*18-year Sougo - Kabukicho*
Musim semi, Kondo-san punya cara tersendiri agar kami, seluruh anggota Shinsengumi bisa menikmati indahnya bunga sakura yang bermekaran. Ya, hari ini kita akan piknik di tempat yang setiap tahun biasa kami pakai di taman.
Eh? Nampaknya sudah ada kelompok yang menempati tempat kami. Siapa mereka? Berani-beraninya.
"Minggir kalian dari sini, tempat ini adalah tempat khusus shinsengumi melihat sakura tiap tahunnya"
"He? Apa-apaan kalian seenak jidat mengusir kami, kami sudah duluan datang dan menempati tempat ini!"
Samurai berambut silver itu, pasti pemilik Yorozuya. Cih, mereka selalu saja membuat masalah.
Are? Siapa gadis itu, apa dia anggota baru yorozuya? Aku tak pernah melihat gadis muda ini, sepertinya dia lebih muda dariku. Lagi pula baju yang dia kenakan terlalu mencolok, cheongsam merah cerah seperti itu dengan dua ornamen rambut bulat dikepalanya, kekanakan sekali.
Tanpa sadar sedari tadi aku memperhatikannya, padahal di sebelahku ramai sekali omelan pria itu dengan pemilik yorozuya. Eh? Gadis itu menoleh padaku. Apa dia menyadari sikapku?
Bukannya mendapat senyuman manis atau tatapan menyenangkan, gadis itu malah memberiku seringaian seakan menantangku. Seketika hilang seluruh ekspektasiku padanya. Menyebalkan juga dia.
"Kalian harus langkahi dulu kami kalau ingin menempati tempat ini"
"Okelah, tidak ada pilihan lain, sayang sekali kali ini kita akan melihat cipratan darah di tumpukan sakura indah ini"
Wah gawat, ini harus dihentikan, tidak mungkin kubiarkan ada pertumpahan darah di tempat ini.
"Tunggu kalian semua! Kita tidak bisa membiarkan kalian bertarung dengan pedang di tempat terbuka seperti ini apa lagi banyak orang di sini. Lebih baik kita selesaikan dengan semangat bunga sakura"
"Iya iya, Sougo benar, bagaimana kalau kontes helm dan palu ala batu gunting kertas?"
"oke! Siapa takut!, kita akan lakukan 3 lawan 3!"
Mudah sekali yorozuya menyetujui usulanku, dasar orang-orang bodoh. Baiklah aku akan melawannya, aku tidak akan kalah kali ini.
Pasangan lawan telah ditentukan, Yamazaki dan Shinpachi sebagai juri, Kondo-san melawan Otae-san, pria itu melawan Danna, dan aku.. melawan gadis itu..
Eh, serius? Aku melawan gadis ini? Aku bahkan sama sekali belum berbicara dengannya.
Kami semua bersiap untuk pertandingan kali ini, masing-masing orang duduk berhadapan dengan lawannya. Aku tentu saja duduk di depan gadis ini. Dia menatapku dengan tatapan menantang. Berani juga gadis ini, lihat saja aku akan mengalahkanmu.
"Aku tidak akan kalah darimu aru"
"hoo, lihat saja siapa yang akan menangis di pojok kamar, China musume"
"Namaku bukan China, aku Kagura"
Jadi Namanya Kagura, cocok lah dengan penampilannya yang seperti bocah.
"PERMAINAN DIMULAI!"
"GOOOOO!"
"Batu gunting kertas!"
Aku mengeluarkan batu dan gadis itu kertas, hoo tak apa biar dia yang memulai.
BUGH!
Apa? Aku kena, cepat sekali dia.
"Haha! Satu poin untukku aru!"
"Cepat juga kau, oke kali ini aku tidak akan main-main"
"Siapa takut!"
Aku meningkatkan kecepatan tanganku untuk mengalahkannya. Tapi semakin cepat tanganku bergerak, gadis seakan tak takut untuk menambah kecepatannya. Akhirnya aku menemukan lawan yang imbang. Kagura, mulai hari ini kaulah rivalku.
Permainanku dengan Kagura lama-kelamaan bukan lagi hanya batu gunting kertas biasa, entah sejak kapan aku dan dia mulai saling pukul dan berpindah dari arena. Gadis ini benar-benar luar biasa, meskipun tubuh ini penuh lecet akibat pertarunganku dengannya, namun entah mengapa aku menikmati bermain bersamanya.
Hari itu, tidak ada yang menang maupun kalah antara kami dan yorozuya, kita semua berakhir menikmati sakura yang berjatuhan bersama. Semenjak hari ini, pertemuanku dengan Kagura seakan membukakan lembaran baru dalam hidupku, aku mulai bisa menikmati sedikit kebahagiaan seiring makin dekatnya hubungan kita.
*Rengokukan Arc*
Rengokukan, area pertempuran bawah tanah. Ah bukan, lebih tepatnya tempat bertemu dewa kematian. Ya, tempat ini adalah area ilegal dimana orang akan bertarung dengan taruhan besar, kalau kau ingin hidup, maka menangkanlah. Aku merupakan anggota shinsengumi, yang bekerja di bawah Bakufu. Tentu saja aku tak bisa langsung mengungkap siapa dalang dibalik acara mematikan ini karena kudengar pemimpinnya merupakan petinggi Bakufu. Kebetulan sekali aku bertemu Yorozuya saat menonton gulat wanita sore tadi. Mereka kan Yorozuya, pasti mereka akan menerima misi dariku.
Sebenarnya aku tak yakin harus melibatkan Kagura dengan misi mengerikan seperti ini, bagiku dia tetaplah gadis biasa. Benar saja aku bisa melihat raut sedikit ketakutan di wajah gadis kecil ini.
"Sialan kau! Jika aku tidak bisa tidur malam ini kau harus membayarnya aru!"
Kagura mencengkeram kerah leherku, disaat ketakutan seperti ini bisa-bisanya dia masih bersikap sok galak padaku.
"He? Kenapa? Apa kau takut China musume?"
"Cih.."
Ya.. tidak buruk juga sesekali melihat Kagura seperti ini.
XXX
Sasuga Yorozuya, mereka benar-benar menerima misi ini. Yah, karena aku tak bisa turun langsung bersama mereka, aku mengawasi kerja mereka dari jauh. Cepat juga mereka sudah berhasil masuk ke dalam markas pertarung bertahan Rengokukan.
Diluar dugaan, ternyata iblis Rengokukan mempunyai sisi baik juga. Saat melepas topengnya, dia hanya terlihat seperti seorang ayah biasa bagi 9 orang anaknya.
Baka Kagura, disaat Danna dan Shinpachi berbicara pada Oshou-san, si pria dibalik topeng iblis Rengokukan, Kagura malah asyik bermain dengan anak-anak di sana. Diam-diam aku pun menikmati saat-saatku memperhatikan gadis itu bermain layaknya bersama adik-adiknya. Biarpun begitu, gadis ini tetaplah gadis pada umumnya. Seorang gadis remaja yang masih senang bermain.
XXX
Oi oi mendokusai, tak kusangka Oshou-san akan mati secepat ini. Sebenarnya aku pun sudah menduga dia akan mati terbunuh suatu saat nanti, ya mau bagaimana lagi ini merupakan konsekuensi menjadi iblis rengokukan. Tapi bukan itu yang mengganggu pikiranku saat ini. Anak-anak angkat Oshou-san tiba-tiba mendatangi Yorozuya hari ini, mereka menangis, mencurahkan semua perasaan mereka terhadap ayah angkatnya itu dan mereka juga memohon kepada Yorozuya agar membalaskan dendam ayahnya itu. Anak-anak itu sudah jelas tak mempunyai harta apapun, satu-satunya bayaran yag mampu mereka berikan adalah tumpukan barang-barang berharga mereka yang tidak lebih dari sekedar mainan anak-anak. Tidak heran jika Yorozuya menerima pemintaan anak-anak tersebut. Meskipun wakil komandanku sudah melarangku untuk ikut campur masalah ini lagi, aku merasa ini bukan saatnya untuk diam. Yah.. kurasa tak apa sesekali aku melawan perintah atasan.
"Dasar.. Mereka semua gila.. Apakah mereka mempertaruhkan hidupnya untuk sesuatu seperti ini? Itu bodoh namanya"
Aku mengatakan itu sembari mencari-cari adakan barang menarik dari tumpukan mainan anak-anak itu.
"Hei! Apa yang kau lakukan!"
"Maafkan aku fukuchou, aku juga salah satu orang bodoh"
Aku pergi meninggalkan wakil komandanku dengan mengenakan kacamata badut yang kuambil dari tumpukan mainan tadi. Gomennasai fukuchou, hari ini aku tak akan menurutimu.
XXX
Yorozuya sudah mulai bertarung dengan Onijishi, sepertinya aku telat. Aih yang benar saja, masih sempat-sempatnya trio Yorozuya saling cekcok di tengah pertarungan seperti ini.
Mataku lagi-lagi tak bisa mengalihkan pandangan dari si gadis Yorozuya. Kemarin saja dia seperti ketakutan ingin menangis sambil sok-sok akan mengancamku, sekarang dia terlihat sudah kembali seperti semula, menjadi ceria dengan caranya sendiri. Hmm, sepertinya tidak ada salahnya untukku sedikit memperhatikannya. Apakah ini cinta? Siapa yang tahu, aku sendiri tak pernah merasakannya. Yang jelas, perasaan ini berbeda seperti perasaanku pada aneue maupun Kondo-san. Kurasa aku tertarik padanya. Ano China musume.
XXX
Permasalahan hari ini selesai, ya meskipun kami berhasil menangkap sebagian besar orang yang terlibat tapi tetap saja dalang utama berhasil kabur. Setelah ini aku akan memberikan bayaran yang telah kujanjikan kepada Yorozuya. Lalu, urusan hari ini akan kuanggap selesai.
"Eww, kupikir dia menyukaiku, ternyata dia cukup menyebalkan aru"
He.. Apa kau beranggapan seperti itu Kagura? Omoshiroi, aku bisa lebih leluasa mendekatimu dengan cara jahilku. Kurasa aku memang menyukaimu, tapi akan kusimpan dulu rasa ini sampai saatnya tepat bagiku untuk mengungkapkannya padamu.
* 2 years later - Shinsengumi crisis arc – train*
Aku tidak percaya apa yang terjadi hari ini, pria itu bertingkah aneh sekali tidak seperti biasanya. Dia telah melanggar kyokuchou hatto yang dibuatnya sendiri, karena dia telah banyak melanggar peraturan, Kondo-san pun memberhentikannya dari posisi wakil komandan shinsengumi. Posisinya saat ini digantikan oleh anggota baru bernama Ito Kamotaro yang ternyata ingin merebut posisi Kondo-san. Saat ini aku sudah dalam kereta, dimana aku akan menyelamatkan Kondo-san dari tangan pemberontak.
Kondo-san kini telah aman, meski harus ku kunci di gerbong belakang. Kini tinggal tugasku untuk membersihkan remahan pemberontak shinsengumi.
"Kalian semua, akan kuberi hukuman"
"hah! Berkacalah sebelum berkata, yang punya kekuasaan saat ini aku! Pasukan, habisi dia"
Ito sialan itu malah kabur dariku, dasar penakut.
Pasukan pemberontak langsung bersiap seiring perginya Ito. Oi, jangan bercanda, mereka ini rekanku juga, agak sulit rasanya untuk menghabisi rekan sendiri. Tidak! Aku tidak boleh lemah! Aku, Okita Sougo, kapten regu 1 shinsengumi akan mendisiplinkan kalian, anggota nakal!
"Sebagai kapten regu 1, aku akan memberi saran pada kalian"
"Jika menghadapi musuh yang lebih kuat dari kalian, memanfaatkan jumlah pasukan yang banyak sangat efektif untuk mengalahkannya"
"Selaraskan nafas kalian!"
"Satukan nafas dengan tubuh!"
"Tunggu hingga saat yang paling tepat.."
"lalu SERANGLAH BERSAMA!"
CRASSH!
"Kemudian MATILAH!"
Setan yang selama ini tertidur dalam tubuhku akhirnya bangkit. Aku menebas siapa pun yang mencoba menghampiriku. Cipratan darah terlihat menyembur ke segala penjuru gerbong bahkan membasahi tubuhku ini. Nampaknya kali ini akan sedikit sulit untuk kunikmati.
XXX
HYAAH!
CRING! PRANG! BRAKK!
Oi oi jangan bercanda, berapa banyak lagi rekan yang harus kubantai? Rasanya tubuh dan batin ini mulai melemah untuk melawan para pemberontak yang tak kunjung ada habisnya. Oh tidak, kurasa pandanganku mulai kabur.
CRASH!
ARGGH!
Oh tidak aku lengah, seseorang berhasil menyayatku dari belakang. Beruntungnya aku bisa menghindari serangan keduanya sehingga aku bisa menebas si pelaku. Serangan barusan benar-benar berdampak padaku, aku merasa sedikit pusing seiring banyaknya darah yang mengalir dari luka di punggungku.
PRANG!
HIYAAAAH!
Suara kaca pecah dan teriakan melengking seorang wanita benar-benar mengagetkanku. Teriakan itu aku benar-benar mengenalnya. Kagura, gadis itu dengan berani menembus kaca gerbong ini. Aku yang sepertinya telah dimabuk cinta olehnya merasa seolah melihat bidadari yang turun dari langit. Gadis itu datang mengenakan seragam Shinsengumi, dari mana dia mendapatkannya? Ah sudahlah itu tidak penting.
"Oi oi, disini bukan tempat bermain anak-anak, baka china musume"
"Baru segitu kau sudah kewalahan, sifat sadismu kurang kuat ternyata, apa jadinya dirimu jika aku tak datang?"
"Kalau melawan rekan sendiri, terkadang muncul rasa tidak tega"
"Oke, lukanya nanti disembuhin di pemandian air panas Hakone aja aru"
"Gak usah sok perhatian ya"
"HABISI MEREKA!"
Ah sial, pemberontak itu datang lagi, mengganggu saat-saat indahku saja. Aku dan Kagura segera melawan mereka, dengan saling memunggungi satu sama lain, saling mempercayakan area belakang kepada partner.
"china! Setelah ini semua selesai, ada hal yang ingin kusampaikan padamu!"
"Gak usah sok keren deh sadis! Aku akan menyelesaikan ini dengan cepat!"
Tepat setelah Kagura mengatakan hal itu, aku tak menyadari bahwa ada salah satu pemberontak yang mengeluarkan granat dari kantong celananya, dan menarik pengait aktivator dari granat itu.
"SADIS AWAS!"
Belum genap aku menolehkan kepala ini pada sumber suara, Kagura yang telah menyadarinya lebih cepat dariku, mendorong tubuh pemberontak itu sampai ke gerbong kereta depan yang kosong, dan mengunci dirinya bersama dengan pemberontak itu di dalam.
Mataku terbelalak, tanganku mencoba meraihnya namun terlambat, gadis itu sudah jauh di sana.
Sayup-sayup terdengar suara terakhir dari gadis yang kucintai ini berkata
"Sayonara Sadist"
Dan senyum terakhirnya padaku sebelum..
BOOM!
Dan sebuah ledakan terjadi.
XXX
"KAGURAAAAA!"
Aku berlari menuju gerbong itu, tak mempedulikan apapun yang menghalangi jalanku. Kamisama, kumohon jangan ambil dia dariku..
XXX
Terlambat, semua telah terlambat.
Gerbong itu hancur, hanya menyisakan sedikit bagian dasar yang masih bergandengan dengan gerbong sebelumnya. Tak ada jasad manusia yang terlihat, hanyalah ceceran darah dan daging manusia yang semburat kemana-mana. Yang tersisa hanyalah sebuah ornamen bulat yang biasa gadis itu kenakan di kepala yang kini tegeletak di dekat kakiku.
"Tidak… Tidak.. Ini semua tidak mungkin.."
AAARRRGGGGHHHH!
Aku marah! Aku sangat sangat marah! Aku tak tahu apa yang kulakukan setelah itu, tubuhku telah dikuasai amarah yang sangat dahsyat. Aku tak peduli mau itu kawan atau lawan, siapa pun yang berdiri di hadapanku saat itu telah kutebas. Tidak! Aku tidak percaya! Seseorang katakan padaku, tolong katakan padaku ini semua hanya prank darinya. Ayolah! Seseorang, tolong katakan, kumohon…
PLAK!
Sebuah pedang kayu menampar keras pada pipiku.
"SADARKAN DIRIMU OKITA SOUGO!"
"Danna..."
Aku tertunduk diam, pria berambut perak itu berhasil menyadarkanku. Terlihat dari tatapan matanya, pria ini juga terpukul sama sepertiku saat mengetahui kejadian ini. Bedanya, pria ini lebih tahu caranya untuk terlihat lebih tegar.
XXX
"Okita-san, berdasarkan hasil penyelidikan, granat yang digunakan waktu itu bukanlah granat biasa. Granat itu sudah dimodifikasi oleh Harusame dan memiliki kekuatan lima kali lipat dari granat pada umumnya. Itulah kemungkinan besar mengapa gerbong tersebut bisa hancur dan tidak menyisakan jasad manusia. Menurut penyelidikan juga Itou Kamotaro dan para pemberontak bekerja sama dengan Harusame dalam kejadian ini"
"Terima kasih Yamazaki, kuterima laporanmu"
"Siap Okita-san. Ngomong-ngomong Okita-san, bukankah hari ini acara pemakaman Kagura-san? Anda tidak ingin datang?"
"Yamazaki, tolong tinggalkan aku sendiri"
"Baik Okita-san, saya undur diri"
Aku bukan tak mau datang, hanya saja aku terlalu pengecut untuk mendatangi pemakaman tanpa jasad seperti ini.
Dalam renungku, aku mengingat-ingat semua hal yang telah terjadi. Andai saja, andai saja pria itu tidak berubah, Andai saja pria itu tetap menjadi wakil komandan seperti biasa. Andai saja pria itu tidak mengacau, aku yakin kejadian ini tak akan pernah terjadi.
Ini semua salahmu, kau telah merenggut kebahagiaanku lagi.
To be continue
