Segera setelah aku sampai di rumah sakit, Kondo-san sudah disana menungguku datang.

"Kondisinya tiba-tiba memburuk. Keluarga diharap bersiap untuk kemungkinan terburuk, begitulah kata dokter"

"Sougo! Kau datang sendiri? Tunangan Mitsuba-dono mana?"

"Tak tahu!"

"Toshi?"

"Jangan sebut nama itu!"

"Kau ini kenapa sih, Sougo kakakmu sedang kritis! Aku sudah dengar kau bertengkar dengannya, itu tidak seperti dirimu yang biasanya"

"Aku tidak tahu detailnya, tapi ini yang dia katakan padaku. Dia merasa dia tak kan kalah darimu sekarang"

"Sudah kubilang jangan bahas itu sekarang!"

"Apa-apaan ini? Kenapa semua orang membicarakan Toshi, Toshi terus? Jadi dimana bajingan itu sekarang? Kakak ku sudah seperti ini tapi dia belum menunjukkan wajahnya. Jadi dia tak peduli wanita yang ditinggalkannya sedang sekarat? Hah! Dasar pria kampungan!"

"hah.. Sougo, kamu itu lagi capek, istirahat dulu sana"

"Kau meremehkanku ya? Ah.. aku ini memang pengganggu, tak seperti Hijikata"

Kondo-san yang biasanya selalu tenang, tiba-tiba berbalik dan mencengkeram kerahku. Dia sudah hampir melayangkan tinju padaku hingga tiba-tiba terdengar teriakan dari Yamazaki.

"Ketuaaaa! Ini buruk! Hijikata-san dalam bahaya!"

XXX

"Hijikata-san pergi menyergap markas musuh sendirian Ketua!"

"APA?! Toshi pergi sendiri? Yamazaki! Kenapa kau tak katakan apapun sebelumnya?"

"Maaf ketua! Hijikata-san memintaku merahasiakannya, dia takut kalau anggota lain tahu Okita-san punya hubungan dengan musuh, pasti dia akan kehilangan jabatannya"

"Sial! Berarti memang sejak awal Toshi sudah berencana melakukan ini sendiri"

Hah? Hijikata bajingan itu melakukan semua ini demi aku? Alasan macam apa itu? Dia pikir dia hebat?

"HIJIKATA BANGSAAAAT!"

"SOUGO! Jangan kemana-mana, temani saja Mitsuba-dono sekarang. Lagipula, kau saat ini hanya akan menghambat saja"

"Jadi maksudmu aku harus percaya aja? Jangan bercanda Kondo-san! Tak mungkin aku mau berhutang dengan bajingan itu!"

"Kondo-san, kau sudah salah menilaiku"

BUAGH !

Kali ini Kondo-san benar-benar meninjuku. Tidak main-main, tinjuannya berhasil membuat pipiku memar hingga mengalir darah dari ujung bibirku. Kondo-san tetap ingin aku untuk diam saja kali ini, dia pikir saat ini aku sedang ragu dan bisa gugur dalam tugas. Salah, aku tak selemah itu.

Aku sedikit mengambil waktu untuk menenangkan perasaanku, juga meringankan rasa sakit dari tinju an Kondo-san tadi. Meskipun Kondo-san memintaku untuk tidak ikut campur, aku tidak bisa. Tak akan kubiarkan diriku hutang budi pada laki-laki bajingan macam Hijikata Toshiro. Sesaat setelah aku merasa semua siap, aku berangkat menuju markas musuh yang dibicarakan Yamazaki tadi.


Sesampainya aku disana, para ronin sebagian besar telah dilumpuhkan oleh pasukan Shinsengumi. Kulihat Kuraba Touma dan seseorang lagi sedang lari menaiki mobil, sepertinya mereka mau kabur.

Aku segera mengejar mereka, menyiapkan bazooka andalanku, mengambil posisi, lalu bersiap menembakkan misil.

BOOOM!

Mobil itu tertembak, mobil itu meledak, hangus tak bersisa beserta orang di dalamnya. Dengan ini masalah kami dengan sindikat Kuroba Touma telah selesai. Hijikata terlihat baru muncul dari salah satu celah-celah kecil di antara tumpukan container di sini. Dia baru datang setelah terdengar suara dari ledakan mobil.

Laki-laki itu berjalan mendekatiku dengan santai tanpa sikap waspada seperti saat bertarung. Namun tiba-tiba, seorang ronin muncul dan siap-siap menusuknya dari belakang. Aku bisa melihatnya jelas, apa yang ada di depanku, akhirnya Hijikata sebentar lagi akan mati tertusuk pedang ronin itu, dan tidak ada lagi orang yang akan menggangguku.

"HIJIKATA-SAN, AWAS!"

Teriakan Yamazaki muncul begitu saja, membuat Hijikata sadar apa yang akan menimpanya. Pria itu mulai menoleh ke belakang. Cih, jika dia menghindar, dia tidak akan mati.

"Sou-chan!" "Sadist!"

Pada saat ini, entah apa yang kupikirkan, tiba-tiba aku mendengar suara yang sangat tidak asing sedang memanggilku. Aku tersenyum, kini aku tahu apa yang harus kulakukan. Tubuhku bergerak tanpa kuperintah, kakiku berlari, tanganku menjulur berusaha meraih sosok pria didepanku itu. Selanjutnya, aku tak tahu apa yang terjadi.

CRAASH !


"Ugghh…"

Aku perlahan mencoba membuka mataku. Silau, itulah yang pertama kutangkap dengan mataku, dimanakah aku? Lampu yang menyilaukan, tembok putih, ruangan putih, beberapa orang berpakaian putih, apa ini rumah sakit? Ah.. jadi begitu ya, aku berada di rumah sakit.

"Dokter, pasien Okita sudah sadar"

"Baiklah, akan segera kuperiksa, kamu tolong kabari kerabatnya di luar"

"Baik dok"

Suster itu segera keluar dari ruangan ini bertepatan dengan seorang dokter yang datang padaku dan melakukan pemeriksaan kesadaran padaku. Setelah itu, Toshiro-san dan Kondo-san terlihat berlari masuk ke dalam ruangan ini.

"Okita-san baru saja sadar, dimohon kalian jangan banyak membuat keributan, saya permisi dulu"

Dokter itu keluar dari ruangan, dan Toshiro-san segera menghampiriku, menggenggam tanganku yang masih lemah ini.

"Mitsuba! Kau tak apa?"

Toshiro-san terlihat cemas, dia datang mengenakan seragam Shinsenguminya tanpa jas luaran yang biasa dipakainya. Beberapa bagian bajunya pun terlihat koyak dengan sedikit bercak merah yang sepertinya darah. Hal itu juga terlihat di baju yang Kondo-san pakai, apa mereka habis bertarung?

"Mitsuba-dono, syukurlah kau tak apa, masa kritismu sudah berhasil kau lewati"

Kondo-san seperti biasa, selalu menyunggingkan senyum ramahnya padaku, namun kali ini senyumnya terasa aneh, hanya bibirnya saja yang tersenyum, tidak dengan matanya.

"Toshiro-san? Sou-chan dimana?"

Toshiro-san terlihat tertegun dengan pertanyaanku. Dia tak memberikan jawaban apa pun, malahan dia hanya tertunduk sambal terus memegangi tanganku. Bisa kulihat tubuhnya tiba-tiba bergetar pelan. Apa ini? Tiba-tiba aku merasakan firasat tidak enak.

Aku terus menerus menanyakan di mana Sou-chan ku pada semua orang yang ada di ruangan ini, namun tak satu pun orang menjawabnya. Kuguncangkan tubuh Toshiro-san, mengharapkan dia mau menjawab pertanyaanku.

"Mitsuba-dono, tolong tenanglah.."

Kondo-san akhirnya membuka suara, namun yang dikatakannya bukanlah jawaban dari pertanyaanku.

"Bagaimana aku bisa tenang? Kalian semua rekan Sou-chan kan? Di mana Sou-chan ku saat ini mengapa tak ada yang menjawab?"

"Mitsuba.."

"Mitsuba-dono…"

"Kapten Okita, telah gugur dalam tugasnya"

DEG

Aku perasaanku bagaikan tersambar petir. Adikku, satu-satunya keluarga yang kumiliki. Aku tidak percaya dia telah mendahuluiku, tidak.. aku menolak untuk percaya..

"Toshiro-san.. Tolong katakan padaku ini hanya lelucon kan?"

"Mitsuba.. Maafkan aku.. Aku gagal melindunginya"

"Mitsuba-dono, Sougo terbunuh saat berusaha menyelamatkan Toshi. Dia tidak bisa menghindari pedang ronin yang menuju ke area vitalnya"

"hiks hiks hiks.."

Air mataku mengalir, ya, aku menangis. Aku menangisi kepergian adikku yang tidak mengucapkan selamat tinggal dulu padaku. Aku menangisi setiap kenanganku yang terbentuk bersamanya. Namun, kenyataan bahwa dia mati demi melindungi seseorang sedikit memberiku celah rasa bangga untuknya.

"Toshiro-san, tolong antar aku bertemu adik ku. Aku ingin melihat Sou-chan"

Toshiro-san segera membatuku untuk turun dari kasur. Kondo-san menyiapkan kursi roda yang sudah dipinjamnya dari suster. Segera aku duduk di kursi roda itu, dengan Kondo-san yang memegangi infusku dan Toshiro-san yang mendorongku perlahan, menuju kamar jenazah.

Sampailah kami di depan ruangan bertuliskan 'Kamar Jenazah' dengan dua buah pintu besi besar, seolah dapat menggambarkan betapa dinginnya ruangan di dalamnya tanpa adanya kehidupan. Perlahan seorang petugas membukakan pintu ruangan itu, mempersilahkan kami untuk masuk.

Toshiro-san mendorong kursi rodaku perlahan mengikuti petugas itu menuju salah satu ranjang dengan sosok yang tertutup kain, bertuliskan 'Okita' di sebuah tag yang terkait di ujung jempol kaki yang tidak tertutup kain putih. Perlahan, petugas itu membukakan kain yang menutupinya, menunjukkan padaku sosok itu, Adik ku tercinta, Okita Sougo tengah terbaring lelap dalam peristirahatannya.

Aku tak kuasa menahan tangis. Aku menangis sambil memeluk tubuh Sou-chan yang telah terbujur kaku. Aku tahu dia tidak akan lagi mendengarkanku yang terus-terusan memanggil namanya. Aku memandangi tubuh itu, melihat bekas luka yang dibicarakan Kondo-san, luka tusuk tepat di dadanya yang kini sudah bersih, dan wajahnya, yang sangat tenang, seperti dia yang hanya tertidur pulas.

Kurasakan satu persatu anggota Shinsengumi yang lain juga terisak mengiringi isak tangisku di samping jenazah Sou-chan. Bersama dengan Toshiro-san yang masih berusaha terlihat tegar dan memelukku. Malam itu, aku menangis hingga tak ada lagi air mata yang sanggup mengalir lagi dari mataku. Sou-chan, sampai jumpa lagi denganku di alam nanti.

Main Story Fin