YOU ARE NOT MY WIFE [ChanBaek GS]

xxx

Park Chanyeol

Byun Baekhyun

xxx

#twitter : dtvveet #wattpad : dtvveet #ffn : dnoona

xxx

Penulis : Duh aku jahat banget, aku pasti lupa kasi tau di chap sebelumnya kalo aku udah move ke wattpad. Sekali lagi maaf ya. Kalian bisa langsung move ke wattpad ya. Setelah ini aku gak akan nulis di ffn lagi jadi silahkan move ya. terimakasi

xxx

"Baiklah, sepertinya kita harus pulang sekarang Kyungsoo." Sehun melirik Baekhyun yang sudah tertidur di bahu Chanyeol.

Dengkur tipis Baekhyun menemani kegiatan diskusi mereka.

Memang setelah selesai makan bersama Chanyeol, Kyungsoo, dan Sehun mencoba mencocokan agenda mereka untuk memuluskan rencana selanjutnya.

Sedangkan si cantik Baekhyun yang baru sembuh juga ingin turut mendengarkan tapi tidak lama kemudian ia tertidur di bahu Chanyeol.

"Ah iya" Kyungsoo mengangguk paham. "Aku akan mengatur semuanya. Selama aku di kantor Baekhyun, tolong jangan melakukan hal yang tidak-tidak Chanyeol. Masuk tepat waktu dan ikuti agendamu dengan baik, Nona Sung Hun akan mengatur segalanya. Dan- percayakan Baekhyun padaku."

Chanyeol tersenyum miring pada Kyungsoo kemudian tatapan jatuh pada wanita cantik yang masuk tertidur di bahunya.

"Baiklah kalau begitu kami pulang dulu. Besok sore mampirlah ke klinikku bersama Baekhyun. Ayo Kyungsoo." Sehun pun bergegas merapikan kemejanya.

"Kami pulang dulu sajangnim. Selamat malam." Keduanya undur pamit.

Chanyeol mengangguki keduanya sebagai pengantar kepulangan mereka. "Terimakasih Kyungsoo, Sehun."

Keduanyapun tersenyum lalu pergi meninggalkan dua orang yang masih terdiam disana.

-MW-

Chanyeol tak bisa menahan dirinya untuk terus tersenyum. Manisnya wajah Baekhyun dalam gendongannya, begitu cantik dan lembut.

Bahkan saat menaiki tangga tak sedetik pun Chanyeol mengalihkan tatapannya. Secandu itu menatap Baekhyun dalam damainya malam.

Chanyeol masih belum dapat menjelaskan perasannya, apakah semua yang ia lakukan saat ini hanya karna ia kasihan? Jauh di dalam hatinya ia masih mempertanyakan itu.

Benarkah perasaannya pada Luhan benar-benar sudah tidak ada? Bukankah Chanyeol memiliki banyak toleransi sejak dulu untuk Luhan. Dan apa ini?

Chanyeol seakan-akan meninggalkan Luhan demi Baekhyun yang baru ia kenal.

"Ngh~ Chanyeol?"

"Huh"

Entah sejak kapan Baekhyun sudah terbaring di kasurnya dan Chanyeol pun sudah berbaring di sampingnya menumpukan kepalanya dengan satu tangan.

"K-kyung-soo? Sehun?"

"Mereka sudah pulang." Ujar Chanyeol menenangkan

Bahkan Chanyeol menyisir anak rambut Baekhyun yang menutupi dahi cantiknya. Seolah menenangkan dan bergumam tidak apa-apa.

"Ugh~ maaf ya. Aku ketiduran." Baekhyun yang akan bangkit di tahan begitu saja oleh Chanyeol dalam dekapan.

"Mau kemana?"

"Kau tidak ingin ke kamarmu?" Lihat, Baekhyun secara halu mengatakan. "Ini kan kamarku, kenapa kau ada disini?"

"Aku lelah, aku ingin istirahat disini." Chanyeol pun mengeratkan dekapannya dan menutup matanya rapat-rapat sedangkan Baekhyun disana menatapnya bingung.

Bukannya pergi tapi Chanyeol malah bener-bener tidur di kamarnya. Tapi beberapa detik kemudian ia menyerah pada keadaan dan menyusul tidur.

-MW-

Pagi pun tiba, baik Chanyeol dan Baekhyun tetap disiplin pada rutinitas masing-masing. Baekhyun akan turun ke dapur di temani maid dan Chanyeol lari pagi sebelum pergi bekerja.

Lain kemarin lain kali ini, Chanyeol benar-benar berlari dengan kencang memutari komplek. Bukan lari pagi santai yang biasa ia lakukan.

Apalagi penyebabnya kalau bukan Baekhyun.
Jelas saja ia mempertanyakan kemana kewarasannya semalam? Membawa Baekhyun ke kamar wanita itu lalu bersikap tidak tau diri dengan menahan wanita itu dalam dekapannya.

Belum lagi apa yang terjadi setelahnya,
MATI SAJA KAU CHANYEOL. ARRRRGGHH!
Chanyeol berlari semakin kencang memutari komplek.

-Aku juga pria, Baekhyun-

"Nyoonya?"

"Ah.. ahjumma!?"

"Nyonya melamun lagi. Saya perhatikan dari pagi tadi nyonya melamun terus."

Ugh.. Aku tidak mungkin menceritakannya pada ahjumma kan? Bagaimana mengatakan yang dilihatnya tadi pagi? Semua orang pasti berpikir ini normal. Ah tidak... tidak.. kalau diingat-ingat. Aku malu sendiri

"Ah.. Tidak ada apa-apa ahjumma." Baekhyun meringis malu kemudian.

Tak lama kemudian Chanyeol datang dari pintu utama melintasi dapur menuju kamarnya.

Tapi tatapannya bersikukuh dengan Baekhyun yang menatapnya kosong lalu tiba-tiba tatapan Baekhyun jatuh ke arah bawah.

Aisshhhh -runtuk Chanyeol dalam hati.
Kemudian ia bergegas menuju kamar mandi di kamarnya.

Aish benar-benar memalukan. Bagaimana bisa aku tegang dalam pelukan Baekhyun? ARGGGGHHHHHH!?

Pagi ini Chanyeol jelas-jelas frustasi setengah mati. Bagaimana tidak?

Sesaat setelah membuka matanya pagi ini baik ia maupun Baekhyun sama-sama terkejut lalu mereka sama-sama canggung dalam satu selimut.

Namun yang membuat Chanyeol malu setengah mati adalah apa yang Baekhyun liat setelah ia berdiri dan berjalan menuju kamar mandi.

Baekhyun melihat jelas sesuatu yang tegak disana. Sayangnya, ada yang tegak tapi bukan keadilan

Poor Chanyeol

Sarapan yang berlangsung hikmat bahkan cenderung hening menjadi saksi keterdiaman kedua suami istri itu.

Sampai Chanyeol yang terlebih dulu membuka suara.

"Mulai pagi ini, aku tidak akan mengantarmu. Uhm~ hati-hati."

"Uh- iya"

Hening lagi.

.
.

Astaga mereka benar-benar canggung.

"Kau harus berhati-hati terhadap Luhan. Kita tidak tau rencana apa yang dia ingin lakukan selanjutnya."

"Hum~"

"Pastikan kau juga menyimpan nomer Kyungsoo di kontak darurat. Beberapa pengawal sudah ku minta untuk berpura-pura sebagai staff."

"Terimakasih."

"Kenapa wajahmu merah? Apa kau sakit?"

"Hum~ tidak~" Baekhyun menegakkan tubuhnya. Memperlihatkan pada Chanyeol jika ia baik-baik saja.

"Sebaiknya tidak usah masuk kantor jika kau masih belum sehat sepenuhnya."

"Aku baik, lagi pula aku tidak suka berdiam diri."

Hening lagi.

.
.

"Oh iya, nanti sore apa kau ada waktu?" Tanya Chanyeol lagi.

"Sore ini?"

"Iya~ Sehun mengajak kita mampir ke kliniknya."

"Untuk?"

"Apa kau tidak ingin membuat perencanaan untuk kehamilan?"

Blush~

Apa sekarang Chanyeol sedang mengatakan, ayo membuat anak?

-MW-

Setelah sampai di kantor, Baekhyun tidak melihat apapun melihat ada keanehan disana.

Semua orang memperlakukannya seperti biasa membuatnya mengulas senyum lega.

Untunglah semuanya berjalan baik-baik saja, Nyonya Ahn dan Chanyeol dapat meredam suasana sehingga kantor tak perlu diramaikan dengan sesuatu yang tidak penting.

"Selamat pagi, Nyonya." Itu adalah Luhan dan Kyungsoo yang sudah berdiri di depan meja sekretaris.

Lihat itu senyum lebar Luhan yang begitu licik. Ia pasti senang saat mengetahui bahwa Baekhyun mengajukan surat pemecatan untuk Nyonya Ahn.

"Pagi~ ah rupanya Nona Kyugsoo sudah ada disini. Apa kalian sudah saling berkenalan?"

"Sudah Nyonya." Jawab Kyungsoo tenang sembari menunduk hormat.

"Apa Nyonya sudah baikan?" Tiba-tiba Luhan bertanya.

"Aku lebih baik dari sebelumnya. Oh iya aku tunggu kalian berdua di dalam."

"Baik, Nyonya" Keduanya membungkuk hormat.

Mungkin Luhan gagal mempermalukan Baekhyun dihadapan direksi dan staff karna semua orang mengira itu bukan Baekhyun.

Tetapi ia berjingkrak senang setelah tahu kalau Baekhyun alergi obat-obatan terlarang. Jelas saja ia semakin senang melihat Baekhyun menderita.

Apalagi ia berhasil membuat kesalah pahaman Baekhyun dan Chanyeol dengan menghubungi Kai saat kejadian. Chanyeol pasti marah jadi pagi ini tidak melihat Chanyeol mengantar Baekhyun.

Sesaat kemudian pintu sudah tertutup saat Baekhyun, Kyungsoo,dan Luhan sudah di dalam ruangan Baekhyun.

"Selamat datang Nona Kyungsoo. Aku harap kau dapat bekerjasama dengan Nona Luhan kedepannya dalam segala kesempatan."

"Mohon bimbingannya, Nona Luhan." Kyungsoo membungkuk hormat.

Lihat itu, Baekhyun dapat melihat seringai jahatnya saat turut membungkuk. Luhan mengira dapat Kyungsoo bukanlah ancaman yang berarti.

"Sama-sama Nona Kyungsoo."

"Ah iya Luhan, Kyungsoo adalah kenalanku dari seorang teman karna Nyonya Ahn tak dapat bekerja lagi disini. Jadi tolong atur ulang agendaku dan jadwalkan semua kegiatan selesai jam 5 sore."

"Baik, Nyonya."

"Oh iya Luhan, antarkan surat kontrak kita untuk artis Kai sebagai BA mall yang akan kita release dalam waktu dekat ini. Pastikan kau juga menyiapkan beberapa buah tangan dan siapkan juga bucket bunga sebagai salam pengantarku."

Woah... ada yang mulai bermain api. Kalau lihat saja Chanyeol, kau akan tahu siapa yang benar-benar mencintaimu dan siapa yang mengkhianatimu. -Gumam Luhan dalam hati.

"Baik, Nyonya. Ada lagi?"

"Cukup, kalian bekerjasamalah dengan baik."

"Baik, Nyonya."

Ada yang diam-diam tersenyum miring disana. Siapa lagi kalau bukan Luhan. Bukankah ini kesempatannya untuk terus membuat Baekhyun memiliki momen-momen bersama dengan Kai, dengan begitu ia akan mendapatkan banyak foto untuk dikirimkan kepada Ibu Chanyeol.

Ah~ apa Chanyeol dan Baekhyun sudah mengantisipasi hal ini sebelumnya?

-MW-

Setelah tiba makan siang, Pak Lee seperti biasanya membawakan sebuah paper bag untuk makan siang istri majikannya.

Tetapi sesampainya ia disana Luhan mencegahnya, mengatakan pada Pak Lee jika Baekhyun sudah keluar ruangan.

Tentu saja Pak Lee yang tak tahu apapun hanya menitipkan makan siang itu pada Luhan lalu berpamitan pulang.

Sementara itu Luhan tanpa perasaan membawa paper bag tersebut ke pantry dan membuangnya.

"Kau pikir, kau siapa Baekhyun? Bahkan sampai ke denyut nadimu saja aku benci."

Setelah mengambil gambar Luhan, Kyungsoo diam-diam menyembunyikan dirinya di ruang kebersihan.

Lalu Kyungsoo ingat jika video-video cctv disetiap ruangan yang menampilkan kecurigaan terasa menjanggal.

Mengapa Chanyeol mengatakan jika tidak ada video cctv yang dapat membuktikan kelakukan Luhan? Apa mungkin?

"Selamat siang manager-nim, Kai-sii~ senang dapat bertemu dengan Anda." Luhan membungkuk hormat menyambut kedua tamunya.

"Ah, suatu kehormatan bagi saya dapat bertemu perwakilan dari Byun Group." Manager-nim turut membungkuk hormat.

Sedangkan Kai yang juga ada disana memicing tajam pada Luhan.

Memangnya Kai tidak tahu siapa Luhan? Tentu saja informan Kai tidak melewatkan informasi itu.

Luhan yang merupakan mantan Chanyeol tersebut dikeluarkan dari Park Inc dan bergabung dengan Byun Group hanya dalam hitungan detik.

"Seperti yang saya bicarakan ditelpon, saya ingin menawarkan kontrak kerjasama BA Mall kami kepada Kai-sii. Saya juga membawakan beberapa bingkisan dan bucket dari Nyonya Byun Baekhyun selaku Presiden Direktur kami."

Luhan menyerahkan dua buah kotak berwarna merah dan se-bucket baby breath putih yang melambangkan ketulusan.

"Ah terimakasih, tidak perlu repot-repot membawakannya. Kami sangat tersanjung atas ketulusan Nona Baekhyun."

"Nyonya." Koreksi Kai tegas pada managernya.

"Oh iya, maaf kan saya."

"Tidak apa-apa." Ujar Luhan memaklumi.

Tapi apa yang ia dengar dari mulutkan begitu ganjal baginya, apa saat ini Kai sudah menerima keadaan Baekhyun dan ingin menyerah begitu saja?

Tentu saja Luhan menentang hal itu, ini adalah kesempatannya untuk membuat Chanyeol semakin tahu siapa Baekhyun yang sesungguhnya.

"Baiklah jika tidak ada lagi yang ingin Anda katakan. Aku akan pergi, segala ketentuan kontrak akan diurus oleh agensi dan tolong katakan ada Presdir Anda untuk tidak memberikan hal yang sia-sia."

Ah apa itu artinya Kai menerima tawaran ini tanpa bernegosiasi dan melayangkan perdebatan? Secepat itu?

Kemudian Luhan berdiri mengikuti Kai dan membungkuk hormat, "Terimakasih, Kai-sii."

Kai pergi, persetan dengan kontrak dan segala macam kerjasama.

Ia tak membutuhkan semua jenis formalitas itu karna baginya apapun akan ia berikan pada Baekhyun.

Ia telah mengabdikan segala penyesalannya untuk menjaga dan mendukung Baekhyun sepernuhnya.

-MW-

"Kau sudah selesai?"

"Hu um"

Kini Baekhyun sudah ada di dalam mobil Chanyeol. Kepergian Luhan sejak siang juga adalah keinginannya agar Luhan sibuk di luar dan tidak akan menemukannya pulang bersama Chanyeol.

Ini seperti Backstreet tapi Baekhyun menyukainya, ia menyukai hubungan diam-diam rasanya seperti ia kembali ke masa remaja dan pergi diam-diam bersama kekasihnya. Kekasih?

Baekhyun menatap Chanyeol nanar, Kekasih?
Apa itu?

"Apa ada sesuatu di wajahku?" Tanya Chanyeol penasaran.

"Oh! T-tidak~" Hening kemudian, Baekhyun memilih memalingkan wajahnya.

Kekasih macam apa yang mengajaknya ke dokter untuk merencanakan kehamilan. Bodoh!

Walaupun kita suami istri tetapi tetap saja hubungan seperti ini rumit. Kami bahkan tidak memiliki perasaan apapun sehingga bisa dengan mudah memutuskan hal ini.

Lama Baekhyun merenung seorang diri, lagi-lagi ia tertidur saat bersama Chanyeol. Keheningan bisa saja menghipnotisnya dan membawanya ke dalam alam mimpi.

Sedangkan Chanyeol disampingnya sudah menepikan mobil mereka saat menyadari kepala Baekhyun sudah terkulai lemah.

Kemudian Chanyeol merendahkan kursi Baekhyun ke belakang sehingga Baekhyun dapat lebih nyaman dalam tidurnya.

Setengah jam kemudian mereka sampai di depan klinik Sehun. Pelan-pelan Chanyeol mengusak rambut cantik Baekhyun.

"Engh~" Matanya yang lentik mengerjap sedikit demi sedikit membiasakan diri dengan terangnya lampu mobil.

"Kita sudah sampai" Gumam Chanyeol. Membuat Baekhyun menengok ke kanan ke kiri memastikan bahwa mereka sudah sampai.

"Maaf~" Ujarnya.

"Tidak apa-apa, kau pasti lelah. Kita temui Sehun terlebih dulu lalu pulang."

Tapi saat Baekhyun akan bangkit, ia menyadari kalau Chanyeol masih mengusak rambutnya membuat ia kaget dan berdeham.

Seketika Chanyeol sadar dan menarik tangannya dari kepala Baekhyun.

"Hey... kalian sudah datang?" Itu Sehun. Ia datang dengan jas dokternya kemudian ia duduk di kursinya.

"Seperti yang kau lihat." Ujar Chanyeol datar.

"Oh mate! Kau ini menyebalkan. By the way, Baekhyun bagaimana keadaanmu? Sudah lebih baik?"

"Aku baik."

"Oh iya, kau juga habis pulang dari kantor juga?"

"Iya." Baekhyun mengangguk setuju.

"Padahal kau bisa mengambil cuti beberapa hari setelah pulang dari rumah sakit. Tapi tidak apa-apa, aku harap kau tetap makan dengan teratur dan meminum obatmu. Baiklah, jadi kemarin aku sudah menawarkan diri untuk menjadi dokter psikologmu-"

"Huh" Baekhyun memandang Chanyeol bingung. Bukankah tujuan mereka kemari untuk-

"Mate~ kau tidak menjelaskannya?"

"Aku tidak mengerti bagaimana menjelaskannya jadi aku menyerahkannya padamu." Ujar Chanyeol jujur.

"Baiklah, baiklah.. Nyonya Baekhyun ayo ikut aku."

Sementara Baekhyun melirik Chanyeol dengan mata puppy-nya. Ia seperti minta pertolongan pada ayahnya karna akan diculik.

"Tidak apa-apa. Aku akan menunggumu disini." Ujarnya meyakinkan.

-MW-

Tepat setelah kepulangan mereka berdua dari klinik Sehun, Baekhyun dan Chanyeol kembali ke rumah mereka.

Mereka makan bersama setelah berpakaian santai dan masih sama-sama diam tanpa memulai perbincangan.

Tapi tanpa Chanyeol ketahui, Baekhyun tengah kesal padanya. Kekesalan yang sama seperti saat malam pertama mereka, ah mana bisa dibilang malam pertama.

Ya pokoknya malam dimana Baekhyun terbangun setelah mabuk di pesta pernikahannya sendiri dan Chanyeol mempermainkannya saat ia tersadar.

"Apa kau marah?" Tanya Chanyeol.

Hening mengudara.

Baekhyun ingin sekali kembali ke dalam kepribadiannya semula dan meneriakan sumpah serapah pada Chanyeol.

Diam sebagai jawabannya sendiri, Chanyeol tahu pasti Baekhyun marah.

"Aku minta maaf, hum?"

"Baekhyun?"

"Byun Baekhyun?-"

"Diamlah, Chanyeol. Kita sedang makan." Ujar Baekhyun datar.

"Aku minta maaf~ aku tidak menyangka kalau kau juga mengharapkan-"

"APA!? APA!? AKU TIDAK MENGHARAPKAN APA-APA?"

"Tapi kau marah."

"Aku tidak marah!"

"Tapi tadi kau meninggikan suaramu~"

"AKU TIDAK MENINGGIKAN SUARAKU!"

"Itu.. itu.. kau melakukannya lagi!?" Ujar Chanyeol heboh.

"Sebenarnya kan yang mengharapkan semua itu KAU!?"

"Aku? Kap-"

"Itu bisa kau tanyakan pada orang yang tegang pagi tadi. Wle!" Heboh Baekhyun menjulurkan lidahnya.

"K-KAU!?" Matanya melotot tanda geram.

"Kau lemah Chanyeol~"

Kemudian Chanyeol menaruh sendok garpunya dan menghampiri Baekhyun yang duduk seberangnya.

"AKU? TIDAK!?" Ujarnya lantang

Sementara Baekhyun meliriknya tajam sambil bercakap tangan.

"Iya~ jelas-jelas kau lemah dan kau yang mengharapkan- Hmmmpphhhhhh~ mmh~"

Sekuat tenaga Baekhyun memukul dada Chanyeol yang menghimpitnya.

Entah bagaimana tiba-tiba Chanyeol merasa gemas pada bibir cerewet Baekhyun dan berakhir melumat bibir cherry berwarna merah dan kenyal itu.

-TBC-

"Seperti yang kau lihat." Ujar Chanyeol datar.

"Oh mate! Kau ini menyebalkan. By the way, Baekhyun bagaimana keadaanmu? Sudah lebih baik?"

"Aku baik."

"Oh iya, kau juga habis pulang dari kantor juga?"

"Iya." Baekhyun mengangguk setuju.

"Padahal kau bisa mengambil cuti beberapa hari setelah pulang dari rumah sakit. Tapi tidak apa-apa, aku harap kau tetap makan dengan teratur dan meminum obatmu. Baiklah, jadi kemarin aku sudah menawarkan diri untuk menjadi dokter psikologmu-"

"Huh" Baekhyun memandang Chanyeol bingung. Bukankah tujuan mereka kemari untuk-

"Mate~ kau tidak menjelaskannya?"

"Aku tidak mengerti bagaimana menjelaskannya jadi aku menyerahkannya padamu." Ujar Chanyeol jujur.

"Baiklah, baiklah.. Nyonya Baekhyun ayo ikut aku."

Sementara Baekhyun melirik Chanyeol dengan mata puppy-nya. Ia seperti minta pertolongan pada ayahnya karna akan diculik.

"Tidak apa-apa. Aku akan menunggumu disini." Ujarnya meyakinkan.

-MW-

Tepat setelah kepulangan mereka berdua dari klinik Sehun, Baekhyun dan Chanyeol kembali ke rumah mereka.

Mereka makan bersama setelah berpakaian santai dan masih sama-sama diam tanpa memulai perbincangan.

Tapi tanpa Chanyeol ketahui, Baekhyun tengah kesal padanya. Kekesalan yang sama seperti saat malam pertama mereka, ah mana bisa dibilang malam pertama.

Ya pokoknya malam dimana Baekhyun terbangun setelah mabuk di pesta pernikahannya sendiri dan Chanyeol mempermainkannya saat ia tersadar.

"Apa kau marah?" Tanya Chanyeol.

Hening mengudara.

Baekhyun ingin sekali kembali ke dalam kepribadiannya semula dan meneriakan sumpah serapah pada Chanyeol.

Diam sebagai jawabannya sendiri, Chanyeol tahu pasti Baekhyun marah.

"Aku minta maaf, hum?"

"Baekhyun?"

"Byun Baekhyun?-"

"Diamlah, Chanyeol. Kita sedang makan." Ujar Baekhyun datar.

"Aku minta maaf~ aku tidak menyangka kalau kau juga mengharapkan-"

"APA!? APA!? AKU TIDAK MENGHARAPKAN APA-APA?"

"Tapi kau marah."

"Aku tidak marah!"

"Tapi tadi kau meninggikan suaramu~"

"AKU TIDAK MENINGGIKAN SUARAKU!"

"Itu.. itu.. kau melakukannya lagi!?" Ujar Chanyeol heboh.

"Sebenarnya kan yang mengharapkan semua itu KAU!?"

"Aku? Kap-"

"Itu bisa kau tanyakan pada orang yang tegang pagi tadi. Wle!" Heboh Baekhyun menjulurkan lidahnya.

"K-KAU!?" Matanya melotot tanda geram.

"Kau lemah Chanyeol~"

Kemudian Chanyeol menaruh sendok garpunya dan menghampiri Baekhyun yang duduk seberangnya.

"AKU? TIDAK!?" Ujarnya lantang

Sementara Baekhyun meliriknya tajam sambil bercakap tangan.

"Iya~ jelas-jelas kau lemah dan kau yang mengharapkan- Hmmmpphhhhhh~ mmh~"

Sekuat tenaga Baekhyun memukul dada Chanyeol yang menghimpitnya.

Entah bagaimana tiba-tiba Chanyeol merasa gemas pada bibir cerewet Baekhyun dan berakhir melumat bibir cherry berwarna merah dan kenyal itu.

-TBC-