Hai, terimakasih banyak atas reviews yang kalian tinggalkan. Dan tentu terimakasih banyak bagi yang masih menunggu cerita ini. Hiks. Aku terharu :')
Jangan bosan2 memberi kritik dan saran ya. Penulis newbie ini masih butuh banyak sekali masukan :"
(Termasuk bagaimana membuat sub judul chapter yang baik sebenarnya. Hahaha)
Semoga Chapter 3 ini tidak terlalu panjang. Dan... Selamat membaca!
Disclaimer : One Piece belongs to Eiichiro Oda
O • O • O
Shibuya ramai menjelang akhir pekan. Ratusan orang hilir mudik di Shibuya Crossing yang terkenal hingga ke negara tetangga. Banyak papan iklan besar terpampang di sudut-sudut persimpangan. Termasuk di depan sebuah pusat perbelanjaan bernama Shibuya 109 yang baru saja dibangun empat tahun silam. Banyak orang keluar masuk toko hanya untuk mencari pakaian, perlengkapan rumah tangga, handycraft atau bahkan merchandise tradisional Jepang. Warung-warung makan membuat porsi dua kali lipat dari hari biasanya. Hachiko Statue yang menjadi landmark di distrik tersebut juga menjadi incaran. Entah untuk swafoto turis mancanegara, atau untuk masyarakat lokal menentukan tempat pertemuan mereka. Stasiun Shibuya jadi lebih sibuk. Terlebih, sakura yang mulai bermekaran membuat masyarakat bersiap untuk menyambut Festival Hanami yang akan datang lebih awal.
Olivia masuk ke perpustakaan dengan sekantung makanan di tangannya. Meski tak banyak, tapi tiga hingga lima pengunjung datang bergantian hari ini. Bergerombol, bergantian sejak pagi hanya untuk melihat-lihat bagaimana bisa bangunan tua seperti ini masih dapat kokoh berdiri. Beberapa dari mereka merupakan turis asing. Datang dengan pemandu, membaca setidaknya satu buku sejarah yang penting, kemudian pergi.
Karena hal tersebut, Saulo jadi enggan beranjak dari meja kerjanya. Ia sejak tadi sibuk menjelaskan kepada pengunjung yang datang mengenai buku-buku penting, hingga menceritakan sedikitnya sejarah negeri ini yang ia ketahui.
Pria itu tersenyum sumringah saat Olivia tiba. "Akhirnya, ku kira aku akan mati kelaparan," katanya senang. "Aku baru menghabiskan satu onigiri sejak pagi."
"Istirahatlah dulu, Saulo-san. Akan ku gantikan kau berjaga disini."
"Ma... Tenanglah, aku akan tetap makan di mejaku," katanya seraya mengeluarkan makanan yang di beli Olivia tadi.
Sementara gadis itu sibuk menata berkas-berkas tua di meja administrasi.
"Ah, konnichiwa!" serunya saat melihat dua orang pelajar perempuan masuk melewati pintu.
"Konnichiwa. Apa perpustakaan ini memiliki buku sejarah?" tanya salah seorang diantaranya.
"Ara... Kebetulan sekali, disini kami memiliki banyak sekali buku sejarah," jawab Olivia ramah. "Sejarah apa yang kau butuhkan?"
"Eto..." Gadis itu nampak berdiskusi dengan temannya. "Apakah kalian memiliki buku sejarah mengenai Pulau Hashima? Kami butuh buku itu untuk tugas kami."
"Pu-pulau apa?"
"Pulau Hashima. Apa kau tidak tau?"
Olivia terdiam. Wajahnya mendadak cemas.
"Ada kejadian besar di Pulau Hashima sepuluh tahun yang lalu. Tapi sulit sekali menemukan buku yang membahas pulau tersebut karena pemerintah melarang buku tersebut beredar dengan bebas. Kami benar-benar berharap kalian memilikinya."
"Benar. Ini sudah perpustakaan ke enam yang kami kunjungi." Gadis yang satu lagi menimpali.
"I-itu..."
"Tentu saja kami memilikinya," sahut Saulo dari mejanya. Pria itu tersenyum lebar. "Perpustakaan ini memiliki buku sejarah yang beragam. Kau bahkan bisa tau ukuran sepatu para kaisar jika menghabiskan semua buku disini. Hahaha," candanya seraya tertawa kencang. Kemudian memberi isyarat pada dua pelajar itu untuk mengikutinya. "Mari, akan ku tunjukkan dimana raknya."
"Ah, terima kasih, ojisan!"
"Bukan apa-apa, ini sudah tugasku, nona-nona. Dan... ah ya, kau bisa panggil aku, Saulo-san. Shishishi."
Olivia menatap punggung Saulo dalam diam. Matanya memerah. Tangannya terkepal di kedua sisi tubuhnya. Ia tak menyangka. Jantungnya masih berdegup kencang mendengar nama pulau itu disebutkan. Darahnya mengalir cepat. Dapat ia rasakan amarah dan sedih berkecamuk di hatinya. Ia tau tak seharusnya ia takut. Ia bahkan tak memiliki hubungan apapun dengan semua kejadian mengerikan itu. Lantas, mengapa ia begitu khawatir? Bukankah semua orang di pulau itu telah pergi dengan tenang? Mengapa ia begitu sedih?
"Tenanglah, Olivia," kata Saulo saat pria itu telah kembali ke meja administrasi. "Kau tak perlu melupakannya jika kau tak mampu. Kau hanya perlu mengendalikan emosimu."
Olivia menggenggam tangannya. Matanya memandang lurus sepatu hitamnya yang telah berubah warna menjadi ke abuan.
Saulo melanjutkan. "Kau tau? Kau tak akan mungkin membuat seluruh dunia tak lagi membicarakan kejadian mengerikan itu. Ku tau sulit juga untukmu melupakannya. Maka yang bisa kau lakukan hanyalah menjadi lebih kuat. Ingatlah, ini bukan hanya berat untukmu, tapi juga untukku."
Gadis itu terkesiap. Lantas mengangkat wajahnya mengamati Saulo yang tak lagi muda. Ia buru-buru mengusap wajahnya. Menghapus air mata yang hampir jatuh membasahi pipinya.
"Maafkan aku, Saulo-san."
Saulo tersenyum. "Tak masalah, ini bukan pertama kalinya kau seperti ini. Shishishi."
"Aku akan berusaha lebih baik, aku janji."
"Dan ini sudah kesekian kalinya kau berjanji. Hahaha," ujar Saulo bergurau.
Membuat gadis di hadapannya mendelik. Kemudian ikut tertawa bersama pria besar di hadapannya.
"Ma... Sepertinya aku harus melanjutkan makan siangku lagi. Gyoza ku bisa mendingin nanti." Pria itu kembali duduk di mejanya.
"Fufufu, ini bahkan sudah mendekati jam makan malam, Saulo-san."
"Ssst, diamlah Olivia. Gyoza ini enak sekali, aku harus menikmatinya dengan baik," ujar Saulo sambil melahap makanannya dalam porsi besar.
Olivia terkikik. Baru saja ia akan membalas lagi, pintu perpustakaan terbuka membiarkan seorang pelajar pria berambut hijau masuk dari sana. Wajahnya sumringah saat mendapati alasan utamanya datang ke perpustakaan itu tengah berdiri di sisi meja administrasi.
"Olivia!"
"Oh, Zoro? Kau datang lagi?"
Zoro mendekat. Ia terlihat bersemangat. "Kau tau? Ini pertama kalinya aku mendapatkan nilai sempurna," katanya tanpa basa-basi.
Olivia mengerutkan keningnya. "Apa maksudmu?"
"Tugas matematika yang kau kerjakan kemarin. Untuk pertama kalinya aku jadi satu-satunya siswa yang mendapat nilai terbaik di sekolah. Aku tak pernah tau rasanya bisa sebangga ini. Hahaha," jelasnya seraya tertawa terbahak-bahak.
Olivia tersenyum lebar. "Benarkah?"
Zoro mengangguk cepat. "Seluruh siswa bertanya padaku bagaimana bisa aku melakukan itu. Lagi pula, aku memang tak pernah mendapatkan nilai yang baik dalam pelajaran matematika. Sensei sampai memanggilku dan bertanya apa yang ku lakukan," ceritanya panjang lebar.
"Lalu? Kau jawab apa?" Olivia terdengar antusias.
Zoro tertawa. "Ku katakan saja, 'itu bukan hal yang sulit'. Hahaha," jawabnya tanpa rasa bersalah. Masih terlihat bahagia dengan apa yang terjadi padanya hari ini.
Sementara gadis di hadapannya melipat tangannya di depan dada. "Tentu saja bukan hal yang sulit untukmu. Kau hanya tertidur sepanjang aku mengerjakannya."
"Hei, kau yang bilang sendiri ini sebagai ganti buku yang ku pinjamkan padamu."
"Aku tak pernah mengira ternyata kau dapat nilai sempurna. Tau seperti itu tak ku kerjakan semuanya."
Zoro memutar bola matanya. "Ya ampun, apa kau menyesal telah membantuku?" tanyanya jengkel.
Olivia berfikir sejenak. Ia menggeleng kemudian. "Tidak juga. Setidaknya aku jadi tau aku lebih pintar darimu," jawabnya senang.
Membuat Zoro mendengus kesal. "Hai, terserah kau saja."
Gadis itu tertawa geli. Senyum jahil menghiasi wajah cantiknya. "Ara... Akui saja, Roronoa-san," ujarnya.
Zoro mengalihkan pandangannya ke arah lain. Enggan merespon candaannya.
Olivia berdecak. "Baiklah jika kau tak mau mengaku. Itu saja yang ingin kau sampaikan bukan?" tanyanya.
Pria berambut hijau itu masih diam pada posisinya.
"Kalau tak ada lagi yang ingin kau sampaikan, kau bisa pergi sekarang. Aku memiliki banyak pekerjaan hari ini," ujar gadis itu kesal. Mengangkat beberapa buku yang tergeletak di atas meja administrasi, kemudian berjalan ke salah satu rak.
Zoro mengamatinya canggung. Tangan pria itu terangkat mengelus kepalanya yang baik-baik saja. Ia menunjuk salah satu bangku di sudut ruangan kemudian. "Aku akan duduk disana. Selesaikan saja pekerjaanmu."
Olivia melirik. Alisnya bertaut. Mata birunya mengikuti tubuh Zoro yang bergerak mendekati kursi. Ia terdiam, memperhatikan dengan seksama bagaimana pria itu merebahkan tubuhnya, hingga akhirnya tertidur dalam waktu kurang dari satu menit.
Gadis itu tertegun. Kemudian tertawa pelan seraya seraya menggelengkan kepalanya.
O • O • O
Ini padang bunga. Zoro yakin ia berada di padang bunga. Wangi lavender yang menyatu dengan wisteria, semilir angin yang menghempaskan kelopak-kelopak bunga, suara kepakan sayap kupu-kupu, hingga decitan burung yang berbahagia menemukan tempat bermain mereka. Ia yakin betul ia berada di padang bunga.
Sinar matahari menjadi hal pertama yang dilihatnya saat ia membuka matanya secara perlahan. Disusul pemandangan indah dari puluhan jenis bunga yang bertebaran di sekitarnya. Pria itu mengamati sekeliling. Lalu menyadari bahwa ia tak sendiri.
Seorang perempuan muda berada disana. Usianya mungkin belasan. Dengan kaus putih dan celana coklat selutut. Rambutnya hitam sebahu. Berdiri membelakangi Zoro seraya memilih beberapa bunga yang kemudian dimasukkan ke keranjang kecilnya.
Zoro mengernyit. Memastikan siapa yang ia lihat. "Ku-Kuina?" tanyanya ragu.
Namun gadis itu menoleh. Menyadari seseorang memanggil namanya. "Oh, Zoro? Kau sudah bangun?" ujarnya bersemangat. Lantas bangkit, mengangkat tinggi-tinggi bunga-bunga dalam keranjangnya. "Lihatlah apa yang ku dapat!" serunya senang. Kemudian berlari mendekati pria yang masih bersandar pada batang pohon besar tersebut.
Zoro tersenyum lebar. Nyaris menyeringai. Ia tak menyangka dapat melihat dan berbincang dengan teman kecilnya lagi.
Namun baru saja pria itu bangkit, sesuatu yang aneh terjadi. Wajah Kuina tiba-tiba berubah. Tubuhnya mendadak tumbuh lebih cepat. Rambutnya memanjang. Menampilkan sosok perempuan yang baru saja dikenalnya.
"Olivia?!"
"Zoro, bangunlah." Olivia mengguncang tubuhnya. "Perpustakaan sudah tutup, bangunlah."
Pria berambut hijau itu tiba-tiba membuka matanya. Raut wajahnya tersirat kebingungan yang luar biasa. Ia melirik sekitar. Belasan rak buku besar mengitari mereka.
Ah, benar. Dia ketiduran.
"Apa kau memimpikan sesuatu? Kau terlihat gelisah," tanya Olivia khawatir.
Pria itu menggeleng. "Bukan apa-apa," katanya datar. Seraya mengusap wajahnya beberapa kali untuk memastikan ia telah terbangun dari mimpi.
"Apa semua pengunjung telah pergi?" tanyanya lagi. Sambil memaksa tubuhnya bangkit dari kursi.
Olivia menggelengkan kepalanya. Tangannya terlipat di depan dada. "Tidak, masih tersisa satu disini."
"Ah." Pria itu memegang keningnya. "Saulo-san?"
"Ia baru saja pulang."
"Bagus kalau begitu, ayo."
"Ayo?" Olivia mengulangi. Memandang heran pria dalam setelan seragam sekolah di depannya. "Aku yang menunggumu tidur lalu kau dengan santainya menyuruhku pergi?"
"Hei, kau kira apa yang kulakukan sampai tertidur disini?"
"Apa?"
"Aku menunggumu pulang, kau tau?" kata Zoro tenang. Lantang dan jelas.
Membuat Olivia tertegun dalam beberapa detik ke depan.
Hening.
Pria berambut hijau itu lantas memalingkan wajahnya. Menyadari ia terlalu cepat berbicara. Diliriknya gadis berkemeja putih yang kini telah berbalut cardigan biru muda itu dari sudut matanya. Masih terdiam. Menunggu aba-aba darinya.
Zoro menghela nafas panjang, kemudian berkata pelan, "Ikutlah". Sambil melanjutkan langkahnya keluar dari perpustakaan. Diikuti Olivia yang masih kebingungan di belakangnya.
Setelah menghabiskan waktu lima belas menit berjalan kaki, sampailah mereka di sebuah kedai udon sederhana tak jauh dari pusat kota Shibuya. Sama seperti kedai-kedai lain pada umumnya, kedai waralaba yang tersembunyi diantara gedung-gedung tinggi ini hanya diisi oleh konter panjang dan beberapa meja untuk pengunjung yang datang dalam jumlah besar. Beberapa ornamen khas Jepang seperti kaligrafi dan lukisan-lukisan tua menggantung di dinding ruangan. Wangi daging sapi yang bercampur dengan jahe menyeruak di udara. Meski terlihat sempit, nyatanya tempat ini menjadi favorit banyak kalangan melihat seluruh meja dipenuhi oleh tamu yang kelaparan.
"Itadakimasu," gumam Olivia pelan sesaat setelah pesanannya tiba. Semangkuk udon dengan irisan daging sapi rebus, lobak parut dan konbu.
Di sebelahnya, Zoro tak mau kalah. Tanpa basa-basi dilahapnya dengan cepat udon dan tempura dihadapannya.
Olivia tersenyum.
"Bagaimana? Kau suka?" tanya Zoro mengamati gadis di sebelahnya. Makanan dimulutnya belum terkunyah dengan sempurna.
"Ini enak," jawab gadis itu seraya mengangguk mantap.
Zoro tersenyum bangga. Kembali fokus pada makanannya.
"Kau sering kesini?"
Pria itu menggeleng. "Tidak juga," jawabnya seraya memasukkan lagi tempura ke dalam mulutnya. "Hanya ketika aku ingin makan udon saja."
"Sendirian?"
"Menurutmu?"
"Hmm, bersama kekasihmu? Mungkin?" Olivia nampak berfikir.
Membuat pria berambut hijau disampingnya tersedak salivanya sendiri. "O-oi!" serunya sambil mengisi tenggorokannya dengan air.
"Fufufu, ada apa denganmu?" tanya gadis itu geli.
"Apa-apaan pertanyaanmu itu?"
"Hanya penasaran saja. Aku tak menyangka reaksimu akan seperti ini," katanya masih tertawa geli.
Zoro memalingkan wajahnya. Berusaha menyembunyikan rona merah di pipinya. Dari sudut mata, Zoro dapat melihat Olivia kembali melanjutkan makan malamnya.
Ia berdeham. "Me-memangnya kenapa kau berfikir seperti itu?" tanyanya pelan. Namun terdengar jelas lantaran posisi duduk mereka yang berdekatan.
Olivia mengamatinya sejenak. "Karena kau tampan," katanya tenang. "Ku pikir tak sulit untuk pria sepertimu menemukan kekasih."
Kali ini pria berambut hijau itu berhasil menahan tubuhnya agar tidak bereaksi berlebihan. Meski tak bisa dipungkiri wajahnya memerah karena perasaan kaget, malu dan senang berkumpul jadi satu. Bagaimana tidak, ini pertama kalinya seseorang memuji penampilan fisiknya.
Ia tersenyum. Tak ingin membalas lagi. Membiarkan perasaan bahagianya melambung diudara bersama dengan kepulan asap kaldu yang baru matang di sekitar mereka.
O • O • O
Sepasang pria dan wanita berjalan lambat dalam diam. Diatas mereka, langit sudah tak lagi berwarna. Satu dua orang melaluinya dengan cepat. Beberapa lagi melewati mereka dengan jitensa. Malam sabtu yang ramai di Shibuya. Bahkan menular ke stasiun Shinjuku yang sudah berada tak jauh di depan mereka.
"Jadi," si pria membuka percakapan. "Apa kau juga menuju stasiun?" tanyanya ragu. Mereka hampir tak berbicara sejak percakapan yang begitu canggung di kedai udon tadi.
Olivia mengangguk. "Begitulah."
"Apa kau tinggal di Tokyo?"
"Bukan. Aku tinggal di Shinagawa."
"Oh."
Hening lagi. Membuat Zoro mengutuk dirinya sendiri atas buruknya ia dalam memilih pertanyaan. Pria itu berdeham. Berusaha memecahkan jarak yang tercipta dalam percakapan mereka.
"Zoro," panggil Olivia tiba-tiba.
"Ah ya?"
"Kau belum memberitahuku kenapa kau mentraktirku makan malam ini," katanya melirik pria bertubuh kekar disampingnya. "Aku yakin ini pasti bukan hanya karena aku telah memberikanmu nilai sempurna. Kau tau ini caraku membayar buku yang kau pinjamkan padaku."
Zoro terdiam. Tangannya terangkat menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Eto..."
"Apa ini kencan?"
"A-apa?" Pria berambut hijau itu hampir terjatuh ke belakang. Wajahnya merah padam. Jantungnya berdegup kencang. Ia membeku. Begitu terkejut hingga bahkan tak sanggup menggerakkan ujung jarinya.
Olivia terdiam. Menatapnya lekat-lekat sebelum akhirnya tertawa penuh kemenangan. "Fufufu, Zoro. Wajahmu memerah," katanya geli. Membuat pria di depannya mendelik kesal ke arahnya.
Ia mendengus. "Itu tak lucu, Olivia," ujarnya kesal.
"Kau ini," ujar gadis di depannya berusaha menahan tawa. "Apa kau benar-benar tak pernah berbicara dengan wanita? Kau bahkan terlihat begitu canggung hanya karena aku menyebutmu tampan."
"Apa itu juga termasuk gurauanmu?"
"Tentu saja tidak," jawab gadis itu tulus. Tawanya kini telah berubah menjadi seulas senyum yang membuatnya terlihat begitu menawan. "Aku tak berbohong soal itu."
Zoro tertegun. Rasa kesalnya memudar seketika. Mereka melanjutkan langkah.
"Jadi, untuk apa kau mentraktirku malam ini?"
Pria itu terdiam. Mencari kata yang tepat untuk menjelaskan. "Nilai sempurnamu. Aku ingin berterima kasih untuk itu."
"Hanya karena itu? Berlebihan sekali."
"Tidak, ini lebih dari itu."
"Hmm?" Olivia melirik pria disampingnya.
"Sensei bilang, aku mungkin bisa masuk universitas negeri dengan tambahan nilai sempurnaku."
"Oh ya? Universitas mana yang kau incar?" tanya gadis itu tertarik.
"Tokyo? Mungkin?"
Olivia memutar bola matanya. "Kau bahkan masih tak yakin," ejeknya. "Tapi tak kusangka kau berniat melanjutkan pendidikanmu."
"Ma..." Zoro berkata datar. "Hanya agar aku bisa terus bermain kendo."
"Ara... Satu lagi fakta menarik tentangmu."
Zoro tak menjawab.
"Apa harus dengan melanjutkan pendidikanmu?"
"Itulah syarat yang ayah angkatku berikan agar ia bisa mempercayakan dojonya padaku." Pria itu menarik nafas panjang. Matanya menerawang. "Aku tau aku tak baik dalam melakukan banyak hal. Sejauh ini, hanya bermain pedang kemampuanku yang ku punya. Aku tak ingin melepaskannya. Bukan karena aku ingin memimpin dojo. Hanya saja, aku tak tau apa yang akan kulakukan tanpa kendo."
Udara di sekitar mereka merambat disela-sela keheningan. Derap langkah kaki menjadi pengisi celah yang diciptakan diantara jarak percakapan.
Olivia tersenyum. Lantas mengangguk. "Itu bagus, Zoro," katanya. "Setidaknya kau tau apa yang kau inginkan. Hidupmu akan lebih menyenangkan jika kau mengetahui apa tujuanmu."
Zoro mengangguk sepakat. Mereka kembali berjalan dalam diam. Olivia berhenti tiba-tiba saat merasa sepasang mata memperhatikannya dari kejauhan.
"Ada apa?" tanya pria itu saat melihat gadis di sebelahnya mengamati sekitar dengan waspada.
"Apa ada seseorang yang mengikuti kita?" tanyanya cemas.
Zoro ikut melirik kiri dan kanan. "Ada banyak orang berlalu lalang sejak tadi. Mungkin hanya perasaanmu," katanya menenangkan.
Namun Olivia tetap khawatir. Nafasnya tertahan. Mata birunya terus mengamati sekeliling mereka. Ia mencoba terlihat baik-baik saja dengan memaksakan seulas senyum di wajahnya. "Lebih baik kita cepat. Aku tak mau pulang terlalu malam," ujarnya. Kemudian berjalan lebih cepat meninggalkan Zoro dengan kepala yang dipenuhi pertanyaan.
O • O • O
Notes:
Konbu : rumput laut jepang.
Jitensa : sepeda (biasanya digunakan oleh pelajar SMA).
