungguh Chanyeolnya sudah tak terlihat diantara kedua bola mata itu.
Cklek ...
Baik Chanyeol dan Luhan segera tersadar dan beralih pada sesosok pria yang sedang membukakan pintu mobil bagi seorang wanita.
Wanita yang masih menundukkan pandangannya saat turun dari mobil namun, kemudian menatap pria itu dengan wajah sembab. Membuatnya menjadi perhatian beberapa orang yang berlalu lalang saat sang pria menghapus air matanya dan memberikan sapu tangan kepadanya.
Belum juga sapu tangan itu diterimanya, sebuah suara memanggilnya.
"Baekhyun~"
Yang dipanggil membulatkan matanya kaget begitu melihat siapa yang memanggilnya. Lalu pandangannya seolah beralih begitu saja pada tangan seorang wanita yang memegang lengan suaminya.
Tak hanya Baekhyun dan Chanyeol yang seakan terpaku. Namun, Kai cepat sadar dan bergumam kecil pada Baekhyun. "Aku akan pergi, jaga dirimu."
"Aku permisi terlebih dulu." Kai pun membungkuk hormat pada Chanyeol.
Menyadarkan pria itu dari keterkejutan dan melepaskan lengan Luhan dari sikunya.
"Aku menunggumu di rumah" Chanyeol pun segera bergegas pergi.
Meninggalkan dua orang wanita yang kini seakan membeku dalam bersikukuh tatap. Sungguh mereka baru saja bertemu tetapi mengapa kesan pertama terlihat buruk. Pikir Baekhyun.
-MW-
Entah apa yang dipikirkannya saat memutuskan untuk kembali ke rumah. Ia berharap membutuhkan ruang privasi untuk membicarakan segalanya dengan Baekhyun.
Siang ini segalanya seakan tak menentu dan begitu bias.
"Kau sudah pulang? Cepat sekali?" Itu Tiffany.
"Noona belum pulang" tanya pria itu dingin.
Tiffany seakan tertohok dengan pertanyaan ini. Ia sedikit banyak tahu karalter Chanyeol dan ia dapat mengerti jika pria ini sedang dalam amarah.
"Sepertinya sebentar lagi aku akan pergi." Ujarnya ragu.
Namun tidak dengan Chanyeol yang sudah berjalan menuju tangga. Meninggalkan Tiffany dalam pikirannya sendiri, bertanya-tanya apa yang sedang terjadi. Pikirnya.
"Eonnie~" Baekhyun sudah sampai di ambang pintu.
Bukannya menjawab, Tiffany terlebih dulu melihat ke dalam mata Baekhyun yang begitu merah akibat meningis. Apakah ada kaitannya dengan Chanyeol?
"Ah ya~ eonnie sebentar lagi akan pulang. Senang melihat kau dan Chanyeol pulang sekarang. Eonnie pamit ya?"
"Mengapa mendadak?" Tanya Baekhyun lemah, ia sudah berpikir mungkin Tiffany tahu tentang permasalahan ini.
"Tidak apa-apa. Aku memang harus pulang. Oh ya, Chanyeol juga sudah pulang. Segeralah ke atas."
"Kenapa cepat sekali? Menginaplah sehari lagi eonnie~"
"Tidak, B. Aku sudah terlama meninggalkan suami. Kasihan dia. Ya sudah, aku akan ke kamar mengambil brangku. Dan kau cepat ke atas. Selesaikan masalahmu dengan Chanyeol."
Baekhyun hanya menatap sedih pada dereran tangga di depannya. Melihat kamar yang berada tepat di ujung tangga.
"Ingat - Kau hanya perlu jujur dan terbuka pada Chanyeol. Beri ia kesempatan untuk mendengarkan semuanya dengan baik." Nasehat Tiffany.
"Um'um~" Baekhyun pun hanya mengangguk lemah. Lalu tersenyum pada Tiffany. "Terimakasih eonnie~ maaf aku belum bisa memberikan jamuan yang baik sebelum kau pergi."
"Tak apa. Sudah sana pergi."
"Baik, sekali lagi terimakasih eonnie~ dan berhati-hatilah." kemudian mereka berpelukkan.
-MW-
Baekhyun terlebih dulu menata pikiran dan hatinya. Bersiap bercerita pada Chanyeol jika pria itu bertanya tentang siapa dan apa hubungannya dengan Kai.
Ya, tak ada yang perlu ditutupi lagi pikirnya.
"Boleh aku masuk?"
"Masuk"
Suara dalam dan dinginnya seakan menguarkan aura hitam ke seluruh kamar.
Dilihatnya pria itu sedang melepas dasi hingga kemejanya. Bahkan Baekhyun dapat melihat sendiri tubuh kotak-kotak tanpa balutan sehelai kain itu dengan jelas.
Tubuhnya bergerak kesana kemari melempar beberapa pakaian dari lemari. Seperti sedang memilih-milih pakaian yang cocok untuknya. Tetapi terkesan disengaja.
Keadaannya saat ini seakan Baekhyun adalah seseorang yang kedapatan berselingkuh dan dituntut untuk menjelaskan semuanya.
"A-aku~"
Bukannya berhenti dari kegiatannya. Chanyeol semakin sibuk di depan lemari. Melempar kemejanya satu persatu yang sudah terlipat ke atas tempat tidur.
Lama Baekhyun tak meneruskan perkataannya, Chanyeol terlebih dulu mengambil handuk.
"Aku akan segera mandi jika tidak ada yang ingin kau katakan."
Chanyeol mengambil jeda sebentar sebelum pertanyaannya terjawab dalam diam. Ia pun mengerti, saat wanita tak sedikitpun menatapnya. Segera ia berlalu menuju kamar mandi.
Bahkan Baekhyun seolah tak melawan. Ia seperti bukan dirinya, entah bagaimana aura Chanyeol begitu pekat dan dominan. Membuatnya tak banyak bicara jika sudah begini.
Sementara dibalik pintu kamar mandi Chanyeol merutuki dirinya, malu saat menyadari jika kelakuannya diluar batas wajar.
Seperti, suami istri sungguhan saja. Pikirnya.
Namun ia tak memungkiri jika ia marah saat pria lain yang menghapus air mata Baekhyun. Rasanya seperti tak berguna dan tak diandalkan.
Awalnya ia bertanya mengapa Baekhyun menangis namun amarahnya tiba-tiba datang kala pria tak dikenalinya menyentuh Baekhyun tanpa permisi.
Lebih dari 20 menit Chanyeol berendam di bawah derasnya air dingin. Ya, ia rasa perlu sedikit air dingin untuk menyegarkan pikirannya.
Chanyeolpun keluar dengan bertelanjang dada dan lilitan handuk. Sementara dilihatnya, Baekhyun yang tengah duduk di tepi ranjang sembari melipat pakaian yang barusan ia lempar.
"Eh-" Baekhyun segera berdiri dari duduknya saat melihat Chanyeol sudah selesai dari mandinya. "Aku akan turun. Kau bisa memakai kemeja yang itu." Tunjuknya pada sebuah kemeja dan celana bahan.
Kemudian wanita itu turun ke bawah. Pergi menuju dapur.
Ia mencoba melihat-lihat isi kulkas dan mulai memotong-motong sayuran dan fillet ayam.
Semua itu tak lepas dari pandangan Chanyeol yang diam-diam mengintip dari celah pintu saat Baekhyun sudah turun.
Hati Chanyeol tiba-tiba menghangat, Baekhyun seakan tahu bagaimana cara meluluhkan amarahnya.
Setelah selesai menyiapkan makan siang, Baekhyun berjalan menuju kamar. Mencoba mengganti pakaiannya dan berkirim pesan pada sekretarisnya untuk mengabari wanita itu jika ia tak kembali ke kantor hari ini.
Setelah memasak Baekhyun setidaknya berharap ia memiliki sedikit keberanian untuk berterus terang pada Chanyeol. Sedikit membujuk pria itu dengan makanan, tak apa pikirnya. Walaupun ia tak tahu apakah rasanya sesuai dengan selera Chanyeol.
Chanyeol sudah berada di lantai bawah, begitu takjub dengan meja makan saat ini. Memang tak banyak makanan yang tersedia, setidaknya Baekhyun dapat menyelesaikan semua masakan itu hanya dalam 30 menit.
Sebuah suara langkah kaki di belakangnya menyadarkan Chanyeol dari pikirannya sendiri. Lalu ia berpikir untuk kembali pada memasang wajah dingin dan marah.
Namun saat ia berbalik, Baekhyun sudah nampak lebih segar dengan dress pendek dan tali baju yang tipis khas baju rumahan. Chanyeol pikir Baekhyun mungkin tak akan kembali ke kantor. Berbeda dengan dirinya yang sudah kembali segar dengan pakaian kantor.
"Aku sudah menyiapkan makan siang. Lebih baik kau makan terlebih dulu sebelum berangkat." Senyum manisnya begitu tulus syarat akan kesabaran.
Chanyeol pun yang memang sudah mulai luluh pun duduk dengan tenang. Ia mulai mencoba makanan yang Baekhyun buat. Ya memang hanya semangkuk sup dan dak galbi saja tapi itu cukup untuknya.
Berbeda dengan Baekhyun yang masih tertunduk dalam - mencari kata yang tepat untuk memulai percakapan.
"Um~ A-pa, makanannya bisa dimakan?" Tanyanya ragu dengan rasa masakannya.
Pertanyaan macam apa itu. Pikirnya aneh.
"Hu um~" chanyeol hanya mengangguk seadanya dan masih terfokus pada makanannya.
"Apakah - dak galbinya terlalu pedas?"
"Hu um~"
"Oh begitu~ maaf~" ujarnya lirih
Baekhyun pun sedikit kecewa dengan tanggapan Chanyeol. Pria itu sepertinya tak sedikit pun menaruh minat untuk berbicara dengannya. Bagaimana ia bisa membicarakan hal yang mungkin tak akan diterima oleh Chanyeol jika seperti ini.
Baekhyun pun mencoba mengalihkan perasaan kecewanya pada semangkuk nasi dan sup di depannya. Mencoba menyendokkannya. Namun, kerongkongannya seakan tercekat dan begitu kering.
Sehingga yang masuk ke mulutnya adalah air mata. Membuatnya sesenggukan karena menahan tangis
"Hugh.. hugh... ah~ i-ni benar-benar pedas." ujarnya dengan sedikit nada riang.
Kemudian Baekhyun mencoba mengambil gelas berisikan air mineral di sampingnya. Sungguh Chanyeol bisa melihat tangan itu bergetar saat Baekhyun berusaha memegangnya dengan kedua tangan.
"Shh~" Chanyeol segera menghampiri Baekhyun dan mencoba menepuk-nepuk pelan punggung sempit wanita itu.
"Sudah... Jangan menangis lagi"
"Hiks... Hiks... Hiks..." Bukannya berhenti, isakkannya semakin kencang.
"Aku sudah mengatakan, jangan menangis. Mengapa kau semakin kencang?"
Chanyeolpun berlutut di samping kursi Baekhyun. Memandang wajah sendu itu iba.
"Hiks... Aku...-"
"Aku yang minta maaf. Tak seharusnya aku bersikap begitu. Bukankah aku juga harus menjelaskan sesuatu padamu? Lalu mengapa kau menangis? Kau tidak seperti Byun Baekhyun yang aku kenal. Biasanya kau marah-marah."
"Ish~" Tahu kalau ia terlihat cheessy. Baekhyun segera menghapus air matanya sambil tertawa.
"Harusnya kau memarahiku saat melempar-lempar baju seperti tadi. Bukannya memasakkanku dak galbi dan sup yang sangat enak."
"Kau bilang hiks... tadi pedas." Sungguh Baekhyun masih saja sesenggukkan.
"Tapi aku suka~"
Segurat senyum menghiasi wajah keduanya.
-MW-
"Aku buatkan teh. Supaya kau tidak sesegukkan lagi." Chanyeol berjalan menghampiri Baekhyun dengan dua buah cangkir di atas nampannya.
Mereka ada di rooftop sekarang, menikmati senja. Ya, Chanyeol tidak jadi ke kantor lagi. Ia merasa perlu meluruskan segalanya.
"Kau tahu, kemana aku pergi saat hari pertama setelah pernikahan kita?"
Baekhyun pun menggelengkan kepala.
"Aku bertemu mantan kekasihku. Ya saat itu aku masih berhubungan dengannya. Tapi sudah ku putuskan untuk mengakhirinya pada hari itu. Aku berpikir akan sangat buruk dan tidak bijaksana jika aku tetap mempertahankannya dan menikahimu. Walaupun ku sadari semuanya tak sepenuhnya adil."
"Umh~ Aku juga~"
"Hgh(?)"
"Ya, aku juga melakukannya. Hari pertama setelah pernikahan kita - aku bertemu dengan mantan kekasihku. Lebih buruk darimu, kami pergi berjalan-jalan."
Baekhyun menoleh pada Chanyeol. Mencoba melihat reaksi Chanyeol dan benar saja. Pria itu sudah berkerut dahi menuntut jawaban.
"-hanya itu, tidak lebih" tambahnya. Kemudian Baekhyun mencoba bertanya. "Berarti... Yang tadi itu mantanmu?"
Sedikit menerawang pada jingganya senja, Chanyeol menyesap tehnya dengan pelan. "Ya, bukankah aku sudah mengenalnya padamu saat acara resepsi?"
"Umh~ aku tak begitu pandai mengingat wajah atau rute jalan." Ujarnya lesu sehingga menghndang tawa jumawa dari Chanyeol.
"Lalu pria yang bersamamu pasti mantanmu?"
"Ya"
Ada nafas lega diantara keduanya, paling tidak keduanya mengakui jika orang yang mereka temui tadi adalah mantan mereka. Bukan seseorang yang spesial seperti yang mereka pikirkan.
"Aku hanya ingin meminta satu hal darimu."
"Hm?"
"Jangan pernah mengganggap dirimu sendirian, ada aku disini. Rasanya ada perasaan kesal saat kau lebih mempercayai orang lain dibandingkan diriku."
"Hgh?" Baekhyun mencoba mencondongkan badannya. Ia terlihat sulit untuk mencerna perkataan Chanyeol. Pria itu terlalu cepat dan Baekhyun tertinggal untuk menangkap maksud perkataannya.
Sayangnya, Chanyeol tak ingin mengulangnya.
"Huah~ aku merasa cape sekarang. Padahal aku masih memiliki beberapa berkas untuk disiapkan besok." Chanyeol merentangkan kedua tangannya malas dan bersiap pergi.
Oh sungguh hari yang melelahkan
"Mau ku bantu?"
-TBC-
