Halo, maaf sekali Chapter 4 nya menunggu waktu lama karena sedang banyak pekerjaan lain akhir-akhir ini. Maklum, karyawan kontraktor yang terjun langsung ke proyek, jadi ada banyak sekali pekerjaan di akhir tahun :")

Terima kasih banyak untuk para Tamu yang sudah mampir dan membaca cerita ini. Senang sekali membaca review kalian. Tenang, ku usahakan untuk menulis sampai selesai kok ;D

Penampilan Robin disini terinspirasi dari film One Piece: Z karena kebetulan baru nonton lagi sebelum nulis chapter ini dan iyaaa dia cantik sekali di film Z :'))

Sudahlah, sekian saja curhatnya supaya nggak terlalu lama. Ditunggu reviewnya yaa. Dan selamat membacaa :D

Credits to: Eichiiro Oda

O • O • O

Seorang pria muda dalam kendo gi dan hakama hijau tua mengayunkan pedangnya di udara. Beberapa ratus meter di hadapannya, sebuah balok kayu tergantung pada batang pohon besar yang memiliki dua kali tinggi tubuhnya. Pria itu memejamkan mata, merasakan semilir angin menerpa wajahnya seraya memasang kuda-kuda kemudian berlari menuju 'buruannya'.

"Ittoryuu..." Matanya memicing tajam. Sebuah pedang berjenis suguha tergenggam erat di tangannya. Ia melompat. "Daishinkan!"

Dengan tangkas ia menebas dengan cepat. Membelah balok kayu itu menjadi dua dan membiarkannya terhempas ke tanah bersama puluhan pecahan kayu yang lainnya. Ia mendarat dengan sempurna. Mengatur nafasnya seraya mengangkat tinggi-tinggi pedang di tangannya.

Mata pisaunya berkilat saat bersentuhan dengan sinar matahari yang mengintip masuk lewat celah dedaunan. Penahan tangannya berbentuk bulat dengan gagang berwarna putih tulang disertai beberapa ornamen yang menghiasinya. Merupakan salah satu dari 21 pedang legendaris O Wazamono yang langka. Juga menyimpan begitu banyak kenangan di dalamnya.

Pria itu melirik dua pedang lain yang tersandar pada batang pohon besar tempatnya menggantung balok kayu tadi, lalu kembali pada pedang di tangannya. Meski tak seperti Shandai Kitetsu yang mampu membuat serangannya begitu tajam dan membunuh, atau seperti Sushui yang lebih baik untuk digunakan dalam teknik ittoryuu, ia tau betul Wado Ichimonji selalu memiliki cara sendiri dalam memuaskannya.

Pria itu menyeringai. Mengembalikan pedang itu ke sarungnya.

"Sepertinya Wado Ichimonji begitu senang berada di tanganmu, Zoro-kun," kata seseorang bersuara berat dari rokka. Lorong kayu di sisi kamiza.

"Ah." Zoro menoleh. Berjalan mendekat setelah mengambil dua pedangnya yang lain. "Kau melihatnya?"

"Kemampuanmu meningkat dengan sangat baik."

"Tak ada yang bisa kulakukan selain ini."

"Maka bersiaplah untuk kejuaraan kendo internasional tahun depan."

Zoro terdiam. Matanya menerawang jauh hingga mendarat di sebuah taman tak jauh dari dojo sepuluh tahun silam.

"Zoro! Aku akan berangkat!" serunya seraya mengangkat tinggi-tinggi surat kabar di tangannya. Sebuah berita besar tentang pulau yang terbakar menjadi pengisi halaman utamanya. Namun bukan berita tersebut yang menarik perhatian mereka. Melainkan sebuah kolom kecil dibawah topik utama berisi berita pengumuman kejuaraan kendo internasional yang akan digelar di Tokyo minggu depan.

Zoro memicingkan mata. "Benarkah? Bukankah pertandingan itu hanya diisi oleh pria?"

"Persetan dengan peraturan seperti itu. Akan ku buat mereka mempercayai bahwa aku ini laki-laki."

"Apa bisa begitu?"

"Tentu saja bisa. Aku kan belum dewasa, tak akan begitu terlihat bukan? Lagipula, bukan aku yang meminta terlahir sebagai perempuan." Ia memegang dadanya.

Membuat pipi Zoro bersemu merah saat melihatnya.

"Aku akan menjadi pendekar pedang yang hebat, Zoro. Aku pasti akan pulang sebagai pemenang."

"Bagaimana jika mereka mengetahui kalau kau bukan laki-laki? Bagaimana jika kau kalah?"

"Aku tidak akan kalah! Ku putuskan untuk tidak akan kembali ke dojo sebelum aku menjadi pemenangnya," katanya berapi-api. Matanya berkilat menandakan ia begitu bersemangat. "Kau juga berjuanglah," tambahnya.

"Eh?"

"Aku mungkin lebih baik darimu kali ini. Tapi sebagai pria, kau bisa segera menyusulku nanti. Tenagamu akan semakin bertambah, sementara aku akan semakin melemah. Tubuhmu akan semakin kuat. Aku yakin kau bisa menjadi pendekar pedang terbaik di negeri ini." Gadis itu berkata lantang. Meski Zoro dapat melihat kesedihan terpancar di raut wajahnya.

"Yosh! Aku janji akan menjadi pendekar pedang terbaik. Aku akan mengalahkanmu! Tapi kau juga harus berjanji padaku untuk memenangkan pertandingannya!"

Gadis itu terkikik. Mengangkat kelingkingnya di udara, kemudian menautkannya pada kelingking kecil milik Zoro. "Baiklah, aku berjanji."

Seminggu kemudian, ia benar-benar menunaikan keinginannya. Menjadi seorang peserta dan pemenang termuda dalam kejuaraan kendo tingkat dunia. Ia berangkat pagi-pagi sekali. Ditemani satu pelayan setianya. Berjalan kaki, lantaran kejuaraan pertama kendo tingkat dunia itu digelar di distrik yang sama dengan dojo mereka tinggal.

Zoro masih ingat gadis itu melambaikan tangannya dengan senang. Meski tak ada satupun orang di dojo selain dirinya yang mengetahui kepergiannya.

Namun sayang, gadis itu kembali dengan cepat. Baru dua jam setelah meninggalkan dojo, ia pulang dengan kondisi tak lagi bernyawa. Ia dan pelayannya tewas tertabrak bis besar saat akan menyebrang jalan.

"Ti-tidak..." Zoro kecil berusaha menahan tangisnya. "K-kau bilang... kau baru akan pulang setelah mendapatkan apa yang kau inginkan. Bangunlah! Kuina! Kau sudah berjanji padaku. Kuina!"

"Zoro." Sebuah suara membuatnya kembali fokus pada pria paruh baya di hadapannya. Pria dengan kendo gi dan hakama berwarna abu tua, kacamata bulat yang menghiasi wajah ovalnya, dan rambut panjang yang diikat satu ke belakang. Wajahnya terlihat tenang dan bijaksana. "Apa kau masih mengingatnya?"

Pria berambut hijau itu tak merespon. Hanya melirik Wado Ichimonji di genggamannya melalui sudut mata. Lalu membuka mulutnya setelah sepersekian detik kemudian. "Boleh aku bertanya sesuatu, Koushiro-san?"

Koushiro mengangguk pelan. Matanya memberi isyarat, mempersilahkan.

"Apa... kau masih marah padanya?" tanyanya ragu.

Koushiro nampak berfikir. "Apa aku terlihat seperti marah padanya?" Pria paruh baya itu ganti bertanya.

Zoro terdiam.

"Kau tau Zoro? Sulit bagi orang tua manapun di dunia ini untuk marah pada anak mereka."

"Meski ia tak meminta izin padamu saat itu?"

"Apa kau berfikir aku tak memberinya izin?"

Wajah Zoro terangkat seketika. Mendadak ingin tahu.

"Pelayannya menceritakan semuanya padaku. Ia datang beberapa hari sebelum pertandingan, lalu meminta saran dan izin dariku. Tentu saja aku mengizinkannya. Aku bisa saja menyuruhnya mencegah Kuina untuk pergi jika ku mau." Koushiro tersenyum. Matanya menerawang jauh. "Satu-satunya hal yang membuatku marah adalah aku tak jujur padanya bahwa aku mengizinkannya. Seharusnya aku ikut mengantarnya kesana."

Pria berambut hijau itu termenung. Mulutnya terbuka sedikit mendengar pengakuan Koushiro. Ia menelan ludah.

"Aku tak mau mengulangi kesalahanku, Zoro. Kali ini, aku ingin kau pergi atas izinku. Lagipula, kau tak akan bisa jadi lebih kuat hanya dengan berlatih tanpa menemui lawanmu. Kau perlu tau seberapa kuat orang-orang diluar sana dan dimana kelemahanmu. Latihan saja tak akan membuatmu mengetahui itu," jelas pria itu tenang. Kemudian membalikkan badannya. "Fikirkanlah baik-baik, Zoro. Bukankah kau telah berjanji pada Kuina dan pedangnya?"

Zoro tersentak. Mendadak mencengkram lebih kuat Wado Ichimonji di tangannya. Ia ganti mengamati Koushiro yang mulai berjalan masuk ke dalam kamiza.

Pria itu berhenti sejenak. "Ah ya, Zoro-kun. Yosaku dan yang lainnya meminta izin padaku tadi pagi untuk menghadiri Festival Hanami. Kau juga boleh pergi jika kau mau. Sepertinya tidak akan ada banyak orang yang datang ke dojo hari ini," ujarnya memberikan informasi sebelum benar-benar menghilang di balik shoji.

Zoro mengamati sekeliling. Benar saja, meski matahari sudah mulai meninggi, namun dojo masih terlihat sepi. Kamiza yang biasanya telah dipenuhi suara shinai yang saling beradu, pagi ini hening. Hanya beberapa pengurus dojo yang terlihat mundar-mandir sejak tadi.

Zoro menggaruk kepalanya yang tidak gatal, kemudian melangkah pelan menuju kamarnya. Ah, ya mungkin berjalan-jalan sejenak bukan ide yang buruk.

O • O • O

Pria itu mengamati sekeliling. Orang-orang yang berlalu lalang, petugas yang berjaga di sudut-sudut peron, hingga suara kereta yang melaju diatas rel.

Matahari sudah persis berada tepat diatas kepala ketika pria itu melangkah keluar dari stasiun. Diantara hiruk pikuk manusia yang ramai memadati trotoar, ia berjalan pelan menyusuri jalan yang berisisan dengan Shinjuku Chuo Park.

Baru setengah jam yang lalu sejak ia memutuskan untuk berkeliling tanpa tau kemana persisnya ia ingin pergi. Sejujurnya, hanya membiarkan saja sepasang kakinya berjalan sendiri. Awalnya hanya berkeliling di sekitar dojo, kemudian ke pusat kota, masuk ke stasiun, hingga tiba di Shinjuku saat ini. Meski tau ini rute yang biasa ia telusuri setiap hari, tapi ia yakin betul kakinya tak berniat membawanya ke sekolah.

Pria itu menghela nafas. Mengatupkan jaket hijaunya rapat-rapat dan menyimpan kedua tangannya di saku celana. Langkahnya tiba-tiba terhenti saat menyadari sebuah bangunan tua berdiri kokoh beberapa ratus meter di hapapannya. Ah, bukan. Bukan bangunan tersebut yang membuat langkahnya terhenti. Melainkan sosok wanita muda dalam balutan sweater biru tua yang keluar dari sana. Rambutnya hitam dan panjang. Diikat dua dan dibiarkan jatuh dengan rapi ke belakang dengan helaian yang jatuh di sisi telinganya. Lehernya jenjang. Menopang wajahnya yang begitu sempurna dengan mata biru bulat yang lembut, hidung mancung, dan bibir merah yang tipis. Tangan kanannya membawa kantung plastik hitam berukuran sedang sementara tangan kirinya membuka tutup tempat sampah yang tersedia di sisi trotoar. Ia mengenakan celana oranye diatas lutut. Menampakkan keindahan kakinya yang lantas berhenti melangkah lantaran menyadari seorang pria mengamatinya dari kejauhan.

Gadis itu mengernyit. "Zoro?" tanyanya.

Zoro menelan ludah. "O-oli..via?"

"Ah, ternyata benar kau!" seru Olivia senang. Mendekat pada pria berambut hijau tersebut seraya menyunggingkan senyum terbaiknya. "Apa yang kau lakukan disini?" tanyanya.

Namun Zoro tak bergeming. Retinanya mengamati dalam-dalam sosok wanita di depannya.

"Kenshi-san?" Olivia mencolek bahunya.

"Cantik," ujar Zoro tanpa disadari. Lalu kemudian ia mengerjap-ngerjap. Wajahnya memerah seketika.

"Ara..."

"Ah ti-tidak! A-aku... maksudku a-aku sedang berjalan-jalan. I-iya. Begitulah." Zoro menjawab gugup. Tangannya tak berhenti mengusap lengannya dengan canggung.

Gadis itu terkikik geli. "Masuklah ke perpustakaan. Sepertinya kau memang berniat bertemu denganku."

"Ah ya... Eh, t-tidak tidak!" Pria itu menggelengkan kepalanya dengan cepat. Berusaha membantah perkataan Olivia. Bodoh benar kakinya telah membuatnya kembali ke tempat ini.

Olivia hanya tersenyum. Kemudian memimpin Zoro masuk ke perpustakaan.

"Oh! Zoro-san!" seru Saulo saat melihat pria berambut hijau masuk membuntuti Olivia.

"Ohayou, Saulo-san." Zoro membungkukkan badannya.

"Mau mengerjakan tugasmu lagi?"

"Ah tidak. Semua orang ditempatku sedang pergi ke Festival Hanami. Aku terlalu bosan sendirian jadi ku putuskan untuk berkeliling," jawab Zoro jujur.

Saulo nampak berfikir. "Lalu kau berkeliling sampai kesini?"

"A-ah... y-ya. Maksudku, aku memang tinggal di Tokyo tapi, aku bersekolah di Shinjuku. Kau tau? Aku hapal rute ini. Jadi entah tiba-tiba kakiku bergerak sendiri," jawab Zoro terbata. Semburat tipis kemerahan muncul di pipinya.

"Benar bukan karena kau ingin mengunjungi seseorang?"

"O-oi! Tentu saja bukan!"

Saulo tertawa kencang. "Hahaha, anak muda jaman sekarang."

Zoro memalingkan wajahnya. Melirik Olivia dari sudut mata dan mendapati gadis itu tengah menahan tawa. Dasar.

"Ma... pantas saja tak ada yang datang ke perpustakaan hari ini. Ternyata sakura mekar lebih cepat," ujar Saulo sambil mengintip trotoar yang sepi dari balik jendela. "Sepertinya kita juga harus menutup perpustakaan lebih cepat hari ini, Olivia."

"Apa? Kenapa?" sahut Olivia di antara rak-rak kayu.

Alis Saulo terangkat. "Kenapa? Tentu saja karena Zoro sudah menjemputmu untuk pergi ke Festival Hanami."

"Saulo-san!" Zoro dan Olivia berseru bersamaan.

Pria besar itu tercengang. Kemudian tertawa lebih keras dari sebelumnya. "Shishishi, lihatlah kalian benar-benar kompak!"

Olivia mencibir. "Itu tidak lucu, Saulo-san."

"Ma-ma... sudah, pergilah kalian. Aku menutup perpustakaan ini," kata Saulo seraya mengenakan mantelnya.

"Benarkah?" tanya Zoro meyakinkan.

"Tentu saja! Ini perpustakaanku. Aku yang berhak menentukan kapan ia dibuka dan ditutup."

Zoro dan Olivia berpandangan. Sementara Saulo bergegas menuju pintu.

"Astaga, apa yang kalian tunggu? Tak bisakah kalian lihat pria tua ini ingin segera melihat sakura?" Saulo berdecak. Ia berkacak pinggang.

Zoro buru-buru menuju ambang pintu.

"Olivia!" seru Saulo lagi saat melihat gadis dalam sweater biru tua itu masih tak bergeming di tempatnya.

"Bagaimana dengan perpustakaannya?" tanya Olivia ragu.

"Kita masih bisa buka esok hari. Pergilah. Apa kau tak bosan melihatku setiap hari?" tanya Saulo bergurau. Namun kemudian berkata lagi dengan lebih serius. "Ambillah waktu untuk beristirahat, Olivia."

"Tapi Saulo-san..."

"Ma... baiklah kalau begitu aku akan pergi lebih dulu. Oh, Zoro-san, ajaklah Olivia bersenang-senang. Ia tak pernah ambil cuti sebelumnya. Kau tau? Otaknya mungkin hanya terisi dengan judul buku," kata Saulo pada pria di sampingnya.

Alis Zoro bertemu. "Kita tak pergi bersama?"

"Bersama? Mana boleh begitu! Aku sudah terlalu tua untuk bisa mengikuti topik pembicaraan kalian," Saulo melipat tangannya di depan dada. Lalu berkata lagi setengah berbisik. "Lagipula, aku akan memberanikan diri untuk menguajak Scarlett kali ini. Kau tau? Dua tahun kami bertetangga dan ia selalu rajin mengucapkan selamat pagi. Benar-benar wanita cantik yang ramah. Shishishi." Saulo bercerita senang.

Sementara Zoro mengangkat sebelah alisnya seraya memaksakan senyum tipis di wajahnya lantaran tak tahu lagi harus membalas apa.

Pria besar itu kemudian mengatupkan mantelnya. "Ma... baiklah kalau begitu. Aku pergi dulu. Jangan lupa kunci pintunya, Olivia." Ia melambaikan tangan. "Selamat bersenang-senang!" serunya lalu berjalan pergi.

Meninggalkan Zoro dan Olivia yang masih tak bergeming. Mereka berpandangan. Kemudian saling memalingkan wajah dengan canggung.

"Jadi..." Zoro membuka percakapan. Tangannya terangkat menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Olivia menunggu. "Apa kau..."

"Hmm?"

"Apa kau... mau pergi ke Festival Hanami bersamaku? Olivia?"

O • O • O

Sakura yang bermekaran menjadi pertanda musim semi tiba di Jepang. Masyarakat menyambut antusias dengan mendatangi taman-taman terdekat dari distrik mereka tinggal. Kebanyakan turis asing memilih Sumida sebagai tujuan mereka. Selain karena bisa melihat hanami dari atas yakatabune, juga karena Tokyo Skytree terlihat jelas dari sini. Beberapa orang yang hanya ingin piknik sembari mengajak anak-anak mereka bermain sambil memakan bento memilih Yoyogi sebagai tujuannya. Namun Zoro dan Olivia memilih Nakameguro sebagai tempat Festival Hanami mereka.

Terdapat lebih dari 500 pohon sakura berjajar di sisi sungai Meguro. Mulai dari Ikejiri-Ohashi hingga Jembatan Kamenoko. Meski tak terlalu dekat dengan taman, namun tempat ini ramai lantaran ada banyak sekali kafe dan restoran di tepi sungai. Area ini jadi semakin ramai karena Festival Hanami mengundang banyak orang untuk membuka stand dadakan di bahu jalan.

Zoro dan Olivia berjalan beriringan. Terlihat betul mereka asyik terlibat percakapan dengan salah seorang penjual makanan ringan di trotoar. Lalu mereka melanjutkan perjalanan. Sambil sesekali saling tunjuk menunjuk kafe dan restoran di tepian sungai, lalu tertawa bersamaan.

"Benarkah? Kau menghabiskan semua sake itu?" tanya Olivia tak percaya. Zoro baru saja menceritakan pengalamannya mengikuti lomba minum sake di salah satu kafe tak jauh dari Sungai Meguro.

"Begitulah. Esoknya aku mual seharian."

"Ara..." Olivia terkikik geli. "Lagipula bagaimana bisa kau tersesat sampai ke Meguro padahal kau ingin pergi ke sekolahmu."

"Itu baru satu bulan sejak aku masuk sekolah. Aku belum menghapal rutenya."

"Satu bulan itu bukanlah waktu yang singkat Kenshi-san."

"Hoi-hoi. Jangan salahkan aku, kereta disini sering berganti-ganti peron tahu." Zoro membela diri.

Olivia masih tertawa geli. Tahu betul jarak Tokyo ke Shinjuku begitu dekat dan mudah di capai dengan kereta.

"Sepertinya kau memiliki masalah terhadap orientasi arah," tebak Olivia dengan nada jahil. Membuat wajah Zoro memerah seketika lantaran malu kekurangannya diketahui dengan mudah oleh gadis cantik sepertinya.

Pria berambut hijau itu menunjuk salah satu kedai di tepi jalan. "Hei, apa kau suka dango? Mau ku belikan untukmu?" tanyanya berusaha mengalihkan pembicaraan.

Olivia mengangguk. "Tentu, jika tak merepotkanmu."

"Baiklah, tunggu sebentar." Zoro memberi isyarat dengan kedua tangannya sebelum berlari kecil menuju kedai penjual dango. Pria itu kembali setelah beberapa menit. "Untukmu," katanya seraya menyodorkan seporsi dango pada Olivia.

"Terima kasih," jawab gadis itu seraya menyambutnya.

"Katakan padaku bila ada lagi yang ingin kau makan."

"Ini cukup, Zoro. Kau sudah banyak mentraktirku sejak kemarin."

"Bukan apa-apa." Zoro menggelengkan kepalanya. Mulutnya sibuk mengunyah dango miliknya. "Aku jarang sekali melakukan hal ini lantaran tak memiliki banyak teman yang bisa ku ajak bicara."

"Benarkah?" tanya Olivia tak percaya.

Zoro mengangguk. "Ada Yosaku dan Johnny di dojo. Tapi aku tak pernah makan bersama mereka."

"Kenapa?"

Zoro mengangkat bahunya. "Hanya terasa aneh jika pergi keluar bersama teman pria."

Olivia terkikik. "Fufufu, kau lucu juga, Kenshi-san."

Mereka terus melangkah dalam percakapan sederhana. Zoro yang memimpin mereka. Setelah puas melihat Olivia tersenyum lebar saat melihat ratusan sakura yang bermekaran di sisi sungai Meguro dari atas Jembatan Kamenoko, pria itu kemudian membawa Olivia menuju kuil Otori. Meski bukanlah salah satu kuil terbesar di Tokyo, tapi kuil ini tetap ramai di kunjungi. Ia tidak memiliki area yang luas, namun tetap memiliki bangunan utama yang megah dan bangunan-bangunan pendukung yang lengkap. Saat masuk, kalian akan melihat dua patung singa dan undakan tangga untuk menuju bangunan utama yang berada tepat di depan pintu masuk kuil. Ada air suci di sisi kiri bangunan utama yang langsung di minum oleh Zoro dan Olivia saat pertama kali melewati gapura kuil. Mereka kemudian masuk lebih dalam dan berdoa di bangunan utama.

Olivia melirik pada Zoro di sela-sela waktu berdoa mereka. Mendapati pria itu dengan tenang memejamkan mata seraya bergumam mengutarakan permintaannya. Olivia tertegun. Untuk pertama kali dihidupnya ia melihat ada seseorang yang begitu percaya pada harapan di hidupnya. Ia bahkan tak tahu bagaimana caranya berdoa. Lebih buruk lagi, bahkan tak yakin apakah dewa masih mendengar doa-doanya.

"Apa kau meminta banyak hal?" tanya gadis itu setelah mereka selesai.

"Tidak juga. Ada apa?"

"Ini pertama kalinya aku melihat ada seseorang yang begitu serius dalam berdoa," kata Olivia jujur.

Zoro tersenyum. "Temanku yang mengajariku untuk percaya pada dewa."

"Ara..." Olivia mengangguk. "Salah satu dari yang kau sebutkan tadi?"

"Bukan." Pria itu mengatupkan jaketnya rapat-rapat. "Ia sudah lama mati."

Olivia terhenyak. Langkahnya terhenti seketika. "Ma-maafkan aku."

Zoro terdiam. Mengamati langit sebentar kemudian kembali pada Olivia dengan senyum yang lebar menghiasi wajahnya. "Tak apa. Ia suka berada di atas langit," jawabnya tenang. Kemudian melanjutkan langkah.

Olivia masih mengikuti disampingnya. Hening beberapa saat sebelum Zoro melanjutkan.

"Ia anak dari pemilik dojo," katanya membuat gadis dalam sweater biru tua disampingnya menoleh. "Dia menemukanku berkelahi dengan anak-anak lain saat usiaku lima tahun."

Olivia terdiam. Mendengarkan dengan cermat.

"Saat itu, aku tinggal dan besar di panti asuhan. Aku tak tau siapa orang tuaku. Aku juga tak begitu suka dengan suster yang merawat ku disana, sehingga aku sering kabur dan berkelahi dengan anak-anak lain. Berkelahi untukku saat itu, adalah hal yang menyenangkan. Entah, aku jadi bisa melampiaskan kekesalanku pada orang tuaku, juga dewa yang tak bersikap adil padaku." Zoro tersenyum. Matanya menerawang jauh. "Lalu Kuina menemukanku disana saat aku kalah untuk pertama kalinya. Ia membawaku ke dojo, dan mengenalkanku pada kendo, juga Koushiro ayahnya. Tiga bulan pertama, aku hanya datang bulak balik sebagai tamu. Namun di bulan berikutnya, Koushiro-san dan Kuina mengajakku untuk tinggal di dojonya."

"Dan kau setuju?"

"Tentu saja. Sudah lama aku ingin meninggalkan panti asuhan," jawab Zoro senang. Ia tertawa.

"Lalu... apa Kuina itu yang mengajari anak nakal sepertimu untuk berdoa?"

"Hahaha, anak nakal ya?" Zoro terkikik. "Yah, begitulah. Dia dan ayahnya rajin sekali datang ke kuil. Karena aku juga ikut, lama-kelamaan aku jadi terbiasa melakukannya. Lagipula aku juga merasa tenang saat melakukan itu."

Olivia tertegun. Tanggannya mendadak terkepal erat. "Apa Kuina itu temanmu yang telah...-"

"Mati?" Zoro memotong ucapannya. Berusaha membuat Olivia nyaman dengan tidak mengucapkan kata tersebut. Gadis itu mengangguk. Lalu Zoro mengiyakan. "Ia tewas tertabrak bis saat akan menyebrang jalan sepuluh tahun lalu. Itu hari dimana dia untuk pertama kalinya akan mengikuti kejuaraan kendo internasional."

"Ah..." Olivia menahan nafasnya. Terlihat jelas wajahnya begitu menyesal.

"Tak masalah, setidaknya aku tau ia mati diatas jalan yang dipilihnya," kata Zoro menenangkan. Tak ingin gadis di sebelahnya merasa canggung.

Olivia mengangguk. "Ia pasti mati dalam keadaan bangga."

"Hmm." Zoro tersenyum. "Aku juga meyakini itu."

Kemudian hening lagi. Langkah kaki mereka kini terhenti di sebuah halte bis dekat persimpangan jalan.

"Kau sendiri? Apa kau tinggal dengan Saulo-san?" ganti Zoro bertanya.

Membuat Olivia terkejut untuk beberapa saat. "A-aku?"

"Ya. Bagaimana denganmu? Dengan siapa kau tinggal di Shinagawa?"

"A-aku, tinggal sendiri," jawab Olivia gugup.

"Sendiri?"

Gadis itu mengangguk. "Orang tuaku mati karena sebuah insiden besar sepuluh tahun lalu."

"Ah, maafkan aku," kata Zoro menyesal.

"Tidak apa-apa. Seperti katamu, mereka sepertinya senang berada di langit," jelas Olivia seraya tersenyum tenang.

"Lalu, insiden besar apa yang kau maksud?"

"Ah, itu..." Olivia mengalihkan pandangannya ke sisi yang lain. Tangannya saling meremas dengan gelisah. Ia berkata pelan. "Ru-rumah kami, terbakar."

Zoro terhenyak. Matanya mengerjap-erjap beberapa kali sebelum membuka mulutnya lagi. "Itu... kejadian yang besar. Apa kau berada disana?"

Olivia terdiam. Kemudian mengangguk setelah berfikir beberapa detik.

"Maaf," gumam pria berambut hijau itu pelan. "Itu pasti hal yang berat untukmu."

"Tak masalah, sungguh." Olivia berkata getir. Setetes air mata jatuh di pipinya tanpa di sadari. Gadis itu buru-buru menghapusnya. Kemudian terkesiap dan menoleh ke belakang. Ada yang mengawasinya.

"Ada apa?" tanya Zoro. Kaget dengan pergerakan gadis berambut hitam disampingnya yang begitu tiba-tiba.

"A-apa, ada orang yang mengawasi kita?"

"Mengawasi kita? Untuk apa?" Zoro bertanya bingung. Namun tetap mengedarkan pandangannya untuk mencari seseorang yang terlihat mencurigakan. Tapi yang ada hanya orang-orang yang sibuk berlalu lalang. "Tak ada siapapun, Olivia."

Gadis itu menelan ludahnya. Kemudian terlihat bahagia saat bis yang akan membawanya ke Shinagawa tiba.

"Sepertinya kita harus berpisah disini, Zoro. Bisku sudah datang."

"Ah, ya. Baiklah. Aku akan langsung ke stasiun dari sini."

Olivia mengangguk lalu membungkukkan sedikit tubuhnya. "Terima kasih banyak karena sudah mengajakku berkeliling, Kenshi-san."

"Ah tunggu!" seru Zoro tiba-tiba. Membuat Olivia berhenti tepat di depan pintu bis. "Apa besok... kau datang ke perpustakaan?" tanya Zoro ragu.

Membuat alis Olivia bertemu. Kemudian gadis itu tersenyum. "Tentu, datanglah jika kau mau."

Zoro menyeringai. Mengangguk senang sambil melambaikan tangannya dengan penuh semangat. "Baiklah, sampai jumpa besok!"

"Sampai jumpa besok, Kenshi-san!" Olivia melambaikan tangannya. Kemudian masuk ke dalam bis yang seketika melaju meninggalkan Meguro.

Zoro menghela nafas panjang. Semburat merah muncul di pipinya. Baru saja ia akan melanjutkan langkah sebelum sebuah suara berat datang mengejutkannya.

"Ma... apa kau mengenalnya? Tuan berambut hijau?"

Sebagai pria dengan ciri-ciri yang disebutkan, Zoro otomatis menoleh ke asal suara. Dilihatnya seorang pria bertubuh tinggi berdiri tak jauh dibelakangnya. Ia mengenakan kaus putih dengan mantel hijau tua yang panjang hingga lututnya. Sebuah topi rajut menutupi sebagian rambut keritingnya. Di bahu kanannya tersampir ransel coklat berukuran sedang sementara tangan kirinya menggenggam sebotol sake. Meski tertutup oleh kacamata hitam bulatnya, Zoro tau betul pria ini tengah mengamatinya.

"Siapa kau?" tanya Zoro dingin.

"Sepertinya kau bukan orang yang suka membaca berita, Roronoa Zoro."

Zoro tersentak. Ia bahkan tak menyebutkan namanya. "Darimana kau tau namaku?"

"Bukan hal yang sulit," jawab pria tinggi itu dengan malas. Ditengguknya lagi sake di tangannya. "Apa dia mengenalkan diri sebagai Olivia lagi?"

"Ha?" Alis Zoro bertaut. Setelah berhasil menyebutkan namanya, bagaimana bisa kini pria ini mengetahui nama Olivia. Zoro terkesiap mendadak teringat sesuatu. "Apa kau yang mengikuti kami sejak kemarin?" tanyanya. Menyadari kegelisahan gadis yang baru saja pergi bersamanya sejak kemarin malam.

"Ma... ternyata kau cermat juga." Pria jangkung ini tertawa pelan. "Tapi kurasa tak cukup cermat untuk menyadari Robin telah berbohong padamu."

"Robin? Siapa dia?"

"Gadis yang tadi bersamamu. Dia Nico Robin," jawab pria aneh itu dengan tenang. Kembali meneguk sakenya kemudian.

"Tidak, kau salah orang. Namanya Olivia." Zoro menggelengkan kepalanya. Meyakini bahwa pria didepannya telah salah bicara.

Namun pria itu mengeluarkan sesuatu dari saku mantelnya. Sebuah kertas yang kemudian diserahkannya pada Zoro.

"Apa ini?"

"Bacalah."

Zoro membuka lipatannya. Keningnya berkerut saat melihat foto seorang anak perempuan berusia tuhuh atau delapan di dalam kertas tersebut. Rambutnya hitam berponi sebahu. Mengenakan gaun panjang tanpa lengan berwarna ungu tua. Air mukanya menyiratkan kesedihan dan rasa takut yang mendalam. Bola matanya berawarna biru terang, persis milik Olivia. Bahkan jika dilihat sejenak, nampak benar Olivia mirip dengan anak di dalam foto ini. Namun ada beberapa hal yang mengganjal benak Zoro. Yakni tulisan 'buron' dan sebuah hadiah senilai ¥5000 bila menemukan anak ini.

"Bagaimana bisa seorang anak kecil menjadi buronan polisi? Lalu, apa hubungannya denganku?" tanya Zoro bingung.

Pria di depannya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ma... gadis yang bersamamu tadi, dia anak yang ada dalam poster," jawabnya santai. "Ia dicari polisi sebagai tersangka dalam insiden pemusnahan massal masyarakat Pulau Hashima sepuluh tahun yang lalu."

Zoro tertawa keras. "Hahaha, kau fikir aku akan percaya pada orang aneh sepertimu?"

"Tak masalah jika kau tak percaya, aku tak akan memaksamu." Pria itu membalikkan badannya. Mulai melangkah pergi. "Ma... jika kau bertemu Saulo, sampaikan salamku untuknya. Dan ah... ya. Katakan saja dari Kuzan." Ia menggaruk kepalanya sejenak sebelum melambaikan tangannya. Kemudian berjalan menjauh dan menghilang di persimpangan jalan.

Meninggalkan Zoro yang masih termenung mengamati poster buronan seorang gadis kecil bernama Nico Robin ditangannya.

O • O • O

Notes:

Kamiza: Sebuah aula di dalam dojo, biasanya digunakan untuk latihan kendo.

Rokka: Lorong kayu pada rumah tradisional Jepang.

Shoji: Pintu kayu dengan lapisan kertas pada rumah tradisional jepang.

Shinai: Pedang kayu untuk latihan Kendo.

Yakatabune: Kapal pariwisata, di Sumida biasa berlayar di sungai.