Title: Enjoy Our Present

Rated: K+

Character(s): Natsume S, Suzuki M, Akutagawa R, Kume M, Matsuoka Y

Genre: Friendship (or family)

Disclaimer: Bunal belongs to DMM Games

Summary: Pada awal februari yang masih agak dingin, Natsume ingin pergi ke suatu tempat dengan murid-muridnya. [Happy Birthday, Natsume!]


Matahari yang bersinar ala kadarnya menyinari perjalanan mereka. Berbekal peralatan 'piknik', mereka pergi ke suatu tempat di hari bebas kerja.

"Masih jauh, Sensei?"

Akutagawa tampak kepayahan di paling belakang. Sejak tadi mereka berjalan tanpa henti. Musim dingin ditambah perjalanan jauh benar-benar melelahkan kakinya.

"Akutagawa-kun, sepuluh menit lalu kita baru istirahat, lho." Kume menanggapi dari depan, tidak menengok ke belakang sama sekali. "Dikit lagi sampe, kok."

"Tapi ..."

"Kume benar." Matsuoka menghentikan langkahnya agar Akutagawa dapat sejajar dengannya. "Kita pelan-pelan aja jalannya."

"Makasih, Matsuoka."

Apa yang dibilang Kume benar. Destinasi mereka terlihat dari kejauhan; sebuah taman dengan pemandangan yang indah. Mereka segera masuk ke dalam, mencari meja kosong untuk mereka tempati, kemudian duduk di sana sembari meluruskan kaki mereka yang cukup pegal.

Ide ini digagas oleh Natsume. Saat asik menikmati pesta minum teh dengan Miekichi, ia dengar ada taman yang sedang ramai dibicarakan banyak orang. Pemandangan bagus bukan cuma alasannya menghabiskan waktu luangnya untuk pergi ke sana; rupanya ada penjual manjuu yang sudah terkenal sejak puluhan tahun lalu.

Miekichi yang sadar ketertarikan Natsume akhirnya mengajak orang lain untuk meramaikan keinginan jalan-jalan gurunya di waktu senggang. Orang yang ia pilih adalah orang-orang yang pasti juga senang melihat senyum bahagia Natsume. Akutagawa, Matsuoka, dan Kume sungguh antusias menerima tawarannya.

"Meski dingin, pemandangannya bener-bener indah, ya." Natsume meletakkan barang bawaannya di meja. "Nggak sia-sia kita ke sini."

"Souseki-sensei, mau kubikinkan teh?" Matsuoka sudah persiapan membuka termos.

"Nanti dulu deh, Matsuoka-kun."

"Natsume-sensei, manjuu-nya?"

"Ah, tolong tunjukan arahnya, Suzuki-kun." Natsume berdiri. Tangannya merogoh kantong, berusaha mengeluarkan dompet miliknya. "Akutagawa-kun, Kume-kun, Matsuoka-kun, aku pergi sebentar, ya."

Begitu ketiganya mengiyakan, keduanya pergi menuju toko manjuu. Matsuoka menyeduh teh untuk tiga orang, Akutagawa masih mengembalikan kelelahan kakinya, dan Kume sibuk mengawasi keduanya.

"Kalian ... inget hari ini, 'kan?" Tiba-tiba Kume memulai pembicaraan.

Akutagawa menjawab dengan penuh percaya diri. "Tentu saja. Mana mungkin aku lupa."

"Miekichi-san juga meningatkan kita sebelum berangkat." Dua gelas digeser Matsuoka, ditujukan untuk kedua temannya. "Ulang tahun Souseki-sensei."

"Masaoka-san dan yang lain bilang udah nyiapin kue," ujar Akutagawa sembari mengingat-ingat. "Terus sekarang Sensei pergi beli manjuu."

Kume meliriknya dengan keheranan. "Kamu ... kepikiran mau ngasih makanan manis?"

"Abisnya aku nggak kepikiran selain itu." Akutagawa sudah buntu. "Kamu sendiri gimana?"

"Aku udah nyiapin pulpen tinta buat Sensei," jawab Kume. Ucapannya yang cukup yakin tidak sesuai dengan wajahnya yang sedikit lesu. "Tapi waktu aku beli, barangnya habis. Sekarang masih diproduksi ulang. Jadi baru bisa ngasih nanti. Aku bener-bener blunder banget."

"Wah, bisa nebeng nama nggak?"

"Ogah."

"Kurasa nggak masalah, kok." Matsuoka menyesap teh miliknya. "Beliau nggak pernah nolak apapun yang kita kasih, kapanpun itu."

"Matsuoka mau ngasih apa ke Sensei?"

"Baru-baru ini aku mampir ke toko tembikar. Ada pot keramik yang menarik perhatianku, dan kupikir 'ah, ini pasti cocok untuk Souseki-sensei!', jadi aku sudah menyiapkannya di Perpustakaan dan memberikannya saat kita pulang nanti."

"Ah, Matsuoka bener-bener udah persiapan, ya."

"Memangnya ... Akutagawa sendiri sudah menyiapkan apa?"

Akutagawa terdiam sejenak. Wajahnya menyiratkan rasa malu untuk memberitahu keduanya. "Aku ..."

Matsuoka dan Kume menunggu kelanjutannya, sayang Akutagawa berhenti berucap dan membuka tas yang ia bawa. Ketika beberapa kertas mencuat dari sana, keduanya sedikit mengerti hadiah macam apa yang Akutagawa ingin berikan. "Aku nulis cerita ..."

"Kamu mau nambah kerjaan Sensei, ya?" Kume tidak memanis-maniskan ucapannya.

"Beneran bikin Sensei kerepotan, ya?" Akutagawa semakin tidak yakin dengan hadiahnya. "Mungkin lebih baik sekarang kukejar mereka dan traktir manjuu. Eh, dompetku ke mana, ya-"

"Tapi, mengingat itu karyamu, kupikir Sensei akan senang ketimbang merasa direpotkan." Kume memotong kepanikan Akutagawa setelah sikutnya disenggol Matsuoka. "Memberi Sensei draft setengah matang nggak baik, jadi mumpung ada waktu, mending kamu cek lagi apa semuanya udah pas atau belom."

"Kume benar." Matsuoka mengiyakan. "Kami berdua juga bisa bantu kamu jadi beta reader biar pengecekannya bisa lebih akurat."

"Eh, aku nggak bilang gitu-"

"Kume, Matsuoka ..." Akutagawa terharu mendengar kata-kata mereka. "Terima kasih."

Matsuoka memotivasi teman-temannya. "Kita harus buat hari ini hari yang sempurna buat Sensei."

"Iya!"


"Antriannya panjang banget, ya." Sekotak manjuu yang dibawa Natsume telah menjadi bukti perjuangan keduanya menunggu pesanan.

"Tapi sepadan sama rasanya, 'kan?" Natsume mengangguk, Miekichi melanjutkan. "Untung tadi kita dikasih tester selama nunggu, jadi nggak rugi-rugi banget."

"Suzuki-kun, aku belum bilang aku senang kamu sudah mengajak mereka bertiga ikut ke sini."

"I-iya, sama-sama, Sensei." Miekichi belum siap menerima pujian dadakan dari Natsume. "Dari awal aku udah kepikiran mereka pasti mau pergi sama kita."

Natsume tidak membalas kata-katanya. Mereka melangkah dalam diam beberapa menit sampai Natsume kembali mengawali pembicaraan. "Sebelum Suzuki-kun datang ke Perpustakaan, aku sedikit kerepotan membuat ketiganya berkumpul."

"Eh? Kenapa?"

"Masing-masing dari mereka punya masalah." Menyadari perjalanan mereka tinggal sedikit lagi, Natsume melambatkan langkahnya. "Akutagawa-kun dan Kume-kun saling perang dingin, sedang Kume-kun merasa nggak enak dengan Matsuoka-kun. Mereka bertiga masih terbayang-bayang masa lalu."

"Masa lalu ..." Miekichi membayangkan masa saat ia masih hidup. "Banyak hal terjadi, ya."

"Benar. Banyak sekali." Natsume mendongak ke atas, mendapati matahari yang bersembunyi di balik awan. "Sayang aku sudah keburu nggak ada pas mereka punya banyak masalah. Terkadang aku sedikit menyesali hal itu."

Miekichi berhenti. Natsume yang kelebihan langkah mengikutinya. Wajah sang guru tampak bingung. "Suzuki-kun?"

"Sensei nggak perlu menyesal." Mata Miekichi begitu serius menatap Natsume. "Apa yang terjadi pada mereka ataupun aku itu bukan salah Sensei. Waktu itu kami semua sudah dewasa, jadi sudah seharusnya kami menyelesaikannya sendiri. Aku yakin mereka juga berpikiran sama."

Penekanan dewasa yang diberikan Miekichi membuat Natsume sedikit terbelalak. "Aku masih berpikir mungkin akan lebih baik kalau aku bisa jadi penengah mereka."

"Tadi Sensei sendiri yang bilang soal mereka yang masih kebayang masa lalu, 'kan?" tanya Miekichi. "Sensei yang sekarang juga sama seperti mereka. Tapi, yang jadi pertanyaannya, apa keadaan mereka masih sama dengan yang Sensei bilang?"

Miekichi menunjuk meja yang mereka tempati. "Mereka sudah akrab, sudah berbaikan lagi. Yang lalu biarlah berlalu. Sensei yang ada di sini dan berkumpul sama mereka udah bikin mereka bahagia, kok!"

Natsume melihat pemandangan yang ditunjuk Miekichi. Di sana terlihat ketiganya sedang mendiskusikan sesuatu dengan penuh semangat (meski Kume sedikit meragukan karena ia wajahnya serius - bagai sedang menjadi editor galak penagih naskah).

Rasanya seperti melihat Mokuyokai di rumahku.

"Kata-kataku benar, 'kan?"

"Iya, benar sekali, Suzuki-kun." Natsume memasang senyum paling bahagia di hari ini. "Ayo, kita harus segera di sana. Aku ingin minum teh buatan Matsuoka-kun sambil memakan manjuu ini bersama kalian."

"Baik!" Miekichi mengikuti langkah Natsume menuju meja mereka. Di sela-sela perjalanan, Miekichi mengucapkan sesuatu yang sudah ia tahan sejak awal. "Selamat ulang tahun, Natsume-sensei. Semoga Sensei terus bahagia di sini, bersama kami, di Perpustakaan Imperial!"

END


Author's Note: Mepet gayn. Ini ide tiba-tiba kepikiran di jam 10. Jadi maso dua jam demi hari ini juga uploadnya. Untung kesampean ya bikinnya. Saya dari awal kepikir pengen Natsume family bahagia semua dan untungnya dari fic ini kejadian deh.

Saya masih ngos-ngosan, jadi gak banyak ba bi bu. Happy Birthday, Natsume! Semoga bahagia sama anak2mu!

P.S: Judul bisa dimaknain 'hadiah' dan 'masa kini', mokuyokai itu pertemuan kamis yang diadain sama Natsume & yg ikut itu mereka2 wae (saya kurang tau sih Matsuoka ikut/nggak, tapi yg jelas dia juga salah satu yang sering dateng ke rumah Natsume)