YOU ARE NOT MY WIFE [ChanBaek GS]
xxx
Park Chanyeol
Byun Baekhyun
xxx
#ig : ddnoona #wattpad : dnoonaa #ffn : dnoona
xxx
Baekhyun dan Chanyeol melakukan pekerjaan mereka seperti biasa. Dimana mereka akan makan bersama di pagi hari dan berangkat bekerja bersama dengan mobil masing-masing. Semuanya terdengar normal dan mereka juga masih sering berdiskusi untuk beberapa kepentingan kantor pada malam hari. Baekhyun juga sering mengajak Chanyeol untuk menyempatkan diri pergi ke rumah orang tua Chanyeol saat weekend.
Sungguh hal yang normal pada umumnya. Namun, bukan hubungan suami istri sesungguhnya.
"Apa tidak sebaiknya kalian periksa ke dokter?" Tanya Mama Park khawatir.
Pasalnya pernikahan anaknya telah masuk bulan ke 4 dan mereka belum juga dikaruniai anak.
"A-aku-"
"Jangan khawatir Baekhyun-nie, kami akan menemanimu ke dokter. Tak perlu khawatir dengan hasilnya. Kami akan tetap bersamamu"
Mama Park tersenyum menenangkan sembari membawa tangan Baekhyun dalam genggamannya. Ia berusaha menguatkan Baekhyun. Namun, tanpa diketahuinya Baekhyun merasa bersalah dan khawatir yang berlebih.
Kami bahkan tak melakukannya sampai saat ini, Ibu. Gumam Baekhyun dalam hati.
Mama Park tentu tak tau apapun tentang hubungan pernikahan Chanyeol dan Baekhyun. Mereka terlihat akur saat mengunjunginya dan begitu mesra saat berdekatan. Sehingga Mama Park berpikir bahwa Chanyeol sudah menerima Baekhyun sebagai istrinya dengan baik.
Sore menjemput dan Chanyeol memutuskan untuk mengajak Baekhyun pulang. Namun, entah bagaimana ia melihat Baekyun terlihat sangat murung.
"Hey.. apa kau baik?" Pria itu memalingkan wajah kesamping dan melihat Baekhyun sedikit tersentak karenanya.
"Eh?" Baekhyun menatap Chanyeol dengan bingung.
"Aku melihat kau murung, apa kau tidak enak badan?"
"Ah~ bukan." Baekhyun menghela nafas lega dan berusaha memalingkan wajahnya ke jendela. "Aku hanya memikirkan tentang kantor."
"Umh~ apa terjadi sesuatu?"
"Tidak, Chanyeol. Hanya hal biasa."
"Apa Luhan membebanimu?"
"Hum? Kalau yang kau maksud adalah pekerjaannya. Aku mengerti, ia masih dalam tahap belajar."
"Aku terkadang bertanya. Mengapa kau mempekerjakannya dan apakah kau akan terbebani dengan adanya Luhan disana?"
"Tidak~ sungguh aku merasa biasa saja padanya. Ia bekerja dengan baik dan cukup membantu. Kau tak perlu khawatir, aku akan tetap profesional."
Namun Chanyeol tetap menatap Baekhyun tak percaya. Ia hanya takut, Luhan melakukan sesuatu yang entah bagaimana dapat mengusik Baekhyun.
Mereka pun melanjutkan perjalanan dengan tenang, tanpa ada yang berniat membuka obrolan ataupun sekedar bercerita.
-MW-
"Nyonya Ahn, apakah berkasnya sudah siap?"
"Sudah."
"Baiklah kalau begitu, bisakah aku meminta tolong untuk membelikan segelas kopi americano? Oh, Baekhyun menginginkannya. Tetapi aku lupa bertanya, seperti apa seharusnya aku membelinya? Apakah less ice atau ah~ bahkan mungkin saja hot. Aku benar-benar tak bertanya."
"Luhan, Baekhyun biasanya-"
"Nyonya Ahn, aku mohon. Anda saja yang membelinya. Aku tak ingin mengambil kesalahan lagi. Kumohon~" Luhan memelas kasihan pada Nyonya Ahn.
Dan Nyonya Ahn menghela nafasnya, pasrah. "Tolong siapkan semua berkasnya menjadi satu untuk meeting."
"Baik Nyonya Ahn."
"Dan Jangan lupa untuk memastikan semua minuman dan snack cukup untuk meeting."
"Baik Nyonya Ahn."
Nyonya Ahn berdecak pasrah kemudian pergi sementara Luhan menyeringai senang disana. Dan tak perlu menunggu lama, Luhan pergi menyiapkan semua berkas dengan baik di ruang meeting serta memastikan minuman dan snack cukup.
"Ini baru permulaan, Byun Baekhyun."
-MW-
Baekhyun sudah bersiap-siap untuk melakukan meeting dengan vendor. Kemudian ia bergegas menuju ruang meeting, namun sayang ia tak menemukan Nyonya Ahn maupun Luhan di meja kerja mereka.
Kemudian dia menelpon Luhan, menanyakan dimana gadis itu berada.
"Saya sudah berada di ruang meeting, Nyonya."
"Dimana Nyonya Ahn?"
"Nyonya Ahn? Saya tidak tahu. Bahkan saya sendiri yang menyusun bahan meeting saat ini dan tidak menemukan Nyonya Ahn."
"Baiklah, aku akan turun sebentar lagi."
Baekhyun termenung sejenak, apa mungkin Nyonya Ahn sakit? Atau anaknya kembali ke rumah sakit? Tapi mengapa handphone dan tasnya tertinggal di meja?
Baekhyun tak bertahan lama di depan meja sekretarisnya. Ia segera bergegas menuju ruang meeting. Dimana ada Luhan yang sudah menyambutnya sembari membungkuk hormat. Ruang meeting sudah siap dan beberapa anggota meeting sudah berada disana.
"Terimakasih Luhan."
"Tak masalah, Nyonya."
"Oh iya, tolong katakan pada Nyonya Ahn untuk beristirahat saja jika ia sakit atau jika ada suatu kepentingan ia boleh pergi."
"Baik Nyonya."
Meeting pun dimulai, semua berjalan lancar. Sudah 30 menit berlangsung dan Nyonya Ahn pun tak kunjung datang. Sesekali Baekhyun nampak khawatir dan meminum air untuk mengurangi ke khawatirannya.
Bagaimana pun Nyonya Ahn tidak pernah mangkir dari pekerjaannya. Lagipula disaat seperti ini Baekhyun membutuhkan Nyonya Ahn sebagai penasehatnya. Wanita itu sangat bijak dalam memberikan pertimbangan.
Sesekali Baekhyun melirik Luhan yang berada di ambang pintu. Wanita itu tersenyum ramah padanya tapi entah bagaimana tak terlihat baik di mata Baekhyun. Ia mulai berpikir apakah Luhan adalah orang yang tepat ia beri kesempatan atau sebaliknya.
"Eugh~"
Tiba-tiba Baekhyun merasa jantungnya berdebar begitu kencang, rasanya begitu tak nyaman. Tangannya pun bergemetar hebat saat ia memeriksa jantungnya. Merasa tak baik, Baekhyun berpikir untuk pergi saat itu juga tanpa mengundang kecurigaan orang lain.
Perlahan Baekhyun bangkit perlahan. Meninggalkan Luhan yang nampak acuh padanya di ambang pintu. Baekhyun terus mencoba berjalan secepat yang ia bisa menuju toilet. Luhan hanya membiarkan Baekhyun berjalan begitu saja meninggalkan ruang meeting kemudian berseringai saat Baekhyun menghilang dari pandangannya.
Tubuh Baekhyun seakan melayang dan pening di kepalanya berdenyut hebat. Ia berjalan sempoyongan tanpa perduli pada orang-orang yang memandangnya aneh. Oh Tuhan, ia tahu rasa apa ini. Ia tahu mengapa ia mengalami hal ini lagi.
Yang Baekhyun lihat pertama kali saat sampai di toilet adalah wajahnya yang terpampang pucat di kaca. Wajahnya sungguh memerah dengan sempurna, belum lagi matanya yang sayu.
Baekhyun tahu, ini adalah heroin. Wajahnya memerah karna menahan nikmat yang telah lama ia tinggalkan. Sungguh ia tak ingin kembali candu lagi dan tak ingin menjadi seperi ini. Ditutupnya pintu toilet dan ia segera masuk ke dalam biliknya.
Disisi lain Luhan menyeringai menang, ia mengambil ponsel Baekhyun dan mengirim pesan pada seseorang.
To : Kim Jongin
Tolong aku, aku membutuhkan bantuanmu. Sesuatu terjadi pada tubuhku, aku kesakitan. Tolong aku. Aku berada di kantorku, toilet wanita lantai 2.
Siapa yang tak kenal Jongin? Sekali memandang pun Luhan sudah tahu jika Jongin adalah artis yang biasa tampil di tv dan mungkin memiliki hubungan spesial dengan Baekhyun. Itulah yang Luhan pikirkan tempo hari saat melihat Jongin mengantar Baekhyun ke kantor. Maka dari itu ia bermaksud mempertemukan Baekhyun kembali dengan Jongin.
To : Chanyeol
Tolong aku Chanyeol, bisakah kau menjemputku di basement kantorku? Sesuatu terjadi pada tubuhku
Pekerjaan Luhan selesai dan ia tinggal menunggu hasilnya. Dimatikannya ponsel Baekhyun, lalu diletakkannya lagi ponsel itu di meja.
-MW-
"Baekhyun?!" Jongin terkejut melihat isi pesan yang di terimanya. Jadi ia memutuskan untuk menelpon Baekhyun.
Namun, nihil. Ponsel Baekhyun mati. Jadi Jongin segera mengambil kunci mobilnya dan keluar dari aparmentnya.
Sekeras apapun ia mencoba menjauhi Baekhyun, ia tetap saja tak bisa menghiraukan wanita itu. Wanita yang dicintainya. Wanita yang ia tinggalkan untuk orang lain.
Dilain pihak, Chanyeol sedang meninjau proyeknya saat pesan Baekhyun masuk ke ponselnya.
"Baekhyun?!" Bibir Chanyeol kaku dan khawatir saat melihat isi pesan yang di terimanya. Kemudian ia segera menelpon Baekhyun. Namun, hanya suara operator yang menjawab.
Chanyeol segera menyerahkan tugasnya pada sang sekretaris, Kyungsoo. Dan meminta wanita itu menyelesaikan sisanya. Chanyeol pun pergi untuk melajukan mobilnya.
"BAEKHYUN!? BAEKHYUN!?" DOR.. DOR.. DOR.. Jongin terus berteriak, memastikan Baekhyun ada di dalam sana.
Sayangnya, Baekhyun tak menjawab. Membuat Jongin terpaksa mendobrak pintu toilet, membiarkan banyak orang memerhatikannya. Bahkan satpam yang ada disana membantu Jongin, namun Jongin meminta mereka untuk tidak ikut masuk ketika pintu toilet terbuka.
Jongin berlari menuju salah satu bilik dipojok sana yang tertutup rapat.
"BAEKHYUN!? BYUN BAEKHYUN!?" DOR.. DOR.. DOR..
"BAEKHYUN?! KAU MENDENGARKU? BUKA BAEK?!" DOR.. DOR.. DOR..
"BAIKLAH.. DALAM HITUNGAN KE 3 AKAN KU DOBRAK. BAEKHYUN? BYUN BAEKHYUN?!" Jongin benar-benar kalap saat tak mendengar suara Baekhyun sama sekali.
"1... 2... 3..."
BRAAAKKKK...!
Jongin mematung disana, matanya syarat akan keterkejutan yang menyebabkan sekujur tubuhnya kaku di tempat. Tak dapat berkata-kata lagi.
"Baekhyun~"
TBC
Note :
Gue gak akan ngerevisi apa-apa disini semuanya sama persis sama yang ada di Wattpad. Kalian yang pengen update-an cerita gue yang paling baru bisa cek di Wattpad, user namenya ada diawal setiap chap ya.
Kalau ada typo atau apapun itu silahkan abaikan karna gue suka pusing sendiri bacanya wkwk. Bosen sendiri gitu baca tulisan sendiri dan gue juga masih awam dan niat gue uload story ini supaya bisa menghibur kalian aja.
Gue gak akan nutup paksa story ini tanpa ending walaupun gue pikir ini cerita ya ga bagus-bagus amat tapi gue hargaiin orang-orang yang slalu nunggu dan dukung story ini. Thanks semuanya.. terharu aku tu
