YOU ARE NOT MY WIFE [ChanBaek GS]

xxx

Park Chanyeol

Byun Baekhyun

xxx

#ig : bkynie #wattpad : dnoonaa #ffn : dnoona

xxx

Setelah mengurus administrasi rumah sakit. Chanyeol mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Kyungsoo sembari berjalan menuju ruangan Baekhyun.

"Tolong kau hubungi Sehun dan katakan padanya untuk datang bersamamu siang ini ke rumahku. Bawa juga beberapa berkas yang harus ku tanda tangani."

"Baik tuan."

"Oke, ku tunggu kalian berdua."

"Baik tuan."

Tutt

Chanyeol mengakhiri telponnya dan memasukkan ponselnya ke dalam saku celana. Belum juga ia membuka pintu, llangkahnya seketika terhenti.

"Nyonya Ahn yakin?"

"Iya, Nyonya. Nona Luhan sendiri yang mengatakannya pada saya. Jadi saya segera pergi untuk membeli kopi tersebut."

Kemudian Baekhyun menghela nafasnya.
'Jika benar apa yang dikatakan Nyonya Ahn. Keyakinanku semakin kuat. Ya, aku harus menyelidikinya sendiri dan membuktikan kepada Chanyeol jika aku dijebak. Kalau begitu aku akan menghubungi Kai lagi.'

"Oh iya Nyonya Ahn. Aku tidak menemukan ponselku dimanapun. Apa mungkin aku meninggalkannya di kantor?"

"Ah~ ponsel Nyonya. Kemarin saat Tuan memanggil saya kemari dan beliau meminta saya untuk mencari ponsel Nyonya karna saat dibawa ke rumah sakit Tuan tidak menemukan ponsel Nyonya. Jadi setelah itu saya menanyakannya pada Nona Luhan dan ia mengaku menyimpannya. Nona Luhan mengatakan kalau ponsel Nyonya tertinggal saat meeting."

"Luhan?"

"Iya, Nyonya."

"Lalu Nyonya Ahn memberikan ponsel saya pada Chanyeol?"

"Iya Nyonya."

"Lalu?"

"Saya mengatakan semuanya pada Tuan Chanyeol dan Tuan juga sempat bertanya dimana Nona Luhan saat kejadian itu. Untuk itu saya juga diminta untuk membawa seluruh rekaman cctv di lantai 2 ruang meeting dan ruangan Anda."

'Sampai sejauh itu? Berarti~ Chanyeol sudah mengetahui semuanya? Tanpa ia menjelaskan padaku?'

"Tapi syukurlah Nyonya sudah sembuh sekarang." Nyonya Ahn bernafas lega untuk itu. Ia menyisir surai coklat Baekhyun dengan lembut. Sementara Baekhyun menatapnya sambil tersenyum.

"Saya sangat bersyukur Nyonya sudah mulai sembuh sekarang. Terimakasih Nyonya." Seketika Nyonya Ahn memeluk Baekhyun.

-MW-

Akhirnya dokter memberikan surat ijin kepulangan Baekhyun. Mereka berdua bersama Nyonya Ahn juga Pak Lee pulang menuju kediaman Chanyeol Baekhyun. Walaupun Chanyeol sudah tahu jika Baekhyun menuntut penjelasan padanya. Tetap saja tak ada sedikitpun niatanya menjelaskan apapun pada Baekhyun saat ini. Membuat gadis itu menggeram tertahan saat menatap Chanyeol dari kaca spion.

'Aish.. pria tak berprasaan itu. Jadi pertanyaannya tentang aku dan Kai tadi pagi hanya jebakan? Sebenarnya dia sudah tau semuanya dari rekaman cctv? Aish.. Menyebalkan.. menyebalkan..!?'

Mata kecilnya menatap tajam Chanyeol lewat spion yang ada di dalam mobil. Membuat pria itu merasakan perasaan aneh (?) perasaan seperti ada yang mengulitinya dari belakang.

Jadi Chanyeol menatap spion dan menemukan si mungil mengumpatinya dari belakang sana.

'PABBO!'

-MW-

Setelah sampai di depan rumah, Chanyeol menjadi orang pertama yang turun dari mobil dan berniat membukakan pintu Baekhyun. Namun gadis itu dengan segala kekesalannya mendorong pintunya dengan keras membuat Chanyeol kaget karenanya.

"Minggir!" Gerutu Baekhyun lucu. Kalau sudah begini Chanyeol tidak bisa membedakan mana siswa sekolah dasar dengan Baekhyun.

Lalu gadis itu berjalan cepat mendahului yang lain.

Sementara Nyonya Ahn dan Pak Lee menatap gemas pada sepasang suami istri yang manis itu.

Dan akhirnya Chanyeol hanya menghela nafas membiarkan si mungil berjalan terlebih dulu memasuki kediaman mereka sedangkan dirinya membantu Pak Lee membawa beberapa tas dan koper.

"Ahjumma~" Seru Baekhyun cerita saat membuka pintu rumah dengan penuh kebahagiaan. Kepulangannya menjadi hal yang paling membagiakan.

Tapi langkahnya terhenti saat menemukan dua orang tak dikenalnya berdiri dan tersenyum pasanya dari arah ruang tamu.

Seorang wanita cantik yang tidak terlalu tinggi darinya dan seorang pria berpakaian dokter. Baekhyun memasang wajah curiga pada dua orang itu tetapi mereka berdua tersenyum ramah padanya.

"Anda sudah datang, Nyonya~" Ahjumma pun datang dengan menampakkan kegembiraanya pada Baekhyun.

"Ah~ I-iya~" Tapi tatapan Baekhyun tak bisa lepas dari dua orang asing disana. Membuat Ahjumma ikut menatap kedua tamu yang baru saja datang tadi.

"Nyonya, beliau adalah tamu Tuan."

Kemudian Baekhyun menatap ahjumma mengerti.

"Kalau begitu, silahkan duduk." Baekhyun mempersilahkan keduanya untuk duduk kembali.

Ia mengerti bagaimana harus menghormati tamu tapi ia hanya tak mengerti mengapa Chanyeol membiarkan orang lain memasuki rumah mereka.

Sejak menikah Chanyeol adalah pihak yang paling keras menentang keberadaan orang lain selain keluarganya di rumah ini. Chanyeol hanya tak menyukai pesta dan sesuatu yang ramai oleh orang-orang yang asing.

Sepertinya mereka memiliki hubungan yang lebih erat dari sekedar hubungan bisnis. Namun, hal itu pula yang membuat Baekhyun bertanya.

"Kalian sudah datang?" Seru Chanyeol dari ambang pintu.

"Ah iya, sajang-nim." Kyungsoo mengangguk hormat.

"Ahjumma, tolong siapkan 3 cangkir kopi dan siapkan juga makan siang." Tirai Chanyeol kemudian.

"Baik tuan." Ahjumma pun mengangguk patuh pada dan tak lupa pamit pada Baekhyun.

Sementara Baekhyun yang sedari tadi berdiri disana hanya memperhatikan ketiganya saling menyapa. Tampak akrab dan dekat.

Mereka terlihat asyik tanpa menghiraukan Baekhyun sang pemilik rumah. Jadi Baekhyun memilih untuk menyusul Ahjumma ke dapur.

"Ahjumma~"

"Ah~ Nyonya?" Ahjumma yang baru saja menuangkan bubuk kopi ke mesin kopi seketika menoleh ke arah sumber suara.

"Mereka tamu tuan?"

"Iya, Nyonya." Ahjumma tersenyum sambil melanjutkan pekerjaannya.

"Memang mereka siapa?"

"Oh, itu Tuan Sehun dan Sekretaris Tuan."

"Sehun?" Baekhyun rasanya pernah mendengar nama itu sebelumnya. Tapi dimana ya... Ah entahlah.

"Iya, Nyonya. Mereka hanya mengatakan hal itu dan tuan juga menelpon untuk membiarkan mereka masuk."

"Jadi ahjumma tidak tahu?"

"Tidak Nyonya."

Baekhyun termenung disana. Siapa mereka? Apa mungkin dokter itu adalah dokter yang akan merawatnya nanti? Tapi bukankah dokter pribadinya sudah mengatakan jika Baekhyun sudah sembuh? Entahlah.

"Ah iya ahjumma, berikan tuan teh saja ya. Dan bawakan juga mereka beberapa kue kering karna tuan belum sarapan. Aku akan ada dikamarku jika ada yang mencari."

"Baik, Nyonya."

-MW-

Baekhyun berjalan perlahan menuju tangga saat Chanyeol dan kedua tamunya sedang sibuk berbincang. Mereka tertawa dan bercanda bersama tanpa menyadari Baekhyun yang baru saja melewati mereka.

Jadi Baekhyun mengabaikan tata krama dan jalan begitu saja menuju tangga, Lagipula mereka sedang sibuk jadi menyapa pun bukan pilihan yang baik bagi Baekhyun. Mungkin mereka tidak akan mendengarnya jadi persetan dengan sopan santun. Pikir Baekhyun acuh.

Tak lama kemudian ahjumma datang dengan 2 cangkir kopi untuk Sehun dan Kyungsoo. Sedangkan ia membawakan Chanyeol secangkir teh.

Hal itu membuat Chanyeol menerutkan alisnya heran.

"Ahjumma?"

"Iya, Tuan."

"Bukankah saya memesan 3 cangkir kopi?"

"Ah itu~ Nyonya mengatakan jika Tuan belum sarapan jadi ada baiknya Tuan meminum teh saja. Bagaimana tuan?"

"Ah~ T-tidak ahjumma, terimakasih."

Semetara Sehun dan Kyungsoo langsung menggoda Chanyeol dengan memainkan alis mereka.

"Jadi sekarang kalian sudah saling memperhatikan eoh?" Goda Sehun jail.

"Woah.. istrimu sangat perhatian Tuan. Wkwk"

"Kalian sungguh lucu."

"Aish.. Diam kalian." Chanyeol hanya menggeleng acuh.

"-Jadi sampai dimana tadi kita?" Lanjut Chanyeol

-MW-

Jam makan siang sudah tiba jadi Chanyeol mengajak Kyungsoo dan Sehun untuk makan siang bersama. Lalu Chanyeol menatap pintu kamar Baekhyun ragu. Haruskah ia mengajak wanita itu atau tidak? Karna sejujurnya Chanyeol hanya khawatir Baekhyun masih butuh waktu utnuk istirahat jadi ia tak melibatkan Baekhyun dalam obrolan yang mungkin saja tak ingin didengarnya.

Tapi Chanyeol menepis keraguan itu. Ia menaiki tangga dan berniat mengajak Baekhyun untuk makan bersama atau setidaknya ia dapat memastikan makanan apa yang ingin Baekhyun makan.

Tok.. Tok.. Tok..

"Baekhyun?"

.

.

"Baekhyun?"

.

.

Tak ada jawaban dari dalam sana membuat Chanyeol penasaran. Jadi ia mencoba membuka pintu tersebut.

Dan benar saja kamar Baekhyun tidak terkunci. Terlihatlah si mungil yang nampak kelelahan dibalik selimutnya. Baekhyun nampak damai dalam acara tidur siangnya. Begitu mungil dibalik selimutnya yang besar.

Chanyeol menghampirinya dan duduk di pinggir tempat tidur.

"Hey~" Chanyeol menyisir anak rambut Baekhyun lembut.

"Eugh~"

"Kau harus makan siang. Mau kubawakan makan siangmu kemari?"

"Eugh?" Baekhyun berusaha mengumpulkan nyawanya saat Chanyeol terus saja menyisir rambutnya.
"Kau~" ujarnya setengah sadar.

"Kau harus makan siang lalu minum obatmu. Jadi mau kubawakan makan siangmu kemari atau tidak?"

Baekhyun tak langsung menjawab. Ia mencoba duduk terlebih dulu.

"Tamumu sudah pulang?" Tanyanya serak.

"Kau merasa terganggu dengan kehadiran mereka?"

"Tidak~ Aku hanya bertanya."

"Belum. Mereka masih ada di bawah menunggu untuk makan siang bersama. Jadi apakah-"

"Mengapa kau tidak mengenalkan mereka pada ku? A-pa mereka juga tak tahu tentang pernikahan kita? Atau kau menyembunyikan a-ku dari mereka?"

Baekhyun menunduk sedih karenanya. Entah bagaimana pertanyaan seperti itu seakan menjadi beban untuknya.

Pertama, Chanyeol bersikap seakan ia tak mengakui Baekhyun sebagai istrinya. Dan kedua, Chanyeol seakan menutupi pernikahan mereka dari orang lain.

Selama ini hanya keluarga Chanyeol yang Baekhyun kenal. Chanyeol tak pernah memperkenalkan orang lain. Ya walaupun dirinya juga tidak. T-tapi memangnya siapa yang mau Baekhyun kenalkan pada Chanyeol?

Bukankah Baekhyun tak pernah dekat dengan siapapun? Kecuali Kai? Mantan pacarnya.

"Kau mau makan sekarang atau ku tertawai?" Ujar Chanyeol renyah.

Kemudian Chanyeol berdiri dan menghela nafas.
"Kalau kau mau tahu apa yang akan ku lakukan pada Luhan. Ku tunggu di bawah." Chanyeol tersenyum jail pada Baekhyun. Kemudian ia mengusak surai Baekhyun acak.

Membuat si empunya mendengus kesal.

"Oh iya, terimakasih untuk tehnya." Chanyeol pun berjalan keluar dari kamar Baekhyun.

-MW-

Baekhyun mencoba menenangkan diri. Mengatur nafas dan mencoba berjalan tenang menuruni tangga. Dilihatnya semua mata melihatnya dari ruang makan.

Sungguh mereka semua terlihat aneh dengan senyum itu. Pikir Baekhyun.

Chanyeol bangkit dari kursinya dan mempersilahkan Baekhyun untuk duduk di sebelahnya.

Lalu Chanyeol mulai memperkenalkan tamunya.

"Ini adalah Sehun. Temanku yang juga seorang dokter."

Baekhyun tersenyum ramah pada Sehun. Sementara Sehun terlihat gemas pada si kecil Baekhyun. Seingatnya dulu Baekhyun tidak semanis ini.

"Hai Baekhyun, aku Sehun. Senang bertemu denganmu lagi. Masih ingat dengan kejadian alkohol di acara pernikahanmu? Ya itu aku. Wkwk"

"Hah?" Baekhyun terkejut dan menimang-nimang ucapan Sehun tapi ia merasa tak mengenalnya. Jadi Baekhyun mengabaikan Sehun dan menganggap Sehun hanya ingin mengakrabkan diri jadi ia tak terlalu memusingkannya.

"Hehehe.." Ia hanya tersenyum kaku.

"Sepertinya ia tak mengingatmu." Goda Kyungsoo pada Sehun. Dan ditimpali dengusan oleh Sehun.

"Dan ini Kyungsoo, dia adalah sekretarisku dan teman dekat Sehun."

"Maaf, aku bukan teman dekatnya. Aku lebih tua darinya. Dan Annyeonghaseo, Baekhyun-ssi. Kau bisa memanggilku eonnie karna kau pasti lebih muda dariku" Ujat Kyungsoo bangga.

"Dia memang sedikit gila hormat." Ujar Sehun menasehati.

Baekhyun pun tersenyum karenanya. Ternyata Kyungsoo dan Sehun sangat bersahabat. Jadi ia tak perlu takut untuk diterima mereka.

"Dan kau harus ingat, Baekhyun. Aku adalah suamimu. Jadi jangan terlalu sering tersenyum pada orang lain." Chanyeol mengatakannya dengan acuh dan memulai makan siangnya begitu saja.

"Uuuuhh~" Seketika Sehun dan Kyungsoo menyahutinya dengan godaan.

Membuat Baekhyun kikuk setengah mati pada Chanyeol. Oh pipinya~ tiba-tiba memanas.

-MW-

"Aku sudah mengecek cctv kantor Baekhyun tapi tak ada rekaman yang menunjukkan kalau Luhan menuangkan cairan apapun diminuman Baekhyun. Setidaknya untuk membuktikan Luhan bersalah adalah dengan menemukan bukti kalau Luhan yang memasukkan heroin itu ke dalam minuman Baekhyun atau-."

"Mencari botol heroin itu dan menemukan sidik jari Luhan disana. Kalau dugaanku benar, sidik jari Luhan juga seharusnya ada di gelas atau sendok yang dipakainya untuk Baekhyun. Aku ingin menyelidiki kasus ini sendiri karna nama Baekhyun dan perusahaannya akan menjadi taruhannya jika kita melakukannya secara terbuka." Jelas Chanyeol.

Kemudian Chanyeol menatap Baekhyun sebentar.
"Mungkin saja berita ini akan melebar di media. Dan mereka akan lebih tertarik pada masa lalu Baekhyun dibandingkan untuk mengungkap kasus ini. Dan aku tidak ingin itu terjadi."

"Ya, aku pikir Chanyeol benar." Sehun pun setuju dengan pendapat Chanyeol.
"Akan sangat menyusahkan kita untuk menutup mulut media daripada menyelesaikan kasus ini. Lagipula ini bukan pekerjaan sulit. Bukankah kita sering melihatnya di tv?" Kekeh Sehun enteng.

"Kyungsoo, aku percayakan Baekhyun padamu. Mulai saat ini kau yang akan menggantikan tugas Nyonya Ahn. Jadi berhati-hatilah."

Kemudian Chanyeol menatap Baekhyun dengan serius. Meraih tangan Baekhyun erat dibawah meja.

"Dan ku harap kau juga mengerti perananmu, Baekhyun."

-TBC-