YOU ARE NOT MY WIFE [ChanBaek GS]
xxx
Park Chanyeol
Byun Baekhyun
xxx
#ig : ddnoona #wattpad : dnoonaa #ffn : dnoona
xxx
Kai masuk ke dalam ruang inap Baekhyun terburu-buru. Dadanya naik turun tak tenang tentu saja karna ia berlari dari lobby rumah sakit saat orang suruhannya memberitahkan dimana tepatnya Baekhyun dirawat.
"Baekhyun?"
Kai menatap Baekhyun khawatir. Namun malaikatnya itu nampak takut menatapnya bergantian pada sosok yang juga ada disana. Chanyeol memerhatikannya dengan jengah. Pria itu mendekap kedua tangannya di depan dada. Wajahnya menunjukkan penolakan tetapi tak ada satu kata pun yang keluar dari bibirnya.
Kai menatap Chanyeol kembali. Memberi tatapan menantang. Kai tidak peduli jika pria itu marah karna ia pun sesungguhnya benci pada Chanyeol.
"K-Kai?" Ujar Baekhyun lemah. Baekhyun mencoba mengalihkan pandangan Kai pada Chanyeol.
"B~" Kai tersadar dan mencoba melangkah mendekati Baekhyun . Duduk disamping wanita itu. Lalu Kai menggenggam tangan Baekhyun lembut. Namun, Baekhyun menarik tangannya kembali. Sadar kalau Chanyeol sedari tadi memerhatikan mereka berdua dan apa yang Kai lakukan terasa salah. Baekhyun menolak Kai demi Chanyeol namun Kai menyalah artikannya sebagai ketakutan Baekhyun terhadap Chanyeol. Jadi Kai kembali menatap Chanyeol yang berada di belakangnya dengan tatapan tajam.
Pantas saja Baekhyun terlihat ketakutan dan tertekan. Gumam Kai kesal.
"A-Ada apa?" Baekhyun kembali mencoba mengalihkan pandangan Kai.
"B~ Apa kau baik-baik saja? Aku sangat mengkhawatirkanmu."
Terasa wajar pertanyaan Kai itu di telinga Baekhyun namun, wanita itu menyimpan banyak tanya seperti bagaimana Kai ada disana dan mengetahui keadaannya. Tapi ia tak akan sanggup bertanya macam-macam pada Kai saat ini terlebih lagi Chanyeol tengah menatapnya tajam. Bahkan ia dapat merasakan bahwa tatapan laki-laki itu bisa saja menembus tembok, saking tajamnya. Huh
"A-Aku baik, Kai. Jadi kau bisa pulang sekarang." Ujar Baekhyun lemah.
"B~?"
"Kau hanya ingin tahu keadaanku kan? Aku baik-baik saja."
Namun hal itu semakin membuat Kai memupuk curiga pada sosok yang sedari tadi berdiam diri di belakangnya.
"Apa Chanyeol mengancammu B? Apa selama ini dia yang menekanmu? Membuatmu menjadi seperti ini? Kau tak perlu takut, katakan padaku. Aku bisa membawamu pergi-"
"Aku butuh istirahat, Kai. Tolong~"
Mata Baekhyun memelas pada Kai. Tolong jangan seperti ini, Kai. Kau hanya akan memperburuk suasana.
Kai lemah, ia tak dapat menolak permintaan Baekhyun. Sungguh ia masih mencintai Baekhyun, bahkan jika harus menunggu. Kai akan menunggu Baekhyun selama apapun gadis itu minta.
"Aku mohon keluarlah."
Kai mengangguk setuju. Namun sebelum itu ia melirik Chanyeol sebentar lalu menarik tangan Baekhyun dalam genggaman.
"Jika kau membutuhkan bantuanku, kau tahu aku slalu ada disini untukmu B. Jangan pernah takut." Dengan berani Kai mencium tangan Baekhyun lembut. Lalu pergi begitu saja sama seperti saat ia masuk ke ruangan itu.
Meninggalkan dua orang yang saling bersikukuh tatap. Chanyeol yang sedari terdiam akhirnya beranjak dari sana tanpa mengucapkan apapun.
"Chan?"
"Kau butuh istirahat, Baekhyun. Aku akan ada diluar jika kau membutuhkanku." Tanpa berbalik tanpa ingin berbicara lebih, Chanyeol meninggal Baekhyun begitu saja.
Jelas sekali Chanyeol kembali dingin padanya, sejujurnya ia pun bingung dengan keadaan ini. Bagaimana ia harus menjelaskan kalau ia sendiri tak tahu apapun setelah kejadian itu. Bahkan ia ingin bertanya pada Chanyeol, bagaimana pria itu dapat memukannya dan bagaimana Kai datang ke rumah sakit. Baekhyun sendiri tak mengerti apapun.
-MW-
Chanyeol menghubungi kantor Baekhyun dan meminta Nyonya Ahn untuk menahan wartawan mendapatkan informasi apapun tentang kejadian di kantor Baekhyun juga meminta Nyonya Ahn menyusulnya ke rumah sakit.
Setelah itu Chanyeol menghubungi agensi Kai untuk menahan Kai tampil di publik sampai media tidak menyorotinya kembali. Chanyeol juga meminta agensi untuk menutup rapat mulut Kai tentang kejadian siang itu.
"Tuan?"
Nyonya Ahn disana menyapanya dengan hormat.
"Mari kita bicara di kafetarian."
Mereka pun berjalan beriringan menuju kafetarian namun sebelum itu, Chanyeol berhenti di depan ruang suster jaga terlebih dahulu.
"Saya akan pergi sebentar, bisakah Anda menjaga pasien no 614 untukku?"
"Ah. Baik. Tuan. Atas nama Nyonya Byun Baekhyun, istri dari Tuan Park Chanyeol?"
"Ya. Saya titip Baekhyun padamu - Nona Kim." Chanyeol melihat name tag suster tersebut kemudian mengangguk hormat untuk sekedar pamit.
"Maaf mengganggu waktu Anda Nyonya Ahn." Chanyeol mempersilahkan Nyonya Ahn duduk terlebih dahulu saat mereka telah sampai di kafetarian.
"Bukan masalah tuan. Saya turut khawatir pada Nyonya."
"Baekhyun baik. Ia masih harus beristirahat jadi aku akan mohon bantuanmu. Selama Baekhyun di rawat, aku mohon kau dapat membantu pekerjaannya di kantor. Ia diharuskan beristirahat dari rutinitasnya untuk sementara."
"Baik tuan, Saya akan melakukannya." Nyonya Ahn mengangguk paham.
"Tujuanku mengundangmu kemari bukan hanya itu Nyonya Ahn. Ada hal penting yang ingin aku tanyakan."
Nyonya Ahn mengerutkan dahinya tanda tak mengerti.
"Dimana posisi Anda saat Baekhyun mengalami klep dan mengapa Baekhyun bisa mengalami hal seperti itu?"
Nyonya Ahn terdiam. Klep? Luhan tak mengatakan apapun padanya. Gumam Nyonya Ahn.
"Tuan- Sejujurnya saya pun tidak mengerti apa yang terjadi. Bahkan saya tidak tahu jika Nyonya dilarikan ke rumah sakit. Yang saya tahu sebelumnya adalah -"
Nyonya Ahn menceritakan semuanya dari awal. Bagaimana ia mempersiapkan meeting, Luhan memintanya membelikan kopi untuk Baekhyun, sampai ia tak sadarkan diri di basement kantornya sendiri sedangkan ia sangat ingat jika seseorang membiusnya ketika masih berada di jalan menuju kantor.
"Bahkan Anda tidak mengetahui jika Kai datang ke kantor Baekhyun?" Tanya Chanyeol heran.
"Tidak tuan, saya sama sekali tidak mengetahui apapun."
-MW-
Chanyeol telah kembali setelah mengantar Nyonya Ahn pulang menuju lobby rumah sakit. Kemudian ia kembali menuju ruang inap Baekhyun.
Menemukan Baekhyun yang sedang berbaring membelakangi pintu sedangkan bajunya telah tersingkap ke belakang memperlihatkan punggung polos dan hanya menyisakan celana pasien yang masih terpakai.
"Tuan?" Sapa Suster Kim.
"Emh?" Baekhyun kaget, sadar bahwa Suster Kim mungkin menyapa Chanyeol di depan pintu sana. Kemudian ia menarik selimutnya rusuh untuk menutupi keterlanjangannya.
"Nyonya Baekhyun sedang saya mandikan, Tuan."
"Baiklah. Saya akan keluar." Chanyeol tampak kaku keluar dari ruangan itu. Membuat Suster Kim terkikik geli sembari membasuh kembali punggung Baekhyun dengan lembut.
"A-aa apa Suster Kim?" Tanya Baekhyun penasaran pada Suster Kim yang terus saja terkikik geli.
"Anda sangat beruntung Nyonya. Anda memiliki suami seperti Tuan Chanyeol. Ia bahkan menatap Anda penuh puja dan berjalan kaku karna terpesona. Sangat lucu. Keke.."
"Huh?"
"Iya, beliau juga suami yang siap menjaga Anda 24 jam penuh."
"B-Benarkah?"
"Iya, Tuan Park slalu siap menjaga Nyonya. Beliau sampai rela mengerjakan tugas kantornya disini sambil menjaga Nyonya. Ia juga tidur di sofa agar nyonya tetap tidur dengan nyaman. Bahkan jika Beliau ingin pergi ke toilet pun, ia meminta para suster menjaga Nyonya. Para suster disini banyak yang iri melihat bagaimana Tuan Park sangat mencintai Nyonya." Kikik Suster Kim saat menceritakan bagaimana suster lain memuja Chanyeol sampai histeris dibuatnya.
Hal itu diam-diam membuat pipi Baekhyun bersemu manis.
"Baiklah, sudah selesai. Apakah ada hal lain yang ingin Anda butuhkan?" Tanya suster Kim.
"Umh~ itu.. apa aku membawa ponsel saat sampai disini?"
"Umh?" Suster Kim tengah berpikir sambil mencoba mencari ponsel Baekhyun di dalam lemari pasien di samping sofa.
"Sepertinya Anda tidak membawa ponsel Anda Nyonya. Atau mungkin suami Anda yang menyimpannya."
"Oh begitu. Baiklah. Terimakasih Suster Kim."
Suster Kim pun tersenyum lalu pamit pergi. Bersamaan dengan itu Chanyeol masuk kembali ke ruangan Baekhyun.
Tiba-tiba pria itu mendekatinya dan mencoba memasangkan overbed table tanpa sepatah kata apapun. Chanyeol memasang wajah dingin dan hanya sibuk kesana kemari menyiapkan beberapa makanan.
"Chan?" Ujar Baekhyun takut.
Namun, pria itu tak menjawab. Ia memilih untuk tetap menyibukan diri menyiapkan makanan dan obat Baekhyun diatas table.
"Setelah makan, tekan tombol itu dan minta suster membersihkannya. Jangan lupa minum obatmu. Disana sudah tertera dosisnya. Kau mengerti?"
Baekhyun menggeleng.
"Baekhyun?" Geram Chanyeol kesal.
"Aku tidak mengerti mengapa kau bersikap begini padaku. Aku minta maaf padamu."
"Aku harus menemui ibu dan ayah. Jika kau butuh sesuatu, panggillah suster jaga dengan menggunakan tombol itu." Chanyeol menunjuk kembali tombol berwarna merah disamping Baekhyun.
"Chanyeol~" Bibir Baekhyun bergetar pilu. Ia tak tahu mengapa Chanyeol mengacuhkannya. Ia bahkan tak tahu mengapa semuanya terjadi. Tak ada yang menjelaskan padanya.
"Aku pergi, Baekhyun." Chanyeol memalingkan wajahnya lalu pergi begitu saja.
-MW-
Chanyeol tak dapat mengendalikan kecewanya. Dibantingnya setir kemudinya ke kanan jalan. Ia tertunduk dalam diam, air matanya perlahan menetes satu persatu. Mengingat kembali dimana Baekhyun menatapnya dengan mata berkaca dan hampir menangis.
Apakah aku begitu buruk bagimu, Baekhyun? Bahkan matamu slalu memperlihatkan kesedihan dan ketakutan jika bersamaku. Apakah bahkan kau berpikir untuk pergi dariku? Apa kau menyesali pernikahan ini? Aku - Aku pun menyesal menikahimu, Baekhyun. Aku menyesal jika hal ini hanya akan membuatmu tertekan, takut, dan terluka karenaku. Rasanya aku tak cukup pantas untukmu dibandingkan Kai yang masih menjadi satu-satunya orang yang kau harapkan berada disisimu. Baekhyun, tak bisakah kita memulai semuanya dari awal?
-MW-
Chanyeol baru saja sampai di rumah orang tuanya. Ia segera menemui ibunya disana yang nampak bahagia menyambutnya. Memeluknya dengan hangat.
"Kau kemari? Mengapa tidak menghubungi, ibu?" Tanya Mama Park sembari memeluk putranya.
"Ada suatu hal yang ingin aku bicarakan dengan ibu."
Mama Park mengerutkan dahinya heran. "Lalu dimana Baekhyun?"
"Baekhyun sedang bekerja bu." Bohongnya.
"Baiklah.. Baiklah.. Ayo kita duduk." Ujar Mama Park mengiringi Chanyeol untuk duduk di meja makan.
"Ada apa, sayang?"
"Ibu. Apa yang ibu katakan pada Baekhyun?"
"Huh?"
"Iya, apa yang ibu katakan pada Baekhyun kemarin saat kami berkunjung. Apa ibu menekan Baekhyun tentang sesuatu? Sesuatu seperti cucu?"
Mama Park hanya membeo tak mengerti. Mengapa anaknya tiba-tiba bertanya seperti itu.
"Ibu tak mengerti Chanyeol."
"Ibu, Baekhyun terlihat murung dan banyak diam saat terakhir kali kami berkunjung. Aku mengkhawatirkannya. Jadi apa benar ibu menekan Baekhyun soal keturunan?"
Mama Park mencoba tenang. Sekarang ia paham jika Chanyeol menanyakan tentang pembicaraannya dengan Baekhyun tempo hari.
"Ibu menawarkan Baekhyun untuk memeriksakan kandungannya ke dokter. Ibu hanya takut jika kalian tidak serius tentang keturunan dan sibuk dengan pekerjaan masing-masing tanpa memerhatikan hal itu."
"Tapi ini urusan rumah tanggaku, bu. Aku dan Baekhyun yang akan memutuskan apakah kami akan memiliki keturunan atau tidak."
"Sayang, kalian harus sudah membicarakannya."
"Kami akan membicarakannya."
"Jadi kau belum membicarakannya dengan Baekhyun? Atau kau belum dapat melupakan Luhan?"
"Luhan? Mengapa harus ada Luhan dalam pembicaraan kita bu? Dia hanya masa laluku."
"Lalu apalagi yang membuatmu mempertimbangkan kembali alasan untuk memiliki anak secepatnya?"
Chanyeol diam. Kenyataan menamparnya, jangankan memiliki keturunan dengan Baekhyun. Hidup bersama wanita itu untuk waktu yang lama saja. Rasanya sulit
-TBC-
