Say It, Bakugou-kun!

Boku no Hero Academia Fanfiction

Katsuki x Ochako

[Ketika seorang Bakugou Katsuki menyatakan perasaannya pada Uraraka Ochako]

.

.

.

.

.

Kata orang, jika kita sedang jatuh cinta, ada saja hal konyol yang kita perbuat. Entah karena salah tingkah atau gugup. Semua orang pernah melakukam dan akan merasakannya. Perasaan jatuh cinta itu sangat unik, berdebar di dada, seperti ada yang menggelitik di perut.

Sempurna membuat rasa hangat dan nyaman mengalir dengan damainya.

Kira-kira seperti itulah normalnya.

Iya, normalnya.

"HOI, MUKA BULAT!"

"Apa sih, Bakugou-kun?"

Tapi hal itu sepertinya tidak terlalu berpengaruh pada seorang Bakugou Katsuki, seorang laki-laki yang memiliki quirk ledakan. Sama seperti kekuatannya, sifat dan sikapnya pun begitu demikian.

"KEMARIN KAU PULANG BERAMA DEKU, HAH?"

Seorang tsundere akut yang sama sekali tidak suka jika di sebut demikian. Laki-laki yang ingin menjadikan seseorang atau sesuatu miliknya tapi malu mengakuinya. Ego dan harga dirinya yang tinggi membuat Bakugou sulit mengungkapkan perasaannya yang sebenarnya.

Uraraka Ochaka termasuk orang kedua selain Midoriya Izuku yang dapat dengan sabar dan tenangnya berhadapan dengan Bakugou.

Gadis itu menghela napas, membuat wajah apa salahnya? yang di tujukan pada laki-laki berambut jabrik itu.

"Kalau iya memangnya kenapa?" Uraraka mengalihkan tatapannya kembali ke arah buku yang sedang di bacanya. "Bakugou-kun bilang tidak bisa mengantarkan ku pulang. Jadi aku pulang saja dengan Deku-kun. Ada yang salah?"

Tangannya terasa gatal sekaligus panas. Jika saja yang ada di depannya ini bukan si Muka Bulat, mungkin quirk ledakan ini telah bersentuhan dengan tubuh mungil dengan bentuk sempurna itu. Baiklah, ini pengecualian. Hanya Uraraka yang tidak berani Bakugou lukai sedikit pun.

Alasannya? Semua orang sudah tahu itu. Tapi orang yang bersangkutan tidak mau mengakuinya berapa kali pun mereka sindir ke arah sana.

"TENTU SAJA! AKU TIDAK SUKA JIKA KAU PULANG BERSAMA DEKU!"

Uraraka lelah dengan sifat Bakugou yang ini. Apa salahnya jika dia pulang bersama Midoriya? Tidak ada yang salah. Midoriya teman kelasnya, juga teman kecil Bakugou sendiri. Lagi pula siapa Bakugou hingga berani melarangnya sampai seperti ini?

Hanya teman kelasnya bukan?

"Aku tidak suka, Bakugou-kun." Cukup, lebih baik dia berterus terang sekarang. Uraraka terlalu lelah untuk terjebak dalam hubungan yang tidak pasti sedangkan sifat Bakugou seperti ini. Terlalu banyak rumor yang beredar, tapi begitu banyak juga usaha yang dia lakukan untuk berkilah tentang rumornya dengan Bakugou.

Meski Uraraka harus merasakan perih dan sesak di dadanya.

Bakugou tampak terkejut, tapi wajah kesalnya yang terlihat menyeramkan belum luntur juga.

"Aku tidak suka jika Bakugou-kun seperti ini padaku!" Uraraka memandang tajam Bakugou. Membuat pemuda jabrik itu juga seluruh teman sekelas mereka yang menyaksikan mereka terkejut.

"Kau bukan siapa-siapaku! Bahkan tidak akan pernah menjadi siapa-siapaku! Kenapa kau terus saja melarangku untuk dekat dengan siapapun sedangkan kau selalu berkata bahwa KAU MEMBENCIKU SETENGAH MATI PADA SIAPAPUN!" Lanjut Uraraka, berteriak tidak kalah kencang dari Bakugou, air mata menggenang di kedua mata cokelatnya. Uraraka hari ini tidak bisa menahan semua emosinya, sikap Bakugou sudah cukup membuatnya muak dan kesal.

Tidak tahukah laki-laki itu bahwa Uraraka menyukainya?

Bahkan lebih menyukainya dari pada rasa sukanya pada Midoriya dulu.

Uraraka bukan hanya menyukai Bakugou, melainkan mencintainya.

Dan Bakugou hanya membatu di tempat tanpa bisa bereaksi apapun ketika mendengar semua kalimat Uraraka yang di utakan bersama luapan emosi gadis itu selama ini.

"AKU BENCI PADAMU, BAKUGOU KATSUKI!"

Uraraka berlari keluar kelas. Tidak bisa menahan air matanya lagi. Biarlah. Biarlah Bakugou mengetahuinya. Karena yang dia inginkan hanya Bakugou mengetahui tentang perasaanya. Hanya itu. Tidak peduli Bakugou akan meresponnya seperti apa.

Uraraka hanya ingin Bakugou mengatakan yang sebenarnya.

Kelas hening. Tidak ada yang berani bersuara. Semua masih sibuk mencerna apa yang sedang terjadi. Terlebih lagi untuk Bakugou sendiri.

Pemuda jabrik itu hanya mematung di tempat. Ekspresinya tidak terlihat karena tertutupi poninya, kepalanya menunduk. Pikirannya berkecamuk. Bagaimana perkataan Uraraka, bagaimana ekspresi Uraraka.

Ah, sialan. Hatinya sakit sekali rasanya. Melihat si Muka Bulat menangis. Menangis.

Karena dirinya.


Bel pulang telah berbunyi. Langit jingga menhiasi langit sore ini. Burung-burung berterbangan dengan indahnya, awan berarak indah di atas sana.

Lalu, Bakugou, berjalan secepat mungkin untuk mencari sesosok gadis berambut pendek berwarna cokelat yang sudah menghilang dari kelas sesaat setelah bel pulang berbunyi. Menghilang seceapt kilat, sampai jejaknya pun tidak berbekas. Tampak betul jika Uraraka sedang menghindarinya.

Tsk!

"Oi, Deku, dimana si Muka Bulat?!"

Midoriya Izuku yang sedang memberesi buku-bukunya pun menoleh, melihat Bakugou mendekat dengan wajah tidak bersahabat.

"Aku tidak tahu, Kacchan." Midoriya menggeleng. "Tapi seingatku, dia bilang dia ingin pulang ke rumahnya. Terburu-buru begitu. Beberapa hari ini dia tidak akan tinggal di asrama dulu."

Apa? Uraraka pulang ke rumahnya?

"Hah?! Kenapa kau yang di beritahu?! Harusnya 'kan aku!"

Midoriya menghela napas. Setelah apa yang kau perbuat tadi? Ayolah, Bakugou pekalah sedikit.

"Ck, menyebalkan! Awas saja dia!"

"Kacchan."

"APA LAGI?!"

Midoriya tidak tahu apa yang di idamkan oleh Bakugou Mitsuki ketika sedang mengandung anak semata wayangnya ini. Tidak pernah sekalipun si jabrik ini berkata dengan suara pelan atau sopan. Mungkin itu sudah menjadi seperti ciri khas seorang Bakugou Katsuki.

"Kau menyakiti, Uraraka-san."

Bakugou terdiam. "Apa maksudmu?"

"Kau tidak mengerti." Midoriya menatap tajam Bakugou, membuat si jabrik terkejut, ingin berkata kasar kembali, tapi di potong lebih dulu oleh Midoriya. "Kacchan selama ini tidak pernah mengerti ternyata."

Sudahi percakapan penuh drama ini!

Sebuah tangan menarik kerah baju Midoriya kuat.

"APA MAKSUDMU, HAH? KAU MENGIRA AKU BODOH? KAU MERASA HEBAT KARENA KAU MEMILIKI QUIRK YANG LEBIH HEBAT DARI MILIK—"

BUAGH!

"URARAKAN-SAN MENYUKAIMU, KACCHAN!

—dan detik itu juga, Bakugou Katsuki berlari menuju rumah Uraraka Ochako secepat mungkin meski jaraknya cukup jauh dan langit sudah mulai menggelap.



"DIMANA URARAKA?"

"Ya ampun, nak, ada apa?"

"DIMANA URARAKA?"

"Urakaka? Kami semua Uraraka, nak. Bisakah kau menjelaskan siapa yang kau cari?"

"CK, AKU MENCARI URARAKA!"

"Hei, nak, aku tidak akan tahu siapa yang sedang kau cari jika kau terus berteriak dan tidak menyebutkan seluruh namanya."

"Aku tidak bisa mengatakannya!"

"..."

"Aku mencarinya! Ada yang ingin ku katakan padanya! Sangat penting!"

"Aku tidak tahu. Mungkin kau salah rumah, nak."

"AKU MENCARI URARAKA OCHAKO!"

(Di kamar atas, di gelungan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya, dia terkejut dengan wajah yang memerah setelah mendengar kalimat lanjutan dari seseorang yang terus berteriak di lantai bawah rumahnya.)

"AKU MENCARI OCHAKO KARENA AKU MENCINTAINYA!"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Bakugou-kun, ayo masuk—"

Bibirnya melengkungkan senyuman yang amat manis.

"—aku sudah menunggu itu sejak lama. Aku juga mencintaimu."

#END

Maaf untuk typo dan kekurangan lainnya:)