YOU ARE NOT MY WIFE [ChanBaek GS]

xxx

Park Chanyeol

Byun Baekhyun

xxx

#ig : ddnoona #wattpad : dnoonaa #ffn : dnoona

xxx

Langit yang sangat cerah mulai menampakan birunya. Bahkan hangatnya mentari sudah terasa dibalik jendela tetapi hal itu tak dapat mengusik si cantik yang masih setia tertidur.

Beberapa saat kemudian, Baekhyun seakan terusik oleh rasa tak tertahankan kali ini. Ia ingin pipis jadi ia segera bangun walau dengan alis yang berkerut mencoba membiasakan diri dengan bias cahaya sedangkan matanya terbuka perlahan.

Baekhyun mencoba meraba-raba tepi brankarnya mencari nurse call bell disamping tempat tidurnya itu. Namun, tiba-tiba ia terperanjat merasakan sejumput rambut ditangannya. Rambut siapa? Tanyanya dalam hati. Jadi Baekhyun menoleh untuk memastikan siapa yang berada disampingnya. Dan ternyata ia menemukan wajah Chanyeol terlelap disana.

Ia bernafas lega karena itu. Ia pikir Kai mungkin saja nekat dan menginap disana atau lebih parahnya lagi mungkin ada seseorang yang tidak dikenalnya masuk ke dalam kamar.

Ternyata itu hanya ilusinya semata dan kini ia secara tidak sadar terpaku mengamati wajah Chanyeol lebih dekat. Berpikir bahwa Tuhan begitu adil menciptakan Chanyeol dengan segala kesempurnaannya.

Matanya yang besar begitu manis dan bibirnya yang tebal terkesan imut. Belum lagi cara tidur pria itu yang begitu tenang, membuat Baekhyun gemas tiba-tiba. Ia sampai melupakan keinginannya untuk membuang air kecil.

Perlahan Baekhyun menyisir surai hitam Chanyeol dengan lembut. Menyingkirkan rambut-rambutnya yang sedikit panjang ke kesamping telinga. Membuatnya terlihat (?)

Umh (?) ASTAGA~ pria itu terlihat. Brengsek (?) Bagaimana mungkin dahinya terlihat menyebalkan begitu saja. Ia terlihat tampan hanya karena dahinya terlihat. Membuat Baekhyun sebal tiba-tiba.

'Pantas saja suster-suster disini banyak menggodamu. Dasar nakal. Ish'

Takkk

Ups... Tanpa sadar Baekhyun menyentil dahi Chanyeol dengan gemas. Ah~ dia terlalu terbawa suasana rupanya. Ia buru-buru menarik tangannya dan segera memejamkan matanya.

"Ah~"

Chanyeol langsung terbangun dan mengaduh sakit di dahinya sambil mengusap-usapnya perlahan.

Sementara Baekhyun masih berpura-pura tidur. Walau begitu ia tetap saja gugup hingga matanya risau tak tentu walaupun terpejam. Ah manis sekali~

'Ah bagaimana kalau Chanyeol marah? Bagaimana kalau Chanyeol meneriakinya? Huft... baiklah. baiklah. Aku akan berpura-pura, aku akan memanfaatkan penyakitku. Nanti aku akan...' chup~

.

.

.

.

.

.

.

.

'Egh?'

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Selamat pagi Baekhyun." Chanyeol ngusak rambut Baekhyun lembut. Lalu melangkah pergi.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Hgh?" Baekhyun tak berani membuka matanya tapi ia mengusap-usap dahinya.

"T-tadi? Chanyeol menciumku? D-dia... Dia mencium dahiku?" Bibirnya mengerut lucu tetapi matanya tetep terpejam.

'Dia pintar sekali mempermainkan aku, terkadang membuatku marah-marah, lalu menangis, dan sekarang malu seperti ini. Ish.. Kau seperti roller coaster, Chanyeol.' Batinnya

"Ckh~ napeun namja Huft"

Baekhyun tak sadar kalau Chanyeol tengah menertawainya dibalik kaca pintu saat Baekhyun sedang mengumpat dengan mata terpejam dan bibirnya yang tak berhenti mengomel sambil mengerucut lucu.

"Aku tau kau berpura-pura. Matamu bergerak kesana kemari. Bodoh. Hgh~ napeun yeoja." Chanyeol menyeringai menang.

-MW-

Baekhyun sudah siap sekarang, ia sudah tak memakai baju pasien lagi. Suster Kim dan Suster Seo membantunya untuk mandi, menyikat gigi, dan berpakaian. Baekhyun nampak cantik dalam balutan dress putih dengan nuasa bunga dan jepit di sisi kiri rambutnya.

"Ah~ yeoppo~" Puji Suster Kim bangga setelah menyisir rambut Baekhyun.

"Iya Nyonya Park sangat cantik. Aku juga merasa kagum pada kulit Nyonya Park yang sangat lembut dan putih. Bahkan aku sampai takut menggosoknya terlalu kencang saat mandi tadi. Kekeke" Suster Seo menimpali pujian Suster Kim dengan lelucon.

"Kekeke.. Kulitnya seperti bayi kan?"

"Iya Nyonya Kim. Kekeke.."

"Suster Kim dan Suster Seo terlalu berlebihan. Lagipula kenapa aku harus dimandikan? Aku kan masih bisa menggunakan tanganku dengan baik?"

"Ah itu" Suster Seo nampak berpikir.

"Tuan Park yang memintanya pada dokter. Mengingat kondisi tubuh Nyonya yang mungkin saja masih lemas jadi Tuan Park meminta dokter agar kami dapat membantu Nyonya. Lagipula kami tidak keberatan." Jelas Suster Kim.

"Ah~ begitu."

Baekhyun tak tahu kalau suster saja boleh dimintai bantuan seperti ini. Tapi mungkin ini alergi paling parah yang dialaminya. Ia tak sampai pikir bagaimana obat itu bisa ia konsumsi. Bahkan dokter menyebutkan kalau obat itu dalam dosis tinggi.

Ah.. ingin sekali membela diri saat dokter menghimbau dirinya untuk tidak mengonsumsi obat terlarang itu 'lagi'. Seakan-akan ia sengaja mengonsumsi barang terlarang itu dan jadilah seperti ini. Apa yang salah dengan semua orang, mengapa mereka semua menganggap ia melakukannya dengan sengaja.

Tapi percuma saja membela diri, tak ada yang akan percaya pada seseorang yang memiliki masa lalu yang buruk. Pergi ke club malam? Minum-minuman keras? Merokok.. Ah yang satu ini juga tiba-tiba tak menarik lagi setelah kepergian ayahnya. Semuanya seakan berhenti begitu saja. Yang ada hanya kesedihan setiap harinya tapi tak pernah terpikir olehnya untuk mencari pelarian.

"Nyonya, ini sarapannya. Saya taruh disini atau saya suapi?" Tawar Suster Seo.

Baekhyun nampak menimang-nimang. Ia teringat suasana tadi pagi saat ia melihat keluar jendela dan sepertinya langit begitu cerah mungkin akan sangat menyenangkan menghirup udah yang menyejukkan dibawah langit yang cerah.

"Hum~ sebenarnya aku ingin sekali makan di taman. Apa boleh aku membawanya keluar?"

"Itu~ Sebenarnya makanan di rumah sakit tidak baik dibawa keluar. Akan ada banyak debu dan kotoran, Nyonya." Suster Kim dan Suster Seo saling melempar tatap. Suster Seo mencoba memberikan alasan yang logis dan mungkin dapat diterima.

Baekhyun memang sudah diperbolehkan pulang siang ini tapi Tuan Park/ Chanyeol belum tentu memperbolehkannya keluar.

"Ah~ ya sudah. Tidak apa... tidak apa... Aku kan hanya bertanya. Aku akan memakannya disini ko. Terimakasih Suster Kim, Suster Seo." Baekhyun tersenyum tulus pada kedua suster itu.

Membuat keduanya kikuk dan memandang tak tega pada Baekhyun. Gadis itu pasti menginginkan udara segar setelah terbaring lemas di kasur selama 3 hari ini. Tapi apa daya? Park Chanyeol begitu tegas pada apa dan bagaimana Baekhyun harus diperlakukan. Mereka pun meninggalkan Baekhyun sendiri.

Baekhyun menatap sedih pada cuaca cerah diluar sana. Pasti sangat sejuk dan hangat diluar sana pikirnya. Jadi ia menarik overhead tablenya menghadap jendela. Lalu tersenyum setelahnya, ya seharusnya ia bersyukur sudah diberi kesehatan. Dan ia tak boleh menggerutu. Para suster benar, akan sangat buruk membawa makanan keluar. Debu dan bakteri bisa saja masuk dan ia bisa saja tertular penyakit lain yang dapat mengakibatkan suatu hal lain yang tidak diinginkan. Pikirnya.

Cklekk...

Chanyeol masuk ke dalam ruangan tersebut, membuat Baekhyun membalikkan badannya untuk mengecek siapa yang datang. Namun, kemudian ia kembali menatap lurus jendela di hadapannya.

"Kau sudah siap?"

"Hmm"

Diam, adalah satu sikap yang Baekhyun tunjukkan pada Chanyeol. Ia memilih diam dan melanjutkan sarapannya.

"Aku sudah menelpon Nyonya Ahn. Beliau akan datang kemari untuk menjemputmu pulang."

"Hum"

Dibandingkan merasa marah atau kesal pada Chanyeol. Ia masih merasa kesal karena tidak bisa keluar ruangan.

"Sebelum itu aku ingin sarapan terlebih dahulu. Kalau kau mau ikut, kita bisa ke taman.-

Seketika Baekhyun berbalik memperlihatkan mata puppynya yang berbinar gemas menghadap Chanyeol. Oh manis sekali, Byun Baekhyun~

"-Tapi sebelum itu, kau harus menghabiskan dulu makananmu."

-MW-

Chanyeol terus saja menyeringai geli melihat anak puppy dihadapannya terus bergerak kesana kemari di kursi rodanya. Ia tersenyum pada semua orang yang dilewatinya dengan pipi bulat yang bersemu merah. Bahkan tak sedikit orang yang disapanya memuji kecantikan si mungil.

Mata Baekhyun terus saja melihat kesana kemari dengan tatapan kagum. Bahkan untuk sekedar membawanya ke kafetarian, Baekhyun nampak takjub membaca semua menu yang dipasang didepan kios makanan.

Sedangkan Chanyeol membawanya dengan sabar berkeliling untuk mencari kopi, sandwich, dan beberapa makanan yang Chanyeol masukkan begitu saja ke dalam kantung plastiknya. Baekhyun tak begitu memperhatikan karna ia sibuk membaca beberapa menu disana. Wkwk

Tibalah mereka di taman. Chanyeol membantu mengunci kursi roda Baekhyun dan mereka duduk saling berhadapan. Kemudian pria itu mengeluarkan beberapa buah dingin yang dibungkus plastik wrap seperti strawberry, melon, dan semangka. Lalu ada beberapa snack dan juga sebotol susu putih dari dalam kantung.

"Ini camilanmu. Cha~"

Lantas Chanyeol mengeluarkan sandwichnya dan melahapnya dalam sekali gigit.

Sementara Baekhyun diam dan menatap Chanyeol penuh tanya. Yang digarap pun memberikan ekspresi bertanya.

"Apa tidak apa-apa?" Tanya Baekhyun takut.

Jelas-jelas kedua susternya melarang Baekhyun untuk makan makanan diluar ruangan. Tentu saja ia tak ingin terkena omel lagi. Apalagi Chanyeol membelikannya beberapa snack asin yang enak tapi itu bukan makanan sehat untuk orang sakit/ baru sembuh sepertinya.

"Cepatlah dimakan. Kau kan hanya makan bubur pagi ini. Lagipula cuaca secerah ini harus dinikmati sambil memakan camilan." Ujarnya datar.

Seketika Baekhyun kembali ceria dan buru-buru membuka bungkus strawberry dan snacknya.

"Umh~ Segar..." Baekhyun begitu semangat mencicipi strawberrynya.

Sedangkan Chanyeol menatapnya senang.

"Nyonya sarapannya sudah siap. Saya taruh disini atau saya suapi?" Tawar Suster Seo.

"Hum~ sebenarnya aku ingin sekali makan di taman. Apa boleh aku membawanya keluar?"

"Itu~"

Jelas saja Chanyeol mendengarnya. Awalnya ia hanya ingin memastikan Baekhyun memakan sarapannya tetapi secara tidak sengaja ia mendengar wanita itu memelas pada susternya.

Chanyeol menjadi sangat posesif setelah kejadian beberapa hari yang lalu. Ia menjadi mudah marah pada siapa saja yang mungkin menyakiti Baekhyun. Bahkan ia memilih khusus suster yang akan merawat Baekhyun. Chanyeol tak ingin sesuatu yang tidak diinginkannya kembali terulang.

"Apa kopimu masih panas?" Tanya Baekhyun polos.

"..."

"Dari tadi kau tidak meminum kopimu." Jelasnya.

"Tidak~"

Baekhyun mengangguk paham lalu melanjutkan kunyahannya dengan semangat. Sesekali melahap snack bersama strawberry.

"Oh iya Baekhyun. Boleh aku bertanya sesuatu?"

"Boleh." Jawabnya dengan mulut penuh strawberry.

"Waktu itu... saat kau berada di kantor. Saat itu -" Baekhyun benar-benar mendengarkan Chanyeol dengan baik.

"-Apa yang kau lakukan bersama Kai? Mengapa kau bersamanya saat kejadian itu?"

"..."

Baekhyun berhenti mengunyah strawberrynya. Ia menelan strawberry yang belum lumat itu dengan terpaksa.

Kemudian Baekhyun mencoba menatap kedua mata Chanyeol. Ia mencoba mencari kepercayaan di mata pria itu terhadapnya.

Tapi nihil.. Chanyeol seakan hanya ingin tahu apa yang ingin didengarnya dan menuduhnya seperti apa yang dipikirkannya.

Maka untuk itu, Baekhyun merasa percuma saja menjelaskannya pada Chanyeol apa yang dirasakan dan dicurigainya. Mungkin saja Chanyeol hanya akan menganggapnya tak masuk akal.

"Hmm.. Hmm.. Aku tak akan mengatakan apapun. Karna aku hanya akan terlihat mengada-ngada dan membual jika mengatakannya padamu. Lebih baik kau percaya apa yang kau percaya, Chan." Baekhyun tersenyum kemudian menyuapkan kembali strawberry ke dalam mulutnya.

Sementara Chanyeol mendengus kasar melihat Baekhyun berusaha mengalihkan pembicaraannya. Tapi apa yang Baekhyun katakan benar adanya. Ia belum siap mendengar apa yang tak ingin didengarnya. Ia hanya ingin Baekhyun menyanggah tuduhannya dan mengatakan bahwa semua itu tidak benar.

Dilain pihak, Baekhyun nampak kebingungan. Matanya melirik kesana kemari. Seperti mencari sesuatu.

"Emh~ i-tu.. sepertinya aku haus. Apa kau memiliki air mineral?"

Chanyeol melirik sekilas padanya lalu menggigit kembali sandwichnya.

"Tidak. Kau minum saja susu itu."

Baekhyun menatap jijik pada susu dihadapannya. Ia tak suka susu putih, rasanya getir dan hambar. Jadi sejak kecil ia tak menyukainya.

"Err... itu~ aku sebenarnya~ Aku lebih menyukai rasa strawberry." Ujarnya manja sembari mengerucutkan bibirnya lucu.

"..." Tapi Chanyeol hanya diam sebagai respon.

Membuat Baekhyun salah mengartikan sikap Chanyeol.

"B-bukannya aku tak menyukainya. Tapi aku a-" Ucapannya terhenti seketika saat Chanyeol tiba-tiba membuka tutup botolnya dan meminumnya sampai tandas.

"Kau hanya perlu berterus terang dan mengatakan lebih sering apa yang tidak kau sukai dan apa yang kau sukai. Jangan memaksakan dirimu."

Chanyeol pun segera bangkit, meninggalkan sandwichnya yang baru dimakan setengah dan kopinya yang sama sekali belum disesapnya.

Sementara Baekhyun memandang bingung pada kepergian Chanyeol.

"Mengatakan apa yang tidak kusukai? Dan yang ku sukai? Jangan memaksakan diri?"

Baekhyun nampak berpikir sambil menimang-nimbang ucapan Chanyeol. Otaknya terkadang cerdas tetapi akan tumpul tiba-tiba saat berurusan dengan Chanyeol. Entah bagaimana dirinya mulai memaklumi dan berusaha memahami Chanyeol.

Chanyeol benar-benar mengubah hidupnya 100%.

-MW-

Setelah membawakan Baekhyun susu strawberry dan air mineral Chanyeol membawa Baekhyun kembali ke ruangannya. Disepanjang jalan mereka terus saja diam, Chanyeol diam dan terus menatap ke depan. Sedangkan Baekhyun sesekali mendongak dan mencuri-cuti pandang pada Chanyeol dengan tatapan ingin bertanya.

Tapi bukankah ia yang membuat Chanyeol kembali terdiam seperti ini. Ah entahlah. Lagipula Baekhyun tak tau apa yang harus dikatakannya pada Chanyeol.

Mengatakan kecurigaannya kalau dirinya mungkin saja dijebak? Tidak sengaja mengonsumsi heroin padahal dirinya jelas-jelas tes laboratorium menyatakan kalau dirinya pernah mengonsumsi heroin? Ah. Siapa yang percaya pada pendosa sepertinya?

"Nyonya~" Nyonya Ahn sudah berada di ruangannya dan tersenyum menyambut Baekhyun.

-MW-

Baekhyun sudah kembali duduk di tempat tidurnya sedangkan Nyonya Ahn duduk di kursi samping tempat tidurnya. Lalu Chanyeol pamit untuk mengurus administrasi kepulangan Baekhyun siang ini.

Tangan kedua Baekhyun dan Nyonya Ahn saling menggenggam erat. Dan Nyonya Ahn terus saja mengungkapkan rasa bersalahnya.

"Nyonya~ maafkan saya. Karna saya nyonya jadi begini. Harusnya saya-"

"Tidak Nyonya Ahn. Nyonya Ahn tidak bersalah apapun." Baekhyun mengusap tangan Nyonya Ahn dengan lembut.
"Lagipula sebentar lagi aku akan pulang. Jadi Nyonya Ahn tidak perlu khawatir."

"Tapi nyonya~"

"Sudah.. sini peluk aku. Aku ingin dipeluk Nyonya Ahn." Baekhyun merentangkan tangannya pada Nyonya Ahn.

Nyonya Ahn pun memeluknya dengan bahagia. Baekhyun sudah seperti putrinya sendiri. Bagaimana pun ia tetap merasa bersalah saat Baekhyun mengalami hal buruk disaat dirinya tak ada. Ditambah lagi Chanyeol yang memintanya untuk fokus pada pekerjaan kantor dan mengabaikan Baekhyun yang sudah menjadi tanggung jawab pria itu. Ia merasa sudah sangat ceroboh menjaga Baekhyun dan Chanyeol seakan mempertegasnya dengan melarang Nyonya Ahn untuk tidak ikut menjaga Baekhyun. Bertambah sudahlah rasa bersalah Nyonya Ahn.

"Saya merasa sangat cemas setelah tiba di kantor dan mendengar kalau Nyonya dilarikan ke rumah sakit. Saya juga merasa terkejut karena seseorang sepertinya membius saya sebelum saya sampai di kantor."

Baekhyun terdiam sesaat. Ia melepaskan pelukkannya pada Nyonya Ahn.

"Bius?"

"Iya Nyonya, seseorang mungkin saja mencoba mencelakai Nyonya saat saya tidak ada. Saat itu saya sedang membelikan kopi pesanan Nyonya-"

"Tunggu.. tunggu.. aku masih belum mengerti. Anda mengatakan jika aku memesan kopi?"

"Iya, nyonya memintanya Nona Luhan tetapi kami membagi tugas. Jadi Nona Luhan yang menyiapka meeting sedangkan saya membelikan kopi untuk nyonya sebelum meeting."

"Huh?"

-TBC-