Pria itu datang menepati janjinya keesokan hari. Dengan setelan seragam sekolah yang sama, ia berjalan masuk melewati pintu dan menemukan gadis berambut hitam dalam balutan kemeja putih lengan panjang tengah terpekur di balik sebuah buku tebal. Bola matanya bergerak cepat. Menghabiskan kata demi kata yang tertuang di dalam buku usang tersebut.

"Hoi, perempuan," panggilnya.

Gadis itu menoleh. Terkesiap melihat kedatangannya. "Oh, kau. Ku kira kau tak akan datang," katanya senang.

Pria itu tak menjawab. Ia menjatuhkan tubuhnya di kursi. "Pesananmu," ucapnya singkat seraya menyodorkan buku sejarah yang kemarin mereka bicarakan.

"Ara... Terima kasih." Ia menyambutnya antusias. Membulak balik halaman buku dalam genggamannya.

"Apa buku itu benar-benar menarik untukmu?" tanyanya heran melihat wajah gadis itu begitu riang hanya karena sebuah buku baru.

Ia tak menjawab. Matanya sudah asik berkeliaran dalam kata-kata. Fikirannya mungkin telah melayang ke ratusan tahun silam. Bisa jadi telah mendarat di Zaman Yayoi 300 tahun sebelum masehi. Atau bahkan, lebih jauh lagi.

Pria itu tersenyum simpul. Kemudian menyibukkan diri pada kegiatannya yang lain.

Restorasi Meiji (Meiji-ishin), dikenal juga dengan sebutan Revolusi Meiji atau Pembaruan Meiji, adalah serangkaian kejadian yang berpuncak pada pengembalian kekuasaan di Jepang kepada Kaisar pada tahun 1868. Restorasi ini menyebabkan perubahan besar-besaran pada struktur politik dan sosial Jepang, dan berlanjut hingga zaman Edo dan awal zaman Meiji.

Sebelum adanya Restorasi Meiji, Jepang dipimpin oleh seorang Shogun. Pada masa ini, kekuasaan ampuh pemerintah dalam seorang Shogun, yang secara resmi memerintah negara tersebut atas nama Kaisar. Shogun merupakan gubernur militer yang diangkat secara turun-temurun, dan memiliki pangkat setara dengan generalissimo.

Kaisar Jepang sendiri adalah pemimpin keluarga kekaisaran dan kepala seremonial negara dari sistem monarki konstitusional Jepang. Berdasarkan konstitusi tahun 1947, kaisar adalah "lambang Negara dan kesatuan bangsa". Menurut sejarah, kaisar juga merupakan pemegang kewenangan tertinggi agama Shinto karena dia dan keluarganya dipandang sebagai keturunan dari dewi matahari Amaterasu, dan kepentingannya juga menangani urusan keagamaan, termasuk ritual Shinto dan ritual seluruh bangsa.

Sejak abad pertengahan kesembilan belas, istana kekaisaran disebut Kyūjō, yang kemudian dinamai sebagai Kōkyo, dan berlokasi di situs bekas Istana Edo di pusat Tokyo. Sebelumnya, Kaisar tinggal di Kyoto selama hampir sebelas abad.

Gadis itu menutup bukunya. Lantas tersenyum. Baru puluhan halaman di bacanya, namun ia senang bisa menjelajah ke masa lampau. Membayangkan Shogun Tokugawa ke 13 menandatangani perjanjian dengan Amerika di Kanagawa, sehingga terjadi Kaikoku atau pembukaan negara sejak 250 tahun Jepang menutup diri dari pengaruh dunia luar. Sampai melihat dalam imajinasinya, Shogun Tokugawa ke 15 memberikan kekuasaannya pada Kaisar hingga memberikan pengaruh besar pada modernisasi Jepang di segala bidang.

Ia melirik keluar jendela. Matanya berbinar. Terkadang merasa aneh mengetahui rentetan kejadian itu berada di bawah langit yang sama.

"Ergh." Seorang pria mengerang pelan. Satu tangannya memainkan pulpen dalam genggamannya sementara tangan yang lain tak henti mengacak-acak rambutnya.

Gadis itu menoleh. Menyadari ia telah kembali ke tahun 1984.

"Butuh bantuan?" tawarnya ramah.

Pria itu menoleh. Memicingkan matanya penuh curiga. "Kau bisa?"

"Apa yang kau kerjakan?"

"Tugas matematika." Ia memandang bukunya lagi. Kemudian menghela nafas berat. "Aku tak akan melarang jika kau memaksa membantuku."

Gadis itu terkikik geli. "Aku tak akan memaksa jika kau tak mau."

"Baiklah, mungkin kau tak berniat membantu." Pria berambut hijau itu mendengus. "Atau sebenarnya kau bahkan tak pintar berhitung."

"Kau menantangku?"

Ia tak merespon. Tetap pada posisinya sambil mengutuk tugas matematika di hadapannya.

Gadis itu mendekat. "Biar ku kerjakan," katanya mengambil buku pelajaran tersebut dan membaca soal-soal dihadapannya.

"Oi, apa-ap–"

"Diamlah," jawabnya. "Aku tak ingin membayar buku yang ku pinjam padamu." Ia tersenyum. Menarik perlahan pulpen di tangan pria itu lalu mengerjakan tugas-tugasnya.

Pria itu menurut. Lantas duduk manis di kursinya seraya mengamati dengan seksama gadis di sebelahnya.

Ia terlihat pintar. Dengan bola mata bewarna biru kehijauan yang dalam. Hidungnya mancung. Terlihat begitu manis dengan bibir tipis dan rambut hitam panjang yang diikat rapi ke belakang. Tangannya begitu cekatan menggoreskan rumus serta jawaban dari soal-soal di hadapannya. Ia berhenti sejenak untuk berfikir, kemudian melanjutkannya kembali. Gadis ini, ternyata begitu manis dalam keseriusannya.

Ah, pria itu buru-buru mengalihkan pandangannya.

"Ada apa?" tanya gadis itu menyadari sesuatu.

"Ti-tidak. Lanjutkan saja pekerjaanmu," jawabnya kikuk.

Gadis itu memandangnya heran. Kemudian kembali berkutat pada tugasnya. Sementara pria di sampingnya dengan tenang mengamati langit dari balik jendela perpustakaan yang besar. Merebahkan tubuhnya pada sandaran kursi, lalu memejamkan matanya.

O • O • O

Bunyi buku yang bersentuhan dengan kayu membangunkan satu-satunya pengunjung di perpustakaan tersebut. Ia mengusap wajahnya. Mengerjap-ngerjap beberapa kali untuk membuatnya yakin ia telah terjaga. Kemudian terkesiap, jam di dinding telah menunjukkan pukul tujuh malam.

"Ara... Sudah bangun, Roronoa-san?"

Ia melirik. Mendapati gadis yang tadi menyelesaikan pekerjaan rumahnya tengah berdiri di salah satu rak seraya menata dan membersihkan buku-buku koleksi perpustakaan.

"Tugasmu sudah selesai. Kau bisa mengeceknya kalau kau mau," lanjutnya seraya menunjuk meja.

"Bagaimana kau bisa tau namaku?" pria itu mengacuhkannya. Menyadari hal yang lebih penting selain pekerjaan rumahnya.

Gadis itu tersenyum. "Kau menuliskannya di bukumu."

"Ah." Pria yang dipanggil Roronoa tadi mengamati bukunya. Bodoh sekali ia bertanya hal mudah seperti itu. Ia terdiam. Kemudian memasukkan bukunya ke dalam tas dan bangkit.

"Kau tak mengeceknya dulu?" tanya gadis itu heran.

"Untuk apa?"

"Memastikan aku telah menyelesaikan semua tugasmu, barangkali?"

Ia menggeleng. "Aku percaya padamu," ujarnya seraya berjalan mendekati pintu.

Gadis itu tersenyum. "Rupanya kau baik juga, Roronoa-s–"

"Zoro." Pria itu memotong ucapannya. "Panggil saja Zoro," katanya berhenti di ambang pintu.

Saulo yang berada di meja administrasi lantas mengamati mereka berdua.

Gadis belia itu mengangguk. "Baiklah, Zoro," ucapnya mengoreksi.

Zoro mendadak menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia menoleh ke belakang. Lalu menghela nafas panjang. "Pastikan kau tidak melakukan kesalahan pada tugas-tugasku, ehm..."

"Ya?"

"Apa aku harus memanggilmu perempuan maniak buku?"

"Perempuan maniak buku?"

Zoro memalingkan wajahnya. "Namamu?"

"Namaku?"

Pria itu berdecak. "Harus berapa kali kau mengulang pertanyaanku?" tanyaya seraya membalikkan badan. Tangannya terlipat di depan dada.

Gadis itu tertawa. "Telingamu memerah," katanya jujur. "Apa ini pertama kalinya kau mengenalkan dirimu pada perempuan?"

Zoro mendengus kesal. Lantas melanjutkan langkahnya. "Terserah kau saja," ujarnya dingin.

"Olivia."

Zoro menghentikan langkahnya lagi. Pria berambut hijau itu kini telah berada diluar perpustakaan.

Gadis itu tersenyum. "Kau bisa panggil aku Olivia," tambahnya ramah.

Zoro menoleh sebentar. Kemudian mengangguk dan berkata singkat, "Baiklah, Olivia." Kemudian berlalu dan berbaur dengan puluhan manusia yang berlalu lalang di trotoar.

Bersamaan dengan menghilangnya Zoro dari pandangan, senyumnya memudar. Wajahnya terangkat mengamati langit yang berwarna jingga di hadapannya. Nafasnya terhela berat. Tangannya terangkat memeluk tubuhnya sendiri dengan erat. Ia memejamkan matanya. Kemudian membukanya lagi saat menyadari seorang pria lain telah berada di sampingnya.

"Apa kau melakukannya lagi? Robin?" tanya Saulo cemas.

Gadis itu terdiam. Kemudian menjawab pertanyaan Saulo dengan senyuman dan kembali melanjutkan pekerjaannya.

O • O • O

Olivia mempercepat langkah saat melihat kios buah dan sayur di hadapannya mulai mengemasi barang-barang mereka. Dalam jarak beberapa ratus meter, ia dapat melihat seorang wanita paruh baya dengan rambut merah muda tengah sibuk mengangkat dus berisi tomat dan sawi. Sementara di dalam toko, seorang gadis muda membantu merapikan bahan-bahan makanan yang lainnya.

Olivia menyapa mereka. "Konbanwa, Bellemere-san," katanya seraya membungkukkan badannya.

Bellemere melirik ke asal suara. Kemudian tersenyum riang saat melihat siapa yang datang. "Oh, Olivia-chan! Konbanwa," serunya sambil meletakkan dus yang dibawanya. "Ya ampun, lihat sudah jam berapa ini. Ku kira untuk pertama kalinya kau tak akan datang."

Olivia tersenyum. "Maaf, Bellemere-san. Seorang pengunjung mengerjakan tugas di perpustakaan kami hingga larut. Aku jadi harus menunggunya hingga selesai."

"Menyebalkan sekali." Bellemere berkacak pinggang. "Seharusnya kau usir saja pengunjung yang seperti itu. Bisa-bisanya ia membuatmu terlambat pulang ke rumah," katanya menggebu-gebu. Membuat gadis di hadapannya tertawa melihat kelakuannya.

"Aku baik-baik saja, Bellemere-san," katanya menenangkan.

Bellemere jadi ikut tertawa. "Ah tentu. Setidaknya kau tetap datang. Bahan makananmu bisa membusuk kalau ditinggal sampai besok pagi," guraunya. Kemudian menoleh pada seorang gadis berambut sebahu yang tengah menyusun ber-dus-dus sayur. "Nojiko, ambilkan aku bahan makanan pesanan Olivia di dalam kulkas."

Di perintah oleh sang ibu, gadis itu lantas menuju kulkas dan mengambil sebuah tas belanja berukuran sedang berisi sayur mayur dan daging segar. Ia menyerahkannya pada Bellemere sebelum menyibukkan dirinya kembali dengan pekerjaannya.

"Ah, ini pesananmu." Bellemere menyerahkannya pada Olivia.

Gadis itu menyambutnya. "Arigatou gozaimasu, Bellemere-san," katanya sedikit membungkuk.

"Hai, hai," ujar Bellemere seraya mengibaskan tangannya. "Lalu, apa yang mau kau pesan untuk senin depan?"

"Hmm." Olivia nampak berfikir. "Bolehkah aku memesan belut?"

"Belut?" Bellemere mengulangi. "Apa kau mau memasak unagi?"

Gadis itu mengangguk. "Begitulah."

Bellemere membulatkan matanya. Ia tercengang untuk sesaat, kemudian tertawa kencang. "Hahaha, kau benar-benar pandai memasak ya, Olivia-chan!" katanya kagum. "Aku memiliki dua anak perempuan di rumah tapi Nojiko hanya bisa membuat miso. Yang sebaya denganmu bahkan hanya bisa menyeduh ramen instan."

"Okaasan!" Nojiko berseru. Menekuk wajahnya saat sang ibu menoleh ke arahnya.

"Jangan berteriak, Nojiko. Aku masih bisa mendengarmu," ujarnya seraya melipat tangannya di depan dada. Ia kembali pada Olivia. "Baiklah kalau begitu Olivia-chan, akan aku siapkan bahan untuk membuat unagi senin depan. Pastikan kau datang, oke?"

"Tentu, Bellemere-san. Sekali lagi maaf aku datang terlambat hari ini." Olivia membungkukkan badannya lagi.

Bellemere menggelengkan kepalanya. "Ah, kau terlalu banyak membungkuk malam ini. Kau bisa tua lebih cepat dibanding aku nanti," candanya.

Olivia terkekeh kecil. Mengeluarkan beberapa lembar uang dari dalam tasnya. "Ini untuk pesananku hari ini, Bellemere-san."

"Apa ini tidak terlalu banyak?"

"Anggap saja tips karena sudah membuatmu menunggu dan memintamu mencarikan belut untukku," jawabnya.

Bellemere tertawa. "Kau ini. Ingatlah, ini terakhir kalinya kau memberi uang sebanyak ini padaku. Aku tak akan menerimanya lagi lain kali," katanya sambil mengangkat uang pemberian Olivia ke udara.

Gadis berambut hitam itu tersenyum. "Baiklah, aku mengerti Bellemere-san. Kalau begitu, aku akan pulang sekarang."

"Ah, tunggu tunggu." Bellemere tiba-tiba mengeluarkan sesuatu dari dalam keranjang buahnya. "Untukmu, Olivia-chan," katanya seraya memberikan sekantung jeruk pada Olivia.

"Ara... Ini banyak sekali, Bellemere-san."

"Kebun jeruk kami sedang panen. Memang tidak sebanyak saat di penghujung tahun, tapi cukup untuk dibagikan ke pelanggan setia. Ambillah, itu bagianmu."

Olivia memperhatikan jeruk-jeruk di tangannya. Ia ganti memandang Bellmere dengan tatapan berterima kasih. "Ter–"

"Hai, hai. Aku sudah mengantungi banyak kata terima kasihmu. Sekarang, bergegaslah. Kau bisa ketinggalan kereta nanti," ujar Bellemere seraya mengangkat dus sayuran yang lain.

Olivia tersenyum. "Baiklah kalau begitu, aku pulang sekarang Bellemere-san." Ia membungkukkan badannya. "Oyasumi," tambahnya kemudian berbalik dan berjalan menjauhi toko.

Bellemere melambaikan tangannya. "Hati-hati dijalan, Olivia-chan! Sampai jumpa hari senin!"

Gadis berambut hitam itu mengangguk. Ikut melambaikan tangannya sekali, sebelum akhirnya mempercepat langkah dalam malam menuju stasiun.

O • O • O

Hai, salam kenal.

Ini pertama kalinya aku buat fanfiction disini. Sejujurnya paling ngga bisa bikin judul cerita karena takut terlalu aneh atau bahkan terlalu drama. Hehehe

Makanya sejauh ini masih ku tulis Untitled dengan harapan temen-temen bisa bantu ngasih judul seiring berjalannya cerita ini. Well, itupun juga kalo ada yang baca sih. Hahaha

Buat yang udah baca Chapter 2 terima kasih banyak ya.

I'm a fan of One Piece even can't decide a big one or just a regular one. Hehe

Tapi cool nya Zoro sama Robin selalu paling ditunggu setiap manganya keluar - dan seneng banget setelah berbulan bulan tanpa mereka, akhirnya mereka muncul lagi di Wano :')

Sengaja juga ku tampilin sedikitnya sejarah tentang Jepang yang mana (sepertinya) jadi inspirasi Oda-sensei untuk Wano-kuni (and just surprised, ternyata Jepang juga pernah menutup diri dari dunia luar selama 250 tahun).

By the way cerita ini akan terus berlanjut, terima kasih yang sudah baca. Chapter 3 akan rilis segera. Terima kasih! :)

PS: One Piece belongs to Eiichiro Oda.