YOU ARE NOT MY WIFE [ChanBaek GS]

xxx

Park Chanyeol

Byun Baekhyun

xxx

#ig : ddnoona #wattpad : dnoonaa #ffn : dnoona

xxx

"Besok siang, Nyonya Baekhyun sudah dapat pulang. Tolong tetap kontrol asupan makanan Nyonya, beberapa makanan yang menimbulkan gas pada lambung juga harus dihindari seperti asparagus, brokoli, apel, pir, mangga, roti, maupun yogurt. Ini hanya sementara waktu saja, sampai kondisi lambung Nyonya membaik."

Baekhyun pun mengangguk mengerti.

"Dan saya sarankan agar Nyonya tidak perlu banyak pikiran terlebih dahulu, peran Tuan Chanyeol juga penting disini untuk membantu penyembuhan Nyonya Baekhyun."

Dokter tersenyum tulus pada Chanyeol.

Sedangkan pria itu hanya melihat dokter dengan wajah datar tanpa sedikitpun merespon. Membuat wajah Baekhyun sendu melihatnya.

"Baiklah kalau begitu, Nyonya bisa beristirhat sekarang. Saya pamit." Dokter pun tersenyum dan undur pamit.

Chanyeol menjadi orang pertama yang beranjak pergi dari keheningan.

"Chan~" panggilan lembut Baekhyun menghentikan pergerakannya. Chanyeol berhenti namun enggan berbalik.

"Bisa tolong bantu aku?"

"Aku akan meminta suster untuk membantumu."

"Aku memintamu, suamiku.- Aku meminta bantuan suamiku. Bukan orang lain." Baekhyun mencicit diakhir kalimatnya.

Hati Chanyeol berdesir mendengar Baekhyun memanggilnya suami. Namun hal itu tak berlangsung lama karna pikirannya masih saja menolak saat bayangan Kai melintas di pikirannya.

"Masih ada orang lain. Lagipula kau tidak perlu berpura-pura lagi mengakuiku suami sebagaimu, disini tak ada orang lain yang melihat."

Chanyeol hanya menoleh Baekhyun sesaat kemudian pergi.

Sungguh bukan itu maksud Baekhyun. Ia tak berpura-pura. Ia mencicit bukan karna malu mengakui Chanyeol sebagai suaminya, ia hanya sedang berusaha meyakinkan hatinya bahwa bukan hanya ia yang menganggap pernikahan ini sungguhan.

Namun nyatanya penolakkan Chanyeol membuatnya merasa bahwa semua ini hanya kepura-puraan semata.

'Tidakkah kau berlebihan? Mengapa Kau mengatakan hal itu.' Batinnya.

Setetes air matanya menetes begitu saja diatas selimutnya. Membuat air matanya yang lain deras menuruni wajah cantik yang semakin menunduk.

Ada perasaan kesal, kecewa, dan tak berharga. Iya, baru kemarin Chanyeol menangkup wajahnya dengan lembut dan kini Chanyeol seakan menghempaskannya begitu saja ke lantai.

Membuat harga dirinya runtuh lantah.

Baekhyun meremat kencang selimutnya berusaha menahan kepedihan di dadanya. Rasa sesak dan lelah membuncah di dalam sana.

-MW-

"Kyungsoo-sii. Apa kau masih di kantor?"

"Iya, tuan. Apa ada yang bisa saya bantu?"

"Datanglah ke RS. Shim Dong-"

Kai bernapas lega ketika Chanyeol telah keluar dari ruang inap Baekhyun. Akhirnya ia bisa menemui Baekhyun pikirnya. Ia merasa senang dan berharap dapat memastikan Baekhyun dalam keadaan baik-baik saja.

Beruntunglah penyamarannya sebagai pasien di rumah sakit ini membuahkan hasil. Tak ada yang mengenalinya sebagai artis karna ia hanya perlu memakai masker dan memakai baju pasien kemana-mana di rumah sakit ini agar tidak ketahuan.

Perlahan Kai mengendap-endap menuju kamar Baekhyun. Mencoba melihat ke kanan dan ke kiri. Memastikan tidak ada yang melihatnya. Namun sebenarnya, masih ada cctv yang mengintainya dan Kai tidak menyadari itu.

Kai merasa lega saat menyadari tidak ada yang melihatnya masuk. Namun sayang, ketika ia masuk bukan wajah terkejut atau bahagia yang di dapatnya. Justru Kai menemukan wajah Baekhyun penuh dengan kemerahan dan air mata. Kini dirinyalah yang terkejut.

Baekhyun menatapnya dalam diam, namun wajahnya tetap tak menampilkan keterkejutan ataupun senang. Baekhyun masih bersedih, sesegukannya masih jelas terdengar bahkan air mata wanita itu tak kunjung berhenti.

"Baek?" Kai mencoba mendekat.

"K-kai?" Baekhyun mencoba memfokuskan kembali matanya yang masih tertutupi air mata.

Baekhyun masih ingat jelas suara itu walaupun wajah pria itu tertutupi masker.

"Kau menangis?" Kai mendekat. Ia mencoba meraih pipi merah Baekhyun

Namun Baekhyun menghalaunya. "M-mengapa kau ada disini? Kau?" Ujarnya panik.

Baekhyun menelisik pakaian yang di kenakan Kai.

Kai mengerti, ia membuka masker wajahnya. " Aku khawatir terhadapmu. Bagaimana keadaan mu, seperti apa-"

"Kai~ pergilah. Kumohon" Baekhyun mengerti maksud kedatangan laki-laki itu tanpa harus diperjelasnya. Ia tak akan membiarkan Kai berlama disini dan Chanyeol menemukannya. Jadi Baekhyun menangkupkan kedua telapak tangannya jadi satu, memohon pada Kai.

"Kumohon~" Kini air mata Baekhyun mengalir lagi.

Dengan lembut Kai menangkup kedua bahu Baekhyun.

"Saat bersamaku, kau jarang menangis. Kau slalu ceria, tertawa, dan sering mengumpat padaku. Bukankah kau sudah menikah dengan pria pilihan ayahmu. Pria yang kau anggap baik itu. Tapi mengapa aku tak pernah melihat kebahagianmu yang dulu? Mengapa pria itu slalu menjadi alasanmu menangis. Sadarlah Baekhyun. KAU INI KENAPA! APA YANG DIPERBUATNYA PADAMU. KATAKAN PADAKU, KATAKAN BAEK!" Kai mengguncangkan Baekhyun dengan keras.

Baekhyun sadar, Baekhyun sadar ia tetap membela Chanyeol. Ada hal yang tidak dapat ia jelaskan pada Kai. Perasaaan aneh, perasaan menjadi lemah dibawah kuasa Chanyeol. Perasaan yang tak ia rasakan pada Kai. Perasaan untuk bertahan dalam hubungan ini dan tak menyerah.

"Kau harus sadar, slama ini aku yang membawamu dalam kebebasan. Tanpa rasa bersalah dan tertekan. Berbeda dengan saat ini, kau terlihat lemah dan terus dalam rasa bersalah. Atau jangan-jangan, kau mencintainya?"

'Mencintai? Aku? Mencintai Chanyeol?' Baekhyun bertanya pada dirinya sendiri dalam hati. Benarkah? Tapi mengapa? Hubungannya dengan Chanyeol tak pernah terisi oleh tawa dan kebahagiaan. Mengapa ada cinta disana?

"Kai~ sudah" Baekhyun mendesah pasrah. Ia mencoba melepaskan kungkungan Kai padanya.

"DENGAR! Kau tidak mungkin menggunakan heroin lagi kalau kau tidak tertekan seperti ini.-"

Baekhyun memiringkan kepalanya, mencari sebuah kebenaran di mata Kai. Merasa perlu menanyakan banyak hal pada Kai. Pertanyaan yang tak pernah Chanyeol beritahu padanya.

"-SADARLAH BAEK! SADARLAH BAHWA HANYA AKU YANG MENCINTAIMU. YANG SLALU ADA DISAMPINGMU. AKU AKAN MEMBERIKAN APAPUN UNTUKMU. APAPUN." Kai mengguncang bahu Baekhyun lagi lalu kemudian terengah dan menyandarkan kepalanya di bahu Baekhyun. Memeluk Baekhyun secara sepihak.

Airmata Kai luruh juga. "Aku slalu ada disini Baek. Aku slalu ada disini. Aku yang akan slalu ada untukmu. Jika kau butuh tempat kembali. Kembalilah kepadaku. Aku akan memberikan apapun yang kau mau. Asalkan jangan sakiti dirimu lagi seperti saat ini. Jangan lagi, jangan pernah lagi."

Kai menangis untuk semua kekesalannya pada dirinya sendiri. Andai waktu dapat diputar kembali, andai dulu ia adalah pribadi yang baik yang dapat menjadi pilihan terbaik bagi Baekhyun. Mungkin ayah Baekhyun akan menyetujui hubungan mereka dan Baekhyun dapat hidup bersamanya.

Lama Baekhyun membiarkan Kai memeluknya. Membiarkan laki-laki itu menumpahkan segala emosinya. Kemudian, perlahan Baekhyun melepaskan Kai dari dirinya.

Baekhyun menatap kedua mata Kai dengan seksama sembari menata pikiran dan ucapannya.

"Waktu itu aku terbangun tiba-tiba di rumah sakit. Aku tak tahu apa yang terjadi. Maukah kau menceritakannya padaku, Kai. Aku sama sekali tak mengerti apapun." Baekhyun menatap Kai penuh harap.

Berharap setidaknya pria itu memberikannya penjelasan.

Kai pun mengangguk.

-MW-

"Terimakasih, Kyungsoo-sii." Chanyeol menerima beberapa berkas di tangannya dan duduk di kursi tunggu sembari membuka salah satu map. Mengecek satu persatu isi berkas tersebut.

"Sama-sama Tuan." Kyungsoo turut duduk disamping Chanyeol. Sesekali melihat ke sekitar lobby yang telah sepi dan kemudian melihat ke arah Chanyeol lagi.

Lama dalam Hening, Kyungsoo diam-diam terpaku dan tak berhenti memuja ketampanan Chanyeol.

Matanya menelisik rambut Chanyeol yang disisir ke belakang. Menjadi alasan kelemahan Kyungsoo pada bosnya itu. Belum lagi kacamata yang dikenakan Chanyeol slalu membuatnya terlihat lebih tampan dan bijaksana.

"Mengapa kau melihatku seperti itu?"

Kyungsoo cepat-cepat menggelengkan kepalanya guna meraup kembali kesadarannya dan berusaha mencari-cari alasan. Tidak mungkin ia mengatakan yang sesungguhnya pada Chanyeol.

"Hmm.. Sebenarnya ada yang mengganjal pikiranku." Ujarnya seolah berpikir keras.

"Hng?"

"Sebenarnya saya ingin bertanya sesuatu yang privasi tentang Anda. Ya.. hal-hal seperti pertanyaan mengapa Anda tidak masuk kerja akhir-akhir ini dan mengapa Anda berada di rumah sakit saat ini. Apakah Anda sakit? Ataukah keluarga Anda. Pikiran-pikiran itu menghantui saya. Tapi Anda tenang saja, itu hanya dalam pikiran saya." Ujar Kyungsoo polos.

Kyungsoo berceloteh tanpa beban. Ia bukan orang yang puas dengan keterdiaman. Ia lebih suka mengungkapkan apa yang dipikirkannya.

Sementara Chanyeol sudah berdecak dan berseringai kemudian.
"Kau sudah mengatakan semua kau pikirkan Nona Do dan aku mendengarkannya."

"Baiklah.. Baiklah.. Ini mungkin terdengar seperti keluhan tapi terus terang saja. Aku sangat lelah tuan. Berangkat pagi pulang malam."

"Kau mengeluh." Chanyeol menegaskan bahwa itu bukan 'kemungkinan' tapi jelas-jelas Kyungsoo mengeluh.

"Jelas aku mengeluh, bos ku galak. Ssttt.. Tapi tampan. Kekeke" Kyungsoo terkikik geli.

Membuat Chanyeol berdecak dan kembali pada berkasnya.

"Baiklah. Sudah malam. Mungkin lain kali Anda harus mentraktir saya kopi sebagai bayaran lembur saya." Kemudian Kyungsoo berdiri, hendak pamit.

"Ckh.. kau ini benar-benar sudah melupakan formalitas." Chanyeol masih menatap berkasnya dengan lamat walaupun kata-katanya mengejek Kyungsoo yang seakan mengajaknya berbicara sebagaimana teman.

"Umurku lebih tua dari Anda dan sekarang kita tidak sedang di kantor. Jadi wajar kalau aku menggunakan banmal. Anda jangan terlalu kaku, tuan. Wkwk"

Kyungsoo terkikik sendiri sementara Chanyeol berdecak padanya. Entah bagaimana Kyungsoo menjadi penghiburnya saat ini.

"Kebetulan aku sedang ingin mengerjakan berkas ini, mau secangkir kopi?" Chanyeol menutup berkasnya dan berdiri.

"Wow.. Ini terdengar tiba-tiba tapi saya sangat tersanjung Anda menerima tawaran saya."

"Aku tidak suka berhutang. Apalagi berhutang janji." Chanyeol berseringai pada Kyungsoo. Lalu jalan terlebih dulu, membimbing Kyungsoo masuk ke mobilnya.

-MW-

"Jadi kau yang menemukanku di toilet dan Chanyeol yang membawaku ke rumah sakit?" Baekhyun terkejut luar biasa.

Kai mengangguk lemah.

"Apa kau menemukan ponselku dan menyimpannya?"

"Tidak. Aku tidak sempat untuk memikirkan dimana ponselmu."

"Benar... Lalu bagaimana dengan orang disekitarmu. Bagaimana caranya kau menemukanku tanpa membuat keributan?"

"Sayangnya aku membuat keributan." Ujar Kai lesu.
"Lagipula aku ini artis, akan sangat sulit untuk tidak menarik perhatian."

"Berarti seluruh karyawanku tahu kalau aku menggunakan heroin." Baekhyun menunduk sedih.

"Tidak, aku menyuruh satpam untuk berjaga di sekitar area tkp."

Akhirnya Baekhyun bernafas lega. "Oh iya. Bagaimana dengan pesanku. Apa kau masih menyimpannya?"

Ah iya pesan.

"Tentu, sebentar." Kai merogoh saku celananya.

"Ini" Kai memberikan ponselnya pada Baekhyun.

Baekhyun mencoba melihat isi pesan yang di terima Kai. Mencoba memahami isi pesan tersebut dan mengingat-ingat kembali detail kejadian sebelum ia ditemukan di toilet.

"Aku rasa aku di jebak."

"Dijebak?"

"Iya."

-MW-

"HAH?!" Satu fakta mengejutkan yang membuat Kyungsoo condong memandang Chanyeol takjub.

"Diamlah, jangan membuat kebisingan ditempat sepi seperti ini." Chanyeol masih membolak-balikkan berkasnya.

Sementara Kyungsoo mencoba menenangkan dirinya. Ia menyeruput kembali americanonya.

"Anda sudah menikah? Dan istri Anda sedang dirawat? Hoaahh" Kyungsoo bertepuk tangan untuk fakta itu.

Sungguh Chanyeol tak peduli, ia tak mengindahkan Kyungsoo sama sekali. Ia juga merasa tak harus mengulang penjelasannya. Sedangkan Kyungsoo menelan ludahnya paham atas keterdiaman Chanyeol.

"Chanyeol-sii? Anda tidak sedang berselingkuh kan?" Kyungsoo bertopang dagu diatas meja.

Pertanyaan itu membuat Chanyeol menaruh perhatian pada Kyungsoo.

"Istri Anda sedang sakit dan dirawat tetapi Anda ada di sebuah kafe dengan gadis cantik yang belum menikah." Kyungsoo mengedip-ngedipkan matanya lucu.

Chanyeol mendengus keras. "Jangan berlebihan. Aku sedang ingin mengerjakan tugas kantorku dan membayar lembur segelas kopi untuk karyawan yang lebih tua dariku tetapi lebih berisik dari keponakanku."

Kyungsoo mencebikkan bibirnya tak suka.

"Isssshhh.. Kau ini. Baiklah. Baiklah... Tapi bagaimanapun aku lebih tua darimu jadi kau bisa panggil aku Noona. Ingat.. Noona."

Chanyeol hanya berdecak menanggapinya.

"Diluar kantor kau bisa memanggilku Noona tapi tetaplah bersikap profesional saat di kantor. Mengerti?" Kyungsoo berceloteh lagi. Mengundang gelengan kepala dari atasannya itu.

"Lihat... sekarang siapa yang menyuruh siapa."

"Ish kau ini. Bagaimana istrimu akan tahan kalau kau bersikap dingin terus seperti ini." Kyungsoo mendengus kesal.

Chanyeol diam. Diam untuk kata-kata Kyungsoo yang seakan menikamnya tepat di jantung.

"Seharusnya kau lebih lembut. Ramah. Supaya istrimu cepat sembuh. Wanita itu tidak suka kekerasan. Aku sarankan kau (...)"

Setelah itu tak ada kata-kata Kyungsoo yang Chanyeol dengarkan. Seakan tuli, beberapa kejadian datang bermunculan tiba-tiba di benaknya. Mengalihkan dunianya begitu saja.

Chanyeol mengingat adegan demi adegan dan membuat beberapa pertanyaan demi pertanyaan yang ia tujukan pada dirinya sendiri. Pertanyaan 'Mengapa ia sangat ingin Baekhyun bahagia karenanya? Mengapa ia sangat marah saat Baekhyun bahagia bersama orang lain? Mengapa ia sangat ingin Baekhyun bergantung padanya? Mengapa? Mengapa dirinya sangat ingin mendapatkan pengakuan itu dari Baekhyun?'

Waktu terus berlalu, malam semakin larut. Chanyeol dan Kyungsoo memutuskan untuk mengakhiri perbincangan mereka. Lebih tepatnya Kyungsoo yang berbicara sendiri sedari tadi.

"Terimakasih atas kopinya. Saya berharap istri Anda akan cepat sembuh dan Anda dapat kembali lagi ke kantor."

Mereka berdiri saling berhadapan di depan kafe.

"Hmm." Chanyeol mengangguk.

"Kalau begitu, sampai jumpa di kantor. Berhati-hatilah berkendara." Kyungsoo membungkuk hormat pada Chanyeol dan diangguki. Setelah itu Kyungsoo berjalan menuju taxi online yang baru saja dipesannya.

Wanita itu tersenyum di dalam mobil sembari mengangguk ramah pada Chanyeol. Kemudian menghilang dari pandangan pria itu dalam sekejap.

Chanyeol berjalan menuju mobilnya, memikirkan kata-kata Kyungsoo kembali untuk bersikap ramah dan baik pada Baekhyun.

Ia tengah bertanya dan khawatir dalam dirinya, siapa kiranya yang menemani Baekhyun tadi. Adakah yang membantu? Dan kira-kira apa yang ingin Baekhyun mintai bantuan padanya?

Namun langkahnya tiba-tiba terhenti oleh sebuah pertanyaan yang terlintas di kepalanya. 'Dimana botol heroin yang dikonsumsi Baekhyun?'

-MW-

"Aku akan membantumu. Kau tenang saja." Kai mengusak rambut Baekhyun gemas.
"Sudah jangan menangis lagi. Kau jelek saat menangis."

Baekhyun hanya terkikik geli sambil menghapus air matanya.

"Baiklah, aku akan pergi. Aku akan meminta suster menemanimu. Okey?"

Baekhyun pun mengangguk lucu.

"Aku pergi~" Kai tersenyum sembari melambaikan tangan pada Baekhyun. Ia pun kembali menutup wajahnya dengan masker.

"Kai~" Baekhyun memanggilnya. Membuat pria itu berbalik dan menunggu Baekhyun.

"Maukah kau menjadi temanku? Hanya temanku?"
Baekhyun memandang Kai penuh harap.

Kai tersenyum di balik maskernya tetapi Baekhyun dapat melihat eye smile pria itu melengkung manis.
"Kau sudah pernah memintanya, Baek. Mintalah yang lain."

Kai pergi. Ia menutup pintu pelan.

Menyisakan Baekhyun yang menghela nafas dengan berat. Katakan saja Baekhyun jahat dan egois tapi perasaannya tak dapat dibohongi. Apa perasaan lain yang ingin dia lindungi.

-TBC-