YOU ARE NOT MY WIFE [ChanBaek GS]

xxx

Park Chanyeol

Byun Baekhyun

xxx

#ig : dtvveet #wattpad : dtvveet #ffn : dnoona

xxx

Ada dua pasang mata yang masih terpejam dan ada dua kening yang masih menempel dalam peluh masing-masing.

Sejatinya kefua insan sedang menyelami perasaan masing-masing namun kemudian hilang karena alasan logis.

Senyap kemudian, deru napas keduanya semakin menipis meyakinkan sang dominan membuka mata, diangkatnya dagu wanitanya dengan lembut membuat sang wanita mengerjap lucu nan cantik.

Baekhyun cantik serupa malaikat, kulitnya putih bersih, bulu matanya lentik bagaikan bulu, pipinya memerah bagaikan mawar, bahkan bibirnya lembut dan manis seperti-

"Chan?"

"Hum~" Chanyeol tersadar dari lamunannya

"Kau..."

"Katakan saja, hum"

"Mulutmu bau amis"

DEG

Sialan -Batin Chanyeol geram

"Hghh~" Chanyeol mendengus keras lalu menghentakan keningnya dengan keras.

Taaakkkk...

"ARGHHHH!? Park Chanyeol!? Kau gila ya?!"

Gerutu si kecil kesal. Baekhyun mengaduh sakit karena keningnya dibenturkan dengan kening Chanyeol yang sekeras batu.

"Kau merusak suasana, Byun."

"Aku? Merusak suasana?" Ujar Baekhyun tak terima. "Yang ada juga kau! Mulutmu bau ikan asin, Park"

"Hngh!?"

Terserahlah Baekhyun mau bicara apa, lalu ia mengambil air minum Baekyun dan menandaskannya dalam sekali teguk. Emosi juga berdebat dengan Baekhyun.

"Hey.. hey.. Kau boleh emosi. Tapi itu minumku."

"Terserah.."

"Huh... dasar tukang merajuk, lagipula aku hanya kasian kalau kau tegang lagi. Kau kan lemah syahwat." Ejeknya jail.

Padahal ini cuma akal-akalan Baekhyun saja. Justru ia yang akan malu kalau Chanyeol terus menciumnya.

Entah apa yang sudah Baekhyun makan tadi, ikan terasi? Tumis petai? Ayolah Itu semua pasti bau.

Dan Baekhyun tak ingin Chanyeol lepas kendali dan berakhir Baekhyun dipermalukan. Lagipula pernikahan ini kan hanya sandiwara?

Jadi jangan sampai melewati batas.

"Oh.. jadi kau mau mengujiku? AKU? LEMAH SYAHWAT? Ayo kita buktikan!"

"Aku tidak ingin.. kau lemah.. kau lemah.. kau lemah syawat- hmmppphh~~~ mm... mm.."

Baekhyun meronta-ronta mencoba melepaskan bekapan tangan Chanyeol di mulutnya.

"Par-k Ch-chanyeooollllllll~ lepaskan kataku! Lepaskan!"

"Lihat ini kau tidak bisa apa-apa kan? Badan kecil, mulut kecil, pedas lagi. Aku yakin tidak ada yang bisa dibanggakan dengan tubuh kecil in- ARRRGHHH~ BYUN BAEKHYUN! Berani-beraninya kau menggigitku!"

"Wleee! siapa yang kau sebut kecil?-"

"YA KAU KECIL !"

"TIDAK! AKU TIDAK KECIL!"

"Lalu apa yang besar memangnya, hum?"

"Huh?" Baekhyun bingung. Ia malah tergagap sendiri. "I-itu~"

"Kau menyerah saja, punyamu kecil"

"A-aku 'besar'. Kau saja tidak tau!" Runtuhnya berapi-api.

"Coba aku lihat!"

"Yaaakkkk! PARK CHANYEOL!" tiba-tiba Baekhyun menyilangkan kedua tangannya di dada.

Namun yang terjadi, Chanyeol terbahak-bahak melihatnya. Chanyeol juga memukul-mukul meja saat Baekhyun mencebikkan bibirnya lucu.

"Hahahahahaha... Kau mesum, Byun... Dasar kau, Byun Mesum Hyun. Hahahahaha" Chanyeol mendorong kening Baekhyun dengan satu telunjuknya.

"Aish! Kau~"

Baekhyun berdecak kesal pada tubuh tinggi yang sudah meninggalkannya menuju kamar. Meninggalkannya sendiri dengan wajah yang memerah karna malu.

Pria yang Baekhyun kenal kaku dan pendiam nyatanya bisa semenyebalkan itu. Tapi Baekhyun suka, setidaknya mereka bisa akrab.

Bukankah setidaknya mereka jadi teman sekarang?

Disisi lain, menjaili Baekhyun adalah cara baru Chanyeol untuk mendapatkan kesenangan tersendiri.

Baekhyun yang sangat mudah berapi-api tetapi banyak mengundang tawa dan gemas dalam satu waktu.

Rasanya seperti memelihara seekor puppy dirumah. Ah iya puppy... Sepertinya rumah ini akan lebih ramai dengan seekor puppy. -Pikir Chanyeol

-MW-

Pagi yang cerah menjemput, seluruh maid sedang melakukan tugas rumah tangga.

Seperti biasa, Baekhyun akan naik ke kamarnya setelah menyiapkan sarapan lalu menunggu waktu sarapan bersama dengan Chanyeol.

Namun, baru saja ia selesai ia berpakaian tiba-tiba seseorang mengetuk pintu. Baekhyun pikir itu adalah maid tapi yang ia temukan adalah Chanyeol.

"Ada apa?" Tanya Baekhyun jutek.

"Sore ini apa kau punya waktu?"

"Aku sibuk." Kemudian Baekhyun masuk lagi meninggalkan Chanyeol di ambang pintu.

Dengan telaten Baekhyun menyisir rambutnya di depan meja rias.

"Padahal aku ingin mengajakmu melihat puppy." Ujar Chanyeol kecewa yang dibuat-buat.

"Puppy?"

Baekhyun benar-benar seperti anak anjing sekarang. Matanya memohon penjelasan pada Chanyeol.

"Aku menghubungi Sehun dan minta pendapatnya tentang niatku memelihara puppy. Rasanya akan menyenangkan jika rumah ini ramai."

"Memang kau bisa mengurusnya? Kau dan aku kan bekerja. Dia pasti kesepian." Gumam Baekhyun kecewa.

Seseorang yang memelihara anjing juga harus memikirkan konsekuensi seperti itu.

Apalagi puppy, anak anjing itu masih membutuhkan perhatian.

"Kan ada ahjumma. Kalau kau khawatir toben juga akan ku bawa kesini."

"Toben? Toben-ie?" Baekhyun berbalik lagi dengan mata yang berbinar. Tapi kemudian sedih kembali.
"Ah~ tapi nanti ibumu kesepian."

"Hghh~ kau ini rumit sekali. Ya sudah kalau tidak mau. Aku pergi sendiri-"

"Aku mau... siapa bilang tidak.." Mata Baekhyun benar-benar tenggelam saat ia tersenyum lebar ke arah Chanyeol.

Dasar.. Mudah sekali memanipulasimu

"Permisi Tuan, Nyonya besar ada di bawah." Tiba-tiba ahjumma sudah ada di dekat Chanyeol.

Chanyeol yang menatapnya heran kemudian bertemu tatap dengan Baekhyun. Mereka berdua saling melempar tanya dalam diam.

"Beliau sudah ada di ruang tengah."

"Baiklah saya akan turun."

Baekhyun menghampiri Chanyeol dan memberi isyarat padanya agar menemui Ibu Chanyeol bersama-sama.

Mereka pun turun kebawah bersama.

"Selamat Pagi, bu" Baekhyun merentangkan kedua tangannya dan memeluk mertuanya lembut.

Peluk hangat wanita itu adalah satu kebahagiaan kecil bagi Baekhyun. Setidaknya wanita ini tetap memperlakukannya dengan baik walau Baekhyun pernah membuat onar dimasa lalu..

Namun setelah Baekhyun melepas berpelukannya, wajah Ibu Chanyeol berpusat pada anaknya dengan wajah sedih dan bersalah.

Sepertinya ada sesuatu diantara ibu dan anak ini Baekhyun melihat kecanggungan antara keduanya. Kemudian Baekhyun memecahkan keheningan.

"Ibu mau minum apa?" Tanyanya ramah.

"Kau sudah pulang dari rumah sakit?" Bukannya menjawab pertanyaan Baekhyun, wanita itu seakan khawatir terhadap keadaan menantunya.

Hening menguar

Mwmbuat Baekhyun teralih pada Chanyeol dan melemparkan tatapan penuh tanya pada pria itu.

Kedua tangannya dimasukkan ke saku celana sedangkan harapannya entah kemana.

Kalau dipikir-pikir keluarga Chanyeol pasti tidak ada yang tau. Lagipula ini pasti memalukan.

Ini terbukti karna tidak ada satupun keluarga Chanyeol yang menjenguk Baekhyun.

Lagipula Baekhyun tidak yakin keluarga Chanyeol akan acuh jika tau Baekhyun masuk rumah sakit.

Bukankah keluarga Chanyeol menganggap Baekhyun berharga? Apalagi sang ayah mertua.

"Ah ya sudah, ayo ibu duduk dulu. Aku akan menyiapkan teh terlebih dulu.- Chanyeol, bisa kau temani aku sebentar?"

Baekhyun tak butuh persetujuan Chanyeol untuk menyeretnya ke dapur.

Lalu menghempaskan tangan pria itu di pojok dapur bersamanya.

"Kau bertengar dengan ibu?" Baekhyun bertanya dengan suara rendah yang sedikit berbisik.

"..." Tapi Chanyeol tak menjawab. Ia memilih mengalihkan pandangannya.

"Aku tanya padamu, Park Chanyeol."

"Aku hanya belum minta maaf." Jawabnya acuh

"Huh?"

"Hanya ada kesalah pahaman sedikit. Kau tidak usah khawatir."

"?" Baekhyun masih menuntut Chanyeol menjelaskan semuanya.

"Aku kira ibu menekanmu. Aku pikir kau mengonsumsi obat karna tekanan dari ibuku."

"Tekanan?"

"Bukankah setelah pulang dari rumah orang tuaku kau terlihat sedih dan merung. Lalu bertanya pada ibu apa ibu menekanmu saat itu. Dan ibu-"

Baekhyun mengdengus karenanya. "Sekarang kau minta maaf pada ibumu."

"Huh?"

"Minta maaf pada ibu."

"Memang aku harus bilang apa? Aku bilang 'Maaf bu, aku hanya salahpaham. Lagipula Baekhyun sudah bersedia melakukan program hamil, bu.'"

"Hah?" Ajaibnya Chanyeol dengan segala pemikirannya yang membuat Baekhyun menganga.

"Lalu aku harus bilang apa?"

"Berhenti bermain-main Chanyeol."

"Aku tidak bermain-mainmu. Memangnya kau mau 'bermain-main' denganku?"

"Astagaaahhh!? Pokoknya lakukan saja, minta maaf pada ibumu secara baik-baik. Kau sudah melukai hatinya." Baekhyun menyentakkan kepalanya karena kesal.

Chanyeol memang batu, sesuai perkiraannya.

Kemudian Baekhyun mengambil teh dan menyiapkannya di teko. Ia mulai mengambil biskuit dan menatanya di nampan.

"Ingat Chanyeol, mungkin kau akan menyesal jika mereka sudah tidak ada."

Hening kemudian, tentu saja Baekhyun mengatakan hal itu bukan tanpa tujuan. Ia lebih tau rasanya kehilangan yang sesungguhnya jadi sudah jelas.

Ia tak ingin ada Baekhyun-Baekhyun lain yang menyesal dikemudian hari sepertinya.

Chanyeol mengulas senyumnya senang. Baekhyun semakin dewasa dan sudah dapat memikirkan hal lain selain dirinya.

Chanyeol mendekati ibunya yang masih duduk di seberang kursi ruang tengah.

"Ibu datang sendiri?" Dilihatnya sang ibu membawa sesuatu dipangkuannya.

"Tidak, Ibu diantar Pak Jung (Supir keluarga Park)."

"Chanyeol~ i-bu-"

"Apa aku pantas dimaafkan bu?"

Tiba-tiba Chanyeol bertanya pada ibunya. Sedangkan sang ibu memandangnya bingung padanya.

"Tempo hari aku membentak dan menuduh ibu tanpa bukti. Aku minta maaf."

"Tidak, nak. Ibu juga salah."

"Sungguh ibu tidak salah. Aku yang seharusnya datang menemui ibu. Tapi Baekhyun baru saja pulang dari rumah sakit jadi aku belum sempat kesana."

"Ibu pikir, kalian membenci ibu. Makanya kalian tidak memberitahuan hal sepenting itu pada ibu." Ibu Chanyeol nampak sedih.

Kemudian Chanyeol mendekatinya dan duduk di samping ibunya. Memeluk ibunya dengan lembut.

"Kami tidak akan membenci ibu, kami hanya sedang panik. Maaf kan aku ya bu~"

"Hiks.. hiks.. Ibu juga minta maaf, ibu tidak akan membahas tentang cucu lagi~" Nyonya Park begitu terharu dalam pelukan anaknya.

Lalu Baekhyun datang dengan teh dan biskuit.

"Ibu menangis? Pasti karna Chanyeol ya bu? Dia memang nakal. Biar aku yang menghukumnya nanti."

Ibu Chanyeol terkekeh mendengarnya. Ia menghapus jejak-jejak air matanya.

"Ibu minta maaf ya, Baekhyun. Ibu tidak akan menanyakan lagi tentang-"

"Ibu ini bicara apa?" Baekhyun meletakkan tehnya dan mencoba memeluk Nyonya Park membuat Chanyeol mengalah dan melepaskan pelukkan ibunya.

"Ibu kan ibuku juga. Masa ibu minta maaf. Lagipula aku pikir nasehat ibu ada benarnya." Ujar Baekhyun tulus.

"Benarkah?

"Hu um" Gumamnya sambil mengangguk.

"Syukurlah.. Memangnya menantuku yang cantik ini kenapa bisa masuk ke rumah sakit?"

"Ah itu~ aku hanya tidak enak badan, hanya sakit biasa. Jadi kami tidak ingin membuat kalian khawatir."

"Sungguh? Apa benar begitu? Baekhyun tidak bohongkan?" Nyonya Park menangkup kedua pipi Baekhyun gemas.

Ya, aku berbohong padamu nyonya

"Hu um. Ibu tidak perlu khawatir~ aku bahkan sudah bekerja sejak kemarin."

"Jangan terlalu dipaksakan." Ujar Nyonya Park mengingatkan.
"Ibu tidak sengaja mendengar Pak Lee sering pergi ke rumah sakit dan saat ibu datang kemari rumah ini kosong. Maid mengatakan jika kau masuk rumah sakit."

"Aku sudah tidak apa-apa ibu" Baekhyun memberikan jarak untuk memperlihatkan seberapa sehatnya ia saat ini.
"Bagaimana kalau kita sarapan? Kebetulan aku sudah memasakan sesuatu pagi ini."

"Ibu juga sudah membawakan sarapan."

"Baiklah, ayo kita coba bersama. Ibu juga harus coba masakanku. Bla bla bla bla.."

Perlahan kedua wanita dihadapan Chanyeol menjauh tanpa menghiraukan keberadaannya sedari tadi.

Namun Chanyeol bahagia, ia memandang takjub pada sosok Baekhyun yang dengan sabar mengajak ibunya ke meja makan, berbicara ini dan itu.

Sungguh Chanyeol ingin hari-hari seperti ini terus terjadi di masa depan. Melihat Baekhyun yang begitu cantik dan anggun berjalan kesana-kemari, berbicara ini dan itu dengan riang, membuat hatinya menghangat.

-MW-

"Lusa akan ada peresmian mall terbaru, jadi aku ingin kau mengirim mengirim dokumen yang sama seperti kemarin."

"..."

Dokumen yang sama?

Diam-diam Kyungsoo menguping di balik pintu tangga darurat saat melihat Luhan menyelinap ke arah tangga darurat.

"Aku akan menunggu dokumennya, jadi jangan sampai terlambat."

"..."

"Kau tenang saja, aku bisa transfer sekarang juga."

"..."

"Ya"

Luhan menutup telponnya, lalu bergegas keluar dari pintu tangga darurat. Aman -pikirnya.

Sementara disana masih ada Kyungsoo yang bersembunyi di samping lift dengan napas terengah-engah.

Untunglah ia telah menyimpan rekaman percakapan Luhan. Walaupun ia tidak yakin jika rekaman tersebut dapat di dengar dengan jelas.

Sesampainya Kyungsoo di lantai atas. Luhan yang saat itu melihat Kyungsoo baru saja masuk ke ruang sekretaris memanggilnya.

"Kyungsoo-sii"

"Iya, sunbaenim?"

"Lusa adalah hari peresmian mall, apa kau sudah mengurus semua hal yang berkaitan dengan konsumsi lusa nanti?"

"Ah iya, saya sudah menghubungi vendor terkait."

"Baguslah, akan ku percayakan padamu."
Dalam hati Luhan tersenyum senang, semuanya akan berjalan seperti biasa. Pikirnya

-MW-

Kini Chanyeol dan Baekhyun sudah berada di klinik milik Sehun.

Namun mereka tidak hanya berdua tetapi mereka juga membawa Toben bersama mereka.

Tentu saja pagi tadi mereka sudah meminta ijin pada Ibu Chanyeol untuk membawa Toben bersama mereka dan akan mengajak Toben ke rumah orang tua Chanyeol jika weedend.

Setelah bertemu dengan Sehun, pria itu mengajak mereka masuk ke sebuah ruangan yang persis seperti tempat bermain anak.

"Nah, ini adalah tempat bermain anjing-anjingku yang ini namanya Monsier."

"Umurnya sudah 5 tahun, ya setara dengan 35 tahun umur manusia." Terangnya

"Dan ini, si gembul vivi. Dia juga berumur 5 tahun."

"Mereka berdua adalah anjing yang ku besarkan bersama mantan kekasih ku." Ujarnya sedih.

"Lalu anak anjing yang kau maksud mana?" Tanya Chanyeol.

"Ini~" ujarnya sembari mengipasi vivi.

"I-N-I?! Anak anjing? Sebesar ini?"

"C-chanyeol~" Baekhyun menyikutnya kecil.

"Bagaimana pun vivi adalah anjing yang sudah ku besarkan seperti anak sendiri."

"Kau ini benar-benar ya-"

"Vivi tidak akur dengan Monsieur. Sekarang ia jadi banyak diam karna biasanya ia akan bermain dengan mantan kekasih ku."

"Hmm~ Bagaimanapun aku dan Baekhyun ingin memelihara puppy."

"Tak apa mate, aku mengerti. Mungkin vivi akan ku titipkan di panti asuhan. Oh iya, ada yang mau americano?"

"Baiklah." Ujar Chanyeol.

"Terimakasih, Sehun." Timbal Baekhyun ramah.

-MW-

Lama ketiganya berbincang-bincang disana. Menghabiskan sore yang mulai pudar.

Perbincangan yang melibatkan hasil pemeriksaan Baekhyun atau nostalgia-nostalgia saat Sehun dan Chanyeol bertemu.

Mereka begitu asyik berbincang sampe tidak menyadari jika dipojok sana, ada Toben dan Vivi yang sedang bermain ayunan kecil bersama.

"Hey lihat.. Sepertinya Toben mulai akrab dengan Vivi." Tunjuk Baekhyun.

"Woah... Kalau dilihat-lihat seperti sedang datang ke perjodohan anak." Timpal Sehun.

"Itu harapanmu, agar kami-"

"Aku suka, Chanyeol." Seru Baekhyun excited

"Ya~ itu terserah Baekhyun. Apa menurutmu kita harus membawa teman Toben ke rumah?"

Kemudian Baekhyun mengangguk heboh. Ini seperti kau menyukai menantu perempuan yang dijodohkan dengan anak laki-laki mu.

Mata berbinar Baekhyun menjadi alasan mengapa Chanyeol turut mengulas senyum.

-TBC-