* 1 year later – Mitsuba arc*
Sudah setahun berlalu sejak kepergiannya, menyisakan luka yang cukup dalam bagiku. Beberapa kali aku menyelinap ditengah waktu patroli untuk menjenguk makamnya. Sekedar melepas rindu, mungkin?. Konyol mungkin jika ada orang yang melihatku, datang ke makam seseorang dan berbicara sendiri seolah bisa berkomunikasi dengan arwah. Yah, tapi memang begitu adanya, setiap kali aku datang, aku pasti menceritakan hal-hal apa saja yang kualami hari itu, kepada batu nisan bertuliskan Kagura. Aku juga tak pernah lupa untuk membawakan sebungkus sukonbu kesukaannya, meskipun entah siapa nanti yang akan memakannya. Tak jarang juga aku menanyakan bagaimana kabarmu disana, atau sedang apa dirimu sekarang, ataupun bisakah kita bertemu lagi, yang mana sudah jelas tak kan ada jawaban.
Begitu pula yang kulakukan hari ini.
"Eh, Okita-san? Kau kesini juga rupaya"
Suara pria berkacamata itu tiba-tiba mengagetkanku ditengah lamunanku di depan makam Kagura. Shinpachi dan juga danna rupanya mengunjugi tempat ini juga, kulihat mereka membawa seikat bunga lily putih dan beberapa persembahan.
"Shinpachi, Danna, konnichiwa"
"Ahaha, tak usah sungkan begitu Okita-san"
"Kalau begitu, aku pergi dulu"
TAP TAP TAP
"sayang sekali dia harus pergi, padahal aku sedikit mendukungmu"
Perkataan samurai berambut silver itu terlintas begitu saja saat aku mulai berjalan meninggalkan mereka. Haha kau lucu sekali danna, tidak mungkin ossan protektif sepertimu akan membiarkan aku mendekatinya. Itupun jika memang aku ditakdirkan untuk mendampinginya.
RING DING DONG RING DING DING DONG
"hai, Okita desu"
"OI BAKA! KEMANA SAJA KAU?!"
"sedang patroli"
"aih, dasar. Sudah, segeralah kembali ke markas, ada tamu yang menunggumu"
Tamu untukku? Siapa?
XXX
"Aneue!"
Aneue! Aneue datang mengunjungiku. Senang sekali rasanya…
"Aneue mengapa tak bilang dulu? Aku harusnya bisa bersiap-siap menyambutmu sebelum kau datang"
"Hihihi, tenang saja Sou-chan, aku memang ingin memberimu kejutan, nih aku bawakan krupuk super pedas buatanku, bagi-bagi dengan temanmu yang lain ya"
"Terima kasih aneue"
"Sougo, kau sebaiknya libur dulu hari ini, ajak kakakmu jalan-jalan keliling Edo"
"Terima kasih Kondo-san, ayo aneue, kuajak jalan-jalan"
Aku berlari keluar markas dengan menggandeng tangan aneue seperti saat aku kecil. Aku tak peduli anggota lain melihatku seperti apa, jika bersama aneue, aku tetaplah adik kecilnya.
XXX
Hari ini sungguh menyenangkan, melihat senyum indah aneue serasa beban dalam hidupku menghilang untuk sesaat. Hari ini kita sudah mengunjungi café favoritku, mengunjungi kebun binatang dan memberi makan rusa disana, dan terakhir melihat sunset di pinggir pantai Kabukicho. Rasanya aku tak ingin hari ini berakhir, aku ingin terus bersama Aneue.
"Sou-chan, kurasa ini sudah waktunya untuk pulang, bisa kah kau mengantarkanku?"
"Iya, dimana penginapan Aneue?"
"Aku tidak menginap di penginapan manapun Sou-chan"
"Lalu dimana Aneue akan bermalam? Apa perlu menggunakan kamarku di markas?"
"Hihi, kau ini lucu sekali Sou-chan, apa sedari tadi kau tidak melihat cincin di jari manisku ini? Aku sudah bertunangan, aku akan menginap di rumah keluarganya malam ini"
"Hee… Maafkan aku Aneue, aku benar-benar tidak menyadarinya. Oke, akan kuantar Aneue sekarang"
Jalanan Kabukicho memang tidak pernah sepi meskipun langit sudah mulai gelap, malahan dengan semakin gelapnya malam, semakin gemerlap pula lampu-lampu yang menghiasi jalanan, toko-toko dan gedung-gedung tinggi di kota ini. Selama perjalanan pulang, Aneue selalu menunjukkan ekspresi excited dengan keindahan kota ini, yang merupakan hal biasa bagiku. Wajar saja, suasana di kampung kami memang tak pernah seramai ini.
Tak lama kemudian kami telah tiba di depan rumah keluarga Kuraba, tempat tinggal tunangan Aneue. Rumahnya cukup besar, kudengar kalau Kuraba Touma, tunangan Aneue ini merupakan pedagang kaya. Yah meskipun aku belum pernah bertemu dengannya, aku harap di bisa membahagiakan kakak perempuanku tercinta ini.
"Sou-chan, sudah, sampai sini saja. Kau tidak mau masuk ke dalam dulu?"
"Ah, tidak usah Aneue, aku mau langsung kembali saja"
"Anone Sou-chan"
"Apa orang itu, benar-benar tak mau bertemu denganku?"
Ah, topik yang benar-benar kuhindari akhirnya terucapkan dari mulut Aneue.
"Sudahlah, lupakan saja laki-laki tidak bertanggung jawab itu. Mana ada lelaki yang tak sedikit pun menghiraukan wanita yang dirindukannya demi pekerjaan? Aneue, dia tak pantas untukmu"
"Selamat malam Aneue, aku pamit dulu"
Aku segera kembali ke mobilku, aku tak ingin berlama-lama dengan suasana seperti ini. Pembicaraan tentang lelaki penuh keburukan itu sangat mempengaruhi moodku, seketika menjadi kesal.
"Hijikata-san, bisa kita bicara sebentar?"
"Ya, kemarilah Sougo"
"Anosa Hijikata, langsung saja ke intinya, tidak bisakah kau luangkan waktumu sehari saja untuk bertemu Aneue?"
Diam, tak ada jawaban dari pria itu.
"Aku tak kan meminta banyak waktu darimu, tidak kah kau tahu berapa beban yang dia pikul karenamu?"
Lagi-lagi dia diam dan terus menghisap rokoknya itu. Laki-laki ini benar-benar menguji kesabaranku.
"Hentikan ini Hijikata! Jangan lakukan apa pun yang merusak kebahagiaannya!"
"Tenkaiya.."
Akhirnya pria ini membuka suara.
"Perusahaan yang dipimpin tunangan kakakmu itu diduga berkomplot dengan para ronin dan menjual senjata secara ilegal, sebagai dealer black market. Dengan kata lain, tunangan kakakmu adalah musuh kita"
"Hijikata-san, kita ini sudah biasa menangani kasus seperti ini. Bukan berarti dalam satu perusahaan semua orang bersalah kan? Lagi pula pria itu sangat mencintai kakakku! Aku yakin dia bisa membuat kakak bahagia"
"Lalu menurutku aku harus apa! pura-pura tidak melihat hanya karena perasaan? Aku tahu kau pun tak akan percaya kakakmu bisa Bahagia hidup dengan penjahat sepertinya!"
Aku tertunduk, aku sadar perkataan pria ini semuanya benar. Hanya aku yang egois disini, aku hanya ingin kakak ku bahagia sebentar saja. Tidak bisakah satu harapan ini terwujud?
"Hijikata, kakak ku sudah tak punya banyak waktu lagi"
"Umur kakak, sudah tidak panjang lagi"
"Kau tahu, sejak kecil dia selalu mengurusku, mengesampingkan urusan dirinya sendiri. Aku hanya ingin di sisa hidupnya, kakak merasakan kebahagiaan seperti orang lain"
"Hijikata-san, kakak ku belum menikah sampai sekarang itu karena kau. Aku tak menyuruhmu untuk mengabaikan tugas, hanya tolong tunggu sebentar lagi-"
"Sogo, transaksinya akan terjadi besok malam, pastikan pedangmu tetap tajam"
Pria itu tak menghiraukan apa yang kuucapkan. Dia pergi memperlihatkan punggungnya yang semakin jauh terlihat dari pandanganku. Pria itu tak kan pernah berubah. Dia muncul hanya untuk mengambil semua yang kusayangi. Aku membencinya!
Pikiranku melayang ke ingatanku sehari sebelum aku, Kondo-san dan lainnya berangkat ke Edo untuk mengikuti seleksi ujian masuk Shinsengumi.
*Flashback*
Kala itu, setelah mendapat kabar kami akan pergi ke Edo, aku segera pulang mencari Aneue untuk memberitahunya kabar gembira ini.
Ah! Itu dia Aneue, sedang duduk di teras rumah. Aku segera berlari kecil menghampirinya.
Eh? Sepertinya ada orang lain bersama Aneue, siapa itu?
Laki-laki itu? Ngapain dia disini? Apa yang dibicarakannya dengan Aneue?
Aku bersembunyi di balik pohon dekat rumah, berusaha menguping pembicaraan laki-laki itu dan Aneue.
"Apa benar kalian akan ke Edo mencari pekerjaan?"
"Kau dengar dari siapa?"
"So-chan, hari ini terlihat bahagia sekali, meskipun dia belum mengatakan apa-apa. aku hanya menebaknya saja"
"ano baka"
"Ajak aku… Bersamamu.."
"So-chan, aku sudah bersamanya sejak kecil, aku merasa tidak tega jauh darinya.."
"Dan juga.."
"Aku.."
"Ingin tinggal bersamamu, Toshiro-san"
Apa? Apa maksud perkataan Aneue barusan?
Jangan bilang kalau Aneue mencintai laki-laki bodoh itu?
"Terserah"
"Lakukan saja sesukamu"
Sore itu, laki-laki itu meninggalkan Aneue setelah melontarkan jawaban yang tak dapat diartikan. Pergi berlalu bersama daun ginko yang berguguran yang diterpa angin musim gugur. Laki-laki itu meninggalkan Aneue yang masih berharap padanya.
*Flashback end*
RING DING DONG RING DING DING DONG
"OI SOUGO! DIMANA SAJA KAU?!"
"Kondo-san, ada apa?"
"Kakakmu! Mitsuba-dono sekarang masuk ICU di rumah sakit! Cepat kau kemari!"
Tanpa basa-basi, aku segera melesat kan kakiku menuju rumah sakit. Berharap sesuatu yang buruk tak terjadi pada Aneue.
To be continue...
